[Freelance] THE ROYAL SCANDAL (Part 2)

THE ROYAL SCANDAL

THE ROYAL SCANDAL

She has the laugh of Devil and the smile of the an Angel.

She’s a wicked, wild, and wreckless thing.

-oOo-

SUMMARY

Oh Sehun adalah seorang secret agent dari National Intelligent Services yang diberikan sebuah misi pribadi oleh Presiden Korea Selatan untuk menemukan dan memusnahkan foto-foto skandal seks anaknya, Kim Jong In, dengan seorang model majalah pria dewasa terkenal, Ashley Kim. Berhasilkah Sehun mengalahkan sang wanita dominan, Ashley Kim, dan menuntaskan misinya dengan mudah?

-oOo-

TITLE                        : THE ROYAL SCANDAL

AUTHOR                  : MINERVA RENATA

TWITTER                 : @MinervaRenata

BLOG                         : www.tyjawline.wordpress.com

MAIN CAST             : OH SEHUN (EXO), ASHLEY KIM (OC)

SUPPORT CAST     : PARK CHANYEOL (EXO), CHO KYUHYUN (SJ)

GENRE                     : ACTION, ROMANCE, (LITTLE BIT) COMEDY

RATING                    : PG+17

LENGTH                   : CHAPTERED

DISCLAIMER          : THIS STORY AND PLOT ARE MINE. ALL OF THOSE CASTS BELONG TO THEMSELVES. SO, DON’T TAKE OUT ANY CONTENT WITHOUT PROPER CREDIT!

AUTHOR NOTE      : Insipired by Sherlock – A Scandal in Belgravia

PREVIOUS CHAPTER : [1]

-oOo-

Ashley membuka pintu kamar Sehun tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Seperti biasa, wanita itu tak akan pernah mau bersusah payah untuk menerapkan semua norma-norma kesopanan di dalam setiap tindakannya. Ia adalah tipe wanita pemberontak aturan. Bebas kekangan. Misbehave.

“Kalau aku tidak salah ingat, kau belum makan apapun sejak pulang dari NIS,” ujar Ashley yang tersenyum ketika manik mata Sehun dengan kilatan dingin itu menatapnya singkat sebelum akhirnya kembali terhanyut di dalam kertas-kertas penuh tulisan yang tengah dibacanya dengan tingkat keseriusan tertinggi.

“Otakku akan bekerja lebih tajam ketika perutku sedang kosong,” jawab Sehun tanpa memalingkan pandangan sedikitpun dari berkas kasus yang sengaja ia bawa dari kantor.

Ashley mengangguk paham. “Aku tahu teori itu. Sel-sel darah yang digunakan untuk membantu pencernaan sebenarnya akan mengurangi jatah sel darah untuk otak. Aku juga sangat tahu bahwa seorang Oh Sehun akan selalu mengutamakan otaknya dan menganggap organ tubuh lainnya hanya sebuah pelengkap yang tak begitu penting.” Wanita itu memilih untuk duduk di pinggiran meja kerja Sehun, memandangi dengan leluasa bagaimana wajah serius pria itu tampak begitu seksi di matanya.

“Kau tahu banyak rupanya.” Sehun membenahi letak kacamata baca yang menggantung di batang hidungnya. Persis seperti detik-detik sebelumnya, pria itu masih tak berminat sedikitpun untuk menatap lawan bicaranya. Menurutnya, sekumpulan catatan kematian yang tengah ia pelajari jauh lebih menarik.

“Pengalaman kedokteran di Harvard sepertinya sedikit membantu,” timpal Ashley dengan nada bicaranya yang ringan.

Sehun tersentak. Terdiam sejenak sebelum menoleh kearah Ashley yang masih menatapnya penuh minat dengan senyum mengembang di bibir. Sehun menelisik manik mata Samudera Atlantik itu dalam-dalam, berusaha keras mencari sebuah celah kebohongan disana. Namun apakah yang didapatkannya? Hanya sebuah kata nihil.

Tidak mungkin!

Ini gila!

Universitas Harvard adalah kampus paling prestisius di Amerika Serikat yang dinilai memiliki sekolah kedokteran terbaik di dunia dengan mendapat nilai sempurna untuk parameter reputasi akademik, pekerja lulusan, dan penilitian dalam penilaian Quacquarelli Symonds World University Rankings. Sehun sangat tahu bahwa Harvard adalah satu dari beberapa universitas dengan tingkat persaingan tertinggi di dunia, membuat melenggang masuk dengan status terdaftar sebagai mahasiswa adalah sebuah hal yang teramat sulit.

