[FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 2

z12

Jebal, He’s My Husband—Chapter 2

Author: SwanKim

Cast: Byun Baekhyun, Shin Eunbi (OC)

Genre: Marriage life, Romance

Disclaimer: OC and story is MINE. written by me, made by me, and send by me. ENJOY!

(Jebal, He’s My Husband, Chapter 1)

(Jebal, He’s My Husband, Chapter 2)

***

 

Marah.

Itulah yang Baekhyun rasakan saat ini, matanya menyala nyalang kearah ayahnya yang masih saja berbicara dengan nada tenang, seolah ini semua tak berarti apapun.

Kepala Baekhyun bahkan terasa berdenyut kencang ketika mengingat perkataan ayahnya yang mengatakan jika gadis pulau itu adalah calon istrinya. Ha! yang benar saja.

Mata Baekhyun pun beralih pada gadis yang tidak salah bernama Shin— entah siapa— Baekhyun lupa. Gadis Shin itu tetap memposisikan kepalanya tertunduk, Baekhyun yakin gadis Shin itu sangat takut ketika melihatnya marah.

“—Keputusan akhir, kau harus menikah dengan Eunbi.” Tuan Byun berujar tanpa mengubah ekspresinya, Baekhyun mengepalkan erat tangannya. Ingin rasanya ia menghatam tembok untuk melampiaskan kekesalannya.

“Ini konyol, aku tidak mau.” Tekan Baekhyun.

Tuan Byun yang sudah tau jika Baekhyun akan menolak, mengeluarkan senyum miringnya. Baiklah, kita lihat saja.

“Benar kau menolak?” Tanya Tuan Byun menatap Baekhyun remeh, Eunbi yang sedang berdiri kaku disana hanya bisa memegang ujung kaosnya. Ia takut bahkan hanya untuk bergerak.

“Ya, aku menolak.” Tegas Baekhyun yang justru mendapat tawa keras dari ayahnya.

“Ayah tertawa?”

“Ya, aku tertawa. Menertawakan betapa bodohnya dirimu karena baru saja menolak untuk menjadi ahli waris ku.” Jelas Tuan Byun yang membuat Baekhyun membulatkan matanya.

“Apa maksud ayah?”

“Jika kau memilih menolak menikah dengan Eunbi, itu sama artinya kau menolak untuk menjadi ahli warisku karena aku hanya akan memberi seluruh kekayaanku padamu jika kau bersedia menikahi Eunbi.” Tuan Byun tersenyum miring di akhir kalimatnya, bukan hanya Baekhyun yang terkejut setengah mati bahkan Eunbi juga. Eunbi membulatkan mata beserta bibirnya.

Baekhyun membeku ditempat, ia membuang nafas kasar lalu tertawa bodoh.

“Ayah, kau keterlaluan.”

“Kau yang keterlaluan Byun Baekhyun. Setiap hari pekerjaanmu hanya bersenang-senang menghamburkan uang yang ayah hasilkan susah payah, apa ayah pernah marah? lalu ketika ayah memintamu untuk membantu di kantor kau juga selalu menolak, apa ayah pernah memaksa? Tidak kan?”

Baekhyun memutar bola mata ketika ayahnya melempar pertanyaan tak bermutu, mulutnya serasa gatal ingin menjawab.

“Memang kenapa jika aku menghamburkan uang-uang itu? toh, uang ayah juga tidak akan pernah habis. Justru ayah harusnya berterimakasih padaku karena membantu menggunakan uang-uang itu. Lalu, untuk kantor. Bukankah aku selalu mengatakan jika aku benci pekerjaan yang membosankan? lagipula aku juga belum lulus kuliah, tidak ada keharusan mendesak yang mewajibkanku untuk membantu di kantor.”

Tuan Byun terkejut dengan perkataan putranya yang lantang menjawab, ia merasa jika dirinya telah gagal mendidik putranya hingga memiliki kepribadian seburuk itu.

“Jaga perkataanmu Baekhyun, kau bangga dengan semua itu? berkacalah dan lihatlah dirimu, betapa mengenaskannya melihat kau yang kekanakan dan tidak memiliki tujuan hidup.”

Serasa ditampar puluhan kali, Baekhyun tiba-tiba terdiam. Ia tak mampu membalas perkataan ayahnya kali ini karena ia merasa jika ia pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Ya, ia pernah mendengar kalimat itu keluar dari mulut gadis yang ia cintai sebelum gadis itu pergi mencampakannya. Jui.

