Unspeakable Secret | 6th Chapter

unspeakable mancay

 

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

 

STORYLINE BY NISA

POSTER BY dyzhetta @ Art Fantasy

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 15

 

Previous Chapter

[BAB 1] || [BAB 2] || [BAB 3] || [BAB 4] || [BAB 5]

===

 

HAPPY READING😀

 

Ini adalah hari keberangkatan Leera ke Pattaya, Thailand. Tadi pagi ia mendapat pesan dari nomor tak dikenal; yang ternyata merupakan nomor milik Kim Jongin yang memberitahu bahwa ia diperintahkan untuk langsung ke bandara dan menuju ke terminal keberangkatan luar negeri.

Dan disinilah Leera berada sekarang, di terminal keberangkatan luar negeri. Ia baru saja selesai check-in dan kini hanya tinggal menunggu waktu boarding pass, sekitar 30 menit lagi.

Leera menemukkan kejanggalan, yaitu: mengapa hanya ada ia seorang diri disini. Bukankah perjalanan bisnis setidaknya di ikuti oleh tiga orang? Apalagi ini perjalanan keluar negeri untuk sebuah proyek penting. Tidak mungkin hanya ia seorang diri yang ditugaskan mengurus proyek sepenting itu bukan?

“Kim Leera-ssi,” panggil sebuah suara, otomatis Leera menoleh.

“Ah, Kim Jongin-ssi. Sedari tadi aku mencarimu,” ucap Leera jujur. Karena ia persis bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya sekarang.

“Ini adalah file yang harus kau pelajari untuk beberapa pertemuan di Pattaya nanti, kalau ada yang ingin kau tanyakan kau bisa hubungi aku, karena kebetulan aku tidak ikut ke Pattaya,” jelas Jongin, dan pastinya Leera terkejut. Apakah ia benar-benar akan berangkat seorang diri ke Pattaya?

“Omong-omong, aku bukan satu-satunya karyawan yang ditugaskan dalam perjalanan bisnis ini ‘kan? Tapi kenapa aku tidak melihat siapapun?” tanya Leera karena ia sudah tak tahan lagi bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan tak mendapat jawaban apapun pastinya.

“Tenang saja, akan ada lima karyawan lainnya yang ditugaskan bersama denganmu. Tapi mereka mengambil penerbangan tengah malam nanti dikarenakan ada beberapa urusan yang belum selesai.” Jongin tersenyum meyakinkan, dan akhirnya Leera bisa bernapas lega karena setidaknya rasa penasarannya terjawab.

“Ah, arraseoyo. Berarti aku tetap berangkat sendiri siang ini?” jawab Leera dengan sedikit menampakkan kekecewaan di wajahnya.

“Tidak, Leera-ssi. Anda akan berangkat bersama Direktur Oh siang ini, maka dari itu kami memberimu tiket first class agar tidak terpisah dengan Direktur Oh. Well, kau harus bersyukur karena tiket first class ini biasanya hanya diberikan untuk para direktur dan presdir.”

Ne?! Bersama Oh Sehun? Bagaimana bisa…” kali ini Leera bukan penasaran lagi, melainkan ia terkejut setengah mati. Oh ayolah, ini benar-benar tidak mudah dipercaya.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Jongin tidak bermain-main dengan perkataannya. Buktinya kini Leera sedang berada di pesawat hanya berdua dengan Oh Sehun. Rasanya Leera ingin lompat dari pesawat ini sekarang juga, karena ia dilanda kebosanan yang luar biasa saat ini, dan sialnya mereka baru akan sampai di Pattaya dalam waktu kurang lebih delapan jam lamanya.

Leera akhirnya memutuskan untuk mencuci mukanya sebentar di kamar mandi agar setidaknya pikirannya bisa sedikit lebih jernih jikalau kulitnya terkena air. Saat ia bangkit dari duduknya, tiba-tiba tangan Sehun menariknya dan seketika ia merasakan sengatan listrik berdaya kecil yang menjalar di sekujur tubuhnya saat kulit Sehun mengenainya. Sontak ia menepis tangan Sehun.

“Kau mau kemana?” tanya Sehun sembari tersenyum tipis.

“Aku mau ke kamar mandi sebentar, permisi,” ujar Leera sebelum akhirnya menghilang dari pandagan Sehun.

Sepeninggal Leera, Sehun hanya bisa mengepal tangannya kuat-kuat menahan desakkan dari pusat tubuhnya. Beberapa jam berada di sebelah Leera berhasil membuat gairahnya naik, padahal Leera tidak memancingnya sama sekali. Oh ayolah, Leera bahkan mengenakan pakaian cukup longgar berlengan panjang dan celana panjang, bagaimana bisa dengan melihat itu saja sudah berhasil membuat Sehun terangsang.

Ia memang tidak terlalu kuat dalam meminum alkohol dan ia juga tidak pernah merokok. Namun untuk urusan ranjang, Sehun tidak dapat ditoleransi sama sekali. Ia bahkan sanggup melakukan hubungan ranjang selama delapan jam non-stop, gila bukan?

Akhirnya beberapa menit kemudian Leera kembali ke kursinya dengan beberapa butir air yang masih terlihat jelas di wajahnya, rambut cokelatnya yang semulai ia gerai kini di gulung asal ke atas sehingga menambah kesan seksi bagi Sehun, dan tentu saja gairahnya semakin menggebu-gebu.

Leera kembali ke posisinya yaitu duduk di sebelah Sehun dan memasang headset berwarna putih ke telinganya dengan santai, tidak sadar bahwa Sehun sedang menatapnya penuh nafsu saat ini.

Beberapa lama kemudian, pramusaji pembawa minuman mendorong meja yang terdapat beberapa macam minuman mulai dari jus hingga wine.

“Permisi, Tuan, Nyonya. Apakah Anda menginginkan jus, sirup, atau wine mungkin?” tanya Pramusaji tersebut.

“Jus strawberry, juseyo,” jawab Leera sembari tersenyum manis, lalu pramusaji cantik itu segera memberikan segelas jus strawberry pada Leera.

“Aku pilih wine, tolong berikan aku dua gelas sekaligus,” kini Sehun yang bersuara. Sebenarnya Sehun memang tak pandai meminum alkohol seperti apa yang ku katakan tadi, namun ia sengaja meminta wine agar ia bisa melupakan nafsunya yang sedang menggebu saat ini.

Setelah memberikan dua gelas wine pada Sehun, kedua pramusaji tadi langsung pergi menuju ke penumpang lainnya.

Sehun langsung meneguk sampai habis seluruh winenya tanpa memperdulikan efek yang ditimbulkan. Ya, ia tahu sebentar lagi kepalanya akan pusing tujuh keliling atau bahkan ia akan langsung tertidur. Namun setidaknya itu lebih baik daripada harus menahan nafsunya sekuat tenaga agar tidak mencumbui wanita yang berada di sampingnya ini.

