[IM]PERFECTION – 7TH SLIDE — by Neez (PG15++)

perf

IMPERFECTION

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

IMPERFECTION Universe, Campus Life, Romance, Angst, Drama

PG15++ || Chapter

BETA & POSTER © IMA

In Correlation with

IMPERFECTION by IMA

Jaehee – Joonmyun Dating Stories

IMPERFECTION SPIN OFF — (Joonmyun – Jaehee Stories) by IMA

Previous Slide

1ST SLIDE || 2ND SLIDE || 3RD SLIDE || 4TH SLIDE || 5TH SLIDE || 6TH SLIDE

© neez

Because in the perfection... always left the imperfection behind

7TH SLIDE

”Joonmyun-ah,”

   ”Ya, Sehun-ah… ada apa? Kenapa ponsel Jaehee mati?!”

   Diam sebentar, dan Joonmyun bersumpah perutnya sudah melakukan salto. Ia mengetukkan kakinya dengan tidak sabar, menunggu bagasinya keluar setelah ia tiba dari Jeju dengan penerbangan pertama pagi ini. Ia menolak tawaran teman-temannya untuk menginap lebih lama di Jeju, mengatakan ia sudah meninggalkan Jaehee cukup lama di rumah sakit. Untunglah teman-temannya sangat mengerti, bahkan Hyomin dan Eunjung membelikan Jaehee oleh-oleh. Mereka juga berjanji akan menjenguk Jaehee kembali begitu mereka tiba di Seoul.

   Masalahnya sudah sejak kemarin malam Jaehee tidak menjawab panggilannya, dan ponsel gadis itu sepertinya mati. Padahal Jae Hee kan sudah berjanji tidak akan lupa mengisi daya ponselnya, karena Joonmyun akan mengeceknya setiap saat ia bisa. Tapi kenapa sejak semalam gadis itu tidak bisa dihubungi?

   Kita kembali ke kejadian semalam.

   Malam itu, adalah malam gala dinner, dimana seluruh investor dari seluruh dunia yang bergabung dalam acara lelang tender akan mengumumkan proposal mana saja yang memenangkan tender. Acara gala dinner tersebut akan berlangsung dari pukul tujuh malam, hingga selesai.

   ”Video call!

   Joonmyun terkekeh mendengar permintaan Jaehee dan menggeser kursor pada ponselnya untuk mengaktifkan menu video call, hingga wajah Jaehee yang sumringah dalam piyama rumah sakitnya terlihat. Gadis itu nampak segar dan selalu cantik, ia melambai-lambaikan tangannya ke arah Joonmyun dengan penuh semangat.

   ”Miss me?” tanya Joonmyun sambil tersenyum menggoda, dan ia nyaris mengeluarkan pekikan nyaring ala-ala remaja wanita saat melihat Jaehee cemberut dan mengangguk-angguk, aegyo gadis itu memang tidak pernah ada yang bisa mengalahkan bagi Joonmyun.

   ”Kau sedang apa? Siap-siap ya?” tanya Jaehee penasaran berusaha melihat apa yang Joonmyun lakukan.

   ”Eoh.” Joonmyun mengangguk, mengangkat ponselnya lebih tinggi agar Jaehee dapat melihat apa yang ia lakukan. ”Aku mau ganti pakaian dulu. Kau tunggu dulu ya…” beritahu Joonmyun pada Jaehee yang mengangguk-angguk, sambil menopangkan dagu.

   Setelah selesai mengenakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana bahan hitamnya, Joonmyun meraih kembali ponselnya dan menyorotkannya pada dasi-dasi yang ditaruh serampangan di dalam koper.

   ”Astaga! Kau pasti packing sendirian kan?! Berantakan sekali!” omel Jaehee seperti dulu jika melihat betapa selebor-nya Joonmyun. Kim Joonmyun mungkin terlihat sebagai seorang pria tampan yang selalu berpenampilan rapi, namun dibalik itu semua, mungkin tidak banyak yang tau sisi lain Kim Joonmyun yang satu ini.

   Selebor.

   Salah satu alasan mengapa Ibu Joonmyun awalnya tidak menginginkan putranya tinggal sendirian adalah karena ia tahu putranya berantakan. Dulu, semasa sekolah, Joonmyun kerap kali menggunakan lantai sebagai ’lemari’, saking seringnya meletakkan baju secara sembarangan. Sedikit berubah ketika ia mulai berkencan, karena Jaehee setengah mengomel sambil melipat baju-bajunya di lantai. Dan karena itulah juga sang ibu menyewa pengurus rumah tangga untuk Joonmyun.

   ”Apa Bibi Seo tidak melipatkan pakaianmu? Yang benar saja, usiamu berapa Kim Joonmyun?! Masih saja berantakan seperti anak kecil…” Jaehee yang mengomel benar-benar terdengar seperti Jaehee di masa SMA dulu.

   Joonmyun terkekeh, ”Aku sudah tidak tinggal di rumah, Sayang… yang mengurus apartemenku bukan Bibi Seo lagi, dan aku malu jika ia melipat pakaian dalamku…” seloroh Joonmyun sambil mengaduk-aduk kopernya dan menarik berbagai macam dasi. ”Nah, Supermodelku… Sebaiknya aku pakai dasi yang mana?”

   Jaehee menghela napas putus asa dengan keseleboran Joonmyun, dan beralih memandang koleksi dasi-dasi Joonmyun.

   ”Merah garis-garis.”

   Joonmyun menarik keluar dasi yang menggumpal itu dan menunjukkannya ke layar, ”Dasi yang ini?” Jaehee mengangguk, memamerkan mata kucingnya dan Joonmyun terkekeh, ingin sekali ia membelai wajah keka…sihnya?

   Apa mereka sudah resmi berkencan kembali? Eh…

   Joonmyun menggelengkan kepalanya, menepis pikiran soal status, dan memfokuskan dirinya untuk malam hari ini. Setelah semua daya upayanya ia pertaruhkan, dan jika berhasil, mungkin ia bisa meminta Jaehee kembali menjadi kekasihnya, meskipun sekarang mereka sudah bertingkah seperti pasangan kekasih (seperti suami-istri, kalau kata Sehun).

   ”Doakan aku ya, Sayang,” kata Joonmyun lembut pada Jaehee, seolah benar-benar menatap langsung kekasihnya yang berada di Seoul sana. Semenjak ia dan Jaehee kembali bertingkah bak kekasih, Joonmyun pun sudah tidak pernah memanggil Jaehee dengan namanya lagi. Ia selalu memanggil gadis itu dengan sapaan Sayang, seperti dulu mereka masih sekolah. Begitu pula dengan Jaehee, yang tak pernah memanggilnya Joonmyun lagi, melainkan Myeonie panggilan kesayangan gadis itu untuk Joonmyun sejak masih sekolah.

   Jaehee mengangguk, memiringkan kepalanya. ”Halsuisseo, Myeonie… aku yakin kau akan memenangkan lelang tender itu.”

   Joonmyun tersenyum tipis. Jaehee mungkin tidak pernah tahu apa-apa saja prestasinya semasa kuliah. Tetapi, gadis itu sangat yakin kalau Joonmyun adalah calon pengusaha muda terbaik. Hati Joonmyun menghangat jika mengingat kepercayaan gadis itu yang sangat besar kepadanya.

   ”Aku akan membuatmu bangga,” bisik Joonmyun pelan. ”Aku siap-siap dulu ya, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, aku akan meneleponmu lagi.”

   ”Oke,” sahut Jaehee sambil mengacungkan tangannya ke atas, persis anak kecil. ”Kau pulang besok kan? Bawakan aku oleh-oleh yang banyak.”

   ”Kau mau oleh-oleh apa?”

   ”Myeontokki berpita~”

   Joonmyun tertawa geli. ”Arasseo arasseo, besok aku akan berpita untukmu, oke?”

   ”Yay~”

   ”Bogoshipeo…” rengek Joonmyun dengan aegyo-nya. Dan Jaehee langsung mengerucutkan bibirnya seolah hendak mencium layar, dan Joonmyun tertawa geli melihatnya. ”Sabarlah, besok kucium…”

   ”Benar ya?”