Tetapi, bagaimana wanita dihadapannya—dengan seluruh perilaku amoral yang dimilikinya—bisa diterima, terlebih lagi di fakultas paling berkelas dari Universitas Harvard?

Apa mungkin dia merayu rektor dengan tubuhnya? Sehun menerka-nerka menggunakan pemikiran paling liar yang terlintas begitu saja di dalam otaknya.

“Jika kau berpikir bahwa aku menggunakan tubuhku untuk dapat terdaftar di Harvard, kau salah besar, Sehun-ssi.” Ashley mendekatkan wajahnya, menyisakan jarak lima sentimeter diantara bibirnya dan bibir Sehun. “I’m sexy. And brainy is the new sexy,” gumamnya lembut.

Sehun menyunggingkan senyum di satu sudut bibirnya. “Oh, you’re rather good.” Pria itu sedikit memiringkan kepalanya, memandangi bibir merah alami dengan lekukan sempurna milik Ashley yang dapat ia jangkau hanya dengan memajukan wajah beberapa sentimeter—tentu jika Sehun mau melakukannya.

I know. Tetapi, apa kau tahu jika ada satu hal yang tak bisa otak pintarku ini cerna dengan baik sampai detik ini?”

What is that?” Sehun nampaknya mulai tertarik dengan perbincangan yang ditawarkan oleh Ashley. Ia bahkan merelakan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk menganalisis setumpuk kasus terbuang percuma hanya demi menanggapi ucapan sang wanita dominan itu.

“Tuhan.” Jemari lentik Ashley mulai terulur, menyusuri setiap bagian wajah Sehun dengan satu gerakan halus. “Aku tak tahu mengapa Tuhan menciptakanmu begitu sempurna, Sehun-ssi. Alis tebal, mata kelam, garis hidung yang tegas, bibir tipis, dan satu yang merupakan bagian favoritku adalah garis rahangmu yang tajam. Look at those fucking jawline. I think, I could cut myself slapping that face.

You want to try?” sahut Sehun dengan suaranya yang berat dan rendah, hampir terdengar seperti sedang berbisik.

No. Thanks.” Ashley menggeleng pelan dan menjauhkan wajahnya, kemudian beringsut turun dari meja kerja Sehun. Wanita itu sempat mengambil salah satu berkas milik Sehun sebelum ia melangkahkan kakinya ke ujung ruangan untuk sedikit menyibak tirai kamar yang sedari tadi tertutup rapat. “Kau sedang menyelidiki kasus kematian Charles Han?” tanyanya sambil membaca sekilas berkas yang kini ada di dalam genggamannya.

“Ya. Menteri itu ditemukan tewas di salah satu villa miliknya.”

“Huh! Boring.” Ashley mencibir, matanya memandang remeh berkas setebal lima puluh halaman itu.

Sorry?

“Kasus ini sangat membosankan dan hanya akan membuang-buang waktu saja jika kau tetap menyelidikinya. Fakta kematian pria tua itu berada tepat di bawah hidungmu. Sangat jelas.”

“Aku tidak suka teka-teki. Langsung saja bicara pada intinya,” tukas Sehun.

Ashley kembali melangkah mendekat kearah Sehun, duduk tepat dihadapan pria itu, dan menautkan kedua tangannya di atas meja. “Kematian Charles Han bukanlah sebuah kasus pembunuhan. Dia meninggal karena bakteri streptokokus yang berinkubasi di dalam tubuhnya. Setelah melihat kondisi mayat, sepertinya bakteri tersebut telah berinkubasi selama sembilan atau sepuluh hari.” Wanita itu mengambil jeda dengan menyesap secangkir kopi milik Sehun yang telah dingin. Tanpa meminta izin terlebih dahulu tentunya. “Menurut pendapatmu, bagaimana cara bakteri itu masuk ke dalam tubuhnya?” tanya Ashley setelah membersihkan sudut bibirnya menggunakan ibu jari.

Well, aku akan mendengarkan pendapatmu terlebih dahulu. Aku ingin tahu seberapa hebatkah seorang lulusan kedokteran Harvard dalam menganalisis.” Sehun tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada, terlihat cukup antusias menunggu Ashley menyuarakan isi pikirannya.

“Lihat goresan luka ini.” Ashley memperlihatkan sebuah foto yang ditemukannya di salah satu halaman berkas kematian Charles Han kepada Sehun. “Lengan kiri bagian dalamnya terdapat sebuah bekas cakaran kucing sepanjang lima sentimeter. Luka itu memungkinkan strain bakteri streptokokus dari cakar kucing masuk dengan mudah ke dalam aliran darahnya. Bakteri tersebut akan terus berkembang biak dan pada akhirnya mempengaruhi katup aorta yang berfungsi untuk mengontrol aliran darah ke seluruh tubuh. Kesimpulan singkatnya, Charles Han meninggal karena gagal fungsi kerja jantung. Semudah itu.”

