HOPE (CHAPTER 2)

hope

HOPE

Present By Kainear | Seventeen’s Mingyu & Shin Hana (OC) |

Romance, Slice of Life, School Life | PG 15 |

Poster By Clairvoyant @Poster Chanel

Chapter 2 (Hypocrite)

Mingyu hanya bisa memandang lurus kearah kamar yang berhadapan langsung dengan kamarnya. Mingyu tau kini Shin Hana telah kambali dan kembalinya Shin Hana membuat Minkyu sadar kalau dirinya masih terus berada dalam bayang-bayang Hana.

Mingyu memegang erat pagar balkon. Ia menyadarkan dirinya kalau Hana yang dulu telah meninggalkannya tanpa pamit dan bahka tak pernah mengirimkan surat pada Mingyu. Meskipun Mingyu sadar kalau ia merindukan gadis itu tapi disisi lain ia sangat membenci Hana.

Untuk apa dia kembali?

Disisi lain Hana terus memikirkan kata-kata Mingyu padanya. Entah mengapa meskipun otaknya terus menolak kalau yang ia temui tadi adalah Mingyu temannya tapi tetap saja dalam hati-nya merasa Mingyu adalah Mingyu yang dia kenal.

Hana-pun ingin mengunjungi tetangganya itu. Ia berharap semua pertanyaan yang ada dikepalanya saat ini dapat terjawab. Dia-pun mengganti pakaiannya. Karena sekarang sudah musim dingin jadi keluar sedikit-pun walaupun hanya di balkon akan membuatmu menggigil.

Dengan langka yang cepat kini ia sudah berada tepat di depan gerbang rumah keluarga Kim itu. Dengan menarik nafasnya yang panjang ia mulai mendekatkan tangannyaa kearah bel rumah.

“Aku pergi”

Tiba-tiba suara itu mengagetkan Hana dengan langkah yang cepat ia bersembunyi dbalik tembok disisi lain gerbang rumah Mingyu.

Mata Hana berbulat saat meliat sosok yang tak asing. Sudah Hana duga Mingyu itu adalah Mingyu sabatnya sewaktu kecil.

Semua pertanyaan terjawab namun bukan jawaban ini yang Hana harapkan. Sosok Mingyu baginya kini sangat asing dengannya. Bahkan sorot mata Mingyu sangat berbeda dengan yang dulu.

Hana berjalan pelan. Ia tak mengerti orang yang diharapkan kini sudah berubah. Namun ia tau Mingyu tak berubah sepenuhnya, ia meyakinkan dirinya kalau Mingyu masih Mingyu yang dulu.

……………….

“Shin Hana” Vernon berucap membuat Mingyu yang tadinya fokus dengan video game-nya kini menatap Vernon dengan tatapan tajamnya.

Vernon manyun menanggapi tatapan Mingyu. Ayolah, tatapan seperti itu adalah makanan sehari-hari untuk Vernon, Wonwoo dan Seongcul.

“Pindahan Amerika, kurasa dia orang yang sama dengan foto yang terpajang dikamarmu Mingyu”

Wonwoo menambahkannya. Seongcul kemudian melihat dengan seksama foto gadis itu, dia tersenyum.

“Dia cukup manis”

Bukan hanya Mingyu yang menatap Seongcul tapi Vernon dan Wonwoo kini menatap namja yang paling tua diantara ketiganya. Jelas saja diantara mereka berempat Seongcul adalah seorang yang suka sekali mempermainkan perempuan. Kalau bsa dikatakan Seongcul adalah penggoda yang handal.

“Jangan membahasnya lagi”

Mingyu mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan ini.

“Apa dia boleh untukku?”

BRAK

Vernon dan Wonwoo lagi-lagi terbelalak saat mendengar ucapan Hyung-nya itu. Bahkan kini Mingyu sudah melempar video gamenya. Tatapannya menajam ke arah Seongcul dan kemudian pergi meninggalkan ketiganya.

Seongcul yang melihat kepergian Mingyu hanya tertawa. Jujur saja baru kali ini Mingyu peduli pada seorang gadis yang ingin ia kencani padahal itu hanya lolucon.

