Untold Love: I Can’t Handle It

IMG_20160815_092622

Credit Moodboard: @exomoodboards

Previous:

Untold LoveUntold Love: I Hate You

“Because it was so hard. Because it hurt so much.” ―Breath, Chen & Zhang Li Yin

-oOo-

Jisoo telah membuat keputusan. Sebenarnya, bukan hal yang baru opsi pindah apartemen tercetus dalam pikiran gadis itu. Apalagi, dirinya hampir berusia dua puluh satu tahun. Ia tidak ingin lagi merepotkan Keluarga Do yang terus menyokong biaya kuliahnya. Ayah Kyungsoo adalah wali bagi Jisoo dan kakakknya, semenjak orangtua mereka meninggal. Itulah alasan mengapa Kyungsoo serta Jisoo bisa akrab, bahkan bersahabat dekat sedari kecil. Mereka telah mengetahui karakter masing-masing. Mulai dari gembira, sedih, hingga bertengkar sudah dilalui bersama. Namun, sayangnya perselisihan antara Jisoo dan Kyungsoo satu bulan lalu, tampaknya menjadi akhir hubungan baik mereka.

Kim Joonmyun―kakak Jisoo, awalnya bingung mendengar ucapan adiknya yang berkeinginan untuk pindah ke apartemen lebih murah. Ia tidak mengira bahwa ide itu tercetus dari bibir Jisoo karena Joonmyun tahu benar jika si adik perempuannya enggan berjauhan dari Kyungsoo. Maka dari itu, ketika pemuda berusia pertengahan dua puluhan itu membantu Jisoo mengemas barang yang akan dipindahkan, ada tanda tanya besar terpatri jelas dalam rautnya.

“Kau tahu, apabila alasanmu pergi dari apartemen ini untuk tidak menyusahkan Bibi dan Paman Do, aku masih mampu membiayaimu dengan gajiku sebagai polisi,” ungkap Joonmyun. Pupil hitam si pria mengawasi adiknya yang duduk di lantai dapur sembari memasukkan peralatan memasak ke dalam kardus.

“Aku tidak ingin merepotkanmu juga,” balas Jisoo, tanpa membalas tatapan kakaknya.

Joonmyun ikut beranjak duduk di samping Jisoo. “Apa kalian sedang bertengkar?” tanyanya.

“Tidak.”

“Tidak mungkin tidak,” cecar Joonmyun. “Jika kalian tidak bertengkar, tentunya Kyungsoo sudah ada di sini. Anak itu mana bisa membiarkanmu kelelahan karena pindahan,” Joonmyun kembali menyimpulkan.

Lantas Jisoo pun menghela napas kasar. “Do Kyungsoo itu seorang pengkhianat,” bisik Jisoo. Ada keganjilan dalam suaranya yang bergetar saat mengucapkan nama Kyungsoo. Rasanya sudah lama sejak terakhir kali si gadis menyebut Kyungsoo dalam bahasa verbalnya.

“Mungkin kalian sedang salah paham―“

“―Tidak, aku melihat dan mendengarnya sendiri, bagaimana Kyungsoo mencium gadis itu,” potong Jisoo. Tubuhnya terasa kaku, mengingat kembali amarah yang menyulut dirinya kala itu. Ia merasa sesak.

“Kau marah karena Kyungsoo mengecup seorang gadis?” Joonmyun tersenyum tipis, kemudian kembali berkata, “Kau cemburu―“

“―Tidak. Gadis yang berkencan bersamanya adalah Liv! Aku membenci Liv, Kyungsoo tahu itu dan dia malah berciuman dengannya,” sela Jisoo.

“Kenapa kau membenci Liv? Apa karena dia merebut projekmu waktu itu?”

Jisoo mengangguk.

Joonmyun membelai surai adiknya dengan lembut. “Apa kau masih ingat saat dirimu berkencan dengan Baekhyun sewaktu sekolah menengah atas?” Jisoo kembali mengiyakan, membuat Joonmyun melanjutkan ucapannya, “Baekhyun menggantikan Kyungsoo sebagai kapten tim sepak bola ketika dia cidera. Baekhyun juga merebut posisi Kyungsoo sebagai juara satu di kelas. Baekhyun bahkan jelas-jelas mencanangkan diri sebagai rival Kyungsoo. Tetapi, Kyungsoo tidak pernah sekali pun marah padamu saat kau berkencan dengan Baekhyun. Dia justru bahagia melihatmu gembira.”

“Tapi, itu berbeda―“

“―Apa yang membuatnya berbeda?”

“Dia mencium Liv,” ulang Jisoo. Gadis itu menunduk. Ia mengigit bibir. Ada sesuatu dalam dirinya yang bersiap-siap untuk meledak. Hatinya terasa sakit. Jisoo belum memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya, semua terasa buruk, serta menyiksa.

Kali ini giliran Joonmyun yang mengambil napas panjang. “Bagaimana jika gadis itu bukan Liv?” Pemuda itu kembali bersuara.

Jisoo tersentak, hal tersebut juga sempat memenuhi pikirannya. Jemari Jisoo mencengkram piama yang sedang ia kenakan. Bibir gadis itu enggan menjawab, namun hatinya telah berseru dengan tegas. ‘Tentu saja, aku tetap merasakan marah dan sakit, walaupun gadis yang mencium Kyungsoo bukan Liv.’

“Kau menyukai Kyungsoo,” ujar Joonmyun, singkat setelah tak ada satu pun kata yang diuraikan adiknya.

“Aku tidak menyukainya,” ucap Jisoo pelan. Kali ini ia meyakinkan diri untuk memandang Joonmyun.

“Sikapmu ini sangat membingungkan bagi Kyungsoo, Kim Jisoo,” kata Joonmyun, nadanya tidak suka. “Di satu sisi kau memiliki kebasan untuk dekat dengan siapa pun, tetapi kau tidak mengijinkan Kyungsoo―“

“―Karena itu sangat berat. Rasanya hatiku begitu menderita ketika dia bersama gadis lain. Tetapi, aku tidak mengerti ….” Jisoo mengambil jeda sekilas, ia membiarkan airmatanya mengalir lagi. Sembari tersedu Jisoo mengimbuhkan, “When he looks another girl and smile. It feels like my heart will stop. It’s really hard for me to handle it.

Joonmyun merangkum adiknya dalam pelukan. Ia menyunggingkan bibir melihat Jisoo menangis karena jatuh cinta. Sayangnya, si gadis enggan memahami dan mengakui perasaannya. “Itu namanya kau sedang jatuh cinta, Kim Jisoo,” ucap Joonmyun sembari menepuk punggung adiknya dengan lembut.

-oOo-

a/n:

Part selanjutnya dapat dibaca di Untold Love: I’m Sorry dan part terakhir Untold Love: Love Birds. Permintaan password dapat melalui Line @NYC8880L (jangan lupa gunakan @). Terima kasih

3 responses to “Untold Love: I Can’t Handle It

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s