Unspeakable Secret | 7th Chapter

unspeakable mancay

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

 

STORYLINE BY NISA

POSTER BY dyzhetta @ Art Fantasy

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 15

 

Previous Chapter

[BAB 1] || [BAB 2] || [BAB 3] || [BAB 4] || [BAB 5] || [BAB 6]

 

HAPPY READING😀

 

 

“Kenapa? Kau tidak percaya? Bukankah sudah kubilang padamu kalau aku terlalu banyak memiliki kecacatan yang cukup fatal dan sulit untuk diterima? Benar kan apa kataku, kau akan sulit menerima semua kecacatanku ini, jadi mundurlah dari sekarang sebelum kau menyesal telah mengejar-ngejar gadis serba kekurangan sepertiku. Apalagi kabarnya… kau hanya sudi bermain-main dengan wanita yang masih perawan kan? Kalau begitu aku tidak termasuk dalam kategori wanita versimu, Oh Sehun. Sekali lagi kukatakan, hentikanlah ketertarikanmu yang tak berdasar itu.” Leera berkata panjang lebar masih dengan berlinangan air mata. Gadis itu bahkan terlihat harus menghentikan omongannya beberapa kali karena isakan tangis yang tak bisa ia tahan.

“Kau… bagaimana bisa kau diperkosa? Siapa brengsek yang berani melakukan itu, eo?” tanya Sehun dengan kilatan mata berapi-api dan nada bicara yang sedikit membentak. Kenapa Sehun terlihat marah disini?

“Mereka adalah orang yang sama dengan orang yang menculikku. Kau harus tahu… selain menyekapku, mereka juga memukuliku dan… dan.. memper….” Leera terlihat tidak sanggup melanjutkan kata terakhirnya. Well, ia masih sangat terpukul apabila mengingat kejadian itu walaupun delapan belas tahun sudah berlalu. Oh ayolah, diperkosa oleh banyak pria saat usiamu masih sebelia itu bukankah itu luka yang tak tersembuhkan?

Sehun tergerak untuk membawa Leera yang sedang menunduk; menyembunyikan tangisan lemahnya, kedalam pelukannya. Leera tidak menolak pelukan dari Sehun kali ini karena jujur, inilah yang ia butuhkan. Pelukan penuh kehangatan disaat kedinginan yang mencolok merasuki dirinya hingga ketulang belulang. Dan sebelumnya… pelukkan ini hanya diberikan oleh Chanyeol dan keluarganya. Bahkan pria itu… pria yang berhasil membuat Leera merasakan jantungnya berdegup kencang untuk pertama kalinya justru meninggalkannya dengan segala kerapuhan yang ia punya saat ia menceritakan rahasia ini.

Leera pikir Sehun akan bertindak seperti pria itu, pria yang masih tetap ada di hati Leera sampai saat ini. Tapi Sehun berbeda, ia justru membawa Leera dalam kehangatan, bukan meninggalkannya dalam kerapuhan. “Menangislah jika itu bisa membuat rasa sakitmu terlampiaskan…” bisik Sehun pelan. Seakan sebuah mantra, tangisan Leera semakin menjadi-jadi bahkan kini ia meremas jaket bagian lengan Sehun saking terlarut dalam tangisannya.

You know, Leera-ya, sebenarnya kecacatanmu itu tak ada apa-apanya dibandingkan kecacatanku…” ujar Sehun dikala ia mendengar isakkan Leera perlahan-lahan mulai hilang.

Leera mendongak; menampakkan wajah sembabnya. “Memangnya kecacatan seperti apa yang kau punya?”

Sehun yang tersenyum miris kali ini, pandangannya terlihat lurus kearah ombak yang sedang menggulung. Dapat disimpulkan, tatapan Sehun terlihat begitu sendu saat ini. “Untuk apa memberitahumu? Memangnya kau sedekat apa denganku sampai aku harus menceritakan rahasiaku padamu?” Sehun menunduk lalu terkekeh kecil setelahnya.

Leera yang mendengar perkataan Sehun barusan langsung melepaskan dirinya dari pelukkan pria itu, “Hei! Itukan kata-kataku, enak sekali kau menjiplaknya!!” sungut Leera dengan bibir yang mengerucut.

“Memangnya kau sudah punya hak cipta terhadap kata-kata tersebut? Aigoo.” Sehun masih terkekeh kecil lalu ia mendorong pelan dahi Leera dengan jari telunjuknya.

Leera melipat tangannya didepan dada, “Kau tidak adil, Sehun-ssi. Aku sudah menceritakan seluruh rahasiaku tanpa sisa padamu, tapi kau… benar-benar tidak gentle, kau tidak bisa menepati omonganmu!!” gerutu Leera. Tangan Sehun beralih kedagu Leera dan membuat mereka kini berpandangan tepat ke bola mata satu sama lain, Leera terenyuh melihat tatapan tajam namun hangat yang selalu dipancarkan Sehun kini berubah menjadi sendu.

“Belum saatnya kau tahu, Leera-ya. But later, I’ll tell you, I promise.”

