Unspeakable Secret | 5th Chapter

unspeakable mancay

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

 

STORYLINE BY NISA

POSTER BY dyzhetta @ Art Fantasy

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 15

 

Previous Chapter

[BAB 1] || [BAB 2] || [BAB 3] || [BAB 4]

HAPPY READING😀

 

Leera sudah siap dengan pakaian kerja semi-formalnya pagi ini. Dengan blus hitam berbahan satin yang mengkilap lalu dipadukan dengan rok pas badan berwarna merah marun Leera menuruni puluhan anak tangga yang berada dirumahnya. Ah, jangan lupakan kaki mungilnya yang ikut dipercantik dengan wedges hitam berpita yang kira-kira setinggi lima sentimeter tersebut.

“Leera-ya, kau terlihat cantik sekali pagi ini,” goda Chanyeol yang kini tengah duduk menunggu menu sarapan mereka dihidangkan diruang makan tersebut pada sahabat kentalnya. Leera hanya memutar bola matanya dengan malas harus mendengar bualan memuakkan Chanyeol.

“Kau mau aku melakukan apa lagi? Mau memintaku meyakinkan Haeyoung sunbae untuk memberimu satu kesempatan lagi?” Leera mencium gelagat aneh dari sikap Chanyeol yang tiba-tiba ‘sok baik’ pagi ini.

“Kemarin aku membuatnya menangis lagi, Leera-ya….” kini cengiran bodoh Chanyeol telah berganti menjadi wajah lesu.

Leera mengerutkan dahinya. Oh ayolah… mengapa Chanyeol masih belum kapok juga mengganggu Haeyoung? pikirnya. “Ya! Kau apakan lagi dia, huh?! Apa masih belum cukup bagimu telah mengacaukan hidupnya selama ini.” Leera geram.

Ya, ia geram dengan tingkah Chanyeol yang terkadang tak tahu diri. Pria itu terus saja mengganggu Haeyoung. Jujur, Leera sangat ingin Chanyeol dan Haeyoung bisa kembali akrab seperti dulu. Namun ia tak bisa memaksakan hal tersebut begitu saja karena ia tahu betul bagaimana sakitnya berada di posisi Haeyoung. Bahkan kalau ia yang berada di posisi Haeyoung saat ini, mungkin ia sudah tak sanggup lagi untuk sekedar bertatap muka dengan Chanyeol.

“Oke, kuakui aku telah mengacaukan hidupnya. Maka dari itu aku ingin memperbaiki kekacauan yang kubuat itu….”

Chanyeol semakin menunduk murung. Leera justru dilema dibuatnya, karena ia sekarang bingung harus memihak pada Chanyeol atau Haeyoung saat ini. “Bersabarlah, Park Chanyeol. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini jika kau terus berusaha. Anggap saja penolakan Haeyoung sunbae saat ini adalah hukuman untukmu.” Leera menasehati sembari menepuk-nepuk pundak pria yang kini duduk disebelahnya.

Tak lama kemudian Nyonya Park datang dari arah dapur sembari membawa berbagai macam lauk untuk menu sarapan mereka kali pagi ini; dibantu dengan seorang asisten rumah tangga. “Hei, apa ada hal buruk yang terjadi pagi ini? Mengapa ekspresi kalian terlihat kurang baik?” tanya wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik dengan apron merah jambunya.

“Seperti biasa, Bi. Chanyeol kembali menyesali perbuatannya pada Haeyoung,” jawab Leera yang mulai menyendoki nasi kepiringnya.

Nyonya Park beralih ke sisi kanan Chanyeol dan mengelus lembut kepala anak lelakinya tersebut. Chanyeol sedikit menyandarkan tubuhnya pada Nyonya Park dan memejamkan matanya sebentar menikmati sentuhan penuh kasih sayang dari sang ibu yang menjadi favoritenya sejak ia masih kecil. “Eomma, apa aku salah jika ingin mencoba memperbaiki hubunganku dengan Haeyoung?” Chanyeol mendongak menatap wajah ibunya.

“Tidak, Sayang. Kau tidak salah. Tapi.. kesalahan di masa lalu yang telah kau lakukan memang cukup besar sehingga untuk memperbaiki semuanya juga butuh pengorbanan yang besar…” Nyonya Park tersenyum hangat dengan tangan yang tak henti mengelus surai hitam Chanyeol. “—sudah cukup bergalau ria-nya. Ini masih terlalu pagi untuk murung, Park Chanyeol,” lanjut Nyonya Park sembari menangkup wajah Chanyeol.

Jalmeokkeseumnida (selamat makan)!!” pekik Leera riang untuk memecah kemurungan yang menyelemuti hati Chanyeol pagi ini.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Chanyeol dan Leera baru saja menyelesaikan aktivitas sarapan mereka dan kini mereka sudah siap untuk berangkat ke kantor. Leera dan Chanyeol mencium tangan serta pipi Nyonya Park secara bergantian—ini adalah kebiasaan mereka sejak dulu sebelum meninggalkan rumah untuk sekolah bahkan sampai bekerja saaat ini.

