The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 20

Gone

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve ♣ Chapter 13—Jealous ♣ Chapter 14—Meet Them ♣ Chapter 15—Realize ♣ Chapter 16—Date ♣ Side Story: Forbidden ♣ Chapter 17—The Beginning ♣ Chapter 18—Truth ♣ Chapter 19—Past

The flowing tears tell me, goodbye now, goodbye—Hello Goodbye, Hyolyn

“Aku mencintaimu, Dahye-ya.”

Dahye tahu jantungnya berdebar ratusan kali lebih cepat begitu didengarnya frasa tadi sampai ke telinganya. Di hadapannya, Sehun berdiri dengan seulas senyum lebar mengembang di wajah. Disadarinya betapa ia merindukan senyuman itu. Senyuman yang membuatnya jatuh hati, senyuman yang dulu selalu Sehun berikan untuknya.

Dahye merindukannya. Sangat merindukannya.

Sehun berpakaian begitu tampan hari itu. Tubuh jangkungnya dibalut setelan berwarna putih, yang membuat kulit pucatnya kelihatan berkilauan. Rambutnya yang ditata rapi tertiup semilir angin sekali-kali. Pemuda itu lantas menjulurkan sebelah tangannya pada Dahye, seolah meminta gadis itu untuk datang padanya dan menggenggam tangannya yang terbuka.

Tanpa berpikir dua kali, Dahye ikut menjulurkan tangannya, berusaha meraih milik Sehun. Namun ketika ia mencoba mempertemukan jemari mereka, Sehun justru bergerak menjauhinya. Seolah bumi tempat mereka berpijak meluas dan membuat Sehun semakin jauh dari jangkauannya. Dahye mengernyit tak mengerti. Kali ini ia mengambil langkah mendekati Sehun, namun disadarinya pemuda itu juga semakin menjauhinya.

“Sehun … apa yang terjadi ….” Dahye bergumam panik pada dirinya sendiri. Kini Sehun telah berdiri semakin jauh darinya. Jarak yang tercipta di antara mereka terlampau besar, membuat Dahye gemetar ketakutan.

Senyum di wajah Sehun perlahan berubah menjadi sarat akan kesedihan. Suara pemuda itu bergaung di telinganya ketika lagi-lagi ia berujar, “Aku mencintaimu, Dahye-ya.”

Dahye menggeleng kecil. Ia mulai berlari untuk mencapai Sehun di sana. Namun alih-alih semakin dekat, jaraknya dengan Sehun justru semakin menjauh. Lalu disadarinya sekujur tubuh Sehun di kejauhan perlahan memudar sedikit-demi sedikit. “Tidak! Tidak, Sehun, jangan pergi!”

“Aku mencintaimu, Dahye-ya.”

Bahkan ketika wujud pemuda itu telah semakin memudar, suaranya masih terdengar begitu jelas di telinga Dahye.

“Kalau begitu jangan pergi, Sehun.” Dahye berseru sementara kedua matanya mulai memanas. Hatinya menyesak menyaksikan Sehun yang perlahan lenyap dari pandangannya, semakin sulit untuk ia gapai. “Jangan pergi kalau kau memang mencintaiku.”

Ketika itu embusan angin bertiup menerbangkan presensi Sehun sepenuhnya, bagai kepulan asap yang menghilang perlahan-lahan. Di tempatnya Dahye terisak semakin kencang. Ia memacu kedua kakinya, berusaha berlari menahan Sehun meski ia tahu usahanya sia-sia. Sehun telah pergi. Meninggalkannya selamanya.

“Tidak … jangan meninggalkanku, Sehun ….” Gadis itu berbisik di sela isakannya.

Langkahnya menjadi semakin kacau hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung, dalam hitungan sekon bisa saja terjatuh membentur tanah. Namun alih-alih mendarat di permukaan tanah yang kasar, kedua lututnya justru bertemu dengan hamparan karpet halus yang terasa begitu familier.

Kernyitan tercipta di keningnya. Dahye mendongak, dan menemukan dirinya kini tengah terduduk di sebuah ruangan mungil yang juga anehnya tak terasa asing. Sinar matahari sore yang menyelinap dari sebuah jendela besar menyinari seisi ruangan, membuat atmosfer hangat segera menyelimuti Dahye. Lantas didengarnya dua orang tengah bercakap-cakap sambil sesekali tertawa kecil. Dahye memutar kepala, dan segera menemukan dari mana percakapan itu berasal.

Di sana, di salah satu sisi ruangan, berdiri sepasang suami istri tengah berbincang hangat seraya menyusun beberapa buku ke dalam lemari kayu. Sepasang suami istri itu berdiri memungginya, namun Dahye tak perlu memutar otak untuk segera mengenali keduanya.

“Ayah? Ibu?” Gadis itu bergumam pelan.

Mungkin gumamannya terlalu halus hingga kedua orang tuanya tak mendengarnya. Dahye mengerjap beberapa kali, kemudian menyapu pandang ke seluruh ruangan, dan segera menemukan sesosok gadis yang begitu dirindukannya duduk tepat di hadapannya, hanya dipisahkan oleh sebuah meja baca. Gadis itu menunduk, menekuni buku tebal yang terbuka di depan hidungnya.