Setelah menyelesaikan perkatannya Sehun mengacungkan jari kelingkingnya didepan wajah Leera. Perlahan tapi pasti Leera menyambut kelingking Sehun dengan miliknya lalu mengaitkan kelingking mereka, “Kupegang janjimu yang kau ucapkan dibawah bintang-bintang suci ini!!” jawab Leera bersemangat. Ia sebenarnya ingin mendesak Sehun seperti bagaimana pria itu mendesaknya tadi, namun ia menangkap penolakkan luar biasa yang disiratkan Sehun dari tatapan matanya itu, dan Leera memilih untuk mengalah kali ini.

“Ah, ngomong-ngomong soal bintang, Kenapa kau suka sekali melihat bintang, bukankah membosankan? Aku justru lebih suka melihat bulan.” Sehun kembali ke posisinya; duduk mendongak keatas sembari bertumpu pada kedua telapak tangannya.

Leera ikut mendongak keatas mengikuti pandangan Sehun, “Karena mereka begitu hebat dan aku terobsesi untuk menjadi seperti bintang-bintang di atas sana,” ujar Leera yang kini tersenyum manis menatap benda langit kesukaannya itu.

Sehun menoleh dengan alis yang tertaut. “Hebat? Memang apa hebatnya mereka? Bukankah matahari lebih hebat jika ingin dibandingkan kehebatannya?”

“Kau tahu bintang itu nyaris kasat mata dan besarnya juga tidak sebesar bulan apalagi matahari, right? But they’re so wonderful, Oh Sehun, mereka bisa tetap bersinar dengan cahaya mereka sendiri menghiasi langit yang begitu kelam ini. Bulan, sehebat apapun bulan ia masih menumpang cahaya matahari agar bisa bersinar. Aku ingin menjadi seperti bintang, bisa tetap bersinar, bertahan, dan terlihat baik-baik saja di balik kehidupan kelam yang menyesakkan. Tapi aku belum berhasil. Aku masih seperti bulan yang membutuhkan orang lain agar aku terlihat baik-baik saja dan bisa bertahan di dunia ini,” jelas Leera panjang lebar. Sehun terenyuk mendengar penjelasan gadis dengan surai berterbangan dibawa angin pantai yang sedang duduk disebelahnya.

“Tidak, Kim Leera. Menurutku kau sudah berhasil menjadi bintang. Kau… kau berhasil menipu semua orang dengan kepribadianmu yang tak tertebak itu. Aku bahkan tak menyangka sama sekali kalau ternyata–maaf, hidupmu dipenuhi kejadian kelam seperti itu dimasa lalu. You should be more confident, Leera-ya, kau bahkan lebih hebat daripada bintang-bintang itu. Mereka masih butuh teman-teman sesama bintangnya untuk bersama-sama bertaburan dilangit dan menghiasi gelapnya malam sehingga bisa menarik perhatian manusia. Coba kalau bintang itu bersinar seorang diri, pasti manusia kurang tertarik melihat mereka dilangit. But you’re different, dengan dirimu sendiri kau memiliki kekuatan yang bisa menarik orang lain untuk memperhatikanmu, aku korbannya.” Sehun meletakkan tangannya di pundak Leera dan sedikit meremas pundak ringkih itu untuk meyakinkan gadis dengan mata bersinar seperti bintang yang kini duduk disebelahnya.

Sehun bertanya-tanya dalah hati setelah ia menyelesaikan kalimatnya yang keluar begitu saja. Oh ayolah, Sehun bahkan kini sedang kebingungan setengah mati bagaimana bisa ia mengeluarkan kata semanis dan setulus itu pada Leera yang ia anggap musuhnya saat ini. Fokus, Sehun, peringatnya dalam hati.

Tanpa sadar tetesan air mata kembali membasahi wajah Leera yang masih cukup sembab itu. Jujur, Ia benar-benar tersentuh dengan perkataan Sehun. Karena itu… adalah perkataan paling manis yang pernah ia dapatkan selama ia hidup di dunia yang pahit ini. Salahkah Leera jika jantungnya berdebar saat ini? Salahkah jika jantung bodohnya ini beralih berdebar untuk Sehun saat ini? Bukan lagi pada pria itu….

“Aku baru tahu bintang bisa menangis.” Lamunan Leera buyar begitu ia merasakan jemari Sehun kembali menyentuh kulit wajahnya dan menghapus airmatanya. “Terimakasih, Oh Sehun…” ujar Leera begitu saja.

Sehun menautkan alisnya, “Terimakasih? Padaku? Tapi untuk apa?” tanya pria itu.

“Kata-katamu tadi begitu manis. Aku menjadi sedikit lebih percaya diri sekarang bahwa kelak aku pasti bisa jadi sehebat bintang,” ujarnya berterus terang. Kini Leera terlihat lebih membaik, bahkan ia bisa menyengir selebar itu; memamerkan deretan gigi rapi nan cemerlang tersebut.

Aigoo, i’ve told you, kau bahkan lebih hebat daripada bintang, Stellee. Kurasa kau harus belajar untuk mempercayai dirimu lebih dari apapun dari diriku.” Sehun tergerak untuk mengacak pelan rambut Leera.

Leera mengerutkan dahinya mendengar nama asing yang disebutkan Sehun, “Stellee?”

“Ya, Stellee. Panggilan baru dariku untukmu. Diambil dari kata ‘Stella’ dalam bahasa Itali yang berarti bintang, dan namamu Leera, jadi kugabungkan saja menjadi StelLee, bintang yang lebih hebat daripada bintang apapun di dunia ini,” jelas Sehun.