Tepat saat Leera dan Chanyeol berada di ambang pintu dan hendak membuka pintu kayu besar berwarna putih tersebut, bel kediaman Keluarga Park berbunyi. Tanpa melihat melalui layar interkom terlebih dahulu Leera membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya gadis itu saat ia menemukkan kini Sehun sedang berdiri dihadapannya dengan setelan jas berwarna abu misty kali ini.

“Oh Sehun Isajangnim?” ucap Chanyeol begitu saja saat ia melihat sosok yang cukup asing dimatanya tersebut.

Annyeonghaseyo. Ah, kau bekerja di Ilhwa Group juga ‘kan? Sepertinya aku pernah menjumpaimu beberapa kali di kantor dan rapat,” ujar Sehun sembari tersenyum ramah.

N—ne, sepertinya begitu, Isajangnim. Saya Park Chanyeol. ” Chanyeol menggaruk tengkuknya kebingungan harus berbuat apa.

Leera yang dari tadi hanya bisa berpikir keras dengan otaknya yang sebenarnya cukup pintar akhirnya mulai buka suara. “Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Leera tajam. Terlihat sekali bagaimana ketidaksukaan Leera melihat Sehun berada di depan rumahnya.

“Aku ingin menjemputmu. Pagi ini, mari kita berangkat bersama,” ajak Sehun tiba-tiba. Otomatis Leera kembali mengerutkan dahinya. “Menjemputku? Berangkat bersama?” ulang Leera.

Sehun menyengir kuda. “Ya, aku menjemputmu karena aku ingin mengajakmu berangkat bersama. Apa aku terlalu frontal?”

Chanyeol dan Leera hanya bisa berpandangan saling melempar kebingungan satu sama lain menyikapi kehadiran Oh Sehun di depan pintu rumah mereka secara tiba-tiba pagi ini. “Atas dasar apa kau mengajakku berangkat bersama? Aku menolak karena aku memilih untuk berangkat bersama Chanyeol,” tolak Leera tanpa pertimbangan.

“Tapi aku memilih untuk berangkat bersamamu dan aku tidak suka ditolak.”

Sehun mulai mengeluarkan pemberontakannya juga kali ini. Karena ia tahu, menghadapi gadis keras kepala seperti Leera harus disikapi dengan cukup keras juga.

Baru saja Leera hendak mengeluarkan tolakan tambahannya, Chanyeol lebih dulu angkat bicara. “Kalau begitu kalian bisa berangkat bersama. Biar aku berangkat sendiri pagi ini.” Chanyeol justru mendorong pundak punggung Leera pelan membuat gadis itu kini berdiri dengan jarak yang dekat dengan Sehun. Leera menolehkan wajahnya pada Chanyeol dan melemparkan tatapan membunuh pada pria berkuping lebar tersebut.

Ya! Kau mau mati?!”

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Pada akhirnya Leera benar-benar berangkat ke kantor bersama Sehun. Lihatlah kini ia sudah duduk manis di kursi penumpang sebelah pengemudi; lagi-lagi Sehun terlihat mengendarai mobilnya sendiri, tanpa supir. Sejak tadi ia hanya bisa mengedarkan pandangannya ke lalu lintas yang mereka lewati, ia bingung harus bertingkah seperti apa.

“Kau sudah sarapan?” lagi-lagi Sehun yang harus memulai pembicaraan.

Leera mengangguk, “Sudah.”

“Tapi aku belum,” ujar Sehun lagi, tangannya beralih mengelus pelan perutnya. Leera melirik acuh ke arah Sehun, “Lalu? Kau pikir aku peduli?” dingin. Itulah satu-satunya kata yang patut dipredikatkan pada Leera saat ini.

Sehun mulai geram. “Kau… apa kau tidak menganggapku sebagai atasanmu lagi? Kenapa sejak kemarin kau bertingkah semena-mena padaku?”

“Tadinya, iya. Tapi semenjak kau menciumku dengan kurang ajarnya, aku menganggapmu bahkan lebih rendah dari orang itu.” Leera menunjuk ke arah tunawisma yang dengan baju compang-campingnya berjalan sempoyongan dengan sebotol soju yang diapit di jari.

“Ternyata kau menganggapku serendah itu. Sayang sekali, padahal aku begitu tertarik padamu,” ujar Sehun tiba-tiba. Sontak Leera menoleh dengan mata yang membulat ke arah Sehun.

“Mwo?”

Sehun meminggirkan mobilnya ke tepi jalan dan kini ia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Leera. “Ya, aku tertarik padamu. Sangat tertarik.” Sehun menyeringai lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Leera yang spontan mundur saat Sehun mendekatnya.