Dahye sadari kini ia tengah duduk di perpustakaan mini yang ayahnya bangun di rumah lama mereka. Di sekelilingnya hadir seluruh anggota keluarganya yang benar-benar utuh. Ayahnya, ibunya, lalu—

“Eonni?”

—kakak perempuan tersayangnya.

Perlahan Dayoung mendongak dari buku bacaannya. Wajah cantik gadis itu segera diwarnai senyum lebar begitu ia melihat Dahye.

“Ada apa, Hye-ya? Kau belum menemukan buku mana yang ingin kau baca, hm?” Suaranya kedengaran begitu lembut di telinga Dahye.

Dahye menggeleng pelan. Tanpa banyak bicara ia menghambur menghampiri eonninya, merengkuh tubuh itu dengan begitu erat. Memastikan bahwa eonninya bukan imaji semata, bahwa eonninya sungguhan ada di sampingnya.

Ia rindu. Ia juga begitu merindukan eonninya.

Dayoung tertawa kecil mendapati tingkah adik kecilnya. Gadis itu ikut merangkul Dahye, sesekali mengusap puncak kepalanya dengan sayang.

“Aku merindukanmu, Eonni. Benar-benar merindukanmu.” Dahye berbisik dalam pelukan eonninya, masih enggan melepaskan diri.

Dayoung hanya mengangguk kecil mendengar ini, seolah ia mengerti benar bagaimana perasaan adiknya itu.

“Aku merasa sangat kesepian setelah semua orang pergi,” tutur Dahye perlahan, sakit di hatinya terasa makin nyata. “aku benar-benar sendirian, tak punya siapa-siapa lagi yang bisa kuajak bicara.”

“Kau tidak sendirian, Hye-ya. Kau punya semua orang yang menyayangimu berdiri di sampingmu.” Dayoung menyahut dengan lembut.

Dahye menggeleng kecil. Ia lantas mendongak untuk menatap eonninya lurus-lurus. “Tapi semua orang pergi meninggalkanku. Ayah, ibu … bahkan eonni juga ikut pergi. Kenapa hanya aku seorang yang ditinggalkan?” Ia berhenti sejenak sebelum meneruskan dengan suara begitu pelan. “Haruskah aku menyusul kalian juga?”

“Jangan bicara begitu.” Dayoung cepat-cepat menukas, keningnya mengerut dalam. “Kau harus bertahan, Hye-ya. Apa pun yang terjadi kau harus bertahan”

“Tapi aku benar-benar sudah lelah.” Dahye berbisik pilu, ia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang lagi-lagi memanas. “Semua kebahagiaanku rasanya sudah terenggut. Aku tak punya lagi alasan untuk tersenyum, tak punya lagi alasan untuk tetap hidup.”

Dayoung terdiam sejenak. Gadis itu lantas mengembuskan napas, lalu menatap Dahye dengan begitu lembut.

“Jangan lupakan seseorang yang pernah menarikmu dari keterpurukan, Hye-ya. Seseorang yang juga memberimu rasa bahagia, membuatmu lupa dengan semua kesedihanmu walau hanya sesaat.” Dayoung berujar pelan-pelan, seolah ingin Dahye menangkap maksud di balik setiap silabelnya. “Satu kesalahan besar mungkin terasa mengacaukan segalanya. Tapi mungkinkah kau akan melepaskan seseorang yang bisa memberimu kebahagiaan?”

Dahye tercenung begitu Dayoung usai berbicara. Ia menatap eonninya agak lama, berusaha mencerna maksud kalimatnya tadi. Ketika ia hendak membuka mulutnya untuk mengajukan tanya, hal serupa yang terjadi pada Sehun kembali terulang. Perlahan, Dayoung bergerak memudar dari pandangannya, bersamaan dengan perpustakaan mini mereka. Percakapan ayah dan ibunya tak lagi terdengar, dan kini Dahye menemukan dirinya terjatuh dalam kegelapan yang pekat.

Beragam suara terdengar dari sana-sini, membuat kedua telinganya berdenging ngilu dan dadanya menyesak seolah sekujur tubuhnya tengah diimpit dinding-dinding tak kasat mata.

Sesak.

Benar-benar sesak.

Lalu bayangan ayahnya muncul entah dari mana, bersamaan dengan bayangan ibunya yang tengah tersenyum hangat. Dahye menyusun langkah mendekati mereka, namun sebelum ia sempat, bayangan keduanya telah lebih dulu menghilang. Berganti menjadi bayangan eonninya yang juga tersenyum. Bahkan sebelum Dahye sempat mencapainya, bayangan eonninya juga ikut lenyap dari pandangan. Setelah itu bayangan Sehun yang tiba di hadapannya, begitu dekat hingga Dahye pikir ia bisa menjangkaunya. Namun kala ia mencoba mengulurkan tangannya, bayangan pemuda itu juga kembali menghilang seperti sebelum-sebelumnya.

