[CHAPTER 2] FLUTTERING

untuk cover flutt

Written by @araiemei

Before I met you,

I never knew what it was like to be able to look at someone,

and smile for no reason

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

*

Semenjak mengetahui bahwa ada sosok pelatih renang baru nan tampan dan berkarisma di asrama kakaknya, Naheul selalu saja mengambil alih tugas ayah setiap dua minggu sekali. Ia tidak membiarkan lagi ayahnya yang berangkat menjenguk kakaknya. Ia buru-buru mencegat ayahnya yang sudah bersiap dan mengatakan, “Appa bantu eomma saja, ya. Biar aku yang ke sana.” Dan, ayahnya tidak pernah keberatan.

            Semua sudah berjalan kurang lebih dua bulan ini. Dan Naheul selalu menantikan setiap harinya, menghitung-hitung kapan jadwalnya ia berangkat menjenguk kakaknya di asrama.

            Terakhir kali menjenguk, Minhyuk perotes kepada Naheul.

            “YA! Kenapa kamu lagi, sih? Kapan ayah yang ke sini? Aku juga kangen ayah.”

            Tapi Naheul dengan teganya menyahut, “Kalau kangen ayah, ya, pulang.”

            Minhyuk juga mencoba membaca pikirannya, “Kau ke sini pasti karena ingin bertemu dengan pelatihku, kan?”

            “Kalau iya, memang kenapa?”

            Minhyuk yang sebal, tidak bisa menyahut.

            Begitu Naheul baru saja menududukan tubuhnya di salah satu kursi di ruang tamu, Minhyuk berpesan, “Minggu depan ayah yang ke sini. Kau sebaiknya libur dulu.”

            “Oke, tapi beri tahu dulu namanya siapa.”

            “Kau gila, ya?”

            “Ya, aku gila. Dan, aku akan tetap gila seperti ini sampai kau beri tahu aku siapa namanya.”

            Minhyuk mendesah kesal, “Memangnya kenapa aku harus memberi tahumu namanya? Penting?”

            “Sangat. Kalau kau memberi tahuku namanya, aku bisa mencari kontaknya di sosial media. Jika ketemu, aku bisa memantaunya dari sana, dan tidak perlu sering-sering mengunjungi asramamu. Bagaimana? Masih tidak ingin memberitahuku?”

            Minhyuk yang kehabisan kata-kata hanya menatap miris ke arah adiknya. Tidak habis pikir bagaimana bisa adiknya menjadi gadis centil seperti ini.

            “Kkara!” ucapnya kemudian. Naheul di depannya membulatkan mata.

            “YA! Aku baru saja tiba, dan kau memintaku pulang sekarang?”

            “Kka!”

            “OPPPAAAAA…. Biarkan aku istirahat sebentar saja, ya. Dua puluh menit.”

            Minhyuk meraih pergelangan tangan Naheul.

            “Lima belas menit.” Naheul mencoba menawar, tapi Minhyuk malah menyeretnya hingga ke pintu asrama.

            Naheul memberontak dan berusaha melepaskan cengkraman Minhyuk. Selalu seperti ini. Selalu saja Minhyuk mengusirnya.

            “Oppa saram ieyo?”

            “Anhi. Nan saram anhieyo. Geunyang kka! Ddangjang kka!”

            Naheul tidak bisa berbuat apa-apa, selain menghujam manik mata kakaknya dengan tatapan penuh dendam, sebelum membalik badan dan pergi.

            “SEMOGA KAU KALAH DI TURNAMEN BULAN DEPAN! KA-LAH!”

            Minhyuk menutup pintu asrama tanpa banyak bicara.

*

Hari itu Naheul baru saja menghabiskan jatah makan siangnya di kantin bersama teman sebangkunya Kim Seojung, kemudian kembali ke kelas dan mendapati siswi-siswi di kelasnya bergerombol mengelilingi bangku pojok kanan di baris belakang. Pasti ada berita heboh. Mereka pasti tengah membahas suatu berita yang heboh, pikir Naheul.

            Suara mereka yang bercakap-cakap terdengar nyaring, dan Naheul yang saat itu baru berada di depan loker kelas, mendengar salah satu dari mereka menyebut-nyebut nama sekolah atlet Sungkyun.

            “YA! YA! Kenapa menyebut-nyebut sekolah Sungkyun? Ada apa?” Naheul mencoba menerobos gerombolan siswi-siswi itu.