“Kau tertawa?” Wonwoo menatap tak percaya pada Seongcul

“Hyung, waegeure?” Vernon benar-benar tak mengerti dengan Hyung-nya.

Seongcul mulai menarik nafasnya.

“Aku hanya menggodanya. Ternyata sangat menyenangkan menggoda Ice Princes itu”

Vernon dan Wonwoo hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak pernah menyangka kalau Seongcul akan bercada separah ini padahal yang sering melakukan hal itu adalah Vernon.

“Mingyu terlalu munafik pada perasaannya”

Tambah Seongcul. Vernon dan Wonwoo hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Untuk perkataan Seongcul kedua temannya itu sangat setuju. Hanya Hana yang bisa membuat Mingyu seperti itu.

……………………..

Hana membuka gerbang rumahnya saat bersamaan ia betemu dengan Mingyu tepat dihadapannya. Hana kemudian tersenyum lalu berlari kehadapan Mingyu lebih dekat namun laki-laki itu tampak menatap Hana dengan wajah datarnya.

“Kim Mingyu, ternyata aku tak salah. Itu benar kau”

Ucap Hana dengan senyumnya. Untuk beberapa saat Mingyu sempat terhipnotis dengan senyuman Hana. Ia tau senyuman Hana tak pernah berubah masih tetap sama. Hangat dan manis.

“Aku Hana, Shin Hana”

Hana mencoba megenalkan dirinya pada Mingyu karena sejak tadi Mingyu hanya menatap Hana dengan raut wajahnya yang datar. Hana disatu sisi takut, jika Mingyu sepenuhnya sudah berubah.

“Sekarang apa?” tanya Mingyu tiba-tiba membuat senyum Hana memudar. Gadis tu tak mengerti apa maksud dari perkataan Mingyu.

Hana diam, ia tak tau harus bereaksi apa. Maksudku Hana bahkan tak mengerti apa maksud perkataan dari Mingyu.

“Yah, ak,,u hanya ingin mengatakan kalau aku kembali” Hana mengucapkan kata-katanya dengan gagap. Gadis itu kini mulai takut menatap mata Mingyu. Entah mengapa ada rasa sakit didada-nya.

Mingyu megabaikan ucapan Hana dan mulai berjalan meninggalkan Hana menuju garasi-nya. Hana mengapal tangannya dan mencoba untuk tetap terlihat tegar. Ternyata apa yang ditakutkan kini terjadi.

“Yak Kim Mingyu”

Mingyu terhenti sejenak mendengar namanya diteriakkan oleh gadis itu. Mingyu tau gadis itu tak akan perah berteriak seperti ini jika tak ada apa-apa.

“Ka,,u kenapa kau seperti ini? Kau berubah? Apa aku berbuat kesalahan?”

Mingyu mengepal tangannya. Ia bisa mendengar nada bicara gadis itu mulai bergetar.

“Aku membencimu”

Mata Hana berbulat saat mendengar ucapan dari Mingyu. Dada-nya semakin sakit saat mendengar ucapan Mingyu. Ia makin mengepal tangannya, ia tak ingin ada air mata keluar lagi karena janjinya pada Daddy-nya kalau ia tidak akan menangis didepan orang karena jika itu terjadi maka kelemahanmu akan terlihat. Ia juga sudah berjanji tangisan terakhirnya adalah saat kematian ibu-nya.

“Memang apa salahku?” Hana mulai menstabilkan dirinya. Ia hanya butuh jawaban dari setiap pertanyaannya agar ia merasa tenang.

“Kau kembali dan itu adalah kesalahanmu”

“Jangan bertingkah seakan-akan kau mengenalku”

Hana menggigit bibir bawahnya. Setiap kata-kata Mingyu benar-benar terdengar seperti panah yang menusuk titik setiap tubuhnya.

“Maafkan aku. Setidaknya aku sudah menemuimu. Aku tak akan menganggumu lagi”

Ucapan Hana membuat Mingyu terdiam sejanak. Gadis itu benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Untuk beberapa saat ia hanya diam sampai saatnya ia bisa mendengar gadis itu pergi dengan mobil-nya.