Kini Dahye tertinggal seorang diri dalam ruang gelap itu. Baru disadarinya suara-suara yang membuat telinganya sakit berasal dari dalam dirinya sendiri—jeritan-jeritan pilu yang selama ini berusaha ditahannya. Dan sesak yang mengimpitnya, juga berasal dari dirinya sendiri.

Sesak dan pilu, sebab ia merasa begitu kesepian. Begitu sendirian.

Benar-benar sendirian.

Dahye terbangun dengan peluh membasahi pelipisnya. Napasnya agak terengah seolah ia baru saja mengikuti lari marathon. Gadis itu lantas mengerling jam di dindingnya, pukul dua pagi.

Mimpi. Rupanya ia hanya bermimpi. Pertemuannya dengan Sehun, dengan eonni dan kedua orang tuanya. Semua hanya mimpi.

Setelah menenangkan jantungnya yang entah kenapa berdebar begitu keras, Dahye kembali membaringkan tubuhnya, menarik selimutnya sampai sebatas dada lalu berusaha memejamkan mata. Namun ia tak bisa terlelap sama sekali. Tak bisa dengan ingatan tentang mimpinya tadi menghantui.

Mimpinya terasa begitu janggal. Sehun yang datang padanya, lalu menghilang ketika ia berusaha mendekatinya. Perasaannya tak menentu, memikirkan bagaimana mungkin Sehun bisa begitu dekat namun terlampau sulit untuk dijangkaunya. Lalu pertemuan dengan eonninya di perpustakaan mini mereka …

“Jangan lupakan seseorang yang pernah menarikmu dari keterpurukan, Hye-ya. Seseorang yang juga memberimu rasa bahagia, membuatmu lupa dengan semua kesedihanmu walau hanya sesaat. Satu kesalahan besar mungkin terasa mengacaukan segalanya. Tapi mungkinkah kau akan melepaskan seseorang yang bisa memberimu kebahagiaan?”

Eonninya juga ikut memudar setelah ia mengucapkan kalimat itu.

Apa maksudnya?

Dahye lantas tersentak ketika ia menyadari sesuatu.

Seseorang yang pernah menarikmu dari keterpurukan, memberimu rasa bahagia, membuatmu lupa akan kesedihanmu.

Kenapa seolah kalimat tadi ditujukan untuk … Sehun?

Eonninya bermaksud bicara tentang Sehun?

Dahye mulai bergerak tak nyaman dalam tidurannya. Kenapa semua orang kelihatan membela Sehun? Seolah ingin Dahye memaafkan pemuda itu dan menerimanya kembali?

“…Nenek dapat mengatakan padamu dengan yakin bahwa pemuda itu benar-benar menyayangimu. Jika saja dia sampai melukaimu, dan membuatmu seperti ini, Nenek yakin dia tidak benar-benar berniat melakukannya. Pria yang sungguhan mencintaimu takkan mungkin melukaimu, tapi kau mengerti ‘kan, dia juga bisa berbuat kesalahan?”

“Sejak dia mengenalmu, aku bisa melihat banyak perubahan dalam dirinya. Sehun seperti kembali menjadi manusia yang semestinya, yang memiliki perasaan, dan hasrat hidup. Karena kau, Hye-ya.”

“Aku mengerti mungkin kau membenci Sehun karena dia telah melakukan kesalahan yang begitu besar di masa lalu. Tapi bukankah dia telah mendapat balasan atas apa yang dilakukannya? Tak bisakah kau memaafkan Sehun, Dahye-ya?”

Dimulai dari Nenek, Baekhyun, Shannon, lalu sekarang … eonninya.

Gadis itu tercenung untuk sejenak. Memikirkan baik-baik semua yang telah terjadi pada dirinya dan Sehun selama ini.

Benar jika ia nyaris membenci Sehun setelah masa lalu pemuda itu terbongkar. Tapi mampukah kebencinya mengalahkan rasa sayangnya pada pemuda itu?

Tak bisa Dahye pungkiri, bahkan setelah mengetahui semua rahasia yang Sehun sembunyikan, ia masih saja merindukan pemuda itu. Masih saja mengharapkan kehadirannya, masih saja menginginkannya.

Yang artinya, Dahye tak bisa melupakan Sehun sama sekali.

Gadis itu mengembuskan napas berat. Diam-diam membenci dirinya sendiri yang entah kenapa kelihatan begitu dibutakan oleh rasa sukanya pada Sehun. Seharusnya ia membenci Sehun sepenuhnya, ‘kan? Seharusnya ia tak usah mengingat pemuda itu lagi, ‘kan?

Tapi jika mengingat semua kenangan yang telah mereka lalui, Dahye semakin tak ingin melepaskan Sehun.

Belum lagi mimpi yang tadi didapatnya.

Kenapa terasa begitu mengerikan? Begitu nyata?

Sehun yang pergi dari sisinya, meninggalkannya seorang diri. Sama seperti apa yang telah dilakukan ayah, ibu, dan eonninya.