“Kau tidak mungkin tertarik padaku, itu tidak realistis.” Leera balas menantang Sehun. “Apa yang tidak mungkin? Memangnya kau Tuhan yang bisa mengatur semuanya?” balas Sehun yang semakin mendekatkan tubuhnya kearah Leera hingga kini gadis itu terpojok di sudut kursinya.

Y—ya! Apa-apaan kau ini?” Leera hendak mendorong pundak Sehun namun pria itu mencekal tangan Leera dan sedikit menghentakannya hingga ini wajah mereka hanya berjarak sekitar lima sentimeter. Bahkan bau nafas Sehun yang menyegarkan tercium dengan jelas dihidung Leera.

Sehun menurunkan pandangannya pada bibir ranum Leera yang diberi sentuhan NYX Milan, lalu hendak mendaratkan sebuah kecupan manis di pagi hari pada bibir gadis itu. Namun saat sebentar lagi bibir Sehun hendak menempel disana, Leera mengalihkan padangannya kesamping, otomatis membuat aktivitas Sehun terinterupsi.

“Kau harus bertanggung jawab sebab jantungku ini berdebar karenamu, Kim Leera.” Sehun memilih untuk berbisik ditelinga Leera akhirnya.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Sehun sedang duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya saat ini, tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri, Oh Ilwoo. Kuberi tahu, hubungan Sehun dan ayahnya tidak terlalu baik karena Sehun merasa bahwa ia dan ayahnya tidak memiliki jalan pikiran yang sama hingga tak jarang mereka terlibat dalam perselisihan. Yup, bayangkan saja dua orang keras kepala yang memiliki jalan pikiran berbeda harus digabungkan, tidak akan pernah cocok ‘kan?

“Kau? Berapa usiamu sekarang?” tanya Ilwoo untuk memulai pembicaraan.

Sehun mendecih pelan, “Ck, kau bahkan lupa usia anakmu sendiri? Ah, atau bahkan kau juga lupa kalau aku anakmu? Well, tidak heran,” sindir Sehun.

“Oh Sehun, berhenti menjadi kekanak-kanakan. Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini?” tanya Oh Ilwoo yang jengah dengan kelakuan anaknya yang selalu saja bertingkah sesuai kehendaknya sendiri, tanpa memikirkan orang lain.

“Sampai kau dapat mengembalikan semuanya menjadi seperti dahulu kala,” jawab Sehun enteng namun terkesan tajam.

“Itu semua masa lalu, Sehun-ah. Apa masih belum cukup waktu delapan belas tahun untuk bisa merelakan semuanya?” ujar ayahnya lagi.

“Bagiku itu bukan masa lalu karena aku masih mengharapkan kembalinya eomma. Tapi aku tidak heran jika kau sudah bisa melupakan semuanya, kau memang tidak setia bukan? Bahkan tiga bulan setelah kepergian eomma kau langsung menikahi wanita jalang itu.” Sehun selalu saja geram dan tak dapat memberikan rasa hormat secuilpun setiap ia berada di hadapan ayahnya. Entah kenapa hatinya selalu sesak tiap ia melihat wajah Ilwoo.

“Aku menyekolahkanmu jauh-jauh sampai ke Amerika karena ingin anakku menjadi lebih baik!! Tapi lihat ini, Oh Sehun. Kau bahkan tak punya rasa santun lagi kepada ayahmu sendiri, aku bingung dengan isi otak gilamu itu.” Omongan pedas keluar begitu saja dari mulut Ilwoo, Sehun selalu saja berhasil memancing emosinya.

Sehun hanya bisa tersenyum miring, “Jadi, apa tujuan utamamu memanggilku kesini? Pasti kau bukan hanya ingin membicarakan hal sampah tadi, bukan?” tanya Sehun to the point.

“Aku sudah tua dan sebentar lagi perusahaan ini akan berada dibawah kendalimu. Jadi aku mohon… rubahlah hidupmu menjadi sedikit lebih baik, Sehun-ah. Menikahlah dengan wanita yang sudah kupilihkan,” ujar Ilwoo.

Ya, ia memanggil Sehun keruangannya karena ia berniat untuk menjodohkan Sehun karena tahun ini Sehun sudah memasuki usianya yang ke dua puluh delapan tahun, usia yang tepat untuk memulai bahtera rumah tangga, bukan?

“Apa-apaan ini?! Aku tidak mau menikah sampai kapanpun!!” tolak Sehun dengan cepat. Bagiamana bisa tiba-tiba ayahnya memberitahu kabar gila seperti ini?

“Jangan gila, Sehun-ah. Didunia ini kau membutuhkan yang namanya pendamping hidup. Ingat, kau tidak bisa selamanya dapat bertahan sendirian, akan ada waktunya dimana kau membutuhkan bantuan orang lain untuk bertahan hidup,” ujar ayahnya.

