Stigma #BangtanFiction ~ohnajla

stigma-art

Ohnajla | Drama, family, schoollife, friendship, dark, crime, romance | PG – 17 | Oneshoot |

Starring

Kim Taehyung

Min Yoongi

Oh Sena

Disclaimer

Cerita & OC real karya ohnajla. Main cast hanyalah milik Tuhan dan orangtua mereka. This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. None of the events are true. No profit was made from this work.

Summary

It was the first fissure in the columns that had upheld my childhood, which every individual must destroy before he can become himself…. Such fissures and rents grow together again, heal, and are forgotten, but in the most secret recess they continue to live and bleed. –Demian

ohnajla present

Daegu, 11 November, 12.00 PM

Plak!

“Dasar wanita tidak berguna! Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada, huh?!”

Wanita itu terjerembab setelah perutnya ditendang. Wajahnya sudah tak lagi berurai air mata, tapi darah.

“Apa maksudmu? Aku tidak pernah melakukan apa pun.”

“Tidak usah bohong! Kau ini, sama saja dengan anakmu! Tidak berguna!”

Lagi-lagi wanita itu jatuh, kali ini hidungnya mengeluarkan darah. Belum sempat dia bergerak, pria itu menarik rambutnya. Mereka saling menatap.

“Kau ya, sudah kuperingatkan, jangan pernah keluar rumah sebelum mendapat izinku. Tugasmu itu menjaga rumah! Bersih-bersih! Memasak!”

PLAK!

Meringis, wanita itu hanya bisa mendesis. Ia sudah tidak sanggup lagi bangkit. Apakah ini akhir dari hidupnya?

Yaa apa yang kau lakukan?!”

Bug! BRUAK!

Wanita itu membuka matanya sedikit. Melihat apa yang sedang terjadi. Oh. Itu, seorang pria muda, memakai seragam sekolah. Ia tahu benar, siapa pemilik tubuh tinggi itu. Putranya, ya, itu anak lelakinya.

Pria dewasa yang tak lain suaminya, terduduk beberapa meter darinya dengan pipi memar. Sepertinya, putranya berhasil memukul pria itu.

“Benar-benar anak tak tahu diuntung,” oceh pria dewasa itu sembari bangkit. Ia, meskipun tidak lebih tinggi dari putranya, berani memberi tatapan tajam karena statusnya sebagai ayah. Anak 17 tahun itu tampak gemetar, tapi matanya tak sedikit pun melepas pandangan dari sang ayah. Dia mundur selangkah demi selangkah saat pria itu bergerak maju.

“Jangan … kumohon jangan….”

“Diam kau!”

DUG! Satu tendangan mengenai pahanya dengan keras. Tapi, wanita itu tidak berhenti memohon.

“Jangan sakiti Taehyung kumohon….”

“Kubilang diam!!”

DUG! DUG!

Wanita itu terus menjerit kesakitan. Si pria tidak peduli, tendangannya makin lama makin keras. Bahkan, tanpa segan dia juga menginjak perut wanita itu.

Taehyung menyimak mereka dengan ngeri. Tubuhnya gemetar hebat. Pekikan sang ibu yang makin lama makin melemah membuat telinganya berdenging seketika. Ia tak sadar kalau kakinya terus bergerak mundur. Ia tak tahu kalau di belakangnya ada sebuah meja dengan pot kaca di atasnya. Tidak terelakkan, tubuhnya menyinggung benda itu, dan … PRANK!

Ayahnya menoleh. Ibunya terbatuk-batuk. Dia sendiri terduduk di kaki meja, salah satu tangannya menggenggam erat salah satu pecahan kaca paling besar. Ia tetap menatap sang ayah, meski tangannya berdarah sekalipun.

“Tae … Taehyung-a … pergi … lah….”

BUG!

“AKH!”

“Diam kau jalang!”

Taehyung tak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang. Semua teriakan-teriakan itu berputar di kepala, membingungkan, kalut. Tahu-tahu dia sudah merangsek maju, mendorong tubuh ayahnya hingga mendempet dinding, lalu mengoyaknya dengan pecahan beling yang ia pegang. Darah bermuncratan. Mengotori wajahnya, bajunya, tangannya….

“Hentikan!”

.

.

“Hentikan Taehyung!!”

.

.

Membelalak. “A-apa yang….”

Tubuh tak berdaya pria di depannya tumbang. Kedua matanya masih terbuka, namun tatapan kosong. Tubuhnya….

“A-apa yang….” Ia pun jatuh, mengamati tubuh tergolek di depannya dengan ngeri. Saat itulah dia merasakan sesuatu yang menyakitkan di kedua tangannya. Begitu ia menunduk….

“Tidak … tidak mungkin … TIDAK!!!!”

**

Kantor Polisi, Daegu, 11 November 2.30 PM

“I-ibu … bolehkah aku menemuinya?”

Ahjussi itu kembali menggeleng. “Kau tidak bisa bertemu dengannya sekarang.”

“T-tapi aku ingin melihatnya. Apa kondisinya sangat parah?”