“Stellee? Aku suka panggilan itu.” Leera kembali menyengir lebar lalu kembali menghadap kearah langit.

“Ah, Sehun-ssi, bisakah aku bertanya sesuatu?” ucap Leera yang tiba-tiba teringat akan sesuatu.

Sehun menoleh kearahnya dengan wajah datar, “Apa?”

“Kau… merindukan ibumu ya? Kalau boleh aku tahu dimana ibumu? Soalnya aku tidak pernah melihat beliau di tiap acara perusahaan dan semacamnya, aku hanya melihat Presdir Oh seorang diri,” ujar Leera begitu saja.

Tanpa ia sadari, emosi Sehun dibuat kembali berapi-api karena pertanyaan sederhana itu. Lihatlah bahkan tangannya yang ia gunakan untuk menopang tubuh tadi kini terlihat sedang mengepal erat di atas pasir. Moodnya yang tadi sudah cukup bagus kini kembali rusak berantakan. “Ibuku sudah meninggal.” Suara itu terdengar begitu dingin.

“—dan ibuku… meninggal karena ibumu yang brengsek itu…” lanjut Sehun dalam hati yang kini sedang menoleh ke arah Leera yang tercengang dengan pandangan kebencian, berbeda dengan beberapa menit yang lalu.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Jongin memarkirkan sedan putihnya didepan pelataran sebuah restoran khas jepang yang berada tak jauh dari kantornya. Pria itu berencana untuk menyantap sashimi atau seporsi sushi untuk mengganjal perutnya siang ini. Sudah lama ia mengidam-idamkan sushi namun terpaksa harus ia tahan karena mengikuti selera Oh Sehun. Perlu kalian ketahui, Sehun benar-benar tidak menyukai makanan jepang, khususnya sashimi.

Sepertinya Jongin memang benar-benar mengidamkan makanan Jepang sejak lama. Lihat saja, bahkan pria bersurai hitam yang disisir keatas dengan rapi tersebut tak tanggung-tanggung memesan dua porsi sushi dan satu porsi sashimi untuk ia santap sendiri.

Sembari menunggu pesanannya datang, Jongin memutuskan untuk pergi ketoilet terlebih dahulu karena ada sesuatu yang mendesak yang harus ia keluarkan; buang air kecil. Saat Jongin hampir tiba di depan toilet, ia melihat seorang wanita dan pria yang sepertinya sepasang kekasih sedang berdebat di depan washtafel yang berada disebelah pintu masuk toilet.

Entah kenapa Jongin tertarik untuk menonton aksi perdebatan kedua insan tersebut, ia bahkan melupakan tujuan awalnya untuk buang air kecil.

“Sudah kubilang, aku tidak mau berpacaran denganmu lagi, kenapa kau terus memaksaku, eo?” pekik wanita bersurai panjang yang kini berdiri membelakangi Jongin. Gadis itu terlihat meronta-ronta karena saat ini tangannya sedang dicengkram erat oleh pria bertubuh jangkung yang berada dihadapannya.

“Tapi kenapa? Aku masih menyukaimu!! Aku tidak sudi di putuskan seperti ini, kau.. mentang-mentang kau anak orang kaya seenaknya saja kau mencampakkanku!!” pria itu menunjuk lancang wajah wanita yang berada dihadapannya.

“Persetan dengan perasaanmu. Pokoknya, aku tidak mau lagi berkencan denganmu, aku tahu kalau selama ini kau hanya memanfaatkan kekayaanku ‘kan? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau mempunyai wanita lain?” ketus wanita dihadapannya yang sudah berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman pria itu.

Pria yang berada dihadapannya terdiam beberapa saat, terlihat pergerakan bola matanya yang gelisah, berarti ia terancam dengan perkataan gadis itu, batin Jongin yang sejak tadi mengamati keduanya.

“Tidak, kau satu-satunya wanita dihidupku, percaya padaku. Aku tidak pernah memanfaatkan kekayaanmu sedikitpun, aku berani bersumpah!!” ujar pria itu sedikit membentak, membuat wanita dengan dress bermotif floral itu tersentak.

“Jangan mengelak, aku tahu apa yang orang-orang susah sepertimu harapkan dari orang dari kaum atas sepertiku. Kalian benar-benar murahan… bahkan kalian rela menjual perasaan kalian hanya demi uang, Ck.” Gadis itu berdecak sembari melipat tangannya didepan dada.

Mendengar perkataan pedas dari wanita itu, sang priapun terlihat mulai kehabisan emosinya. “Mulutmu itu yang murahan!! Dasar jalang!!” pria itu segera mengambil ancang-ancang untuk melayangkan sebuah tamparan dipipi sang wanita.

PLAK

Sebuah tamparan yang terdengar cukup keras mendarat dipipi gadis itu. Terlihat dari arah Jongin bahwa kini gadis itu sedang merintih kesakitan sembari memegangi pipinya yang terkena tamparan dari si brengsek.

“Kau benar-benar bajingan!!” pekik gadis itu dengan suara bergetar. “Kau memang pantas mendapatkannya wanita jalang!!” pria itu bergegas meninggalkan sang wanita yang sedang merintih kesakitan.