“Contohlah Eunbi, gadis kecil ini bahkan rela meninggalkan ayahnya demi melanjutkan pendidikan disini. Dia berfikir dewasa dan memiliki tujuan.” Lanjut Tuan Byun yang membuat Eunbi semakin menundukkan kepala, ia takut jika Baekhyun akan meledak lagi.

Namun tak disangka, Baekhyun justru hanya membuang nafas kasar. Tanpa kata, ia membalik badan meninggalkan ruang kerja ayahnya setelah melempar tatapan tajam pada Eunbi. Eunbi menggigit bibir sambil memandang sendu kearah punggung Baekhyun, apa semua kekacauan ini karenanya? karena Eunbi yang datang kemari?

“Eunbi-ya.” Suara Tuan Byun menarik perhatian Eunbi yang sejak tadi menatap kearah pintu yang dilewati oleh Baekhyun. Tuan Byun tersenyum sambil mengisyaratkan tangannya kearah sofa, Eunbi yang paham mendekat lalu duduk di sofa hitam itu.

“Maaf atas sikap putraku, yah, dia manja.” ujar Tuan Byun yang merasa tak enak pada Eunbi, Eunbi menggelengkan kepalanya cepat.

“Tidak Tuan Byun, justru saya merasa jika sayalah penyebab Baekhyun-ssi menjadi semarah tadi.”

“Kau salah Eunbi, Baekhyun memang seperti itu. Dia mudah sekali terbawa emosi, pemarah dan pembangkang. Jadi aku harap kehadiranmu disini, mungkin bisa sedikit merubahnya.” Tuan Byun menatap penuh harap kearah Eunbi yang justru menaikkan kedua alisnya, apa maksud perkataan Tuan Byun? bagaimana bisa kehadiran Eunbi merubah Baekhyun? bukankah Baekhyun sangat membenci Eunbi karena gadis itu akan menjadi calon istri yang tak diharapkannya?

Segala pertanyaan yang siap dilontarkan oleh Eunbi itu tertelan kembali saat tiba-tiba pintu ruang kerja Tuan Byun terbuka lebar dan menampakkan Baekhyun yang berdiri di ambang pintu dengan mata tajam menyorot kearah ayahnya. Eunbi dapat merasakan jika Baekhyun sedang dalam amarah yang meletup-letup. Eunbi spontan berdiri dari duduknya.

“KAU APAKAN KARTU KREDITKU???” Baekhyun berteriak keras hingga urat leher muncul dipermukaan kulitnya. Eunbi yang bergetar, memundurkan dirinya satu langkah kebelakang.

Tuan Byun menyeringai, membuat emosi Baekhyun naik ke ubun-ubun. Ia pun berjalan mendekat kearah meja ayahnya.

“Jangan tersenyum seperti itu ayah, jawab pertanyaanku.” Pekik Baekhyun.

“Kau meremehkan perkataanku rupanya, bukankah sudah jelas jika aku memblokir kartu-kartumu? dan kau paham betul mengapa aku melakukannya.” Baekhyun mengepalkan tangannya erat. Benar, ayahnya itu telah memblokir seluruh kartu yang biasa Baekhyun gunakan. Baekhyun yang tadinya ingin membelikan Jui hadiah sebagai permintaan maaf harus membatalkan niatnya karena ternyata ayahnya memblokir kartu kreditnya. Baekhyun juga tidak memiliki tabungan maupun uang tunai karena menurutnya kartu kredit saja sudah cukup memenuhi semua keinginannya.

“Menikahlah, maka aku akan memberi yang kau mau. Ini tawaran terakhirmu, Byun Baekhyun.”

“Cukup ayah! aku tidak mau menikah.”

“Baiklah, kalau begitu tinggalkan rumah ini.” Satu kalimat tak disangka-sangka yang keluar dari bibir Tuan Byun sontak membuat dua pasang mata itu terbelalak, Baekhyun terkejut dengan ucapan ayahnya sedangkan Eunbi tak percaya jika semua akan menjadi sekacau ini.

Ayah, bagaimana ini? Batin Eunbi ketakutan.

“Ayah!”

“Pilihlah. Menikah atau pergi dari hadapanku.”