Pria pertengahan 30 itu menghela napas. Ia menggulirkan matanya dari layar komputer ke wajah anak itu. “Ibumu sudah dirawat di rumah sakit. Dia akan baik-baik saja. Kau bisa menemuinya nanti. Untuk sekarang, jawab pertanyaanku dulu.”

Meski belum sepenuhnya lega, Taehyung akhirnya diam. Dia masih belum mengganti bajunya sejak kejadian itu. Ahjussi yang bertugas menginterogasinya tampak sedang berkutat dengan layar komputer untuk beberapa saat.

“Nama?”

“Kim Taehyung.”

“Usia?”

“Tujuhbelas tahun.”

“Nama orangtua?”

Anak itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ia menoleh ke samping saat ahjussi berpaling padanya.

“Nama orangtua?” ulang anggota kepolisian itu.

Taehyung masih tidak menjawab. Ia malah mengarahkan bola matanya ke atas, seolah dengan begitu air matanya tidak akan keluar.

Ahjussi tersebut menghela napas. Melanjutkan interogasi ke pertanyaan selanjutnya.

**

Malam itu lapas adalah tempat tidur terbaiknya. Meski bukan kasur empuk dengan selimut tebal, ia tetap merasa lebih baik di sini. Bajunya sudah diganti dengan seragam narapidana. Sengaja ia diberikan tempat sendiri, karena usianya yang masih terlampau muda.

Matanya terpejam, berusaha tidur.

“Tae….”

“Ibu … hiks … ibu….”

“Sudah … tidak apa-apa … kau … baik?”

Ia mengangguk dalam pelukan ibunya. “Ta-tapi … ayah….”

Wanita itu tidak mengucapkan apa pun. Matanya sendu menatap tubuh sang suami yang telah bersimbah darah.

“Aku takut … Aku takut sekali….”

“Jangan takut … ibu ada di sini….”

Ia memeluk ibunya lebih erat. Aroma ibunya, aroma ayahnya, aromanya, semua sama. Bau karat.

“Ibu … aku benar-benar tidak sadar, sungguh. A-aku … aku sudah membunuh ayah….”

Lagi-lagi wanita itu diam. Kedua tangannya terkulai lemas sehingga tidak bisa membalas pelukan Taehyung. Ia sendiri bingung dengan perasaannya sekarang. Bercampur aduk.

“Ibu … hiks … maafkan aku….”

Wanita itu tersenyum, tipis. “Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, sayang….”

Matanya perlahan terbuka. Berkaca-kaca. Entah dari mana asalnya, seekor kupu-kupu bersayap putih tiba-tiba mendarat tepat beberapa senti di depan wajahnya. Termenung sejenak, sebelum akhirnya terbang pergi ketika Taehyung akan meraihnya. Kecewa. Tangan itu kembali terkulai lemas.

“Ibu….”

**

Daegu Hospital, Daegu, 15 November, 10.00 AM

Dengan memakai sweater jacket hitam, ia ditemani seorang ahjussi dari kepolisian, melenggang menyusuri koridor rumah sakit menuju sebuah ruangan. Sebelumnya, ia menyempatkan diri membeli satu buket lili putih dalam perjalanan. Memakai sisa uang sakunya.

Sesampainya di tempat tujuan, senyum Taehyung perlahan mengembang. Itu ibu. Sedang makan ditemani alunan musik klasik. Ucapan salam dari ahjussi yang mengantar membuat wanita berambut panjang itu menoleh. Taehyung memperlihatkan deretan giginya yang putih, lantas berlari menghampirinya.

“Ibu….”

Mereka berpelukan. Wanita itu awalnya terkejut, tapi beberapa detik setelahnya tersenyum. Ibu dan anak itu memiliki senyum yang sama-sama indah. Ahjussi memilih menunggu di luar, enggan mengganggu acara reuni mereka.

“Ibu sudah merasa baikan?” tanya anak itu sambil melepaskan pelukannya. Dia duduk di pinggir ranjang, menghadap sang ibu.

“Ya. Ibu sudah merasa cukup baik, bagaimana denganmu?”

Anak itu tersenyum lebar, ia memperlihatkan buket bunga yang ia bawa. “Aku selalu baik-baik saja, bu.”

Bunga itu diterima dengan senang hati. Bayarannya adalah kecupan hangat di dahi. “Bunganya cantik. Terima kasih.”

“Tidak, bukan ibu yang harus berterima kasih. Tapi aku. Terima kasih sudah bertahan hidup.”

Wanita itu terharu. Mereka berpelukan lagi. “Ibu menyayangimu, Taehyung-a. Ibu pasti akan terus hidup untukmu.”

“Aku juga menyayangimu, bu. Aku akan terus menjadi penjaga ibu. Selamanya….”

Sebutir air mata akhirnya jatuh membasahi sweater jacket Taehyung.

**

Hwarang High School, Daegu, 1 Desember

Taehyung akhirnya dibebaskan setelah mendapat pembinaan setengah bulan lebih di lapas. Dia sudah bisa kembali sekolah. Karena seragam yang dulu sudah tidak bisa terselamatkan lagi karena noda darah, terpaksa ia harus membeli seragam baru dengan uang hasil tabungannya selama ini.