Gadis bodoh

 

…………………

Hana berjalan dengan wajah yang tertunduk. Kata benci Mingyu kini memutar-mutari kepalanya. Ia sungguh tak tau kalau kembalinya dirinya merupakan hal yang paling Mingyu benci.

Chanmi yang mberada tepat di samping Hana hanya menatap heran temannya itu. Entah mengapa sejak dikelas tadi Hana hanya diam dan melamun.

“Hana, apa ada sesuatu yang salah?” tanya Chanmi dengan raut wajahnyaa yang khawatir.

“Eobseo, hanya sedikit lelah saja”

Meskipun Chanmi tau kalau jawaban itu bukanlah jawaban atas pertanyaannya tapi ia tak boleh juga memaksa Hana untuk cerita setidaknya ia akan memberikan waktu Hana untuk bisa cerita.

“Hy Guys” Suara Dokyeom membuat keduanya kaget. Namun Hana hanya tersenyum seperti biasanya.

“Datang lagi si aneh”

Chanmi memutar mata-nya saat Dokyeom mulai duduk tepat di samping Hana dan dihadapannya.

Dokyeom menatap Hana heran. Walaupun Hana tersenyum padanya tapi tetap saja senyumnya tak seperti biasanya.

“Jadi apa yang salah?” tanya Dokyeom membuat Hana menatap Namja itu dengan tatapan bingung. Chanmi hanya menarik nafasnya panjang. Dokyeom memang seperti itu, ia adalah tie Namja yang tidak bisa diam.

Chanmi menendang kaki Dokyeom membuat namja itu meringis kesakitan. Chanmi mengisyaratkan kalau Namja itu harus diam.

Tiba-tiba saja mata Chanmi berbulat saat melihat sesuatu dibelakang Hana dan Dokyeom.

“Chanmi ada apa?” suara lembut Hana membuat Dokyeom berbalik kebelakangnya dan kagetnya dia saat mendapati Seongcul kini berdiri tepat dibelakangnya.

“Wa..e?”

Semua mata di kantin kini memandang kearah meja Chanmi dan kawan-kawan. Chanmi tak tau setelah ini ia akan diapakan oleh para fans-fans namja ini. Tapi ada yang aneh. Biasanya Seongcul akan datang ke kantin dengan teman-temannya tapi yang lain malah tampak tak datang.

“Apa ada masalah sunbae?” tanya Chanmi sedangkan Hana hanya menatap Seongcul dengan tatapan anehnya.

Seongcul kemudian duduk di samping Chanmi. Gadis itu tampak menatap aneh Seongcul. Disamping itu Hana semakin bingung. Sebelumnya Chanmi dan Dokyeom bahkan ak pernah bercerita kalau keduanya dekat dengan salah satu idola sekolah ini.

Hana menatap Chanmi dan Dokyeom bergantian sedangkan keduanya hanya menggerakkan bahunya tanda tak tau. Ketiganya merasa tak pernah ounya urusan dengan Seongcul maupun ketiga temannya.

Seongcul tertawa saat menatap ketiganya yang sedang bingung.

“Calm down, aku hanya ingin mengajak kalian menonton pertandingan basket kami”

Heol, perkataan Seongcul lagi-lagi membuat ketinganya bertambah bingung.

“Hana, kau harus datang oke”

Oke, lagi-lagi mata Hana berbulat mendengar ucapan Seongcul. Sedangkan kedua temannya menatap Hana heran dan meminta penjelasan namun gadis itu bahkan tak tau mengapa Sunbae-nya ini mengenalnya.

“Kami akan datang”

Tiba-tiba ucapan Dokyeom membuat Chanmi dan Hana menganga. Ayolah untuk seorang Chanmi dan Hana menonton pertandingan basket kurasa tak begitu menyenangkan.

“Iyakah Hana?” tiba-tiba Dokyeom merangkul Hana mencoba meyakinkan gadis itu. Hana melepaskan rangkulan Dokyeom dan tersenyum kerah Dokyeom.

Hana hanya mengangguk ke arah Seongcul. Seongcul tersenyum kemudian berdiri kemudian mengacak-acak rambut Hana.

