[CHAPTER 3] FLUTTERING

untuk cover flutt

written by @araiemei15

Before I met you,

I never knew what it was like to be able to look at someone,

and smile for no reason

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

*

Hari itu hari minggu, Naheul seharian sibuk membantu ibunya di rumah makan milik mereka. Sejak pagi ia sudah ikut berkutat di dapur, menjelang siang, ia membantu ayahnya melayani pengunjung di depan, dan tidak terasa, hari sudah mulai senja.

            Naheul beralih menggantikan salah satu karyawan ibunya menjaga meja kasir. Semakin malam, pengunjung semakin banyak. Naheul kadang-kadang harus turun tangan ikut membantu ayahnya membawakan beberapa pesanan.

            Sampai sebuah suara yang familiar menguar dari arah pintu masuk, “Apppaaaa… eommmaaaa… na waseeooooo….”

            Seketika itu juga ibunya yang berada di dapur melonjak keluar, “Oh, Minhyuk ah. Neo waseo!”

            Naheul tidak tertarik menolehkan sedikit pun kepalanya. Ia masih sibuk membersihkan beberapa meja yang baru saja ditinggalkan pengunjungnya.

            Ia tahu kakaknya akan pulang. Dan, Naheul tidak tertarik menyambutnya. Rasa jengkel karena terus-terusan diusri setiap kali ia berkunjung di asrama menggumpal menjadi sebuah dendam kesumat.

            “Geundae… nugu… saeyo?”

            “Oh, ini pelatih renangku yang baru, eomma.”

            Mwo? Pelatih renang?

            Seketika saja gerakan lincah tangan Naheul yang mengelap permukaan meja terhenti. Ia mematung beberapa detik di tempatnya, dan tersadar begitu mendengar suara khas seseorang menyapa dan mengenalkan diri kepada ibunya.

            “Annyeonghaseyo, eommonim. Jeo So Ji Seob imnida. Saya pelatih barunya Minhyuk di sekolah.”

            “Mwo? So Ji Seob-i ragoyo?” suara ibunya melengking kaget.

            “Ah, ye. Jeo So Ji Seob ieyo.”

            “Ommo… ommoo… ommooo…” Kini suara ibu terdengar takjub. Salah satu telapak tangannya menutup mulutnya. “YA! Yeobo yaaa….” ibunya serta merta memanggil ayahnya. Ayahnya muncul dengan apron yang nyaris penuh dengan tepung terigu.

            “So Ji Seob! So Ji Seob datang ke rumah kita!”

            “Aiguuu… aiguuuu…” ayahnya segera menghambur. “Oh, Anyeonghaseyo.”

            “Anyeonghaseyo,” pelatih So turut menyapa sambil membungkukan tubuhnya.

            “Woah, kami tidak pernah menyangka sebelumnya, akan ada atlet besar datang ke rumah makan kecil kami,” ucap ayah ramah setelah bersalaman dengan pelatih So. Pelatih So nampak membalas dengan senyum ramah,

Sambil mengatakan, “Anhi, anhiya.”

            “Mianhaeyo, keadaan warung makan kami seperti ini,”

            “Gwenchansumnida, abeonim. Suatu kehormatan juga buat saya karena sudah diundang oleh Minhyuk untuk datang ke rumahnya. Maaf karena kami datang tanpa memberi kabar sebelumnya.”

            “Ah, gwenchanayo,” kini ibunya yang bersuara, diiringi suara ayahnya yang mempersilahkan pelatih So duduk di salah satu meja di dekat kasir.

            Pelatih So yang hendak mendudukan tubuhnya di kursi, menangkap sosok Naheul yang masih berdiri mematung di sudut ruangan, sementara tangan gadis itu memegang lap dan tubuhnya ditutupi sebuah apron berwarna merah muda. Saat itu juga ia menyapanya, “Annyeong, Naheul ssi.”

            “Oh,” Naheul yang belum sepenuhnya sadar, masih kikuk di tempatnya berdiri.

            “YA! Kau sedang apa?” Suara ibunya menegur, “Cepat beri salam. Dia pelatih oppamu.”

            “Oh, nde… Annyeong hasaeyo, coach-nim,” sapanya seraya membungkukan badan.

            Saat ia menegakan kembali tubuhnya, ia bisa melihat senyum manis pelatih So ke arahnya.

            Nyaris membuat tubuh Naheul meleleh ke lantai rumah mereka.

*

Saat ibunya beberapa kali meneriakinya, agar membantunya di dapur menyiapkan hidangan untuk pelatih So, Naheul tidak mendengarkan. Dia memilih duduk di antara ayahnya dan pelatih So. Sementara kakaknya berapa kali sudah mengusirnya, tapi tidak digubris sama sekali olehnya.

            Naheul mencoba menyela percakapan ayahnya dengan pelatih So dengan pertanyaan-pertanyaan konyol, seperti…

            “Coach-nim… suka Kimchi jjigae atau samgyetang?”

            Yang dijawab oleh coach-nimnya, “Kimchi jjigae nan jhohae.”

            Dan seketika saja Naheul berteriak ke arah dapur, “EOMMMAAAA!!! KIMCHIII JJIGAEEEE UNTUK PELATIH SO!”