Oleh karena dia dan ibunya memilih tinggal di desa, di rumah ibu dari ibu Taehyung, maka mulai hari itu dia harus berangkat pagi-pagi. Mengendarai sepeda kayuh tua milik kakeknya, dia pergi sekolah saat matahari belum menampakkan sinarnya. Jarak yang ditempuh dari desa ke sekolahnya di kota cukup jauh. Itu pun dia sampai ketika waktunya benar-benar sudah mepet.

Menuju kelas 2-3, terburu-buru.

“Oy!”

Merasa bahwa dirinyalah yang dipanggil, ia pun menoleh.

“Yoongi hyung!” Tahu kalau itu senior kesayangannya, ia langsung berlari, memeluknya agresif.

“Hei hei, hentikan.”Meski bibirnya bicara begitu, sikapnya sangat berkebalikan. Dia, Yoongi, membalas pelukan Taehyung dengan satu tangan.

“Lama tidak bertemu denganmu, hyung,” ujar Taehyung begitu menyudahi pelukan mereka. ia menyimak wajah Yoongi dengan penuh minat.

“Kau sengaja membolos selama itu, huh?” balas Yoongi basa-basi. Ia menepuk pundak Taehyung dua kali. Sebenarnya, yang dia lakukan ini bukan hanya sekadar tepukan basa-basi. Hanya dia, Tuhan dan Taehyung saja yang tahu apa makna sebenarnya dari sikapnya ini.

“Ibu menanyakanmu.”

“Apa katanya?”

“Taehyung-a, kau tidak mencoba menghubungi Yoongi? Mungkin Yoongi sedang mencarimu.”

Yoongi tersenyum lebar. “Ibumu benar-benar pembaca pikiran yang paling keren di dunia ini.”

Taehyung nyengir. Bel berbunyi, mereka pun melanjutkan perbincangan sambil jalan.

“Apa telah terjadi sesuatu saat aku tidak ada?” tanya Taehyung. Mereka melewati banyak siswa. Dan kebanyakan, siswa itu menatapnya dengan tatapan aneh. Taehyung berusaha mengabaikan itu, dengan memusatkan pandangannya pada Yoongi.

“Hm.”

“A-ah … haha … pasti mereka akan menjauhiku sebentar lagi.” Taehyung menggaruk tengkuknya. Sudah dia duga. Pasti akan seperti ini jadinya.

“Orang-orang yang ada di sekolah ini hanya sebagian kecil dari populasi total manusia dunia. Tidak perlu cemas. Ini belum kiamat.” Yoongi pun sebenarnya mendengar apa yang orang-orang di sekitar mereka bicarakan. Tapi, ia tak mau ambil pusing. Ini adalah hidupnya, sementara mereka hanya pemeran pendukung saja.

Mendengar kalimat Yoongi, Taehyung tersenyum. Terhibur.

“Sepertinya ada pasangan gay baru di sekolah ini. Si pecundang Daegu dan … pembunuh.”

Langkah keduanya sontak terhenti. Tiga orang, yang berjalan dari arah berlawanan dari mereka, tampak tersenyum sinis melihat reaksi mereka. Yang berdiri di tengah depan, paling semampai dan memiliki wajah paling angkuh, menyuruh dua temannya untuk berhenti tepat berjarak satu meter dari mereka.

“Selamat datang kembali ke sekolah, mantan narapidana,” ujarnya pada Taehyung sambil menyeringai. “Kuharap kau tidak akan membunuh siapa pun di sekolah ini.”

Kalimat itu membuat Taehyung tersinggung. Tangan kirinya mengepal. Menunggu saat yang tepat untuk melepas kendalinya.

Yaa, pergilah ke kelasmu,” kata Yoongi sambil menepuk lengan Taehyung.

“Romantisnya … apa kalian ini aktor dari film-film gay itu? Ya ampun….”

Yoongi masih tampak tenang, tapi Taehyung sudah hampir meledak. Kalau saja Yoongi tidak menahannya, mungkin Taehyung sudah melukai orang itu dan membuat keonaran baru.

“Memang apa urusanmu? Mau kami gay atau bukan, itu bukan urusanmu. Kenapa tidak kau urus saja masalahmu sendiri?” balas Yoongi tanpa tedeng aling-aling. Mata sipitnya menyorot tajam. Dia masih mencengkram erat lengan kanan Taehyung.

“Hah, jadi kalian memang pasangan gay … haha … menyenangkan.”

Yoongi pun melepas cekalannya. “Cepat masuk ke kelasmu.”

“Hei hei, siapa suruh kalian boleh pergi? Kalian menganggapku remeh, huh?!”

“Kalian! Kenapa masih ada di sana?! Tidak dengar bel?! Cepat masuk!”

Yoongi menghela napas, lega. Ia pun melenggang pergi setelah memberi tepukan di bahu Taehyung.