Dahye tak mau ditinggalkan untuk yang ke sekian kalinya oleh orang yang ia sayangi. Kehadiran Sehun selama ini terasa mengobati sedikit lukanya akan kepergian keluarganya. Lalu bagaimana jika Sehun benar-benar pergi meninggalkannya?

Tidak. Dahye tidak mau.

Tapi bukankah beberapa waktu lalu dirinya sendiri yang meminta Sehun untuk menjauh?

Dahye meneguk salivanya susah payah, lantas memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

Ia menyesal telah melakukan itu. Ia menyesal meminta Sehun pergi darinya sementara hatinya belum cukup kuat untuk melepas pemuda itu.

Ia terpekur sejenak, lalu memandang ponselnya yang bergeming di atas nakas.

Sore tadi Sehun mengirimnya pesan untuk bertemu. Namun Dahye sengaja mengabaikannya sebab ia sendiri masih bimbang tentang perasaannya. Meski begitu, kini ia telah membuat keputusan.

Esok hari, ia akan datang menemui Sehun. Dan, meminta pemuda itu untuk kembali bersamanya. Seperti dulu.

Ruangan Sehun telah dikosongkan.

Tempat pemuda itu bekerja kini telah bersih dari barang-barang miliknya dan hanya menyisakan meja kerja yang tak bertuan beserta lemari besar di sudut ruangan.

Dahye menemukan dirinya terpekur di depan pintu masuk, menatap tak percaya ke seluruh ruangan yang entah kenapa membuat dadanya sesak. Ruangan tempat ia dan Sehun biasa menghabiskan waktu detensi … kini bukan apa-apa lagi.

Apa yang sebenarnya terjadi?

“Saem!” Dahye menghentikan seorang guru yang lewat di hadapannya. Guru itu menoleh, lalu memandang Dahye dengan penasaran. “Kenapa … kenapa ruangan Oh seonsaeng dikosongkan begini?”

“Ah, kau mungkin adalah murid perempuan kedua puluh yang bertanya begitu pagi ini.” Guru itu terkekeh geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sama sekali tak menyadari raut panik di wajah Dahye. “Oh seonsaeng mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia sudah tak lagi bekerja di sekolah kita.”

Apa?

Kedua mata Dahye melebar tak percaya mendengar ini. Setengah mati berharap semoga telinganya salah dengar. Tapi setiap kata dalam kalimat gurunya tadi terasa begitu jelas.

Oh seonsaeng mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia sudah tak lagi bekerja di sekolah kita.

Mengundurkan diri.

Tak lagi bekerja di sekolah kita.

Tapi bagaimana mungkin? Kemarin-kemarin Sehun sama sekali tak kelihatan punya niatan mengundurkan diri. Kenapa begitu tiba-tiba?

Tapi aku berjanji ini akan jadi yang terakhir kalinya. Kumohon temui aku di taman itu sore ini.

Kemudian ia teringat pesan singkat yang Sehun kirimkan kemarin. Mungkinkah Sehun bermaksud menyampaikan hal ini—pengunduran diri yang dilakukannya?

Dahye mengesah kecil sembari mengurut pelipisnya. Seharusnya ia datang … seharusnya ia mengikuti keinginan Sehun. Pemuda itu sampai berjanji permintaannya kemarin akan jadi yang terakhir kalinya.

Bagaimana jika ada maksud lain dalam pesannya? Bagaimana jika Sehun benar-benar bermaksud pergi meninggalkannya …?

Tidak. Jangan berpikiran begitu.

Dahye menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba mengusir berbagai prasangka buruk yang kini bermunculan di benaknya.

Sehun tidak akan pergi. Pemuda itu tidak akan meninggalkannya.

Sambil menyugesti dirinya sendiri, Dahye mulai melangkahkan kakinya kembali menuju ruang kelas. Di sana, teman-temannya telah berdatangan dan ribut membicarakan entah apa itu. Merasa kepalanya agak pening, Dahye bergegas menuju bangkunya di baris belakang. Sekilas ia mengerling Taehyung yang tengah duduk di bangkunya sendiri sembari sibuk menyalin tugas dari buku milik orang lain.

“Yah—Dahye-ya!”

Dahye tersentak kecil ketika salah seorang teman perempuannya tiba-tiba mendudukan diri di depan mejanya. Dahye menatap temannya itu tanpa minat, benar-benar berharap semoga ia menangkap keenggannya untuk diganggu.

“Dengar-dengar kau sepupu jauh Oh seonsaeng, ‘kan?” Temannya itu memulai dengan tak sabaran. Dahye sadari, kini seisi kelas mulai hening, seolah mereka tengah menunggu jawabannya.

Mengembuskan napas pelan, Dahye balik bertanya, “Kenapa?”

“Kau tahu kenapa Oh seonsaeng tiba-tiba mengundurkan diri?” Pertanyaan itu melompat begitu saja dari mulut temannya.

“Bukankah kemarin Han seonsaeng berkata Oh seonsaeng akan tetap bekerja di sini?” Salah satu perempuan yang duduk di seberang ikut bertanya.