Terbukti.

Dalam waktu sepuluh menit wajah Sehun langsung memerah dan bahkan kini senyuman bodoh menghiasi wajah tampannya. Lalu ia mulai mencolek lengan Leera dengan jari telunjuknya sekarang dan berhasil membuat Leera mengalihkan perhatian padanya.

Ya! Apa yang terjadi denganmu?” tanya Leera yang terkejut melihat wajah Sehun yang kini memerah sempurna.

Eo, Eomma? Eomma bogoshipoyo….” ujar Sehun dengan nada kekanakkan yang begitu manja, sedangkan Leera semakin heran di buatnya. Bahkan tanpa ragu kini Sehun menyandarkan kepalanya di pundak Leera dan mengarahkan wajahnya ke leher wanita itu.

“Kau sudah bosan hidup, huh?” pekik Leera sembari mendorong kepala Sehun jauh-jauh dari pundaknya. Akan tetapi Sehun kembali menyandarkan kepalanya di pundak Leera dan justru semakin mendekatkan diri pada gadis itu. Oh lihatlah, kini tangan Sehun melingkar sempurna di pundak Leera.

“Aku mohon… biarkan seperti ini. Aku merindukan pelukanmu, Eomma,” gumam Sehun dengan suaranya yang tiba-tiba berubah menjadi serak, seperti hampir menangis.

Leera yang baru pertama kalinya berada dalam jarak sedekat ini dengan seorang pria hanya bisa duduk gemetaran di tempatnya. Keringat dingin mulai mengalir deras di sekitar pelipisnya apalagi saat bibir Sehun tanpa sengaja mengenai permukaan lehernya yang terekspos karena rambutnya digelung keatas.

“Oh Sehun, sadarlah, kumohon. Aku bukan ibumu, aku Leera.” Leera meronta didalam pelukan erat Sehun. Leera terus saja mendorong tubuh Sehun, namun kekuatan Sehun yang dalam keadaan mabuk sekalipun jauh lebih kuat dari kekuatannya.

Tiba-tiba Sehun yang tadinya sudah hampir tertidur kembali bersuara dan menarik wajahnya dari leher Leera. “Eo? Ternyata kau Kim Leera… kalau begitu izinkan aku menciummu…”

Leera langsung membulatkan matanya begitu mendengar kalimat Sehun barusan, dan Sehun yang sudah setengah sadar tanpa basa-basi langsung meraih dagu Leera dan gadis itu hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Gugup dan takut setengah mati.

Leera merasakan bahwa kini jarak wajahnya dan Sehun kian dekat karena nafas Sehun yang berbau anggur dan campuran alkohol itu tercium sangat menusuk di hidungnya.

HUEK

Leera membuka matanya saat ia mendengar suara tersebut keluar dari mulut Sehun yang bukan justru mencium bibirnya. Gadis itu juga merasakan bahwa kini ada sesuatu yang basah dan… sedikit lengket diatas dadanya.

Perlahan-lahan ia menurunkan pandangannya kearah Sehun yang kini terkulai lemas dipangkuannya dan menyisakan dada Leera yang dibasahi oleh muntahan Sehun yang sedikit berwarna violet.

Satu kata, menjijikan.

Ya! Oh Sehun!! Kenapa kau muntah dibajuku, sialan!!” Leera tidak bisa menahan pekikan kesalnya pada Sehun yang mulai mengeluarkan dengkuran-dengkuran halus dari bibir yang selalu membuat perasaan Leera campur aduk, antara kesal, marah, dan juga takut.

Leera mengangkat kepala Sehun dari pangkuannya dan kembali membuat posisi pria itu kini terduduk dengan rapi kembali di kursinya sendiri. Setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas untuk membersihkan pakaiannya di kamar mandi.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Sedari tadi Leera mengakali bagaimana caranya agar longsleeve yang ia kenakan tidak meninggalkan aroma bekas muntahan Sehun lagi. Oh ayolah, ia tak memiliki baju ganti sama sekali karena semuanya ia letakan dibagasi.

“Brengsek kau, Oh Sehun!! Mengapa setiap bertemu dengannya aku selalu sial, eo? Bahkan waktu itu aku terkunci di lift setelah bertemu dengannya,” gerutu Leera sembari terus mengelap bagian longsleeve nya yang dimuntahi oleh Sehun tadi.

Sudah sekitar sepuluh menit lamanya Leera membasahi bagian tersebut dengan air bahkan memberinya sedikit sabun, Leera akhirnya menyerah dan ia memilih untuk keluar dari kamar mandi dengan menggunakan dalamannya yang berupa tanktop hitam pas badan.

Dengan langkah canggung Leera keluar dari kamar mandi pesawat yang tidak seberapa luas tersebut dan kembali ke kursinya, menemukkan Oh Sehun yang sedang asik tertidur dengan kepala miring ke arah jendela.

“Kalau melihat wajahmu yang tertidur sepolos ini, aku jadi berharap kau tidak bangun selama-lamanya.” Leera membuang napas kasar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah itu ia mengambil selimut yang disediakan oleh maskapai penerbangan tersebut dan menutupi tubuhnya yang cukup mengigil saat ini.

Baru saja Leera merasa tenang beberapa menit dan hampir terjun ke dunia mimpinya, lagi-lagi ia harus diusik oleh sosok yang berada disebelahnya saat ini, Oh Sehun. Leera terpaksa menoleh ke arah Sehun yang kini menggerakkan kepalanya dengan gelisah ke kanan dan kekiri, diikuti juga dengan dahi yang berkerut dan bibir seksi yang bergumam tidak jelas tersebut.  “Eomma…” itulah kata-kata yang sempat terdengar jelas ditelinga Leera.

GREB

Tiba-tiba saja telapak tangan Sehun menggengam telapak tangan miliknya dan membawa tangan mungilnya begitu saja kedepan dada pria itu. “Eomma… jangan pergi..” lirih pria itu lagi sembari menggenggam erat tangan Leera; seakan tak mau terpisah darinya.

I can’t live without you, Eomma. Please...” lagi-lagi lirihan penuh kepiluan meluncur begitu saja dari bibir Sehun. Leera hanya bisa mengernyitkan dahinya. Sepertinya Sehun sedang bermimpi tentang ibunya, mungkin ia merindukan ibunya ‘kan? Tapi ngomong-ngomong… dimana ibu Sehun? Leera rasa ia tak pernah melihat ibu Sehun sama sekali, bahkan di pesta perusahaan dua bulan yang lalu, Tuan Oh justru ditemani oleh wanita lain. Mungkinka mereka sudah bercerai? Leera bertanya-tanya dalam hati.

