[FREELANCE] Flares

z2

Title : Flares

Author: lnf

Cast : Oh Sehun (EXO), Ahn Jaehee (OC)

Genre : Romance, Marriage Life

Rating : PG-15

Length : Oneshoot

Disclaimer : The story is mine. Don’t take anything without permission. Please leave a comment for the better of me on writing.

Pemuda itu sedikit mempercepat langkahnya–hampir berlari–mengejar wanita yang tengah berjalan tergesa-gesa beberapa meter didepannya. Ia mendengus sebal karena panggilannya tidak ditanggapi sama sekali.

“Ya!Ahn Jaehee berhenti. Aku bisa menjelaskan semuanya!” seru pemuda itu yang akhirnya dapat meraih pergelangan tangan wanita yang tadi ia kejar.

“Semua itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kau harus dengar penjelasanku,” kentara sekali nada frustasi disetiap kata yang dilontarkankan oleh pemuda itu. Jaehee menolehkan kepalanya menatap pemuda dihadapannya dengan tajam.

Klasik. Pikir sang gadis.

“Penjelasan?” wanita itu memutar bola matanya jengah. “Setelah mematikan panggilanku, sementara Haeyoung terus merengek karena demam tinggi. Pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Kau pikir aku butuh penjelasan apa,eoh?” wanita itu menahan airmata yang sudah menggenang di pelupuk mata indahnya. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya menahan aliran airmata terbentuk yang menyebabkan tenggorokannya tercekat.

“Kau tidak tahu betapa kalutnya aku semalam. Bahkan aku tak tahu apa yang kau lakukan. Mungkin kau sedang bersenang-senang dengan wanita itu.”

“Bukan seperti itu. Kau jangan kekanakan. Dengar dulu penjelasanku, Jae-ya.”

“Kau bilang aku kekanakan?  Lalu aku harus menyebutmu apa, Oh Sehun!”

“Maaf… tapi aku benar-benar tidak sadar semalam.”

“Terserah dirimu saja. Aku membencimu,” Sehun mencelos mendengar kata yang dibencinya meluncur dari wanita itu ketika marah. Jaehee hampir saja pergi ketika dalam sekejap Sehun menarik lengan wanita itu dan memeluknya. Awalnya Jaehee memberontak tapi mengetahui kekuatan Sehun yang sudah jelas lebih besar darinya, ia pun menyerah.

***

Jaehee tiba-tiba saja dibuat panik saat  terdengar suara tangisan bayi dari kamarnya. Ia tengah menikmati acara televisi sembari menunggu Sehun pulang. Dengan langkah tergopoh-gopoh ia menuju kamarnya dan segera menggendong bayi berusia 7 bulan itu.

            “Omo~Haeyoung-ah, tubuhmu panas sekali, sayang,” ucapnya khawatir. Ia mencari ponselnya masih dengan usahanya menenangkan bayi yang masih terus menangis.

            “Sssst~ kita hubungi Appa, ya?” wanita itu sudah mulai menangis saat menunggu panggilannya terjawab.

            “Sehun-ah, cepatlah pulang. Haeyoung demam tinggi, aku takut. Dia ti-“

KLIK. Sambungan telepon itu terputus begitu saja. Jaehee tak dapat berpikir lebih jauh lagi. Dengan langkah cepat ia membawa bayi itu keluar apartemennya. Beruntung ada taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya didepan apartemen itu.

Sembari terus menenangkan Haeyoung, pikirannya melayang saat Sehun memutuskan panggilannya beberapa saat lalu. Airmatanya pun luruh tanpa perintahnya.

            “Jahat sekali. Apa yang dilakukannya sampai harus menolak panggilanku. Kalau pun dia bersama wanita itu seharusnya dia memastikan dulu kenapa aku menghubunginya. Apa dia tidak mendengar aku yang begitu khawatir. Bahkan aku sadar suaraku bergetar. Bodoh,” wanita itu menggerutu selama perjalanan menuju rumah sakit. Dengan usahanya menghentikan airmatanya yang sia-ia. Entahlah, rasanya dadanya begitu sesak.

***

            “Bu, aku kesana sekarang. Haeyoung sakit, aku baru saja dari rumah sakit. Mungkin dia akan rewel malam ini.”

