My Beautiful Yoojungie #FINAL

My Beautiful Yoojungie #FINAL

mby

Author

QUEENXISSI

 

 

Genre : ROMANCE, FLUFF, SCHOOL LIFE

 

Length : Chaptered

 

Main Cast :

OH SEHUN

KIM YOOJUNG (OC)

 

Rating : Teen

Poster By : ALKINDI

 

 

 

.

 

Sebelumnya di MY BEAUTIFUL YOOJUNGIE

 

.

 

 

 

All in Author’s POV

 

Tiga tahun telah berlalu. Semuanya masih sama seperti dulu. Untuk seorang Kim Yoojung. Ia yang masih dan akan selalu menanti kedatangan Sehun. Ia yang masih dan akan selalu mencintai Sehun meski musim dan waktu terus berganti. Dan ia yang mungkin akan selalu ditolak cintanya oleh Oh Sehun. Yoojung masih sering mendatangi taman belakang sekolah, berharap jika kesana, waktu akan berputar mundur dan membawanya kembali pada waktu dimana ia bisa bertemu dengan Sehun meski hanya beberapa detik saja.

Yoojung sudah menyelesaikan studinya di Seoul International High School sejak setahun yang lalu bersama dengan Hana dan Soojung. Mereka bertiga masih rutin bertemu meski kini menempuh pendidikan kuliah di universitas yang berbeda-beda.

“Kau masih sering mengunjungi sekolah Yoojung-ah, bagaimana dengan kuliahmu sendiri?” Tanya guru Lee menghampiri Yoojung di kantin saat itu.

“Kuliahku berjalan dengan baik Pak Lee, bapak tidak perlu khawatir.” Ujar Yoojung lalu memberi senyuman lebarnya pada pria yang kini memasuki usia kepala empat di hadapannya.

“Masih menunggu kedatangan pria itu? Siapa namanya?”

“Oh Sehun, pak. Hehe.”

“Masih saja belum menyerah sejak pertama kali kau masuk sekolah.” Ujar Guru Lee kemudian.

“Namanya juga cinta, pak. Bukankah cinta memang harus diperjuangkan?”

“Tetapi pendidikanmu juga harus tetap kau prioritaskan, bukan hanya cinta.” Tutur Guru Lee kemudian berdiri dan meninggalkan Yoojung untuk mengajar ke kelasnya karena bel telah berbunyi.

“Hey!” tiba-tiba ada yang menepuk pundak Yoojung dari belakang.

“Aish, oppa! Untung saja aku tidak punya riwayat penyakit jantung, oppa ini…menyebalkan sekali.” Gerutu Yoojung ketika berbalik dan mendapati Min Hyuk tengah tersenyum padanya.

Ya, Kang Min Hyuk… pria yang dulunya sempat disukai Yoojung, kini telah menjadi seorang guru di sekolah mereka, Min Hyuk menjadi guru idola banyak siswa perempuan disana karena memiliki wajah yang tampan dan baby face. Sampai saat inipun Min Hyuk masih tetap sendiri dengan alasan belum mendapatkan gadis yang pas untuk dirinya.

“Jangan bilang kalau hari ini kau menunggu keajaiban akan Oh Sehun lagi?” tebak Min Hyuk yang dijawab dengan anggukan kepala Yoojung.

“Astaga, pantang menyerah sekali adikku yang satu ini. Apa kabar Kim Taehyung sekarang? Sudah tiga tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya.”

“Tapi ini sudah yang kesekian kalinya oppa menanyakan dirinya setiap kali aku ke sekolah.”

“Hahahaha, benarkah?”

“Umm…” Yoojung mengangguk, “…Taehyung ya seperti itu oppa, masih gemar mengganti pasangan dengan alasan ia mudah bosan pada satu gadis padahal baru saja menjalin hubungan selama seminggu. Mentang-mentang memiliki wajah yang tampan, ia bisa dengan seenaknya memutuskan hubungan dengan seseorang. Huh, apa dia tidak berpikir kalau perempuan juga memiliki perasaan? Dasar laki-laki satu itu.” Gerutu Yoojung. Min Hyuk hanya tertawa lalu mengacak poni Yoojung.

“Jika Sehun adalah orang yang seperti itu, apa yang akan kau lakukan?”

“Tentu saja aku akan memarahinya! Itu kan perbuatan yang tidak baik, oppa. Oppa juga! Tidak boleh bertingkah seperti Taehyung, apalagi oppa menjadi pujaan banyak gadis di sekolah ini.”

“Pujaan banyak gadis? Benarkah? Tahu darimana kau?”

“Oppa, tidakkah oppa melihatnya? Sepanjang oppa berjalan denganku beberapa hari yang lalu di lorong sekolah, sepanjang jalan itulah banyak mata yang memandangku seolah ingin menerkamku hidup-hidup, dan semua mata itu tertuju dari siswa perempuan di sekolah ini. Bahkan sekarang saja, beberapa siswa yang masih ada di kantin memandangiku dengan ekspresi yang tak karuan. Ini lebih menyeramkan daripada menyaksikan film horror sendirian.” Bisik Yoojung di akhir kalimat yang lagi-lagi membuat Min Hyuk tertawa dan tak bisa menahan gemasnya untuk mencubit pipi Yoojung.