Setelah itu Seongcul pergi dari sana. Dokyeom dan Chanmi benar-benar mulai menatap Hana dengan tatapan tajamnya.

“Aku tak tau”

Tiba-tiba Hana mengingat kalau Seongcul adalah temannya Mingyu namun Hana tau jika Mingyu membencinya lalu segerah ia menepis pikirannya itu.

…………………..

Lapangan basket indoor sekolah kini dipenuhi oleh penonton. Hana bahkan terkaget saat melihat kehebohan ini. Benar saja menonton pertandingan langsung seperti ini adalah hal yang baru untuk Hana.

Dokyeom tampak sangat bersemangat sedangkan Chanmi hanya duduk dengan raut wajah-nya yang aneh. Untuk ukuran cewek tomboy seperti Chanmi, gadis itu tak menyukai tonotnan seperti itu.

Hana tersenyum untuk menengkan Chanmi. Ia tau jika saja ini bukan karena Hana, Chanmi tak akan berada di ruang yang sangat berisik ini.

“Apakah Dokyeom selalu semangat begini jika menonton pertandingan?” tanya Hana

Chanmi hanya mengangguk malas. Sedangkan Hana hanya mengangguk mengerti. Jujur saja melihat persahabatn Chanmi dan Dokyeom selalu membuat Hana terkenang dengan masa-masa nya dengan Mingyu walaupun sekarang sudah tak bisa seperti itu tapi kenangan hadir untuk dingat dan cukup mengingatnya itu sudah sangat cukup untuknya.

Mata Hana kemudian mencari-cari sosok Mingyu. Hana tersenyum saat melihat Mingyu sedang mendribbel bola. Ternyata Hana benar, Mingyu tak berubah sepenuhnya. Mingyu masih suka dengan basket seperti dulu dan ia sangat senang setidaknya ada bagian dari Mingyu yang belum berubah saat bersamanya.

Mata Hana terus mengkuti pergerakan permainan Mingyu. Sudah 10 tahun Hana tak melihat Mingyu memankan basket seperti itu. Lagi-lagi Hana tersenyum. Disampingnya Chanmi terlihat heran sejak tadi Hana terus tersenyum dan gadis itu kaget saaat mata Hana tertangkap terus menatap Mingyu

Mingyu?ada sesuatu yang Hana sembunyikan

……………………………..

Setelah pertandingan selesai Hana berjalan dikoridor. Chanmi dan Dokyeom pulang bersama hari ini jadi hari ini Hana akan pulang sedniri dengan supirnya. Tapi tiba-tiba langkah Hana terhenti.

“Mingyu Oppa”

Sebuah nada manja Yeoja membuat Hana terdam sejenak. Gadis itu-pun mengikuti dimana letak suara itu.

Heol, mata Hana benar-benr berbulat saat melihat Mingyu sedang berpelukan mesra dengan seorang gadis. Hana menggigit bibirnya. Oh tidak persaan anehnya kini mulai muncul lagi. Wajahnya terasa panas saat memperhatikan Mingyu dan gadis itu.

“Oh, Hana”

Sebuah suara membuat Hana berbalik dan menatap Seongcul, Vernon dan Wonwoo kini berjalan kearahnya. Ia mulai menstabilkan dirinya. ia tak mau jika Mingyu sadar jika ia melihat kelakuannya bersama seorang gadis.

Tiba-tiba Pintu kelas yang tadinya hanya terbuka sedikit kini berhasil terbuka dengan lebar. Badan Hana bergetar saat melihat Mingyu menatapnya dengan tajam bahkan Hana itu bisa melihat seorang gadis mengalunkan tangannya di lengan Mingyu dengan mesra.

Gadis itu menunduk mencoba untuk menahan dirinya lari dari situasi ini.

“Mingyu, kau juga ada”

Seongcul , Vernon dan Wonwoo kini sudah berada tepat disamping Hana. Kalau boleh jujur ia sangat tak suka situasi seperti ini. Hana bahkan mencaci dirinya karena ia harus berada di tempat bersama orang-orang ini.

“Jadi bagaimana permainan kami? Kau menikmatinya?” tanya Seongcul dengan senyumnya.