“Bagaimana jika goresan luka itu bukanlah karena cakaran kucing melainkan bekas sayatan yang digunakan untuk menyamarkan pembunuhannya? Lagipula, menurut catatan medis, Charles Han memiliki riwayat penyakit asma akut yang tidak mungkinkannya untuk memelihara seekor kucing,” sergah Sehun.

“Lalu, bagaimana jika itu adalah kucing jenis Bambino? Kucing hasil mutasi genetik yang tak mempunyai sehelai bulu pun ditubuhnya. Aku mendapatkan informasi dari sumber yang akurat bahwa Charles Han baru saja membeli seekor kucing Bambino dengan harga fantastis beberapa hari sebelum pergi berlibur ke villa pribadinya. Tentu saja kucing itu belum jinak dan kemungkinannya untuk melukai Charles Han sangatlah tinggi. Rentang waktu pembelian dan masa inkubasi bakterinya juga sesuai.”

“Baiklah. Namun, sepertinya aku masih belum dapat mempercayai analisismu seratus persen, Nona Kim. Tidak sebelum hasil otopsi dari rumah sakit benar-benar keluar dan memaparkan fakta yang sesungguhnya.” Sehun menggelengkan kepalanya. Ia bukanlah manusia bodoh yang akan menelan mentah-mentah sebuah analisis yang terlebih lagi diutarakan oleh seorang wanita kriminal lulusan Harvard seperti Ashley Kim.

“Mengapa jika menyangkut kematian seseorang yang memiliki jabatan tinggi, penyelidikan akan dilakukan secara besar-besaran dan hipotesis kematian akan dibuat serumit mungkin seperti mereka adalah orang yang tidak mungkin mati dengan alasan yang wajar?” Ashley mendesah pelan. “Baiklah jika kau menginginkan bukti yang lebih akurat. Aku akan menjelaskan kepadamu, Sehun-ssi.”

Sehun diam. Matanya sedikit memicing heran ketika mendapati image wanita dihadapannya kini telah berubah drastis menjadi seseorang yang berpendidikan tinggi dan berotak cerdas. Kerlingan nakal dan menggoda yang biasanya selalu terlihat menghiasi mata jernihnya, kini tergantikan sepenuhnya oleh sorot mata tajam dan serius.

“Jari manis kirinya bengkak dan membiru. Itu adalah gejala khas dari septikemia.” Ashley menunjuk satu bagian di selembar foto yang ia sodorkan kepada Sehun. “Septikemia adalah suatu keadaan ketika bakteri berkembang biak di dalam darah, menyebabkan peradangan luas yang merusak organ-organ vital. Oh ya, apakah kau tahu bahwa beberapa tahun lalu Charles Han telah di diagnosa memiliki kelainan pada katup jantungnya? Aku percaya bahwa bakteri streptokokus itu telah menetap di tempat yang lemah tersebut dan menyebabkan gagalnya fungsi jantung.”

“Berapa persen kau percaya pada hipotesismu itu, Nona Kim?”

“Aku ingin sekali mengatakan seratus persen. Tetapi karena tak ada istilah seratus persen dalam dunia kedokteranmaka aku akan mengatakan bahwa kepercayaanku pada hipotesis itu adalah sembilan puluh sembilan persen.” Ashley tersenyum ringan. Wanita itu sama sekali tak berusaha menyembunyikan raut penuh percaya diri diwajahnya. “Asal kau tahu, aku membeberkan semua hal ini semata-mata hanya untuk menghemat waktumu. Kau tak perlu lagi menunggu sampai esok hari untuk mengetahui hasil otopsi mayat karena aku jamin hasilnya akan sama persis seperti hipotesisku. Tetapi jika tetap tidak percaya, kau boleh saja membuang sia-sia dua puluh empat jam berhargamu itu.”

“Kurasa, keyakinanmu itu terlampau tinggi, Nona Kim. Bagaimana jika hipotesis kucing-tak-berbulu itu akan menertawakanmu esok hari?” Sehun tergelak meremehkan.

“Atau, bagaimana jika hipotesis itu yang balik menertawakanmu, Sehun-ssi? Aku yakin kau akan tampak seperti orang tolol yang bertekad keras ingin menangkap seekor kucing tanpa bulu dan memenjarakannya di tahanan narapidana kelas kakap.” Ashley bangkit dari kursi, melangkah dengan anggun dari balik kimono tidur berwarna biru safir miliknya, dan berhenti sejenak tepat dua langkah di depan pintu. “Bagaimana jika kita bertaruh saja?”

