[Freelance] Beetween Love and Death

62-copy

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Oh Sehun | Kiyomizu Hanna

【Other Cast】

【Chanyeol Park | Kim Junmyeon | Kiyomizu Tzuyu】

|More|

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance,

Action, Friendship, Family」

『PG 16』

ǁJapan| and ǁKorea|

「Chaptered」

Without you know, love can kill yourself.

Black Ocean. Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar nama ini? Akankah kalian berpikir kalau tiga silabel itu berhubungan dengan artis yang tak mendapat lightstick dari fandom lain? Bukan! Ini bukan tentang para idol yang kalian banggakan. Melainkan ini tentang sebuah gangster yang paling ditakuti di negeri sakura—Jepang.

Nama itu memang asing. Karena mereka tak pernah menampakkan diri dengan identitas yang mencolok. Alhasil, mereka masih bisa hidup tenang walau sebenarnya mereka berdarah dingin ketika malam. Kelompok ini dibentuk oleh keluarga Kiyomizu—salah satu silsilah keluarga terkaya di Jepang. Dengan lebih dari dua ribu anggota yang tersebar di Jepang dan juga Korea Utara.

Kiyomizu Suzuki. Nama itu sudah terkenal di kalangan gangster di dunia. Bahkan namanya selalu dipuja ketika para gangster tengah berkumpul. Menampakkan beberapa orang kepercayaannya yang ikut tenar tanpa sengaja. Seperti sekarang. Ia bahkan menjadi buah bibir karena keberhasilannya mengalahkan kelompok Yakuza yang ketahuan akan menyerang Black Ocean. Siapa yang tidak memujinya? Kelompok Yakuza itu sudah berdiri sejak 1612. Tentu saja semua menjadi gempar.

“Yakuza tidak akan bisa dikalahkan,” argumen pria gemuk dengan jas hitam dan dasi merah yang meletakkan gelas berisi birnya di atas meja. Senyum meremehkan pun nampak kentara. Bahkan Suzuki Kiyomizu sudah mengepalkan tangannya di sisi tubuh—menahan amarah. Jika tidak ingat dengan tempatnya berpijak, maka tangannya sangat ringan di bandingkan pembunuh ahli di luar sana.

“Memang benar,” ia akhirnya angkat bicara setelah bungkam seribu bahasa. Senyumnya pun masih enggan hilang, karena itu salah satu ciri khasnya. Pria itu memang nampak baik, namun hatinya benar-benar kejam. “Setidaknya aku masih berbaik hati tak membuat mereka mati kutu di Korea Utara.” Sambungnya kemudian. Para pendukung Black Ocean lantas tersenyum. Pembawaannya begitu tenang, seolah tanpa beban.

“Aku di sini untuk memperingatkanmu, Yoshio. Jangan mengulangi kesalahn lagi seperti ini.” Kini, tatapan elangnya ia tunjukkan menuju seorang pria yang tengah bersandar di sandaran kursi. Mendengar namanya dipanggil, Yoshio lantas mendongak. Jangan terkejut jika raut keduanya begitu tenang seperti sedang menonton bioskop. Mereka semua psikopat yang tidak bisa dipercaya. “Hanya itu yang ingin aku katakan.” Suzuki lantas bangkit. Meninggalkan para ketua anggota gangster yang menatapnya tak suka.

“Dimana Tzuyu dan Hanna?”

Pria berbadan tegap disampingnya lekas menjawab, “Mereka sedang ada dimarkas.”

.

.

.

Seribu kata serupa makian dan juga umpatan sudah ia ucapkan sejak tadi. Sang kakak yang tiba-tiba pergi tanpa ada alasan yang jelas pun membuat kepalanya semakin pusing. “Anda baik-baik saja?”

Gadis berparas cantik itu mengangguk, lalu mengangkat tangan kanannya. “Aku baik-baik saja, kau bisa pergi.” Ucapnya. Pria itu lekas menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat, lalu berbalik. Belum genap satu langkah terukir, atasannya memanggil. “Hei, kau!”

Pria itu cepat-cepat berbalik. “Siapa namamu?”

“Kim Junmyeon,” ujarnya dengan nada gugup yang untungnya bisa segera dinetralisir. Gadis bermarga Kiyomizu itu berdiri, lantas berujar. “Kau anggota baru dari Korea itu ‘kan?” tebaknya. Junmyeon yang awalnya terkejut hanya membulatkan mata. Namun setelahnya, ia membenarkan. “Kami juga punya beberapa anggota dari Korea.” Ucapnya sembari menyentuh rahang pria itu. Menarik earphone putih yang tak terpasang di telinga pria Kim itu.

