[Freelance] THE ROYAL SCANDAL (Part 3)

THE ROYAL SCANDAL

THE ROYAL SCANDAL

She has the laugh of Devil and the smile of the an Angel.

She’s a wicked, wild, and wreckless thing.

-oOo-

SUMMARY

Oh Sehun adalah seorang secret agent dari National Intelligent Services yang diberikan sebuah misi pribadi oleh Presiden Korea Selatan untuk menemukan dan memusnahkan foto-foto skandal seks anaknya, Kim Jong In, dengan seorang model majalah pria dewasa terkenal, Ashley Kim. Berhasilkah Sehun mengalahkan sang wanita dominan, Ashley Kim, dan menuntaskan misinya dengan mudah?

-oOo-

TITLE                        : THE ROYAL SCANDAL

AUTHOR                  : MINERVA RENATA

BLOG                        : www.tyjawline.wordpress.com

MAIN CAST             : OH SEHUN (EXO), ASHLEY KIM (OC)

SUPPORT CAST     : PARK CHANYEOL (EXO), LEE HYUKJAE (SJ)

GENRE                     : ACTION, ROMANCE, (LITTLE BIT) COMEDY

RATING                    : NC-17

LENGTH                   : CHAPTERED

DISCLAIMER          : THIS STORY AND PLOT ARE MINE. ALL OF THOSE CASTS BELONG TO THEMSELVES. SO, DON’T TAKE OUT ANY CONTENT WITHOUT PROPER CREDIT!

AUTHOR NOTE      : Insipired by Sherlock – A Scandal in Belgravia

PREVIOUS CHAPTER : [1] [2]

-oOo-

Tahukah kalian tentang komposisi otak seorang pria?

Ya. Otak mereka nyatanya sangat di dominasi oleh segala macam pemikiran yang berhubungan dengan ketertarikan seksual. Faktanya, pria akan memikirkan hal tersebut setidaknya sekali dalam sehari.

Atau, ingatkah kalian pada sebuah penelitian tentang penggunaan otak kanan dan otak kiri?

Ya. Hal ini rupanya sangat berpengaruh pada cara seseorang ketika menghadapi suatu permasalahan. Wanita yang ternyata empat kali lipat lebih cenderung berpikir menggunakan otak kanan dibandingkan pria, membuat mereka akan mengutamakan perasaan daripada logikanya dalam mengambil sebuah keputusan.

Ashley mempelajari hal-hal tersebut dalam mata kuliah psikologi beberapa tahun lalu ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswi Harvard, dan kemarin ia telah membuktikan sendiri bahwa satu dari dua teori itu memang seratus persen benar adanya.

Park Chanyeol adalah yang pertama. Seorang pria dua puluh tahunan dimana pada usia tersebut tingkat perkembangan sel-sel di dalam otak tengah memasuki masa yang pesat, menjadikannya sebagai sampel percobaan terbaik.

Mudah saja bagi Ashley untuk mengaktifkan bagian dominan pada otak Chanyeol karena ia tahu persis bahwa pria itu memang telah mengagumi dan memiliki ketertarikan secara seksual kepadanya. Hanya dengan sedikit menerapkan teknik menggoda dan menciptakan suasana obrolan yang nyaman, Park Chanyeol dalam sekejap berubah menjadi sebuah boneka yang akan dengan senang hati menanggapi semua pertanyaan Ashley dan secara tak sadar telah memberikan informasi kepada wanita itu.

Kemarin, ditemani sepiring Pringles Sweet Mesquite BBQ, Ashley mencoba untuk membangun kembali obrolan menyenangkan dengan pria berwajah jenaka itu, setelah sebelumnya sempat terinterupsi oleh panggilan telepon dari Kyuhyun yang membuat suasana terasa mencekam. Dan benar saja, tak butuh waktu lama untuk wanita jenius itu membuat seorang Park Chanyeol terbuai dan terhanyut dalam gelak tawa obrolan mereka yang semakin lama semakin menjurus ke sebuah informasi yang sangat dibutuhkan oleh Ashley.

Ashley benar-benar tak habis pikir bagaimana Park Chanyeol—dengan segala naluri bergosipnya—bisa lolos tes untuk masuk National Intelligent Services yang notabene adalah sebuah instansi pemerintah dimana semua rahasia berkumpul dan dijaga agar tetap menjadi sebuah rahasia.

Park Chanyeol memulai dengan menceritakan segala macam hal tentang Sehun. Arti nama, tempat dan tanggal lahir, tinggi dan berat badan, hobi, atau serangkaian hal lainnya yang tak begitu penting. Namun, ketika pria itu mulai menyinggung nama seorang wanita, Ashley pun serasa bangkit dari kebosanan yang hampir saja membunuhnya.

Han Cheonsa. Atau di sepanjang cerita, Park Chanyeol lebih sering menyebutnya sebagai Dewi Laboraturium.

Han Cheonsa adalah seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun yang telah menjadi penghuni setia laboraturium NIS sejak tiga tahun lalu. Merupakan lulusan terbaik dari National Intelligent Academy—sebuah akademi tempat pelatihan para trainee agen rahasia dan calon staff National Intelligent Service—dalam bidang Research and Chemical yang membuat gadis itu langsung di rekrut oleh petinggi NIS untuk menjadi kepala laboraturium tanpa memperhitungkan terlebih dahulu usianya yang masih amat sangat muda.

“Sepertinya, Han Cheonsa sangat mencintai Sehun meskipun semua orang tahu bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan besar. Sehun mempunyai rasa antipati yang tinggi terhadap wanita, dan cinta gadis itu tak akan mungkin berbalas sampai kapan pun juga. Ironis.”

Sepenggal kalimat yang Chanyeol ucapkan dengan nada bicara seorang penggosip ulung itu terus menggema di dalam kepala Ashley. Fakta bahwa Han Cheonsa sangat mencintai Sehun terasa begitu menggelitik rasa ingin tahunya.

“Han Cheonsa sebenarnya adalah salah satu hal terbaik yang dimiliki oleh Sehun. Dewi Laboraturium itu adalah seorang ‘agent’ dimana Sehun bisa memanfaatkan kepolosan dan rasa cintanya untuk melancarkan semua penyelidikan yang membutuhkan penelitian. Tak jarang Sehun secara sepihak meminta akses mayat-mayat yang akan diteliti, atau juga meminta Cheonsa untuk melakukan sederet penelitian rumit yang diajukannya secara tiba-tiba meskipun ada setumpuk penelitian lain yang seharusnya gadis itu kerjakan terlebih dahulu. Sehun tahu betul letak kelemahan Cheonsa yang tidak bisa mengatakan kata ‘Tidak’ kepadanya.”

Brengsek! Memang. Namun, Sehun tetaplah seorang pria jenius yang dapat mempermainkan dan memanfaatkan kondisi psikologis seseorang untuk kepentingan pribadinya. Itulah yang membawa Ashley kini melangkah di sebuah lorong panjang dan sepi diiringi oleh hentakan tegas yang ditimbulkan Christian Louboutin SS Collection setinggi lima sentimeter itu.

Ashley ingin membuktikan kebenaran dari teori kedua. Teori tentang seorang wanita yang akan lebih menggunakan perasaan dibandingkan dengan logikanya dalam mengambil sebuah keputusan.

Ashley yakin bahwa Sehun telah memperalat Cheonsa dan menjadikannya sebuah tameng untuk microchips itu atas dasar kondisi psikologis seorang wanita yang pasti rela melakukan apapun untuk pria yang dicintainya. Kesetiaan seorang wanita yang tengah jatuh cinta memang tak ada yang bisa menandingi. Mereka akan membuang jauh-jauh kelogisan berpikir dan memilih untuk mendewakan perasaannya.