-oOo-

Mercedez Benz hitam milik Sehun yang biasanya melesat tenang dan damai membelah jalanan arteri Kota Seoul rupanya pagi ini telah disabotase oleh suara lantang Gerard Way yang dengan semangat membara mendendangkan hampir selusin lagu My Chemical Romance sejak empat puluh lima menit lalu.

Pukul enam pagi dan matahari masih enggan muncul. Suatu hal yang hampir mustahil bagi Sehun untuk terjaga dan berangkat bekerja di waktu seperti ini. Biasanya, pria itu tak akan segan-segan memaki siapapun yang berani membangunkannya sebelum pukul tujuh tepat, atasannya—si Cho Kyuhyun keparat itu sekalipun. Namun, berhubung ia kalah taruhan,—Ya. Seorang Oh Sehun yang terkenal sangat teliti dan perfeksionis untuk pertama kalinya kalah dalam taruhan, dan itu adalah hal paling memalukan di sepanjang hidupnya. Pria itu benar-benar ingin dunia menelannya hidup-hidup dalam sekejap—Sehun harus mengambil kasus yang baru saja disodorkan oleh Kyuhyun satu jam lalu melalui saluran telepon.

“Sudah cukup merasa tolol pagi ini, Tuan Oh Sehun?” Ashley yang duduk tepat di samping Sehun itu tersenyum di satu sudut bibirnya, sama sekali tak berusaha untuk menutupi nada mengejek di dalam ucapannya.

Sehun tetap diam, matanya menatap jalanan lengang dari balik kaca depan, dan kedua tangannya mencengkram kuat-kuat kemudi mobil. Matahari bahkan belum terbit, tetapi mood-nya sudah hancur berantakan.

Pukul empat pagi, ponselnya berdenting dan itu adalah sebuah e-mail dari tim forensik yang menangani kasus kematian Charles Han. Sehun membuka file laporan forensik tersebut dengan kepercayaan diri tingkat tertinggi. Pria itu sangat yakin bahwa hipotesis Ashley sama sekali tak berdasar dan mengada-ada. Seperempat, dua perempat, dan ia masih mengulas senyum tipis di bibirnya. Namun, ketika laporan forensik itu telah mencapai tiga perempat bagian, senyum Sehun seketika luntur tak berbekas.

What the hell! Bagaimana bisa hipotesis Ashley terbukti seratus persen benar?

Hasil tes forensik menjelaskan bahwa Charles Han benar-benar meninggal karena bakteri streptokokus bersarang di dalam katup jantungnya yang lemah, menyebabkan gagal fungsi kerja jantung. Persis seperti yang diutarakan Ashley semalam dan Sehun benci mengakui hal itu.

Singkat cerita, sebagai pihak yang memenangkan pertaruhan konyol ini, Ashley Kim dengan santainya mengatakan bahwa ia akan mendeklarasikan diri menjadi tim forensik pribadi Sehun untuk satu kasus kedepan. Ya, sepertinya wanita itu mulai bertindak pamer dengan kemampuan yang dimilikinya.

Dan disinilah Ashley Kim.

Wanita itu tersenyum penuh kemenangan dan tanpa disadari telah mengukir sebuah kenangan yang akan terus melekat kuat di dalam pikiran Sehun. Kenangan tentang dialah satu-satunya wanita yang dapat mengalahkan seorang Oh Sehun.

The woman who beat him.

-oOo-

“Bagaimana dia—” Chanyeol yang masih belum bisa menyimpan raut wajah keterkejutannya, kini berjalan mensejajari langkah Sehun sambil terus saja bertanya bagaimana sosok Ashley Kim bisa muncul di TKP bersama dengan sahabatnya itu.

“Dia menawarkan diri untuk menjadi tim forensik pribadiku untuk kasus ini.” Sehun menjelaskan ala kadarnya, sama sekali tak berminat untuk menyinggung perihal kalah taruhan karena itu hanya akan melukai harga diri yang selalu dijunjungnya tinggi-tinggi. “Lagipula, tim forensik yang bertugas kali ini adalah tim forensik yang diketuai Lee Sunghae. Kau tahu kan, jika aku tidak dalam hubungan yang baik dengan pria sombong itu?” tambah Sehun.

“Huh! Seperti kau tidak sombong saja.” Chanyeol mencibir. Untunglah cibiran itu hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.