“Kau ini ada-ada saja. Lagipula siapa yang akan berani menerkammu selama aku masih ada di sisimu, huh?”

“Itu karena oppa sedang bersamaku, coba kalau oppa sudah kembali mengajar, dan aku kau tinggal sendirian disini, bisa jadi… besok aku sudah masuk dalam headline news, oppa!”

“Hahahaha, Kim Yoojung. Kau ini lucu sekali, sih? Berhentilah membayangkan hal yang tidak-tidak. Kau tahu kan sekolah kita jarang terjadi peristiwa pembullyan? Makanya sampai sekarang akreditasi sekolah kita tetap yang terbaik dan selalu berada di urutan nomor satu.”

“Tapi kan itu tidak menjamin sampai masa yang akan datang, oppa! Ah oppa ini, terlalu berprasangka baik kepada setiap orang.”

“Kau juga, selalu berprasangka baik pada Oh Sehun yang bahkan sampai detik ini tak memberikan kepastian untukmu. Kau terus menunggu seolah hidupmu kau abdikan untuknya, seperti hidupmu akan terhenti bila kelak ia datang dan memberikan penolakan yang sama untuk kesekian kalinya. Sampai kapan kau akan menunggu? Sampai Sehun kelak telah memiliki tambatan hatinya dan ternyata bukan dirimu?” Tanya Min Hyuk yang langsung menohok pada Yoojung. Membuat Yoojung terdiam dan menunduk sedih.

“H-hey… ma-maafkan aku Jung-ah, a-aku tidak bermaksud u-untuk—”

“Tidak apa-apa, oppa. Sudah banyak yang berkata seperti itu, terutama Hana dan Soojung. A-aku sudah terbiasa de-dengan kalimat pedas seperti itu. Emm oppa, aku pergi dulu, ya.” Tutur Yoojung lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan Min Hyuk.

*

Kalimat yang Min Hyuk lontarkan pada Yoojung tidak dapat ia lupakan begitu saja. Bahkan sampai di rumahpun Yoojung masih terus memutarnya kembali di dalam otaknya.

“…Sampai kapan kau akan menunggu? Sampai Sehun kelak telah memiliki tambatan hatinya dan ternyata bukan dirimu?

FLASHBACK

~Recommended Song : BTS_Hold Me Tight~

“Kau masih menunggu jawaban dariku, kan?”

Yoojung menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, teruslah datang kemari, siapa tahu kau akan bertemu denganku, entah itu bulan depan, tahun depan, atau tahun depannya lagi atau belasan tahun lagi. Dan jika kau bertemu denganku, di saat itulah aku akan memberikan jawabanku.”

Yoojung mengangguk lagi, kali ini air matanya sudah mulai bercucuran dan membasahi pipinya.

“Kau tetap menerima jawabanku meski itu sebuah penolakan, kan?”

Kali ini tangisan Yoojung semakin keras, tetapi sekeras apapun ia mencoba untuk tidak mengangguk akhirnya ia mengangguk juga. Di hadapannya Sehun tersenyum kecil, baru kali ini Sehun memberikan senyumannya pada Yoojung, meski itu hanya terlihat sekilas dan ia berikan saat ia akan pergi ke Amerika untuk menjadi trainee di agensi yang memilihnya untuk menjadi the next star setelah Eric Nam, kakak tingkatnya tiga tahun yang lalu.

FLASHBACK END

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk seseorang melupakan orang yang disukainya—seharusnya—tetapi berbeda dengan Yoojung yang tetap bertahan dengan cintanya yang tak terbalas bertahun-tahun lamanya, bukan yang tak terbalas, tetapi cintanya yang digantungkan oleh Sehun. Oleh pria yang paling sering menyiksa batinnya, membuatnya ingin menyerah namun ia tak bisa, membuatnya semakin kuat dan terus yakin cinta sejati itu tetap ada meski bertahun-tahun terabaikan, jika mereka bertemu kembali, maka cinta itu akan datang lagi. Itu yang selalu menguatkan Yoojung meski semakin hari rasa percaya diri Yoojung semakin pupus karena ucapan kedua sahabatnya, adiknya, terutama Min Hyuk beberapa saat yang lalu.

Yoojung menghapus air matanya kasar lalu membaringkan tubuhnya di kasur, menatap pada langit-langit kamarnya lalu memejamkan matanya kemudian. Ia harus tidur, ia butuh istirahat untuk sekedar melupakan apa yang Min Hyuk lontarkan padanya, mungkin dalam mimpi ia bisa bertemu dengan Sehun meski itu sudah sering terjadi, karena hanya lewat mimpi juga, Yoojung bisa melepas rindunya dengan Sehun.

