Beautiful Monstar – Part 7 [Babalee]

babalee___beautiful-monstar-copy

 

Poster by #ChocoYeppeo

Beautiful Montar

Byun Baekhyun, Kim So Hee

Marriage Life, Family, Friendship, Drama

Babalee22.wordpress.com

 

 

1

 

Aku mengakui-untuk yang sekian kalinya tapi tidak sampai satu juga- kalau Baekhyun dan Ji Hyun memang cocok. Serasi. Enak dipandang. Setiap wanita penggosip menjadikan mereka bahan perbincangan saat istirahat. Dan hey, apa mereka lupa kalau istri dari tuan Byun yang tampan itu bekerja di sini juga sebagai direktur utama?

Rambut Jung Ji Hyun panjang sedada berwarna coklat. Matanya menggunakan softlens-katanya pengganti kaca mata- tapi karena itu dia terlihat semakin cantik. Belum penapilannya yang begitu fashionable. Tubuhnya langsing tinggi dan kulitnya bersih seperti salju. Aku seperti melihat sosok seorang idol pada dirinya. Dia lebih cocok jadi public figure dari pada bekerja sebagai sekertaris.

Pertemuanku dengan Sehun telah selesai satu jam yang lalu. Dan ini sungguh membosankan. Ketika semua orang sibuk dengan istirahat makan siangnya, aku malah terjebak di sini. Dalam ruanganku ditemani beberapa dokumen-lagi- sisanya masih berupa softfile. Katanya aku harus mengecek beberapa hal. Yah apapun itu persetan lah.

Baekhyun juga tidak mengacau datang ke ruanganku seperti biasanya. Aku rindu, tapi tidak ingin bertemu dengannya. Ini sejenis merindu yang aneh. Hubungan kami masih renggang. Sebenarnya aku yang membuat semua ini terjadi. Setelah sarapan buru-buru tadi pria itu sama sekali tidak terlihat lagi. Entahlah, barangkali dia sibuk dengan proyek dengan Lordenim Kosmetik atau dengan Ji Hyun. Sial, wanita itu lagi.

Aku bergerak gelisah. Bagaimana jika Baekhyun benar-benar membuat rencana akan kembali pada pelukan Ji Hyun. Bagaimana jika ternyata mereka benar masih saling mencintai. Bagaimana jika selama ini ucapan manis Baekhyun adalah omong kosong dan pada akhirnya semua orang meninggalkanku?

Tidak Baekhyun. Apapun yang terjadi. Tuhan!

Tidak tahu dapat keberanian dari mana, aku melangkahkan kaki keluar. Waktu makan siang sudah berjalan setidaknya setengah jam yang lalu, setidaknya masih ada setengah jam lagi untuk setiap orang kembali bekerja. Diam-diam aku melangkah menuju ruangan Baekhyun. Di sana sepi. Bahkan Ji Hyun tidak ada di meja sekertaris. Apa mereka pergi makan berdua?

Buru-buru aku melangkah pergi menuju kantin. Biasanya aku dan Baekhyun akan menghabiskan waktu istirahat di sana. Dia itu tidak suka makan siang di restoran atau kedai dekat kantor. Katanya dia suka lupa waktu. Tapi jika pergi dengan Ji Hyun, wanita itu pasti akan mengingatkan. Tubuhku makin lemas saja membayangkannya. Mereka berdua, larut dalam pembicaraannya yang menyenangkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika tumbuh benih-benih cinta seperti dahulu?

Pada akhirnya aku hanya kembali melangkah menuju ruanganku. Jikapun ingin mengganggu mereka, serakang bukan waktu yang tepat. Aku dan Baekhyun sedang dalam suasana tidak mengenakkan. Bagaimana jika nanti mereka mengusirku. Memalukan.

Lee Minjung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu, kebiasan. Wajahnya berseri mencurigakan seperti biasa. Tapi aku sama sekali tidak penasaran apa yang disembunyikan di balik senyumnya itu.

“Wah rajin sekali direktur kita ini?” katanya menarik kursi di depan mejaku. Tidak tahu itu adalah sapaan selamat siangnya atau sindiran karena aku masih duduk manis di depan tumpukan berkas dengan wajah masam.

“Kau tidak istirahat?” tanyaku.

Sekertaris Min Jung menaikkan kedua bahunya tak acuh, “Saat kau istirahat tadi, aku juga ikut. Ah jangan lupa pertemuan makan malammu dengan Luhan nanti malam bersama Jinri.” Ingatnya.

Aku mengangguk malas. “Ya ya aku ingat. Senang sekali sepertinya? Kau suka Luhan ya?!”

“Aku bahkan liat mukanya saja belum!”

“Apa tadi saat kau kemari melihat Baekhyun atau Ji Hyun?” tanyaku seketika. Yah barangkali dia melihat mereka berdua atau salah salah satu dari mereka. Aku tidak tahu kenapa tapi rasanya penasaran sekali.