Wanita adalah pihak yang selalu bertingkah bodoh dalam hal cinta, bukan?

“Good afternoon, Han Cheonsa-ssi. Ashley tersenyum tipis ketika telah sepenuhnya berada di dalam sebuah ruangan bernuansa putih dengan bau bahan kimiawi yang menyeruak tajam dan menemukan seorang wanita dengan rambut hitam terkuncir rapi tengah berdiri membelakanginya, terlihat sibuk berkutat dengan cairan-cairan berwarna terang yang ada di beberapa gelas beker.

Han Cheonsa tersentak, kemudian membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dahi gadis itu berkerut halus dan manik mata bulatnya bergerak memindai Ashley yang berdiri tepat dua meter dihadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Afternoon. Maaf, apakah kita saling mengenal?” tanyanya dengan hati-hati.

Ashley menggeleng dan kembali melangkahkan kaki jenjangnya untuk mempersempit jarak dengan gadis bertubuh mungil yang terlihat tenggelam di balik jas laboraturium itu. “Tidak. Kita tidak saling mengenal sebelumnya.”

“Lantas, apa tujuan Anda kemari?”

Ashley tersenyum beberapa detik sebelum mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, menyisakan Cheonsa yang masih menatapnya dengan beribu tanda tanya besar di dalam kepalanya. “Aku ingin mengambil sebuah microchips yang Sehun simpan disini. Apa kau mengetahui dimana ia menaruh benda itu?”

Cheonsa mengerjap beberapa kali dan manik matanya tampak tidak fokus ketika tanpa sengaja bertemu pandang dengan Ashley. “Tidak. Tidak ada microchips di ruangan ini,” jawab gadis itu cepat, lengkap dengan senyum canggung yang berusaha ditampakkan oleh bibir kecilnya.

“Oh! Thankyou so much, Han Cheonsa-ssi. Kau sangat membantu,” seru Ashley.

Sorry?” tanya Cheonsa tak mengerti.

“Aku tahu kau berbohong dan alam bawah sadarmu sendiri yang telah memberitahuku. Setiap orang yang mempunyai rahasia, maka ia akan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan rahasia itu dengan terburu-buru dan terlalu cepat. Berniat untuk menyangkal, namun malah terdengar seperti tengah mengelak. Sesederhana itulah manusia.” Ashley melipat kedua tangannya di depan dada, menatap senang raut wajah Cheonsa yang berubah menjadi tegang.

“Maaf. Aku sedang sibuk. Tidak ada waktu untuk meladeni omong kosongmu,” tegas Cheonsa yang kini telah membalikkan tubuhnya, kembali memunggungi Ashley dan melanjutkan percobaannya yang sempat tertunda.

“Seharusnya, kau tidak mencintai Sehun sedalam itu, Han Cheonsa-ssi,” sahut Ashley yang membuat Cheonsa membeku, tanpa sadar juga menahan nafas. “Dia tidak lebih dari seorang brengsek jenius yang selalu memanfaatkanmu,” lanjutnya.

Cheonsa menghembuskan nafas dengan kasar. “Silahkan. Pintu keluar ada di sebelah kananmu, Nona.” Gadis itu merentangkan tangan kearah pintu tanpa sedikitpun berbalik menatap Ashley sebagai cara untuk menerapkan norma sopan-santun.

“Kau memang seorang ‘agent’ terbaik yang Sehun miliki, dan aku hargai kesetiaanmu itu.” Bukannya melangkah menjauh dan meraih knop pintu untuk keluar dari laboraturium, Ashley malah berjalan mendekati Cheonsa, mencoba mengintimidasi gadis itu. “Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk menunjukkan letak microchips itu. Namun sebaliknya, kau yang akan menunjukkannya sendiri kepadaku.”

Cheonsa hanya melemparkan tatapan tajam kearah Ashley yang telah berdiri tepat disampingnya. Tangan gadis itu mulai terangkat untuk mengambil gagang telepon yang tak jauh dari jangkauannya.

“Apa kau sedang berusaha untuk memanggil petugas keamanan?” tanya Ashley dengan santai.

“Kurasa kehadiranmu disini sudah cukup menggangguku, Nona. Kau adalah orang asing yang entah bagaimana bisa menyelinap masuk ke dalam gedung NIS.”

Ashley tersenyum dan dengan mudah merebut gagang telepon dari tangan Cheonsa. “Biar aku saja yang memanggil petugas keamanan, Han Cheonsa-ssi,” ujarnya sembari menaruh kembali gagang telepon itu di tempat semula. “Oh ya, apakah kau tahu bahwa sebuah suara sangatlah penting?” tanya Ashley yang kini tengah disibukkan dengan mengetikkan sesuatu pada ponsel keluaran terbaru digenggamannya.

Cheonsa jengah. Mata hitam pekat yang biasanya memancarkan sebuah keramahan dan kehangatan, kini berubah menjadi sinis dan tak bersahabat. Ashley benar-benar sosok yang menyebalkan di mata gadis itu. Bagaimana bisa seorang wanita yang tidak dikenalnya tiba-tiba datang dan berlagak sok tahu tentang hatinya, perasaannya, terlebih lagi mengatai Sehun sebagai si brengsek jenius yang selalu memanfaatkan dirinya.

Cheonsa tak merasa bahwa Sehun seburuk itu.

Atau, ya.. mungkin sedikit buruk.

Tak ada kata selain ‘Wanita-ini-pasti-sudah-gila’ di dalam otak Cheonsa untuk mendeskripsikan seorang Ashley Kim. Dan hal tersebut semakin terbukti ketika beberapa detik lalu wanita itu melontarkan sebuah pertanyaan yang aneh dan tak bisa Cheonsa mengerti arahnya; apakah kau tahu bahwa sebuah suara sangatlah penting?

“Kumohon, Nona—” Dengan setitik kesabaran yang untungnya masih tersisa, Cheonsa berusaha membuat Ashley keluar dari ruang laboraturium. Namun, sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bunyi nyaring—yang cukup membuat telinga berdenyut ketika mendengarnya—tiba-tiba menginterupsi, membuat Cheonsa panik dan buru-buru menjauh dari meja kerjanya. Ya, sebuah alarm kebakaran kini tengah meraung-raung dan berusaha untuk memekakkan gendang telinga.

Berbanding terbalik dengan kekalutan yang melanda Cheonsa, Ashley tampak begitu tenang dalam sorot matanya yang dingin. Wanita itu kini mengamati dan mengikuti arah pandangan Cheonsa yang tiba-tiba menyorot khawatir satu sudut ruangan dimana terdapat sebuah cermin berukuran sedang tergantung disana.

Thankyou,” gumam Ashley yang membuat Cheonsa tersadar dan segera mengalihkan pandangannya.

Cheonsa terdiam. Tubuhnya tak bisa melakukan apapun ketika melihat Ashley telah berjalan menuju sudut ruangan dan bergerak mengambil cermin yang tergantung disana. Dan…Gotcha! Terlihatlah sebuah brankas yang sedari tadi tersembunyi di balik cermin.

“Saat mendengar alarm kebakaran, seorang ibu akan mencari anaknya, seorang wanita akan menyelamatkan kotak perhiasannya. Dan kau—akan berusaha menyelamatkan barang berharga milik seseorang yang kau cintai. Menyelamatkan sebuah microchips yang Sehun minta agar kau menjaganya dengan baik. Itulah sebabnya secara tak sadar kau memastikan bahwa brankas ini masih aman. Sungguh menakjubkan bagaimana api dapat memaparkan tingkat prioritas kita, dan peran suara sangatlah penting dalam hal ini,” ujar Ashley sembari mengamati tombol-tombol angka yang ada pada brankas tersebut, berusaha memecahkan kode akses seperti tempo hari dimana ia berhasil membobol pintu apartemen Sehun.