*

Yoojung mendapat undangan pernikahan Baekhyun, meski tidak akrab dengan kedua sahabat Sehun, tetapi Yoojung cukup dekat dengan Baekhyun yang beberapa kali membantunya untuk dekat dengan Sehun meski kedekatan mereka juga selalu berujung Sehun yang memarahi Yoojung karena terus mengikutinya atau Sehun yang pergi begitu saja ketika Yoojung menghampirinya.

“Apakah Sehun akan datang?” gumam Yoojung.

“Mungkin.” Jawab Baekhyun.

“Kau mengundangnya?”

“Tentu saja. Dia sahabatku. Kemarin dia bahkan baru membalas emailku, padahal aku sudah mengirim email untuknya sejak minggu lalu.”

“Apa balasannya? Apa saja yang kau tanyakan padanya? Apakah dia baik-baik saja disana? Apakah benar ia akan menghadiri acara pernikahanmu?” Tanya Yoojung bertubi-tubi, membuat Baekhyun tertawa saat itu juga.

“Sebesar itukah rasa rindumu padanya?”

“Lebih dari yang kau bayangkan! Aku benar-benar rindu setengah mati padanya Tuan Byun! Cepat beritahu aku apa isi email darinya.” Rengek Yoojung.

“Kau pikir aku akan memberitahukannya padamu? Sudah ya, aku pergi dulu, masih banyak undangan yang harus kusebar untuk beberapa teman Irene. Ia tak sempat membantuku karena harus fitting baju hari ini. Sampai jumpa dua hari lagi!”

“Baekhyuuuun, kumohon…”

“Tidak Kim Yoojung. Nanti bukan menjadi kejutan lagi!”

“Jadi ia akan datang ke pestamu, kan? Ah, aku pasti datang Baek, aku pasti datang! Ah, senang sekali!!! Terima kasih atas undangannya Baek, sampaikan salamku untuk Irene!” ujar Yoojung senang lalu melambai pada Baekhyun dan memasuki rumahnya dengan melompat girang.

“Mengapa ia sebahagia itu? Masih tidak berubah, terlalu berpikir positif. Dasar Kim Yoojung.” Ujar Baekhyun lalu masuk ke dalam mobilnya.

*

~Recommended Song : Junggigo ft Soyou_Some~

“Apa reaksi Baekhyun jika ia tahu kalau kau datang kemari untukku!?” oceh Irene sambil memandang pria bertubuh tinggi di hadapannya yang kini hanya tersenyum melihat tingkah Irene.

“Justru ia yang menyuruhku kemari.”

“Tetapi aku sangat tidak membutuhkan bantuanmu Tuan Oh!”

“Tetapi ia yang menyuruhku menemanimu sampai kau selesai fitting baju.”

“Tidak perlu merepotkan dirimu, mengapa tidak kau temui saja gadis tidak tahu malu bernama Kim Yoojung itu, huh? Kurasa ia sudah sangat merindukanmu sampai-sampai harus mengacaukan hari-hari calon suamiku hanya untuk menanyakan dirimu. Itu sangat menyebalkan, kau tahu!?”

“Kau bahkan tidak pernah secemburu ini padaku saat dulu ki—”

“Berhentilah membahas itu karena itu adalah masa lalu! Aku tidak mau mengingatnya lagi! Dengar ya Oh Sehun, kalau kau masih gagal move on dariku, lebih baik kau segera berpaling pada yang lain. Atau kau balas saja perasaan Yoojung padamu. Tidakkah kau mengasihaninya? Ia sudah menunggumu lebih dari tiga tahun!”

“Bagaimana jika aku tidak mau dan tetap mengharapkanmu?”

“Bermimpilah! Karena aku hanya dan tetap mencintai Byun Baekhyun sampai kapanpun!”

“Oh… galak sekali. Bukankah cinta matimu adalah Kwon Bogum?”

“Yaaak! Aku tidak suka kau menyebut nama itu di hadapanku!!!”

“Hahaha baiklah kalau begitu. Cepatlah masuk, aku akan menunggumu disini.”

“Aku tidak akan masuk sebelum Baekhyun datang!”

“Sudahlah jangan keras kepala, kau pikir hanya kau yang akan mencoba gaun pengantin disini, huh? Jangan memperlama waktu agar aku bisa pergi dan mengurusi hal lain.”

“Kalau begitu kau pergi saj—Yaaak! Oh Sehun! Jangan mendorongku! Yaaaak!!!”

Setelah berhasil mengurusi Irene, Sehun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Baekhyun.

“Cepatlah kemari. Aku tak sanggup berlama-lama dengan gadis ini.”

“…”

“Tentu saja. Cepatlah, aku akan meninggalkannya jika kau tak sampai disini dalam waktu lima belas menit.”

“…”

“Ya, ya, diamlah dan cepat kemari sebelum kupatahkan lehermu.”

*

“Halo?”

“Yoojung-ah! Apakah kau sedang ada kelas saat ini?”

“Baru saja selesai, ada apa Hana-ya? Mengapa suaramu terdengar panik sekali?”

“Aku baru saja melewati depan kampusmu! Ada Sehun disana!”

“Ha? Jangan bercanda!”

“Aku serius! Cepatlah ke depan, sepertinya ia tengah menunggu seseorang. Mungkin saja dirimu.”