**

Hwarang High School, Daegu, 5 Desember

Kehidupan sekolah Taehyung berbeda setelah peristiwa itu terjadi. Sebutan ‘mantan pembunuh’ dan ‘mantan narapidana’ adalah nama panggilannya saat ini. Teman-teman yang dulu selalu bermain dengannya, kini secara terang-terangan menjauh, mencibir. Begitu pula yang dilakukan para gadis yang pernah menyatakan cinta padanya. Ia terasingkan.

Sudah tidak aneh kalau tiap pagi dia selalu menemukan coretan-coretan kebencian di atas mejanya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Coretan itu terukir permanen di mejanya, tidak bisa dihapus. Sekolah jadi tidak menyenangkan lagi. Semua ini menjadi beban pikirannya.

Beruntung masih ada Min Yoongi. Setiap istirahat datang, dia selalu pergi ke tempat di mana Yoongi berada selama waktu itu. Studio musik. Yoongi selalu ada di sana tiap jam istirahat. Paling sering ditemukan bermain piano.

Hari ini Taehyung datang lagi ke sana, duduk di tempat kosong tepat di sebelah Yoongi. Tangannya ikut bermain di atas tuts hitam putih. Tapi karena melodi-nya jadi berantakan, ia pun dengan terpaksa menurunkan tangannya kembali.

“Kau tidak makan siang?” tanya Yoongi tanpa mengalihkan perhatian.

Taehyung menggeleng. “Lebih baik kelaparan daripada menambah beban pikiran.”

Permainan piano itu belum berakhir. Yoongi tampak serius saat memainkannya. Simfoni kali ini, hasil aransemennya sendiri.

“Kau harus mulai terbiasa dengan situasi seperti ini.”

Taehyung tersenyum tipis. “Aku tidak sehebat dirimu, hyung.”

“Kau dan aku, kita memang tidak akan bisa disamakan. Kau punya potensi tersendiri. Aku tidak menyuruhmu menjadi sepertiku.”

Lagi-lagi bocah itu tersenyum. “Itulah yang membuatku iri padamu. Kau selalu hebat.”

Pelan namun pasti, permainan piano itu akhirnya berakhir. Menyisakan kesunyian di ruang tersebut. Pianisnya, Yoongi, tampak termenung beberapa saat, merasakan indahnya melodi yang telah dia akhiri. Tak lama kemudian, menoleh.

“Kau ingat apa yang terjadi padaku waktu itu? Menurutmu karena siapa aku bisa duduk di sini sekarang?”

Taehyung pun menoleh. Mereka saling bertukar pandang. Ia dapat melihat bola mata Yoongi yang indah. Jika dipandang lebih cermat, ada satu sisi di mana mata itu tampak kosong, hampa. Satu-satunya yang tampak di sana hanyalah refleksi dari dirinya, Taehyung.

Mata itu segera berpaling. Menyimak kembali deretan hitam putih di bawahnya. “Aku yakin kau bisa, Taehyung-a. Kau hanya tidak tahu potensi dirimu sendiri.”

Senyum sendu terbesit di wajah tampan Taehyung. Ia meletakkan kepala di atas bahu Yoongi, terpejam.

Hyung, apakah kau akan terus di sisiku?”

Permainan piano selanjutnya dimulai. “Aku akan terus menjadi hyung-mu, apa pun yang terjadi.”

“Terima kasih.”

**

Rumah Nenek Taehyung, Daegu, 17 Desember

“Ibu? Ibu dimana?” Taehyung yang baru pulang sekolah, berteriak memanggil ibunya karena ingin memberikan mantel ungu yang baru dia beli dalam perjalanan pulang. Musim dingin akan datang sebentar lagi. Ia tak mau ibunya terkena dingin, jadi dia berinsiatif membelinya. Tapi rumah itu lengang, nenek dan kakeknya entah pergi ke mana.

“Ibu? Taehyung pulang!”

Di lantai satu tidak menemukan siapa pun, Taehyung pun berinisiatif ke lantai dua. Sebenarnya hanya ada gudang dan tempat menjemur pakaian di lantai atas, dia berpikir mungkin ibunya sedang menjemur baju.

“Ibu? Tae-”

Tenggorokkannya tercekat. Itu … ibunya … tali….

“IBU!!”

**

Daegu, 18 Desember

“Mau coklat?” tawar Yoongi setelah berada di luar. Taehyung berpakaian formal dengan jas dan celana hitam, begitu juga dengan dia.

“Tidak,” jawab Taehyung lesu. Dia tidak tidur semalaman penuh, itulah alasan kenapa wajahnya tampak kuyu.

Yoongi mengeluarkan dua batang coklat dari sakunya, satu dia letakkan di atas pangkuan Taehyung. Satunya lagi dia makan sendiri.

“Ada yang bilang, coklat bisa membuat mood-mu menjadi lebih baik.”

Taehyung meraih coklat tersebut. Mengamatinya tanpa minat.

“Ada kabar, entah baik atau buruk bagimu, sebentar lagi aku akan lulus SMA.”

“Itu kabar buruk.”