Perlahan-lahan tangan Leera yang satunya tergerak untuk mengelus lembut kepala Sehun yang masih belum berhenti menggumamkan lirihan-lirihan tentang ibunya. “Ya, Eomma tidak akan pergi, S—sayang…” Leera memberanikan diri untuk berbisik seperti itu tepat ditelinga Sehun. Dan tepat saat Leera menyelesaikan perkatannya, Sehun berhenti mengigau dan bahkan mulai meregangkan gengaman tangannya pada Leera.

‘Sepertinya ia sangat merindukan ibunya, Kalau begitu kita sama, Oh Sehun. Aku juga rindu ibuku…’ Leera bergumam dalam hati.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Pesawat yang ditumpangi Leera dan Sehun akhirnya melandas dengan sempurna di DMK  International Airport, Thailand. Kini Sehun dan Leera sedang bersama-sama mengikuti seseorang yang diutus untuk menjemput mereka dan mengantarkan mereka ke hotel. Sehun merasa aneh karena ia mendapati Leera yang tengah memakai tanktop saja saat ia terbangun dari tidurnya begitu pesawat sampai di Thailand beberapa menit yang lalu. “Kau… kemana bajumu yang tadi?” tanya Sehun dengan bodohnya begitu mereka sudah berada didalam mobil saat ini.

Leera hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Oh ayolah, Oh Sehun. Leera hanya mengenakan tanktop saat ini karena ulahmu. “Jelas saja kau tidak mengingatnya karena kau mabuk seperti orang bodoh, tapi ini semua karena ulahmu, brengsek!!” ketus Leera begitu saja.

Sehun menautkan alisnya, “Karena ulahku? Memangnya saat mabuk tadi aku berbuat apa? Mungkinkah… aku ingin memperkosamu?” pertanyaan Sehun berhasil membuat Leera menoleh kearah pria itu dan melayangkan sebuah jitakan dikepalanya.

Ya! Kalau kau tadi ingin memperkosaku, mungkin kau sudah tidak bernyawa lagi saat ini, Oh Sehun,” pelotot Leera. Sedangkan Sehun hanya terkekeh melihat pelototan mata rusa Leera tersebut. Kalau saja dia tidak menahan dirinya mungkin ia sudah mencubit pipi mulus Leera saat ini.

“Ow, you’re so creepy, nona cantik.” Sekarang Sehun justru menggoda Leera. “—so, what really happenend?” tanya Sehun; kembali ke topik awal.

“Pikir saja sendiri dengan otak kotormu itu!!” Leera menoleh pada Sehun sebentar lalu segera menyumpal telinganya dengan headset berwarna putih yang sedari tadi berada dalam genggamannya.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Jam makan malam telah tiba. Leera berencana untuk turun ke restaurant hotel untuk menikmati makan malamnya yang sungguh sunyi ini disana. Well, sebenarnya ia ingin sekalian berjalan-jalan menikmati pemandangan di Pattaya pada malam hari. Akan tetapi, ia tidak memiliki panduan apapun, jadi daripada tersesat lebih baik ia menunggu partner kerjanya yang lain sampai di Pattaya jika ingin berjalan-jalan.

Entah dunia yang terlalu sempit atau apa, lagi-lagi Leera berjumpa dengan Sehun dan mereka terperangkap dalam lift yang sama. “Kau mau kemana?” tanya Sehun karena sedari tadi Leera hanya bergeming disampingnya.

“Ke restaurant hotel,” jawab Leera singkat.

“Kau mau makan malam?” tanya Sehun lagi. Kali ini Leera menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.

Daebak!! Baru kali ini aku di acuhkan oleh bawahanku. Bahkan saat masuk lift tadi kau tidak membungkukan badanmu sedikitpun padaku.” Sehun mulai habis kesabaran. Perlu kalian ketahui, hal yang paling Sehun benci di dunia ini adalah diabaikan dan tidak di hormati oleh orang yang jelas jauh di bawah dirinya.

“Berhubung ini bukan di kantor dan perjalanan bisnis baru resmi dimulai esok hari, tidak masalah bukan jika aku tidak menganggapmu sebagai atasanku? Lagipula sudah aku katakan, semenjak kejadian itu aku tidak menganggapmu atasan lagi. Apalagi tadi dipesawat kau muntah dibajuku seenaknya. Tanpa meminta maaf pula!!” Leera menoleh; memberikan pelototan tidak sukanya pada Sehun.

Mwo?! Bisa kau ulangi sekali lagi perkataanmu barusan?” Sehun terkejut dengan perkataan Leera barusan. Muntah? Dibaju gadis ini? tanya Sehun dalam hatinya.

“Memangnya kau tuli, Oh Sehun-ssi? Mengapa aku harus mengulang perkataanku? Ya, kau memang muntah di bajuku tadi siang. Mengapa? Kau merasa bersalah sekarang, eh?” tanya Leera yang enggan melirik kearah Sehun lagi.

Sehun terdiam. Ia sudah kehabisan akal untuk menghadapi gadis yang berada di sebelahnya ini. Ia benar-benar tak menyangka kalau ia akan mendengar perkataan tersebut dari mulut seorang Kim Leera yang awalnya ia anggap pendiam.

Saat lift sudah sampai di lantai dua dimana restaurant hotel berada, Leera langsung bergegas keluar dari lift, namun dengan sigap Sehun kembali menarik tangan Leera masuk kedalam lift, membuat Leera mengerutkan dahinya tak mengerti.

“Kau jangan banyak protes, ikut aku makan malam di luar saja.” Sehun menekan tombol untuk menutup pintu lift dengan posisi masih memegang erat tangan Leera.

“Kenapa aku harus ikut denganmu?” tanya Leera sembari berusaha melepaskan tangan Sehun yang memegang erat lengannya.

“Diam,” jawab Sehun singkat dan ia semakin mengeratkan pegangannya pada lengan kurus Leera.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Sedari tadi Sehun tak pernah melepaskan pegangan tangannya. Bahkan kini ia memaksa Leera untuk menautkan jari mereka satu sama lain dan tentu saja ia berhasil. Sehun tidak mau lagi kalah seperti tadi, dimana ia yang tidak di hormati dan semua omongannya bahkan dipotong oleh gadis mungil bernama Leera ini.

Kini mereka sedang berada di Beach Road dan menyusuri jalan setapak nan sangat ramai malam ini. Tak jarang kita menemukan turis dari barat saat di Pattaya. Bahkan bisa dibilang lebih mudah menemukan turis daripada penduduk aslinya saat ini.

Sehun akhirnya memilih starbucks coffee shop sebagai pemberhentian pertama mereka malam ini. “Kau mau pesan apa?” tanya Sehun saat mereka tiba di depan kasir.