“Tapi lima belas menit lagi aku ada kelas tambahan.”

Now or never?”

Yoojung langsung mematikan panggilan dari Hana dan berlari keluar kelas. Ia bahkan mengabaikan salah satu bukunya yang ia jatuhkan di tangga kampus. Ketika ia sampai di depan gerbang dengan napas yang terengah-engah ia tidak menemukan siapapun disana. Hanya beberapa orang yang melintas dan memandang aneh padanya.

Dengan segera ia mengangkat ponselnya dan berniat menghubungi Hana, tetapi baru akan memencet tombol tiba-tiba saja ponselnya berkedip, sebuah panggilan dari Taehyung.

“Noona-ya.”

“Apa? Astaga Tae, aku sed—”

“Aku melihat Sehun hyung!”

“Ap-apa? Di-dimana? Apakah di depan kampusku? Kau berada di dekat kampusku? Kau dimana? Sehun dimana?”

“Aku ada di kedai ramyun langganan kita, Sehun hyung tengah memesan sesuatu disini dan meninggalkan secarik kertas pada pelayannya. Ia sud—”

Yoojung langsung mematikan panggilan dari Taehyung kemudian memberhentikan taxi di hadapannya dan segera meminta sopir taxi untuk melaju menuju kedai ramyun tersebut.

BRAKKK

Yoojung langsung membuka lebar pintu kedai tersebut dan melihat sekelilingnya, banyak anak sekolah dan beberapa pegawai tengah duduk menikmati ramyun pesanan mereka dan memperhatikan Yoojung dengan ekpresi—‘ada-apa-dengan-perempuan-satu-ini’—pada dirinya.

“Ma-maafkan aku.” Tutur Yoojung lalu menunduk kemudian menegakkan kembali tubuhnya dan menghampiri seorang wanita paruh baya di meja kasir.

“Permisi, nek. Apakah kau melihat seorang pria bertubuh tinggi, berbadan putih dan berwajah tampan yang datang ke kedai ini?”

“Atur dulu napasmu, nak. Baru berbicara. Aku kesulitan memahami ucapanmu.”

“Maafkan aku, nek. Tapi, apakah kau melihat pria yang ciri-cirinya seperti itu?”

“Aku tidak tahu siapa yang kau maksud karena banyak sekali pelangganku siang ini. Mana mungkin aku menghafal wajah mereka satu per satu.”

“Ha…bagaimana ini…” keluh Yoojung lalu memperhatikan sekitarnya, mencoba mencari Taehyung namun tidak menemukannya, mungkin saja Taehyung sudah pergi beberapa saat yang lalu.

“Tetapi…” Yoojung langsung mengalihkan fokusnya pada nenek di meja kasir tersebut.

“…ada pria yang menitipkan sesuatu untukku pada gadis bernama Kim Yoojung.”

“Itu aku, nek. Aku Kim Yoojung. Apa yang pria itu titipkan pada nenek?”

“Ah, jadi kau orangnya. Ini…ambillah, ia baru saja pergi sekitar sepuluh menit sebelum kedatanganmu.”

Yoojung langsung menerima secarik kertas berwarna biru langit dari ibu pemilik kedai tersebut kemudian melangkah keluar. Jantungnya berdegup tak karuan, tangannya bahkan gemetar tak berani membuka lipatan kertas yang ada di tangannya.

“Haruskah aku membukanya?” gumamnya pelan. Air matanya bahkan tiba-tiba saja menetes begitu saja. Ia tersenyum senang lalu mendudukkan dirinya di halte bus di dekat kedai tersebut.

“Kau datang…kau datang untuk memberikan jawabanmu, bukan?” tuturnya pada kertas tersebut, dan lagi-lagi ia tak menggubris tatapan aneh orang di sekitarnya yang melihatnya menangis sambil tersenyum juga berbicara dengan secarik kertas.

“Lalu… dimana kau sekarang?” gumamnya lagi, masih tidak berani membuka kertas tersebut.

Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar, ia segera mengambil ponselnya dan melihat ke layar, sebuah panggilan dari Kang Min Hyuk.

“Ha-halo oppa?”

“Kau…menangis? Ada apa?”

“Op-oppa…seharian ini banyak yang be-bertemu dengan Sehun, te-tetapi a-aku…aku be-belum bertemu de-dengannya. Hiks.”

“Sehun juga baru menemuiku beberapa saat yang lalu.”

“Be-benarkah oppa? Di sekolah? Apakah ia masih disana?”

“Dia sudah pergi. Mengendarai mobilnya.”

“Apakah ia menanyakan diriku?”

“Tidak sama sekali. Ia hanya menanyakan kabarku dan bertemu dengan beberapa guru juga kepala sekolah.”

“O-oh…begitu ya.”

“Hey, jangan menangis lagi. Mungkin setelah menemuiku ia akan menemuimu.”

Yoojung menutup mulutnya, ia menahan isak tangisnya agar tak terdengar oleh Min Hyuk di seberang telepon.