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk Ashley menemukan kode akses brankas dan microchips itu pun kembali jatuh ke tangannya. Pada menit berikutnya, dengan langkah lebar, wanita itu kembali kearah Cheonsa yang panik dan tengah menekan tombol darurat beberapa kali.

It’s not working, dear. Aku telah menonaktifkan seluruh pengamanan yang ada di dalam gedung ini.” Ashley tergelak sesaat ketika Cheonsa menatapnya dengan kedua mata yang membulat penuh dan nafas yang tercekat.

“Who are you?!” tanya Cheonsa dengan nada yang meninggi namun tetap terdengar menusuk. Tanda tanya dan rasa penasaran di dalam kepala gadis itu kini kian membesar hingga rasanya seperti akan meledak, menghancurkan seluruh bagian otaknya menjadi partikel-partikel kecil.

“Oh! Sepertinya aku belum memperkenalkan diri.” Ashley menyentuh lengan Cheonsa dengan lembut, membuat gadis itu mengerenyit heran dan berusaha untuk menarik tubuhnya sejauh mungkin dari jangkauan Ashley. “Ini adalah salam perkenalanku kepadamu, gadis kecil,” bisik Ashley dengan suara rendah tepat di telinga Cheonsa, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. Selang beberapa detik kemudian, dengan cepat dan kuat, Ashley menancapkan sebuah jarum suntik berisi cairan serum ke lengan Cheonsa yang seketika membuat gadis itu limbung dan terjatuh sebelum sempat memberikan perlawanan apapun. Semua terjadi sekejap mata.

“Apa—yang kau lakukan?” Cheonsa setengah berteriak di detik-detik akhir kesadarannya. Gadis itu mengerang ketika lengan kanannya yang masih tertancap jarum suntik itu berdenyut, menciptakan rasa ngilu yang amat menyiksa.

“Jangan khawatir. Itu tidak akan membunuhmu. Hanya akan membuatmu kehilangan kesadaran beberapa jam saja.” Ashley mengulas segaris senyum ketika Cheonsa terkulai lemas di lantai dan mulai menutup matanya.

Setelah memastikan bahwa Cheonsa telah benar-benar tak sadarkan diri, Ashley pun beranjak pergi dari laboraturium. Melangkah dengan santai dan kembali menyusuri lorong panjang yang sepi itu.

Ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan sebelumnya. Microchips itu tidak dilindungi oleh pengamanan berlapis ataupun diletakkan di suatu tempat yang sangat jauh dari jangkauannya. Sebaliknya, Sehun hanya memanfaatkan sebuah teori psikologis manusia dan sepertinya telah melupakan sebuah istilah yang dinamakan Human Error. Manusia bukanlah robot yang akan bekerja seratus persen sama dengan apa yang kita harapkan.

Ashley sedikit penasaran tentang fakta di balik tindakan Sehun yang akhir-akhir ini selalu begitu bodoh dan gegabah.

Hingga kini membiarkan wanita itu menang untuk kedua kali atas dirinya.

-oOo-

Park Chanyeol sangat butuh istirahat.

Pertama kali di dalam hidupnya, pria itu bersumpah atas nama Tuhan bahwa ia akan mengabaikan seluruh kasus yang dilimpahkan kepadanya hari ini. Meskipun kasus-kasus tersebut mungkin akan melejitkan jabatannya dalam sekejap mata atau menaikkan gajinya secara fantastis sehingga ia bisa berlangganan Victoria’s Secret Magazine di sepanjang sisa hidupnya, sungguh ia tidak peduli.

Saat ini, Chanyeol jauh lebih memilih untuk segera pulang dan menghabiskan hari di balik gumulan selimut tebalnya dengan bonus berkencan panas dengan Adriana Lima atau Miranda Kerr dalam mimpinya. Oh! Bukankah itu jauh lebih baik daripada hanya menatap dua supermodel cantik dan seksi itu dari balik lembar demi lembar majalah?

Oke, sepertinya tingkat kemesuman seorang Park Chanyeol kini telah berada di level tertinggi.

“Sebaiknya kita membeli segelas kopi di seberang jalan dulu sebelum pulang.” Chanyeol mengangkat kepalanya yang terasa berat dan mendapati Sehun telah berdiri tepat disampingnya. “Lihat kantung mata mengerikan itu. Jika saja ada petugas konservasi hewan, mungkin mereka akan mengira bahwa kau adalah seekor panda yang lepas dari kebun binatang nasional beberapa bulan lalu.”

Chanyeol mendengus sebal. Bukan karena mulut tajam Sehun—telinganya sudah terlalu kebal untuk mendengar ejekan dari sahabatnya itu—melainkan karena tubuhnya yang sudah tak memiliki sisa tenaga hanya untuk bangkit berdiri dari trotoar tempatnya duduk saat ini. Seluruh tenaganya telah terkuras habis setelah semalaman suntuk terlibat dalam misi penangkapan sebuah kelompok pengedar narkoba skala besar, Trinity, di gudang tua yang ada tepat di belakangnya.

Bayangkan saja, sejak kemarin ketika pukul lima pagi ketua tim divisi Cyber Crime menelponnya dan mengatakan bahwa ada sebuah kasus di stasiun Dujeong, Chanyeol tak bisa lagi memejamkan matanya sedetik pun untuk beristirahat. Setelah makan siang, dirinya dan Sehun kembali ke markas NIS untuk membuat laporan kematian Kim Hyo Sung sampai hari menjelang petang. Dan ketika baru saja Chanyeol akan bangkit dari kursi kerjanya, sebuah laporan bahwa Trinity akan melakukan transaksi besar pada malam hari di sebuah gudang tua daerah Nowon lagi-lagi menginterupsi hasratnya untuk segara melepas penat.

Disinilah Park Chanyeol kini berakhir. Duduk di trotoar pinggir jalan dengan wajah lusuh dan kehabisan tenaga akibat baku tembak yang terjadi semalam. Mirip gelandangan.

“Bantu aku berdiri,” ujar Chanyeol dengan wajah memelas.

Sehun memutar bola matanya sebal sebelum menarik kedua tangan panjang milik Chanyeol. Mereka pun berjalan beriringan melewati polisi-polisi yang kini tengah mengamankan keadaan pasca penyergapan Trinity semalam.

“Kau masih berusia dua puluh empat tahun tetapi tubuhmu sudah seperti kakek-kakek enam puluh tahunan. Dasar lemah!” cibir Sehun ketika mereka telah berada di persimpangan jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi merah.

“Hei! Asal kau tahu, aku tidak tidur sejak tiga hari lalu. Atasanku, si Lee Hyukjae keparat itu, menyuruhku menuntaskan proyek Spy Navigation untuk dipresentasikan besok,” cerocos Chanyeol dengan nada meninggi. Sepertinya saat ini emosi pria itu sedang labil akibat kelelahan.

“Apakah proyek itu sudah selesai?” tanya Sehun. Ia memilih untuk sementara waktu tidak mengusik Chanyeol jika tidak ingin terkena sumpah serapah dari mulut sahabatnya itu.

Chanyeol mengangguk mantap dan mengikuti langkah Sehun yang mulai menyeberang jalan. “Sudah selesai dan diam-diam aku tengah menguji coba benda itu kepada Lee Hyukjae.” Segaris senyum penuh misteri dan terkesan licik tergambar di bibir Chanyeol.