Jongin yang sedari tadi memperhatikan keduanya langsung mengambil langkah cepat untuk berjalan kearah keduanya, dan…

BUGH

Sebuah tinjuan mendarat dipipi kanan pria brengsek tadi, dan tentu saja Jongin yang melakukannya. Kini Jongin sedang tersenyum miring kearah pria yang ditinjunya tadi yang kini tersungkur tepat di depan kakinya.

Wanita itupun sontak menoleh ke arah Jongin begitu ia mendengar bunyi tinjuan dari arah belakangnya, wanita bermata bulat itu sedikit tertegun melihat sosok Jongin yang kini sedang berdiri dengan gagahnya.

“Siapa kau? Berani-beraninya kau meninjuku, brengsek!!” saat pria yang ditinju Jongin tadi hendak berdiri dan membalas tinjuan dari Jongin, wanita yang tadi ditamparnya pun langsung berjalan menghampiri pria tersebut dan dengan santainya menedang keras punggung pria itu dengan heels yang tingginya sekitar sembilan sentimeter itu sehingga membuat pria yang menamparnya tadi kembali tersungkur kelantai.

“Hei, brengsek!! Jangan berani-beraninya kau melukai pria ini, karena dia… kekasihku!!” ujar wanita tersebut yang kini sudah berpindah kesebelah Jongin dan menggandeng tangan Jongin tanpa basa-basi.

Sontak Jongin menoleh kearah gadis bermata bulat yang kini sedang menggandeng tangannya dengan mantap, pipi gadis itu terlihat benar-benar memerah. “Apa hebatnya pria ini? Hei, aku terlihat jauh lebih tampan dan gagah daripada pria ini.” Pria yang tadi tersungkur ke lantai kini sudah kembali berdiri dihadapan Jongin dan wanita bermata bulat itu.

“Kau mau tahu apa hebatnya pria ini daripada dirimu? Dia… dia bisa menghargai wanita, dia tahu bagaimana caranya membuatku merasa diperhatikan dan dicintai, tidak sepertimu brengsek!!” ketus wanita itu sekali lagi. “—ayo, Sayang. Kita makan, aku sudah menunggumu daritadi tapi justru pria gila ini yang menghampiriku,” ujar sang wanita yang kini beralih mendongak menatap ke arah Jongin. Lalu ia menggandeng tangan Jongin untuk berjalan menjauh dari pria yang menamparnya tadi.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Jongin membawa gadis itu duduk dimejanya yang kini sudah tersajikan dua buah porsis sushi dan sepiring sashimi. Wanita itu terlihat meneteskan air mata namun dengan cepat ia menghapusnya dengan lengan ringkihnya.

Jongin meraba saku celana bagian belakangnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna cokelat yang terlipat berbentuk persegi tersebut. “Pakailah ini,” ujar Jongin lembut sembari menyodorkan sapu tangan tersebut didepan wajah wanita itu.

Perlahan-lahan wanita itu mengambil sapu tangan cokelat tersebut dari tangan Jongin dan melampiaskan tangisannya dibalik sapu tangan yang sudah ia buka lipatannya tersebut. Jongin membiarkan wanita itu menangis beberapa saat sembari mulai menyantap california roll yang berada dihadapannya.

“Aku minta maaf… tadi seenaknya menyebutmu kekasihku,” ujar wanita itu tiba-tiba, matanya terlihat begitu sembab begitupun dengan hidungnya yang kini memerah.

Nevermind, aku senang bisa membantumu. Oh ya, apakah bekas tamparannya masih sakit?” tanya Jongin dengan wajah khawatir. Wanita itu tersenyum tipis, “Tidak terlalu, lagipula aku sudah terbiasa,” jawab gadis itu.

Mwo?! Sudah terbiasa?! Apa si brengsek itu sering menamparmu? Pria macam apa yang bertindak sekasar itu pada wanita, eo?!” protes Jongin yang hampir tersedak california rolls yang sedang ia kunyah saat ini.

Wanita itu mengangkat bahunya acuh, “Ya, begitulah. Oh ya, apa kau tidak mengingat aku?” tanya wanita itu yang kini tersenyum penuh harap pada Jongin.

Jongin mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan gadis itu, “Maaf.. tapi apa sebelumnya kita pernah bertemu?”

Wanita itu menganggukan kepalanya, “Kau Kim Jongin, benar? Perkenalkan namaku, Do Nami,” gadis itu mengulurkan tangannya kearah Jongin dan langsung disambut oleh Jongin. “—aku wanita yang pernah kau tolong saat diparkiran rumah sakit beberapa hari yang lalu, kuharap kau masih mengingatnya,” ujar wanita bernama Nami itu.

Jongin terlihat berpikir sebentar. “Ah! Aku ingat, kau wanita dengan mobil biru yang tidak bisa parkir itu ‘kan?” Jongin terkekeh kecil mengingat betapa lucunya Nami yang kesusahan memarkirkan mobil.

“Hei, apa aku sebodoh itu di ingatanmu, eung? Kala itu… tempat parkirnya saja yang aneh!! Aku bahkan sudah mengarahkan kemudiku kesana kemari tapi masih tidak pas juga!!” gerutu Nami dengan bibir mengerucut.

Jongin menganggukan kepalanya beberapa kali; masih terkekeh. “Ya, ya, anggap saja tempat parkirnya yang salah, hahaha.”