Abeoji, apakah kau lupa kalau aku selalu berkata bahwa aku tidak akan pernah mau menikah dengan siapapun!! Aku bisa hidup sendiri, lihat saja!!” tolaknya mentah-mentah.

“Terserah jika kau mau terus bersikeras menolak perintahku, tapi jangan salahkan aku jika aku juga akan tetap bersikeras untuk menjodohkanmu dengan putri kedua dari Doremi Group. Kalau tidak… aku tidak akan pernah melepas perusahaan ini jatuh ketanganmu sampai kapanpun, Oh Sehun,” tegas Oh Ilwoo terakhir kalinya dan berhasil membuat Sehun bungkam.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

“Sial!! Sial!! Brengsek kau Oh Ilwoo!!” Sehun menggebrak meja kerjanya berkali-kali meningat apa yang ayahnya katakan tadi pagi.

Jongin yang sedang duduk di salah satu sofa yang ada diruangan Sehun sembari memeriksa beberapa pekerjaannya lewat tablet putih berukuran sepuluh inch itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Yup, Jongin sudah tidak heran lagi karena hal ini sudah terlalu sering terjadi. Karena setelah Sehun berbicara empat mata dengan ayahnya ia selalu saja berakhir seperti ini. Mengamuk dan berteriak seperti orang kehilangan akal.

“Kau tahu, Jongin-ah, apa yang dikatakan pria bau tanah itu?” dengan wajah penuh kemurkaan Sehun beralih berbicara pada Jongin.

“Apa lagi? Ia menyuruhmu untuk melupakan masa lalu itu lagi?” tanya Jongin. Karena memang biasanya itu yang membuat Sehun naik pitam.

“Ya, itu salah satunya. Tapi ada hal  yang lebih menyebalkan. Kau tahu… Oh Ilwoo hendak menjodohkanku dan aku harus menikah lebih dulu jika aku ingin memegang kendali penuh diperusahaan ini,” omel Sehun yang masih tak bisa menerima tindakan ayahnya tersebut.

Jongin melirik ke arah Sehun sebentar lalu kembali fokus ke layar tabletnya, “Aku rasa kali ini ayahmu benar, kau memang sudah harus menikah, Sehun. Bagaimanapun juga kau membutuhkan keturunan untuk melanjutkan perusahaan ini tiga puluh tahun kemudian,” ujar Jongin.

“Apa-apaan ini? Kenapa kau tiba-tiba berpihak pada si tua bangka itu? Sebenarnya kau bekerja untuk siapa sih? Sialan,” gerutu Sehun yang lagi-lagi hanya bisa menggebrak mejanya.

“Kau tahu, semakin tua kau semakin egois, Sehun-ah. Kau selalu saja memandang berbagai hal dari sisi negatifnya tanpa mementingkan sisi positifnya. Ya! Sadarlah, bagaimanapun juga Oh Ahjussi adalah ayah kandungmu, sebenci apapun ia padamu kau tetap darah dagingnya, kau sendiri tahu bukan kalau darah lebih kental daripada apapun di dunia ini?” Jongin kembali terpancing emosinya karena ulah Sehun.

“Terserah, semua orang di dunia ini memang sama, hanya bisa menyalahkan orang lain,” sindiri Sehun.

“Dan apa kau tidak sadar kalau kau sendirinya seperti itu? Selalu menyalahkan orang lain padahal sebenarnya kesalahanmu sendiri lebih besar.” Jongin menyunggingkan senyuman miringnya ke arah Sehun.

“Begini, Jongin, kau tahu sendiri kan kalau aku sudah menetapkan hatiku bahwa aku tidak akan mau menikah dengan siapapun sampai kapanpun!! Dan ayahku seenaknya saja mau menjodohkanku!! Bagaimana aku tidak kesal?” ujar Sehun yang langsung mengalihkan pembicaraan ketopik awal karena ia tahu lama kelamaan perkataan Jongin tadi akan mengarah ke…argghh!! Sehun tidak suka membahas itu.

“Dan alasanmu tidak menikah karena kau tidak percaya dengan wanita manapun saat ini ‘kan? Hei, Oh Sehun, aku tahu sebesar apa rasa bencimu pada wanita itu sehingga membuatmu juga membenci seluruh wanita kecuali ibu kandungmu di dunia ini. Tapi kau tak bisa seperti ini terus, berhentilah menunggu ibumu kembali karena hal itu takkan terjadi. Sadarlah, Oh Sehun!! Kau harus berubah, karena jika kau ingin mendapatkan masa depan yang lebih baik, maka yang harus kau lakukan adalah memaafkan dan mengikhlaskan masa lalumu. Kumohon.. ini demi kebaikanmu…” ujar Jongin dengan wajah prihatin dan nada bicara yang terdengar seperti lirihan di akhir.