   ”Iya,” Joonmyun mengangguk, “Aku sudah harus pergi, sampai ketemu besok, Sayang. Saranghae~

   ”Nado saranghae… annyeong Myeonie~”

   Dan malamnya, setelah acara gala selesai, Joonmyun tidak sabar untuk segera menghubungi kekasihnya meski waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Biasanya, Jaehee sudah tertidur karena jam sembilan suster selalu memberikannya obat sebelum tidur. Tapi belakangan ini, jika Joonmyun tidak menelepon sebelum Jaehee tidur, Jaehee akan berkeras menunggunya, sampai-sampai Sehun menelepon dan mengomelinya. “Kau hubungi dia dulu, kalau tidak dia tidak mau tidur!” dan begitulah, maka hal pertama yang Joonmyun lakukan begitu kembali ke kamar hotelnya adalah menghubungi Jaehee.

   Namun teleponnya dialihkan ke pesan suara. Begitu terus hingga pukul dua pagi, dan Joonmyun memutuskan bahwa Jaehee sudah terlelap, padahal ia harus segera tidur jika tidak ingin kesiangan dan ketinggalan pesawat. Toh besok, mereka akan bertemu lagi kan.

   Tapi, keesokan paginya, kecemasan mulai melanda Joonmyun tatkala ia mencoba menghubungi Jaehee dan ponsel gadis itu masih dalam keadaan nonaktif. Sehun juga tak kunjung membalas pesannya.

   Apakah sesuatu terjadi?!

   Kecemasannya tidak berkurang saat ia sudah duduk di dalam pesawat, sesaat sebelum pesawat lepas landas dan ia masih diizinkan menggunakan ponsel. Masih saja non aktif, dan Joonmyun bersumpah jika sesuatu terjadi pada Jaehee saat ia tidak ada… dia lebih baik mati!

   Dan kini, saat ia menunggu bagasinya, barulah Oh Sehun menghubunginya. Sayangnya, suara Sehun mengindikasikan ada sesuatu yang terjadi. Suara kakak Jaehee itu terdengar bergetar, seolah… menahan tangis.

   ”Sehun-ah, wae?! Jawab aku!” Joonmyun mendesis, tidak ingin berteriak di tempat umum.

   ”Ke rumah sakit, sekarang! Kau sudah di Gimpo?”

   ”Sudah… ada apa?!” seru Joonmyun panik.

   Tut. Tut. Tut.

   ”Ahhh, shibal!” Joonmyun memaki pelan sambil mengantongi ponselnya kembali. Untungnya pada saat itu bagasinya keluar, sehingga ia bisa buru-buru keluar dan mencari taxi, langsung menuju rumah sakit dimana Jaehee di rawat.

   Joonmyun turun dan menarik kopernya sambil berlari, tidak memedulikan peringatan petugas keamanan, suster, maupun dokter yang tidak menyukai kebisingan yang ia buat. Ia tiba di koridor kamar rawat Jaehee dan melihat Sehun yang menunduk lesu di depan kamar rawat. Tangannya gemetaran, dan bahunya berguncang-guncang.

   ”S-sehun…”

   Sehun mendongak, dan mengusap matanya dengan ujung kemeja. ”Mama dan Appa akan segera datang… maafkan aku… Jaehee… dia…”

   ”Sehun-ah…” Joonmyun melepaskan pegangannya pada tasnya, dan entah kenapa meski Sehun belum menjelaskan, dadanya sudah sesak hingga ke tenggorokan. Dan Joonmyun menyadari matanya mulai basah. ”Sehun-ah, jebal… Jaehee kenapa?!” tak mampu menopang bobot tubuhnya lagi, Joonmyun berlutut.

   Sehun menggelengkan kepalanya dan terisak-isak, ”Dia memanggil namamu terus… dia…”

   Joonmyun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil terisak. Ia belum sempat meminta maaf pada Jaehee. Ia belum sempat mendengar gadis itu mengatakan bangga kepadanya. Ia belum sempat mewujudkan impiannya dan impian Jaehee, tetapi gadis itu kini telah pergi.

   ”Kau harus ke…dalam… sebelum dia… lihat dia, Joonmyun-ah…” isak Sehun sambil mengusap matanya lagi. ”Dia selalu memanggil namamu… maafkan aku…” Sehun menunduk, ”Aku tidak tahu kalau…”

   Joonmyun berdiri dengan gontai, berjalan dengan terhuyung menuju pintu kamar Jaehee. Bersiap-siap untuk melihat keadaan paling buruk dalam hidupnya. Mengusap matanya, ia menggeser pintu rawat Jaehee perlahan-lahan.

   ”Eh?”

   Ranjang Jaehee kosong. Hanya terlihat koper-koper yang sudah dirapikan, dan selimut yang terbuka. Joonmyun berjalan ke dalam dan menatap ke sekeliling, sebelum pintu kamar mandi terbuka.

   ”Annyeong~”

   Joonmyun terperangah. Jaehee muncul dari dalam kamar mandi, mengenakan piyama rumah sakitnya, berdiri tegak, berjalan perlahan-lahan, tanpa terhuyung-huyung seperti yang Joonmyun lihat dua minggu yang lalu. Gadis itu tersenyum ragu-ragu, masih berjalan lurus ke arahnya, hingga benar-benar berhenti di hadapannya.

   ”Aku… aku bisa berjalan lagi, Myeonie.”

 

*        *        *

”Myeonie…”

   ”Hmm?”

   Jaehee cemberut, memancungkan bibirnya dan menusuk-nusuk pipi Joonmyun, mencoba menarik perhatian pria yang kini tengah bersandar ke kepala ranjangnya dengan kaku, tangan terlipat, dan mata dipejamkan. Ia membiarkan Jaehee melakukan cuddle-cuddle lucu favorit gadis itu sejak mereka sekolah, namun Joonmyun masih mendiamkannya.

   Sehun terbahak-bahak begitu masuk ke dalam kamar rawat, karena akting tangisnya berhasil. Usut punya usut kakak Jaehee itu menggunakan obat tetes mata agar meyakinkan, namun saat melihat betapa marahnya Joonmyun, Oh Sehun membelot dan mengatakan bahwa semua itu ide adiknya, tak lain dan tak bukan Oh Jaehee sendiri.

   ”Masih marah, ya?” tanya Jaehee sok polos.

   Joonmyun tidak menjawab.

   ”Myeonie~ jangan marah lagi,” Jaehee menarik-narik ujung kemeja Joonmyun agar pria itu mau menatapnya. ”Aku kan sudah minta maaf…”

   Joonmyun tetap tidak menjawab, mengabaikan ujung telunjuk Jaehee yang terus menusuk-nusuk pipinya. Ia tidak mendorong tangan Jaehee yang melingkari perutnya, dan dua kaki Jaehee yang memeluk tubuhnya bak guling.

   ”Myeonie… Jaehee menyesal sudah membuat Myeonie-nya marah… Jaehee sangaaaat merindukan Myeonie… Jaehee mau cium Myeonie…” rengek Jaehee, dan mengeluarkan senjata andalannya yang ia tahu dulu selalu membuat Joonmyun yang ngambek menyerah. Aegyo dengan menirukan suara anak kecil.

   Joonmyun menghela napas, saat itulah suara kecil dalam hati Jaehee bersorak girang. Ternyata dirinya masih memiliki efek yang sama pada Joonmyun, meski kali ini Joonmyun masih saja memelototinya dengan kesal.

   ”Aku kan sudah minta maaf,” Jaehee menggosokan wajahnya pada dada bidang Joonmyun, dan mengeratkan pelukannya pada pria itu dengan kedua tangan dan kakinya sehingga penampilannya sudah persis anak koala pada ibu koala.

   Joonmyun menghela napas keras, menyerah dengan aegyo Jaehee meski jelas sekali ia masih kesal. ”Kau tidak tahu betapa cemasnya aku saat semalam kau tidak bisa dihubungi! Dan begitu sampai disini kau dan Sehun malah mengerjaiku… itu tidak lucu, Oh Jaehee!”

   ”Arasseo,” Jaehee merajuk mendongakkan wajahnya ke arah Joonmyun, dan mengerucutkan bibirnya lucu, masih berharap Joonmyun mau segera memaafkannya. ”Aku hanya mau memberikanmu kejutan kalau aku sudah bisa berjalan. Selama dua minggu kan aku semakin giat belajar jalan. Apa kau tidak bahagia aku bisa jalan lagi?” Jaehee menundukkan kepalanya sedih.