“Pakai,” pintanya. Bukannya segera menuruti Junmyeon yang masih bingung malah menyernyit. “Pakai atau kupastikan telingamu tinggal satu.” Tambahnya. Well, ia tak pernah main-main dengan ucapannya. Menyadari kekolotannya yang bertindak lama, Junmyeon segera menuruti perintah sang tuan. Gadis itu tersenyum. “Bukankah akan lebih bagus kau memakainya sebelum aku menyuruh?” tanyanya sarat akan peringatan.

“Jangan terlalu keras dengan rookie, Han.”

Suara bariton yang menyebalkan—menurut Hanna—akhirnya kembali. Sudah lama tak bertemu berkat pindah tugas pria itu, hingga ia yang harus menanggung rindu. Kentara terkejut, Hanna tersenyum tipis. Bahagia, namun juga marah menguasai dalam satu waktu. “Sehun,” gumamnya. Sang empunya tergerak maju. Mengikis jarak untuk mendekati si anak baru. “Kau bisa pergi,” titah Sehun sambil menepuk bahu Junmyeon. Merasa mendapat kode, Junmyeon langsung pamit undur diri.

Suara dentuman pintu jati besar ruang Hanna membuat Sehun yakin bisa memeluk gadis Kiyomizu itu. Namun diluar pikiran, Hanna justru mengangkat FN 57 miliknya. “Jangan pikir kau bisa dengan mudahnya menyentuhku,” ucapnya.

Sehun cepat-cepat mengambil gesture  menyerah. Mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan raut muka yang kentara bingung. “Hanna, aku masih menyukaimu. Kalau kau mau tahu,”

Alih-alih menurunkan senjatanya, Hanna justru menggendikkan bahunya acuh. “Peduli apa?” ucapnya sarkastik. Agaknya masih tak percaya dengan kesungguhan pria di hadapannya itu. Kini, Hanna mulai menarik slide pistolnya dengan tenang, tanpa menggeser sedikitpun sasaran. “Sudah siap?” tanyanya.

Sehun hanya bisa pasrah. Kemungkinan besar Hanna hanya bercanda. Namun tak menutup kemungkinan juga Hanna akan membunuhnya karena tahu ‘bermain’ sebelum kembali ke markasnya. Sehun tak perlu memusingkan bagaimana Hanna bisa tahu semua pergerakannya. Kelompok mereka punya banyak mata-mata yang tersebar di mana-mana—mengingat Black Ocean sudah tersebar di beberapa negara, termasuk negara yang baru disinggahinya, Korea Selatan.

“Kau tak takut berselingkuh dariku, tapi kau sangat takut dengan senjataku.” Ujarnya sembari menurukan FN 57 kebanggaannya. “Pecundang!” tambahnya. Saat dirasa nyawa sudah tak terancam, Sehun lekas ikut menurukan kedua tangannya. Mengais jarak demi membawa sang gadis kedalam rengkuhan. “Maafkan aku untuk yang satu itu,” ucapnya dengan nada seduktif. Membuat Hanna yang tadinya dikendalikan oleh amarah semakin tersulut emosinya. Ia tak mau berakhir di dalam kungkungan pria Oh itu hanya sebagai pelampiasan nafsu.

“Well, kau selalu mengulanginya, lalu meminta maaf. Dan akhirnya aku akan mengalah—” tangan Hanna mendorong dada bidang Sehun. Menciptakan jarak demi menelusuri rahang tegas sang kekasih. Tatapannya masih dingin, kentara amarah masih mendominasi. “—lagi.” Tambahnya. Setelah itu ia menepuk pipi Sehun dua kali.

Sehun hanya bisa merasakan bekas tangan lembut Hanna setelah gadis itu mengambil langkah pergi. Meninggalkannya sendiri agar bisa merenungkan kesalahan. Dan waktu yang diberikan Hanna benar-benar dimanfaatkan Sehun untuk intropeksi diri. Ia benar-benar menyadari kebodohannya. Ketika sang gadis masih mempertahankan harga diri ditengah kejamnya hidup sebagai seorang gangster, ia justru berbanding terbalik dengan sang kekasih. Sudah terbiasa dengan lingkungannya yang sekarang, hingga tak peduli dengan definisi dosa. Dunia memang sudah gila.

.

.

.

Kedua insan itu masih saling berhadapan. Si gadis tetap bertahan dengan kesedihannya dan sang pria yang dibuat bingung harus melakukan apa. Yang pasti, Chanyeol—nama pria itu—tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan sang sahabat. “Tzuyu-ah,” panggil Chanyeol. Namun, sang empunya nama justru menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangan. Lagi-lagi Chanyeol diacuhkan.