“Kau tahu kemana Oh seonsaeng pergi?”

“Apa Oh seonsaeng akan mengunjungi sekolah kita lagi?”

“Kau bisa memberi tahuku dimana aku bisa bertemu dengan Oh seonsaeng?”

Dan, seisi kelas kembali ribut. Namun kali ini semua keributan berasal dari pertanyaan-pertanyaan tentang Sehun yang ditujukan untuk Dahye.

Di kursinya Dahye tak berkutik. Ia ingin sekali berseru pada semua teman-temannya untuk tidak menanyakan Sehun pada dirinya. Karena jangankan menjawab pertanyaan mereka, kabar dari Sehun saja sama sekali tak ia dapatkan.

“Kalian semua punya mimpi terpendam jadi wartawan, ya?”

Di tengah keributan kelas, Taehyung tahu-tahu berdiri dari bangkunya dengan keras, menimbulkan decitan mengilukan telinga yang membuat semua orang bungkam. Sambil mengulas senyum asimetris pada seluruh teman sekelasnya, Taehyung menghampiri meja Dahye dengan langkah ringan. Ia menarik tangan gadis itu, membuatnya berdiri dari duduknya.

“Lebih baik kalian jangan banyak tanya. Aku pinjam Dahye sebentar.”

Lalu dengan itu, Taehyung membawa Dahye keluar dari kelas.

Dahye ikut saja Taehyung menggiringnya entah kemana. Gadis itu tak punya niatan melepaskan diri, karena jujur saja ia lega Taehyung membawanya pergi di saat seperti tadi. Bukannya ia ingin menghindar dari pertanyaan teman-temannya, ia hanya tak mau dipusingkan oleh orang lain sementara kepalanya sendiri masih berdenyut sakit.

Taehyung menghentikan langkahnya ketika mereka tiba di taman belakang yang sepi. Pemuda itu mendudukan dirinya di bawah sebuah pohon besar, lalu menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya. Meminta Dahye untuk ikut duduk di sana. Tanpa banyak bicara, Dahye mengikuti keinginan pemuda itu.

“Aku mengerti di saat seperti ini kau sedang tak ingin diganggu siapa pun.” Taehyung berujar tanpa memandang Dahye. Pemuda itu mencabut rumput liar di dekat sepatunya, lalu memilin-milinnya dengan jemari.

Perlahan Dahye menoleh pada Taehyung. Ragu, ia bertanya, “Kau … tahu?”

“Tahu tentang apa?” Taehyung balas bertanya, masih memusatkan atensinya pada rumput liar di tangannya.

“Chaeyeon sudah tahu. Mungkinkah … mungkinkah kau juga tahu?” Dahye bertanya hati-hati, sengaja tak mengutarakan maksud pertanyaannya dengan gamblang.

Kali ini Taehyung mengalihkan tatapannya pada Dahye. Sejenak, keduanya hanya  bertukar pandang dalam diam. Sampai akhirnya Taehyung berdehem, dan kembali membuang wajahnya.

“Maksudmu tentang kau dan guru itu?” Ia memastikan, lalu tanpa menunggu jawaban Dahye segera meneruskan, “Ya, aku tahu. Sama seperti Chaeyeon, aku tahu.”

Rupanya benar. Taehyung juga tahu.

“Karena itu aku tidak mau mengganggumu lagi.” Taehyung kembali berujar, lagi-lagi tanpa memandang Dahye. “Aku sempat menghindarimu dan tak membuatmu marah lagi,” Ia berhenti sejenak untuk melepas kekehan kecil. “karena aku tahu, seberapa keras pun aku mencoba, kau takkan pernah melihatku. Di matamu hanya ada Oh Sehun, kau tak mungkin bisa melihat lelaki lain. Aku jelas bukan pengecualian.”

Perkataan Taehyung tadi berhasil membuat membuat Dahye membeku di tempatnya. Apa maksudnya …?

Gadis itu membuka mulutnya, berusaha mengatakan sesuatu. Namun ia menutupnya kembali ketika tak tahu harus mengatakan apa.

Taehyung … Taehyung menyukainya?

“Aku menyukaimu, Son Dahye. Sejak awal menyukaimu,” ujar Taehyung, seolah dapat mendengar pertanyaan yang berputar di kepala Dahye. Pemuda itu mengulas senyum kecil ketika ia meneruskan, “Tapi kau tak perlu khawatir. Aku tahu kau hanya menyukai Sehun seonsaeng, jadi aku tidak akan memaksamu untuk membalas perasaanku. Kau tahu saja, bagiku sudah lebih dari cukup.”

Tepat setelah itu, bel pertanda masuk berdering nyaring. Taehyung lekas-lekas bangun dari duduknya, menepuk-nepuk celananya yang kotor, lalu melangkah lebih dulu meninggalkan taman.

“Ah, ayo kembali ke kelas. Aku belum selesai menyalin catatan Jimin.” Pemuda itu berujar tanpa menoleh pada Dahye.