Yoongi tersenyum tipis. “Tidak lebih buruk dari kabar bahwa aku akan kuliah di Seoul. Sebentar lagi kita berpisah.”

“Aku akan menyusulmu,” balas Taehyung mantap.

“Ya, aku akan menunggu.”

Hening. Angin berhembus cukup kencang, memberantakan rambut Yoongi yang sudah dari awal acak-acakan. Debu-debu beterbangan. Mereka hanya memejamkan mata, sampai sang bayu akhirnya tenang kembali.

“Oh ya, ada seorang gadis yang menanyakan tentangmu padaku.”

“Siapa?”

“Oh Sena.”

“Sena?”

“Eum.” Coklat-nya sudah habis, bungkusnya dimasukkan kembali ke dalam saku, berniat membuangnya nanti.

“Apa katanya?” tanya Taehyung penuh minat. Dia bukannya tidak tahu siapa Sena. Sena itu, adik kelas mereka, yang disebut-sebut sebagai putri salju, karena wajahnya yang cantik dan berkulit putih pucat. Kepribadiannya yang dingin dan misterius membuat banyak laki-laki jatuh hati padanya.

Sunbae-nim. Bolehkah aku bicara sebentar denganmu?”

Yoongi yang saat itu sedang menyendiri di studio musik untuk mengaransemen melodi baru, langsung mengiyakan. Gadis itu mendekat, duduk tepat di sampingnya, di tempat yang biasa diduduki Taehyung.

“Kau sunbae yang sering bersama Taehyung sunbae ‘kan?”

“Ya. Kenapa?”

“Apa dia baik-baik saja?”

Yoongi terkejut, namun tidak menampakkannya. Dia terus menatap tuts hitam putih. “Eum. Dia baik.”

Tidak ada jawaban. Yoongi iseng melirik, untuk melihat apa yang dilakukan gadis itu. Hm, hanya duduk termenung sambil menatap tuts piano.

“Kenapa tiba-tiba menanyakannya?”

“Aku hanya cemas. Pamanku di kepolisian bilang padaku kalau dia sudah membunuh ayahnya sendiri.”

“Ya, itu benar.”

“Karena itu aku khawatir. Tapi kekhawatiranku sepertinya sia-sia. Bukankah Taehyung sunbae adalah pria yang kuat?”

Yoongi tersenyum tipis. “Ya, kau benar.”

Gadis itu mendadak bangkit. “Kalau begitu terima kasih. Permisi.”

Perlahan, senyum akhirnya mengembang di wajah lelah itu. Dia berpaling, memandang hamparan hehijauan di hadapan mereka. Suasana yang damai, sedamai perasaannya sekarang.

“Bukankah sudah kukatakan. Masih ada orang-orang yang menghawatirkanmu. Kau tidak perlu merasa takut.”

“Aku tidak percaya kalau itu Sena.”

“Menurutku, kau harus mulai mendekatinya. Dengan begitu kalau aku sudah lulus nanti, kau masih punya satu orang lagi di sana. Memang benar aku tidak melihat bagaimana ekspresinya saat membicarakan dirimu, tapi mendengarnya saja aku tahu, dia itu sangat peduli padamu. Gadis sepertinya tidak akan mungkin peduli pada seseorang kalau orang itu bukan orang yang berarti untuknya.”

Kim Taehyung tersenyum. Cukup terhibur. “Aku akan coba mendekatinya. Tapi, kau harus tahu hyung. Biar bagaimana pun aku ini penggemar terberatmu.”

“Terserah,” balas Yoongi sambil terkekeh.

**

Hwarang High School, Daegu, 20 Desember 02.00 PM

Taehyung terburu-buru. Hari ini Yoongi tidak masuk karena mengalami kecelakaan. Ia berinisiatif untuk pergi ke rumah sakit, menjenguk hyung-nya. Tapi saking terburu-burunya, dia sampai menabrak seorang gadis yang baru keluar dari sebuah kelas. Buku-buku yang dibawa gadis itu berjatuhan ke lantai. Taehyung segera berjongkok, memungutinya.

“Maaf, aku tidak lihat,” ujarnya sambil menyerahkan lima buku tebal pada gadis itu.

“Tidak apa, sunbaenim.”

Pria itu membelalak. Sena?

“Ah Sena … maaf.”

Gadis itu mengulurkan tangan, ingin meraih bukunya. Tapi Taehyung malah menarik balik buku itu.

“Biar aku yang bawa.”

Mereka pun bangkit. Sena tampak canggung saat Taehyung memperhatikannya. “Terima kasih, tapi aku bisa membawanya sendiri.”

“Tidak. Biarkan aku membantumu,” balas Taehyung sambil tersenyum.

Mereka pun berjalan bersisian. Sena bilang dia harus mengembalikan semua buku itu ke perpustakaan. Maka Taehyung mengantarnya ke sana. Setelah buku dikembalikan, Taehyung pamit untuk pulang duluan. Namun Sena menahannya.

“Bolehkah aku ikut denganmu?”

Ragu. Taehyung akhirnya mengiyakan.