“Aku tidak suka kopi, kau saja yang memesan,” jawab Leera acuh. “Satu cold caramel macchiato ukuran large dan satu cotton candy frappe with java chips and caramel sauce ukuran grande,” ujar Sehun menggunakan bahasa Thailand yang cukup fasih pada sang barista dengan apron berwarna cokelat; khas starbucks sekali.

Leera terperangan mendengar perkataan Sehun pada barista tersebut. Ia menoleh tak percaya kearah Sehun yang dengan lantangnya menyebutkan kesukaan Leera. Cotton candy frappe, bahkan pria itu tahu kalau Leera menyukai sentuhan javachips pada frappenya, dan ukuran gelasnya, grande. Bagaimana bisa pria ini tahu sampai sedetail itu? pikir Leera.

“Kau… bagaimana bisa?” tanya Leera begitu saja, masih mempertahankan wajah tak percayanya tersebut. “Sudah kubilang… aku tertarik padamu, jadi tentu saja aku mencari tahu banyak hal tentangmu, termasuk beberapa makanan dan minuman kesukaanmu,” jawab Sehun santai.

“Gila.”

Hanya satu kata itu yang berhasil lolos dari mulut Leera yang kini sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. “Indeed i am, dan kau baru sadar? Kau lamban sekali, hihihi.” Sehun terkekeh dan sebelah tangannya mengacak-acak surai lembut Leera yang tergerai malam ini.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Setelah pesanan kopi mereka datang, alih-alih menghabiskan beverages mereka di dalam ruangan bernuansa cokelat dengan hidangan aroma kopi yang semerbak; begitu menenangkan, Sehun justru kembali menggandeng tangan Leera untuk berjalan-jalan di daerah Beach Road.

“Kau kaya, tapi hanya mampu membelikanku minuman ini. Ck,” sindir Leera pada sosok pria berjaket biru dongker yang berjalan disebelahnya. “Memangnya kau ingin makan apa?” Sehun menoleh lalu menunduk.

“Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin kau melepaskan tanganku. Itu saja,” ujar Leera datar.

Dan tanpa basa-basi Sehun langsung melepaskan tautan tangannya pada Leera. Seketika Leera merasa senang tapi… kini ia juga merasakan perasaan hampa saat tangan besar itu melepaskan tangannya. Jangan bodoh, Leera, peringatnya dalam hati.

Baru saja Leera bernapas lega karena Sehun akhirnya melepaskan gengamannya, ia kembali dibuat terkejut karena Sehun tiba-tiba saja melingkarkan tangannya di pundak Leera. Sontak Leera mendongak menatap Sehun yang jauh lebih tinggi darinya, “Ya! Lepaskan!!” seru gadis itu. Ia menggerakan pundaknya kasar agar tangan Sehun segera menyingkir. Namun Sehun justru semakin menarik pundak gadis itu sehingga kini pundak mereka saling bersentuhan tanpa celah sedikitpun.

“Kau tadi meminta aku melepaskan tanganmu, dan ya.. sudah kuturuti. Tapi sebagai gantinya, biarkanlah seperti ini, oke?” jelas Sehun dan tanpa menghiraukan omelan lanjutan dari Leera ia menarik gadis dalam rangkulannya itu untuk kembali melangkah menuju ke bibir Jomtien Beach; tujuannya utamanya sejak tadi.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Sehun dan Leera kini sudah sampai dikawasan Jomtien Beach yang cukup ramai–dan selalu ramai. Namun seramai apapun pantai ini, kesejukkan dan ketentraman lingkungannya tetap terasa sampai ke ulu hati, yakinlah.

Desiraan angin pantai yang terasa begitu menyejukkan malam ini tanpa segan menerpa wajah keduanya dan menerbangkan surai indah mereka. Hidung mereka dimanjakkan oleh aroma jagung serta seafood bakar yang cukup membuat perut keroncongan. Masih dengan tangan yang melingkar di pundak Leera, Sehun melangkahkan kakinya kesebuah spot kosong yang berada di bibir pantai. Lalu mendudukan dirinya di atas hamparan pasir yang sejuk dan menjadikan kedua telapak tangannya sebagai tumpuan, mau tak mau Leera ikut mendudukan dirinya disebelah sehun; tapi memberi jarak sekitar setengah meter dengan pria itu.

“Mau apa kita kesini?” tanya Leera. Gadis itu tertarik untuk memainkan pasir yang sedang ia duduki dengan jemari lentiknya.

“Melihat bintang,” jawab Sehun singkat. Pria itu mendongakkan kepalanya menatap taburan bintang yang mengkelap kelip malam ini. Sepertinya langit sedang berpihak pada Sehun malam ini, buktinya bintang-bintang indah itu tanpa segan menampakkan dirinya malam ini.

Leera lagi-lagi hanya bisa memasang tampang terkejutnya. Bila dihitung, sudah puLeera kali Sehun membuatnya terkejut hari ini. “Kau.. jangan bilang kalau kau juga—“

“Ya, aku memang tahu bahwa kau suka sekali melihat bintang. Maka dari itu aku membawamu kesini….”

“Sumpah demi apapun… kau benar-benar seperti penguntitku sekarang, Oh Sehun. Benar-benar tak bisa dipercaya.” Leera mengelengkan kepalanya beberapa kali sembari mengambil ancang-ancang untuk semakin memperluas jarak antara dirinya dengan Sehun.

Dengan sigap pula Sehun memindahkan tubuhnya hingga kini ia duduk benar-benar bersebelahan dengan pundak yang menempel satu sama lain dengan Leera. “Oh please, Kim Leera, i’ve told you many times that i’m interested on you, maka dari itu aku mencari tahu tentangmu. Dan kau heran kenapa aku bisa tahu sedetail itu?” Leera mengangguk. “—oh please, i have thousands of connections out there, mencari karyawan yang menggelapkan uangku lalu membawanya kabur hingga ke lubang tikus saja aku bisa, apalagi hanya mencari tahu tentangmu. Itu bahkan tidak lebih sulit daripada membalikkan telapak tangan bagiku,” jawab Sehun sembari terkekeh membanggakan kehebatan dirinya.

Ya, benar juga kata Sehun. Untuk orang sekelas dirinya; dengan koneksi ribuan diluar sana, hanya mencari tahu tentang Leera adalah pekerjaan seujung kuku bagi mereka. Ditambah lagi seluruh mata-mata yang Sehun miliki adalah orang-orang terlatih.

“Kau… apalagi yang kau tahu tentangku?” tanya Leera penuh selidik.

Sehun memiringkan kepalanya dengan pandangan menerawang keatas. “Hm, apalagi ya? Info dasar tentang dirimu sudah jelas aku tahu seperti usiamu, latar belakang pendidikanmu, macam-macam kesukaanmu, dan….” Sehun menghentikan omongannya sebentar, lalu menjentikkan jarinya diudara. “—ah!! Satu hal lagi, aku juga tahu kalau kau mengidap Clesiophobia sejak dulu, aku–hm, maksudku mata-mataku hebat ‘kan?” ujar Sehun terang-terangan.