Sehun memasukkan kedua tangan ke dalam kantung, merapatkan mantel panjangnya ketika udara pagi yang dingin itu menyambut relung-relung tulang dengan begitu ganas, dan bergegas melangkah menuju kearah Ashley yang tengah diam berdiri tepat di depan sebuah bentangan garis polisi—jelas saja, wanita itu tidak mempunyai akses untuk masuk ke dalam TKP.

“Wanita ini datang bersamaku. Forensik.” Sehun sedikit melirik malas kearah Ashley ketika menunjukkan lencana NIS miliknya kepada seorang petugas polisi yang tengah berjaga.

“Oh, baiklah.” Setelah memverifikasi lencana milik Sehun dan Chanyeol, petugas polisi itu pun dengan segera mengangkat garis polisi dan mempersilahkan Sehun, Ashley, dan Chanyeol untuk memasuki kawasan TKP.

Kedatangan mereka di Stasiun Dujeong pagi ini rupanya langsung disambut hangat oleh sesosok mayat pria yang telah terbujur kaku di samping rel kereta api lengkap dengan kepalanya yang retak dan jejak darah yang telah mengering diatasnya. Benar-benar sebuah sambutan yang hangat sampai-sampai Chanyeol memilih untuk menjauh—atau lebih tepatnya kabur—dengan beralasan ingin menemui ketua tim divisi Cyber Crime.

“Waktu kematiannya sekitar tujuh jam yang lalu berdasarkan tingkat kekakuan mayat. Perkiraan sementara, kematiannya disebabkan oleh kecelakaan murni karena tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan ditubuhnya. Mungkin pria ini adalah salah satu penumpang gelap yang terjatuh dari atap kereta api, mengingat waktu kematiannya sesuai dengan waktu melintas kereta api paling akhir kemarin malam.” Cho Kyuhyun, pria menyebalkan dengan manik mata coklat gelap yang selalu terlihat sinis itu telah berdiri sempurna di belakang Sehun. “Ku kira kau tak akan datang untuk kasus terpagi hari ini, Oh Sehun,” tambah pria itu dengan senyum remeh yang tercetak di bibir penuhnya.

“Tanpa identitas?” Sehun tampak malas menanggapi sindiran atasannya itu. Dengan cepat, ia memasang sarung tangan dan mulai memeriksa sosok tanpa nyawa dihadapannya dengan teliti, tanpa ada yang terlewat sejengkal pun.

“Ya. Tak ada dompet, tanda pengenal, atau semacamnya. Hanya ada sebuah ponsel rusak dan mati total yang kini sedang berusaha di lacak oleh divisi Cyber Crime.”

“Usianya sekitar tiga puluh tahun dengan melihat kerutan-kerutan halus di tepian matanya. Punggungnya lembek karena sepertinya ia bekerja dengan intensitas duduk yang tinggi. Namun, telapak kaki dan varises baru yang ada di kakinya menunjukkan hal sebaliknya. Jadi, dalam bekerja, pria ini banyak duduk  dan juga banyak berdiri. Menurutmu, pekerjaan seperti apakah itu?” Sehun memfinalkan hipotesisnya dan kembali berdiri menghadap Kyuhyun yang masih memasang wajah angkuh.

Security guard?” tebak Kyuhyun asal.

“Bagaimana dengan seorang laboran atau ilmuwan?” Sebuah suara yang terdengar familiar di telinga Sehun tiba-tiba menyahut dari balik tubuhnya. Sudut mata pria itu menangkap seorang Ashley Kim tengah melangkah ringan dengan seperangkat pakaian steril yang telah melekat ditubuhnya. “Oh! Good morning, Cho Kyuhyun-ssiNice to meet you,” sapanya singkat ketika berjalan melewati pria yang kini tengah membelalakkan matanya itu.

For God’s sakes, Oh Sehun! Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau membawa orang asing ke dalam TKP? Tunggu! Bukankah dia adalah target misi pribadimu?” Kyuhyun mendesis penuh amarah. Runtuh sudah image angkuhnya, karena kini pria itu lebih terlihat seperti seorang nenek-nenek cerewet yang banyak bertanya dan mengomel dibandingkan dengan seorang ketua tim agen rahasia.

“Kau tidak tahu kemampuannya yang sungguh mengerikan, Cho Kyuhyun. Kurasa, dia bahkan bisa menghitung sisa umurmu hanya dengan melihat mata sinis itu,” desis Sehun yang tengah berusaha keras untuk tidak menyemburkan tawanya ketika melihat wajah Kyuhyun yang kini telah berubah menjadi merah padam.