“Menguji coba?”

Chanyeol kembali mengangguk sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam yang mirip dengan microchips. “Ya. Aku telah meletakkan Spy Navigation ini di dalam jas kerjanya. Dengan itu aku bisa mengetahui kemana saja dia pergi, sejauh apapun. Termasuk ke sebuah tempat dimana Lee Hyukjae sering membeli majalah Victoria’s Secret dengan harga super miring. Demi Tuhan, aku sangat penasaran dimana letak tempat itu.” Pria bertelinga lebar itu mengakhiri kalimatnya dengan tertawa lepas.

“Kurasa otakmu harus segera diserahkan ke binatu. Aku berharap mereka benar-benar mencucinya dengan baik,” dengus Sehun.

“Oh! Sehun. Jangan berlagak sok polos. Apa kau benar-benar tidak tertarik dengan majalah Victoria’s Secret edisi bulan ini? Kudengar Miranda Kerr akan berpose dengan bikini two piece berwarna pink untuk cover terdepannya.” Chanyeol semakin gencar menggoda Sehun ketika langkah sahabatnya itu semakin cepat, meninggalkannya beberapa meter di belakang dengan tawa yang masih menggelegar.

“ARGGH!!!”

Sebuah teriakan lantang dari balik punggungnya, membuat Sehun seketika menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuh dengan segera.

Kini Chanyeol telah tergeletak di aspal, tak jauh dari moncong mobil Audy berwarna putih yang beberapa detik lalu berdecit keras. Sehun berlari sekuat tenaga menghampiri Chanyeol yang untungnya masih sadarkan diri. Pria itu berjongkok untuk memeriksa keadaan Chanyeol. “Apakah kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan sorot mata dan nada bicara yang tak bisa lagi menyembunyikan fakta bahwa Sehun memang benar-benar khawatir.

Chanyeol meringis menahan perih di lengannya. “Akan ku bunuh siapapun yang telah menabrakku. Dasar—” Pria itu belum sempat meloloskan sumpah serapah dari bibirnya ketika Sehun mendapati perubahan manik mata Chanyeol yang kini telah membulat sempurna. Mengingatkannya ke beberapa hari lalu tepat dimana Chanyeol melihat Ashley untuk pertama kali.

“Maaf. Aku benar-benar menyesal. Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?” Suara lembut dan merdu milik seorang gadis yang kini tengah berusaha mengurai kerumunan orang agar berada di posisi terdepan itu terdengar sungguh memanjakan kedua telinga Chanyeol.

“Cantik sekali,” gumam Chanyeol tak sadar sambil tersenyum lebar ketika wajah gadis bersuara lembut itu telah terlihat jelas olehnya.

“Apa kau bilang?” Sehun menyenggol tubuh Chanyeol yang masih berbaring di aspal, meminta sahabatnya itu untuk mengulangi ucapannya.

Chanyeol tersadar dari alam fantasinya dan kembali memasang raut wajah kesakitan. “ARGGH! Kakiku sakit sekali. Oh, Tuhan! Rasanya seperti ingin mati saja,” teriak pria itu hiperbola sambil memegangi sebelah kakinya.

Sehun tahu bahwa Chanyeol hanya mengada-ada, dan kini ia tengah berusaha menahan diri untuk tidak segera melayangkan pukulan keras ke wajah sahabatnya yang menyebalkan itu. Sia-sia saja dirinya mengkhawatirkan Chanyeol setengah mati tadi.

Gadis bermata coklat hazel yang senada dengan rambut panjangnya itu menepuk pundak Sehun beberapa kali. “Bisakah kau membantu untuk membawanya ke dalam mobilku? Aku akan mengobati lukanya,” ucapnya dengan nada yang amat bersalah. Sungguh malang nasib gadis itu jika tahu bahwa Chanyeol hanya berpura-pura.

Sehun mengangguk singkat. Gadis itu pun dengan segera membuka pintu belakang dan mengambil kotak P3K dari dashboard mobilnya.

“Kurasa kau sangat berbakat menjadi seorang aktor, Park Chanyeol!” Sehun mendesis tajam ketika hendak memapah tubuh Chanyeol.

Chanyeol tersenyum sangat bahagia karena satu rencananya agar dapat lebih dekat dengan malaikat cantik itu berjalan dengan baik. Oh! Bicara tentang rencana, Chanyeol masih punya satu lagi yang harus dilakukan.

“Hei! Sehun,” bisik Chanyeol.

“Hmm?”

“Kumohon patahkan kakiku.”

“Apa?!” seru Sehun tak percaya dan hampir saja melepaskan tangan dari pinggang Chanyeol yang kini sedang bertumpu kepadanya.

“Kumohon. Patahkan. Kakiku.”

“Kau gila, Park Chanyeol!” Sehun menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya, ia harus memeriksa aspal tempat Chanyeol terjatuh untuk memastikan bahwa tidak ada bagian dari otak pria itu yang meloncat keluar dan tertinggal disana.

Chanyeol menghembuskan nafas dengan kasar dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat untuk mengumpulkan semua keberanian. Setelah hatinya benar-benar mantap, pria itu pun memulai aksinya.

“ARGGH! Sialan kau, Park Chanyeol!” Sehun berteriak marah ketika Chanyeol dengan sengaja menendang tulang keringnya dan mengakibatkan sebuah rasa nyeri yang amat mengganggu.

“Maafkan aku—ARGGH!!!” Suara erangan kesakitan kembali terdengar dari bibir Chanyeol—dan kini bukan pura-pura—akibat Sehun yang menendang balik tulang keringnya dengan sangat keras.

Sungguh sebuah reaksi pembalasan yang persis seperti harapan Chanyeol.

-oOo-

Sehun membuka pintu dengan perlahan dan bau desinfektan yang khas langsung menyambut hangat langkah pertamanya di dalam ruangan bernuansa putih bersih itu. Ia berjalan mendekati ranjang dimana Chanyeol kini telah terbaring diatasnya—lengkap dengan kaki kanan yang telah terbalut perban—diikuti oleh seorang gadis tinggi semampai yang tak sengaja menabrak Chanyeol beberapa jam lalu di persimpangan jalan Kota Nowon.

“Bagaimana hasil pemeriksaan dokter?” tanya Chanyeol yang tengah berusaha mendudukkan tubuhnya dengan beberapa bantal yang menyangga punggung.

Sehun berhenti tepat di samping ranjang dan menghela nafas berat. “Tulang keringmu sedikit retak. Untung saja tidak sampai mengakibatkan patah tulang.”

“Oh. Baguslah kalau begitu.” Chanyeol tersenyum lebar. “Kapan aku bisa pulang?” tanyanya sambil meringis menahan rasa ngilu yang timbul di kakinya.

“Kurang lebih seminggu lagi,” jawab Sehun singkat. “Dan kau harus tetap berada di atas ranjang jika tak mau retakan itu berubah menjadi sebuah patahan,” lanjutnya cepat, memperingatkan Chanyeol ketika pria itu mulai membuat raut wajah sebal terhadap fakta tersebut.

“Ya, ya. Aku mengerti,” jawab Chanyeol malas.

Suasana berubah menjadi hening selama beberapa detik sebelum gadis berkulit putih bersih itu berdehem, mencoba untuk mencairkan suasana.

Park Chanyeol-ssi,” panggil gadis itu pelan dan hampir terdengar seperti sedang berbisik. “Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Sungguh, aku tidak sengaja.”

