[CHAPTER 4] FLUTTERING

written by @araiemei15

Before I met you,

I never knew what it was like to be able to look at someone,

and smile for no reason

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2| Chapter 3

*

Seminggu lagi akan ada turnamen besar yang akan diikuti oleh kakaknya, Kang Minhyuk. Maka hari itu, Naheul mengajak Seojung berkeliling di sebuah supermarket demi mencari hadiah untuk kakaknya.

            “Kau ingin membeli apa untuk kado oppamu?” Tanya Seojung saat mereka tengah menaiki eskalator.

            “Ehm… mungkin jeans. Oppaku lebih suka jika diberi hadiah yang pasti akan dia pakai sehari-hari. Ketimbang sesuatu yang unik, tapi jarang bisa digunakan.”

            Seojung manggut-manggut.

            Mereka kini berada di lantai 3. Mereka masih berjalan-jalan berkeliling lantai 3, sampai akhirnya mata Naheul tertumbuk pada sebuah toko jam tangan.

            “Jamkanman!” kata Naheul mengajak Seojung berhenti. Matanya terpaku pada toko jam tangan yang ada di depan mereka.

            Seojung yang mengikuti arah pandang Naheul, tampak bertanya-tanya.

            “Jam tangan?”

            Naheul mengangguk, lantas menarik tangan Seojung, dan membawanya kea rah toko jam tangan. Sesampainya di sana, Naheul nampak sibuk memilih-milih jam tangan yang ada di dalam lemari kaca.

            “Kau ingin mengganti kado untuk oppamu?” tanya Seojung yang masih setia menemani Naheul. Ia juga tampak ikut melihat-lihat jam tangan yang ada di hadapan mereka.

            Seorang penjaga toko jam tangan itu juga ikut membantu mereka memilih, sambil sesekali menjelaskan; tentang merk serta kualitasnya.

            “Anhi,” jawab Naheul, pandangannya tertambat pada sebuah jam tangan kulit berwarna hitam, yang nampak elegan, tapi mewah, dan sepertinya cocok jika digunakan oleh…

            “Ini untuk coach-nim.”

            “Mwo?” Seojung kaget dengan jawaban Naheul. “Maksudmu pelatih So?”

            Pelayan di hadapan mereka nampak bingung.

            Naheul mengangguk menjawab pertanyaan Seojung.

            “Ini hadiah untuknya.”

*

Hari H itu pun tiba. Turnamen besar itu sudah dibuka dua hari yang lalu. Hari ini, Kang Minhyuk akan mengikuti cabang renang 400 meter gaya bebas. Naheul dan keluarganya tengah bersiap-siap untuk berangkat ke stadion tempat di mana Minhyuk bertanding. Naheul juga mengajak Seojung, sahabatnya, untuk ikut menonton pertandingan kakaknya hari ini.

Seojung benar-benar senang. Ia sudah mempersiapkan dengan matang agenda mereka hari ini. Ia juga memutuskan menginap satu malam di tempat Naheul.

Ibu sudah tiga kali berteriak dari luar, menyeru Naheul dan Seojung agar bersiap-siap.

Naheul di dalam kamar yang masih berkutat di depan cermin, dan Seojung yang masih sibuk mengatur lensa kameranya, balas berteriak dengan mengatakan, “5 menit lagi….”

5 menit berlalu, dan mereka belum juga keluar dari kamar.

“Naheul ah, ppali! Ayahmu sudah menyiapkan mobil di depan.”

“Ndeeeeee…. 5 menit lagi…”

“YA!”

*

Seojung masih duduk di depan meja riasnya. Ia sudah tidak sedang merias wajahnya lagi sebenarnya. Ia hanya tengah duduk memandangi kotak hitam di dalam laci mejanya. Wajahnya ragu. Apakah ia harus membawa serta kotak itu hari ini? Ia ingin menyerahkan barang itu, tapi ia gamang, apakah harus hari ini? Kalau bukan hari ini, kapan lagi? Tapi, bagaimana kalau nanti ketika ia memberikan, situasinya tidak mendukung?

Lagipula, kalau sampai orang tuanya melihat, mampuslah dia.