Rahang Baekhyun mengeras, matanya mulai berair. Bagaimana bisa ia menikah jika hatinya sudah dimiliki oleh gadis lain? Baekhyun yang pembangkang pun paham jika pernikahan tak sebercanda itu, ia hanya ingin menikah dengan gadis yang dicintainya. Jui. Walaupun gadis itu lebih memilih menikah dengan pria lain, namun Baekhyun merasa jika dirinya masih memiliki kesempatan untuk merebut hati Jui kembali. Tapi jika Baekhyun menolak, semua fasilitas yang selama ini sudah memanjakannya akan lenyap. Hanya satu pertanyaan yang ada di benak Baekhyun, masih maukah Jui bersamanya jika Baekhyun sudah tak memiliki apapun lagi?

“Bagaimana? cepat pilih.” Lirih Tuan Byun mendesak Baekhyun.

Baekhyun tak menjawab dan hanya mengalihkan pandangannya kesamping, ditatapnya gadis kecil itu yang menunduk dengan tubuh gemetar. Semua ini gara-gara dia.

“Byun Baekhyun.” Panggil Tuan Byun kembali.

Baekhyun masih mempertahankan tatapannya pada Eunbi, ia mengepalkan tangan erat sambil berujar.

“Beri aku waktu. 3 hari.”

***

Eunbi pada akhirnya bisa merebahkan tubuh di tempat tidur, setelah perjalanan panjang dari pulau Yeosu ke Seoul yang melelahkan tubuhnya beserta perdebatan menegangkan antara ayah dan anak yang berlangsung didepan matanya membuatnya ingin segera tidur dan beristirahat.

Eunbi memang merasa bersalah pada Baekhyun karena dirinyalah ia harus berdebat dengan ayahnya sendiri, tapi Eunbi sendiri tak mempunyai pilihan. Eunbi juga telah mengorbankan segalanya untuk bisa sampai disini, Eunbi mengorbankan perasaannya karena harus berpisah dengan ayah yang paling ia cintai. Eunbi juga sudah berjanji akan menjadi putri yang bisa ayahnya banggakan, Eunbi tidak mau mengecewakan ayahnya dengan pulang tanpa menjadi apapun.

Silahkan katakan jika Eunbi egois,

Eunbi tidak peduli karena gadis kecil itu sudah memutuskan jika ia akan bertahan. Eunbi akan menggapai impiannya walau sesulit apapun jalan yang akan ia hadapi, bahkan jika Baekhyun akan membencinya Eunbi akan menerima itu sebagai resiko yang harus ia tanggung.

Eunbi mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamar yang akan menjadi tempatnya bernaung mulai hari ini, satu kata yang muncul di pikiran Eunbi.

“Cantik.” Kamar yang Eunbi tempati memang sangat cantik, bernuansa whitepearl dipadu babypink yang cocok bagi gadis seusia Eunbi. Semua perabotan khas perempuan tersedia di kamar itu. Lemari, meja rias, tempat ganti, kamar mandi, boneka, meja belajar bahkan perpustakaan kecil.

Eunbi tersenyum paksa, matanya mendadak sendu.

Eunbi mendapat semua fasilitas terjamin disini, tapi bagaimana dengan ayahnya? Apa ayahnya bisa hidup baik disana? Mata Eunbi pun teralih kearah jam dinding pororo yang tergantung diatas meja belajar.

“Oh sudah jam 7 malam.” Eunbi segera bergegas mencari sesuatu didalam tasnya. Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya namun tak menemukan barang yang ia cari.

“Ah iya, aku kan memberikan ponsel ku pada ayah.” Mata Eunbi berkaca-kaca, ia baru teringat jika ponsel ayahnya rusak karena jatuh di kubangan lumpur ladang sehingga Eunbi memberikan ponsel miliknya pada ayahnya.

Eunbi bergerak gelisah sambil tetap memperhatikan jam dinding, ia takut jika ayahnya melewatkan jam makan malam karena ayahnya tidak akan makan sebelum Eunbi mengingatkan.

Dengan cepat, Eunbi pun keluar kamar mencoba mencari telfon rumah. Pasti ada telfon rumah di rumah semewah ini.

Bertepatan dengan Eunbi yang keluar dari kamarnya, pintu kamar yang berada tepat didepan kamar Eunbi pun juga terbuka. Kamar yang tak lain adalah milik Baekhyun, Baekhyun diam sejenak menatap Eunbi dengan tatapan yang sulit diartikan.