            “Oh, Naheul ah…” Salah satu temannya, yang di seragam sekolahnya terpasang sebuah nametag bertuliskan, ‘Lee Hyun Joo’, segera melemparkan pertanyaan kepadanya, “Oppamu atlet renang di sekolah atlet Sungkyun, bukan?”

            Naheul yang belum paham apa yang sedang mereka bahas, hanya bisa menganggukan kepalanya, “NdeOppaku sekolah di sana.”

            “WOAH, DAEBAK!” Seluruh teman-temannya tiba-tiba berdecak kagum. Naheul jadi tambah bingung. Bukankah selama ini dia memang sudah pamer jika kakaknya sekolah di sekolah atlet ternama, tapi respon mereka dulu biasa-biasa saja. Kenapa sekarang jadi seperti ini?

            “Waeeee?”

            “Apa kau pernah menjenguk oppamu di sana?” temannya yang bernama Lee Hyun Joo bertanya lagi.

            “Geurom!”

            Dan teman-temannya berdecak kagum lagi.

            “Apakah kau pernah bertemu So Ji Seob oppa?”

            “Nde?” Naheul masih memasang wajah bingung, “So Ji Seob? Nu… gu?”

            “YA! Kau tidak tahu beritanya? Anhi… maksudku,” Lee Hyun Joo mencoba meralat, “Apa kau tidak kenal So Ji Seob.”

            Naheul dengan polos menggelengkan kepalanya. “YA! Dia itu model yang pernah tenar di tahun 90’an. Rapper hip hop yang… oh demi Tuhan… kau tidak tahu?”

            “Memangnya apa hubungannya model, rapper hiphop, sekolah Sungkyun, dengan oppaku?”

            “So Ji Seob sekarang menjadi pelatih renang di sekolah Sungkyun! Sekarang menjadi tranding topik di berita online!”

            Pelatih renang? Sekolah Sungkyun? Tunggu… namanya tadi siapa… So Ji Seob? Apakah pelatih renang baru di sekolah kakaknya, yang berwajah tampan nan berkarisma itu, yang mereka maksud dengan…. So Ji Seob.

            “YA! Neo… kau punya fotonya?” ucapnya kepada Lee Hyun Joo dengan wajah tidak sabar.

            “Oh, jangkanman.” Lee Hyun Joo memencet-mencet ponselnya sebentar, kemudian menyerahkannya kepada Naheul.

            Naheul menerima ponsel Hyun Joo, menatap apa yang kini terpampang jelas di layarnya, Naheul seketika membekap mulutnya dengan telapak tangan.

            ‘Ini… dia… dia…’ Naheul merasa sesuatu di dalam dadanya meletup-letup.

            Apa yang dia lihat di layar ponsel Hyun Joo, adalah wajah seseorang yang beberapa waktu ini membuatnya uring-uringan. Membuatnya menjadi gadis centil yang selalu saja mencuri-curi pandang setiap kali menjenguk kakaknya di asrama. Membuatnya penasaran setengah mati, tentang siapa sebenarnya nama. Dan, hari ini… Naheul mendapatkannya. Nama pelatih itu ternyata….

            “Kau benar tidak pernah melihatnya?” suara Hyun Joo terdengar bertanya lagi.

            Naheul masih menatap lekat pada layar ponsel.

            “Naheul…”

            Dan seketika ia tersadar, lantas menggelengkan kepalanya, “Anhi. Anbopaseo… geu saram.”

            Lee Hyun Joo menerima kembali ponselnya dengan wajah kecewa.

*

“YA! YA! Naheul ah! Tunggu aku.” Seojung mencoba mengejar Naheul yang entah kenapa, malah memutuskan keluar dari kelas, padahal siswa jam istirahat tinggal 5 menit lagi.

            Naheul membawa tubuhnya bergerak menuju lapangan di belakang sekolah mereka. Seojung masih setia mengikutinya, hingga gadis itu mendudukan tubuhnya di salah satu anak tangga di pinggir lapangan.

            “Neo wae geurae?” tanya Seojung begitu mendudukan tubuhnya di sebelah kiri Naheul.

            “Na genchana, Seojung ah,” jawab Naheul masih lurus menatap ke arah lapangan di depan mereka.

            Seojung mencoba mengamati raut wajah Naheul. “Kau bohong, kan?”

            “Eng?”

            “Kau bohong saat mengatakan kau tidak pernah melihat So Ji Seob, ehm… maksudku pelatih So, di sekolah oppamu?”

            Naheul menghembuskan nafas lemah.

            “Ya, Seojung ah,” bukannya menjawab, Naheul malah balik melemparkan pertanyaan, “Kau membawa ponselmu?”