   ”Tentu saja aku bahagia, ya Tuhan, Oh Jaehee,” Joonmyun mengerang putus asa dan menangkup wajah Jaehee yang tiba-tiba nyengir jail, karena berhasil membuat Joonmyun menolehkan wajahnya kepadanya.

   Dan Joonmyun terperangah, kalah. Melihat Jaehee tertawa, Joonmyun baru benar-benar menyadari bahwa ia telah menghabiskan waktu selama satu tahun tanpa tawa renyah ini, tanpa dua mata yang berbinar-binar menatapnya. Kenapa dulu ia bisa begitu bodoh dan melepaskan gadis ini?

   ”Tsk, jangan begitu lagi lain kali,” menyerah Joonmyun hanya mencubit pipi Jaehee, dan dijawab dengan kekehan pelan. Ia semakin mengeratkan tubuh gadis itu padanya. ”Kau benar-benar membuatku khawatir.”

   ”Iya, aku janji tidak akan begitu lagi,” rengek Jaehee.

   Lihat? Gadis ini memang hanya bisa manja padanya. Bahkan tidak pada ibunya sendiri. Joonmyun tersenyum dan mengecup puncak kepala Jaehee sebelum menundukkan kepalanya, menatap dua mata jernih Jaehee dan menyatukan bibir mereka dengan lembut. Getaran-getaran yang dulu pernah ada, yang begitu dirindukan, kini kembali. Kupu-kupu yang berterbangan di perut mereka, nafas mereka yang memburu dan keinginan untuk tidak pernah memisahkan diri.

   Joonmyun ingat betul betapa ia menyukai jemari lentik Jaehee yang menelusup masuk ke dalam helai demi helai rambutnya, dan sesekali meremas kepalanya saat gadis itu merasa nyaris tersesat dalam pangutan mereka. Joonmyun juga menyukai cara Jaehee menerima perlakuan bibirnya, gadis itu akan menuntut, namun kemudian saat ia mulai menguasai tempo, Jaehee akan pasrah dan menerima saja, meski sesekali menggigit bibir atas-bawahnya bergantian dan menyesap lidahnya sekilas. Joonmyun bisa merasakan seluruh bulu kuduknya meremang setiap Jaehee melakukannya, dan ia sering kehilangan kendali, apalagi jika Jaehee sudah mulai mengeluarkan suara-suara aneh.

   Padahal mereka hanya berciuman saja.

   ”Jaehee-ya… OMO!”

   Untung saja Joonmyun menahan pinggul Jaehee, jika tidak gadis itu bisa terjungkal ke bawah karena kaget. Bisa dibayangkan betapa merahnya wajah Jaehee dan Joonmyun sekarang saat Ibu Jaehee dan Ayah Sehun masuk, terperanjat melihat aktivitas yang tengah dilakukan putri mereka, dan ada Sehun yang menahan tawa di belakangnya.

   Ternyata, kejutan yang disiapkan Jaehee tidak hanya sampai pada ia sudah dapat berjalan kembali. Gadis itu sudah diperbolehkan pulang, dengan banyak catatan dari dokter, dan janji kontrol setiap seminggu sekali hingga ia benar-benar pulih seperti sediakala. Dokter juga tetap memintanya istirahat selama satu bulan penuh sebelum kembali bekerja. Dan itulah mengapa Ibu dan Ayah Oh datang ke rumah sakit.

”Kenapa kita selalu dipergoki?” bisik Jaehee saat Joonmyun membantunya mengepak pakaian, masih canggung karena Ibu dan ayah Jaehee memergoki mereka tengah bermesraan. Joonmyun bersyukur ia dan Jaehee tidak melakukan hal yang lebih dari sekedar berciuman saja, jika tidak… bisa dipastikan Ibu Jaehee akan jauh lebih dingin lagi kepadanya.

   Dan sebenarnya ini bukan pertamakalinya mereka dipergoki tengah berciuman. Dulu, ketika masih sekolah, ibu dan kakak Joonmyun seringkali memergoki mereka berciuman mesra sambil belajar, atau di kamar Joonmyun, hingga ibu Joonmyun memerintahkan putranya untuk selalu membuka pintu kamarnya setiap Jaehee main ke rumah.

   ”Kau akan pulang ke rumah kan, Jaehee-ya?” tanya Ibunya.

   Joonmyun melirik Jaehee, dan Jaehee nampak enggan. Ragu-ragu ia menjawab, ”Aku sebaiknya kembali ke apartemenku, Eomma. Banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan, dalam hal ini bukan pekerjaan langsung tapi urusan manajemen.”

   ”Tapi kau kan baru sehat, kau istirahat di rumah saja,” desak Ibunya khawatir. ”Pekerjaanmu biar di urus oleh Daeyoung dulu, atau Papa pasti mau membantu, Jaehee-ya.”

   Jaehee menggeleng, tidak enak. ”Daeyoung Oppa memang pasti akan menolong. Dan Papa sudah sangat sibuk belakangan ini, Eomma. Lagipula aku hanya akan mengecek pekerjaan dari rumah, kok. Aku akan tetap istirahat dan makan obat teratur, juga selalu kontrol ke dokter. Eomma dan Papa tidak perlu khawatir.”

   Sehun mengangguk setuju sambil melipat tangannya, mengawasi Jaehee dan Joonmyun yang membereskan barang. ”Lagipula sekarang sudah ada Joonmyun, Ma. Biarkan saja.”

   Ibunya mendesah berat. Kentara sekali tidak setuju namun tidak pernah benar-benar bisa menolak keinginan putrinya. Ayah Sehun terkekeh, ”Sudahlah, Yeobo. Biarkan saja, benar kata Sehun. Sudah ada Joonmyun. Joonmyunie, titip Jaehee baik-baik ya, Nak.”

   ”Hah~” Ibunya menghela napas berat. ”Jaga dia baik-baik, ya Joonmyunie. Dan ingat, aku tidak mau ada kehamilan sebelum menikah!”

   ”EOMMA!!!”

 

*        *        *

”Terserah. Kau mau di apartemenku, atau aku yang ke apartemenmu. Itu saja pilihannya,” kata Joonmyun setelah ia memasang sabuk pengamannya, dan siap membawa Jaehee pulang. Ia meminta tolong pada salah seorang supir ayahnya untuk mengantarkan mobilnya ke rumah sakit, dan tanpa diminta kedua orangtua Jaehee sekalipun, Joonmyun memang sudah berniat untuk terus menemani Jaehee.

   Terserah orang mau bilang apa, tapi Joonmyun sudah memutuskan untuk hidup bersama Jaehee, meskipun belum terikat oleh status pernikahan. Toh, ia akan menikahi Jaehee juga nanti. Hidup terpisah dengan dua pekerjaan yang saling bertolak belakang sudah membuatnya terpisah dengan gadis itu, jadi Joonmyun tidak mau merasakannya lagi.

   ”Yah,” Jaehee terlihat malu-malu, namun tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya saat Joonmyun mengatakan ingin tinggal bersamanya. Tidak perlu Joonmyun jelaskan, Jaehee pun berpikiran sama dengannya. Dirinya yang berprofesi sebagai model, dan Joonmyun yang selalu sibuk di kantor jika tidak tinggal serumah maka akan sulit bertemu. ”Aku terserah tinggal dimana saja… tapi, bagaimana dengan orangtuaku? Orangtuamu? Apa kata mereka?”

   Joonmyun terkekeh dan mengacak rambut Jaehee sambil menyalakan mesin mobilnya, “Kita hanya tinggal bersama, tidak melakukan apa pun, kan?” matanya melirik Jaehee menggoda, dan Jaehee mencibir.

   Tidak melakukan apa pun? Hah~

   ”Lagipula ini demi kebaikan kita, kan?” Joonmyun memundurkan mobilnya sebelum berbelok dan akhirnya pergi dari pelataran rumah sakit. ”Ngomong-ngomong…” kata Joonmyun sambil menatap lurus ke jalan, ”Kita sama sekali belum membicarakan soal hubungan kita,”

   ”Err… kau benar,” Jaehee mengangguk, setengah meringis.

   Joonmyun terkekeh, ”Jadi kau mau tinggal dimana?”

   ”Kalau di apartemenmu, tetap saja sebagian besar barang-barangku ada di rumah. Begitu juga denganmu, jika di apartemenku, barang-barangmu kan lebih banyak disana.” Gumam Jaehee bingung mempertimbangkannya. ”Tapi… jika kita benar-benar pindah… orangtua kita akan tahu…” lanjutnya dengan nada cemas.

