[1st] Snapshots by slmnabil

snapshots

Author : slmnabil | Cast : Kim Jongin, Park Chanyeol, Hong Seoljin (OC)

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : Poster by Jungleelovely Poster Channel

prolog : one dance

FIRST SHOT

Dari        : Park Chanyeol

Untuk    : Hong Seoljin

Perihal  : Kau harus katakan ya untuk yang ini

Aku akan ke Washington selama dua minggu, penerbanganku malam ini. Maaf terlambat memberitahumu.

Makan malam bersama keluargaku tidak akan dibatalkan, hanya aku saja yang tak akan di sana. Kalau kau tak mau datang, aku akan bilang kepada orang tuaku jika kau sedang tidak enak badan.

Sampai jumpa dua minggu lagi.

P.S. Dan untuk lamaranku tempo hari, tolong katakan ya kali ini. Aku mencintaimu.

*

Dari       : Hong Seoljin

Untuk   : Park Chanyeol

Perihal  : Safe flight

Padahal kalau kau mengatakannya lebih awal, aku bisa mengantarmu ke bandara.

Soal makan malam, kau juga tahu kalau aku masih canggung terhadap orang tuamu. Katakan aku akan datang lain kali, ketika kau juga datang.

Hati-hati di sana.

*

Luar biasa, ya, kehidupan itu? Park Chanyeol—lelaki yang dulu ingin kutendang jauh-jauh—menjadi bagian yang besar dalam hidupku saat ini. Terlebih, ia sedang giat-giatnya mengubah statusku agar tak lagi lajang dan menyandang Park dalam namaku. Dia pikir itu sepadan.

“Kalian sudah bersama selama empat tahun, dan hubungan kalian bebas masalah. Apa, sih, yang kau tunggu?” tanya Raeum—teman satu kamarku.

Benar, hubunganku dan Chanyeol memang lurus-lurus saja. Aku bisa saja mengatakan ya di kali pertama ia melamarku lima bulan yang lalu, tapi aku menolak. Bukan karena aku tidak mencintainya, tentu saja ia sangat berharga. Chanyeol mengerti aku, sangat dewasa, dan nyaris tanpa cela. Ia memperlakukanku seolah aku ditempeli label ‘Barang Pecah Belah.’ Tapi justru itulah masalahnya. Aku tidak pernah bermasalah dengannya dan aku membiarkan lamarannya menggantung selama lima bulan entah karena apa.

“Aku tidak menunggu apa-apa. Hanya saja … kurasa belum saatnya,” sahutku, kebingungan bagaimana harus merangkai kata.

Raeum mendengus lalu memelototiku. “Kapan kau berencana bilang ‘inilah saatnya’? Kalaupun kau menikah, dia tidak akan menuntut macam-macam. Chanyeol tak akan membatasi kegiatanmu, profesimu sebagai fotografer aman. Dia pebisnis, tentu tak akan mau istrinya jadi pengangguran.”

“Aku tahu, aku tahu. Bukan karena itu.”

“Aku benar-benar tak bisa mengerti dirimu,” kata Raeum. Kemudian dia pergi, meninggalkan debuman keras di pintu.

Percayalah, bahkan aku pun tak mengerti diriku sendiri. Dan alasan kenapa Raeum begitu marah padaku.

Aku hendak mematikan laptopku menyadari kalau Chanyeol tak akan membalas surelku lagi. Namun ketika suara ting pendek masuk ke pendengaranku, kuurungkan niatku untuk membaca surel yang baru masuk.

*

Dari        : Kang Yura

Untuk    : Hong Seoljin

Perihal  : Tawaran pekerjaan

Selamat malam, Nona Hong Seoljin. Saya Kang Yura. Saat ini agensi kami sedang mencari jasa fotografer yang bisa kami kontrak selama dua minggu ke depan. Salah satu seniman kami akan menggelar konser tari balet kontemporer dan dia ingin menerbitkan photobook khusus konsernya di Korea. Saya dengar, Anda terkenal dalam bidang ini. Kami berharap Anda berkenan untuk bergabung.

