[FREELANCE] Total Eclipse of The Heart

z3

Total Eclipse of The Heart

Storyline by : Kimjirei || Poster by : SeulChan@StoryPosterZone

Starring : Park Chanyeol (EXO), Kim Jira (OC)

Genre(s) : Romance, Sad || Rating : PG-15 || Length : Chaptered

All the story is mine. Don’t do a Chit!

Happy reading! Enjoy your story guys ^^

∞∞∞

Once upon a time I was falling in love

But now I’m only falling apart

Nothing I can do, a total eclipse of the heart

 

Once upon a time there was light in my life

But now there’s only love in the dark

There’s nothing I can do a total eclipse of the heart

(Westlife : Total Eclipse of The Heart)

∞∞∞

 “Hhh..”

Saejin melirik gadis yang berada dihadapannya. Ini sudah yang kelima kalinya dalam kurun waktu setengah jam dia mendengar Jira menghembuskan nafas. Dari awal mereka sampai dikantin hingga Saejin hampir menghabiskan makan siangnya, gadis itu—Kim Jira, tetap saja melamun. Membuat makanan yang tadi dipesannya menganggur tak tersentuh.

Gerah melihat kelakuan sahabatnya, Saejin meletakkan sumpitnya begitu saja. Matanya menyipit lalu berkata. “Masih memikirkan pria itu?” tak ada jawaban dari gadis dihadapannya, Saejin menarik nafas sebentar kemudian melanjutkan “Kau terlalu naif Kim Jira! Dia—tidak sebaik seperti yang kau pikirkan selama ini. Bisakah kau menghentikannya? Perasaanmu itu. Hubungan kalian sudah tidak ada apa-apanya lagi. tapi kenapa kau tetap saja bertahan, huh?”

Jira menatapnya sebentar, lalu kepalanya menunduk. “Kau tau jika aku mencintainya” jawabnya lirih.

“Nah, lagi kan? Kau selalu mengatakan kalimat itu!”

“Dia juga selalu mengatakan kalimat itu”

“Jira—jika dia memang mencintaimu dia tidak akan bermain wanita didepan atau dibelakangmu. Kau harus paham itu! Jangan bertindak seperti orang bodoh. Dimana harga dirimu? Untuk apa kau mencintainya jika balasan yang kau terima hanya rasa sakit?” Saejin tak bisa menahan rasa emosinya, sudah berulangkali ia mendapati sahabatnya seperti ini. Dia tak habis pikir dengan pria itu, bagaimana bisa menyakiti hati sahabatnya sampai sejauh ini. Jika saja Saejin tak ingat mereka berada di tempat umum mungkin ia sudah meneriaki Jira dan sikap bodoh sahabatnya itu.

Kau tidak mengerti, Saejin-ah..

“Kau sudah selesai?”Jira mengalihkan topik pembicaraan mereka. Untuk saat ini, ia sedang tak ingin mendengar apa yang diucapkan oleh Saejin walau setiap perkataan yang keluar dari mulut gadis dihadapannya adalah kebenaran.

Saejin mendengus, memandangi Jira dengan tatapan kesal sekaligus sedih. Entah harus memakai kalimat seperti apa lagi demi menyadarkan kekeras-kepalaan sahabatnya. “Teruskan sajalah kebodohanmu itu, lanjutkan sampai akhir kalau perlu. Aku bingung harus bagaimana menyikapimu dan hubungan kalian yang semakin tidak sehat itu.” Menarik nafas sebentar, Saejin berdiri dari kursinya. Masih memandang Jira dengan tatapan yang ia sendiri tak mengerti. “Aku pergi—“ katanya dengan nada yang lirih lalu memilih meninggalkan meja kantin yang mereka tempati berdua.

Jira memandang nanar meja dihadapannya. Ia sudah lelah menangis semalaman tadi, apa ia harus menangis lagi? Hatinya terasa sakit sekali. Benar kata Saejin, ia terlalu naïf. Terlalu bodoh. Kenapa Chanyeol begitu tega padanya? Kenapa ia mencintai pria seperti dirinya? Kenapa pula ia harus bertahan? Ini bukan sekali dua kali dirinya mendapati pria itu bermain dengan wanita. Haruskah ia menyerah? Tapi bagaimana dengan cintanya? Lima tahun menjalin hubungan, bukanlah hal yang mudah untuk melepasnya begitu saja.