Eunbi hanya berkedip tanpa tau harus berkata apa, dan setelahnya Baekhyun mengambil langkah pergi. Namun tanpa sadar, Eunbi membuka mulutnya, memanggil Baekhyun yang sudah berjalan dua langkah didepannya.

“Baekhyun-ssi.”

Baekhyun pun berhenti lalu menoleh. Eunbi menutup mulutnya sendiri, kenapa aku memanggilnya?

Mau tak mau, Eunbi pun harus menyelesaikan masalah yang sudah ia perbuat. Ia berjalan perlahan kearah Baekhyun dengan gugup. Baekhyun memperhatikan dengan wajah datarnya.

Ehm, boleh aku tanya dimana telfon rumah?”

Eunbi sendiri tak tau mengapa bibirnya melontarkan pertanyaan seperti itu, Eunbi menelan ludahnya menunggu respon Baekhyun. Dan detik berikutnya, Eunbi hanya menghela nafas malu karena ternyata Baekhyun tanpa menjawab hanya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena Eunbi.

“Dia pasti masih marah.” Eunbi menundukkan kepala menatap sepatunya.

***

Seperti biasa, tujuan Baekhyun setiap malam adalah Bar milik Kris—teman baiknya. Kali ini Baekhyun tak berpikir dua kali untuk bermain dilantai dansa dengan para gadis pelacur yang menemaninya. Baekhyun dengan gila menggoyangkan tubuhnya kesana kemari mengikuti dentuman musik, tak lupa dikanan dan kiri tangannya memegang dua botol bir sekaligus.

“Tumben sekali dia mau disentuh pelacur. Biasanya kan dia hanya duduk tenang karena takut Jui akan memergokinya.” Kai berbisik pada Kris yang duduk disampingnya, Kris menatap Kai bingung.

“Kau belum tau?”

“Apa?” Kai memandang penasaran pada Kris.

“Mereka putus.” Satu kalimat Kris berhasil membuat Kai tersedak bir yang ia tenggak. Matanya membulat kearah Kris lalu setelahnya Kai tertawa.

“Jangan bercanda, kau tau betapa gilanya cinta yang dimiliki Baekhyun pada Jui. Bahkan jika Jui memutuskannya pun Baekhyun tetap akan terus mengejarnya seperti orang bodoh.”

“Tapi kali ini berbeda, mereka berdua sama-sama dijodohkan dengan oranglain.” Lagi-lagi Kai tersedak, kalimat Baekhyun putus saja sudah berhasil membuatnya terkejut dan kali ini kalimat perjodohan?

Belum sampai Kai akan bertanya lebih lanjut, sang tokoh yang sejak tadi mereka bicarakan pun tiba setelah puas bersenang-senang mencumbui leher para gadis pelacur itu. Baekhyun dengan mata yang terbuka setengah menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil tetap meminum bir dari botolnya langsung.

“Baekhyun-a, kau serius dijodohkan? Jui juga dijodohkan? Bagaimana bisa? Dengan siapa?” Kai langsung menghujami Baekhyun dengan pertanyaan-pertanyaan, namun satupun pertanyaan itu tak menemukan jawabannya ketika ia mendengar suara dengkuran Baekhyun yang nyaring.

“Sial! dia tidur sebelum menjawab pertanyaanku.”

***

Eunbi mengusap belakang lehernya canggung, didepannya sudah ada Tuan Byun beserta mobil limosine yang sudah terbuka lebar menyambutnya. Tuan Byun tersenyum mengajak Eunbi untuk segera masuk kedalam mobil itu untuk berangkat ke kampus. Ya, hari ini hari pertama Eunbi kuliah walaupun kemarin ia tak mengikuti prosesi-prosesi penerimaan mahasiswa baru.

“Ayo, Eunbi-ya.” Tuan Byun melambaikan tangannya dari dalam mobil namun Eunbi masih bergeming tak bergerak.

“Tunggu paman.” Eunbi berusaha menetralisir dirinya untuk menolak memasuki mobil itu, selain itu mulai hari ini Eunbi akan memanggil Tuan Byun dengan sebutan paman karena Tuan Byun ingin Eunbi lebih dekat dengannya.

“Ada apa?” Tuan Byun memunculkan wajahnya keluar.

“Maaf sebelumnya paman, tapi bisakah aku tidak diantar dengan limousine ke kampus?”

Tuan Byun mengernyit bingung memandang Eunbi, “Lalu?”