“Ya, aku memang membenci seluruh wanita di dunia ini kecuali ibu kandungku. Karena kau tahu apa? Wanita adalah manusia paling bodoh dan murahan di dunia ini. Kau butuh bukti? Kau bisa lihat dari para wanita bayaran yang rela tubuhnya diapakan saja oleh orang sepertiku hanya demi uang, bukankah mereka benar-benar tak punya harga diri? Menjijikan.” Sehun mendecih jijik.

“Jalan hidupmu sudah benar-benar sesat, Oh Sehun. Kau harusnya tidak boleh melihat segala hal dari sisi negatifnya saja seperti kataku tadi. Hei, tidak semua wanita di dunia ini bisa kau samakan dengan para wanita yang biasa kau tiduri itu, bodoh!!” Jongin semakin geram dengan Sehun yang selalu saja menganggap semua wanita di dunia ini patut diremehkan.

“Kau terlalu banyak ikut campur akhir-akhir ini Jongin-ah. Memangnya kau pikir kau sudah menjadi orang paling benar di dunia ini, huh? Pedulikan saja penyakitmu itu dan berhenti ikut campur urusanku!!” ketus Sehun.

Ia bahkan tak sadar kalau omongannya barusan berhasil membuat Jongin tersinggung karena ia menyindir penyakit Jongin, bahkan pria itu sampai tiba-tiba menghempaskan tabletnya keatas meja kaca yang ada di hadapannya lalu berdiri dengan kilatan emosi di matanya, “Baik, aku akan berhenti ikut campur dengan urusanmu. Jangan pernah hubungi aku bila tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan, mulai saat ini!! Aku pergi!!” Jongin berujar dengan nada sedikit membentak.

Lalu pria itu langsung bergegas keluar dari ruangan Sehun, tapi tepat sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan Sehun pria berkulit coklat itu berkata, “Dan dengar Oh Sehun, aku juga memiliki kenangan buruk dengan makhluk Tuhan yang berjuluk wanita. Tapi aku… masih tahu betul bagaimana cara menghormati wanita karena bagaimanapun juga aku terlahir dari rahim seorang wanita.”

“Sialan!! Semua orang di dunia ini tidak ada yang berguna!!” pekik Sehun seraya menghempaskan beberapa barang-barang yang ada di meja kerjanya secara sembarangan.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

KRING KRING

Telepon yang berada disudut meja kerja Leera berbunyi, tanpa basa-basi gadis itu segera menempelkan gagang telepon berwarna hitam tersebut ketelinganya. “Yeoboseyo…” ujarnya.

“Leera-ssi. Cek emailmu sekarang, saya sudah mengirimkan e-ticket untuk keberangkatanmu besok,” ujar seseorang yang sudah Leera hapal betul suaranya. Song Jaerim, atasan Leera.

“Keberangkatan saya besok? Memangnya saya ditugaskan kemana, Pak?” tanya Leera keheranan. Bahkan perjalanan bisnisnya ke Paris masih satu bulan lagi.

“Ya, kau direkrut untuk menjadi tim yang akan berangkat ke Pattaya besok siang. Direktur Oh sendiri yang memintanya,” jelas Jaerim.

Leera hanya bisa melebarkan mata rusanya itu, “Apa?! Tapi… saya bahkan tidak mengerti apa-apa mengenai proyek di Pattaya.”

“Saya sudah mengusulkan personil lain yang lebih mengerti tentang proyek tersebut, namun Direktur Oh tidak mau merekrut siapapun kecuali dirimu.”

“Tapi, Pak—“

“—sudahlah, Leera-ssi. Terima saja dan bersiap-siap, oke? Kau harusnya bersyukur karena proyek di Pattaya kali ini cukup besar,” ujar Jaerim terakhir kalinya sebelum mengakhiri panggilan telepon mereka.

Leera hanya bisa termenung ditempatnya, memikirkan hal apa lagi yang sebenarnya direncanakan oleh Sehun? Apa mungkin ia benar-benar tertarik padaku? pikir Leera.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Jongin memasuki sebuah kawasan parkir rumah sakit terkenal di Seoul, entah apa yang ingin ia lakukan di rumah sakit siang-siang seperti ini. Jongin memutarkan stirnya kekanan dan kekiri dengan lincah hingga ia berhasil memarkirkan sedang mahal berwarna putih miliknya.

Lihatlah dalam waktu kurang dari lima menit Jongin bahkan berhasil memarkirkan mobilnya meskipun di space yang cukup sempit, berbanding terbalik dengan sebuah mobil yang berada tak jauh dari Jongin, sedari tadi mobil mewah dengan kapasitas dua orang tersebut tak henti-hentinya mengerahkan mobilnya kesana kemari namun ia masih belum berhasil memarkirkan mobilnya dengan lurus, padahal space tempat ia ingin memarkirkan mobilnya jauh lebih longgar ketimbang space yang dipilih Jongin tadi. Entahlah, mungkin sang pengendara baru bisa mengendarai mobil, pikir Jongin yang tak memusingkan mobil berwarna biru tersebut dan langsung melengang masuk kedalam rumah sakit.