“Tubuhnya berbau iodoform. Ada bercak hitam bekas nitrat di telunjuk kanannya dan juga ada beberapa luka bakar kecil yang diakibatkan percikan cairan kimia di punggung tangannya. Sepertinya, pria ini adalah seorang laboran atau ilmuwan. Oh ya, bukankah seorang laboran atau ilmuwan juga mempunyai intensitas duduk dan berdiri yang sama tingginya saat bekerja?” Ashley membuka masker yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya, menginterupsi perdebatan sengit yang tengah terjadi antara Kyuhyun dan Sehun. “Dengan begitu, menurut pendapatku, penyelidikan mengenai identitas korban bisa lebih dikerucutkan dengan memfokuskan pada laboraturium-laboraturium yang ada di sekitar Seoul.”

“Kami telah menemukan identitasnya,” seru Chanyeol dari kejauhan. Pria itu kembali datang menghampiri dengan langkah kakinya yang panjang dan raut wajah berbinar-binar. Sehun hanya mengulas senyum tipis melihat semangat sahabatnya yang tak pernah surut, selalu seperti tengah menangani kasus pertama di dalam hidupnya. “Kim Hyo Sung dari Seoul National Laboratory. Usia tiga puluh dua tahun. Saat ini tengah mengerjakan proyek nuklir negara,” lanjut Chanyeol.

“Jika ternyata mayat ini adalah seorang ilmuwan pintar, maka seharusnya ia masih mempunyai sedikit otak untuk berpikir bahwa menjadi penumpang gelap di sebuah kereta api adalah hal yang berbahaya. Dan satu lagi, pria ini sedang mengerjakan proyek nuklir negara bernilai jutaan won dan bukankah seharusnya ia juga memiliki setidaknya sedikit uang untuk membayar tiket kereta api? Ini aneh. Tidakkah kalian bisa menarik sebuah kesimpulan pada kasus ini?” Mata Sehun berkilat misterius dan otaknya kini tengah berusaha menyusun beberapa kepingan bukti yang ada menjadi sebuah fakta yang mutlak.

Chanyeol menjentikkan jarinya.“Tidak salah lagi. Kim Hyo Sung sudah pasti adalah korban pembunuhan,” seru pria itu dengan nada bicara yang sengaja dibuat semisterius mungkin dan didukung oleh matanya yang membulat penuh. Konyol!

“Ya. Kalian juga bisa melihat bahwa hanya ada sedikit darah yang menempel di rel kereta api dan sekitarnya. Bukti itu berbanding terbalik jika melihat kondisi kepala mayat yang retak parah. Jadi, kemungkinan terbesarnya adalah Kim Hyo Sung sebenarnya telah dalam keadaan meninggal ketika jatuh dari atap kereta api. Kemungkinan ini didasari oleh fakta bahwa darah seorang mayat akan mulai membeku setelah enam jam kematian,” timpal Ashley panjang lebar. Sepertinya, wanita itu tengah mengerahkan seluruh bagian pada otak cerdasnya dan bertindak sebagai seorang profesional di dalam kasus ini, membuat dugaan awal Sehun yang mengira bahwa Ashley hanya akan bermain-main akhirnya terpatahkan.

Ashley Kim benar-benar seorang kriminal yang sempurna.

Seorang kriminal dengan jalan pikiran abstrak yang membuat semua orang akan selalu bertanya-tanya tentang apa yang terlintas di dalam otaknya.

Seorang kriminal yang selalu sukses membuat kejutan-kejutan tak terduga di setiap langkah dan tindakan yang diambilnya.

Ashley Kim adalah seorang kriminal jenius yang tak bisa lagi Sehun remehkan dari segi apapun itu.

-oOo-

Siang ini, setelah beberapa jam lalu harus terperangkap dalam serangkaian prosedur penyelidikan yang melelahkan dan menguras tenaga, akhirnya kini Sehun dan Ashley dapat kembali ke apartemen dengan satu orang tambahan, yaitu Park Chanyeol. Pria itu datang dengan sangat senang hati atas undangan sepihak Ashley yang dengan santai menyuruhnya singgah terlebih dahulu untuk makan siang. Wanita itu memang selalu bertindak sesukanya.

Bicara tentang makan siang, Sehun kembali teringat bagaimana kemarin sore ia menemukan lemari es yang biasanya hanya berisi beberapa kaleng soju dan satu dua bungkus makanan ringan itu tiba-tiba membeludak, dipenuhi dengan berbagai macam bahan makanan yang menurut perkiraannya persediaan makanan itu sangat cukup untuk dua bulan kedepan.