“Aku akan naik itu.” Eunbi tersenyum cerah sambil menunjuk sebuah sepeda berwarna biru langit yang terparkir diujung garasi. Tuan Byun awalnya terkejut karena Eunbi lebih memilih menaiki sepeda dibanding duduk tenang menikmati fasilitas limosine, namun setelahnya Tuan Byun ikut tersenyum karena teringat jika Eunbi adalah gadis periang yang penuh semangat.

“Baiklah.”

Yes!” Eunbi meninju udara karena senang, ia membungkuk pada Tuan Byun beserta paman-paman pengawal lain sebelum berlari mengambil sepedanya.

Limosine yang dinaiki oleh Tuan Byun sudah bergerak lebih dulu meninggalkannya, hari ini suasana hati Eunbi memang sangat baik. Semalam ia sudah menelfon ayahnya untuk menanyakan kabar dan ia senang karena ayah mengatakan jika ada Kim Taehyung, sepupu Eunbi yang akan menemani ayahnya selama Eunbi tidak ada. Terimakasih, Taehyung-a.

Dan juga, hari ini adalah hari pertamanya resmi menjadi mahasiswi kampus terbaik seantero Korea. Jantung Eunbi bahkan berdetak keras sepanjang perjalanan.

Pada akhirnya, Eunbi tiba dengan lancar dan tepat waktu di kampusnya karena bantuan GPS yang menempel di sepedanya. Wow, bahkan sepeda saja memiliki fasilitas sebaik ini. Segera, Eunbi berkeliling mencari tempat untuk memarkirkan sepedanya. Namun selama apapun ia berkeliling, ia tak menemukan tempat yang pas untuk parkir karena sebagian besar tempat parkir sudah dipenuhi dengan berbagai macam jenis mobil mahal.

“Dimana ya?” Eunbi mulai gelisah hingga tak disangka, tak jauh dari tempatnya berdiam diri Eunbi menemukan sebuah tempat kosong yang lumayan luas. Eunbi memekik gembira lalu mengayuh sepedanya kesana.

Eunbi tersenyum lebar, tanpa sadar jika ia sudah menepikan sebuah palang besar yang bertuliskan BYUN ONLY.

“Aneh sekali, semua tempat parkir penuh kecuali tempat ini.” Meskipun sempat bingung, Eunbi tak berpikir panjang lagi meninggalkan sepedanya terparkir disana. Ia berjalan riang menuju fakultas Design.

Ya, mimpi seorang Shin Eunbi adalah menjadi seorang designer. Ia ingin menjadi perancang busana seperti impian ibunya yang sempat tak teraih karena penyakit yang ibunya derita. Eunbi ingin melanjutkan cita-cita ibunya, selain itu Eunbi juga merasa dirinya memiliki bakat yang sama dengan ibunya.

“Permisi.” Eunbi mengetuk pelan ruang kelasnya, ia sedikit terkejut karena ternyata ruangan itu sudah penuh, Eunbi melirik lagi kearah jam tangannya. Sepertinya, ia tidak terlambat.

“Kau mahasiswa baru?” Eunbi yang masih berdiri di ambang pintu mendongak kearah gadis cantik tinggi yang berdiri didepan kelas, disamping kanan dan kirinya juga ada beberapa gadis cantik sama sepertinya, tapi gadis itu yang tercantik. Mungkin mereka kakak senior.

“Ya.” Jawab Eunbi sambil tersenyum ramah, namun sayang senyumnya tak terbalaskan karena ia lihat senior cantik itu menyuruhnya masuk dengan wajah yang dingin.

“Siapa namamu?”

“Shin Eunbi.” Senior cantik itu mengerutkan kening sambil memeriksa di lembar kertas yang ia bawa untuk mencari namaku.

“Jui-ya, sepertinya gadis ini yang tidak mengikuti proses penerimaan mahasiswa baru.” Temannya berbisik pada senior cantik yang ternyata bernama Jui itu.

Jui menatap temannya sekilas lalu beralih kepada Eunbi. “Kau tidak mengikuti proses penerimaan mahasiswa baru?”

Eunbi menaikkan alisnya dengan mulut terbuka.

“Ya, sunbae. Maaf.”

“Kenapa?” Tanya Jui.