Berikut saya lampirkan alamat gedung agensi kami, apabila berkenan kami mengharapkan kedatangan Anda besok pagi pukul 10. Terima kasih.

*

Kutatap layar yang menyala di hadapanku sekali lagi.

Tarian. Penari. Dia.

Kupejamkan mataku erat-erat, seolah kalau melakukannya aku bisa menekan segala jenis emosi yang membuncah dalam diriku. Ini bukan waktunya mengurusi masa lalu, aku sudah cukup menghabiskan waktuku dengan hal itu. Aku harus terus maju, tak ada waktu untuk masa laluku.

Kucermati deretan kalimatnya, kuraih secarik kertas dan menuliskan alamatnya di sana.

*

Aku memiliki masalah dengan gaya berpakaianku, setidaknya yang Raeum katakan begitu. Dia pikir setelanku selalu terlalu santai, tidak tahu kondisi dan siapa yang akan kuhadapi. Kaos bergaris dan celana jeans berpotongan lebar di bawah untuk wawancara kerja, kenapa tidak?

“Mereka bakal mengira kau ke sana untuk menawarkan minuman anti mabuk,” kata Raeum seraya mencermati penampilanku secara keseluruhan. “Jangan kucir rambutmu! Sudah sering kukatakan!”

Kuabaikan dia. “Aku menjual kualitasku di sini, Teman. Tak masalah dengan penampilan, oke?”

Selanjutnya kudapati diriku mengenakan syal untuk melingkari leherku, disusul jaket kulit hitam setelahnya. Kukencangkan tali sepatuku, sebelum meninggalkan Raeum dengan ocehannya soal betapa kacaunya aku terlihat.

Menurutnya, yang harus kukenakan adalah kemeja dan rok juga sepatu tinggi. Tapi juru foto di belahan bumi mana yang pergi bekerja dengan penampilan seperti itu? Aku bertaruh tak ada.

Untungnya alamat gedung agensi mereka tak jauh dari apartemenku, jadi aku tak perlu bergelut dengan lalu lintas Seoul yang tidak pernah mau kalah ramai dengan aktivitas penduduknya. Berjalan lima belas menit, dan aku sampai di sana.

Tulisan bercetak kapital berlogo “K” terpampang di pintu masuknya. K untuk Korea? Kudapan? Kari? Ke kuburan saja sana? Atau malah K untuk koin emas?

Terserahlah. Bukan urusanku lagipula.

Ketika aku masuk, aroma kayu ek semerbak dari sana-sini. Lampunya tidak terlalu terang, membuat kesan hangat dan tenang sangat terasa. Kupikir gedungnya akan gaduh dan seteratur yang sering kulihat di televisi, tapi di sini seolah didesain menyerupai studio. Seperti kau sedang di rumahmu sendiri.

“Bisa bertemu dengan Kang Yura?” tanyaku pada seorang resepsionis.

“Sudah membuat janji?”

“Sudah,” sahutku. “Aku Hong Seoljin.”

Sebelum kudengar ia menjawab, suara tok-tok khas sepatu wanita mengalihkan perhatianku. Kutebak, dialah wanita yang mengirimiku surel semalam.

“Nona Hong Seoljin, senang bertemu dengan Anda. Saya Kang Yura. Mari lewat sini.”

Yang kulakukan setelahnya adalah mengikutinya. Dia mengarahkanku menaiki anak-anak tangga berlantai kayu, melewati beberapa bingkai foto yang didominasi hitam-putih. Pasti penari-penari di agensi ini. Potret mereka sangat halus, cantik, dan meninggalkan kesan. Aku penasaran penari seperti apa yang akan kuhadapi dua minggu ke depan.

Mau tak mau aku memikirkan dia. Kalau ia menekuni tari, sudah sejauh manakah dia sekarang? Apakah aku akan terkejut? Karena empat tahun ini aku sama sekali menutup diri soal kabarnya.