Masih di tempat semulanya, Dahye tersenyum kecil tanpa sadar. Ia menatap punggung Taehyung yang menjauh, sebelum akhirnya berseru, “Yah, Kim Taehyung!”

Ketika itu Taehyung menghentikan langkahnya. Ia berbalik, dan menatap Dahye dengan kedua alis berjingkat, mungkin terkejut menemukan gadis itu masih saja duduk di bawah pohon dan bukannya bergegas kembali ke kelas.

“Kau benar. Aku tak bisa membalas perasaanmu itu.” Dahye berhenti sejenak, mengulas senyum pertamanya untuk Taehyung. Tulus dari dalam hatinya. “Tapi kurasa, setelah ini kita bisa jadi teman baik.”

Taehyung tercenung mendengar ini. Ia lalu membalas senyuman Dahye, sama lebar dan tulusnya. “Senang mendengarnya, Dahye-ya.”

Mungkin sebenarnya, Kim bersaudara tidak begitu buruk juga.

“Kami telah melakukan yang terbaik, namun nyawa Tuan Oh sudah tak bisa diselamatkan lagi.”

Kalimat tadi seolah jadi penghancur seluruh pertahanan mereka. Tangis Nyonya Oh seketika pecah, tubuhnya runtuh bagai tak punya lagi pegangan. Di tempatnya Sehun tahu sekujur tubuhnya membeku. Matanya mulai memanas, namun ia cepat-cepat menahan tangisnya. Ia berlutut, lalu merengkuh ibunya dengan tangan gemetar. Membantunya berdiri sembari menenangkannya.

“Tidak … tidak … dia tidak mungkin meninggalkan kita, Hun-ah … tidak mungkin ….”

Sehun memejamkan kedua matanya. Kali ini membiarkan lelehan panas dari matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Ia mengeratkan pelukannya pada sang ibu, tanpa kata menyampaikan bahwa ibunya tak sendirian. Bahwa ia ada di sisinya dan akan selalu menemaninya.

Ketika tangis ibunya telah mereda, Sehun melepaskan pelukannya. Ia membiarkan ibunya duduk di kursi tunggu sementara dirinya membeli makanan untuk keduanya. Begitu kembali, Sehun menemukan dirinya terpekur memandang sang ibu yang duduk sembari memeluk tubuhnya sendiri. Tatapan ibunya kosong, entah apa yang tengah dipikirkannya.

Kala itu Sehun tersadar, kini ibunya telah hidup seorang diri. Setelah anak sulungnya, suaminya pun ikut pergi meninggalkannya. Hanya Sehun yang dimiliki ibunya saat ini.

Bukankah ia sama sepinya seperti ibunya? Bukankah ia juga tak punya siapa pun lagi selain ibunya seorang?

Pemuda itu lantas memutuskan untuk menemani ibunya setelah ini. Ia tak tahu kapan akan kembali lagi ke Seoul.

Atau mungkin, takkan pernah kembali.

Ini kali pertama Dahye pulang bersama Chaeyeon menggunakan bus. Dan rupanya, gadis Kim itu benar-benar berisik. Duduk di samping Dahye, gadis itu terus saja berceloteh sembari sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

“Wah, Jongin oppa membalas chat dariku!”

“Apa-apaan! Dia hanya balas, ‘ya aku ada kuliah siang ini, jangan ganggu aku dulu’. Dingin sekali.”

“Tapi dia sangat tampan. Aku tidak bisa marah padanya, bagaimana ini?”

“Suatu saat akan kubuat dia bertekuk lutut untukku. Lihat saja.”

Meski agak jengkel, Chaeyeon berhasil membuatnya terkekeh juga. Gadis satu ini benar-benar gigih mengejar Jongin. Sambil menyahut seperlunya, Dahye memperhatikan jalan yang dilaluinya. Ia tersentak ketika kemudian busnya berhenti di halte tujuannya. Cepat-cepat ia bangun dari duduknya.

“Chaeyeon, aku turun duluan,” ujar Dahye cepat.

“Ha? Kau bilang haltemu masih jauh?” Chaeyeon bertanya bingung.

“Ada keperluan yang harus kuurus.”

Dan dengan itu, Dahye bergegas keluar dari busnya. Ia menarik napas dalam-dalam lantas mulai memacu langkahnya. Hari itu, ia memutuskan menemui Sehun di apartemennya. Mungkin ia sudah tak bisa bertemu dengan Sehun di sekolah, tapi setidaknya ia masih bisa mengunjungi apartemennya ‘kan?

Jantungnya berdebar lebih kencang ketika bangunan tinggi itu muncul di pandangannya. Dahye berjalan masuk, naik ke lantai unit Sehun berada, dan mempersiapkan dirinya dengan tak tenang. Jemarinya agak gemetaran ketika ia menekan kombinasi angka password Sehun. Namun keningnya seketika mengerut kala password yang ia masukkan dinyatakan salah.

Ada apa ini?

Mungkinkah … mungkinkah Sehun mengganti passwordnya? Karena tak ingin DaJemarinya agak gemetaran ketika ia menekan kombinasi angka password Sehun. Namun keningnya seketika mengerut kala password yang ia masukkan dinyatakan salah.