“Aku tahu kau masih sedih, tapi Kai bukan pria yang baik.” Ujarnya membuka percakapan. Ia nampak seperti pacar yang ketahuan berselingkuh, lalu membuat gadisnya menangis. Apalagi tempat mereka berpijak adalah cafe. Guna meredam spekulasi tak berdasar seperti itu, maka Chanyeol lekas menarik tangan Tzuyu keluar. Mencari udara segar yang sekiranya bisa menenangkan pikiran.

“Masih sedih?”

Tzuyu mengangguk. Ia pun merutuki air matanya yang menetes tanpa disadari. Padahal ia sudah berusaha menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi kekosongan paru-parunya. Ini sebenarnya salah. Yang kosong itu hatinya, dan ia butuh seseorang yang ia sayangi untuk mengisinya. “Salah sendiri kenapa tak mau menerimaku.”  Ucap Chanyeol tiba-tiba. Menghasilkan  tatapan geli Tzuyu yang berjalan santai di sampingnya.

“Lepas dulu kaca matamu, maka aku akan menerimamu.”

Entah kenapa kalimat itu terucap, Tzuyu pun tak tahu. Ia hanya menyampaikan pendapat yang sekiranya bisa menghentikan ocehan Chanyeol. Namun, bukannya berhenti bicara, Chanyeol justru lekas menimpali dengan senang. “Benarkah?”

Tzuyu tergeragap. Ia lekas meralat kalimatnya, “Maksudku—”

“Diam-diam kau menyukaiku, ya?” tebak Chanyeol yang dibalas satu pukulan telak di perut. “Sekali lagi kau mengatakannya, maka aku akan—”

Kalimat Tzuyu lagi-lagi terinterupsi berkat tangan kekar pria itu menariknya dalam rengkuhan. Dagu Chanyeol pun tersandar di atas bahu Tzuyu. Menghirup aroma lembut yang menguar, lalu melirik kembali pria yang berdiri beberapa meter dari keduanya.

Pelukan nampaknya tak cukup berhasil mengusir pria yang sudah mengkhianati Tzuyu dan itu pergi. Ia akhirnya menarik tengkuk Tzuyu dan menyapu lembutnya bibir tipis gadis keturunan Jepang-China itu. Membiarkan akal yang tadinya hendak membantu justru hati ikut andil. Hingga ia tak bisa berhenti dari manisnya cherry gadis dihadapannya.

“Chan,”

Chanyeol pun akhirnya menghentikan kegiatan mereka sejenak. Tzuyu sudah kehabisan napas, dan sepertinya Kai—mantan kekasih Tzuyu—sudah pergi. Cepat-cepat Chanyeol mengambil jarak, agar libido tak mengambil alih kuasa akal. “Maaf. Aku tidak bermaksud lancang,” sesalnya. Ia hanya bermaksud mengusir Kai agar tak mengganggu sahabatnya lagi, namun mengingat Kai yang tak peduli situasi, akhirnya ia memilih ‘jalan pintas’ yang benar-benar bodoh.

“Aku ingin pulang.”

.

.

.

Semuanya masih sama seperti dulu. Sehun akan berbuat salah, dan Hanna akan memaafkannya. Karena gadis Kiyomizu itu tahu, semua laki-laki di kelompoknya sudah menganggap itu hal yang biasa. Dan yang bisa Hanna pasrahkan hanyalah sudut bibirnya yang akan berdarah berkat ulah sang kekasih.

“Lakukan di tempat lain, okay?”

Jika suara sopran serak itu tak menggema, mungkin Sehun masih melanjutkan aktivitasnya. Mengungkung si gadis dengan kedua tangan, lantas memojokkannya di dinding lorong bawah tanah. Memang gila yang dilakukan Sehun, namun gadisnya itu masih tetap merajuk dan enggan memberikan maaf walau dua silabel itu sudah terucap. Sekali lagi, kesalahan itu untuk memperbaiki diri, namun Sehun melakukannya untuk membuktikan apakah Hanna menyukainya atau tidak.

Pria Oh itu memang keterlaluan dengan caranya, namun kuriositasnya itu tak pernah terpuaskan berkat wajah cantik nan dingin itu. Hanna lekas menghentikan pergerakan Sehun, lantas melayangkan tatapan tajam pada Tzuyu. Mengingat sang kakak baru saja meninggalkannya dengan segudang ‘rutinitas’ yang harus ia jalani sendiri. Kedua tangannya yang mencengkeram jaket Sehun pun teralih mendorong dada tegap itu, lalu melenggang pergi. Menarik sang kakak untuk dimintai penjelasan.

Sehun pun hanya bisa menghela napasnya kasar. Ini kesempatan untuk mencium Hanna—mengingat gadis itu sulit didekati jika tanpa alasan palsu yang ia ucapkan. Entah mengajak menemui target, ataupun mencari pemasok senjata baru. “Sial!” gerutu Sehun sambil memukul dinding tak bersalah dihadapannya.