Tok-tok sepatu Yura menyadarkanku, kami berhenti di depan sebuah ruangan. Tak terdengar suara musik dari dalam, mungkin sengaja dibuat kedap suara.

“Kau siap?” tanyanya.

“Untuk segala kemungkinan.”

Pintu pun terbuka. Alih-alih dinding yang disusun oleh cermin-cermin besar, aku malah melihat ruang kerja dilengkapi sofa penerima tamu yang ruangannya perpaduan abu-abu dan putih. Seorang lelaki berkemeja putih dengan dua kancing atas terbuka dan handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah ke luar dari pintu lain dalam ruangan.

Detik itu kurasa duniaku dijungkirbalikkan.

Perutku seperti ditendang-tendang.

Tanganku basah kuyup oleh keringat.

Dan di sana, dia, sama terkejutnya sepertiku. Matanya melebar, raut wajahnya tak bisa kudefinisikan.

Jadi ini rencananya? Dia sudah tahu? Dia sengaja mempekerjaanku?

“Jongin, ini Hong Seoljin. Fotografer yang akan menggarap photobook pertunjukanmu.”

Kehidupanku sudah baik-baik saja—atau kuasumsikan begitu sebelum aku bertemu denganmu lagi. Kenapa kau ikut campur sekarang?

*

Aku punya kesempatan untuk lari. Sepatuku nyaman, tidak akan sulit. Kalau aku mau mengesampingkan gengsiku sedikit saja mungkin ini bisa menyalamatkanku seumur hidup. Tapi aku tetap di sana, terpaku melihat refleksinya yang oh-semakin-menawan-saja.

Mungkin perasaanku sama seperti saat melihat Four, atau Will Traynor, atau … siapa lagi ya? Pokoknya aktor-aktor yang sanggup membuatku mengejang dalam diam. Ini Jongin, dan kini ia ibarat seorang pemain film yang kupuja-puja namun mustahil diraih.

Aduh, aku bicara apa, sih?

“Halo, Nona Hong Seoljin,” katanya, menyembunyikan keterkejutan. “Silakan duduk.” Dia melihat ke arahku, kemudian pada Yura. “Teh, tolong.”

Dan kemudian Yura menghilang, kutebak dia adalah sekertarisnya.

Terjadi keheningan yang cukup panjang sebelum dia mengambil tempat, disusul aku duduk di sofa yang berhadapan dengannya.

“Jadi … kau masih memotret?” tanyanya mengawali.

“Begitulah,” sahutku, mungkin dengan suara yang terdengar bergetar.

“Jadi kau akan bersamaku selama dua minggu penuh. Mulai dari latihan hingga hari pertunjukannya.”

Aku mengangguk. “Rencananya seperti itu.”

Kemudian diam lagi. Mungkin kami sama-sama tengah sibuk menata emosi—atau mungkin hanya aku. Bisa saja dia sedang memikirkan cara untuk menendangku jauh-jauh.

Mataku tak berani menatap lurus ke arahnya, aku mengedarkan pandangan ke mana saja—vas bunga, pemandangan luar jendela, sepatuku—asal tak bertemu pandang dengannya. Sial sekali, kenapa aku tidak lari? Kenapa aku tidak menamparnya atau melakukan apa saja untuk meluapkan kemarahanku karena … kau tahulah, masa laluku. Padahal rencanaku sudah matang kalau bertemu dengannya lagi, bahkan dulu aku sudah melakukan simulasi.

Lupakan, lebih baik aku malu sekarang. Aku harus menyingkir dari hidupnya, atau lebih tepatnya aku harus menyingkirkannya dari hidupku.

“Kalau kau tak nyaman bekerja denganku, aku masih bisa mencari pekerjaan lain,” kataku, akhirnya bertemu pandang dengannya.