“Ya aku melihat mereka masuk lift. Sepertinya akan makan siang di luar.”

Barangkali memang Sekertaris Minjung ini terlalu jujur atau bagaimana. Sial! Kenapa tiba-tiba kepalaku terasa panas. Dia lupa apa jika aku ini istri dari pria yang baru saja dia bicarakan? Hebat sekali Minjung berkata seperti itu dengan lancar. Atau barangkali yang hebat adalah Baekhyun yang diam-diam berkencan dengan Ji Hyun di belakangku.

Tidak tahu dari mana datangnya keberanian ini, segera aku bangkit berlari menuju lift. Barangkali jejak Baekhyun masih ada. Yah, istri mana yang tidak penasaran dengan suami yang akan makan siang di luar berdua dengan wanita lain. Aku bersumpah akan menindak lanjuti Ji Hyun setelah ini. Seperti, gadis itu tidak boleh menggunakan rok lagi saat bekerja, atau jangan terlalu dekat dengan Baekhyun, gunakan jarak radius lima meter.

Di luar sana, tepat di pinggir jalan, Ji Hyun sedang berdiri sendiri. Perlahan aku menghentikan langkahku. Diam-diam menghela nafas pelan. Sebenarnya lebih kepada bersyukur karena dugaan yang tadi terus mengganggu seperti lalat. Hanya saja, saat tepat aku akan berbalik badan, mobil hitam Baekhyun berhenti tepat di depan Ji Hyun. Gadis itu masuk dan duduk di kursi penumpang sebelah kursi kemudi. Itu tempatku.

“Sial!” umpatku keluar begitu saja. Buru-buru aku berlari. Mencoba mencari tahu arah mana yang mereka akan ambil. Atau bahkan lebih baik jika aku mendapat taxi dan bisa mengganggu acara makan siang mereka. Tapi semuanya tidak semulus apa yang dipikirkan. Mobil hitam Baekhyun sudah hilang ditelan jalanan. Dan aku hanya bisa menatap nanar. Menduga-duga kemana mereka akan pergi. Apa yang akan mereka lakukan.

 

2

 

 

So Hee : Dae Ya, adikmu manis sekali, kenapa dia jauh sekali dengan kakaknya?

Jong Dae : Kau bertemu dengan Jinri?

So Hee : Ya

Jong Dae : Dia jadi semakin dewasa sekarang, pergaulan di Barat ternyata mengerikan.

So Hee : Excus me! Apa maksudmu. Kau lihat aku masih baik-baik saja.

Jong Dae : Itu karena kau dekat denganku, makanya tetap baik-baik saja.

So Hee : Maaf, kau siapa ya?

Jong Dae : Katanya kalian akan makan bersama? Aku ingin ikut, tapi sekarang aku di Incheon.

So Hee : Baiklah, nanti akan ku kirimkan fotoku bersama dengan Jinri dan Luhan!

Jong Dae : Aku adukan pada Baekhyun kau selingkuh dengan mantan pacar sendiri!

So Hee : Aku tidak peduli.

 

Aku menghela nafas pelan. Memasukkan ponsel ke dalam tas tangan yang di simpan di pangkuanku. Suasana dalam mobil benar-benar sangat awkward. Bahkan lagu IDM yang di putar sang supir tidak bisa untuk menggoyangkan bahkan sedekar jari telunjuk seseorang di sampingku.

Rambut Jinri kini di potong pendek agak bergelombang. Poninya di kepinggirkan panjang sampai di bawah mata. Pakainnya terlihat sederhana namun tetap terlihat elegan. Sweater merah jambu dengan rok hitam di atas lutut. Dari dulu Jinri memang terlihat sangat menawan. Setiap orang mencoba untuk mendapatkannya. Tidak seperti diriku, yang memang dekat dengan banyak laki-laki, tapi mereka semua menganggapku sejenis dengan mereka.

Satu-satunya obrolan antara aku dan Jinri adalah saat tadi kami menunggu mobil jemputan untuk berangkat ke lokasi dimana kami akan makan malam dengan Luhan. Hanya basa-basi ringan karena aku sama sekali tidak punya ide tentang topik apa yang lebih baik untuk diangkat, dan aku rasa dia juga merasakan sebaliknya.

Dalam mobilpun tidak ada yang memulai pembicaraan. Jinri jelas sibuk mengamati ke luar jendela. Barangkali dalam pikirannya mulai kagum dengan betapa banyak perubahan yang terjadi di Korea. Atau mungkin dia sedang sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan saat nanti bertemu dengan Luhan. Diam-diam aku tersenyum. Ini urusan mudah, lagipula aku dan Luhan pasti bisa memecah suasana. Kami bukan tipe orang yang akan saling canggung setelah apa yang pernah terjadi.