Chanyeol diam dan mengerjap beberapa kali. Dalam hati, pria itu tengah merapalkan beribu ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah menyiapkan dengan spesial hari ini untuknya. Hari dimana ia pada akhirnya menemukan sesosok wanita yang telah membuat hatinya bergetar dalam waktu pertemuan yang sangat singkat—dan konyol, mungkin.

Bukan. Getaran di hatinya sama sekali bukan seperti ketika ia melihat Adriana Lima, Miranda Kerr, atau Ashley Kim yang tengah berpose dengan bikini seksi di sampul terdepan majalah-majalah dewasa koleksinya.

Bukan. Ini adalah sesuatu yang lain.

Sesuatu yang membuat perutnya serasa dihinggapi ribuan kupu-kupu.

Sesuatu yang membuat jantungnya serasa naik ke tenggorokan sehingga membuatnya sulit bernafas.

Sesuatu yang—

Well, Chanyeol tidak bisa mendeskripsikan dengan baik apa yang tengah dirasakannya saat ini karena ia sama sekali tak dapat menemukan satu pun kata yang sesuai untuk hal itu.

“Chanyeol.” Sehun sedikit mengguncangkan tubuh Chanyeol, membuat pria itu kembali dari angannya yang melayang-layang tinggi.

“Apa?”

Sehun memutar bola matanya sebal, mendengus kesal, dan mengendikkan dagu kearah gadis yang masih berdiri disampingnya.

“Oh! Tidak apa-apa, Nona. Aku baik-baik saja,” ujar Chanyeol sambil tertawa canggung.

Gadis itu menghela nafas sejenak dan menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga sebelum menarik sebuah kursi di samping ranjang Chanyeol, kemudian menjatuhkan tubuh ramping itu diatasnya sembari menatap Chanyeol dengan pandangan sungguh-sungguh.

“Namaku Juliette. Juliette Lee. Aku adalah salah satu perawat di rumah sakit ini.” Gadis itu merogoh tas coklat berukuran kecil yang tersampir di bahunya. “Ini adalah kartu namaku dan Anda boleh menghubungi nomor ponsel yang tertera disana kapan pun membutuhkanku.”

Chanyeol hanya tertegun ketika kartu nama itu telah berada digenggamannya.

Wow, dia adalah wanita yang tegas dan bertanggung jawab. Satu poin plus untuknya, tulis Chanyeol di satu sudut memori otaknya.

“Aku berjanji akan datang berkunjung ketika shift kerjaku. Tetapi maaf sebelumnya, karena hari ini aku telah memiliki sebuah janji penting, sepertinya aku harus pergi sekarang.” Gadis itu—Juliette—bangkit dari kursi, membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan ungkapan permintamaafannya beberapa kali sebelum pada akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu.

“Wow!”

Sehun menoleh cepat, mendapati Chanyeol kini tengah tersenyum lebar dengan mata yang berbinar-binar menatap lurus kearah pintu yang baru saja tertutup.

“Pernakah kau menemui gadis cantik yang setegas itu?” tanya Chanyeol penuh semangat. “Jika tahu Juliette adalah seorang perawat, seharusnya tadi kau mematahkan kakiku saja agar aku bisa tinggal lebih lama di rumah sakit ini,” lanjut pria itu yang langsung di hadiahi sebuah jitakan keras oleh Sehun.

“Mengapa kau selalu bertindak bodoh, Park Chanyeol?!”

Chanyeol hanya tersenyum. “Sehun, kemarilah!” Pria itu melambaikan tangan kearah Sehun, memberi isyarat agar sahabatnya itu lebih mendekat.

“Ada apa?” Sehun hanya menanggapi dengan malas dan memajukan posisi tubuhnya satu, dua langkah.

Secara tiba-tiba, Chanyeol memeluk pinggang sahabatnya itu dengan erat, membuat Sehun sangat terkejut dan berjengit kaget. “Terimakasih, Sehun. Kau memang sahabat terbaik di dalam hidupku. Tendanganmu yang mirip dengan tendangan Kapten Tsubatsa yang mampu merobek jaring gawang itu benar-benar membawa sebuah keberuntungan untukku. Lihat! Tak hanya mengetahui nama gadis itu, aku pun juga mendapatkan nomor ponselnya,” sahut Chanyeol bahagia setengah mati.

“Hei! Kau menjijikan!” ujar Sehun yang tengah berusaha keras mendorong kepala dan melepaskan tangan Chanyeol yang masih melingkar di tubuhnya.

“Terimakasih telah mengantarkanku pada masa istirahat kerja terbaik sepanjang sejarah, Sehun.” Tak terusik dengan seberapa keras usaha Sehun untuk menyingkirkan Chanyeol dari tubuhnya, pria itu malah makin mengeratkan pelukan kepada sahabatnya itu.

Sehun dan Chanyeol terlalu sibuk dengan apa yang mereka kerjakan—seperti Sehun yang masih berusaha keras menyingkirkan Chanyeol dan Chanyeol yang masih betah mengeratkan pelukannya—sampai-sampai membuat tak satu pun menyadari bahwa kini, di ambang pintu, telah berdiri seorang pria dengan rahang tegas yang terlihat menakutkan jika dipadukan dengan wajah kurusnya itu.

“Park Chanyeol, apa kini kau telah berubah haluan? Menyerah dengan sederet model seksi majalah dewasa dan memilih untuk bersama seorang pria yang notabene—berbatang.” Oke. Inilah Lee Hyukjae, sang ketua divisi Cyber Crime, dimana kadar otak mesum Park Chanyeol hanyalah satu pertiga bagian dari otaknya. Silahkan kalian membayangkan sendiri tentang hal itu.

“Oh! Hai, Hyukjae,” sapa Chanyeol ketika menyadari bahwa pria yang enam tahun lebih tua darinya itu telah berada dihadapannya. Sehun pun dapat bernafas dengan lega karena kini Chanyeol telah melepaskan pelukannya.

“Bagaimana kondisi kakimu?”

“Baik. Sangat baik,” jawab Chanyeol dengan nada ceria, membuat Hyukjae sedikit mengerenyit heran menatap anak buahnya itu.

“Syukurlah.”

“Oh ya, bisakah kau meminta Kyuhyun untuk menaikkan jabatan Sehun?” tanya Chanyeol yang membuat Sehun menautkan kedua alis tebalnya.

“Menaikkan jabatan? Untuk hal apa?” tanya Hyukjae tak mengerti.

“Dia seorang sahabat yang sangat baik hati dan membawa banyak sekali keberuntungan untukku.”

Jawaban yang dilontarkan oleh Chanyeol seketika membuat Sehun dan Hyukjae saling melemparkan pandangan heran satu sama lain.

“Oke. Tetaplah disini, Chanyeol. Aku akan segera memanggil dokter spesialis otak untuk memeriksa keadaanmu,” ujar Hyukjae khawatir.

“Tidak. Tidak perlu. Aku tidak gila.” Chanyeol tertawa dan mengibaskan tangannya di depan wajah beberapa kali. “Ngomong-ngomong, mengapa kau baru datang sekarang?”

“Ya. Ada sedikit masalah yang terjadi di NIS siang ini. Keamanan gedung ditemukan dalam kondisi nonaktif selama lima menit dan alarm kebakaran tiba-tiba berbunyi. Tetapi setelah ku periksa, untunglah tidak ada data-data penting yang hilang dari komputer NIS. Hanya saja, kau tahu Han Cheonsa—si Dewi Laboraturium itu ‘kan?”

Chanyeol mengangguk dan Sehun mulai terlihat antusias untuk mendengar kelanjutan cerita Lee Hyukjae.

“Dia ditemukan pingsan di laboraturium.”

Mata Sehun terbelalak seketika.