“Baiklah, aku rasa aku tak bisa berbicara banyak denganmu sekarang. Aku harus kembali mengajar lagi. Sampai jumpa.”

“N-ne, sampai jumpa op-oppa.” Tutur Yoojung lalu menutup ponselnya. Ia kemudian memperhatikan kertas di tangannya kemudian membukanya.

eend

“Ini—astaga…ini bahkan sudah pukul dua. Ya ampun, bagaimana ini.” Yoojung kemudian berdiri dari duduknya, dari kedai tersebut jika ia berjalan kaki maka ia bisa mencapai sungai Han dalam waktu lima belas menit, tetapi jika ia naik kendaraan umum ia akan sampai dalam waktu lima menit, tetapi ia pasti akan menunggu lama karena bus menuju ke sungai Han baru saja melintas beberapa menit yang lalu.

Akhirnya Yoojung memutuskan untuk mengumpulkan sisa tenaganya dan berlari menuju ke sungai Han. Di dalam hati ia terus berdoa agar ketika ia sampai disana, Sehun masih menunggunya.

*

Di pinggiran sungai Han, tampak seorang pria berdiri berdiri menatap ke arah sungai. Pikirannya terus berkecamuk sejak tadi, orang yang ia tunggu sejak setengah jam yang lalu tak kunjung datang. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa menyesal telah kembali ke Seoul, bukan karena pernikahan Baekhyun, tentu ia akan menghadirinya, apalagi calon mempelai Baekhyun adalah mantan kekasihnya sendiri.

Seharusnya ia tidak menjanjikan jawaban untuk gadis itu tiga tahun yang lalu, meski gadis itu tidak tahu apa jawaban yang akan Sehun berikan untuknya. Kini, Sehun malah merasa membebani dirinya sendiri juga tentunya Yoojung dalam hal ini. Karena sekarang ia dibuat gusar sendiri oleh jawaban yang akan ia berikan pada Yoojung.

Tiba-tiba saja terdengar langkah lari dari belakangnya, seketika Sehun berbalik,

“Yak! Berhentilah mengejarku!”

“Tidak mau! Kau harus menerima bunga dariku dulu!”

“Tidak mau! Aku tidak menyukaimu!”

Ternyata bukan orang yang ia tunggu—lagi—kali ini ada dua pasang anak kecil yang mungkin usianya berkisar antara delapan sampai sepuluh tahun tengah saling kejar, dimana anak laki-lakinya membawa setangkai bunga matahari dan si anak perempuan berlari dari laki-laki tersebut. Jika terdengar dari apa yang mereka katakan beberapa saat yang lalu, tampaknya si anak laki-laki tengah menyatakan perasaannya pada si anak perempuan, namun si anak perempuan menolaknya. Sama seperti apa yang sedang terjadi diantara Sehun dan Yoojung. Bedanya, Sehunlah yang dikejar-kejar oleh Yoojung, bukan sebaliknya. Dan itu membuat Sehun tertawa. Namun tawanya menghilang ketika melihat seorang gadis turun dari tangga dengan langkah terburu, gadis itu tidak menyadari kalau ia menginjak tali sepatunya sendiri dan…

BUGGG

“Awww…” sungut gadis itu kemudian melihat kedua lututnya yang mengeluarkan darah. Membuat Sehun langsung berlari menghampirinya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Sehun khawatir.

“O-Oh Sehun? K-kau masih menungguku?” gadis tersebut melupakan luka di kakinya kemudian berdiri dengan tegap, menatap wajah Sehun yang masih melihat luka di kakinya. Air matanya menetes, penantiannya akhirnya berakhir sudah. Kini Sehun berdiri di hadapannya. Ia berharap ini bukanlah mimpi, makanya ia menampar pipinya sendiri.

“Awww…” sungut gadis itu lagi.

“Ada apa lagi denganmu sekarang? Mengapa kau menampar wajahmu sendiri? Kau sudah gila!?” gertak Sehun.

“Gila karenamu.” Ujar Yoojung masih tidak percaya kalau Sehun di hadapannya bukanlah khayalan belaka. Ini memang nyata. Oh Sehun. Orang yang ia sukai sejak lima tahun yang lalu.

“Bo-bolehkah aku memelukmu?”

“Apa?”

“Kumohon.”

“Tidak! Kau lihat darah di kakimu! Nanti akan menodai celanaku!”

Yoojung hanya merengut dan mulai menangis.

“Astaga, diamlah Kim Yoojung. Orang-orang akan melihat kita dan—”

“Lihatlah pria itu, sudah melukai kekasihnya, bukannya diobati malah dibuat menangis.”

“Ada apa dengan pria itu? Mengapa ia tega sekali dengan kekasihnya?”

“Chagiya, bukankah pria itu kejam sekali terhadap kekasihnya?”

“Mengapa dia tak kunjung mendiamkan kekasihnya?”

Cibiran beberapa orang di sekitar Sehun dan Yoojung membuat Sehun salah tingkah dan menunduk mohon maaf sekalian menjelaskan dengan nada lirih jika gadis di hadapannya bukanlah kekasihnya.