Kami keluar dan segera menuju ruangan nomor sebelas yang sudah dipesan oleh pihak Lordenim. Di dalam ternyata sudah ada Luhan duduk dengan santai di depan meja berisi beberapa makanan.

Luhan tersenyum lebar menatapku. Tapi saat retinanya bergeser, alisnya terangkah, matanya membelalak. Detik selanjutnya, dia beranjak mempersilahkan kami masuk.

“Kim So Hee, wah betapa beruntungnya aku di datangi oleh dua wanita cantik ini?” kata Luhan setelah kami duduk. Dia ikut duduk dan tersenyum sangat lebar pada kami. Yeah, pria itu tetap saja seperti dulu. Mulutnya penuh dengan bualan receh yang sialnya setiap wanita yang mendengarnya pasti akan terbuai. “Dan aku tidak menyangka akan bertemu denganmu, lagi. Apa kabar?” Luhan mengulurkan lengannya pada Jinri dan melewatiku.

Okey, wait, what?

                “Senang bertemu denganmu lagi, oppa. Aku baru terjun dalam perusahaan. Mohon bantuannya.” Jinri sempat mengangguk kecil. Setika aku merasa sifat menyebalkannya dulu sepertinya sudah hilang. Sekarang dia jadi lebih seperti gadis lugu yang menyenangkan. Yah, ini lebih baik.

“Wah kalian bekerja sama?” tanya Luhan, dan jujur aku masih tidak mengerti.

Lagi?

Oppa?

“Tunggu,” aku menyela, “Jangan buat aku seperti orang bodoh, kalian..” aku menunjuk mereka berdua secara bergantian. Kening mereka mengkerut menatapku, “Sudah saling mengenal? Benarkah? Sejak kapan?”

Luhan dan Jinri tertawa bersama. Tidak ada yang lucu sebenarnya.

Unni juga sudah mengenal Luhan oppa?” tanya Jinri masih tersenyum lebar padaku.

Aku mengangguk, “Yah, dia mantan kekasihku saat kuliah dulu.” Dan seketika aku yakin melihat ekspresi Jinri begitu terkejut. Alisnya sempat terangkat lalu dia kembali mengontrol ekspresi wajahnya.

Luhan tersenyum. “Yah, sudah berapa tahun lalu itu?” dia tertawa kecil. “Dulu kami benar-benar pasangan fenomel. Yah siapa yang tidak tahu Xi Luhan. Wah pria ini benar-benar tampan di kampus.”

Aku berdecih, “Dan siapa yang tidak kenal dengan Kim So Hee?”

“Yah semua orang tahu gadis bernama Kim So Hee. Pemberani, tidak tahu malu, tidak punya sopan santun, cerdik, dan cantik. Wah bagaimana bisa kau jadi manusia seperti itu So Hee?”

Aku mendelik. Tiba-tiba kembali ke masa lalu saat masih di Universitas dulu. Sampai seorang pelayan pria datang menuliskan menu makanan yang kami pesan. Tidak lama kembali dia pergi. Dan Luhan melanjutkan ceritanya.

“Aku paling ingat saat kau,”  Dia menunjukku. “Mencurigaiku selingkuh. Saat itu mata kuliah Jang Songsaenim. Sial, kau datang tidak tepat sekali.”

Aku ingat dan rasanya ingin bunuh diri saja setiap memori itu kembali lagi. kali ini Luhan menatap Jinri, tatapan matanya terlihat begitu menggebu-gebu. Sepertinya senang melihatku begitu memalukan.

“Jinri, kau tahu apa yang So Hee lakukan?” tanyanya begitu antusias. Jinri menggeleng pelan masih dengan senyum terpatri di bibirnya. “Dia menendang pintu ruang kuliah lalu menamparku keras-keras. Yah sejak saat itu gelar playboyku semakin naik jadi kelas VIP.”

“Kau juga!” aku berkata dengan suara cukup melengking, “Kau hampir meniduri mahasiswi tingkat tujuh di ruang unit kegiatan mahasiswa.”

Luhan tersenyum kecil, “Dan itu awal mula kami jadi sepasang kekasih.”

“Kau menjadikanku bahan taruhan dulu. Kau pikir aku terlalu bodoh untuk tidak tahu itu?”

“Tapi akhirnya kau juga jatuh pada pesona Luhan. Kita bahan berpacaran sampai lulus kuliah, berapa tahun itu? tiga tahun?”

“Kau pikir hanya aku?” Aku menatapnya sambil membelalakkan mata, “Kau bahkan rela menjadi bodyguardku saat seorang kakak tingkat mencoba mengambil perhatianku. Posesif sekali!”aku memeluk tubuhku sendiri. Seolah merinding dengan bayangan masa lalu.