Ada apa ini?

Mungkinkah … mungkinkah Sehun mengganti passwordnya? Karena tak ingin Dahye datang berkunjung semaunya?

Dadanya berdenyut ngilu memikirkan ini.

Setega itukah Sehun?

“Haksaeng, apa yang kau lakukan di sana?”

Dahye tersentak ketika didengarnya suara dari ujung koridor. Ia menoleh, dan menemukan seorang pria tengah berjalan mendekatinya.

“Aku … aku bermaksud mengunjungi penghuni apartemen ini,” ujar Dahye perlahan.

Kening si pria mengerut. Ia berhenti di pintu seberang, lalu menjawab, “Maksudmu Sehun?”

Dahye mengangguk cepat. “Apa kau tahu dia ada di dalam?”

“Apa maksudmu? Sehun sudah pindah dari sini sejak semalam kemarin.” Pria itu menjawab dengan ringan. “Kau tidak tahu?”

“Pindah …?” Dahye mengulang dalam bisikan tak percaya. “Tapi … kemana? Kenapa?”

“Aku tidak tahu, dia tidak cerita apa pun.” Pria itu menggedikan bahunya, lantas berlalu masuk ke dalam apartemennya sendiri.

Di tempatnya Dahye kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Lututnya seketika terasa lemas, hingga ia jatuh terduduk di atas lantai. Sebuah lubang terasa menganga di dalam hatinya, membuatnya bagai tersedot ke dalam kegelapan tanpa ujung.

Jadi ini arti dari mimpinya semalam.

Sehun yang terasa begitu dekat, namun sulit untuk ia jangkau. Sehun yang pada akhirnya menghilang, lenyap, dan pergi, sama seperti ayah, ibu dan eonninya.

Sehun, yang pada akhirnya benar-benar pergi meninggalkannya.

“Ketahuilah, Dahye sayang, menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus benar-benar sulit. Ketika kau berhasil menemukannya, kau harus menjaganya dengan baik. Karena mungkin, hanya mungkin, sekali kau melepasnya kau takkan bisa mendapatkannya lagi,”

Kala itu barulah Dahye mengerti benar maksud perkataan Neneknya.

Sehun yang telah ia lepaskan, takkan pernah mampu digapainya lagi.

END

or,

Not?

Huhu maafkan atas keterlambatan update-nya huhu

p.s. becanda deng, TDH belom end kok hehehehehehehehehe

1472475099307

…mind to leave a review?

93 responses to “The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24

  1. Ihh kaget dikira end beneran;-; aku masih gak rela kalau tdh end oke.

    Kenapa ya aku lebih suka dahye sama sehun tuh kaya gini aja? Maksud aku kalau mereka bersatu itu gak ada gregetnya. Kan kalau saling ngegalauin perasaannya lebih greget gitu, lebih ngena. Tapi aku juga berharap kok mereka jadian.

  2. Sehun pergi tiba2 gara2 ayahnya sakit?trs akhirnya nggak pulang k korea lagi buat ketemu dahye? Miris banget ya ampun

  3. padahal aq belum baca ceritanya, dan baru baca komentarnya tp aq udah nangis duluan😥
    aq gk sanggup kalau akhirnya sad ending😥
    please bikin mereka berdua bersatu…
    bikin mereka bahagia bersama kak…
    setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan memiliki masa lalu yg kelam…. tapi apakah kita selamanya akan hidup dlm bayang” masa lalu?
    hidup terus berjalan kedepan, jangan biarkan masa lalu memmbelenggumu…. sesekali kita boleh menengok kebelakang untuk mmpelajari kesalahan apa yg pernah kita lakukan, lalu kemudian mmperbaikinya…
    aq harap dahye jg bisa memaafkan sehun, mengikhlaskan segala yg telah terjadi antara sehun dan kakaknya…. lalu kemudian mereka berdua bisa hidup bahagia, bersama dlm satu hubungan PERNIKAHAN🙂

  4. Oalah..aku udah kaget setengah koid?? Baca satu kata end di akhir. ..w sampe dongkol sendiri nih,,tapi..alhamdulillah ternyata belom end,kalo beneran end di situ aku gk terima banget,,aku dah nungguin ff ini update dari kemaren,,tapi gk nongol2 juga,eh pas nongol tiba2 muncul si end menyebalkan,,untung gk beneran..😂😂

    Dahye nyesel kan? Sehun stay strong ea,,semua mahluk yg bernyawa itu pasti akanenemulan ajalnya hun,sabar ya hun..#pukpukSehun😢😢

  5. JANGAN END DULUAN PLISSSS JANGAAANN,LANJUT THOR DI LANJUTIN AJA JANGAN END DULUAN😦 Happy ending plis buat sehun dahye

  6. Jangan end dong kak masa dahye nya blm ketemu sehun lagi udh end>< tapi kalo gaketemu sehun sama taehyung aja gapapa:v pokoknya jangan end dulu dong kak ditunggh chap selanjutnyaa

  7. Ihhh kok jadi sedih siii ahh kasihan mereka berdua udh gak punya siapa siapa kenapa ga saling melengkapi aja jangan jauh jauhan gt.. jangan end dong see you next chap!