Jongin langsung meluncur kelantai lima; ketempat yang ia tuju berada. Jongin menyusuri sepanjang koridor rumah sakit sampai akhirnya ia terhenti di depan ruangan dengan papan nama ‘Dr. Kang’ yang terpasang rapi. Ia mengetuk pintu sebentar sebelum akhirnya langsung memasuki ruangan tersebut.

Seorang dokter yang masih cukup muda langsung tersenyum cerah begitu ia mendapati kehadiran Jongin. “Ah, akhirnya kau datang,” ujar dokter tersebut dan Jongin langsung mengambil posisi untuk duduk tepat dihadapan dokter berambut cokelat tua tersebut, Kang Seulgi namanya.

Ne, maaf minggu kemarin aku tidak sempat datang, Noona. Aku harus keluar negeri mengurus pekerjaan,” ujar Jongin yang terlihat santai berbicara dengan dokter bermata bulan sabit tersebut. Bahkan Jongin memanggilnya noona, sepertinya mereka sudah cukup dekat.

Seulgi hanya bisa tersenyum sembari mengeluarkan sebuah map cokelat dari laci dan meletakkannya diatas meja. “Gwenchana, Jongin-ah, yang penting kau menyempatkan diri untuk datang kemari.”

Seketika jantung Jongin berdegup kencang saat Seulgi menyerahkan map tersebut padanya, ia takut… apa yang ia lihat tak sesuai dengan yang ia bayangkan.

“Bukalah.”

Seulgi tersenyum cerah hari ini entah karena hatinya dalam suasana yang baik atau karena hasil pemeriksaan Jongin kali inilah yang baik. Yeah, setidaknya Jongin tidak terlalu gugup setelah melihat bagaimana ekspresi cerah Seulgi.

Jongin perlahan mengeluarkan dua lembar kertas berukuran A4 dari map tersebut dan membaca satu persatu kata yang digoreskan dengan tinta hitam tersebut dengan seksama. Oh lihatlah bagaimana seriusnya wajah Jongin saat ini.

Namun semakin lama ia membaca, Jongin terlihat lebih relaks, bahkan sekarang kita bisa melihat senyuman yang tak kalah cerianya dari senyuman Seulgi ikut terpatri diwajah Jongin.

“Bagaimana? Kau puas ‘kan dengan hasilnya?” tanya Seulgi.

“Well, aku memang masih jauh dari kata sembuh, tapi melihat pergerakan kemajuan yang mulai bertambah belakangan ini membuat aku lebih semangat untuk berubah, Noona,” ujar Jongin yang enggan melepaskan senyuman manis itu dari wajahnya sedikitpun.

Sembuh? Mungkinkah Jongin mengidap suatu penyakit?

“Maka dari itu, jangan pernah putus asa seperti kemarin-kemarin, oke? Semuanya bisa teratasi asal kau percaya bahwa kau bisa sembuh. Kalau begitu, lanjutkan perjuanganmu!!” Seulgi memberi semangat pada Jongin agar adik kesayangannya itu akan tambah semangat untuk keluar dari masalah terbesar hidupnya.

Jongin lalu bangkit dari duduknya dan pamit pada Seulgi, “Terimakasih, Noona. Aku harus kembali ke kantor lagi, kalau begitu aku permisi.” Setelah itu ia langsung keluar dari ruangan Seulgi masih dengan senyum yang merekah.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Jam makan siangpun tiba, tidak seperti kemarin, Oh Sehun kali ini tidak menghabiskan waktu makan siangnya di kantor kantin lagi. Kini ia berada di kawasan parkir VIP yang berada di kantornya karena  ia berencana untuk menghabiskan makan siangnya dengan menyantap keperawanan seseorang yang telah ia sewa di sebuah suite hotel.

Hm, beginilah kebiasaan Sehun. Disaat orang lain melarikan diri mereka pada alkohol atau obat-obatan terlarang dikala stress melanda, Sehun lebih memilih untuk melampiaskan nafsunya.

Ia memang seorang maniak seks akut, namun bukan berarti ia sembarangan meniduri gadis manapun untuk memuaskan nafsunya. Semua gadis yang tidur dengan Sehun semuanya harus dalam keadaan perawan dan terbebas dari penyakit yang cukup berat. Jadi bisa kalian bayangkan berapa banyak keperawanan yang Sehun renggut setiap minggunya karena biasanya ia melakukan seks paling tidak seminggu tiga kali.