   Joonmyun terkekeh, ”Kalau begitu bergantian saja, aku tidak keberatan jadi yang pindah. Tapi, kurasa kau benar… mereka bisa heboh jika tahu kita tinggal bersama. Tapi, kau… setuju kan dengan permintaanku?”

   ”Permintaan apa? Tinggal bersama?” tanya Jaehee melirik Joonmyun, pria itu mengangguk. ”Tentu saja aku setuju.”

   ”Well, kalau begitu kita ke apartemenmu dulu saja. Toh aku membawa laptop dan keperluan kerjaku dari Jeju.”

   ”Oke,” sahut Jaehee riang, bahkan mengecup pipi Joonmyun.

   Ini pertamakalinya Joonmyun menginjakkan kakinya di apartemen Jaehee. Apartemen gadis itu jauh lebih kecil dibandingkan apartemen miliknya, Jaehee bercerita bahwa ia membeli apartemen itu untuk memudahkannya berangkat ke studio yang paling sering menjadi tempatnya melakukan pemotretan untuk memotong waktu menata rambut ke salon dan juga ke studio. Harga apartemen ini cukup mahal meski kecil, karena berada di tengah-tengah kota. Meski kecil, Joonmyun cukup menyukai apartemen ini, karena pengaturannya benar-benar menggambarkan karakteristik gadisnya.

   Jaehee menunjukkan rekap jadwal dan pembukuannya yang Joonmyun akui, sebagai seorang gadis yang membenci Matematika dan Akuntansi, Jaehee cukup terampil melakukannya. Jaehee menceritakan tentang pekerjaannya setelah menjadi free agent, dan Joonmyun mendengarkan dengan seksama hingga berjanji akan membantu Jaehee untuk menyelesaikan kontrak-kontrak yang masuk ke dalam email-nya, karena Joonmyun jelas jauh lebih mengerti soal manajemen dibandingkan dirinya.

   Mereka makan malam berdua, Jaehee memesan samkyetang favoritnya dan malamnya Joonmyun benar-benar mengajarinya cara melakukan pembukuan dan pengaturan jadwal yang baik, agar Jaehee jauh lebih mudah mengatur pekerjaannya, serta membereskan kontrak-kontrak yang terbengkalai. Karena sudah dibantu Joonmyun, pekerjaan selesai tepat pukul sembilan, jadi Jaehee bisa tidur tepat waktu seperti saat gadis itu masih di rumah sakit.

   Merebahkan tubuhnya, dalam balutan piyama kesayangannya, Jaehee memainkan ponselnya sambil menunggu Joonmyun yang mandi untuk bergabung dengannya dan memeluknya hingga tertidur. Banyak email yang masuk ke dalam inbox-nya selama ia absen, mulai dari tawaran pemotretan hingga ke drama.

   ”Mana bisa aku main drama,” decak Jaehee sambil meletakkan kembali ponselnya di nakas, lalu mengeratkan selimutnya sambil berguling miring, menatap bayangan lampu kamar mandinya yang terpancar ke lantai, karena lampu kamarnya sendiri sudah dimatikan. ”Joonmyun mandi lama sekali,” gumamnya heran. Baru saja ia berkata demikian, pintu kamar mandi terbuka dan muncul Joonmyun yang masih menggosok rambutnya dengan handuk biru.

   Kedua mata Jaehee membelalak, dan ia berbalik hingga kini berbaring menatap langit-langit saja. Satu tahun tidak bersama, Jaehee tidak pernah berpikir bahwa Joonmyun yang hobi belajar dan nonton Star Wars itu akan menambahkan olahraga ke dalam deretan hobinya, karena demi Tuhan, tubuh Joonmyun…

   Glek.

   Jaehee hanya bisa meneguk ludahnya dalam-dalam, karena holy hell! Kenapa selama memeluk pria itu akhir-akhir ini Jaehee tidak merasakan apa-apa?! Tubuh Joonmyun benar-benar—tidak ada kata lain yang tepat selain sempurna. Jaehee tidak tahu kalau tangan Joonmyun yang biasa ia jadikan bantal itu aslinya sudah sangat besar, pastilah karena ia rajin berlatih mengangkat beban. Dan ototnya, dari dada bidang yang garis-garisnya tegas, hingga ke perutnya yang seperti roti sobek, Oh Tuhan, ampuni hamba-Mu, doa Jaehee dalam hati, karena ia membayangkan sisa-sisa guyuran shower yang mengalir menuruni setiap garis-garis tersebut.

   Hing.

   ”Mian,” didengarnya Joonmyun berkata, ”Aku lupa tidak tinggal sendiri, jadi aku tidak bawa pakaian ganti ke kamar mandi.”

   Jaehee melirik Joonmyun yang masih menggosokkan rambutnya, dan dengan penerangan seadanya kenapa Joonmyun jadi jauh lebih tampan. Ugh, padahal Jaehee sudah melihat puluhan aktor dan model tampan dengan tubuh sama killer-nya seperti Joonmyun, tapi tak pernah sekalipun jantungnya melakukan senam tengah malam seperti ini.

   ”Kau sudah tidur?” tanya Joonmyun sambil memicingkan matanya berusaha melihat Jaehee yang setengah tersembunyi dibalik selimut.

   ”Palli,” rengek Jaehee sambil menepuk-nepuk sisi kasurnya yang kosong, mengisyaratkan agar Joonmyun segera bergabung dengannya. Dia tidak kuat jika harus melihat Joonmyun setengah telanjang jauh lebih lama lagi. Dia hanya wanita biasa yang imannya tidak kuat-kuat amat. Joonmyun hanya terkekeh dan mengaduk-aduk kopernya, menarik keluar kaus tidur putihnya dan celana pendek.

   Joonmyun masuk ke balik selimut dan merentangkan kedua tangannya, yang disambut dengan suka cita oleh gadisnya. Jaehee langsung saja membenamkan wajahnya ke ceruk leher Joonmyun dan mengeratkan pelukannya di pinggang Joonmyun. Jaehee mengeluarkan dengkur puas seperti kucing kecil saat Joonmyun mengeratkan pelukannya juga.

   ”Aku tidak tahu kau suka ke gym sekarang.” Gumam Jaehee mengantuk. Wangi tubuh Joonmyun sehabis mandi benar-benar enak. Joonmyun terkekeh, menciumi rambut gadisnya, dan tangannya di pinggul Jaehee membuat gerakan, pelan, seolah-olah tengah melukis. Membuat Jaehee geli sekaligus nyaman.

   ”Wae?”

   ”Anhi,” geleng Jaehee. ”Oh iya, aku belum tanya soal lelang tender. Bagaimana hasilnya?”

   Joonmyun mendengus dan menggeleng, ”Kau terlalu sibuk mau mengerjaiku hingga akhirnya lupa dengan hasil lelang tender.”

   ”Uhh, aku kan sudah minta maaf, Kim Joonmyun~” kembali merengek.

   Joonmyun terkekeh, ”Nanti akan diumumkan hasilnya.”

   ”Lho, katamu pengumumannya di hari terakhir saat gala dinner?”

   ”Yep, dan ternyata belum diumumkan. Doakan saja…”

   ”Hmm,”

   Joonmyun menjauhkan kepalanya, dan melihat kedua mata gadisnya sudah terpejam. Ia tersenyum kecil dan mengecup dahi Jaehee dalam sebelum kembali mengeratkan pelukannya, dan memejamkan mata. Namun belum lama dua mata Joonmyun kembali terbuka, ia menunduk untuk melihat apa yang tangan-tangan kecil Jaehee lakukan.

   ”Ya! Kau sedang apa?” untung saja suara Joonmyun tidak terdengar gugup, padahal jantungnya mulai berpacu setengah mati.

   ”Kau ke gym, eoh?” tanya Jaehee penasaran dengan wajah menggoda. ”Woah, kenapa aku tidak sadar… omo omo, yah… dadamu…”

   ”Kenapa aku merasa sedang dilecehkan?”

   ”Ish! Apanya yang dilecehkan? Aku kan hanya penasaran…”

   ”Coba kalau aku yang melakukan ini, pasti jatuhnya pelecehan!” gerutu Joonmyun, pura-pura sebal, meskipun sebenarnya ia juga tidak mau Jaehee semakin menggerakan tangannya dengan aneh-aneh. Atau otaknya saja yang berpikiran aneh? Jaehee hanya penasaran… seperti, seperti dia dulu ketika masih sekolah.