Han Cheonsa. Laboraturium. Alarm kebakaran. Pengamanan gedung yang nonaktif. Microchips. Dan…Ashley Kim.

Sekumpulan kalimat itu berputar-putar dan pada akhirnya menjadi satu kesatuan di dalam otak Sehun.

Instingnya berkata bahwa sesuatu hal yang buruk telah terjadi.

-oOo-

Sehun berlari sekuat tenaga melewati lorong utama gedung NIS dan langsung menjeblak masuk ke dalam sebuah ruangan paling ujung dengan papan bertuliskan ‘Medical Room’di bagian pintunya. Nafas pria itu tersengal-sengal ketika mendapati seorang gadis berwajah pucat tampak refleks menegakkan tubuhnya yang terbaring di salah satu ranjang saat menyadari kehadirannya disana.

“Sehun…” gumam gadis itu lemah.

Setelah berhasil menormalkan pernafasannya kembali, Sehun pun melangkah mendekati Han Cheonsa yang kini tengah menatapnya dengan mata memerah dan mulai berair.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sehun sambil memindai kondisi tubuh Cheonsa dari atas sampai bawah.

Tak kuasa menjawab, gadis itu hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menangis tanpa suara. Rasa bersalah timbul teramat besar, menganga di dalam hatinya, sampai-sampai Cheonsa tak sanggup hanya untuk menatap mata Sehun. Ia merasa seperti gadis paling tidak berguna di muka bumi.

“Sudahlah. Tidak apa-apa,” ujar Sehun berusaha menenangkan Cheonsa. Jujur saja, kini ia sedikit merasa iba atas apa yang baru saja gadis itu alami.

“Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga microchips itu dengan baik.” Isak tangis Cheonsa terdengar semakin jelas, membuat Sehun menghela nafas berat dan mengusap lembut punggung gadis itu beberapa kali. Ya, kini dia hanya mengikuti insting kemanusiaan yang untungnya masih sedikit tersisa di dalam hatinya.

“Jangan pikirkan hal itu dulu. Fokuslah pada pemulihan kesehatanmu.”

Setelah tangisannya mereda, Cheonsa pun mulai mengangkat wajahnya dan menghapus jejak air mata di kedua belah pipinya dengan satu gerakan kasar. “Wanita itu. Entah siapa dia, yang terpenting wanita itu benar-benar cerdik. Dia bisa mengendalikan alam sadar seseorang dengan hal-hal kecil yang tak pernah terbayangkan sebelumnya,” jelas gadis itu dengan suara parau dan mata yang menerawang jauh ke depan.

Sehun hanya diam. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras ketika menyadari bahwa wanita itu telah mengalahkannya lagi.

Dua kali.

Ya. Dua kali, dan itu adalah angka yang sangat besar untuk sebuah kekalahan bagi Sehun.

-oOo-

Mata Ashley menatap tajam ke arah empat orang pria bertubuh tegap dan besar yang berdiri tepat dihadapannya. Tampilan fisik mereka benar-benar serupa; berbalut setelan jas berwarna hitam, berkepala plontos, dan menggunakan sebuah alat komunikasi jarak jauh yang menempel di satu sisi telinganya. Oh! Jangan lupakan fakta bahwa mereka juga tengah menodongkan sebuah pistol berperedam ke satu objek yang sama. Ashley Kim.

“Apakah kau tetap memilih untuk bungkam, Miss Ashley Kim?” Sebuah suara berat dengan aksen Amerika yang kental itu terdengar dari balik tubuh Ashley. Ya, kini seorang pria bertubuh tegap lainnya tengah berdiri di belakang Ashley sambil menempelkan ujung pistol miliknya ke pelipis wanita itu.

Ashley tetap tak menjawab, bibirnya terkatup rapat, teguh dengan pendiriannya, dan semua hal itu membuat pria berusia pertengahan tiga puluh tahun tersebut menggeram kesal.

“Sepertinya kau memilih agar aku segera menarik pelatuk pistol ini dan menghiasi dinding-dinding itu dengan isi kepalamu. Asal kau tahu saja, hal tersebut sama sekali tidak sulit bagiku.”

Ashley menghela nafas dan memejamkan mata rapat-rapat, memutar memorinya kembali ke satu jam lalu dimana ia menemukan salah satu dari pria yang kini tengah menyanderanya itu berada di kursi belakang mobilnya dan langsung mengacungkan sebuah pisau lipat kecil tepat lima sentimeter dari permukaan kulit lehernya, tak memberi sedikit pun kesempatan untuk wanita itu menunjukkan skill beladiri Taekwondo yang telah dikuasainya dengan sangat baik.

Kini, dengan kedua tangannya yang bebas—tidak dalam keadaan terikat—seharusnya Ashley dapat membanting tubuh pria-pria penyandera itu dalam waktu sekejap mata. Namun, ketika hasil perhitungan terhadap rasio resiko yang akan dihadapinya lebih besar daripada rasio keberhasilan, Ashley pun mengurungkan niatnya itu. Kalah jumlah adalah penyebab utama.

Andai saja Sehun bersamanya saat ini, maka semua akan terasa lebih mudah. Dua melawan lima tidak akan menjadi sebuah masalah yang besar untuk Ashley karena ia bisa menangani tiga pria sekaligus dan Sehun menangani sisanya.

Oh! Tunggu. Apakah saat ini Ashley diam-diam tengah mengharapkan Sehun datang dan menyelamatkan hidupnya seperti pangeran dari negeri dongeng?

Tidak. Tidak. Itu tidak benar, Ashley menyangkal keras pemikiran yang sempat terbesit di dalam otaknya.

Pergelutan hebat yang tengah terjadi di dalam kepala Ashley tiba-tiba terhenti seiring dengan suara tembakan keras yang saling bersautan dan memekakkan telinga. Terdengar pula suara kaca yang pecah.

Apa pria di belakang tubuh Ashley telah menarik pelatuk pistolnya?

Tetapi, mengapa Ashley tidak merasakan timah panas itu melesak masuk ke dalam kepalanya dan menembus tulang tengkoraknya?

Hanya ada satu cara untuk mengetahui hal itu. Membuka mata.

Hal yang pertama kali Ashley lihat ketika kedua matanya kembali terbuka adalah tiga dari lima pria penyandera itu telah jatuh terkapar dengan luka tembak menganga tepat di dada kirinya, kemungkinan besar mereka sudah tak bernyawa.

Sedikit mengubah koordinat pandangannya, kini Ashley menangkap seorang Oh Sehun tengah menghadapi sebuah baku tembak antara dirinya dengan dua pria penyandera yang tersisa, dan di akhiri dengan tumbangnya salah satu penyandera, mengikuti jejak ketiga kawannya menuju neraka.

Ashley tertegun dan beberapa kali mengerjapkan mata untuk memastikan bahwa pria dengan sebuah revolver ditangannya itu benar-benar Oh Sehun dan bukan hanya ilusinya semata.

“WHO ARE YOU?” teriak penuh amarah pria penyandera yang kini tengah melingkarkan lengan di leher Ashley untuk mengunci pergerakan dan menarik wanita itu sedikit menjauh dari jangkauan Sehun.

American. Interesting,” ujar Sehun santai dan menyunggingkan senyum timpang di bibirnya ketika menyadari aksen bahasa dari pria berkepala plontos itu. “Apa urusan kalian disini?” lanjutnya.

Mata Sehun menatap tajam Ashley yang memegang kungkungan lengan pria di belakang tubuhnya dengan erat. Wanita itu tengah mengambil ancang-ancang untuk menjatuhkan tubuh besar sang penyandera dengan jurus Taekwondo yang pernah dipelajarinya semasa remaja.