Saat Sehun hendak membuka pintu mobilnya, ia menemukan sebuah post-it berwarna kuning stabilo tertembel di gagang kereta mesin mewah miliknya. Ia langsung menyambar kertas mungil tersebut.

Jangan lupa datang kerumah sakit secepatnya. Karena jadwalmu untuk suntik Anti HIV dan AIDS adalah hari ini.

–Kim Jongin

Sekiranya begitulah kata-kata yang terpatri diatas kertas mungil tersebut. Seketika Sehun teringat akan pertengkarannya dengan Jongin tadi pagi dan ia paham betul dengan kesalahannya karena ia membawa-bawa penyakit Jongin sehingga membuat pria itu tersinggung. Tapi lihat, semarah-marahnya Jongin pada dirinya, pria itu bahkan tetap perhatian akan hal-hal kecil namun penting bagi Sehun yang bahkan dirinya sendiri tidak ingat.

“Kau memang tidak pernah bisa membuatku membencimu, Kim Jongin.” Sehun tersenyum haru sembari menatap kearah kertas mungil yang masih berada di gengamannya.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Dengan senyum yang masih merekah sampai saat ini Jongin berjalan menuju ketempat ia memarkirkan mobilnya. Namun ekor matanya menangkap sesuatu yang mengganjal saat ia memasuki kawasan parkir tersebut. Ya, mobil berwarna biru yang tadi terlihat kesusahan mengepaskan posisi mobilnya sampai saat inipun masih begitu; sang pengendara masih asik mengarahkan pantat mobilnya kesana kemari.

Jongin yang dalam suasana hati baik akhirnya berniat untuk menawarkan kebaikan. Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju ke sisi dimana pintu sang pengemudi berada dan ia memberanikan diri untuk mengetuk jendela yang dilapisi kaca film cukup gelap tersebut, namun samar-samar Jongin bisa melihat bahwa sang pengendara adalah seorang wanita.

Pantas saja ia tidak bisa parkir, batin Jongin.

Tepat setelah Jongin mengetuk kaca mobilnya sekitar tiga kali, kaca jendela mobil tersebut terbuka dan menampakkan seorang wanita berambut hitam pekat dengan panjang yang sedang. “Ya, ada apa, Tuan?” tanya wanita tersebut dengan suaranya yang terdengar dalam namun lembut.

“Butuh bantuan untuk memarkirkan mobilmu? Kulihat sedari tadi kau kesusahan memposisikan mobilmu.” Jongin menampilkan seulas senyum tipis pada wanita cantik tersebut. Ya, Jongin akui wanita itu masuk kedalam kategori cantik. Dengan kulit putihnya yang tidak terlalu banyak sentuhan make up, lalu mata bulatnya yang sangat indah; jarang ditemukan mata bulat natural seperti wanita ini di korea, dan juga bibirnya yang tebal namun tak berlebihan.

Jinjjayo? Kau mau membantuku memarkirkan mobil sialan ini?!” teriak gadis itu dengan ceria saat Jongin menawarkan bantuannya. Dilihat dari reaksi tersebut, wanita ini juga sebenarnya sudah lelah memarkirkan mobilnya sejak tadi.

Jongin terkekeh melihat reaksi lucu gadis tersebut, “Kalau kau tidak keberatan aku membantumu, akan ku bantu.” Sesegera mungkin setelah Jongin menyelesaikan perkataannya, wanita dengan pakaian simple namun terkesan berkelas tersebut langsung turun dari mobilnya dan mempersilahkan Jongin untuk masuk kedalam mobilnya sedangkan ia menunggu diluar.

Begitu Jongin memegang kemudi, tangan kekarnya langsung bergerak lincah memposisikan sebisa mungkin agar mobil mahal tersebut terparkir sesuai garis bagi yang sudah digambarkan di lantai. Oh lihatlah, bahkan Jongin memarkirkan mobil itu semudah membalikkan telapak tangan karena memang space yang tersedia luas.

“Ini kuncinya, Nona.”

Jongin menyerahkan kunci mobil tersebut kepada wanita yang kini memandang Jongin dengan tatapan terpana. “Terimakasih, Tuan. Oh ya, perkenalkan nama—“

Jongin menangkap sebuah mobil yang ia kenal betul siapa pemiliknya memasuki kawasan parkir yang sama dengannya. Ya, itu mobil milik Oh Sehun. “Maaf, Nona. Aku harus permisi.” Tanpa mendengarkan lebih lanjut perkataan wanita itu, Jongin melangkah cepat ke arah mobilnya dan langsung melesatkan mobilnya secepat mungkin untuk keluar dari kawasan parkir rumah sakit. Karena satu alasan, ia malas bertemu dengan Sehun saat ini.

Saat mobil Jongin bepapasan dengan mobil berwarna hitam tersebut, terdengar seruan dari Sehun, “Ya! Kim Jongin, kau mau kemana?!” diikuti dengan suara klakson dari mobil Sehun.