   Jaehee berdecak, ”Yah, kau juga dulu sering pegang-pegang, tidak usah pelit!” omelnya menyingkirkan tangan Joonmyun agar bisa merasakan otot dada Joonmyun yang keras. Ya ampun, sebelumnya tanpa gym saja tempat favorit Jaehee di dunia sudah berada dalam pelukan Joonmyun. Apalagi sekarang.

   ”Kau ini,” cubit Joonmyun gemas, ”Kenapa dari dulu selalu pandai membalikkan kata-kataku, eoh?!”

    Jaehee terkekeh, ”Tapi serius badanmu bagus sekali… bolehkah tidur tanpa pakaian?”

   ”Oh Jaehee!!!”

 

*        *        *

Sudah satu bulan, Jaehee dan Joonmyun tinggal bersama. Tapi jangan salah, mereka tidak melakukan hal yang lebih jauh selain bermesraan. Apalagi belakangan ini, Joonmyun kerap kali pulang larut malam dan berangkat super pagi. Joonmyun mengatakan sudah resign dari kantornya dua minggu lalu, dan tengah mempersiapkan sebuah perusahaan bersama teman-temannya. Karena pengaturan ini, Jaehee dipaksa Joonmyun untuk tinggal di apartemennya, karena pria itu memiliki pelayan rumah tangga yang dapat memastikan kekasihnya makan tepat waktu dan mengawasinya agar tetap rutin minum obat.

   Pengaturan ini, membuat kedua orangtua Joonmyun—dan Jaehee, mulai menyadari bahwa anak-anak mereka sudah tinggal di bawah satu atap yang sama, dan mulai bawel. Awalnya, para orangtua yang merupakan produk zaman dahulu, tidak setuju Joonmyun dan Jaehee tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan. Tapi, Joonmyun yang berkeras bahwa ia harus menjaga Jaehee, mengatakan bahwa pekerjaannya dan Jaehee menuntut mereka untuk tinggal bersama agar menjaga komunikasi, apalagi ia sudah berjanji akan menjaga Jaehee baik-baik.

   ”Pokoknya awas kalau Jaehee sampai hamil dulu sebelum kau nikahi! Eomma akan cukur rambutmu sampai botak!” ancam ibunya saat datang berkunjung (sebenarnya mau mengecek apakah Jaehee sudah berbadan dua, karena ya keluarga Joonmyun tahu betul bagaimana mereka berdua) bersama ayah dan kakak lelakinya, saat Jaehee tengah menyiapkan makanan di dapur.

   ”Setidaknya nikahi Jaehee. Kau ini laki-laki atau bukan?” omel ayahnya.

   Joonmyun menahan diri untuk tidak memutar matanya, atau kedua orangtuanya akan kembali mengomel. Tentu saja dia mau menikahi Jaehee, tapi memangnya pernikahan itu hal gampang? Mereka bahkan belum selesai melakukan penyesuaian atas pekerjaan masing-masing, karena Jaehee masih absen bekerja sama sebulan terakhir.

   ”Mam, Pap… Oppa, makan malam siap.” Jaehee muncul dengan berwajah cerah, sama sekali tidak menyadari topik yang dibahas oleh kedua orangtua kekasihnya. Ayah dan ibu Joonmyun tersenyum padanya, berdiri dan mengikutinya ke ruang makan, meninggalkan Joonmyun dan sang kakak, Joonhyung.

   Joonhyung melirik Joonmyun penuh arti begitu suara Jaehee, serta ayah ibunya sudah menjauh, menandakan mereka telah duduk di meja makan. ”Jadi, mau sampai kapan kau dan Jaehee ’tinggal bersama’ seperti ini, eoh? Tunggu waktu saja sampai pacarmu itu hamil, kau akan dikuliti Eomma.”

   ”Hyung!” gerung Joonmyun, wajahnya memerah, ”Kukira kau akan membelaku!”

   ”Yah aku paham tentu saja kau tidak mau jauh dari pacarmu, aku paham…” wajahnya menyeringai penuh arti. ”Anak muda jaman sekarang. Aku tak pernah menyangka kalau adikku akan ikut trend masa kini dengan tinggal bersama sebelum menikah. Dwaesseo, walau aku paham… aku tetap tidak mau punya keponakan sebelum ayah dan ibunya resmi menikah. Jadi, jangan lupa pakai kondom.” Tambahnya sambil berdiri dan menepuk bahu adiknya.

   Wajah Joonmyun memerah. ”Kami belum pernah melakukannya Hyung! Astaga…”

   ”Jinjja?!” kali ini ganti Joonhyung yang terkejut. ”Yang benar saja kalian belum… hey, aku sering memergoki kalian di kamarmu, bahkan di ruang tengah dulu saat masih SMA! Jangan bohong padaku.”

   ”Untuk apa aku bohong?!” omel Joonmyun tidak terima. ”Kenapa semua orang berpikir kami sudah melakukannya?”

   ”Karena kami tahu kalian tidak bisa menjauhkan tangan kalian dari satu sama lain sejak SMA. Aku bahkan pernah melihat kalian…”

   ”Oke, oke, sudah jangan diteruskan!” Joonmyun menutup telinga dengan kedua tangan. ”Pokoknya kami belum pernah melakukan itu!”

   ”Wow, hebat juga kau.” Gumam kakaknya sambil terbahak, ”Yah pokoknya kalau kau nanti mau melakukannya jangan lupa pakai pengaman.”

   ”Hyung!!!”

   Memang sebetulnya wajar saja kedua orangtuanya ribut soal tinggal bersama ini. Bukan satu atau dua kali ibu, ayah, dan kakak Joonmyun memergokinya dan Jaehee bermesraan di rumah jika sedang ’belajar’ tapi tetap saja, itu kan ketika mereka masih muda. Hormon-hormon remaja yang tengah menggelora. Lagipula siapa yang tidak mabuk kepayang kalau punya pacar seperti Oh Jaehee?

   Sekarang pun, Joonmyun masih sering panas dingin jika melihat penampilan Jaehee di rumah. Mungkin karena mereka sudah terbiasa satu sama lain, sehingga Jaehee merasa tidak apa-apa untuk mengenakan seluruh koleksi baju tidur sutra tipis yang memamerkan setiap lekuk molek tubuhnya. Belum lagi jika tidur, gadis itu senang dengan posisi miring sehingga terkadang jika ia mengenakan pakaian berpotongan rendah, akan menampilkan pemandangan yang membuat kepala Joonmyun pusing.

   Tapi memang, Joonmyun merasa Jaehee belum siap untuk maju ke tahap lebih lanjut, dan lagi ia masih memiliki satu rencana terakhir sebelum ia benar-benar bisa mengajak Jaehee maju ke pelaminan.

   Ia akan memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Dia sudah mengundurkan diri dari kantor setelah semua pekerjaannya usai, dan ia tengah menyiapkan sesuatu. Sesuatu yang ia rasa, akan memperbaiki seluruh kesalahannya di masa lalu pada Jaehee. Joonmyun harap, seluruh rencananya akan berhasil.

   Malamnya, setelah orangtua dan kakaknya pulang, Joonmyun duduk di depan meja kerjanya, mengenakan kacamata bacanya sambil menekuri kalimat demi kalimat yang ada di layar iMac-nya. Ia baru menoleh saat pintu kamar mandi terbuka, dan Jaehee keluar dengan kepala terbungkus handuk. Nampak segar, dan tentu saja, seksi dalam balutan piyama sutra warna hitamnya.

   ”Sayang,”

   ”Hmm?”

   ”Heoksi… apa kau tidak memeriksa email-emailmu selama sebulan ini?” tanya Joonmyun penasaran.

   Melirik Joonmyun sekilas sebelum duduk di depan meja rias (Joonmyun membeli meja rias ini untuk Jaehee), Jaehee melepaskan handuknya dan membiarkan rambut setengah keringnya jatuh ke bahu dan menjawab, ”Anhi, aku tetap membuka email, kenapa?”

   ”Oh,” Joonmyun mengangguk, ”Kukira kau tidak buka sama sekali. Kau tidak merespon banyak tawaran kerja, Sayang.”