**

Daegu Hospital, Daegu, 20 Desember, 03.00 PM

Di ruangan itu, tidak ada siapa pun selain Yoongi yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang. Kepala, badan, tangan, semuanya dibebat dengan perban. Hidung dan mulutnya tertutup oleh masker oksigen. Jarum infus menusuk punggung tangan kirinya. Elektrokardiogram yang tak jauh darinya terus berbunyi, menampilkan garis membentuk bukit-bukit tinggi.

Taehyung dan Sena sudah berada di dalam. Berdiri di sebelah ranjang tersebut. Taehyung menggamit tangan hyung-nya, menggenggamnya erat. Sena hanya memperhatikan. Setengah tidak percaya kalau sunbaenim yang dulu diajaknya bicara tiba-tiba sudah seperti ini.

Hyung, kau sedang mengerjaiku ‘kan? Haha, lucu.”

Pria itu menarik kursi, dan duduk. Dia angkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Yoongi. Matanya diliputi kesedihan, meski bibirnya menyeringai.

“Hei hyung. Awas saja kalau sampai kau tidak mau bangun. Mana katamu kau akan kuliah ke Seoul, huh? Kalau kau memang ingin ke Seoul, kau harus bangun sekarang. Kau tidak akan lolos ujian masuk kalau hanya tiduran di sini. Kau harus belajar.”

Mata indah Sena beralih memandang puncak kepala Taehyung.

“Kita akan bersama sampai akhir, kau tidak boleh lupa hal itu.”

Sena ingin menyentuh pundak Taehyung. Tapi tidak jadi. Gadis itu mundur dua langkah, beranjak keluar.

**

Daegu, 24 Desember

Salju pertama turun. Menyapa masyarakat Korea Selatan, dengan sensasi dingin dan keindahan mereka. Di setiap mata memandang, putihnya salju hampir mendominasi. Menutupi semua warna alam lainnya.

Salju juga menutupi warna hitam dari jas yang dipakai Taehyung hari ini. Pria itu sudah hampir dua jam berdiri di sana. Menatap gundukan tanah yang sebagian warnanya telah ditutupi salju. Tidak hanya itu, salju juga mengotori figura foto yang dipegangnya. Duka mendalam di hari bersalju.

Seorang gadis dengan dress pendek hitam dan segala aksesoris yang juga berwarna hitam, mendekat sambil membawa payung. Sesampai di sebelah Taehyung, payung itu ia angkat tinggi sehingga mampu menaungi mereka berdua.

Sunbae.”

Helaan napas terdengar.

“Sudah mulai dingin. Kau akan terus berdiri di sini?”

Taehyung menunduk. Memperhatikan gambar seorang pria yang terpajang di figura yang dipegangnya.

Sunbae.”

Hyung akan sedih kalau aku meninggalkannya sendiri.”

Sena menatapnya sendu. Ia mengangkat tangannya, menepuk bahu Taehyung sebanyak dua kali.

“Berikan aku waktu 30 menit lagi….”

.

.

30 menit berlalu. Taehyung pun meletakkan gambar tersebut di bawah gundukan. Ia mundur selangkah, membungkuk 90 derajat penuh. Setelah itu, bersama dengan Sena, mereka pergi dari sana.

**

Daegu, 29 Desember

Hari-hari yang dilaluinya tanpa Yoongi, terasa sangat berat. Tidak ada lagi tempat bersandar untuknya. Tidak ada lagi seseorang yang memainkan melodi indah piano ketika dia bersedih. Semuanya terasa sangat sulit. Terlebih saat kakak-kakak kelas, teman sekelas, membully-nya.

Dan di sinilah dia hari ini. Di tepi Sungai Nakdong bersama Sena. Sena-lah yang mengajaknya kemari. Mereka duduk-duduk di dekat perairan.

“Malam hari tempat ini akan sangat indah,” ujar Sena sambil mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru sungai. Rambut pirang panjangnya berkibaran, Taehyung sempat terpesona.

“Kau sering datang kemari?”

“Ya. Tempat ini sangat cocok untuk menjernihkan pikiran.”

Taehyung tersenyum. “Kenapa kau mengajakku ke sini?”

Sena menoleh. Membalas senyum Taehyung dengan senyuman pula. “Sunbae-nim sudah menderita banyak. Kupikir tempat ini akan sangat cocok untukmu.”

“Kau selalu memikirkanku?”

Sena membuang pandangan ke depan. “Aku juga tidak tahu. Yang pasti, setelah mendengar kasusmu dari paman, aku selalu mencemaskan dirimu.”

Pria itu juga berpaling ke depan. “Tempat ini indah. Sepertinya cocok buatku.”

Sena tersenyum senang. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. “Ah, apa sunbae haus? Aku bawa minuman dari rumah. Tunggu, akan kuambilkan.”

Belum sempat Taehyung menjawab, Sena sudah lari menghampiri sepeda kayuhnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk. Dia menghabiskan waktu cukup lama. Entah apa yang dilakukannya. Begitu dia kembali, dia sudah tidak menemukan Taehyung di tempat itu.

Sunbae? Kau di mana? Sunbae?”