“Aish, baiklah-baiklaaah, aku kuberikan pelukan setelah kita pergi dari sini untuk mengobati lukamu, oke?”

“SETUJU!” jawab Yoojung bersemangat lalu menarik tangan Sehun pergi dari sungai Han. Ia bahkan melupakan rasa nyeri di kakinya hanya karena penawaran Sehun beberapa saat yang lalu.

*

~Recommended Song : Howl_Have I Told You~

“Tidak pernah berubah, selalu ceroboh, bodoh dan tidak tahu malu.” Cibir Sehun sambil mengoleskan alkohol untuk membersihkan kuman di lutut Yoojung yang terluka, seolah mengabaikan rasa nyeri di kakinya, Yoojung terus menatap dengan teliti wajah Sehun bahkan mungkin tidak dengan berkedip, ia takut jika dirinya berkedip, mungkin saja Sehun hilang dan meninggalkannya sendirian lagi.

“Rambutmu tetap panjang tak terurus, tak pernah kau ikat dan lihatlah kaos kakimu, selalu panjang sebelah.” Sehun bahkan sampai tahu detail dirinya, padahal selama ini ia selalu berkata tidak pernah peduli dengan apa yang ada pada Yoojung meski Yoojung bersikeras berkata kalau ia yakin bahwa Sehun diam-diam memperhatikannya, dan see? Sehun memang memperhatikannya sampai sedetail itu.

“Masih tetap terlalu bersemangat, padahal jelas-jelas tidak ada yang perlu kau semangatkan dari hidupmu yang sebenarnya tidak ada yang bermanfaat.” Ejek Sehun lagi, tetapi Yoojung tidak peduli dan terus tersenyum memandangi wajah Sehun.

“Kau juga tidak berubah.” Tutur Yoojung kali ini.

“Sok tahu.”

“Iyaaa, kau tetap Oh Sehun yang tampan.”

“Sudah sejak dulu.”

“Tapi sekarang jauuuuuh lebih tampan.”

“Tadi kau bilang aku tidak berubah.”

“Iya, kau dan sikap pura-pura cuek dan dinginmu itu.”

“Pura-pura?”

“Karena hanya kau dan kaulah orang pertama yang berkata kalau kaos kakiku panjang sebelah, sejak SMA. Bukankah itu tandanya kau tidak berubah, kau tetap memperhatikanku. Secara diam-diam tentu saja.” Ujar Yoojung penuh percaya diri. Sehun terdiam lalu menyelesaikan pekerjaannya dengan menutup luka di lutut Yoojung dengan plester.
“Lucu sekaliii, lihat… gambar kucing dan anjing. Seperti kau dan aku.” Ujar Yoojung senang melihat gambar di plesternya.

“Aku tidak mau disamakan dengan binatang. Kau saja yang menjadi kucing.” Ujar Sehun.

“Tidak apa-apa, asal tidak ulat bulu. Hiiih.” Ucap Yoojung geli, membuat Sehun tertawa melihat tingkahnya.

“Kau masih takut dengan ulat bulu?”

“Tentu saja! Seumur hidupku aku tidak akan pernah berdamai dengan mahkluk menjijikkan itu.” Tutur Yoojung sambil memajukan bibirnya.

“Kau benar-benar tidak berubah.”

“Kapan kau datang?”

“Sudah sejak seminggu yang lalu.”

“MWO!? DAN BARU MENEMUIKU SEKARANG!? KAU JAHAT SEKALIIII.”

“Kau saja yang tidak berusaha mencariku.”

“Aku terus mencarimu Oh Sehun! Aku selalu ke sekolah, sejak tiga tahun yang lalu, aku selalu ke sekolah seminggu tiga kali, aku pergi ke toko buku langgananmu seminggu dua kali, aku pergi ke café milik Chanyeol seminggu lima kali, aku pergi ke kedai ramyun kesukaanmu seminggu tiga kali, aku pergi ke—”

“Tapi kau tidak pergi ke rumahku.”

“A-aku…aku mana mungkin pergi kesana.”

“Kau takut?”

“Ada anjing besar di rumahmu, ada tiga, astaga…dan setelah ulat bulu, aku paling takut dengan anjing. Lebih baik aku mengurung diriku di dalam gudang penyimpanan beras daripada harus berhadapan dengan anjing sebesar itu.” Gerutu Yoojung dan lagi-lagi sukses membuat Sehun tertawa.

“Kau tak pernah lelah mencariku ke tempat-tempat yang kau sebutkan tadi?” Tanya Sehun dan Yoojung menjawab dengan gelengan kepala.

“Aku bahkan akan tetap melakukannya hingga sepuluh tahun kemudian jika saat ini aku tidak bertemu denganmu.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja! Kau harus percaya dengan kesetiaanku.”

“Meski aku menolakmu kau tetap setia menjadi pengagumku?”

Yoojung menunduk dan terdiam, kemudian mengangguk pelan. Kemudian terjadi hening yang cukup panjang, bahkan helaan napas mereka berdua sampai dapat terdengar. Beberapa daun pohon di depan tempat mereka duduk mulai berguguran karena tidak lama lagi akan datang musim gugur.