   ”Ah, aku memang tidak menjawab.”

   ”Kenapa? Kan sudah satu bulan.” Gumam Joonmyun heran, ”Kau sudah boleh kembali bekerja, kok. Asal tetap jaga kesehatan, dan ini Daeyoung-ssi juga memforward banyak tawaran pekerjaan yang masuk ke email-nya.”

   Jaehee menyisir rambutnya dan hanya terkekeh.

   ”Kau masih mau istirahat? Apa masih kurang fit?”

   ”Anhi, aku sudah baik-baik saja, Myeonie~” sahut Jaehee menenangkan kekasihnya sambil nyengir. Ia membuka tutup botol night lotion-nya dan mulai mengaplikasikannya pada tangannya perlahan, ”Aku hanya… entahlah,”

   Joonmyun mengangkat sebelah alisnya, ia bisa mendengar ada keraguan dalam nada bicara kekasihnya itu barusan. ”Apa ada masalah?”

   ”Tidak, tidak ada… hanya saja, aku tidak begitu yakin.” Ujar Jaehee ragu-ragu.

   ”Tidak begitu yakin, bagaimana?” Joonmyun tidak mengerti dengan jawaban Jaehee. Joonmyun memperhatikan kekasihnya itu meletakkan botol lotion-nya dan menggosokkan tangannya dengan ragu-ragu. Maka Joonmyun berdiri meninggalkan meja kerjanya dan mendekati Jaehee yang menatap bayangan dirinya di cermin. Joonmyun duduk di sisi tempat tidur dan meraih tangan Jaehee, membuat perhatian gadis itu teralih padanya. ”Hei, ada apa?”

   Jaehee menyeringai gugup dan mengangkat bahu, ”Entahlah, aku tidak berpikir… untuk… bekerja lagi.” Sahutnya.

   ”Mwo?” tanya Joonmyun cukup terkejut. ”Maksudnya? Kau masih mau istirahat di rumah dulu?” lanjutnya memastikan. Namun kekasihnya menggeleng dan menatapnya lekat-lekat, ia malah memainkan ujung-ujung poni Joonmyun yang menggantung di atas kacamata bacanya.

   ”Kau seksi dengan kacamata,” gumam Jaehee.

   Joonmyun terkekeh, ”Yah, jangan mengalihkan pembicaraan.” Tegurnya lembut. ”Kenapa? Kau mau istirahat?”

   ”Anhi,” Jaehee menghela napas, ”Bu…bukannya mau istirahat, tapi… aku mau… berhenti.” Sahutnya pelan.

   Joonmyun tidak langsung bicara, tapi ia perlahan-lahan menarik Jaehee agar duduk di pangkuannya. Ia menyisipkan rambut setengah kering gadis itu ke belakang telinga, sebelum meraih dagu Jaehee untuk menatap matanya.

   ”Kenapa mau berhenti?” tanyanya lembut.

   Jaehee mengangkat bahu.

   ”Jangan bohong. Aku tahu kau pasti punya alasan kenapa mau berhenti. Apa kakimu bermasalah?”

   Jaehee menggeleng dan mengalungkan dua tangannya di bahu Joonmyun, ”Aku tidak bisa kehilanganmu lagi, Myeonie.” Bisiknya.

   Napas Joonmyun sedikit tercekat. Ia tahu kenapa Jaehee tidak mau kerja lagi. Gadis itu pasti masih trauma dengan perpisahan mereka tempo hari. Ia yakin Jaehee takut, jika saat mereka bekerja nanti, pertengkaran-pertengkaran yang dulu akan terulang kembali, dan mereka akan berpisah, bahkan mungkin takkan pernah kembali lagi.

   ”Jaehee-ya,” Joonmyun tidak menggunakan sapaan sayangnya lagi, menandakan ia kini bicara serius. ”Modelling adalah mimpimu. Kau lupa?”

   Jaehee menggeleng, tersenyum sedih, ”Tapi kan mimpiku sudah bergeser, Myeonie.” Bisiknya.

   ”Jaehee-ya,” Joonmyun menempelkan dahinya pada dahi Jaehee, ”Seperti yang kau katakan, mimpi tidak akan semudah itu bergeser. Aku tahu kau takut, sama aku juga takut…” Joonmyun meletakkan telapak tangan Jaehee di dadanya, ”Aku takut sekali jika kita berpisah lagi seperti dulu.”

   ”Itulah kenapa…” sahut Jaehee lirih. ”Aku… aku tidak tahu mau melakukan apa, tapi mungkin aku akan kembali kuliah dan…”

   ”Andwae.” Geleng Joonmyun. ”Jaehee-ya, kau percaya padaku?”

   Jaehee mengangguk.

   ”Kau bilang kau akan bahagia kalau aku bahagia, geuchi?”

   Jaehee mengangguk lagi, matanya sudah berkaca-kaca, ”Tapi, kau tahu… hubungan kita akan sulit kalau kita sama-sama sibuk. Kau di kantor… aku…? Jam kerjaku tidak tentu. Dan, dan… aku… aku tidak mau kalau…”

    ”Ssshhh,” Joonmyun menghapus air mata Jaehee dengan ibu jarinya, ”Aku tahu kau takut, aku juga sama.” Aku Joonmyun meski sambil tersenyum, seperti ini, ia merasa tengah membujuk keponakannya yang masih kecil saja, pikirnya geli. Tapi Jaehee benar-benar menggemaskan menangis di pangkuannya seperti ini, minus gaun tidur tipis tentunya. ”Tapi, kita sudah pernah melewatinya, benar? Kita harus menjadikan pengalaman kemarin sebagai pelajaran. Kau mengerti aku, aku mengerti kau. Yang paling penting, kita berdua harus sama-sama saling percaya dan jujur.”

   ”Kau benar,” Jaehee mengangguk, mengusap matanya sendiri.

   ”Dan tentu saja, komunikasi. Aku adalah kekasihmu, dan aku adalah laki-laki. Sejak kita tinggal bersama, kau adalah tanggung jawabku. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar kita bertemu setiap hari dan meluangkan waktu untuk saling bicara. Seperti kemarin saat aku di Jeju, jika aku pergi untuk urusan bisnis atau kau pergi untuk pekerjaanmu, kita harus tetap saling bicara dan menceritakan hari-hari kita. Bagaimana?”

   Jaehee terkekeh, mengangguk.

   ”Jadi, kau akan kembali bekerja kan? Supermodelku?”

   ”Pfftt,” Jaehee memukul bahu Joonmyun, dan mengangguk, ”Baiklah, aku akan kembali.”

   Satu hal aneh yang Jaehee perhatikan semenjak percakapan mereka, dan saat ia sudah mulai kembali bekerja seperti semula. Suatu malam, Jaehee berkonsultasi pada Joonmyun, untuk membantunya memilih agensi mana yang cocok untuknya mengikat kontrak, karena meskipun ia sudah bisa mengurus dirinya sendiri sebagai free agent, Jaehee merasa perlu untuk bergabung dengan sebuah agensi.

   ”Tidak usah bergabung dengan agensi dulu,” jawab Joonmyun dan tidak menjelaskan lebih jauh, melainkan langsung mengalihkan pembicaraan, ”Sayang minggu depan saat kau ulangtahun, kosongkan jadwalmu, bisa?”

   ”Wae? Kau mau mengajakku pergi?” tanya Jaehee penuh semangat.

   Joonmyun mengusap kepalanya, ”Yep. Aku punya kejutan untukmu.”

   ”Assa!” dan Jaehee pun langsung melupakaan keingintahuannya mengapa Joonmyun melarangnya untuk bergabung dengan agensi.

 

*        *        *

Juli 16

Jaehee’s Birthday

 

”Oke, ini mulai menyebalkan!” gerutu Jaehee, sementara ia bisa mendengar kekehan Joonmyun di sampingnya, sambil mengendarai mobil menuju entah kemana. ”Aku kira kita akan makan malam dan kau mau memberi kejutan, tapi… aku tidak tahu kalau kejutannya seperti ini!” Ya, tangannya diikat, dan matanya di tutup. ”Myeonie, kalau kau mau main BDSM seperti Christian Grey tidak begini caranya, Sayangku.”