Terlihat pergerakan pada kedua bola mata Leera. “Jadi…  hanya itu saja yang kau ketahui? Pantas saja kau masih tertarik padaku,” ujar Leera dengan pandangan meremehkan kearah Sehun.

Sehun mengangkat alisnya sembari berdecak lidah. “Mendengar perkataanmu barusan, sepertinya masih banyak yang belum kuketahui?”

“Masih sangat banyak. Dan aku bahkan tidak yakin lagi kau masih akan tertarik dan mengikutiku seperti sekarang ini jika kau tahu rahasiaku.” Lagi-lagi Leera melayangkan tatapan meremehkan itu pada Sehun, bahkan seringaian tipis mulai menghiasi wajah cantiknya.

“Kalau begitu beri tahu aku. Mungkin aku jadi tidak tertarik padamu. Kau tahu… perasaan padamu ini benar-benar menyiksaku. Sebelumnya aku tidak pernah sepenasaran dan setertarik ini dengan orang lain.” Kali ini Sehun berterus terang. Oh ayolah, untuk Oh Sehun, tidak ada yang lebih penting daripada urusan hidupnya sendiri sehingga ia tak terlalu banyak menyisihkan waktu untuk mengetahui urusan hidup orang lain juga; pengecualian untuk orang-orang yang membuatnya marah.

Dan dalam kasus kali ini, sialnya ia begitu tertarik pada Leera yang notabene adalah musuhnya. Well, Sehun pasti setertarik ini pada gadis disebelahnya mungkin karena ia dalam misi besar untuk membalas dendam, right? Karena seorang Oh Sehun… cukup mustahil untuk jatuh cinta.

“Kenapa kau bisa tertarik padaku?” tanya Leera; sejak awal ia ingin sekali menanyakan hal ini.

Sehun mengangkat bahunya, “I don’t know, diriku sendiri yang memilih untuk tertarik padamu and… damn!! i can’t control these feelings.” Oke, kali ini Sehun akui ia sedikit berbohong. Ia tertarik pada Leera jelas saja karena Leera merupakan anak dari manusia yang paling ia benci lebih dari ayahnya sekalipun di dunia ini bukan karena perasaan seperti katanya itu.

“Kau tertarik padaku pasti karena kau hanya mengetahui hal baik yang ada di diriku, bukan? Kau tidak tahu bahwa sebenarnya aku tak lebih dari seseorang yang memiliki banyak cacatnya,” sergah Leera lagi, karena bagi Leera, seorang Oh Sehun tertarik padanya adalah hal yang sulit untuk dipercaya. “Aku juga sebenarnya banyak cacatnya, tapi aku berusaha menutupinya dengan kelebihan kecil yang aku punya. Oh ayolah, semua manusia di dunia ini pasti memiliki cacat,” tukas Sehun.

Leera menunduk lalu menghela nafas berat, “Tapi cacatku benar-benar sulit untuk diterima, Oh Sehun.”

Let me know, siapa tahu aku bisa menjadi orang pertama yang menerimanya.”

“Untuk apa memberitahumu? Memangnya kau sedekat apa denganku sampai aku harus menceritakan rahasiaku padamu?” tanya Leera menantang.

“Jadi maksudmu kita harus memiliki hubungan yang dekat dulu agar kau mau menceritakan rahasiamu padaku?” Leera menganggukan kepalanya. “Ya, setidaknya begitu.”

“Kalau begitu, mari kita berkencan. Sudah cukup dekat ‘kan untuk saling berbagi rahasia?” celetuk Sehun.

Leera memukul lengan pria itu, “Hei, kenapa kau sebegitu tertariknya padaku, eo? Well, aku memang cantik,” canda Leera; berusaha untuk mengalihkan pembicaraan karena sialnya tiba-tiba ia sesak napas mendengar ajakan berkencan dari Sehun.

“Kau… harus banyak hal yang perlu kau pertimbangkan untuk berkencan denganku,” ujar Leera karena ia melihat Sehun tak tertarik sama sekali dengan candaannya. “Say it,” jawab Sehun cepat.

Leera mengambil napas panjang dan memulai perkaannya, “Hm, oke. Aku tak tahu apakah kau benar-benar tertarik padaku atau hanya sekedear penasaran denganku atau justru kau ingin mempermainkanku saja. Tapi kau harus tahu, kalau aku yang kau lihat saat ini, hanyalah seperempat dari diriku yang sebenarnya.”

Honestly, you’re almost perfect, Oh Sehun. Kau tampan, kau cerdas, kau mapan, dan well—kau memang tidak punya sopan santun dan suka memaksa, itu saja kekuranganmu menurutku. Sedangkan aku? Aku tidak terlalu cantik untuk pria sekelas dirimu—“ Sehun langsung memotong omongan Leera, “Baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang hobi merendahkan dirinya sendiri, kau aneh. Hei sadarlah, kau cukup cantik, Leera-ya,” ujar Sehun. Untuk yang satu ini Sehun sedikit mengakuinya. Karena jujur, ia sangat suka dengan tatapan mata Leera yang berbinar itu dan juga bibir Leera yang tidak tipis namun tidak tebal tersebut, apalagi saat tersenyum. Dan yang baru-baru ini ia sadari adalah… wajah Leera cukup mirip dengan ibu kandung Sehun.

“Lalu yang kedua, i’m not rich. Aku bahkan tidak memiliki apapun selain mobil sedanku yang tidak seberapa itu. Aku tidak punya orang tua yang kaya raya sepertimu dan aku juga tidak punya rumah karena aku menumpang dirumah Chanyeol selama ini, aku yakin kau udah mengetahui fakta ini karena kau bilang mata-mata mu hebat bukan?” tanya Leera.

Sehun mengangguk, “Ya, aku tahu kau menumpang pada keluarga Chanyeol selama ini, dan aku tidak keberatan jika harus berpacaran dengan gadis yang–maaf, tidak sekaya aku. Oh ayolah, uang bisa dicari, bisa saja di masa yang akan datang kau lebih kaya dariku,” jawab Sehun sembari mengangkat bahunya.

“Lalu yang ketiga, aku punya beberapa gangguan psikologis, salah satunya adalah Cleisiophobia yang cukup parah. Aku tidak bisa berada diruangan yang terkunci apalagi jika ruangan itu juga gelap. Kau lihat sendiri ‘kan kemarin bagaimana jadinya jika phobiaku kambuh? Apa kau yakin masih ingin berkencan dengan gadis penakut sepertiku?” tanya Leera memastikan, ia berusaha menggoyahkan mental Sehun karena Sehun masih tidak terlihat ragu sama sekali meskipun Leera sudah memanas-manasinya.