Wajahnya dingin, seakan bertemu denganku sama sekali bukan masalah dan perbincangan denganku hanyalah bagian dari agendanya hari ini. Ia masih punya kegiatan lain.

“Tidak perlu.” Dia berdeham. “Kasihan Yura, perlu mencari orang lain.”

Oh, benar. Dia. Pasti hubungan mereka bukan sebatas rekan kerja. Tunggu, kenapa memangnya? Apa urusanku?

“Aku punya rekomendasi,” ujarku seraya mengeluarkan ponsel dari tas selempangku. “Aku bisa menghubunginya sekarang.”

Bertepatan dengan itu pintu terbuka, Yura muncul dengan dua cangkir teh di nampannya. Dia meletakkan keduanya di meja, dan melenggang ke luar.

Tidak ada pertolongan mendadak? Perlu kuhubungi 119?

“Aku baik-baik saja,” katanya. “Lagipula kita tidak punya masalah, kita hanya akan jadi rekan kerja selama dua minggu. Santai saja.”

Benar, rekan kerja. Terserah katamu.

Dia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke meja kerjanya, memencet sebuah tombol. Yura bergabung lagi dengan kami beberapa detik setelahnya.

“Sudah kausiapkan kontraknya?”

Kontrak. Tentu saja.

Yura menyerahkan selembar berkas yang hanya perlu kutandatangani. Ya ampun aku harus bagaimana? Haruskah kutolak? Bisakah aku meminta waktu? Bolehkah kukonsultasikan dengan Raeum terlebih dahulu?

“Kami ke luar dulu,” katanya. “Supaya kau bisa berpikir.”

Tepat ketika pintu tertutup, kutekan panggilan cepat nomor satu di ponselku. Raeum, temanku di segala situasi.

“Gawat! Kau harus tahu calon bosku yang baru! Kupikir aku harus lari!” pekikku tertahan.

“Santai dulu. Memangnya kenapa? Siapa dia? Menyeramkan? Sudah tua? Genit?” cecarnya dengan tanya.

“Tidak, lebih buruk,” sahutku lemah. “Kita harus bertemu, aku tak bisa menjelaskannya di telepon. Sepuluh menit lagi di kafe biasa?”

“Kau gila? Aku sedang bekerja? Bosku bisa marah.”

Aku menggulirkan pupil. “Tendang saja atau tinju hidung bosmu, jadi kau bisa ke luar.”

“Ya, ke luar selamanya. Oh, ya ampun dia memelototiku sekarang. Dengar, kalau kau tidak suka jangan terima pekerjaannya. Kau tidak sedang dalam krisis moneter, kau punya pilihan. Kita bicara saat jam makan siangku, oke? Kutunggu kau di sana.”

Panggilan kami terputus.

Raeum tak mengerti, aku perlu bicara dengannya untuk membuat keputusan. Dia malah menyuruhku memutuskan sendiri. Ayolah, pikir Seoljin, baiknya bagaimana? Haruskah kutanya pada Chanyeol? Tidak, tidak. Dia sedang sibuk.

Tak membiarkanku tenggelam dalam dilema lebih lama, Jongin dan Yura muncul di ambang pintu. Mereka duduk di hadapanku, menampakkan ekspresi menunggu.

“Jadi?” tanya Jongin.

Oke, jangan sekarang. “Aku butuh waktu lebih lama,” sahutku.

Yura maju untuk menghadapi situasi, ia memajukan tubuhnya persuasif. “Anda tinggal menandatanganginya, Nona. Nominal yang kami tawarkan terhitung besar dan namamu akan semakin dikenal kalau bekerja dengan penari seperti Jongin. Dia punya nama besar.”

Tidak, aku tidak ingin ini. “Aku punya kenalan yang lebih bagus. Aku bisa memintanya datang sekarang juga.” Kuacungkan ponselku.

Yura menatap Jongin. “Bagaimana?” tanyanya.

“Aku tidak mau yang lain,” sahut Jongin. “Merepotkanmu.”