   Joonmyun berdecak, wajahnya memerah. Untung saja mata Jaehee di tutup, atau gadis itu pasti akan menggodanya habis-habisan. Dan jangan salah, mereka tetap tidak pernah melakukan apa pun selain bermesraan meski sudah hampir tiga bulan hidup bersama. Joonmyun masih bisa mengontrol hormonnya, begitu juga Jaehee. Dan karena Oh Sehun sering menginap di rumah mereka tentunya, disuruh oleh orangtua Jaehee dan Joonmyun.

   ”Sebentar lagi sampai, kau hanya perlu bersabar, Sayang.”

   ”Ugh! Kau hutang pijat tanganku!”

   ”Iya, nanti malam kupijat…” jawab Joonmyun patuh, dan membelokkan mobilnya di tempat yang ia tuju sambil tersenyum puas. Ia melepaskan sabuk pengaman sebelum keluar dan mengitari kap mobil untuk membukakan pintu Jaehee, membantunya melepaskan sabuk pengaman dan membantunya keluar dari mobil. ”Gwenchana?” tanyanya sambil mengelus pergelangan tangan Jaehee yang diikat dengan sapu tangan Sehun.

   Ya saudara-saudara, Sehun ikut membantu semua ini!

   ”Hmm,” gumam Jaehee merasakan Joonmyun melepaskan ikatannya dan memijat bahu dan pergelangan tangannya yang pegal.

   ”Nanti kupijat,” Joonmyun mengecup pipi Jaehee singkat, dan menuntunnya maju karena gadis itu masih mengenakan penutup mata. Sesekali Joonmyun tertawa geli karena Jaehee tersandung-sandung sepatu hak tingginya sendiri. Dan begitu tiba di tempat yang ia tuju, Joonmyun membawa Jaehee untuk berdiri tepat di tengah-tengah ruangan dan sedikit menjauh.

   Jaehee menatap ke kanan dan ke kiri, bingung karena kehilangan pegangannya. ”Myeonie?” tanyanya.

   ”Aku disini,” suara Joonmyun terdengar gugup, dan Jaehee mengernyit heran. ”Kau boleh buka penutup matanya, Sayang.”

   Jaehee mengangkat kedua tangannya untuk meraih ikatan sapu tangan Sehun dan perlahan-lahan mengurainya. Butuh waktu beberapa saat setelah ia membuka kedua matanya agar benar-benar bisa menangkap seluruh pemandangan yang kini tengah ia saksikan. Awalnya, ia akan mengharapkan makan malam romantis, dengan banyak bunga-bunga, tetapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengernyit karena kini ia berdiri di tengah-tengah sebuah lobi kantor yang cukup besar. Lantai-lantai marmer hitam, kandelar-kandelar mewah yang menggantung di langit-langit, meja penerima tamu yang kosong dengan kain hitam yang menutupi dinding.

   ”Err… ini… dimana?” tanyanya heran.

   Joonmyun tersenyum, sebelum perlahan berjalan ke belakang meja penerima tamu panjang dan berdri di depan kain hitam yang menutupi dinding di belakangnya. Dengan ragu-ragu ia menarik kain hitam tersebut dan dengan takjub Jaehee melihat tulisan apa yang ada disana.

   Terbuat dari kuningan, huruf-huruf besar indah, seperti yang biasa ia lihat di kantor-kantor agensi.

   JH Entertainment.

   ”Happy birthday, Sayang.” Ucap Joonmyun sambil tersenyum. ”Kau tahu… selama ini… aku mengatakan bahwa aku sedang menyiapkan perusahaan.” Ia terlihat salah tingkah, “Dan… ini yang aku siapkan. Jaehee-ya, aku… ingin memperbaiki kesalahanku dulu. Aku akan mendukung seluruh aktivitas modellingmu… dengan proposal dari lelang tender yang berhasil kumenangkan. Jadi, ini hadiah ulangtahunku untu… semoga bisa menjadi obat dari segala sakit yang pernah kusebabkan padamu.”

   Mana bisa Jaehee tidak menangis? Ia tersedu-sedu di tempatnya berdiri, sebelum berlari menghampiri Joonmyun dan memeluknya erat-erat, tak bisa berkata apa pun saking kaget dan tak percayanya dia.

   ”Gomawo,” bisik Jaehee dalam pelukan Joonmyun.

   Joonmyun terkekeh, “Saranghae.”

   ”Jadi, karena ini aku tidak usah bergabung dengan agensi manapun?” tanya Jaehee masih tidak mau melepaskan pelukan Joonmyun. Ia merasakan kepala Joonmyun yang menempel pada puncak kepalanya bergerak mengangguk, ”Dan kau… kau akan jadi Sajangnim-ku?”

   Joonmyun terkekeh, ”Gedung ini, perusahaan ini atas nama Oh Jaehee, bukan Kim Joonmyun. Jadi yang Sajangnim adalah kau, bukan aku.”

   ”Eh? Mana bisa aku?” Jaehee melepaskan diri dan cemberut. ”Dan… apa? Atas namaku?”

   ”JH Entertainment.” Joonmyun melirik plakat di belakangnya, ”Kau kira singkatan apa itu JH Entertainment?”

   ”Joon-Hee Entertainment!” Jaehee memberengut. ”Myeonie, kau yang berusaha keras di Jeju, karena kemampuanmu. Perusahaan ini, aku sangat tersentuh jika kau memberikannya untukku, tapi aku bukan orang Manajemen. Aku adalah model.”

   Joonmyun terkekeh dan menyisipkan rambut Jaehee ke belakang telinganya, ”Dengan begini, kita tidak akan saling berjauhan saat bekerja, geuchi? Kau tidak usah khawatir lagi. Kita sama-sama menyukai pekerjaan kita, tapi bisa bekerja bersama-sama.”

   ”Gomawo, jinjja…” Jaehee kembali membenamkan kepalanya pada dada bidang Joonmyun, membiarkan Joonmyun mengecupi kepala dan keningnya. ”Aku mencintaimu, sangat.”

   ”Jja! Karena kadonya sudah kuberikan… sekarang kita pergi jalan-jalan!”

   ”Eoh? Jadi hari ini belum selesai?”

   ”Belum, belum…”

   ”Kau akan membawaku kemana lagi?”

   ”Ke suatu tempat, yang hanya ada kita berdua…”

   ”Pfffttt, kau sangat cheesy.”

   ”Tapi cinta, kan?”

-TBC-

Pooh-yaaaa~ 

Kalo kemaren udah gumoh, part ini muntah pelangi #kataIMA. Oiya part depan part terakhir nih, akhirnya~ tapi part depan bakalan aku buat dua versi. Versi full dan versi cut, karena apa? Pasti kalian tahu ada adegan apa disana hahahahaha #ketawajahat versi full-nya juga gak akan aku post disini ya, jadi yang mau baca versi full (dan memenuhi syarat tentunya) nanti bacanya di blog pribadi aku :

fresherthancola.wordpress.com

Untuk password, seperti biasa langsung email ke aku aja : jjstory.pw@gmail.com || Jangan lupa sebutin username komen untuk mempermudah pengecekan ^^ kemaren-kemaren di AIA ada banget yang karena di protek jadi komennya di rapel biar dapet password, nah begitu di udah dikasih password ilang lagi komennya di part-part berikutnya hihihihi, aku dah hapalin nih yang begini-begini.

Sebenernya gak dibaca part full-nya juga gapapa sih, akan tetep ngerti kok sama jalan ceritanya. In case ada yang mau baca versi full aja. ^^

Sampai ketemu di part akhir…

 

 

bye yeom

 

 

XoXo

 

 

Neez,

94 responses to “[IM]PERFECTION – 7TH SLIDE — by Neez (PG15++)

  1. Ya ampun q kaget kirain jaehEe bneran kenapa2 sehun aktingnya bagus banget sampek jun shock gitu🙂 . Ugh jaehee kadonya manis banget dr myonie jd pengen punya satu yg kya myonie sumpah di part ini mereka manis banget , ya wjar sih ortu mereka khawatir secara mereka suka ehm ya gitu deh hahahaha nggak sabar buat part end nya dan siap menyambut cerita cerita baru dari nezz

  2. Kecehhhhhhhhhhhhhhhhh
    Asli aq y skait gigimalh mesem2 bac ne ilang dkit rsa skit gigi nya baca y mnis2 ne…. Gk tahan sma tingkah Joonmyeon y bner2 bkin super melting… Gk abis pkir yahhhh cowo mcrm dy y d dpan sma seorg Jaehee bakanya gk bsa nahan malah justru bkin perrahanan bner2 kecehhhhh sukaaaaaa mantabbbb……
    Hmzzzzzzzz gk sbr buat d akhirnya hehhehhhehe

  3. Aaaaa… Ga sabar sama part slanjutnya..
    Joonmyeon adalah salah satu ciptaan tuhan yang sangat pas buat dijadiin suami idaman. Sumpaahh~~ idaman banget Dia…
    Euungg~~ gatau harus ngomen apa buat part ini,pkoknya bagus banget. Ditunggu next chap. Nya…
    Keep writing~~ 파이팅…😍😝

  4. Awalnya cuma iseng baca FF ini sekilas tapi YA AMPUUUUUNN, akhirnya aku keseret sampe bagian tulisan TBC :’) ini semacam obat ngayal yg sempurna buat penggemar suho yg dilanda galau gundah gulana /?