“Jika aku keberatan dengan phobiamu itu, aku tidak akan mengejarmu sampai sini pastinya,” jawab Sehun santai. ‘Aku justru senang mengetahui phobiamu itu, dengan begitu aku bisa mengerjaimu seperti kemarin’ sisi iblis Sehun kembali menguasai. “Oh ya, kalau boleh tahu, kenapa kau bisa mengidap Clesiophobia? Kau pernah terkunci atau semacamnya?” tanya Sehun yang justru tertarik dengan phobia Leera.

Leera yang tadinya menatap lurus kearah ombak pantai yang menggulung dengan indahnya itu beralih menjatuhkan pandangannya tepat dimata Sehun. “Karena aku… pernah diculik diruangan yang gelap dan entah berapa lama, aku tidak sempat menghitungnya waktu itu,” jawab Leera yang kini tertawa miris. Seketika ingatan tentang kejadian pahit itu kembali terngiang diotaknya.

Malam itu…

Leera kecil yang masih berusia tujuh tahun akhirnya berhasil kabur setelah ia disekap sekitar lima hari didalam ruangan sunyi nan tak bercahaya tersebut. Selama lima hari itu pula ia mendapatkan serangan-serangan fisik dari orang-orang yang jauh lebih besar darinya. Hal itu dapat terlihat jelas dari sekujur tubuh Leera yang dihiasi dengan luka memar saat Chanyeol dan keluarganya menemukan gadis itu.

Leera masih ingat betul kejadian itu, kejadian dimana ia tiba-tiba disekap oleh sekitar empat orang pria berpakaian hitam saat ia dalam perjalanan dari sekolah dasarnya menuju kerumah tetangganya. Ya, semenjak kepergian ayahnya yang menghilang begitu saja setelah dipukuli habis-habisan dan juga ditembak dengan pistol oleh para pria berpakaian hitam; yang juga menculiknya, Leera dititipkan dirumah tetangganya oleh ibu kandungnya.

Setiap akhir minggu Ibu Leera—Hwang Miran—selalu mengunjunginya dan membawa banyak snack kesukaan Leera dan juga baju-baju bagus untuk Leera. Akan tetapi ia tak tahu kemana ibunya pergi dan mengapa ibunya tak membawa serta dirinya kala itu.

Dan yeah… benar kata orang, terkadang rasa penasaran berlebih hanya akan menimbulkan rasa sakit saat kita mengetahui fakta yang sebenarnyanya. Begitulah sekiranya kata-kata yang tepat untuk Leera yang baru-baru ini mendapat tamparan keras saat ia mengetahui fakta mengapa ibunya kala itu hanya bisa menemuinya di akhir pekan.

Karena ibunya harus mengurus keluarga barunya. Meninggalkan dirinya sendiri yang masih sangat belia dan tak mengerti apapun kala itu.

Kembali ke topik awal. Malam itu Leera yang akhirnya berhasil kabur setelah ia mendapatkan kekuatan entah dari mana untuk kembali berjalan dengan kakinya yang sudah tertancap oleh puLeera beling. Ia menemukan sebuah jendela yang ternyata tersembunyi dibalik sebuah lemari di pojok ruangan tersebut. Leera kecil nan malang sekuat tenaga membuka jendela tersebut dan syukurlah kaitan yang mengunci jendela tersebut sudah cukup rapuh sehingga ia bisa membuka jendela tersebut walaupun tidak mudah.

Saat berhasil dari ruangan tersebut dan akhirnya ia bisa merasakan angin kebebasan, secepat rusa gadis kecil itu berlari menjauh dari tempat laknat itu dan sialnya ia ketahuan melarikan diri oleh salah satu penculik biadab tersebut.

Leera semakin mempercepat langkah kecilnya tanpa memperhatikan sekitar. Bahkan rasa sakit yang menjalar disekujur tubuhnya sudah tidak terasa lagi saking tetutupi oleh rasa takutnya.

BRAAAKKK

Tiba-tiba Leera merasakan tubuhnya terlempar keudara saat ia tak sengaja membentur sesuatu yang terasa keras; yang sebenarnya adalah mobil Chanyeol dan keluarganya. Leera sudah pasrah saat itu jikalau ia akan mati, mungkin ia bisa menyusul ayahnya—yang ia yakini sedang berada disurga sekarang.

Leera tidak bisa mengingat apapun lagi kecuali satu hal, tatapan mata dari seorang anak kecil bermata bulat yang kini menangis berteriak melihatnya yang sudah tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengalir dengan derasnya keaspal. Ya, pria itu adalah Park Chanyeol, malaikat tanpa sayapnya.

Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri, namun tiba-tiba saja ia terbangun dan hidungnya langsung mencium bau steril yang tidak begitu ia sukai saat ia membuka matanya. Rasa takut itu seketika menghantui Leera kecil lagi dan ia tertegun saat lagi-lagi matanya bertemu dengan sepasang mata bulat yang sedang menatap lekat kearahnya sembari tersenyum. “Ibu, dia sudah sadar!!” pekik anak kecil bermata bulat dengan pipi tembam tersebut pada wanita berambut bergelombang sepundak disebelahnya.

Sejak saat itulah akhirnya Leera resmi menjadi bagian dari Keluarga Park. Sebenarnya sudah beberapa kali Tuan dan Nyonya Park menyarankannya untuk diadopsi oleh keluarga mereka, namun Leera menolak. Karena baginya, ayah dan ibunya tetaplah Xi Youqian dan Hwang Miran, selama-lamanya. Meskipun mereka sudah meninggalkan Leera seorang diri di dunia yang menyesakkan ini.

Eii, bukan berarti Leera tidak menganggap kebaikan Tuan dan Nyonya Park yang selama ini sudah mengurusnya seperti anak kandung mereka sendiri, namun tetap saja Leera tidak sudi posisi ayah dan ibunya digantikan. Ia sudah menyiapkan tempat tersendiri untuk Keluarga Park dihatinya, tempat tertinggi dimana ayah dan ibu kandungnya juga berada.

Lamunan Leera buyar ketika ia mendengar suara Sehun yang begitu penuh keterkejutan, “Diculik? Kau pernah diculik?” tanya pria itu tak percaya.

“Ya, aku pernah culik saat aku masih berusia tujuh tahun dan sampai sekarang aku tak mengetahui fakta mengapa aku bisa diculik waktu itu.” Leera kembali tersenyum miris. “—ah, sepertinya mata-matamu kurang hebat. Buktinya mereka tidak berhasil menemukan fakta bahwa aku pernah diculik,” canda Leera untuk mencairkan ketegangan; sebenarnya untuk membantu menghilangkan rasa sesak yang kembali menghinggapi dadanya juga.