“TIDAK, TIDAK! Aku yang akan repot, kalian tidak perlu melakukan apa-apa.”

“Baiklah, kalau begitu,” kata Yura menyetujui.

Aku hampir bernapas lega, kupikir aku sudah lepas dari kebingunganku hingga Jongin angkat bicara.

“Kami akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Datanglah besok pukul 10 dengan keputusanmu,” katanya. Lalu dia mengambil derap langkah hendak ke luar ruangan. “Dan aku tidak suka ada yang mengatakan tidak padaku,” tambahnya sebelum benar-benar menghilang.

Ini keliru. Kenapa dia bersikeras terlibat lagi denganku?

TO BE CONTINUED

updated every saturday-sunday

  • Yang sempat membaca one dance sebelumnya pasti agak aneh karena nabil mengganti Joonmyun jadi Chanyeol😀 tapi sudah disunting, jadi dipersilakan kalau ingin membaca ulang. dan yang belum disarankan membaca one dance dulu agar mengerti.
  • Ini sudah dijadwalkan terbit sampai 2 minggu ke depan, jadi InsyaAllah tidak akan ada keterlambatan.
  • selamat dan terima kasih sudah membaca❤

25 responses to “[1st] Snapshots by slmnabil

  1. Aku belum begitu ngerti ceritanya hehehehe
    Yang aku tangkap kayaknya Seoljin sama Kai punya masa lalu yang agak kurang baik ya? Terus Seoljin sama Chanyeol udah pacaran tapi lamarannya belum di terima-terima
    Baru segini sih yang dapat aku cerna..
    Sippp udah dulu ya aku cuap-cuapnyaaaaaa
    Ditunggu kelanjutannya! SEMANGAT! ^^

  2. Seru nih kayaknya ceritanya. Nlm pernah baca ff yang castnya penari sam fotogrefer, jadi beda aja ff ini sama yang lain.

    Oiya btw gimana seoljin bisa jadian sama chanyeol?? Okedeh masih banyak banget yang bikin aku penasaran.

    Ditunggu bgt ya next chapternyaa

  3. Akhirnya di lanjut juga nih ff!! Udah Seoljin tolak aja si Jongin, seenaknya aja datang dan pergi. Dulu aja ninggalin kamu nggak pakek pamit” segala. Terima aja si Chan!!

  4. Pingback: [2nd] Snapshots by slmnabil | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Kenapa chanyeol tiba2 kek gitu 😭😭
    Jongin jugak 😭😭
    Klo bisa chapter2 slanjutnya dipanjangin dong thor…eheheh

  6. Suka diksinya kakak….
    Ternyata modus ya sih Jongin ke Seoljin. Padahal Seoljin dah mau dilamar sama Chanyeol. Ralat, Chanyeol yg kebelet nikah sama Seoljin.
    Good job, kak… Fighting!!

  7. Siapa yg gak syok…tahunan gak ketemu tau2 kudu kerja bareng…seoljin gak terima lamaran chan psti msih ada hubungan dng jongin..klo aku baca di one dance jongin pergi gak bilang2 jdi mrk msih ada hubungan…

  8. untungg ada lanjutannya ini ff kyahh, jadi ga gantung2 amatt. mangat thor buat chap selanjutnyaaa kyaaa
    oo

  9. Kok aku seru sendiri baca ginian huehehehe…
    Aku telat bcanya, pdhl uda bca yg one dance, trus baru tau ini sambungannya..

  10. pelajaran yang didapat dari ff ini;
    bertemu mantan menyebabkan:
    serangan jantung mendadak,
    pupil mata melebar,
    keringat dingin, dan
    kesulitan berbicara.

    Sekian.

  11. Ih sebel jongin keluar lagi.. Aku kira seolji udah fine fine aja sama chanyeol. Ini malah kesempatan chanyeol lagi keluar negri trus si jongin keluar huwaaaaa aku berharap sih jongin minta maaf duluan ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s