“Jadi… kapan kau akan memberikan jawabanmu? Apakah aku masih harus menunggu?” Tanya Yoojung hati-hati.

“Aku akan memberikan jawabannya.” Sehun kemudian mengangkat dagu Yoojung dengan tangannya, perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Yoojung.

Ketika jarak antara bibir keduanya tersisa beberapa millimeter lagi, Sehun berbisik dengan sangat lirih, “Aku sangat merindukanmu.” Ucapnya sebelum akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Yoojung.

Tubuh Yoojung terasa tersengat puluhan ribu volt listrik, mengalir ke sekujur tubuhnya bahkan hingga ke dalam saraf otaknya. Semuanya kacau, Yoojung tak dapat berpikir jernih lagi, kemudian keduanya memejamkan mata mereka dan menikmati ciuman mereka yang cukup panjang durasinya, sehingga Yoojung memukul dada Sehun dan akhirnya Sehun melepas ciumannya.

“Sudah tahu apa jawabanku sekarang?”

“Kau menerima pernyataan cintaku?”

“Kau pikir ciumanku tadi berarti iya dariku?”

“Tentu saja!”

“Tidak.”

“Mwo?”

“Aku tetap tidak akan menerima pernyataan cintamu.”

“M-mwo?” mata Yoojung mulai berkaca-kaca. Ia tak bisa membendung tangisannya lagi kali ini. Bahkan isak tangisnya kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya.

“Menangis saja terus. Aku akan meninggalkanmu disini kalau kau terus menangis seperti itu.”

“Biar saja, hiks…hiks…aku akan meminta Min Hyuk oppa menjemputku.”

“Dia lagi, Min Hyuk sunbae lagi, kau masih saja menyebut nama itu. Bukankah katamu kau hanya menyukaiku di dunia ini? Tetapi mengapa selalu ada namanya yang terlontar dari bibirmu, huh?”

FLASHBACK

1st August 2014

“Kau akan tetap disini?”

Yoojung mengangguk, padahal jelas-jelas hujan sudah turun dengan derasnya, bukannya menerima tawaran Hana untuk pulang dengan mobil jemputan Hana.

“Aku akan pulang bersama Min Hyuk oppa, rumahku dan Min Hyuk oppa kan searah.”

“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa Jung-ah.” Tutur Hana yang kemudian melambai pada Yoojung.

Dan tanpa Yoojung sadari, ada Sehun di balik pilar sekolah yang tengah meremas kesal payung yang ada di tangannya.

 …

9th August 2015

“Kau tidak mengejar Sehun? Tumben.” Tanya Soojung ketika melihat Yoojung membiarkan Sehun berjalan pergi dari kolam renang. Kebetulan kelas Yoojung dan Sehun hari ini mengadakan praktik renang secara bersamaan.

“Emm, sebenarnya ingin sih, tetapi aku sedang menunggu Min Hyuk oppa untuk meminjamkanku buku biologinya. Kau ke kelas saja duluan.” Tutur Yoojung lalu berjalan pergi.

Dan tanpa Yoojung sadari, ada Sehun yang baru selesai mengganti seragam dan mendengar perbincangan singkat mereka berdua tadi. Sehun langsung meremas handuk kecil di tangannya dengan geram dan melemparnya ke belakang hingga mengenai wajah Chanyeol.

“Ada apa dengan pria itu?” Tanya Baekhyun.

“Akhir-akhir ini dia memang sering marah tanpa sebab.” Jawab Chanyeol setelah mengangkat bahunya.

 …

18th September 2015

“Ini adalah lagu kesukaan Min Hyuk oppa.” Ujar Yoojung saat memutar lagu EXO yang berjudul Peter Pan.

“Min Hyuk oppa juga sangat menyukai Sistar dan CNBlue.” Lanjutnya.

“Kau lebih mengetahui banyak tentang Min Hyuk oppa daripada Oh Sehun, ya?” tutur Hana lalu menyikut lengan Soojung.

“Bukan begitu, kebetulan jika ia bermain ke rumahku dan menemui Taehyung, mereka berdua sering mengcover lagu bersama, jadi aku bertanya saja Min Hyuk oppa sangat menyukai lagu apa.”

“Ohh begitu rupanya.” Jawab Soojung kemudian.

Dan tanpa mereka bertiga ketahui, tak jauh dari tempat mereka duduk, ada Sehun yang kehilangan konsentrasinya dalam membaca novel karena Yoojung baru saja menyebutkan nama Min Hyuk dan terdengar di telinganya.

FLASHBACK END

Yoojung menghentikan tangisannya dan menatap Sehun senang lalu menghapus air matanya, “Kau cemburu yaaaa?” goda Yoojung kemudian.

“Tidak, biasa saja. Berharap saja terus kalau aku akan cemburu dengan pria yang bahkan sedikit lebih pendek dariku itu.”

“Sombong! Mentang-mentang tubuhmu semakin jangkung.”

“Sudah selesai kan menangisnya? Ayo kuantar saja kau pulang.”