“Masih mau mendengarkan kelanjutan ceritaku, Tuan?” Leera melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Sehun yang terlihat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. “Eo, lanjutkan,” jawab pria itu akhirnya.

“Oke, tapi ijinkan aku bertanya lebih dulu. Menurutmu, sepenting apakah seks dalam hidupmu?” tanya Leera tiba-tiba.

Sehun menyeringai tipis, “Mau kujawab dengan kejujuran atau kebohongan?”

“Perlu kau ketahui, aku tidak suka dibohongi.” Leera menyiratkan bahwa ia meminta Sehun untuk mengatakan kejujuran. “Menurutku… seks adalah salah satu kebutuhan dasarku setelah oksigen dan makanan. Jadi kau bisa bayangkan sendiri sepenting apa seks dalam hidupku.” Sehun benar-benar jujur dengan perkatannya. Oh ayolah, mengapa tiba-tiba Sehun jadi seperti ini? Menjelek-jelekan imagenya sendiri padahal beberapa hari yang lalu ia gencar berusaha membangun image baik didepan Leera. Mungkinkah Sehun mulai… tidak, tidak. Tidak mungkin!

“Wow, jadi seks sepenting itu didalam hidupmu. Sayangnya, kau berbanding terbalik denganku, Tuan. Jadi jika kau ingin mengencaniku dengan tujuan untuk menjadikanku partnermu di ranjang, kau salah tembak sasaran, Sehun-ssi.” Leera akhirnya mulai menemukkan titik terang karena akhirnya ia mempunyai alibi yang mencolok untuk membuat Sehun menyerah.

Sehun mendecih sembari terkekeh kecil. Ia juga mendorong pelan kepala Leera dengan jari telunjuknya. “Oh ayolah, siapa yang tidak menyukai seks di dunia ini, kau terlalu naif—“

Leera memotong cepat omongan Sehun, “Bukannya naif, tapi aku memang tidak menyukai seks, atau lebih tepatnya takut pada seks. Karena aku….”

“….juga menderita Genophobia, atau mudahnya adalah rasa takut berlebih pada seks,” lanjutnya setelah sempat menghentikan perkataannya untuk mengambil nafas.

Sehun terkejut setengah mati kali ini. Apalagi sekarang? Setelah Cleisiophobia sekarang Genophobia? Oh ayolah, apa Leera gemar mengoleksi phobia-phobia aneh seperti itu? “Kau sedang mengarang bebas, ya?” Sehun tertawa dengan ekspresi penuh ketidakpercayaan.

Nope, aku tidak sedang mengarang bebas. Well, my life is full of drama, right? Aku juga merasa seperti itu, mengapa Tuhan begitu tidak adil ya padaku? Bagaimana bisa ia menitipkan dua phobia sekaligus didalam tubuhku yang ringkih ini?” Leera menunduk sembari membuat pola abstrak di pasir dengan jari telunjuknya. Berusaha menghilangkan rasa sesak yang semakin mencekiknya.

“Bagaimana bisa kau phobia terhadap seks juga? Jadi selama dua puluh lima tahun hidup di dunia ini… kau belum pernah melakukan seks? Tandanya kau masih–maaf, perawan?” tanya Sehun setelah ia menyadari bahwa Leera sedang tidak bermain-main saat ini.

Leera mengangkat kepalanya, kali ini ia tertawa; sangat terkesan dipaksa. “Eii, siapa bilang? I’m not a virgin anymore, asal kau tahu.”

Oh ayolah, mengapa Leera selalu saja membuat Sehun bingung dengan rahasia-rahasia yang ternyata bersembunyi dikepribadiannya yang terlihat kuat. “Kau pikir aku bodoh? Kau bilang kau trauma pada seks, tapi kau bilang bahwa kau sudah tidak perawan? Bagiamana bisa? Bahkan aku yakin kau akan pingsan sebelum mulai kepermainan inti karena phobiamu itu.” Sehun kini tertawa renyah.

“Tapi memang benar itu adanya, Oh Sehun. Aku sudah tidak perawan karena aku…” Leera menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, “… pernah diperkosa,” jawab Leera, terdengar sedikit getaran pada kalimat terakhirnya. Sepertinya Leera sendiri tak sanggup harus mengatakan kalimat terakhirnya itu. Tapi demi menjatuhkan mental Sehun dan membuat pria itu menyerah pada rasa tertariknya yang sepertinya hanya sekedar penasaran—bagi Leera—gadis itu menguatkan dirinya untuk mengeluarkan kata-kata kramat itu.

Sehun tak bisa menahan rasa terkejutnya lagi kali ini, ia bahkan berteriak sangat keras, “MWO?! DIPERKOSA?! Are you fuckin kidding me? Ya, kau pasti bercanda. Kau hanya ingin membohongiku agar aku menyerah untuk mendekatimu, begitu ‘kan?” Sehun menggelengkan kepalanya beberapa kali; meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang baru saja dikatakan Leera hanyalah bualan gadis itu semata.

Namun… Sehun merasa bahwa Leera sedang tidak bercanda atau sekedar berbohong karena saat ini Sehun mendapati Leera yang mulai meneteskan bulir-bulir bening kesedihan tersebut dari kedua kelopak mata indahnya. Akting. Ya, gadis ini pasti hanya akting agar bualannya terasa realistis!! tegas Sehun dalam hatinya.

“Kenapa? Kau tidak percaya? Bukankah sudah kubilang padamu kalau aku terlalu banyak memiliki kecacatan yang cukup fatal dan sulit untuk diterima? Benar ‘kan apa kataku, kau akan sulit menerima semua kecacatanku ini, jadi mundurlah dari sekarang sebelum kau menyesal telah mengejar-ngejar gadis serba kekurangan sepertiku. Apalagi kabarnya… kau hanya sudi bermain-main dengan wanita yang masih perawan ‘kan? Kalau begitu aku tidak termasuk dalam kategori wanita versimu, Oh Sehun. Sekali lagi kukatakan, hentikanlah ketertarikanmu yang tak berdasar itu.” Leera berkata panjang lebar masih dengan berlinangan air mata. Gadis itu bahkan terlihat harus menghentikan omongannya beberapa kali karena isakan tangis yang tak bisa ia tahan.

.

“Don’t expect too much from me

I don’t wanna lose you either

Before things get too deep, before you get hurt

Don’t trust me

Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet

Actually, I’m a little scared, I’m sorry”

Let’s Not Fall In Love – BIGBANG

.

Oh ternyata… Gadis yang Sehun anggap sekeras batu itu nyatanya tak lebih kuat dari sehelai kertas tipis. Gadis yang Sehun anggap lugu dan polos itu ternyata sudah terlalu banyak menyesap pahitnya kehidupan sehingga tak mudah untuk menaklukannya.