“Oh ya, kau sudah pesan? Makan bersamaku saja,” ujar Jongin sembari menunjuk kearah seporsi sushi dan sashimi yang belum tersentuh. Mata bulat Nami terlihat berbinar melihat makanan kesukaannya, “Wow, jinjjayo? Tentu saja aku tidak bisa menolak,” seru Nami kegirangan.

Keduanya memakan santapan mereka masing-masing sembari sesekali diisi obrolan-obrolan ringan yang membuat mereka tertawa kecil.

Do Nami, selamat… keinginanmu tercapai karena kau berhasil bertemu kembali dengan Kim Jongin dan kini pangeran berkuda putihmu juga mengetahui namamu.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Leera kini sudah siap dengan setelan formalnya untuk menghadiri rapat pertama yang diadakan di hotel tempat ia menginap. Pagi ini setidaknya Leera bisa memiliki teman bicara selain Oh Sehun karena kelima rekan kerjanya sudah sampai di Bali dini hari tadi.

Dalam rapat kali ini lagi-lagi Leera ditugaskan menjadi notulen. Sebuah netbook berwarna putih kini sudah terpampang rapi di hadapannya. Di sebelah Leera terdapat seorang gadis yang menjadi notulen hari ini selain dirinya, Park Sooyoung. Sooyoung bertugas sebagai mencatat hasil rapat dalam bahasa Inggris sedangkan Leera dalam bahasa Korea.

Leera terlihat fokus pada apa yang sedang dipresentasikan di depan sana, sesekali ia berbisik kepada Sooyoung sembari menunjuk ke arah layar proyektor. Lalu setelah itu ia kembali memanjakan jarinya di atas papan keyboard netbooknya.

Saat Leera mengalihkan pandangannya sebentar ke arah para audience, seketika pandangannya berhenti pada sosok pria tampan berambut blonde yang kini dibalut dengan setelan jas berwarna merah marun. Siapalagi jika, Oh Sehun.

Tanpa sadar ia mulai menelusuri dengan detail sosok sempurna yang berada pada jarak cukup jauh dengan dirinya. Sehun sedang menatap serius ke arah layar proyektor sembari sesekali ia mengangguk-anggukan kepalanya, lalu membolak-balikkan kliping materi presentasi yang ada dihadapannya.

Disinilah Leera sepenuhnya tersadar bahwa Oh Sehun benar-benar tampan. Sadarlah Kim Leera, ia terlalu jauh untuk kau gapai, jangan sampai tergoda pada pria itu, batin Leera pada dirinya sendiri. Ia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa sadar saat ini sampai Sooyoung yang berada di sebelahnya kebingungan.

“Kau kenapa menggeleng-gelengkan kepalamu seperti itu, hm?” bisik Sooyoung yang berhasil membuat Leera kembali ke dunia nyatanya.

Anni… aku hanya merasa pusing tiba-tiba. Mungkin efek jetlag kemarin masih tersisa sedikit,” jawab Leera cepat dan kembali fokus pada rapat yang sudah hampir rampung ini.

Setelah berjalan sekitar dua jam lamanya, akhirnya rapat pertama berhasil dilakukan dan ia bisa beristirahat sebelum melakukan survey lapangan sore hari nanti. Setelah Leera pikir-pikir, sepertinya perjalanan bisnis lebih menguntungkan daripada bekerja biasa. Selain bisa berlibur secara gratis, pekerjaan yang di urus juga sedikit lebih ringan. See? Bahkan saat ini baru menginjak pukul satu siang dan Leera sudah bisa bersantai.

“Kau kemarin berangkat lebih dulu ya?” tanya Sooyoung. Leera menoleh kearah gadis bersurai sepundak itu lalu menganggukan kepalanya.

Kini mereka sedang berada di kamar hotel mereka. Ya, Sooyoung lah yang akan menjadi roommate Leera selama di Pattaya. “Berarti kau sudah sempat berjalan-jalan dulu kemarin? Hm, enak sekali…” ujar Sooyoung dengan raut wajah sedikit iri. “Ya, begitulah. Tapi aku baru sempat ke Beach Road dan Jomtien Beach karena kemarin aku juga beristirahat dulu menghilangkan jetlag,” ujar Leera.

Seketika bayangannya melayang pada kejadian tadi malam, ia menangkap hal yang ganjil setelah Leera menanyakan Sehun tentang ibunya. Ya, setelah ia mengeluarkan pertanyaan tersebut Sehun langsung berubah, benar-benar berubah. Oh ayolah, Leera tidak terlalu bodoh untuk tidak menangkap keadaan hati Sehun yang tiba-tiba menjadi buruk malam itu. Bahkan Sehun tak mengeluarkan perkataan apapun setelah pertanyaan itu. Tiap Leera mengajaknya berbicara atau bertanya ia hanya menjawabnya dengan gumaman atau anggukan dan gelengan kepala saja. Sehun juga pergi ke hotel lebih dulu semalam, hampir meninggalkannya seorang diri di Jomtien Beach.

“Leera-ssi, bagaimana kalau kita mencari makan siang di Pattaya Floating Market? Pasar apung yang menjadi salah satu andalan Pattaya tersebut menjual banyak kuliner khas Thailand yang patut diacungi jempol,” ajakan Sooyoung berhasil membuyarkan lamunan Leera.

Alis Leera berkerut mendengar ajakan dari Sooyoung. “Pattaya Floating Market? Terdengar menarik. Call, aku setuju. By the way, sepertinya kau sudah cukup paham tentang seluk beluk Pattaya, ya?” tanya Leera melihat Sooyoung yang begitu berpengalaman dengan daerah di Pattaya.