Lagi-lagi, hal itu disebabkan oleh sifat bertindak sesukanya Ashley. Wanita itu berdalih bahwa mengonsumsi soju dan makanan ringan secara berkelanjutan sangatlah tidak sehat dan dapat memperpendek usia, sehingga ia berinisiatif untuk menyingkirkan semua isi lemari es Sehun dan menggantinya dengan daging, sayuran, buah-buahan, dan lain sebagainya. Sungguh keterlaluan!

“Kau tahu? Ini adalah pancake terbaik sepanjang masa,” sahut Chanyeol sambil mengangkat kedua ibu jarinya sesaat setelah dirinya melahap potongan terakhir honey pancake buatan Ashley di piringnya.

“Benarkah?” Ashley tersenyum senang.

Chanyeol mengangguk mantap. “Jika kau berencana untuk membuka sebuah cafè, aku pasti akan menanamkan sahamku disana. Kau hanya perlu memberiku nomor ponselmu untuk mempermudah pembicaraan bisnis kita.” Dengan wajah tanpa dosa, Chanyeol mulai merogoh kantung celananya untuk mengambil ponsel.

Sehun berhenti mengunyah seketika dan membulatkan matanya tak percaya menatap satu makhluk astral bertelinga lebar dihadapannya dengan geram.

“Park Chanyeol, ku kira kau masih mempunyai sedikit bagian yang berguna di dalam otakmu untuk berpikir bahwa wanita itu bukanlah sahabatmu atau calon rekan bisnismu. For God’s sakes! Dia adalah target misiku yang berbahaya!” Sehun berdesis dengan rahangnya yang mengeras, tidak tahan lagi dengan jalan pikiran sahabatnya. Diam-diam pria itu mulai penasaran, sebenarnya terbuat dari apa otak seorang Park Chanyeol? Mengapa ia terlahir begitu bodoh?

“Hei! Aku hanya sedang berusaha mendapatkan nomor ponselnya. Siapa tahu itu juga akan berguna dalam misimu kali ini.” Chanyeol balik mendesis, tidak terima karena usahanya untuk mendapatkan nomor ponsel sang wanita fantasinya itu dihalang-halangi.

“Oke. Hari ini kau meminta nomor ponselnya dan mungkin lusa mayatmu akan teronggok di tempat pembuangan sampah dengan perut terkoyak dan organ-organ dalammu yang telah hilang entah kemana,” ujar Sehun ketus. Pria itu sama sekali tak habis pikir dengan tindakan Chanyeol yang entah sadar atau tidak tengah menjadikan dirinya sendiri sebagai santapan lezat bagi seekor macan betina buas.

“Sadis sekali caramu mendeskripsikanku, Sehun-ssi.” Ashley kembali angkat bicara setelah sebelumnya hanya terkikik geli menyimak perdebatan sepasang sahabat dihadapannya. “Lagipula, aku tidak mungkin membunuh orang seramah Park Chanyeol,” lanjutnya.

Untuk beberapa detik, Chanyeol lupa cara untuk bernafas.

Matanya memandang kosong ke depan tanpa berkedip sedikitpun.

Ashley menganggapnya orang yang ramah?

Ashley tidak akan membunuhnya?

Oh, Tuhan! Tolong turunkan Park Chanyeol yang kini sedang melayang-layang bahagia di atas sana.

“Kau—ternyata wanita yang baik hati, Ashley-ssi. Kesan pertamaku ternyata benar-benar salah besar,” ujar Chanyeol sesaat setelah dirinya mendarat kembali ke bumi dengan selamat. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan semburat merah yang muncul di kedua belah pipinya.

Ashley tergelak sedangkan Sehun bergidik ngeri melihat wajah Chanyeol yang merah padam. Sungguh! Ia bersumpah demi apapun bahwa tidak ada yang lebih menjijikan dari itu.

“Kesan pertama?” tanya Ashley di akhir gelak tawanya.

“Ya. Pertama kali aku melihatmu adalah saat kau menjadi model di cover terdepan Playboy edisi 125. Ekspresimu dalam foto itu sungguh dingin sehingga aku mengira bahwa kau adalah wanita yang arogan. Tetapi tenang saja, walau begitu aku tetap mendedikasikan diri untuk menjadi penggemar setiamu,” jelas Chanyeol panjang lebar dan terdengar sangat antusias.

“125?” Dahi Ashley mengerut halus dan alis indahnya bertaut, mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Ah! Bukankah itu edisi dimana aku mempromosikan La Perla?”

“Yap! Betul. Kau tahu? Bikini putih itu sungguh cocok ditubuhmu.” Chanyeol berseru senang.