Dan kalau boleh jujur… ia sedikit ragu untuk melanjutkan aksi balas dendamnya saat ini. Karena apa? Baru kali ini Sehun menemukan seseorang yang memiliki hidup jauh lebih miris daripada hidupnya yang sebelumnya ia juluki sebagai hidup termiris di dunia.

 

T  B  C

 

#PREVIEW FOR NEXT CHAPTER

“—dan ibuku… meninggal karena ibumu yang brengsek itu…”

“Tapi kenapa? Aku masih menyukaimu!! Aku tidak sudi di putuskan seperti ini, kau.. mentang-mentang kau anak orang kaya seenaknya saja kau mencampakkanku!!”

“Kau… jangan berani-beraninya kau melukai pria ini, karena dia… kekasihku!!

“Kau… mulutmu itu yang murahan!! Dasar jalang!!”

“Tapi aku…”

.

HAI HAI HAI MAAP AKU NONGOL TENGAH MALEM KAYAK OWL.

Aku disini mau tepatin janjiku yaitu langsung post lanjutannya berhubung comment sudah mencapai 45 comments, yay!! 

dan ini adalah persembahan pertama dari aku, yaitu unspeakable secretnya Leera!! Eii, tapi jangan senang dulu, sesuai dengan judulnya, ff ini masih punya banyak unspeakable secret yang belum terungkap!! Masih pada mau kan ikutin ff ini? Ayo dong, bcs without yall i’m nothing, yeorobun….

[note : langsung update chapter 7 kalau comment mencapai 50 comments]

 

 

 

87 responses to “Unspeakable Secret | 6th Chapter

  1. Nah loh leeranya udh gaperawan, sehun pasti stres tuh hihi
    Diakan doyannya yang perawan, tapi leera gaketebak banget deh hidupnya.
    Banyak banget yg bikin kagetnya part ini, ganyangka leera banyak banget beban hidupnya. Chapter selanjutnya juseyoo eonni🙂

  2. JANGAN TERUSIN AKSI BALAS DENDAM MU, SEHUN!!!!!!

    Gilsgilsgils makin penasaran aja kenapa bisa si leera di perkosa, sama siapa, gak mungkin bapaknya sehun kan? Serius deeeh penasaran banget sama kisahnya leera duluuu

    Btw kasihan deh sehun yaaa, leera udh gak perawan, gmn tuuuh ahhaah

  3. Kasian bgt hidup Leera… hidupnya lebih miris daripada Sehun… setelah itu masih maukah Sehun balas dendam ke Leeraa???

  4. Kasian bangeet ya hidup leera, diawal aku kira leera akan love triangle sama sehun dan chanyeol ternyata chanyeol masih suka sama haeyong ya ??
    Ceritanya betul” menarik dan buat penasaran🙂
    Commentnya udah lebih 50 langsung update ya thor😉

  5. Sehun kena lo!
    Jadi ragukan nerusin rencana balas dendammu!
    Jadi mikir2 sendirikan?
    Leera itu gk salah. Yang salah kau sendiri ngapain juga nyangkutin Leera, aku jadi ragu kali kau tidak bisa untuk tidak jatuh cinta ma Leera keseringan dekat ma lo, hun.

  6. omg laera kasihan bgt gue yakin sehun gx bkl berhenti disini duhhhhhhh laera q harap kamu nanti kuat seperti kmu blm kenal sehun fighting

  7. sabar aku thor teasernya bikin penasaran setengah mati/? beneran nih aku yg kecanduan unspeakable secret /? gila makin seru dan aghhhh waw! beneran thor aku gk kuat/? i need chap 7 please! khamsahaeyo~ keep writing and hwaiting!

  8. Iyaaaaa Sehun, jgn lanjutkan aksi balas dendammu itu. Kesian Leera, dia udh punya kenangan buruk dimasa lalu.a, lalu kalau ditambah kau menambahkan luka di hidupnya maka kau akan membuat.a mati secara perlahan, cintailah Leera, jgn malah memusuhi.a Hunn
    Nextt, ditunggu nextt nyaa

  9. wah wah wah.. Sehun kaga kuat alkohol, dn muntah di bajuny Leera:V ckckckckck
    kaga sadar, Leera di panggil eomma:v haha
    ugghh, iya siih ga pegangan tangan, tpi knp malah tmbh parah-ngerangkul bahunya Leera-,- dasar ah:3
    mreka sesi curhat”an niiih… ga nyangka Leera ngidap phobia lagi.. dn itu berhbungan dgn hal yg dsukai Sehun. Sehun salah sasaran:v wkwkwk
    Sehun langsung ceplos dgn jujur ttg ‘itu’.. hayoooo, kenapa tuuuuhh???
    lanjut kak>< fast update:V hehehehe

  10. Pingback: Unspeakable Secret | 7th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. waw ternyata hidupnya leera bener2 kasian banget.. taga banget sehun kalo masih punya niatan bales dendam ke leera yg notabennya ga ada sangkut pautnya

  12. Ehemmmmmm, suka, suka, suka #plakkk #alay Aku suka akhirnya Leera’s secret udah terbonhkar satu tapi kenapa nama ayahnya Leera ganti? Seingatku ayahnya Leera waktu di awal itu Zhang Yixing terus di sini jadi Tuan Xi siapa gitu??? Hmm, ini aku yang lupa atau Nisa yang lupa tapi overall ini enak dibaca. See ya

  13. hahaha.. sukanya nyobain yg masih perawan, ehh inii dapetnya yg uda ga perawan.. wkwkw, aku tau km uda tertarik sm leera bukan buat balas dendam..
    .ngekek sumpah, bayangin wajah shocknya sehun..
    kk, umur berapa leera diperkosa..?? kok bisa sih.. ?? krna apa leera sampai diperkosa, seriuss miris bgt kisahnyaa..makin jattuh Cinta sm ini ff, hugft.. mengurass emosii hihi

  14. Makin seru FF nya, gk nyangka Leera pny rahasia sebesar itu. Udh deh Sehun, jgn nambah kepedihan ke Leera, kasihan tahu…… 😢😢😢

  15. Pingback: Unspeakable Secret | 8th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. Wtf. Chapter ini bner2 deh. Trnyta hidup Leera kelam bgt. Dia dperkosa siapa? Knp bs? Ak smpe ikut nyesek baca chapter ini:( semoga sehun cpt luluh, nggk usah pake balas dndam segala lah. Smgt ya author, smg dpt inspirasi trs. Fighting!

  17. Masa lalu Leera kelam banget. Udah dibuang ibunya, diculik, terus diperkosa. Semoga aja rencana bales dendam Sehun gak jadi terhadap Leera, lagipula Leera kan gak ada sangkutpautnya, orang ibunya aja ngebuang anaknya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s