Tiba-tiba terdengar suara kecipak air dari sungai. Sena langsung menoleh.

1 detik

2 detik

Botol minuman di tangannya terjatuh. Reflek dia lari. Segera melepas mantel dan sepatu boot-nya. Dan byur!

.

.

Susah payah dia menarik Taehyung keluar dari sungai. Setelah berhasil, dia jatuh terduduk, mengatur napasnya yang terburu. Lantas kemudian dia menekan dada Taehyung. Satu dua. Satu dua. Tidak berhasil, napas buatan. Menekan dada lagi. Satu dua. Satu dua.

“Uhuk!”

Ia pun bernapas lega.

Tapi sesaat kemudian matanya berair. Dipeluknya tubuh Taehyung, terisak di sana.

“Kau tidak boleh pergi….”

**

Malam itu, Sena terpaksa menginap di rumah Taehyung dikarenakan hujan yang mengguyur Daegu. Nenek dan kakek Taehyung menyambutnya dengan baik. Dia diberi makan, minum, baju ganti dan tempat tidur. Dua lansia itu tidak tahu menahu perkara Taehyung yang melakukan percobaan bunuh diri sore tadi. Mereka berdua sepakat merahasiakannya.

“Kau tidak tidur?”

Sena menoleh. Dilihatnya Taehyung dengan kaus hitam sedang berjalan mendekat. Kedua tangannya penuh.

“Aku belum mengantuk.”

Taehyung memberinya satu cangkir teh panas. Dan memakaikannya sebuah mantel hangat berwarna ungu.

“Kau bisa masuk angin kalau duduk di luar dengan pakaian seperti itu.”

Sena mengeratkan mantel tersebut. “Terima kasih.”

Taehyung terdiam. Dipandanginya wajah Sena dari samping. Gadis muda itu sedang meniup teh yang ia berikan. Tidak ada make up di wajahnya, cantik natural khas gadis Daegu.

“Aku juga, terima kasih.”

Setelah satu sesapan, gadis itu menoleh. Taehyung tersenyum. Mengerti apa maksudnya, kedua mata Sena kembali berkaca-kaca.

“Kenapa kau lakukan itu?”

Taehyung tetap tersenyum.

“Kau membuatku takut, sunbae….”

Pria itu membuang pandangan. Senyum itu sudah lenyap dari wajahnya. Matanya memandang lurus ke depan, pada rumah tetangga yang berseberangan dengan rumah ini.

“Kau tahu … Yoongi hyung sangat suka berenang. Dia adalah atlet sejati meski di luar dia tampak seperti seorang pemalas. Aku bertemu dengannya saat masih kelas satu, tepat di semester dua. Pertemuan itu adalah takdir. Saat itu, aku berhasil menyelamatkannya.”

Sena memilih diam. Untuk pertama kalinya dia bersedia memberikan telinga untuk mendengar masalah seorang lelaki. Lelaki yang harus ia akui, berhasil menarik perhatiannya.

“Malam itu aku bersyukur pada hujan karena telah membuatku pulang terlambat. Sebenarnya masih banyak siswa lain yang juga terjebak hujan sepertiku. Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang pergi ke toilet. Saat aku ke sana, saat itulah aku bertemu Yoongi hyung untuk pertama kalinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu dia sudah pingsan di lantai. Aku membawanya ke ruang kesehatan, mengurusnya seperti dokter sedang mengobati pasien. Begitu hujan berhenti, dia siuman. Dia tampak terkejut dan takut melihatku. Dia terus seperti itu meski aku sudah menjelaskan padanya. Tiba-tiba saja dia lari menghindariku.”

Sena mengeratkan mantel. Dan matanya terus memicing pada Taehyung.

“Beberapa hari setelahnya dia menemuiku. Dia berterima kasih dan meminta maaf. Aku tidak memaksanya untuk menjelaskan apa yang membuatnya ketakutan waktu itu. Tapi dia sendiri yang berinisiatif melakukannya. Sebenarnya waktu itu kami belum begitu dekat, tapi Yoongi hyung berani menceritakan semua padaku. Ia menderita depresi, OCD, dan parahnya lagi sociophobia. Dia bahkan terang-terangan bilang padaku kalau di toilet waktu itu, dia sedang melakukan percobaan bunuh diri. Sejak saat itulah, aku selalu bersamanya, karena aku satu-satunya teman yang ia punya.”

“Berteman dengannya tidak semudah yang dilihat oleh orang-orang. Dia selalu mencoba bunuh diri tiap kali emosinya tidak stabil. Seperti tadi sore, saat aku mengajaknya jalan-jalan ke sungai, dia mengambil kesempatan menenggelamkan diri begitu aku meninggalkannya sebentar. Itulah Min Yoongi. Ia tidak sekuat yang orang lain lihat.”

“Lalu kenapa sore tadi kau melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya?” tanya Sena terdengar emosi.

Pria itu menyeringai. “Aku ingin bertemu Yoongi hyung dan ibu….”

PLAK!