            ‘Malam-malam begini mau kemari?’

            “Ya, tidak apa-apa. Aku naik taksi. Sebentar lagi akan sampai,” Jaehee mengakhiri percakapan dengan ibu-mertua-nya. Ya, dia tengah kesal dengan Sehun–suaminya. Sehingga ia enggan untuk kembali kerumah mereka sendiri. Lagipula anaknya sakit, akan sedikit kesulitan jika ia harus merawatnya sendirian.

***

Pagi itu Jaehee berniat mengambilkan pakaian ganti untuk Haeyoung. Tak berniat sama sekali untuk melihat suaminya meskipun ia menginginkan untuk bertemu pemuda itu. Langkahnya terhenti saat mendapati sesosok pria tengah berbaring di sofa ruang tamu rumahnya dengan raut wajah lesu. Terdapat bulatan menghitam yang mengelilingi matanya.

Jaehee berjalan mendekati pria itu. Lelaki berambut coklat, yang ia bersedia menjadi pendamping hidupnya hampir dua tahun yang lalu. Tanpa disadari, tangannya bergerak menyentuh wajah laki-laki itu. Wanita ini begitu mengagumi sosok dihadapannya. Sosok itu layaknya heroin yang menjadi candu dalam hidupnya.

            “Nappeun namja,” bisik Jaehee dengan suara seraknya. Matanya masih setia memandang pahatan Tuhan yang sempurna dimatanya. Sampai ia tiba-tiba berdiri lalu berjalan menjauh setelah menyadari pemuda berusia akhir 20-an itu bergerak gelisah. Laki-laki itu terbangun, melirik Jaehee dari sudut matanya.

            “Sayang…” panggil Sehun yang menyadari kehadiran sosok gadisnya. Ia mengurut dahinya, sesekali meringis menahan sakit yang mendera kepalanya akibat alkohol semalam. Merasa panggilannya tak ditanggapi, ia kembali bersuara. “Kau kemana semalam? Aku menunggumu,” ujarnya seraya berdiri. Berniat menghampiri wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.

            “Berhenti. Jangan mendekat!”

            “Ya? apa yang kau katakan? Dimana Haeyoung?” tanya Sehun lagi tanpa mempedulikan nada dingin yang terlontar dari lidah Jaehee.

            “Untuk apa kau mencarinya?” nada sengit itu pun menjadi awal pertengkaran mereka dipagi itu.

***

            “Ya! Ahn Jaehee!”wanita itu seketika menghentikan langkahnya. Saat pemuda itu marah atau kesal, ia akan memanggil Jaehee dengan nama lengkapnya, dan bukan marga Oh. Sementara sang perempuan masih bersikeras untuk tidak berbalik menghadap Sehun.

            “A-apa yang kau lakukan?” sentak Jaehee saat tiba-tiba sepasang tangan melingkar lembut diperutnya. Pria itu memeluknya dari belakang. Hal yang dibenci oleh wanitaitu disaat-saat seperti ini kerena kehangatan dari Sehun adalah kelemahannya.

            “Kemarin ada perayaan keberhasilan kerjasama perusahaan dengan relasi bisnis kami. Aku dipaksa minum karena aku CEO, apalagi perayaan seperti ini jarang-jarang dilakukan. Tentang panggilanmu yang terputus itu…” Sehun menghela nafas dan mengeratkan pelukannya saat dirasanya Jaehee mulai memberontaknya lagi. “Aku tidak sadar jika temanku merebutnya lalu saat aku akan menghubungimu, bateraiku habis. Setelah itu aku tidak ingat apapun.”

            “Pembual!”

            “Jaehee-ya, aku benar-benar minta maaf. Ya, ini salahku. Seharusnya aku tidak minum banyak. Tolong maafkan aku,” pria itu tampak memelas. Dilepasnya pelukan itu. Ia beralih mengunci tangan Jaehee setelah membalikkan tubuh mungil itu menghadapnya.

            “Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku? Dan jika kau ragu, aku yakin kemampuamu untuk memahamiku melalui mataku belum lenyap,” Sehun mulai mengulas senyumnya saat Jaehee mulai menanggahkan kepalanya dan pandangan mereka bertemu.