            Mendengar pertanyaan Naheul, Seojung lantas memeriksa saku rok dan saku jas seragam sekolahnya. “Nde. Aku membawanya.”

            “Boleh aku pinjam?”

            “Tentu,” sahut Seojung lantas memberikan ponsel di tangannya kepada Naheul.

            Beberapa detik Naheul tampak memencet-mencet ponsel Seojung, menuliskan sesuatu di kolom pencarian google. Dan tidak berapa lama kemudian, wajahnya berubah menjadi lebih serius ketika membaca tulisan yang kini tertera di layar ponsel temannya itu.

            “Neo jinjja geu sarami molla?” suara Seojung terdengar bertanya lagi. Tapi, Naheul yang masih fokus membaca hanya menganggukan kepalanya samar, dan berucap…

            “Eoh…,”

            “Geu saram eun… mantan atlet renang di awal tahun 90’an. Dia sudah banyak menerima medali dan penghargaan sewaktu dia masih seorang siswa sekolah, dan namanya sudah diperhitungkan di kancah nasional, tapi sebuah kecelakaan yang ia alami kemudian membuatnya harus mundur dan perlahan-lahan tenggelam. Beberapa tahun setelah menjalani rehabilitas, dia sempat ingin kembali sebagai atlet renang, tapi nyatanya, efek yang ditimbulkan akibat kecelakaan itu, membuatnya tidak bisa segesit sebelum ia kecelakaan. Ia tidak pernah mendapatkan medali lagi, dan saat itulah ia memutuskan benar-benar mundur, dan lebih memilih profesi barunya sebagai seorang model pakaian serta rapper di grup musik hiphop indie.”

            Naheul masih menatap layar ponsel, tapi sebenarnya, telinganya mendengarkan dengan seksama perkataan Seojung.

            “Bagaimana bisa kau mengetahui tentangnya sebanyak itu?”

            Seojung seketika terkekeh kecil mendengar ucapan Naheul. “Aku kan penggemar grup musik indie. Memangnya kau, tontonannya Super Junior, SHINee, dan apalah itu.”

            Naheul hanya tersenyum mendengar respon Seojung, kemudian mengembalikan ponsel di tangannya kepada si empunya.

            “Geurae… gumawo, untuk infonya.”

            “WOAH! Pasti senang sekali ya jadi dirimu. Bisa bertemu dengan So Ji Seob setiap mengunjungi oppamu. Ya, Naheul ah. Tidak bisakah aku ikut denganmu sekali saja, jika kau mengunjungi oppamu di sana, eoh? Aku fans beratnya So Ji Seob. Ya, ya, ya?” Rupa Seojung di depannya persis dengan rupanya saat memohon kepada kakaknya untuk diberitahu siapa nama pelatih baru nan tampan yang sudah mencuri hatinya.

            Naheul menggeleng-gelengkan kepalanya kecil. Tebakannya benar. Sesuatu hal seperti ini akan terjadi. Teman-temannya akan memohon-mohon kepadanya agar dibawa ikut serta saat ia mengunjungi kakaknya di asrama.

            “Nde. Tapi kau harus menutup mulutmu baik-baik, ya! Aku tidak ingin seluruh anak-anak dikelas meminta permintaan yang sama dengan permintaanmu kepadaku. Bisa mampus aku.”

            “Arraseo!” Wajah Seojung terlihat sumringah. Seketika saja ia melonjak memeluk tubuh Naheul di sampingnya. “Gumawoyooooo, uriii chinguuuuu…. Neo jinja chingu yaaa…”

            Naheul yang tampak risih mencoba melepaskan pelukan Seojung, “Aissshh…” gerutunya sebal.

            Sekalipun di dalam hatinya, ada sesuatu yang membuncah, seperti kembang api yang meletup-letup, atau seperti ada kupu-kupu yang beterbangan. Wajahnya tetap tidak bisa menyembunyikan senyuman manis, saat ia teringat seseorang… yang ternyata bernama lengkap So Ji Seob.

            Sosok yang ternyata lahir di tahun 1977, dan memiliki jarak 19 tahun lebih tua darinya.

            ‘Bagaimana bisa aku menyukai seorang ahjussi?’ gumamnya dalam hati.

*

5 responses to “[CHAPTER 2] FLUTTERING

  1. Pingback: [CHAPTER 1] FLUTTERING | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: [CHAPTER 3] FLUTTERING | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Pingback: [CHAPTER 4] FLUTTERING | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s