“Kan sudah kubilang aku—”

“Berhenti menyebut nama pria itu di hadapanku!”

“Memangnya nama siapa yang akan aku sebutkan?” goda Yoojung terus.

“Kang Min Hyuk. Siapa lagi!”

“Yak! Panggil dia hyung! Dia lebih tua tiga tahun dari kita.”

“Apa peduliku!?”

“Nah kaaan kau cemburu.”

“Tidak!”

“Itu tandanya kau menerima cintaku, kaaan?”

“Tidak!”

“Ah, katakan saja iya! Akhirnyaaaa! Oh Sehun resmi menjadi kekasihku jugaaaa!”

“Jangan mimpi!”

“Sudahlah, katakan saja iya! Kau bahkan sampai sangat merindukanku sebelum memberikan ciumanmu untukku.”

“Diamlah!” pipi Sehun kini mulai memerah.

“Jadi kau serius menerima pernyataan cintaku? Akhirnyaaaa, penantianku berakhir jugaaa! Yeaaay! Sehun resmi menjadi milikku sekarang!” Yoojung langsung mendekap erat tubuh Sehun.

“Kau pikir aku barang? Sudahlah diam! Jangan melakukan hal bodoh lagi. Dan menjauhlah dariku! Jangan memelukku seperti ini!”

“Baiklah, sayaaaang.”

“Dan jangan memanggilku sayang! Aku tidak suka!”

“Uhh, memangnya kenapa? Kan kita sudah menjadi sepasang kekasih sekarang.”

“Aku tidak suka pokoknya! Terdengar menjijikkan!”

“Kalau begitu Min Hyuk oppa saja yang kupang—”

“Yak! Berhenti menyebut namanya!” Sehun kemudian menarik Yoojung ke dalam pelukannya dan mengacak kesal rambut Yoojung.

“Yaaah! Oh Sehuuun! Rambutku jadi berantakan kalau kau acak terus!”

“Biar saja! Kau memang gadis berantakan sejak dulu.”

*

EPILOG

~Recommended Song : Super Junior KRY_Loving You~

“Jadi bagaimana dengan kehidupanmu di Amerika? Apakah menyenangkan? Apakah salju disana sama dinginnya dengan salju di Seoul? Apakah kau sudah dikenal banyak orang disana? Ap—”

“Jika kau tidak diam dan terus bertanya padaku, kau akan kuturunkan disini.” Ujar Sehun kemudian.

“Kan aku penasaraaaan.”

“Kau bisa tanyakan di lain waktu.”

“Kalau begitu jawab saja satu pertanyaanku.”

“Apa?”

“Kapan kau akan debut di Amerika?”

“Itu tidak akan pernah terjadi.”

“Mwo!? Bagaimana bisa? Mengapa menjadi trainee disana lama sekali.”

“Aku memutuskan untuk keluar dari agensi.”

“Mwo!? Waeyoooo?”

“Aku kembali untuk dirimu. Tidakkah kau senang?”

“Mwo? Demi aku? Hmmmm, benarkah? Jadi kau benar-benar mencintaiku kaaan? Astaga Sehuuuun, aku tidak tahu kalau kau akan semanis ini padaku.”

“Hey! Hey! Hey! Aku sedang menyetir dan berhentilah bergelayut seperti itu di lenganku. Bagaimana jika terjadi kecelakaan!?”

“Tidak apa-apa, asalkan aku mati denganmu.”

“Yaaak! Aku bahkan masih mau hidup! Kau saja sana yang mati duluan!”

“Uhh, kalau aku mati duluan nanti kau pasti akan terus menangis di dalam kamarmu karena tidak merelakan kepergianku, kau menjadi gila karena kehilangan diriku, kau—”

“Jangan asal berbicara! Dasar perempuan aneh.”

“Tapi kau cinta, kaaan?”

“Ugh! Seharusnya aku membiarkanmu galau menanti kepulanganku saja daripada melihat kau seperti ini di hadapanku.”

*

 

F I N

SORRY FOR TYPO(s)

.

.

.

FINIIIISHHHH!!!!!!!!!

Semoga endingnya cukup memuaskan

Semoga aja aku gak bosan sama mereka berdua ya? Karena saat bosan dengan pengen ganti pairing, gagal move on melulu dan CLBK lagi sama couple ini.

.

Salam Alay as alwayssss

.

QueenXissi

P.S. !!!

Oh iyaaa, untuk beberapa chapter (mulai chapter awal) yang dikomen oleh readers lebih dari 50 komentar akan aku kasih bonus unwritten story di chapter tersebut. Mungkin akan lebih singkat lagi jadiiii… selamat menunggu ya *CHUUUUU*

53 responses to “My Beautiful Yoojungie #FINAL

  1. Sehun ternyata dari dulu udah perhatian sama yoojung,cuma gara gara gengsi aja dia kejam kayak gitu,tapi setelah penantian yoojung yang lama akhirnya sehun ngasih keputusan dan mereka jadian,wah…sweet banget
    Gemes sama sehun,terny dia bisa juga manis gitu,jadi pengen digituin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s