            “Bodoh,” gumam wanita itu yang masih terdengar jelas ditelinga Sehun dan berhasil membuat priaitu mengulas senyumnya lebih lebar.

            “Ya, aku tahu,” sambut Sehun lembut. Pria itu dengan sigap menghapus airmata Jaehee yang tiba-tiba luruh.

            “Nappeun namja. Kau tahu kau bukan anak kecil. Kau ini sudah punya anak. Jangan kekanakan lagi. Tahu tidak jika aku cemas saat Haeyoung tiba-tiba demam tinggi. Aku takut ada apa-apa dengannya. Bagaimana jika ha-hal buruk itu terjadi dan tidak ada kau. Bagaima–”

Bibir lembut Sehun membungkam bibir tipis Jaehee. Pria itu tahu bagaimana perasaan wanitanya. Ia begitu menyayangi Haeyoung, dan bisa saja wanita itu bersikap berlebihan jika menyangkut anak semata wayangnya. Mungkin benar jika dirinya terkadang masih bersikap kekanakan dan membuat wanita itu kesal.

            “Tidak akan ada hal buruk. Selama kau dan aku bersama. Ah, bukan. Tapi kita. Percayalah padaku, hm?”

            “Hah… tetap saja kau keras kepala,” gerutu wanita itu sambil mengusap sisa-sisa airmata dipipinya. Wajahnya yang memerah itu nyaris saja meruntuhkan pertahanan Sehun jika saja pria itu tidak ingat ia masih harus melihat keadaan malaikatnya dirumah mertuanya.

            “Kau harus mandi jika ingin kerumah Ibu,” ujar Jaehee yang tahu arah pikiran pria itu.

            “Ya, aku paham, Sayang,”Sehun menggandeng tangan Jaehee masuk kedalam rumah mereka.

            “Kau berhutang memberi penjelasan pada Ibu karena membuat menantu satu-satunya mengangis semalam,” Sehun menghentikan langkahnya. Berbalik menghadap Jaehee dan menatap wanita itu lekat.

            “A-apa?”

            “Tidak. Emm, hanya saja aku nanti juga mau bilang pada Ibu jika aku tidak bisa menjelaskan seberapa besar aku mencintai menantu satu-satunya itu,” Sehun mengerling nakal membuatnya menerima satu pukulan ringan dilengannya. Ia tertawa puas mendapati wajah gadisnya itu memerah.

            “Berhenti merayuku.”

            “Aku tidak merayumu,” RajukSehun.

“Ya! Sudah sana mandi. Kau tahu tidak jika tubuhmu ini masih bau alkohol.”

            “Sudah daritadi masih bilang sekarang.”

            “Ya!”

            “Ya, ya. Aku mandi sekarang,” namja itu melangkah menuju kamar mandi sementara Jaehee terkekeh entah karena apa. Wanita itu menghentikan kekehannya saat Sehun berbalik tiba-tiba.

            “Jaehee-ya.”

            “Ya?”

            “Kau satu-satunya yang aku cintai selamanya,” ujar pria itu sesaat sebelum benar-benar masuk kedalam kamar mandi. Jaehee tersenyum manis menanggapinya.

            ‘Aku harus mempercayaimu. Aku juga mencintaimu.’

-END-

So cheesy ending >,< kekeke

Hello guys. Aku balik lagi dengan couple yang masih sama, Jaehee dan Sehun. Semoga masih ada yang mau baca😦 Sengaja nulis fanfic yang pendek gini, sengaja juga bikin konflik yang pasaran banget hehe pengen nulis tapi nggak ada ide, ya beginilah jadinya. Makasih buat yang udah baca, makin tambah makasih banget kalau misalnya mau ninggalin jejak supaya aku tahu kekurangan-kekurangan aku dalam menulis. See you on the next fanfic ya hihihi

 

7 responses to “[FREELANCE] Flares

  1. Ceritanya emang biasa tapi enak buat dibaca. Penulisannya rapi bagus tp aku agak bingung pas ‘flashback’ kejadian sebelumnya. Emang ada tanda ‘*’ lebih bagus lagi cukup pake ‘*’ sekali aja pas mau & abis flasback. Just my opinion. Over all buat org awam kayak aku sih bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s