“Ah, itu karena aku masih dalam perjalanan naik kapal dari pulau Yeosu ke Seoul.” Kelas yang tadinya hening tak bersuara tiba-tiba riuh karena gelak tawa, Eunbi mengedarkan pandangannya pada seisi kelas bingung. Mereka tertawa karena aku berasal dari pulau?

“Kau dari pulau?” berbeda dengan para senior lain beserta teman kelasnya yang sedang menertawakannya, senior Jui justru masih mempertahankan tatapan dingin. Eunbi mengangguk kecil sebagai jawaban.

“Baiklah, duduklah.” Pinta Jui mempersilahkan Eunbi duduk sambil memberi sebuah makalah, semua mata tertuju pada Eunbi ketika Eunbi berjalan mencari bangku dan Eunbi pun memutuskan untuk duduk di kursi paling belakang, karena hanya kursi itu yang kosong.

“Hai.” Eunbi yang baru saja duduk, terkejut karena ternyata gadis yang duduk disebelah nya menyapanya terlebih dahulu. Ia kira tak akan ada yang mau berteman dengannya. Eunbi pun tersenyum.

“Hai.”

“Aku Lee Sunmi.” Sunmi mengulurkan tangannya didepan Eunbi, Eunbi meraihnya.

“Tapi Eunbi-ya, apa benar kau berasal dari pulau?” Tanya Sunmi dengan mata penasaran, Eunbi tersenyum canggung sambil mengangguk.

“Wah, hebat sekali. Apa motivasimu hingga jauh-jauh kuliah ke Seoul?”

“Tentu saja karena aku ingin menjadi perancang busana.” Jawab Eunbi antusias yang justru mendapat picingan mata dari Sunmi, Eunbi mengerutkan keningnya.

“Kenapa?”

“Jangan bohong, tidak ada alasan seperti itu bagi mahasiswa perempuan disini.” Sunmi mengibaskan tangan didepan wajah Eunbi, Eunbi semakin dibuat bingung. Memang benar kok, satu-satunya alasan Eunbi kuliah adalah karena ingin bersungguh-sungguh belajar menjadi designer.

“Aku tidak berbohong.”

“Sudahlah Eunbi-ya, jujur saja kau kuliah disini karena mendengar tentang rumor kampus ini kan?” Tebak Sunmi asal sambil menaik turunkan alisnya. Eunbi memiringkan kepala.

“Rumor apa?”

“Rumor tentang kampus ini, kampus yang dipenuhi oleh para putra ahli waris chaebol.” Sunmi berujar dengan mata yang berbinar, Eunbi hanya diam mendengarkan sambil menggaruk pipinya yang tak gatal.

“Baiklah jika memang kau tidak tau, aku akan menjelaskan. Aku maklum, mungkin karena kau berasal dari pulau jadi tidak mengerti dengan rumor ini. Kau tau? disini hampir semua calon mahasiswa perempuan memiliki satu tujuan utama untuk berkompetisi kuat supaya bisa memasuki kampus ini. Yaitu, karena kebanyakan para putra ahli waris chaebol Korea berkuliah disini. Dan ada 12 ahli waris yang paling terkenal diseluruh penjuru Korea. Aku tidak bisa menjelaskan siapa mereka karena nantinya kau juga akan tau.” Jelas Sunmi menggebu-gebu panjang lebar, sedangkan Eunbi hanya mengangguk-angguk samar. Sebenarnya, sejak tadi Eunbi tidak terlalu memperhatikan perkataan Sunmi karena matanya sedang tertuju pada makalah design yang sedang ia pegang.

“Oh itu dia!” Sunmi dan beberapa anak perempuan lain memekik heboh ketika ada seorang pemuda yang berhenti didepan kelas mereka, pemuda itu masuk kedalam kelas seraya menarik lengan kakak senior mereka —Jui— keluar.

“Hei, Hei, Lihatlah!” dengan pukulan-pukulan kecil di bahu Eunbi, Sunmi memaksa Eunbi untuk melihat kearah pemuda itu karena semenjak tadi Eunbi hanya terus membaca makalah design nya.

“Ada apa?” Eunbi mendongak seolah dengan gerakan slow-motion memandang seorang pemuda yang sedang menarik kakak seniornya. Mata Eunbi terkunci pada pemuda itu, bukankah dia?

“Byun Baekhyun, dia putra tunggal Empires Group. Baekhyun sunbae yang paling populer nomor 1 di kampus kita dan semua orang tau jika dia sedang mengencani Jui sunbae. Jadi kau jangan berharap bisa mendekati nya.” cerocos Sunmi tanpa memperhatikan mimik wajah Eunbi yang berubah.