“No!”desis Sehun tajam yang untung saja hanya di dengar oleh Ashley. Pria itu berusaha memperingatkan Ashley untuk tidak mengeksekusi rencananya, karena hal tersebut sangat berbahaya dan memiliki resiko kegagalan yang tinggi. Ujung pistol masih teracung di pelipis Ashley dan ketika wanita itu berusaha untuk melumpuhkan tubuh pria penyandera di belakangnya, kemungkinan pelatuk ditarik dengan refleks sangat tinggi dan akan membahayakan nyawa Ashley.

Shit!” Sehun mengumpat pelan ketika ia menyadari bahwa tak ada celah yang tepat untuk dapat menembak si penyandera. Pria bertubuh besar itu mendekap Ashley dengan sangat kuat dan sialnya tinggi mereka sama persis, sehingga tak ada kesempatan untuk menembak tepat di kepala.

Oh! Tunggu. Mata Sehun berkilat, dan itu adalah pertanda bahwa ia memiliki sebuah cara untuk menyelesaikan masalah.

Sehun yang sebelumnya mengacungkan revolver miliknya tepat lurus ke depan, kini mulai menurunkannya beberapa derajat. Ia menahan nafasnya dan mulai menarik pelatuk revolver itu.

“ARGGH!!” Sebuah erangan kesakitan terlontar dari bibir Ashley. Wanita itu jatuh terduduk dengan kakinya yang telah mengeluarkan darah segar.

Penyandera itu tampak shock beberapa detik ketika mendapati sanderanya telah tertembak,—suatu hal yang di luar ekspetasinya—dan jeda waktu tersebut digunakan Sehun dengan sangat baik. Sebuah tembakan yang ia lesatkan dengan mantap benar-benar telah menembus tubuh penyandera itu, membuatnya kehilangan nyawa seketika.

Sehun mengamati sejenak ruang tengah rumah Ashley yang tampak mengerikan dengan lima mayat tergeletak, aliran darah dimana-mana, dan beberapa perabot yang pecah berkeping-keping. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan yang Sehun lihat seminggu lalu dimana ia bertemu Ashley untuk pertama kalinya.

“Maafkan aku,” gumam Sehun yang telah menekuk lutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Ashley. Dengan sigap, pria itu menarik dasi yang melingkar di kerah kemejanya dan menggunakan benda itu untuk membalut luka tembak di kaki Ashley dengan hati-hati.

Ashley terbelalak kaget, sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya beberapa detik lalu.

Seorang Oh Sehun meminta maaf?

Sungguh sebuah momen yang sangat langka.

“Apa katamu? Coba—” Sebelum Ashley mampu menyelesaikan kalimatnya, Sehun telah terlebih dahulu membawa tubuh wanita itu ke dalam gendongannya—yang mau tak mau membuat Ashley harus melingkarkan sebelah tangannya di leher Sehun.

Hari ini sebuah kejutan besar benar-benar menohok Ashley.

Bukan karena dirinya menjadi seorang sandera dan hampir kehilangan nyawa, tetapi karena hari ini ia telah melihat sisi lain seorang Oh Sehun.

Ya. Sisi lain seorang Oh Sehun yang tak pernah terjamah sebelumnya.

-oOo-

Sehun memacu kecepatan Mercedez Benz hitam miliknya hingga jarum merah pada spidometer menyentuh angka 120 km/jam. Namun, bukan tanpa alasan pria itu meliuk-liukkan mobilnya dengan kecepatan yang terbilang gila dalam keadaan lalu-lintas padat dan kondisi cuaca yang tengah hujan deras seperti malam ini.

Berulang kali Sehun menyalip beberapa kendaraan di depannya walaupun celah yang tercipta sangat minim. Tak dipedulikan bunyi klakson panjang dari beberapa mobil yang memprotes keras kelakuan berbahaya tersebut, karena untuk saat ini pria itu telah memekakkan kedua telinganya dari umpatan-umpatan para pengemudi mobil yang berhasil ia salip dengan tukikan-tukikan tajam mengerikan.

“Apa masih ada yang mengejar kita?” tanya Sehun kepada Ashley yang tengah memperhatikan laju beberapa mobil di belakang mereka.

“Sial! Masih ada satu. Lima meter di belakang kita.” Ashley mengumpat. “Bagaimana jika aku menembak ban depan mobil itu saja?” usulnya, telah berancang-ancang untuk mengambil sebuah pistol yang ada di dalam dashboard mobil Sehun.

“Apa kau gila?! Ini adalah jalanan arteri. Banyak warga sipil yang melintas!” cerocos Sehun dengan nada meninggi.

Ashley hanya menghela nafas berat dan menghempaskan punggungnya ke sandaran jok. Malam ini, di bawah rintikan hujan yang semakin deras, mereka tengah terlibat dalam sebuah kejar-kejaran tanpa akhir dengan sekelompok pria Amerika dari sebuah instansi yang sama dengan para penyandera tadi. Entah telah seberapa jauh Sehun melajukan mobilnya, karena kini Ashley mulai merasa asing dengan lingkungan disekitarnya.

Apa mereka telah berada di luar Kota Seoul?

Tidak ada yang tahu.

“Got it!” seru Sehun, membuat Ashley seketika menoleh kearahnya. “Berpeganganlah dengan kuat,” titah pria itu dengan suara rendah yang menakutkan.

Ashley refleks menggenggam kuat sabuk pengaman yang melintang di depan tubuhnya. Dirasakannya mobil melaju semakin kencang sampai-sampai deru mesin terdengar cukup keras di telinga wanita itu.

“APA YANG KAU LAKUKAN, OH SEHUN?!!” Ashley membelalakan matanya ketika tiba-tiba Sehun membanting kemudinya ke kanan, memotong jalan sebuah truk besar yang tengah melintas dengan kecepatan yang tak kalah tinggi. Maut benar-benar berada tepat beberapa sentimeter lagi dihadapan mereka.

“Truk besar itu akan menghalangi pandangan mereka sementara. Dan dalam rentang waktu tersebut, kita harus menemukan sebuah celah untuk benar-benar menghilang. Sebaiknya kau tutup mulut saja dan jangan mengganggu konsentrasiku!” ujar Sehun yang tetap fokus pada jalanan dihadapannya.

Ashley hanya menatap Sehun dan butir-butir keringat yang telah bercucuran deras di pelipisnya itu dengan pandangan tak percaya. Bagaimana bisa seorang pria yang beberapa detik lalu telah membawanya ke ujung kematian, kini malah memarahi dan menyuruhnya untuk menutup mulut? Seharusnya Ashley yang marah!

Belum tuntas Ashley bersungut kesal di dalam hatinya, tiba-tiba Sehun kembali membanting kemudinya, menukik tajam, dan tubuh mereka terguncang akibat pergerakan spontan itu. Sehun pun secara refleks merentangkan lengannya ke depan tubuh Ashley, membuat pembatas untuk memastikan wanita itu tidak akan terdorong ke depan dan berakhir dengan membentur dashboard mobil.

Mercedez Benz hitam berkecepatan tinggi itu kini memasuki sebuah gang sempit dan sepi dengan cahaya penerangan yang minim, hanya mengandalkan beberapa lampu jalan yang temaram.

“Hentikan!” Ashley berteriak, namun hanya ditanggapi Sehun dengan pandangan sekilas dan tetap tak menghiraukan perintah wanita itu.

Ashley menggeram kesal dan tanpa pikir panjang ia langsung mengambil alih kemudi dan menginjak rem dengan satu hentakan keras. Mobil mewah itu pun langsung berdecit nyaring dan berhenti tepat di depan sebuah rumah tua tak berpenghuni yang ada di ujung gang.