“YA! Naheul ah! Kenapa melamun?”

“Oh?” Naheul menoleh dan mendapati Seojung sudah berdiri di sebelahnya, sudah siap dengan tas kamera yang menggantung di pundaknya.

“Ppali!” Seojung mengingatkan.

“Oh,”

“YYAAA NAAHHEEUUULL AAAAHHHH… SEOJUUUUNG AAAHHH…” Terdengar suara ibunya yang menggelegar berbarengan dengan suara gedoran pintu. Naheul dan Seojung tersentak kaget, lantas buru-buru menuju ke arah pintu.

Sebelum berdiri, Seojung memutuskan meraih kotak hitam di dalam laci meja riasnya itu, kemudian cepat-cepat memasukannya ke dalam tas bahunya.

‘Kalau tidak hari ini, kapan lagi,’ batinnya.

*

Naheul duduk di tribun bersama keluarganya. Ayahnya adalah supoter teribut. Ia sudah mempersiap berbagai pernak pernik bertuliskan nama Kang Minhyuk, anak sulungnya. Sebuah syal berwarna orange terang dan bertuliskan nama sekolah Sungkyung ia bentangkan di atas kepalanya, sambil berteriak-teriak heboh.

            “YA! Nae hadeul. Anakku… itu anakku! YEAAAAY!” Ayahku berteriak sambil menunjuk-nunjuk Minhyuk yang berada di tengah-tengah athlet renang yang kini tengah berbaris di pinggir kolam.

            Tubuh Minhyuk yang tinggi kurus hanya dibalut celana renang ketat berwarna hitam selutut. Kepalanya ditutup dengan penutup kepala karet berwarna senada. Ia sempat melirik ke arah ayah, ibu, dan adiknya yang tengah menyaksikannya dari arah tribun sambil tersenyum. Ia lantas mengenakan kacamata renangnya ketika ada aba-aba untuk bersiap.

            “MINHYUK AH! Ingat kata ayah, kamu bisa karena kamu percaya kamu bisa! Nae hadeul, FIGHTIIING…” Ayahnya mengibar-ibarkan syalnya lagi.

            Naheul di samping menatap ayahnya dengan tatapan jengkel.

            “Appa! Tidak usah seperti itu. Memalukan.”

            Ayahnya tidak mempedulikan. Ia masih saja bersorak-sorak menyemangati anak sulungnya.

            “APPPAAA…”

            Naheul memanggil ayahnya sekali lagi, namun saat itu juga pandangannya tertubruk pada seseorang yang tengah berdiri di pinggir lapangan. Orang itu nampak bersidekap, dan matanya fokus memperhatikan salah satu anak didiknya yang mewakili renang cabang 400 meter itu.

            Seketika Naheul tersadar, pelatih So ada di sana.

            Naheul cepat-cepat menarik syal yang ada di tangan ayahnya, membentangkannya di atas kepalanya, kemudian berteriak, “OPPAAA! KAU PASTI BISA! KAU PASTI MENANG! JANGAN KECEWAKAN ORANG TUA! JANGAN KECEWAKAN PELATIHMU! OPPPAAA HWAIITIIIING!”

            Ayah, ibu, dan Seojung, menatap Naheul prihatin.

*

Keluarga Naheul bersama dengan keluarga lain, menunggu kedatangan atlel-atlet sekolah Sungkyung di ruang tunggu. Sekolah Sungkyung berhasil meraih 3 medali. Dua medali di cabang 500 meter gaya punggung, dan satu medali di cabang 400 meter gaya bebas. Minhyuk adalah salah satunya. Ia berhasil berdiri di podium tertinggi saat pengalungan medali.

            Kini keluarganya tengah menunggunya dengan wajah tidak sabar. Ayahnya bahkan sejak tadi menitikan airmata haru. Ayah yang heboh di podium, seketika berubah diam saat mengetahui anaknya menjadi juara.

            Ayah selalu seperti ini. Ayah itu adalah tipe lelaki sentimentil. Hatinya cepat tersentuh.

Dua puluh menit duduk menunggu di ruang tunggu, akhirnya anak-anak kebanggaan orang tua itu pun tiba. Ada 5 perwakilan atlet dari sekolah Sungkyung.