  8. Kok nyesek si chapter ini😭😭😭 sehun yaampun :”)) jangan pergi dulu, dahye juga ih kenapa dia ngotot gamau nemuin sehun😭 sedih pokoknya:”

  9. anjayyy kirain beneran end :”v ntar klo beneran end bakalan gantung :’v
    sebenernya mau nyalahin sehun tp.gimana.. dia pergi bukan mau dia jg sih tp dianya ga ngmng terus terang juga :”v antara mau nyalahin tp ga tega :”v

  10. Wah… wah… wah…
    Berharapnya sih Dahye dan Sehun berpisah kyak gini dulu. Nunggu Dahye lukus sekolah ato kalo perlu lulus kuliah, trus siapa tau Dahye nanti kerja di perusahaan Sehun yg jadi CEOnya. Nyahahahahh… #plak
    Drama banget lah ini ceritaku.
    Tapi bener, berharapnya sih Jngan di satuin lagi dulu, biat greget biat ngeFly dan biar ngeJegleeeeeerrrr.

  11. Aduh author nim bercandanya bisa aja. Kirain udah end beneran. Hehehe. Semoga dahye sehun bisa balikan lagi, kangen juga ternyata liat gombalannya sehun. Wkwkwk. Keep writing author nim🙂

  12. Blom end kan????gak bisa salahin siapa2 disini…dahye yg bimbang n sehun yg mau tdk mao hrus blik ke rumah…sehun n dahye hrus hepi ending…biarlah masa lalu…kita hnya liat skrg n akan dtg….tpi takdir mana ada yg tau…

  13. Duh Sehunnya pergi, ah jangan end dulu sebelum happy ending hihi
    Ko sedih yaa , mereka pokoknya harus bersatu lagi, maafkan thor maksa 😂 kasian Sehun udahmah ditinggalin Dahye ayahnya meninggal, kasian Dahye nya juga kesiksa banget mereka…
    Ditunggu next chapternya yaa

  14. kyaaa aku kira beneran end ini 😨
    ohoo Sehun yakin nggak bakl balik lagi Hun?
    hueee aku kasian sama Dahye nya 😭
    udahan deh ‘nyiksa’ Sehunnya, blm minta maaf tapi udah pergi duluan 😢

  15. astga ini nyeess bgt
    jgn end dlu pkoknya hehehe
    dahye mulai sdar skrng, hmmm mna hun psti lgi trpuruk bgt
    ayoo dahye cri hun krmh ortuny!!
    kta2 ni ngena bgt, bkin jdi brpikir 2 kali klo ngambil kputusan
    “Satu kesalahan besar mungkin terasa mengacaukan segalanya. Tapi mungkinkah kau akan melepaskan seseorang yang bisa memberimu kebahagiaan?”

  16. Aduh aku kaget kirain benaran end -_- tapi gk masalah juga sih thor kalau udah mau end krn gk semua kisah cinta itu berakhir dengan bahagia🙂
    Tapi kalau dipikir” lagi jangan end dulu ya hahaha #ditapokauthor
    Keep writing thor ditunggu next chapnya😉

  17. ini blm end kan masih ada lanjutan nya
    hmmm tuh kan dahye nyesel
    sedih liat mereka harus pisah gitu
    moga aja sehun sm dahye balikan lg mereka kan slng cinta

  18. Tuh kan Dahye nyesel. Oh kau sungguh mengesankan Kimtae, kak pliss berikan Taehyung jodoh kalau bisa yaaaaa. Ada typo dikit kak pas Dahye ke apartemen Sehun, tapi tetap gak ngurangi khidmatnya ceritaaa. Semangattty

  19. Woahhh mimpi nya menyeramkan
    Ibu dan anak, mereka benar benar sudah ditinggalkan, miris hidup mereka. Tapi lebih miris hidup dahye sih..
    Kalo dahye gak bisa menggapai sehun, yaudah bikin dahye sama taehyun bersatu wkwk

  20. Oh saesange, aku gelagapan sendiri weh! Aish, 다햬-아! 넌 뭐아는 거야? 미첫어? 진짜!
    Gila bener dah. Aku udah kehabisan kata², Dahye sih ga nemuin Sehun. Molla molla

  21. sehun pliss kamu dimana? dengan siapa? semalam berbuat apa? /apaini-_-
    oke jangan pergi sehunn ..
    kan dahye dibilang maafin aja sekarang sehunbya pergi jadi nyeselnya kan huhu sedih ddeh

  22. Yah kan disaat sadar tetnyata Sehun udah pergi jauh.. tapi harusnya Dahye tau Sehun perginya kemana..
    Endingnya gak seru kalo gini.. hehehe.. gak mau endingnya sedih-sedihan.. maunya liat Sehun sama Daehye bisa bahagia bersama dulu baru boleh ending.. hhehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s