            Ayahnya menghardik kecil Naheul yang sudah tidak sopan berteriak-teriak di depan tamu.

            Tapi Naheul tidak peduli. Dia memilih duduk manis bertopang dagu, sambil menatapi wajah tampan pelatih So di hadapannya yang kembali bercakap-cakap dengan ayahnya.

            “YA! Neo… pergi sana. Pelatih So bisa risih terus-terusan dipandangi gadis aneh sepertimu,” suara kakaknya lagi.

            Bukannya pergi, Naheul malah kembali mengeluarkan pertanyaan, “Coach-nim, kau tidak apa minum soju?”

            “Ye, genchana. Saya peminum yang baik, kok.”

            “Jinjja?”

            Mendapati pelatih So mengangguk, Naheul kembali berteriak, “EOMMMAAAAA… TIGA BOTOL SOJU LAGI UNTUK COACH-NIM!”

            “YAK!” Ayahnya yang sudah tidak tahan dengan sikap Naheul, akhirnya memukul pundak anak gadisnya itu dengan tangannya.

            “APPAAAAA….” Naheul menatap kesal ke arah ayahnya.

            “Dasar anak bandel!”

            Melihat tingkah ayah dan anak di hadapannya membuat pelatih So tertawa. “Aigu, gwencahanyo, abeonim. Naheul anak yang baik. Dia mencoba memperhatikan saya, jadi tidak usah memarahinya.”

            Naheul yang mendapati pelatih So membelanya, mengembangkan senyum lebar, dan wajahnya jadi berubah kemerah-merahan.

            “Coach-nim,” Naheul bersuara lagi. Kakaknya yang sudah kewalahan hanya bisa menundukan kepala putus asa. Sementara ayahnya menghembuskan nafas berat. Dalam hatinya bergumam, jika sekali lagi anak gadisnya ini bersikap tidak sopan, maka jalan terakhir adalah dengan menggiringnya keluar secara paksa. “Coach-nim punya teman perempuan?”

            “Ah, ya. Aku punya banyak teman perempuan.”

            “Ye?” Naheul nampak kaget dengan jawaban yang diberikan pelatih So, “Oh, maksudku, apakah coach-nim sudah punya teman perempuan yang spesial?”

            “Ya, Naheul ah… geumanhae!” kakaknya sudah bersiap untuk berdiri, tapi pelatih So menahannya.

            “Duduklah, aku masih ingin mengobrol dengan Naheul.”

            “Jika aku mengatakan tidak ada, bagaimana?” Pelatih So menjawab dengan senyum kecil yang dikulum.

            Seketika saja wajah Naheul yang mendengarnya jadi berbinar-binar.

            “Kalau memang tidak ada, bolehkah aku bertanya tentang tipe perempuan seperti apa yang kausukai?”

            Ayahnya yang menyerah, akhirnya memutuskan untuk undur diri, dan menyusul istrinya di dapur. Kakaknya menggerutu sambil mengusak-usak rambutnya sebal.

            “Tipe perempuanku?”

            Naheul menganggukan kepalanya cepat.

            Pelatih So nampak berpikir sejenak sebelum memberikan jawabannya. Naheul di hadapannya menunggu sambil menopang dagu.

            “Tipe perempuanku itu… adalah sosok yang ketika aku bersamanya aku merasa nyaman.”

            “Nyaman dalam arti?” Naheul terus-terusan membombardir pelatih So dengan pertanyaan-pertanyaannya.

            “Nyaman dalam arti…. kau bisa berbagi cerita apapun dengannya, dan dia bisa mengertimu dengan baik.”

            Naheul mengangguk-anggukan kepalanya.

            “Tidak penting rupanya?”

            “Tidak 100% penting, tapi juga berpengaruh dalam penilaian.”

            “Bagaimana dengan usia?”

            “Eng?” Pelatih So nyaris tersedak ludahnya sendiri.

            “Bagaimana dengan perbedaan usia? Tidak apa-apa.”

            Pelatih So sempat bingung untuk menjawab, tapi akhirnya dia memberikan jawabannya, “Untuk saat ini aku masih belum menemukan permasalahan karena perbedaan usia. Tapi jika memang nanti kualami, kemungkinan, aku tidak mempermasalahkannya.”

            Senyum di wajah Naheul semakin lebar.

            “Jja! Jja! Sekarang waktunya makan, eoh. Naheul ah, sana ke dapur! Bantu ibumu! Jangan ganggu pelatih So makan.” Ayah Naheul muncul dari arah dapur dengan mangkuk-mangkuk makanan yang ia bawa di tangannya.

            Naheul yang saat itu hatinya tengah berbunga-bunga segera mematuhi perintah ayahnya. Ia beranjak dari kursinya menuju ke arah dapur. Tapi baru beberapa langkah, Naheul berhenti, sekali lagi menoleh ke arah pelatih So yang saat itu membantu ayahnya menata makanan di atas meja, lantas berucap, “Coach-nim…” Pelatih So menoleh ke arah Naheul, “Manhi mogoyooooo…. coach-nim.”

            Pelatih So tersenyum, menjawab dengan jempol dan jari telunjuknya membentuk lingkaran.

*

One response to “[CHAPTER 3] FLUTTERING

  1. Pingback: [CHAPTER 4] FLUTTERING | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s