“Apa yang kau lakukan, huh?! Bagaimana jika mereka menemukan kita?!” teriak Sehun yang tidak terima dengan tindakan Ashley.

“Kau berdarah, Sehun!” Ashley berteriak balik. Nafasnya memburu dan dadanya naik-turun. “Aku mencium bau darah dari tubuhmu!”

Sehun terdiam. Ashley memiringkan posisi duduknya untuk mempermudah dalam mencari letak luka Sehun.

“Aww..” Sehun meringis menahan perih ketika jemari lentik Ashley mengenai bahunya yang ternyata terluka parah. Pria itu benar-benar tak menyadari bahwa sebuah peluru telah bersarang di tubuhnya.

Ashley langsung mengangkat tangan kiri Sehun dan menatap Rolex yang melingkar di pergelangannya. “Untunglah masih sepuluh menit,” ujar wanita itu.

“Apa maksudmu?”

“Peluru itu harus dikeluarkan dalam waktu lima menit. Akan terjadi infeksi jika tidak dikeluarkan dari dalam tubuh lebih dari lima belas menit sejak benda tersebut masuk.”

Sehun menatap kemeja putih ditubuhnya yang telah berubah warna menjadi merah tua akibat rembesan darah. “Sepertinya, peluru ini kudapatkan ketika melawan dua orang itu. Tetapi, mengapa aku tadi tidak merasakan sakit, ya?” gumamnya.

“Itu karena hormon adrenalin yang dihasilkan oleh tubuhmu mengalahkan semua rasa sakitnya,” jelas Ashley. Wanita itu bangkit dari duduknya dengan susah payah—karena luka di kakinya belum mengering—dan berpindah ke pangkuan Sehun. Ya, Ashley kini duduk di pangkuan Sehun dan mereka saling berhadapan.

“Hei! Apa yang kau lakukan?!” bentak Sehun kepada Ashley yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

Ashley sama sekali tak berminat menjawab. Mata wanita itu terfokus pada kemeja Sehun yang penuh bercak darah. Dengan satu gerakan kasar, ia pun membuka kemeja itu sampai semua kancing terlepas dan jatuh entah kemana.

“Apa yang ada di dalam otakmu, Ashley Kim?!” Pria itu tak bisa mengenyahkan pemikiran-pemikiran aneh yang saat ini tengah berkeliaran di dalam otaknya. Malam hari, hujan jatuh dengan derasnya, di sebuah gang sepi yang minim pencahayaan, mereka hanya berdua di dalam mobil terlebih lagi pada sebuah posisi yang mencurigakan, dan kini kemejanya telah dalam keadaan terbuka sepenuhnya. Sehun tak punya gambaran apapun tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ashley meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Sehun. “Diamlah. Aku akan melakukan operasi darurat untuk mengeluarkan peluru itu.”

Sehun terhenyak dan matanya membulat penuh. “Tidak. Tidak. Lebih baik sekarang kita pergi ke rumah sakit,” ujarnya sambil menggeleng mantap.

“Tidak ada waktu lagi, Oh Sehun! Jika peluru itu tidak segera di keluarkan, maka bakteri akan menjalar di pembuluh darahmu dan kau akan mati,” jelas Ashley, membuat Sehun akhirnya diam dan memilih untuk menyerahkan nasibnya ke tangan wanita itu.

Ashley segera mengambil kotak P3K di dalam dashboard mobil Sehun. Wanita itu menemukan sebuah pisau, jarum dan benang jahit, alkohol, kain kasa, dan beberapa benda lain yang cukup menunjang operasi bedah terbilang nekat ini. Dengan cekatan, Ashley pun segera membasuh pisau menggunakan alkohol kemudian mendekatkan benda tajam itu ke bahu Sehun yang terluka. Namun, sebelum sempat ujung pisau itu menyentuh permukaan kulit Sehun, Ashley buru-buru menarik tangannya kembali.

“Tidak ada obat yang bisa membiusmu, Sehun.” Ashley bergumam, baru menyadari bahwa pria itu belum mendapatkan suntikan obat bius untuk penghilang rasa sakit dan memang tak ada satupun obat di kotak P3K Sehun yang bisa menjadi obat bius. “Ini akan sangat menyakitkan.”

“WHAT?!”

“Kau bisa menahan rasa sakitnya,‘kan?” tanya Ashley pelan. Wanita itu menatap manik mata Sehun dalam-dalam, berusaha meyakinkan Sehun bahwa pria itu pasti bisa melewatinya.

FOR GOD’S SAKES!!” umpat Sehun kesal.

“Lebih baik menahan sakit daripada kau harus kehilangan nyawa. Aku yakin masih banyak hal yang ingin kau capai dalam hidup. Contohnya, menangkapku dan mengambil microchips itu kembali.” Ashley berusaha memberi pengertian kepada Sehun. “Untuk itu, kau harus tetap bertahan hidup, Oh Sehun.”

Sehun menghela nafas berat—sangat berat, dan memejamkan matanya rapat-rapat sejenak. “Baiklah. Lakukan semaumu. Pastikan aku tetap bernyawa.”

Ashley menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum penuh arti kepada Sehun. Ditariknya nafas dalam-dalam untuk kembali mengisi rongga paru-parunya sebelum pada akhirnya menggoreskan ujung pisau digenggamannya ke bahu Sehun.

“ARRGH!!” Sehun mengerang hebat seiring darahnya yang mengucur deras. Kepalanya menengadah keatas dan peluh semakin membanjiri pelipis pria itu.

Ashley menatap pilu raut wajah Sehun yang teramat sangat kesakitan, dan entah sesuatu apa yang mendorongnya untuk semakin mendekatkan wajahnya kepada Sehun.

“Untuk ucapan terimakasih atas pengorbananmu yang telah menyelamatkan nyawaku.” Ashley mengecup kelopak mata kanan Sehun yang terpejam rapat. “Dan sebagai usahaku agar kau dapat mengalihkan semua rasa sakit ini. Semoga yang kulakukan ini sedikit membantumu,” lanjutnya sembari mengecup kelopak mata kiri Sehun.

Ya. Tanpa disadari, Ashley kini tengah mencium kedua kelopak mata Sehun secara bergantian.

Semua terjadi begitu saja.

Mengalir bagai riak tenang di sebuah Samudera.

-oOo-

 

A/N :

Hi, Minerva Renata is here!

Jika berminat untuk tahu siapa sih visualisasi cast-cast di fanfiction ini, kalian bisa klik DISINI

 

Thankyou

/xoxo/

26 responses to “[Freelance] THE ROYAL SCANDAL (Part 3)

  1. Wahh seneng bgt pas liat ff dipost si saykoreanff 😄😄 aku awalnya baca dan koment ff ini di website sebelah annddd AKU UDAH JATUH CINTA BGTTT SAMA FF INI 😍😍😍
    Ditunggu chapter selanjutnyaaaa

  2. Behhh.. Suka sama nih fanfic. Sehun ya Ampunnn.. Kebetulan juga nih aku suka Sherlock. Mangats!! Ditunggu next chap yaaa

  3. Kakaa plis keren banget. Suka perannya sehun sama ashley. Kira kira siapa yang mau bunuh ashley -___-
    Ditunggu kelanjutannya. Fighting!!!^^

  4. Minerva Renata, kamu daebak………………… Suka banget sama ini ff. Bayangin Sherlock di dalam diri Sehun itu bener-bener amazing soalnya dua orang itu favoritku.

  5. Pingback: [FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL (Part 4) | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s