Hati Eunbi mencelos, entah mengapa ia merasa ada yang salah disini. Baekhyun-ssi sudah memiliki kekasih? Jadi, itulah alasan mengapa ia begitu menolak mentah-mentah perjodohan mereka?

Eunbi tertunduk dalam, perasaan bersalah menguar dihatinya. Bagaimana bisa gadis sepertinya masuk kedalam dunia Baekhyun yang sudah memiliki pujaan hati sebelumnya? Apalagi melihat Jui yang begitu sempurna membuat perasaan Eunbi semakin tak menentu.

Setelah jam perkenalan mahasiswa baru selesai, mereka semua diperkenankan untuk pulang. Eunbi yang semenjak tau jika Baekhyun sudah memiliki kekasih tiba-tiba terlihat pundung membuat Sunmi jadi menatapnya bingung.

Eunbi dan Sunmi berjalan menuju parkiran dan berpisah setelah Sunmi menemukan mobilnya, sedangkan Eunbi masih harus berjalan untuk mencari dimana ia meletakkan sepedanya.

Eunbi memutar-mutar kepalanya meneliti, ia lupa. “Dimana ya sepedaku?”

Saat kaki Eunbi terus melangkah mencari, mendadak mata Eunbi terfokus pada sebuah sepeda yang tersungkur ditanah dengan bagian keranjang yang terlepas. Eunbi yang sadar jika itu adalah sepedanya reflek berlari kencang.

“Astaga!” Mata Eunbi membulat tak percaya jika beberapa bagian sepedanya copot dan ada yang rusak, Eunbi memunguti bagian-bagian kecil sepedanya lalu mengantonginya.

“Siapa yang tega melakukan ini?” Ujarnya dengan nada suara bergetar. Eunbi mengepalkan tangannya erat, ia bersumpah akan meninju hidung siapapun yang berani merusak sepedanya. Dan tak disangka, sebuah suara membuat Eunbi menoleh kebelakang.

“Aku yang melakukannya.”

Baik Eunbi maupun seorang pemuda yang sedang menatap Eunbi itu sama-sama terkejut.

“Baekhyun-ssi.” Eunbi tak menyangka ternyata Baekhyun lah yang melakukan hal sekeji itu padanya sedangkan Baekhyun terkejut bisa bertemu dengan gadis sialan yang ia benci itu di kampusnya.

“Kenapa kau disini?” Cerca Baekhyun dengan tatapan tajam.

Eunbi yang sebelumnya tak sadar jika airmata menetes dari pelupuk matanya, berdiri lalu menghapus sisa air yang ada dipipinya. Sebelumnya ia memang berniat meninju hidung pelaku kejahatan pada sepedanya, namun saat tau itu adalah Baekhyun, entah mengapa Eunbi justru diam tak berkutik.

“Aku tanya kenapa kau disini?”

Eunbi lagi-lagi hanya diam menunduk, ia bingung harus menjawab bagaimana. Bahkan Eunbi menyalahkan dirinya sendiri yang hanya diam seperti gadis idiot.

“Kau bisu? tidak bisa bicara?”

Eunbi mulai mendongak, ia menatap Baekhyun takut-takut sambil menegakkan sepedanya. Baekhyun sendiri tertawa remeh melihat gerak-gerik perempuan dihadapannya yang —tidak masuk akal— akan menjadi istrinya.

“A-aku, aku kuliah disini.” Jawab Eunbi dengan suara lirih, Baekhyun yang tadinya terlihat dingin pun mengerutkan dahi dan sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi merah padam.

“Apa barusan kau mengatakan kau kuliah disini?” Ulang Baekhyun yang Eunbi jawab dengan anggukan kecil.

“Mustahil.” Baekhyun mendesis mengacak rambutnya frustasi, ia menendang serampangan kearah ban mobil miliknya lalu berniat untuk pergi. Namun baru beberapa langkah Baekhyun akan memasuki mobilnya, lelaki itu seakan teringat sesuatu ia pun berbalik kembali kearah Eunbi, memberikan tatapan mematikan sebelum mendorong sepeda Eunbi hingga tak sengaja roboh menimpa tubuh gadis kecil itu.

Eunbi terkejut bukan main saat ia tersungkur ditanah menahan berat beban sepeda yang berada diatas tubuhnya, gadis itu meringis kesakitan. Kakinya perih.