Luhan memang punya wajah yang tampan sekaligus cantik disaat bersamaan. Tubuhnya tinggi dan sering berekspresi sok keren dengan senyum tengil. Hobinya jelas bermain-main tapi sial dunia sungguh tak adil, otaknya benar-benar cerdas. Luhan adalah sosok sempurna yang menjadi idaman kampus. Kejadian dimana banyak wanita mengejar satu pria seperti di drama-drama benar terjadi. Sebenarnya tidak hanya Luhan, kata Kyungsoo Baekhyun juga jadi pria idaman di kampusnya dulu. Dan aku percaya saat dia berhasil mengencani Jung Ji Hyun yang super cantik itu. Ah, wanita itu lagi.

“Hey kita melupakan Jinri di sini!” dia mulai mengalihkan perhatian. Kepalanya mulai berbelok menatap Jinri, senyumnya kembali lebar. Jelas seperti seorang pria kesepian yang menemukan mangsanya. “Kau sudah lulus sekarang? biar aku yang cerita.” Apa aku sudah bilang kalau selain tampan dan player Luhan juga banyak bicara?

“Aku dan Jinri bertemu di California saat melakukan kegiatan amal.” Aku terdiam sambil menunjuk wajah Luhan.

“Kau? Kegiatan amal? Mustahil!”

“Hey aku ini seorang player yang berhati malaikat.” Katanya membuat Jinri terkekeh.

“Luhan oppa benar-benar menyukai anak-anak dan orang tua. Aku juga terkejut melihat dia begitu perhatian. Lucu mendengar bahwa Luhan oppa adalah player, tapi saat melakukan kegiatan amal dulu dia benar-benar fokus. Aku tidak pernah melihatnya hanya sekedar basa-basi panjang dengan wanita.”

Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi. Apa yang baru saja dikatakan Jinri membuatku kembali jatuh pada pesona Luhan. Jika semua orang menganggap Luhan adalah anak orang kaya yang senang menghabiskan uang adalah salah besar! Dia selalu menabung untuk cita-citanya. Dia bilang, dia ingin menjadi pria keren yang membantu anak-anak, wanita dan orang tua. Dimanapun tanpa memandang ras, agama atau usia.

Mereka berbincang mengenai hal-hal yang tidak begitu ingin aku tahu. Teman lama yang sudah tidak bertemu jelas banyak sekali cerita. Aku mengamati pelayan yang datang membawa pesanan. Makanan tersedia di depan dan aku siap untuk makan. Sebenarnya ini sangat tidak sesuai dengan pertemuan yang sebelum-sebelumnya pernah aku datangi. Tapi karena berhubung ini Luhan dan dia sendiri yang menciptakan suasana yang lebih bersahabat aku jadi nyaman dengan diriku sebenarnya.

“Oh iya So Hee, aku turut berdua atas kematian ayah dan kakakmu. Maaf aku sangat terlambat sekali menerima info.” Luhan berbicara tiba-tiba. Seketika nafsu makanku hilang semua. Wajah ayah seketika melintas dalam benakku. Dia tersenyum dan sungguh aku merindu pelukannya.

Suasana seketika terasa begitu canggung. Luhan tidak salah. Dulu dia dekat dengan ayah, bahkan mereka pernah bermain golf bersama. Rasanya wajar jika dia juga merasakan kehilangan.

“Dan kau sungguh keterlaluan.” Katanya lagi. Kali ini aku menatap wajahnya dengan kening berkerut, “Menikah dan tidak mengundangku? Kau pikir aku akan sakit hati melihat mantan pacarku berjalan bersama suaminya. Tidak! Wah So Hee ini keterlaluan sekali!” ekspresinya jelas berubah jadi kesal. Tapi aku tahu dia tidak benar-benar ingin memukul wajahku.

Aku tertawa keras sampai memukul bahunya cukup keras, “Aku takut kau akan mengacaukan pesta pernikahanku!”

“Aku bukan orang seperti itu! Ngomong-ngomong bagaimana? Apa sekarang aku sudah hamil? Perlu aku ajari Baekhyun untuk menghamilimu?”

“YA!”

 

3

 

Aku turun dari mobil Luhan tepat di depan apartemen Baekhyun. Lingkaran besar menyinari sudah tepat di atas kepala. Ternyata makan malam ini menghabiskan waktu berjam-jam. Sebenarnya ini tidak termasuk ke dalam pertemuan untuk mengukuhkan kerja sama. Luhan si tengil hanya menggunakan kekuasaannya untuk bertemu denganku-katanya-. Kalau di pikir-pikir memang seharusnya yang duduk makan bersama Luhan tadi seharusnya Baekhyun sebagai penanggung jawab.