“Well, bisa dibilang begitu. Hampir setiap liburan musim panas aku berlibur ke Pattaya. Ah, tapi aku ganti baju dulu bagaimana? Setelah makan siang kita sekalian jalan-jalan saja, Lu, akan kutunjukkan tempat-tempat yang menarik di Pattaya.” Sooyoung terlihat sangat antusias menghabiskan waktunya di Pattaya.

Leera menanggukan kepalanya; menyetujui ajakan Sooyoung. “Oke, kita gunakan pakaian santai saja. Tidak enak ‘kan harus berjalan-jalan dengan pakaian kerja seperti ini, hihi,” balas Leera.

Setelah itu ia membuka koper berukurang sedang yang ia bawa dan mulai memilih pakaian apa yang akan dikenakannya. Akhirnya pilihan Leera jatuh pada sebuah hotpants berwarna hitam dan kaos putih berlengan pendek sebagai atasannya. Tak lupa ia juga mengenakan sebuah platform berwarna hitam dan putih. Ya, Leera memang sangat menyukai warna putih, apalagi hitam. Karena menurutnya warna hitam itu elegant, keren, namun tetap manis.

Saat ia dan Sooyoung sudah siap dengan outfit santai masing-masing, pintu kamar mereka di ketuk. Dengan cepat Sooyoung yang berada di depan pintu membuka pintu tersebut.

Sooyoung cukup terkejut saat ia mendapati direktur tampan idamannya kini berada di depan kamar hotel mereka. Apalagi ditambah dengan pakaian Sehun yang terlihat lebih santai saat ini, ia mengenakan celana jeans hitam dengan ripped di dengkul dan dipadukan dengan hoodie berwarna kuning bata keluaran supreme.

“Oh Isajangnim? Ada perlu apa?” tanya Sooyoung dengan sopan setelah ia puas memandangi Sehun dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.

Saat mendengar perkataan Sooyoung, mau tak mau Leera yang hendak memakai parfumnya di depan meja rias menoleh ke arah pintu dan betapa terkejutnya ia mendapati Sehun yang kini sedang berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian santai seperti itu.

Sehun memanjangkan tengkuknya melihat sosok Leera yang berada dibalik Sooyoung. “Hi, Stellee!!” ujarnya sembari melambai-lambaikan tangan.

Mendengar panggilan baru dari Sehun yang sangat ia sukai itu, sontak membuat Leera salah tingkah. “Oh… h–hai!! Ada apa?” Leera berjalan mendekat kearah pintu dengan lambaian tangan yang canggung.

“Ayo ikut aku ke Pattaya Beach, kebetulan kau juga sudah berganti pakaian ‘kan? Tepat sekali,” ujar Sehun yang langsung menarik tangan Leera begitu saja hingga kini Leera sudah berada di luar kamarnya; berdiri tepat dihadapan Sehun.

“Tapi aku…”

“Aku pinjam teman sekamarmu sebentar ya, Park Sooyoung-ssi. Selamat menikmati waktu luangmu di Pattaya, jangan lupa berkumpul di lobby pukul lima sore untuk survey lapangan.” Tanpa memperdulikan tolakan dari Leera, Sehun langsung memotong pembicaraan gadis itu dan berbicara pada Sooyoung yang terlihat kebingungan dengan apa yang ia lihat saat ini.

“Ah, n—ne, Isajangnim.” Sooyoung menganggukan kepalanya begitu saja masih dengan wajahnya yang benar-benar kebingungan.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh lima menit lamanya, akhirnya Sehun dan Leera berhasil menapakkan kaki mereka di Pattaya Beach. Ya, ini adalah tempat kedua yang selalu Sehun kunjungi setiap ia berkunjung ke Pattaya. Tempat yang berlokasi di ujung selatan Pattaya ini memang cukup jauh dari hotelnya yang berada di daerah Pattaya Utara, namun Sehun tidak peduli karena apabila ke Pattaya tanpa berkunjung ke Pattaya Beach, rasanya ada yang hampa.

Pattaya Beach merupakan pantai yang menyediakan fasilitas berbagai macam permainan watersport. Selain itu juga, kita bisa sekalian mengunjungi Turtle Island yang bisa ditempuh menggunakan kapal mesin sederhana dalam waktu sepuluh menit dari bibir pantai Pattaya Beach.

Pantai ini berbeda dengan pantai yang mereka kunjungi kemarin; Jomtien Beach. Well, Pattaya Beach memang lebih ramai daripada Jomtien Beach. Karena pantai ini juga lebih difokuskan pada sisi watersportnya sehingga banyak yang lebih memilih berkunjung ke Pattaya Beach.

Leera tak henti-hentinya menganga begitu Sehun membawa Leera semakin mendekat ke arah pantai yang bisa kita saksikan pemandangan beberapa parasut terbang dan semacamnya diudara. Well, terserah jika ia dianggap kampungan atau semacamnya, karena ini adalah pertama kalinya ia ke Pattaya.

“Wow, keren sekali!!” Leera berseru; pandangan matanya terarah pada parasut terbang yang diarahkan oleh jetski dari bawah sana atau biasa disebut parasailing. “Kau tertarik? Kita bisa mencobanya nanti.” Sehun tersenyum kecil melihat Leera yang begitu terpukau disebelahnya.