Berbeda dengan Eunbi, Baekhyun justru tampak tak terkejut. Lelaki itu memandang Eunbi dengan penuh kebencian. Ia menyeringai.

“Aku tau kau bodoh, tapi tidak bisakah kau membaca palang besar itu?” Baekhyun menunjuk kearah palang bertuliskan BYUN ONLY yang sebelumnya Eunbi tepikan.

“Aku curiga, selain bisu apa kau juga buta?” Sindir Baekhyun lalu benar-benar berjalan pergi memasuki mobilnya.

Eunbi bergeming. Gadis itu tak mampu bergerak, ia masih terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya. Ia tak percaya ada orang sekejam Baekhyun. Sebesar itukah kebencian Baekhyun padanya hingga lelaki itu tega melakukan hal seburuk ini pada seorang gadis?

Airmata Eunbi mengalir deras seiring perih yang hatinya rasakan, gadis itu tak sanggup lagi. Rasanya ingin sekali detik itu juga Eunbi berlari menghambur kepelukan ayahnya.

“Ayah, aku ingin pulang.” Eunbi menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis tersedu-sedu hingga dirasa tiba-tiba beban sepeda yang tadinya ia tahan hilang, Eunbi membuka wajahnya dan melihat ternyata ada seorang pemuda yang membantu menegakkan kembali sepedanya.

Eunbi memandang pemuda itu dengan kedua mata sayunya.

“Berdirilah.” Pemuda itu mengulurkan tangan yang langsung Eunbi gapai, menarik Eunbi hingga gadis itu berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

“Jangan menangis ditengah jalan, mobilku tidak bisa lewat.” Ujar pemuda itu dengan senyum yang menenangkan, Eunbi yang masih sesenggukan menoleh kearah mobil yang memang berada di tepat dibelakangnya.

“Ah, maaf.” Dengan kaki terpincang, Eunbi mencoba menggeser tubuhnya serta menepikan sepedanya kesamping.

“Sekarang, kau bisa lewat.” Eunbi menghapus airmatanya, pemuda itu mengangguk lalu berjalan menuju mobil.

Eunbi hanya menunduk ketika mobil pemuda itu melaju melewatinya, tak disangka masih ada pemuda baik sepertinya yang mau menolong oranglain. Eunbi memandang mobil pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan, hanya saja gadis itu sedikit bersyukur karena ia sempat melirik kearah almamater pemuda itu yang tertuliskan namanya.

“Xi Luhan-ssi, terimakasih.”

—To Be Continued

Makasih atas antusiasnya di Chapter 1, ikut seneng kalau kalian seneng apalagi yang satu bias sama si cabe. hehe.

Terimakasih!❤

 

123 responses to “[FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 2

  1. Sadis amat bang, baru pertama masuk kuliah uda dapat kejutan kejam si Eunbi 😂 awas ada benci jadi cinta ya wkwk xD Luhaaan ada, wesssss saingan Baekhyun😀
    ditunggu next chapter, Fighting thor 😘

  2. Gue penasaran nih jdinya kek mana, aaahh gue harap baek cepet pulih dari penyakitnya (?) yg suka buang2 duit 😅😅
    Ayo dong min post next chap nya kekeke~
    Fighting min 🙌🙌🙋

  3. gg sabar next chap
    terkadang yang sangat kita benci adalah hal yang sangat membebani tatkala dia telah pergi dengan luka yang dia bawa…. hua😛
    gw pengen Baekhyun tuh kayak gitu
    hahahahahha… padahal itumah udah author yang ngatur, hehehe inimah just my imagine

  4. Pingback: [FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 3 | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. hah? itu luhan?
    thor, jui disini jadi orang jahat atau baik? jadi baik aja lah yaa biar eunbi nya ga kasihan hihi
    ini bakalan seru deh kayaknya. oke aku tunggu next chapt nya ^^

    ohiya maaf baru koment disini, pdahal kemarin udah baca chapt 1 nya hehe

  6. oh tidak! disini yg jadi pangeran berkuda putih adl Luhan…?! Bisa nyemplung ke pesonanya Luhan nih Thor!😀 smntra Baek..? duh kelakuanmu… gimana klo q mandiin 7 kembang biar devilnya kabur..? haha seru! Jgn ragu2 utk nge post chapter 4 nya ya… Authornim.. hehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s