Ayah seketika bangkit dari kursinya, memeluk tubuh Minhyuk dengan erat sambil menepuk-nepuk pundak putra sulungnya itu dengan penuh bangga.

Ibu juga ikut menangis, sambil menyebut-nyebut, “Eiguuuu… nae haedul. Sugohaeso! Kau sudah bekerja keras!”

Naheul yang sempat menitikan airmata melihat pemandangan penuh haru di hadapannya, seketika pecah fokus begitu mendengar suara seseorang menegur mereka.

“Minhyuk abeoji…, selamat. Putra anda sudah bekerja keras untuk meraih juara.”

Pelatih So datang mendekat ke arah keluarga Minhyuk, dan menyalami ayah Minhyuk yang masih berkaca-kaca matanya.

Gomapsumnida. Ini juga berkat bimbingan anda, pelatih So. Sekali lagi, jeongmal gomapsumnida.”

“Anhi! Anhi! Ini 99% berkat usahanya Minhyuk. 1% karena Tuhan,” jawab pelatih So dengan rendah hati.

Naheul tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah pelatih So. Seojung di sampingnya menatapnya dengan senyum penuh arti.

“YA! Naheul ah. Mana kado yang kausiapkan?”

“Oh, nde!” Naheul seketika tersadar. Ia segera mengambil sebuah paperbag yang berisi kado berwarna kuning cerah di bangku tempat mereka menunggu, kemudian menyerahkannya kepada kakaknya.

“Seonmul!—(hadiah),” ucapnya kepada kakaknya.

Minhyuk menerima kado itu dengan senyuman, “Gomawo,” ucapnya. Mereka bisa terlihat manis seperti ini jika tidak bertengkar.

“Eomma, appa… tidak ada hadiah?” tanya Minhyuk kemudian kepada kedua orang tuanya.

“Tentu saja ada!” jawab ibu masih dengan dialek Daegu yang kental. Pelatih So dan ayah nampak mengulas senyum.

“Mweol? Musun seonmul? Kalian tidak terlihat membawa hadiah?”

“Hadiahnya di rumah,” jawab ibu lagi. Minhyuk hanya bisa menghembuskan nafas lemah. Pasti lagi-lagi makan gratis untuk seluruh atlet dan pelatih Sungkyung.

*

“WOAH! Daebak!” Seojung yang tengah membantu Naheul dan ibunya menyiapkan hidangan sejak tadi berdecak kagum, seolah-olah belum percaya dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka; So Ji Sub! So Ji Sub, mantan atlet renang Korea yang melegenda karena ketampanannya itu kini tengah duduk di salah satu meja di rumah makan keluarga Naheul. “Jinjja ya!”

Mweol?” tanya Naheul yang fokus menata irisan daging ke dalam piring.

“Aku tidak menyangka bisa melihatnya sedekat ini.”

Naheul memutuskan tidak menanggapi.

Geundae Naheul ah,” seketika Seojung menggeser tubuhnya agar benar-benar menghadap Naheul. “Jam tangan itu…”

“Ssstttt!” Naheul seketika mencegat perkataan Seojung. Jari telunjuk tangan kanannya di letakan di depan bibir, menyuruh Seojung diam.

“Ah, mianhae…” ucap Seojung merasa bersalah, “aku kira kau melupakannya.”

“Nanti… aku tidak bisa menyerahkannya sekarang.”

“Karena orang tuamu?”

“Salah satu alasan. Tapi… alasan yang utama adalah… ini bukan waktu yang tepat.”

Seojung menanggukan kepalanya mengerti.

“Hwaiting Naheul ah…”

“YA! NAHEUL AH… PPALI!” Suara ibu menggelegar lagi.

Ndeeeee…” Naheul menjawab sambil mengangkat dua piring berisi irisan daging dengan tangannya, kemudian membawanya keluar.

*

“Masuk, hyeong,” ajak Minhyuk kepada pelatih So untuk masuk ke kamarnya. Sudah lumayan lama Minhyuk tidak pulang ke rumah demi mempersiapkan diri menghadapi turnamen. Jadi, ia lumayan merindukan kamarnya.