Lagipula tidak rugi bertemu Luhan. Dia masih semenyenangkan dulu. Aku masuk ke dalam apartemen, membuka kunci dan melihat cahaya lampu masih menyala. Di sofa duduk Baekhyun sambil melipat ke dua tangan di depan dada. Wajahnya benar-benar menyeramkan. Tidak ada lengkungan manis di bibirya, matanya menatapku tajam, dan aura sekitarpun tiba-tiba membeku.

“Belum tidur?” tanyaku basa-basi berjalan mendekatinya.

“Bagaimana bisa aku tidur ketika istriku masih di luar sampai larut bersama pria!”

“Ada Jinri juga kok! Aku tidak makan berdua dengannya.”

Baekhyun mulai berdiri. “Senang sekali ya makan malam dengan mantan kekasih? Kau bahkan tidak mengabariku, mengangkat telfonku juga tidak. Ada apa denganmu?” tanyannya menuntut.

Aku diam sambil menggertak gigi, tiba-tiba sekelebat bayangan saat aku berlari dan menemukan Ji Hyun masuk ke dalam mobil Baekhyun siang tadi membuat nafasku memburu, “Kau sendiri, pergi dengan Ji Hyun yang notabennya mantan kekasihmu! Kau juga tidak mengabariku dan kalian makan siang bersama?” tanyaku tidak percaya. Aku menyisir rambut dengan jemari sebelum kembali berbicara, “ Dan sekarang kau menyalahkanku. Aku pergi tidak hanya berdua. Dan kau, wah apa ini bentuk dari perselingkuhan?”

“Dia memang mantan-“

“Ya dan kalian akan menikah, karena aku, rencana kalian gagal. Apa ini bentuk dari balas dendam?” nada suaraku ikut naik. Menatap Baekhyun tajam. Napasku memburu. “Kita sudah berteman belasan tahun tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Kenapa kau mau melepaskan Ji Hyun dan menerima pancinganku? Kenapa kau tidak tinggalkan saja aku? Kau takut aku hamil anakmu?” aku tertawa mengejek “Atau kau memang merencanakan sesuatu untuk mempermainkanku?”

“Kau masih membahas ini?!”

“YA! KENAPA?”

“Aku sudah melupakan-“

“Dan aku sama sekali tidak akan pernah melupakannya! Kenapa kau terus membuatku berfikiran buruk tentangmu dan membuat aku terus menyalahkan diriku. Aku mengalami setres karena, oh Tuhan aku sudah jadi sejahat iblis, menjebak teman sendiri dan menghilangkan kebahagiaannya.” Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Merasa ingin menangis sekarang juga, “Seharusnya memang dari awal aku membiarkan kau menikah dengan Ji Hyun. Tidak apa-apa bersenang-senanglah aku tidak akan menggangggu. Bahkan jika kalian merencanakan untuk menikah dan menceraikanku, aku tidak apa-apa.” –Bohong.

Lelah, ya bertengkar dengan Baekhyun selalu membuatku lelah seketika. Dari sewaktu sekolah juga selalu seperti ini. Pertengkaran kami selalu jadi yang paling mengerikan. Dan sekarang juga. Beruntung kali ini Baekhyun lebih bisa mengendalikan emosinya tidak sampai merusak barang-barang.

Aku beranjak ingin tidur saja. Barangkali ini untuk saat ini aku akan pergi ke kamar tamu. Kami tidak mungkin menggunakan satu ranjang yang sama saat bertengkar sekarang, kan?

Tapi saat aku sudah berbalik dan melangkah, Baekhyun menarik lenganku membuatku terhuyung hampir saja jatuh ke pelukannya jika aku tidak buru-buru menahan keseimbangan. Wajah kami hanya terpaut dua jengkal saja. Tatapan matanya tajam.

“Sebenarnya apa maumu?” tanyanya dan nada suaranya seketika begitu pelan. Suhu udara tiba-tiba mendingin atau karena ekspresinya saat ini? “Aku suamimu, So Hee.”

“Ya! Lalu apa? Kenapa? Kau mau berbuat menggunakan kawajiban suamimu? Kau ingin aku mengikuti segala kemauanmu dan menjadikanku boneka?!”

“CUKUP!” Baekhyun membentak dan seketika aku diam. Matanya tertutup rapat, satu tangannya masih mencengkram lenganku kuat. Nafasnya memburu. Dia sedikit menggeram dan otot-otot sekeliling lehernya terlihat seketika. Aku mulai sadar, Baekhyun sedang menahan amarahnya. Tuhan, aku ingin menangis sekarang. Baekhyun terlihat benar-benar menyeramkan jika sudah seperti ini.

“Dengar dan jangan menyela.” Ancamnya, Baekhyun mulai membuka matanya dan menatapku sengit, “Aku marah seperti ini karena aku cemburu kau pergi dan pulang larut dengan pria lain. Terlebih tidak ada kabar apapun yang kuterima darimu. Ji Hyun ulang tahun hari ini dan aku hanya ingin mentlaktirnya makan siang. Itu saja.”