    Suka banget rangkaian kata-katanya. Sederhana, ngalir, enak dibaca. Tau2 abis aja. Kayak makan ciki pas lagi laper /curhat. Cuma ada beberapa keliru preposisi ‘di’ bermakna kata kerja yg ditulis terpisah (mestinya digabung) /lupa di bagian mana aja *duagh. Tp di luar itu, cerita ini berasa hidup ko, asli!❤ aku selalu kagum sama penulis yg bisa bikin karakter yg kuat😄

    Jaehee bahagia banget sumpah. Hadiah ulang tahunnya warbyazah. Pacar ganteng, roti sobek, otak encer, romantis. Paket lengkap. Nyarinya dimana si? Ihiks

    Semangat terus author-nim~❤

  5. Wakakakaa
    Joomyeon dikerjain ya ternyata
    Kirain jaehee kenapa napa
    Lah, aku udah seuzon sama jiyeon wkwkwk
    Cie, yg tinggal serumah haahaha
    Makin romantis aja yaa
    Joomyeon romantis banget, JH entertainment
    Wihh,.keren banget dah
    Suka banget ceritanya
    Updatenya ditunggu , fighting!

  6. awalnya bikin tegang😀 sampai-sampai ane ikut deg-degan😦 tapi, syukurlah itu hanya sebuah candaan. dan joonmyun sangat romantis. sosweet😀 apalagi sampai memberikan jaehee jh entertainment😀 oiya, jaehee dan joonmyun kapan nikah?
    semangat thor, buat ngelanjutin next partnya😀

  7. ahhh… sehun kurang ajar.. aktingnya berhasil.. ngerjain joonmyun smpe segitunya haha ckkkk…

    wahhh joonmyun hebat ya.. bisa nahan hormonnya selama tinggal sm jaehee.. hehehe #ketawaevil

    huuaa… eonni bener2 muntah pelangi ni… pelangi ada d mn mn..
    joonmyun hebat keren… bener2 ngfly deh kalo jd jaehee…
    ya ampuunnn ada gak ya lelaki kayak githu d dunia nyata ini…

    sumpah terhura banget deh sm sikap dan perlakuan joonmyun sm jaehee… sempurna banget dah buat jaehee…

    huuu…. jd gak sabar baca ending nya…
    kalo bisa aku mau baca yg full aja deh…. biar lebih puas.. hahaha…

  8. ya ampun demi apa jaehee sama joonmyun jadi SUPER DUPER MESRA BIN LENGKET KAYA PERMEN KARET gini ya allah. aku bacanya aja sampe meleleh berkali-kali. arghhhhhhh seneng banget mereka baikan dan joonmyun oh goshhhh hadiahnya napa so sweet banget sihh?????

    enak dehhh kalo kaya gt mereka bakalan seperusahaan so bisa sering kerja bareng. sama sama terus. tp bahaya juga sihhh kalo jaehee sama joonmyun dilengketin terus ahahahaha

    okayyu next nya ditunggu unnie!!!!

  9. Ahhhhhh…. so sweetttttt…. pengen banget dehh punya suami kayak Abang Joonmyun. Akhirnya mereka happily ever after. Setelah ini merela nikah kann, kayak di endingnya imperfection punya Kakak Ima. Duh, nggak sabar nunggu kelanjutannya. Aku tunggu yaa, Kak😉

  10. Cieeee sii Jaehee ama Joonmyeonnya udahh bisa salingg melengkapiii
    Aseekkk udahh
    Di tunggu part selanjutnyaa authornimm
    Kayaknya akuu bakalan baca yg part fullnya dehh haha

  11. Ku kira Jaehee sekarat sampe meninggal, gak taunya ….
    Duhhh beneran bikin jantungku berdebar-debar deh.
    Salut banget sama usaha Junmyeon buat Jaehee, bener2 sweet couple ever deeh
    Semoga cepat menikah haha

  12. Btw authot neez… Uhmmmm sehun jomblo ya… Hehehe
    Ini ko manisnya tumpeh -tumpeh… Senyum terus, de bacanya… Mau satu dong yg kyak junmyeon… Hohoho
    Dn trkhir gak munafik sihh pingin baca yg full… Hahaha

  13. Huhu bangke banget joonmyeon nya, minta dikawinin banget. Mana masih tanya lagi “tapi cinta kan?” Ya iyalah bang masyaalloh. Wkwkwk klo part ini udah bikin gumoh beneran 😂, dan jujur aku juga mau full ver nya yang part depan kak hehe

  14. Joonmyeon chessy sangat astaga ingin satu yang gini plis😂😂😂😂😂 udah kaya mau honeymoon ajaㅋㅋㅋㅋ

  15. Huwa… seneng deh akhirnya mereka bisa balikan lgi kek dulu. Bisa romantis an lgi deh. Hehe. Soalnya mereka tuh serasi bgt jdi gk rela klo putus lgi. Tpi msh penasaran sama rencananya si Jiyeon pengganggu tu. Kok gk sadar ” yah tu org. Fighting for next chap, kak…!!

  16. Akhirnya aku baca juga setelah tetekbengek skripsi ya ampuuuuun, rasanya lega baaangeeeet, setelah semuansidang berlakubtrus baca ff ini, seger langsung! Hahahahahahahahaha
    Duuuh juunmyun emang juara deh kalo kayak gjni! Saluuuuuuut!!!

  17. Pingback: [IM]PERFECTION – 8TH SLIDE (END) — by Neez ~PG17/CUT VERSION | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. manis banget moment nya. aduh bang joonmyun bikin deabetes. keren bgt ff nya aku suka bg ceritnya. bikin senyam senyum sendiri kalo lagi baca🙂.

  19. Tak kira beneran sampai shock aku, eh tapi candaan. Joonmyeon so sweet nanget ama jaehee. Dan ceritanya tambah keren

  20. Hahahaha ketawa ngakak kirain jae hee kenapa kenapa ehh emng idenya dia sama sehun jahilin junmyeon
    Idenya junmyeon dirikan agensi ituu keren bangett/ ide authornya ㅠㅠ

  21. Emang yaa si jaehee sama sehun usil bangettt bisa-bisanya ngerjain joonmyeon wkwkwkw kasihan joonmyeon sampe shock banget gituuu :’)
    DEMI APAAAA JOONMYEEEOOOONNN 😍😍😍
    ROMANTIS BANGEEEET :’))))))
    Akhirnya permasalahan kerjaan bisa teratasi. Good job joonmyeon :’)

  22. “Tapi cinta kan?” IYA CINTA BANGET oh sht IIHHH BAPEEERRRRRR CINTA ASLI AKU MAH BANG aduh apa ya aku teh:( awalnya jadi ikutan tegang sendiri,eh taunya yaampun-_-

  23. nggak bisa komen apa” lagi, ini sweet banget
    btw,jumnen duitnya banyak juga ya, ngasih hadiah nggak tanggung”, perusahaan men….

  24. Yaaaaa, ini udah update dan aku baru tauu ;(, Sisain satu kayak joonmyeon dungs ;( jadi seneng dengernya pas mereka akrab lagi kwkw, tinggal 3 bulan bareng mungkin kalo nggak tahan bakalan gawat wkwkwk

  25. Smpe dibikini agensi sm Joonmyeon, Jaehee beruntung bgt. Aiguu:’) btw nasibny Jiyeon sm Jonghyun gmn kak? Mereka udh kapok kan mau misahin Joon-Hee? Jiyeon udh mundur kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s