“Aku mau… tapi aku sedikit takut…” ujar Leera berterus terang sembari menyengir canggung. “Tenang saja, aku sudah berkali-kali mencobanya dan sejauh ini tidak pernah ada kecelakaan apapun bukan? Lihat, aku sehat-sehat saja dan justru ketagihan!!” ujar Sehun meyakinkan.

Leera mengamati Sehun dari ujung rambut sampai ujung kaki sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya. “Oke, aku mau mencobanya…” ujar Leera akhirnya.

Sebelum memutuskan untuk menjajal berbagai macam watersport yang tersedia di Pattaya Beach, Sehun mengajak Leera untuk berkunjung ke Turtle Island terlebih dahulu.

Turtle Island adalah tempat sejenis kebun binatang yang tidak terdiri dari penyu saja; seperti namanya. Akan tetapi kita juga bisa melihat berbagai jenis burung dan ular di Turtle Island. Istimewanya, di Turtle Island terdapat sebuah kolam penyu yang berisikan beberapa penyu kramat yang konon katanya jika kita mengelus tempurung sang penyu suci tersebut sebanyak tiga kali sembari mengucapkan keinginan kita dalam hati, ada kemungkinan besar keinginan kita tersebut tercapai.

Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit menggunakan sebuah perahu mesin sederhana, sampailah Sehun dan Leera di pulau penyu. Tempat ini cukup padat, tak jauh berbeda seperti keadaan di Pattaya Beach tadi. Sehun dengan antusianya langsung mengajak Leera menuju ke kolam penyu suci yang penuh dikelilingi oleh para wisatawan saat ini.

“Leera-yaCan you help me?” ujar Sehun dengan antusias begitu mereka sampai didepan kolam penyu yang berukuran sekitar 2m x 4m tersebut. “Bantu apa?” tanya Leera.

“Maaf sebelumnya, apa kau sedang datang bulan?” tanya Sehun yang kini salah tingkah. Leera terlihat canggung dengan pertanyaan Sehun barusan, “Ti—tidak, kenapa?”

“Tolong angkatkan salah satu dari penyu itu untukku, karena jika kau sedang datang bulan kau tidak diijinkan untuk menyentuh penyu tersebut, karena mereka sakral,” jelas Sehun.

Leera menganggukkan kepalanya, “Baiklah. Memangnya kau percaya dengan mitos yang tadi kau ceritakan?” tanya Leera.

Why not? Lagipula apa salahnya mencoba? Kebetulan aku sedang memiliki keinginan yang besar,” ujar Sehun yang tiba-tiba mengeluarkan senyuman miringnya.

Leera lalu mengangkat sebuah penyu yang tak terlalu besar namun tidak terlalu kecil juga, lalu ia membawa penyu tersebut kehadapan Sehun. Dengan sigap Sehun mengelus tempurung penyu tersebut sembari mengucapkan permohonannya didalam hati.

“Sudah, kau mau mengucapkan permohonan juga?” tanya Sehun balik setelah ia kembali membuka matanya. Leera menggeleng dan kembali meletakkan penyu tersebut kedalam kolamnya. “Tidak, aku tidak percaya mitosnya,” ujar Leera. “—lebih baik aku berdo’a di gereja,” lanjut Leera.

Aigoo, ternyata kau patuh juga pada agama, tak kusangka.” Sehun mengacak pelan rambut Leera yang kini digelung rapi keatas.

“Oh ya, apa permohonan yang kau ucapkan tadi?” tanya Leera penasaran. Kini mereka berdua sedan menyusuri kandang burung yang berada dibagian belakang. “Secret. You don’t need to know,” ujar Sehun.

“Oh ayolah, kenapa kau senang sekali menyimpan rahasia, eo? Beritahu aku kali ini saja.” Leera memohon dengan senyum yang dibuat-buat kearah Sehun. “Tidak bisa, kali ini kau memang tidak perlu tahu,” tegas Sehun. “Karena permohonanku adalah… semoga pembalasan dendamku padamu berjalan lancar dan rasa sakitku terbalaskan,” lanjut Sehun dalam hatinya sembari tersenyum miring.

 

T  B  C

[ biasakan untuk baca author note’s yah di bawah, jangan di skip😀 ]

.

#PREVIEW FOR NEXT CHAPTER

 “Ya, kau akan melihat surga sebentar lagi, Stellee. Karena mungkin kau mati tenggelam…”

“Aku ingin hidup, Tuhan. Tolong selamatkan aku…”

“Apa pedulimu? Bahkan jika aku mati tidak ada untuk maupun ruginya untukmu ‘kan?”

“Kurasa ini jalan satu-satunya untuk menyembuhkan phobiamu, Stellee.”

===

.

HOLA HOLA HOLA AKU KEMBALI MUNCUL KEPERMUKAAN UNTUK MENEMANI MALAM MINGGU KALIAN DENGAN TUJUAN: SEDIKIT MENGURANGI KEGALAUAN MELIHAT #EXORDIUMINBKK DI TIMELINE.

Gimana? Masih pada mau kan ikutin ff ku yang super duper dramatis mendekati lebay bombay ini? Oh ya, ada kangen sama Chanyeol – Haeyoung? Untuk informasi, chapter selanjutnya mereka bakalan nongol lagi lho, hihi.