Hana hanya tersenyum ke arah Seongcul dan mengangguk. Ia berusaha tak menatap Mingyu yang berada tepat dihadapannya.

“Kalau begitu aku permisi Sunbae, selamat atas kemenangan kalian”

Hana berucap dengan nada lembutnya lalu tunduk dengan sangat sopan. Hana kemudian berjalan meninggalkan kelima orang itu.

Mata Mingyu terus melihat bagaimana punggung Hana menjauh. Ia selalu suka bagaimana Hana mengucapkan selamat untuknya.

“Lepaskan, sudah cukup kelakuan kekanak-kanakanmu Hyuna” ucap Mingyu menatap tajam gadis yang berada tepat disampingnya.

Mingyu kemudian meleoasnya dengan kasar lalu pergi meninggalkan gadis itu berjalan bersama teman-temannya.

Gadis itu mengepalkan tangannya. Gadis itu mengingat bagaimana Mingyu menatap gadis yang bernama Hana itu. Hyuna menampakkan smirknya. Ia tak pernah menyangkah kalau Mingyu bisa tertarik dengan seseorang seperti Hana.

“Hana? Dia kira dia siapa?” Hyuna kemudian pergi meninggalkan tempatnya.

………………….

Mingyu duduk ditepi ranjangnya. Pikirannya dipenuhi oleh Hana. Entah mengapa pertanyaan mengapa dia kembal masih berputar-putar dikepalanya.

“Mingyu”

Tiba-tiba suara Ibu-nya mengagetkan dirinya. Dia hanya menatap ibunya yang kini muai duduk tepat disampingnya.

“Kau tau? Hana kembali?” Tanya Ibunya dan Mingyu hanya mangangguk dan mengalihkan tatapannya.  Wanita itu hanya tersenyum. Meihat anaknya seperti membuatnya semakin mengerti mengapa Mingyu akhir-akhir ini tampak sangat stress belakangan ini.

“Kalian sudah bertemu?” tanya Mingyu, lagi-lagi Mingyu hanya mengangguk.

“Sejak kapan ibu mulai tertarik seperti ini?” tanya Mingyu saat sadar Ibu-nya sangat banyak tanya tentang Hana.

Wanita ibu tertawa mendengar ucapan anaknya.

“Sejak melihatmu bertingkah aneh Mingyu”

Dahi Mingyu mengerut saat mendengar ucapan Ibunya.  Wanita itu kemudian mendekat ke arah anaknya dan memegang tangan Mingyu. Menatap Ibu-nya yang tampak serius membuat Mingyu bingung. Mingyu sadar kalau selama ini Ibu-nya tak pernah mencampuri urusannya.

“Kau tau Hana sekarang sudah benar-benar sendiri” tatapan Mingyu masih tak berubah. Ia lagi-lagi tak mengerti apa maksud dari Ibu-nya itu.

“Setelah ia kehilangan Ayahnya 10 tahun yang lalu, ia harus kehilangan Ibu-nya baru baru ini”

Mata Mingyu melebar saat mendengar ucapan Ibu-nya. Mingyu tak pernah tau kabar itu.

“Jika kau masih terus seperti ini, kurasa dia akan benar-benar sendiri sekarang. Kau adalah temannya Mingyu jadi kurasa ia tak akan kesepian. Benarkan?”

Mingyu tak menjawab. Wanita itu kemudian mengambil sebuah bingkai yang berada di meja samping tempat tidur. Ia tersenyum saat melihat foto itu. Sebuah foto memperlihatkan kedua anak kecil yan tamak tertawa dengan bermain salju

“Kalian sangat bahagia disini” tambahnya. Wanita itu kemudian menyentuh figura itu. Mingyu yang melihatnya hanya bisa diam. Laki-laki itu tak tau harus berkata apa.

Setelah Ibu-nya pergi. Mingyu kemudia berjalan ke arah balkon. Angin musim dingin langsung menyapanya. Ia kembali menatap rumah yang berada dihadapannya. Ia tak menyangkah kalau gadis itu akan banyak kehilangan seseorang.