Baekhyun melepaskan lenganku. Senyum kecil mulai terlukis di bibir kecilnya. Namun hanya sebentar. Setelah itu dia menunduk dan mendengus. Seperti tengah menertawakan dirinya sendiri.

“Aku jelas ingin marah padamu. Tapi aku tidak ingin kita bertengkar. Kau lelah, istirahat saja. Jangan gunakan kamar tamu. Tetap tidur denganku. Kita tunda pertengkaran kita.”

Aku memalingkan wajah. Ingin memakinya tapi dia benar, aku lelah dan jika terus seperti ini rasanya tidak akan berakhir bahkan sampai matahari terbit lagi besok. Langkahku gontai masuk ke dalam kamar. Baekhyun tetap diam. Sama sekali tidak ingin menatapku. Dan jujur itu menyakitkan. Sampai pada akhirnya, aku mendengar dia berkata lagi.

“Lain kali, jangan membuatku khawatir. Aku takut terjadi sesuatu denganmu. Tidak bisakan mengabariku, apa itu sulit? Aku ingin tahu kemana kau pergi tadi siang.” Terdengar dia membuang napas.

Aku tidak menjawab. Ya Baek sulit, karena ketika aku tidak ingin berbohong padamu. Aku hanya tidak bisa mengatakan padanya untuk sekarang kalau aku sedang menyelidiki kecelakaan dan kematian ayah secara diam-diam. Tidak ada yang percaya bahwa ini adalah pembunuhan. Dan semua orang pasti akan mengatakan bahwa anak gadis tuan Kim ini gila. Kehilangan akal setelah kecelakaan dan terlalu banyak khayalan tidak masuk akal. Dan aku tidak ingin mendengar itu darinya.

“Chanyeol menghubungiku tadi. Dia bilang ingin bertemu dengan mu besok di café Jimin noona. Kali ini benar-benar café.” Diam diam aku tersenyum.

 

4

 

Sekarang hari kamis dan aku tidak tahu tema spesial hari ini apa tepatnya. Tapi mendengar dari lagu-lagu yang diputar lebih sendu dengan lirik menyayat-nyayat, sepertinya kali ini lebih pada ‘patah hati dan penyesalan’. Cukup cocok dengan seseorang di hadapannya yang terus tersenyum kaku.

Kyungsoo menyeruput coklat panasnya sambil menatap sekeliling. Setelah pertengkaran hebat semalam, aku dan Baekhyun tidak bertegur sapa bahkan sampai di depan teman-teman kami sendiri. Aku rasa mereka paham betul suasana apa yang sedang terjadi sekarang. Aku sendiri merasa tidak nyaman. Ingin pergi saja setidaknya kembali menjaga jarak dengan Baekhyun. Tapi pria it uterus saja mencoba mendekatiku setiap kali ada kesempatan. Aku benci.

“Jadi Tuan dan Nyonya Byun sedang bertengkar?” tanya Kyungsoo memecah suasana. Aku menatapnya tajam. Memberi tanda untuk tidak usah mempertanyakan hal ini. Bahkan sampai saat ini aku tidak melihat senyum Baekhyun. Itu menyakitkan.

“Tuan Park,” Baekhyun berkata dengan nada sangat datar dan sangat dingin. “Kau bilang ingin meminta maaf. Jadi kenapa tidak kau lakukan sekarang?

Chanyeol mendelik, “Kau sepertinya benci sekali denganku. Di sini aku mencium So Hee bukan menciummu.”

“Dan karena itu, dia istriku dan kau menciumnya begitu saja.”

Kyungsoo dan Chanyeol saling bertatapan sambil membelalakkan mata mereka, lalu menatap kami berdua sambil tertawa begitu keras sampai beberapa orang mulai menatap meja kami dengan kening berkerut. Atau barangkali mencari hal yang apa lucu. Tapi sungguh tidak ada sama sekali.

Kyunsoo mengetuk pelan meja seperti mengetuk pintu. Tatapannya jenaka pada Baekhyun, “Permisi sejak kapan tuan Baekhyun begitu posesif?”

“Lagi pula ada apa denganmu, kau bahkan kalah saing denganku. Aku yang mendapat ciuman pertama So Hee.” Celetuk Chanyeol. Aku memberenggut. Kyungsoo dan Baekhyun seketika menatap Chanyeol tidak percaya.

“Aku pikir yang pertama mencium So Hee itu aku.” Kali ini semua mata menatap kyungsoo.

“Wah ada apa ini? Aku dikhianati oleh istri dan teman-temanku sendiri?” Baekhyun menatapku tidak percaya.

Dan sungguh lebih tidak percaya aku yang sekarang terdengar mencoba masing-masing dari mereka. Ciuman pertama? Ya Tuhan itu sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu dan mereka masih senang membahasnya sekarang?