Napas Sena tampak terburu. Tangan kiri yang tadi dia gunakan untuk menampar wajah Taehyung, kini mengepal. “Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?! Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau sampai benar-benar menyusul mereka?!”

Taehyung memegangi pipinya yang panas. Ia pun menoleh. “Semua akan baik-baik saja. Saat aku pergi semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada lagi yang pergi karenaku.”

Sena menatapnya tak percaya. “Apa? Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Ibu dan Yoongi hyung pergi karena kesalahan yang telah kuperbuat. Kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Mereka pergi karenaku, karenaku! A-aku telah membuat kesalahan dan … mereka membayar kesalahanku. Ini semua karenaku….”

Sena menggeleng cepat. “Tidak, ini bukan salah siapa-siapa.”

Taehyung menatapnya marah. “Kau tidak tahu apapun!”

Gadis itu menggigit bibirnya yang bergetar. Ada ketakutan yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. “Masih banyak orang yang menyayangi dan menghawatirkanmu. Sunbaesunbae tidak sendirian.”

“Banyak? Hah? Siapa?”

“Kakek, nenek, dan aku! Kau masih punya kami, kenapa kau berpikir seperti itu?”

Taehyung tercekat. “Kau….”

“Ya, aku! Kau masih punya aku! Berhenti berpikir kalau kau sendirian!” Gadis itu menelan ludah. “Meski aku belum mengenalmu seutuhnya. Tapi … aku akan selalu berdiri di pihakmu. Aku akan selalu membelamu, menemanimu bagaimanapun situasinya. Aku tahu kalau aku tidak bisa menggantikan posisinya tapi anggaplah aku seperti kau menganggap Yoongi sunbae. Kau harus tetap hidup. Ibumu, Yoongi sunbae, mereka sudah pasti tidak mau kau pergi juga dari dunia ini. Kumohon … jangan pernah lakukan hal mengerikan itu lagi….”

Ada sesuatu yang menggelitik perasaannya tapi ia tak tahu apa itu. Dia pun menghela napas. Menunduk. Sena benar. Dia tidak sendiri. Kenapa dia bisa seceroboh itu melupakan kakek dan neneknya? Dan lagi, haruskah dia memercayai Sena sebagai mana dia memercayai Yoongi? Apakah dia bisa?

Dia mendongak ketika Sena bangkit.

“Aku mau tidur. Selamat malam.”

Sena berbalik, kemudian mengambil langkah. Dia tidak bisa berkutik. Punggung itu menghilang hanya dalam waktu sekian detik. Ia pun berpaling, tak sengaja mendapati cangkir bermotif bunga yang tergeletak tak jauh darinya. Masih penuh, tapi sudah tidak mengepul.

Ia pun menghela napas.

**

Daegu, 30 Desember

Taehyung keheranan mendapati sup rumput laut di meja makan. Nenek dan kakeknya sudah pergi ke ladang sejak pagi tadi, dan dia tidak menemukan batang hidung Sena di mana pun. Ada amplop berwarna biru laut yang menjadi alas sendok makan tepat di sebelah mangkuk. Penasaran, Taehyung pun menyingkirkan sendok itu dan meraih amplop tersebut. Hanya ada secarik kertas yang terlipat di dalamnya.

Selamat ulang tahun. Maaf sedikit terlambat mengucapkannya. Maaf juga tidak bisa kuucapkan secara langsung. Hari ini bertepatan dengan hari peringatan kematian ibuku, jadi aku pulang pagi sekali.

Sup rumput laut itu, aku yang membuatnya sendiri. Ini mungkin terdengar sedikit memalukan, tapi aku membuatnya dengan dibantu nenek. Mungkin akan terasa sedikit asin, maaf.

Itu saja. Aku terburu-buru jadi tidak bisa menulis banyak. Oh ya, untuk mantelnya terima kasih. Kusimpan di dalam lemari ibumu.

Sampai bertemu lagi di sekolah. Semoga kita menjadi lebih dekat.

Sena.

Taehyung tersenyum sambil melipat kembali kertas itu. dipandanginya mangkuk sup dengan penuh minat. Penasaran bagaimana rasanya, ia pun meraih sendok lalu menciduk sedikit kuah, memasukkan ke mulut.

“Enak….”

Kali ini menciduknya dengan rumput laut. Setelah beberapa sendok. Tiba-tiba dia terdiam. Seketika senyum indahnya kembali mengembang.

Dia harus bertahan hidup, apa pun yang terjadi.

–FIN

NOTE. Akun author yg sebelumnya ngga bisa dibuka lagi T^T Sekarang ganti akun ini. Dan wordpress-ku juga ganti T^T Dimohon para reader tersayang, follow ya akun author yg baru. Kunjungi juga blog barunya. => Ohnajla Blog

6 responses to “Stigma #BangtanFiction ~ohnajla

  1. Pingback: Stigma #BangtanFiction | ohnajla blog·

  2. Taehyung nya kasian huhu😭😭 seberat itu ya bebannya sampe berpikir mau bunuh diri:” bapak gak bener, emak bunuh diri, sahabat pergi juga. Hadeh. Untung ada sena😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s