Pandangan Mingyu mendapati Hana sedang berjalan keluar. Entah mengapa melihat raut wajah Hana yang tampak aneh membuat Mingyu bertanya. Mau kemana gadis itu? Dimalam seperti ini?

………………..

Kepala Hana terasa sangat sakit sampai akhirnya ia berupaya untuk pergi membeli obat. Di malam yang dingin seperti ini membuat Hana menganggil saat mulai keluar dari rumah.

Setelah berjalan, Hana kemudian berhasil menemukan satu supermarket disebarang jalan. Namun entah mengapa kepalanya semakin terasa pusing. Ia berhenti berjalan saat tak menyadari kalau ia berada dipinggir jalan.

“Hei AWAS” sebuah teriakan membuat Hana berbalik dan mendapati dirinya tersorot lampu dari sepeda motor. Gadis itu hanya bisa menutup matanya. Sampai akhirnya ada sebuah tangan yang menariknya dalam sebuah pelukan.

Jantungnya berdegup dengan kencang. Darahnya berdesir, ia merasa aka mati jika saja tidak ada orang yang menariknya seperti sekarang ini.

“Jika kau mau mati jangan membuatku membunuhmu” teriakan itu membuat Hana menutup matanya dan mengeratkan pelukannya. Mendengar kata-kata ‘Mati’ sangat menyakitkan untuk Hana.

Disamping Itu Mingyu tetap membarkan Hana mengeratkan pelukannya pada dirinya. jantungnya berdegup sangat kencang saat melihat gadis itu hampir saja tertabrak untung saja dia cepat dan berhasil menyelamatkan gadis itu.

“Apa kau bodoh?”

Nada suara itu membuat mata Hana berbulat. Yah suara itu adalah milik Mingyu.

Dengan gerakan yang cepat ia kemudian melepaskan tautan tubuhnya dengan Mingyu. Ia menatap Mingyu yang tampak sangat cemas.

“Neo?”

Hana kemudian kembali memeluk Mingyu dan akhirnya menangis. Hana tak tau akhirnya air matanya berhasil jatuh dan berada tepat di hadapan Mingyu. Ia tak peduli lagi jika laki-laki ia akan marah padanya karena menangis dalam pelukannya.

Namun bukannya penolakan Mingyu membalas pelukan gadis itu. Ia membiarkan gadis itu menangis di dada bidangnya.

Baru kali ini Hana menangis setelah 10 tahun berlalu. Mingyu ingat terakhir kali Hana menangis adalah saat ia terjatuh karena bermain ice sketting. Mingyu mengeratkan pelukannya saat mendengar tangisan Hana semakin mengencang.

Tangisan Hana mulai meredah dan pelukan mereka mulai mengendur. Hana tertunduk, ia tak berani menatap Mingyu. Oh akan betapa malunya seorang Hana telah menangis di hadapan Mingyu.

“Mianhe, seharusnya tak begini” ucap Hana. Tak ada jawaban dari Mingyu. Kemudian ia menata Mingyu. Tatapan mereka tampak sangat dalam.

“Aku membenci seseorang yang bahkan tak bisa melindungi dirinya sendiri”

Mingyu kemudian berjalan meninggalkan Hana. Gadis itu tersenyum, tapi berbeda senyuman itu tampak seperti senyuman penyesalan.

“Lalu untuk apa kau membantuku?” ucap Hana membuat langkah Mingyu terhenti.

“Jika kau membenciku seharusnya kau membiarkan ku untuk mati Mingyu-ssi”

Ucapan Hana membuat tubuh Mingyu membeku. Ia tau kalau perempuan itu sudah banyak kehilangan tapi Mingyu sama sekali tak menyukai Han berucap seperti tadi apalagi ia memanggil Mingyu dengan embel-embel –ssi. Ini bukalah Hana yang ia kenal. Hana saat ini terdengar seperti orang yang putus asa.

Tanpa mejawab. Mingyu tau kalau saat ini Hana berlari meninggalkannya. Namja itu hanya bisa menatap punggung gadis itu yang menjauh meninggalkannya.

Ada yang salah denganmu Hana

 

TBC

One response to “HOPE (CHAPTER 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s