Tidak ada yang namanya pertemanan antara pria dan wanita.

Aku bisa membuktikan hal itu benar tapi juga aku mengatakan kalau itu salah.

Hubungan antara serang wanita dan pria pasti akan berakhir dengan rasa kasih sayang. Bedanya tergantung padamu akan jatuh pada kasih sayang sebagai wanita dan pria atau kasih sayang seorang saudara. Perasaan memang tidak dapat dikontrol, tapi setiap orang bisa memilih kemana mereka akan jatuh.

“kalian ini.” Desisku. Menarik hot cappuccino sambil melirik masing-masing dari mereka tajam. Dan benar-benar temanku ini sangat tak acuh padaku. Mereka masih memperdebatkan masalah ciuman pertama mereka denganku.

“Aku mencium So Hee di lapangan basket saat hujan.” Kata Chanyeol dan yah aku sangat ingat. Itu romantis sekali.

Saat pulang sekolah, ketika semua orang memilih pulang, Chanyeol yang sedang kesal dengan keluarganya memilih menghabiskan waktunya berada di lapangan basket outdoor. Padahal hujan besar sedang melanda. Tadinya kupikir dia benar-benar gila. Tapi saat melihat Park Chanyeol yang biasanya tertawa, tiba-tiba berteriak parau membelah bisingnya hujan. Aku menghampiri dengan sebuah payung besar, dia menangis, aku memeluknya, setelah itu dia menciumku. Dan di sana awal mula aku menyukai Chanyeol.

“Ku pikir kita berciuman di atap saat aku pulang dari olimpiade?” Kyungsoo bertanya padaku dan aku hanya memalingkan wajah. Olimpiade? Ah benar!

Sekolah kami menang mengikuti olimpiade matematika tingkat Nasional. Dan dengan bangganya aku mengatakan pada dunia bahwa orang yang memenangkan lomba itu adalah teman terbaikku. Aku, Chanyeol, dan Baekhyun sengaja menunggu kepulangan Kyungsoo di kamarnya dengan berbagai macam kejutan. Mulai dari kue, balon, dan tentu saja terompet. Ini seperti tahun baru. Tapi saat mengetahui fakta bahwa orang-orang yang mengikuti olimpiade sudah pulang sejak dua jam yang lalu kami segera pergi mencari Kyungso. Aku menemukannya di atap sekolah. sendiri menatap senja kota Seoul. Matanya tertutup membiarkan hembusan angina bermain-main dengan helaian rambutnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai dia berkata, menang atau kalah tidak ada yang peduli. Bahkan orang tuanya sekalipun. Aku marah padanya, tentu saja. Apa katanya, tidak ada? Kami bahkan menunggu berjam-jam untuk menunggu kepulangannya, sampai akhirnya dia berjalan cepat ke arahku dan menciumku. Di bawah siluet oranye aku melihat ketampanan luar biasa dari Do Kyungsoo. Tapi tidak sampai membuat hatiku luluh untuk mencintainya.

“Bagaimana denganmu, Byun?” Chanyeol bertanya dengan satu alis terangkat. Matanya jelas mencoba memancing amar Baekhyun. Aku tidak tahu apa yang akan pria di sampingku lakukan. Barangkali langsung menciumku saat ini juga?

“Kami sudah berciuman dimana saja. Perlu aku sebut semua tempat?”

Tawa Kyungsoo dan Chanyeol meledak seketika. Aku mendelik.

“Ya! Apa yang lucu!”

Aku diam-diam terkekeh, Baekhyun sudah tidak begitu mengerikan lagi. Bahkan ekspresi kekanak-kanakannya sudah kembali.

“Tentu saja ekspresi cemburu Baekhyun!” Chanyeol berkata di sela-sela tawanya. Baekhyun dan aku tetap diam menatap mereka. “Lagi pula, Baek. Kau tidak perlu secemburu itu. kalaupun memang yang mendapat ciuman pertama aku atau barangkali Kyungsoo, kau tetap mendapat seluruh tubuh So Hee pertama kali.”

“YA!!”

“Si mulut kotor Chanyeol ini wah, kau ingin aku adukan pada Dae Ha kalau kau menciumku?” aku mengancam. Seketika pria jangkung itu berhenti tertawa.

“Bagaimana kalau kita berdamai? Baiklah Byun So Hee. Aku meminta maaf sudah menciummu diwaktu kemarin ataupun sebelum-sebelumnya.”

Baekhyun memekik, “Sebelum-sebelumnya?!”

Chanyeol dan Kyungsoo kembali saling menatap lalu tertawa keras lagi. Aku menepuk keras wajahku. Kenapa susah sekali mengendalikan orang-orang idiot ini?