Untuk yang kemarin nyangka kalau Leera bohong tentang insiden pemerkosaannya, kalian salah. Karena Leera benar-benar pernah diperkosa dan yang merkosa Leera cuma penjahat suruhan biasa, bukan tokoh yang akan dibahas di cerita ini, apalagi ayahnya Sehun. BIG NO, plislah sejahat apapun bokapnya si Sehun, tapi dia gak setega itu mau merkosa anak kecil wkaka.

[note :: akan langsung update chapter 8 kalau comment mencapai 65 comments]

Hehe, maaf yah dinaikin target commentnya😦 Jujur, itu juga biar aku ada jeda gitu dan lebih semangat untuk bikin lanjutannya, jadi hasilnya maksimal. Kemarin aku sempat nggak nyangka banget dalam waktu kurang dari 2 hari target 50 commentsnya udah tercapai😀. Bukannya aku nggak tahu diri atau sejenisnya, tapi apa salahnya minta 65 comments disaat aku tahu betul kalau readers ff ini lebih dari 150?😀

 

 

83 responses to “Unspeakable Secret | 7th Chapter

  1. Part ini memang pendek atau cm perasaanku aja ya? Hehe…… FF nya makin seru, aduh….. knp Sehun gk berhenti aja? Udh penasaran, Thor, sm kelanjutannya. Ditunggu ya, Thor…… 😉😉😉😉

  2. My goshh leera pernah diperkosa byk laki? 😭😭 sehun jahat banget masih mahu teruskan balas dendam..please reader yg lain leave a comments I want to know what happen next chapter

  3. Bacanya ngebut dari chapter 1-7 jadi baru comment di sini😁
    kirain Sehun udah mulai berubah, eh nggak taunya masih sama aja -_-“. Nggak nyangka kalau Leera punya dark past, se-lee sama sama punya masa lalu kelam 👍👍😁

  4. Bacanya ngebut dari chapter 1-7, jadi baru bisa comment di sini😁
    kirain Sehun udah berubah, nggak taunya masih sama aja -_-“. Nggak nyangka Leera punya dark past, Se-Ra couple sama sama punya masa lalu kelam👍👍😁

  5. sempet kepikiran loh kalo yg jahat itu bapaknya sehun wkwk oh iya pengen tau hubungan leera sama ibunya lebih jauh dong

  6. si leera udh kasih tahu pengalaman hdupnya, kok sehun tega bnget masih pngen bales dendam? sehun ini emang benci leera atau terobsesi sma perasaany sendiri yg pngen bales dendam sma leera? 😂😂😂

  7. Daebakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

    Huhhhh ,, sehunnnnnnnnnn
    Awas LOOOOOOOOOO kena batunya

    Baca next nyaaaa ,,,,,, makin penasarannnnnn

  8. penasaran banget sama kelanjutannya, padahal udah seneng sehun keliatan nya gak ada niatan balas dendam gitu, eh ternyata tetap ajaa..

    cepeet dilanjutttt
    penasaran bangeet

  9. Gila aku kira sehun beneran luluh, ternyata masih aja busuk -_-
    Tapi aku suka thor🙂 buat leera jatuh cinta sama sehun dan sehun akan balas dendam dan akhirnya sehun akan menyesal haha🙂
    Commentnya udah lebih 65 thot cepetan di update ya😉

  10. Haaa keren bgt ceritanya! semakin kesini smakin seru..! Lucu ya sehun smpe bisa ngasih kta2 bijak ttg bintang dgn super panjang gitu ke Stelle..!*Love the name* But… apa? di next chapter bkln heboh Sehun mw nenggelamin Stelle? Oh please BIG NO… Sehun kapan kamu tobat?? Eh tp Leera a.k.a Stelle ud mlai brdebar y_pnsrn juga sma lki2 yg kabur ninggalin Leera _NextNext setia ditunggu author!😀

  11. Pingback: Unspeakable Secret | 8th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. sehun masih jahat aja bikin kesel/? greget sumpah. pengen cuci otak sehun… kan ibunya yg salah bukan anaknya…. biar ntar sehun nyesel dasar jahat/? -_-
    Nama aku tuh Nami… baper nih wks… tp klo di korea jd Kim Nami wks… Nama rl aku Namira… aku singkat jd Nami hehe…
    Keep writing and hwaiting thor~

  13. Jd Leera dperkosa wkt umur 7th?!! Astaga.
    Ak kira sehun udh tobat, ternyata makin jd aj tu anak. *kebawa emosi* wkw. Sbnrny sehun ini pure dndam atau udh ada tanda2 cinta sih? Oiya, dchapter awal Leera blg kyk prnh ngeliat sehun, brarti mereka udh prnh ktmu dong wkt kecil?

  14. Jadi Sehun tetep ngejalanin rencana bales dendamnya? Aku kira Sehun bakal berubah pikiran. Tapi aku penasaran juga si sama permainan Sehun itu kayak gimana?

    Tuh kan, yang di kamar mandi itu Nami.
    Cie Jongin sama Kami lagi pedekatean.

    Kalo orang yang gak tau, pasti liat Sehun sama Leera ngiranya sepasang kekasih yang romantis, abis akting Sehun bagus si. Hihi
    Semoga di masa nanti Sehun manisnya beneran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s