“Hei, majalah itu sudah terbit dua tahun yang lalu dan kau masih mengingatnya? Wah! Kau benar-benar yang terbaik, Chanyeol-ssi.” Ashley bertepuk tangan, memuji Chanyeol yang telah mendedikasikan diri untuk menjadi penggemarnya sejak bertahun-tahun lalu.

Di lain sisi, ada seorang Oh Sehun tengah mengatur nafasnya yang mulai memburu. Bahunya naik-turun dan matanya berapi-api, menyaratkan akan ada sebuah luapan emosi yang sangat dahsyat beberapa saat lagi. Dan benar saja, sepersekian detik kemudian Sehun pun membanting pisau dan garpunya ke atas piring yang masih tersisa setengah pancake disana, menyebabkan sebuah suara dentingan cukup keras yang sukses membuat seluruh perhatian kembali terpusat kepadanya. “Bisakah aku makan siang dengan tenang tanpa ada obrolan menjijikan tentang pakaian dalam wanita?” Mata Sehun menilisik tajam, setajam nada ucapannya, memindai kedua makhluk dengan jalan pikiran tidak beres yang ada dihadapannya.

“Ku rasa dia masuk kriteria orang yang akan ku bunuh secepatnya,” beritahu Ashley kepada Chanyeol dengan suara yang setengah berbisik.

Chanyeol terkikik geli. “Bunuh saja dia secepatnya, maka tidak ada lagi orang yang akan mengganggu obrolan kita tentang bisnis cafè atau tentang bikini La Perla.

Sehun bertambah murka. Chanyeol si manusia aneh pun mengklaim bahwa ia telah melihat sebuah tanduk setan berwarna merah muncul dari dalam kepala sahabatnya itu.

“Mengapa kalian berdua tidak menikah saja! Penghargaan pasangan paling gila dan mesum pasti akan langsung diberikan kepada kalian.” Sehun bangkit dari kursi dengan satu gerakan kasar, membuat meja makan sedikit bergetar ketika terbentur lutut pria itu.

Shall we?” Ashley menopangkan dagu sambil tersenyum dan mengerlingkan matanya kearah Chanyeol.

Serangan kedua.

Chanyeol yang beberapa detik lalu masih tergelak-gelak, kini kembali tak bisa bernafas.

Apa benar saat ini Ashley sedang melamarnya?

Apa benar impiannya untuk menikah dengan seorang Ashley Kim akan terwujud?

Oh, Tuhan! Tolong bawa nafas Chanyeol kembali.

“Demi Tuhan! Saat ini aku sangat bernafsu untuk menembak kepala kalian dan melakukan penelitian dengan kedua otak itu.” Sehun menggeram kesal dengan kadar amarah yang sudah melebihi ambang batas.

Untunglah sebelum Sehun benar-benar mengambil sebuah revolver miliknya yang ada di dalam buffet kayu, panggilan telepon dari Kyuhyun terlebih dahulu menginterupsi dan secara tidak langsung telah menyelamatkan dua nyawa.

“Apa ada perkembangan?” tanya Sehun sesaat setelah suara Kyuhyun terdengar di ujung sana.

“……………………….”

“Apa?!” Sehun berseru. Dengan cepat ia melangkah menjauh dari ruang makan dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. “Jadi, chip berisi semua proyek nuklir negara itu menghilang?” desisnya pelan namun terdengar tajam dan menusuk.

Akhirnya, semua kepingan bukti telah tersusun lengkap, dan kini Sehun pun tahu persis motif di balik pembunuhan Kim Hyo Sung. Sebuah daftar panjang mengenai pihak-pihak yang memiliki kemungkinan tertinggi untuk menjadi pelaku pembunuhan ilmuwan itu secara otomatis terpapar jelas di dalam otaknya.

Sedangkan di lain sisi, Ashley yang mendengar samar-samar percakapan via telepon antara Sehun dan Kyuhyun itu, kini tengah terdiam sempurna. Tubuhnya menegang, matanya menatap kosong lurus ke depan, dan pelipisnya sedikit berdenyut ngilu. Sebuah pemandangan yang tak pernah terlihat dari diri seorang Ashley Kim sejauh ini.

Satu hal yang telah diprediksikannya sejak lama akhirnya benar-benar terjadi. Itu berarti ia harus mempercepat pergerakan dalam mengambil kembali microchips miliknya dari tangan Sehun dan kemudian segera menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

Ya. Menghilang.

-oOo-

 

12 responses to “[Freelance] THE ROYAL SCANDAL (Part 2)

  1. Pingback: [Freelance] THE ROYAL SCANDAL (Part 3) | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: [FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL (Part 4) | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s