 

5

 

Aku dan Baekhyun kembali ke kantor bersamaan. Aku pikir setelah dia bertingkah seperti bocah, sikapnya akan kembali sama padaku, tapi pada kenyataannya selama perjalan kemari dia tetap diam. Rasanya lebih baik mendengar dia banyak berbicara dari pada melihat bibirnya terus terkatup. Menyebalkannya, ketika baru sampai pintu lift, Ji Hyun sudah datang dengan segala berkas dan menarik Baekhyun menjauh dariku. Tidak lucu! Bahkan pria itu tidak mengucapkan selamat tinggal padaku. Ah aku lupa, dia marah.

Lee Minjung datang dengan senyum anehnya, lagi. Berdiri di sampingku dan menanyakan tentang makan malam kemarin dengan calon penerus Lordenim. Aku hanya mengatakan seadanya menyenangkan dan yah rasanya sedikit aneh bertemu mantan pacar setelah sekian lama.

Pintu lift terbuka. Beberapa orang keluar sambil mengulas senyum dan menunduk pelan padaku. Aku masuk, hanya berdua bersama sekertaris Minjung. Ketika pintu hampir tertutup, sebuah tangan menyela membuatnya kembali terbuka. Itu Jinri. Kali ini dia berpakaian lebih formal sebagaimana pegawai kantor pada umumnya. Dia tersenyum kecil. Aku mundur satu langkah, dan terkejutnya aku saat Jinri ternyata memilih berdiri sendiri di sampingku.

“Kita berada di jalan yang sama.” Kata Jinri tiba-tiba. Suaranya benar-benar dan terdengar seperti bisikan. Aku menatapnya seketika. Dia menatap pintu lift yang tertutup dengan senyum kecil di bibir. “Tapi aku tidak bisa mengukuti langkahmu. Dan tidak akan memberitahukan jika ada lubang di hadapanmu.”

Jujur sebenarnya aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Tapi yang jelas aku tahu, dia masih sangat tidak menyukaiku seperti dulu. Aku memalingkan wajah darinya.

“Kemarin pertemuan yang menyenangkan. Dan aku tidak berharap apapun tentang keikutsertaanmu.”

“Dan aku tidak punya sedikit belas kasihan padamu.” Dia tersenyum kecil. Aku bisa merasakannya dari nada suaranya. Kapala tanganku menguat, tapi tidak. kalau sekarang terbawa emosi dia pasti akan senang. Karena memang ini tujuannya.

“Tidak usah sombong, Kim Jinri.”

Pintu lift terbuka. “Senang bisa satu kantor denganmu.” Katanya sebelum benar-benar keluar. Dan jujur saja aku ingin menendang pantatnya ke luar dari gedung.

 

 

20 responses to “Beautiful Monstar – Part 7 [Babalee]

  1. Wkwk sumpah ini part terakhirnya bikin aku ngakak😂 bener-bener kelakuan mereka kek bocah banget astaga!
    Ehya itu sohee sama baek berantem lagi? Ya ampun kenapa berantem terus sih😔

  2. wuiih bayangin karakternya baekhyun keren banget deh kayanya haha.. tapi sedih banget kalo mereka berantem terus,
    sehun kapan munculnya sih penasaran banget kejadian masalalu

  3. Mupeng banget ini Jinri vs Baekhyun, Kyungsoo & Chanyeol. Kenapa aneh bgt sih mereka yaampun kalo udah kumpul asli moodmakers semua. Dari yg dagdigdug gini jadi ngakak. Jinri antagonis gini aku kirain baek. Sohee yang kuat yaaa!

  4. Jdi si jinri jdi si jahat ya..?msih misteri kematian kakak n ortu soohee…perasaan baekhyun ke soohee jga msih lom jelas…

  5. Ya ampun byun so hee itu smua tmen mu udh pernah dicicipin ??? #wkwkwk dikatamakanan😀
    Itu baekhyun suka kan sma so hee. Makin bnyak pemainnya dan makin banyak tekateki jadi makin penasaran😀

  6. Njirr apa kabar bibir nya soo he? Kmvrt cogan semua yg myium si soohe:v
    Maksud omongannya jinri apa ya kira-kira?
    Awawaw baekhyun sama soo he makin suka dah aku sama itu couple:v tapi nyebelin juga si jihyun pake narik-narik baekhyun ga tau diri bgt udah tau ada istrinya

  7. fuck!!duh sohee udah dicicipin sama trio cogan somvlak….aah mau jadi sohee….
    eh btw aku kzl sama jinri iewhh enyah kau dr muka bumi ini.-.
    kopel ini lg to twiit to twiitny♥♥makin luplup

  8. Pingin punya sahabat kayak baekhyun-chanyeol-kyungsoo…
    Wah kenapa aku ngrasa lalo kata kata jinri menjurus ke apa yg mau sohee cari tau yaaa?? Hm… Menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s