Di lain sisi, Hanna menyeret tangan sang kakak menuju tempat lain yang lebih sepi. Mengatakan satu kalimat tanya yang membuat Tzuyu bingung. “Kau darimana?”

Guna menghilangkan rasa curiga, Tzuyu pun lekas memasang wajah datar khasnya. “Pergi,” jawabnya singkat, lalu mengambil langkah untuk lekas meninggalkan sang adik. “Kau menemui Kai ‘kan? Bukankah sudah kukatakan pria itu hanya akan—”

“DIAM!”

Suara pekikkan itu membuat jantung Hanna berhenti berdetak. Ini memang bukan pertama kalinya gadis yang lebih tua darinya dua tahun itu membentaknya, namun Hanna terkejut karena pekikkan itu syarat akan kesakitan yang mendalam. “Imo,”

“Jangan ikut campur urusan pribadiku,” Tzuyu mengingatkan. “Kau bukan siapa-siapa,” sambungnya. Hanna memang tak bodoh jika Tzuyu tak menganggapnya sebagai adik. Namun, hanya kalimat itulah yang bisa membuat Hanna berhenti memanggilnya. Ia tak suka.

“Sampai kapan kau akan membenciku?” tanya Hanna pelan. Tzuyu pun hanya bisa menoleh, namun didetik kemudian suara soprannya menimpali. “Sampai kau tahu kebenarannya.”

Dialog itu selalu berakhir dengan pertanyaan Hanna dan jawaban ringan Tzuyu. Kedua kakak-beradik itu selalu bertengkar dan berakhir dengan percakapan dan kalimat yang sama persis. Hanna sebenarnya tak tahu maksud yang sebenarnya, namun yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan membiarkan kakaknya pergi. Tak cukupkah satu marga yang melekat menandakan bahwa mereka bersaudara? Hanya waktu yang bisa menjawab.

.

.

.

“Aku akan mati, Sersan.”

“Kenapa Komandan mengirimkan orang sepertimu?” gerutu Sehun pelan. Ia hanya bisa mengacak rambutnya asal. “Kau bahkan tak pandai akting sama sekali,” tambahnya dengan suara yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Pria yang dihadapannya itu lekas menimpali. “Jikalau Anda menyelesaikan tugasnya lebih cepat, maka Saya masih akan menjabat sebagai sersan tim Alpha di Korea.”

Diam-diam tangan Sehun hampir menyentuh pistol di saku dalam jasnya. “Persetan dengan waktu, aku tak bisa mendapatkan tuduhan apapun yang bisa lebih memberatkan mereka.” Ucap Sehun. Pria dihadapannya itu menyernyit. Kenapa bingung? Dakwa saja mereka dengan tuduhan pemalsuan uang dan juga kasus judi serta prostitusi. Selesai bukan?

“Mereka bisa didakwa dengan tuduhan—”

“Tak semudah itu,” Sehun menginterupsi. Tangannya tergerak memijit pelipis, meredam pening yang mulai menyerang kepala. “Jika kau mendakwa mereka dengan kasus yang ada di dalam otakmu itu, maka tak akan berpengaruh.”

“Maksudnya?”

Sehun mengambil berkas yang ada di atas meja, lantas mengulurkannya ke arah Junmyeon. “Dia perdana menteri, Kurenai Suzhiro mendapatkan bantuan dana untuk partainya dari Black Ocean. ” jelasnya. Tak menunggu dua detik untuk melihat Junmyeon terbelalak. Pria itu tahu apa maksud Junmyeon sekarang. Jika Black Ocean dituduh dengan segala bentuk kekejamannya, maka semua nama petinggi akan jatuh. Dan berdampak bagi perekonomian Jepang sendiri. Mereka memang pintar—pikir Junmyeon.

“Jadi,” Sehun memecah keheningan. “Jangan gegabah dan ikuti perintahku. Aku jauh lebih mengerti tempat ini dibandingkan denganmu.” Ucapnya. Junmyeon hanya bisa menuruti titah sang pimpinan. “Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Tetap pada rencana. Aku yang akan mengambil andil besar dalam operasi ini.”

「TBC」

Perkenalkan aku, freelancer baru di SKFI. Udah lama jadi readers di sini, tapi baru punya nyali buat ngirim FF. Kalian bisa temuin aku di http://putrisafira255site.wordpress.com untuk lebih lanjutnya. Terima kasih sudah RCL J

9 responses to “[Freelance] Beetween Love and Death

  1. Waaaaa love bgt deh aku suka nih kalo cerita yg kayak gini temanya asal jangan sad ending aja kayak yg biasa ku baca huhuhu.. see you next!!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s