Tanpa mereka berdua sadari, wanita yang baru saja ditolong oleh Jongin masih memperhatikan kedua pria tampan tersebut. Wanita itu terlihat tersenyum tipis, “Kim Jongin? Jadi nama pangeran berkuda putih itu Kim Jongin—“

“—baiklah, Jongin-ssi. Semoga kita bertemu dikesempatan lain dan kau harus tau kalau namaku… Nami,” lanjut wanita itu sebelum akhirnya ia meninggalkan kawasan parkir dan melanjutkan tujuan awalnya.

 

 

TO BE CONTINUED

 

.

#PREVIEW FOR NEXT CHAPTER

 “Jebal… biarkan seperti ini. Aku merindukan pelukanmu, Eomma,”

“Kalau melihat wajahmu yang tertidur sepolos ini, aku jadi berharap kau tidak bangun selama-lamanya.”

 “Kau tertarik padaku pasti karena kau hanya mengetahui hal baik yang ada di diriku, bukan? Kau tidak tahu bahwa sebenarnya aku tak lebih dari seseorang yang memiliki banyak cacatnya.”

“Kalau begitu, mari kita berkencan. Sudah cukup dekat ‘kan untuk saling berbagi rahasia?”

“Menurutku… seks adalah salah satu kebutuhan dasarku setelah oksigen dan makanan. Jadi kau bisa bayangkan sendiri sepenting apa seks dalam hidupku.”

.

Okay!! That’s all yang bisa kuberikan pada kalian kali ini, gimana? Mudah-mudahan kalian menyukainya dan cukup terhibur dengan ceritaku yah, hehe.

Dan finally, Jongin mulai memasukki cerita dan perlahan-lahan akan mulai berperan dengan ceritanya sendiri.

Last, seperti biasa aku pengen ucapin terimakasih sebesar Sehun buat yang masih baca fanfictionku ini buat yang masih mau support aku dengan comment berharga kalian!!

[ note :: langsung update chapter 6 kalau comment mencapai 45 comments😀 ]

 

69 responses to “Unspeakable Secret | 5th Chapter

  1. Kai punya penyakit ? Penyakit apa ya thor ??
    Dan sehun ngapain mesti suntik ??
    Ahh kalau baca preview next chapnya jujur aku gk pernah ngerti jadinya aku penasaran teruss -_-
    Ditunggu next chapnya🙂

  2. Pingback: Unspeakable Secret | 6th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Wuih gue yakin nih, keknya si kai sakit hiv dah wqwq sok tau ya?😂
    Kok jadi makin sebel sama sifat sehun yang keras kepala gitu, astaga masih untung si kai baik banget mau temenan sama lo hun😒

  4. Sehun kalo ngomong kontrol dong, kasian kamjong kan! itu kepala batu atau apa si? keras bgt kayanya ya, kamjong mh dewasa bgt mau nasehatin sehun yg begitu tuh. Sahabat yang baik ya🙂

  5. saoloh Jongin…. hatinya dri apa siih??? sekalipun tengkar sama Sehun yg keras kepala dan EGOIS itu, masiih aja ngingetin jadwal suntikny Sehun, yg bahkan Sehun aja ga inget. aduuuuh, jangan ampe jatuuh dong😰😪 wkwkwkwkwk
    ciyeeeeh, Jongin nemu cewek niih(?) hahaha.. Nami bakalan ketemu Jongin kapan kagi niih??? Jongin sakit apa siih?? penasaran akuuu…

  6. Pingback: Unspeakable Secret | 7th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. kkamjong sakit apa kk..?? keliatannya serius bgt, huh sehun ekstrim bgt sampai hrs suntik anti hiv/aids aku bayangin seberapa sering nya dia melakukan hal” sprti itu huwaaa.. scra ga langsung kamu uda bekassnya orang” dong wkwkw…
    .leeraa jangan mau eoh sm sehun, dia uda barang obral hahaha..
    eciieee namiii, cast baru yaa kk..?? semoga ajaaa dia masa depannya kkamjong eciieeh

  8. Pingback: Unspeakable Secret | 8th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Sumpah ya, ak ketawa wkt baca postcardny Jongin yg ngingetin sehun buat suntik HIV AIDS wkw. Jongin sakit apa? HIV AIDS kah???😦 knp sehun bs smpe maniak kek gt? Apa krn masalalunya?? Pnsrn. Smgt nulisnya y author-nim!😀

  10. Jongin tabah banget yaa hidup di lingkungan Sehun. Gila itu perkataan Sehun pasti nyinggung perasaan Jongin banget. Kalo gue Jongin, udah gue pites tuh mulutnya Sehun-,-

    Cieee akhirnya Jongin ketemu calon jodoh juga🙂

    Aduuh itu rencana Sehun apalagi yaa supaya bisa dapetin Leera?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s