Saat teman-temannya, tim renang sekolah Sungkyung, masih asik menyantap makan malam mereka, Minhyuk mengajak pelatihnya masuk ke rumahnya.

Hyeong? Minhyuk memanggil pelatihnya hyeong?

Yep, sejak beberapa minggu yang lalu, pelatih So memang meminta anak-anak muridnya cukup memanggilnya dengan sebutan hyeong. Dia bilang agar hubungannya dengan anak didiknya tidak terkesan kaku. Sebabnya itulah dia meminta mereka untuk memanggilnya…

cukup dengan ‘hyeong’.

Pelatih So melangkah masuk ke kamar Minhyuk sambil melihat-lihat sekelilingnya. Kamar Minhyuk tidak jauh berbeda dengan kamar anak laki-laki yang lain. Kamarnya tidak terlihat luas, karena barang yang bertumpuk di sana-sini dan tidak tertata rapi. Hanya saja, kamar Minhyuk bersih. Itu pun karena Minhyuk jarang berada di rumah.

Di atas meja belajar Minhyuk, pelatih So mendapati sebuah celengan kecil berbentuk minion. Melihatnya pelatih So tergelitik untuk menjumputnya, kemudian ia tersenyum.

“Kau suka minion?” tanyanya pada Minhyuk yang masih sibuk mengeluarkan baju kotor di dalam tas ranselnya untuk dimasukan ke dalam keranjang di samping tempat tidur.

Minhyuk menoleh sebentar, dan ikut tersenyum, “Itu hadiah dari Naheul saat aku ulang tahun waktu itu.”

“Ah…” Pelatih So menganggukan kepalanya, kemudian meletakan celengan minion itu kembali ke tempatnya.

Namun saat meletakan kembali celengan itu, pandangan pelatih So terjatuh pada sebuah pigura kecil yang terbaring di atas sebuah buku paket tebal di meja belajar Minhyuk. Letaknya tidak terlalu jauh dari celengan minion yang baru saja ia pegang tadi. Pelatih So nampak terdiam dalam hitungan beberapa detik. Diam memperhatikan foto yang ada di dalam pigura kayu di hadapannya itu. Foto yang sangat familiar di benaknya. Foto seseorang yang akhir-akhir ini mencuri ingatannya lagi. Menguak masa lalu yang sudah berusaha ia pendam dalam-dalam.

Ia ingin memulai kehidupannya lagi seperti dulu, tanpa harus bernafas dalam bayang-bayang sosok itu lagi. Tapi kenapa ketika ia sudah mulai mantap menapak ke depan, seseorang muncul di hadapannya dan mengingatkannya akan masa lalunya lagi?

“Minhyuk ah,” panggilnya setelah beberapa waktu terdiam.

Minhyuk yang saat itu sudah selesai memasukan beberapa baju yang sudah ibunya cuci ke dalam ranselnya, menutup ranselnya, menyikutnya, kemudian mendekat ke arah pelatih So. “Wae?” tanyanya Minhyuk.

“Dia siapamu?”

Minhyuk mencoba mengikuti arah pandangan mata pelatih So. Ternyata pigura kayu kecil di atas mejanya yang berisi foto…

“Itu foto tanteku.”

“Tantemu?” Pelatih So bertanya lagi. Tatapannya belum lepas ke arah pigura di atas meja itu.

Minhyuk entah kenapa merasa aneh, “Nde. Waeyo?”

“Oh, anhi,” jawab pelatih So, kemudian menatap Minhyuk dan tersenyum, “Aku kira foto Naheul. Tapi pas kulihat ada kau di sana, aku pikir… tidak mungkin adikmu lebih tua darimu.”

Minhyuk seketika tergelak, “Aniya… tentu saja itu bukan Naheul. Hanya saja mereka berdua memang mirip. Sangat mirip.”

 “—Ibu selau bilang wajah Naheul itu fotocopiannya wajah tante. Ah, seandainya saja beliau masih ada.”

“Oh,” gumam pelatih So, kemudian memutuskan mengajak Minhyuk keluar dan kembali bergabung di warung makan.

*

One response to “[CHAPTER 4] FLUTTERING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s