Kenyataan lain, sudah hampir delapan bulan berlalu pria itu mulai berubah. Jira sendiri tak tau apa yang membuat Chanyeol menjadi sebegitu brengseknya seperti sekarang. Saat masih duduk dibangku sekolah dulu, pria itu memang sering disebut-sebut sebagai biang onar. Kelakuannya sangat buruk, emosinya seringkali tidak stabil bahkan pernah hampir saja di Drop Out oleh kepala sekolah jika saja orang tuanya tidak memohon.

Dia memang pria pemberontak, urakan, pembuat masalah, semaunya, dan tak terbantahkan. Tapi satu yang Jira ingat dengan baik adalah Chanyeol tidak pernah memainkan hati para gadis, walau saat itu banyak sekali siswi-siswi yang terang-terangan menyukainya, megiriminya surat cinta, hadiah-hadiah dari yang biasa-biasa saja sampai yang mahal. Dia tampan, siapapun mengakui itu. Katanya, “Aku memilki seorang Ibu dan Kakak yang merupakan  perempuan, bagaimana bisa aku mempermainkan hati mereka jika Ibu dan Kakakku juga berasal dari kaum yang sama? Aku bisa saja memacari mereka semua, sayang—aku tidak sudi, itu sama sekali bukan gayaku. Lagipula bagaimana bisa? jika dengan kau saja aku sudah merasa cukup”

Mengingat itu membuat mata Jira kembali memanas. Kata-kata yang pernah Chanyeol ucapkan untuknya, sekarang seperti sebuah bunga dandelion yang tertiup angin. Terkikis. Pria itu sudah berubah, Chanyeol bukan prianya yang dulu yang sangat menghargai perasaan wanita. Yang tidak sudi mempermainkan hati para gadis.

“Kau lihat? Yang tadi itu mengerikan~”

Samar-samar Jira mendengar ringisan seorang gadis yang berjalan dari arah pintu masuk kantin. Ia menoleh kemudian mendapati sebagian mahasiswa dan mahasiswi berbondong-bondong menuju pintu tersebut.

“Ah.. aku sangat tidak tahan jika melihat pria berkelahi. Mereka sangat menyeramkan” sahut gadis yang ikut berjalan disebelahnya.

“Tck, padahal aku masih ingin melihatnya. Kenapa kau menarikku kesini sih?”

“Wajahmu saja sudah pias begitu, masih mau melihatnya juga?”

“Tapi itu seru tau!”

“Eyy.. Kau ini—“

“Eum.. maaf, kalau boleh tau memangnya ada keributan apa didepan?” tak tahan mendengar pembicaraan kedua gadis tersebut, Jira buru-buru mengusap air matanya yang tadi menggenang kemudian berbalik untuk menyela percakapan mereka.

Melihat bahwa yang bertanya adalah Jira, gadis berambut cokelat kemerahan itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya sedangkan gadis satunya lagi yang rambutnya diikat kuda memandang Jira dengan tatapan syok-nya dengan bibir yang hanya bisa mengatup-ngatup. Syok? Jira juga tak tahu kenapa.

Jira melihat dirinya sendiri. Apa ia hari ini berpakaian aneh? Atau matanya masih kelihatan sembab? Kemuadian ia berdeham untuk menarik perhatian mereka berdua. Mendengar dehaman Jira, kedua gadis itu malah semakin kelihatan gelagapan. Membuat Jira mengernyit curiga sampai—

“Kim Jira!”

Saejin berteriak memanggil namanya dari arah pintu kemudian berhenti didepannya dengan nafas yang terengah-engah.

“Kau kenapa?” Alis Jira mengerut, melihat kondisi sahabatnya yang setengah panik.

“Itu… Itu—“ tangan Saejin menunjuk-nunjuk kearah pintu, gadis itu sulit menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan pada Jira. Dengan cepat ia menarik pergelangan tangan kiri gadis itu sambil berkata, “Kau harus melihatnya sendiri, Jira.”

∞∞∞

Bugh

Pukulan keras Chanyeol layangkan lagi pada wajah  Junho yang tergeletak di aspal. Disaksikan oleh seluruh mahasiswa yang mengelilingi lapangan parkir siang itu, Chanyeol tak henti-hentinya memberikan pelajaran pada pria yang berada dibawahnya. Ia tidak peduli, asal ia bisa melampiaskan emosinya pada pria itu saat ini juga. Tak peduli sudah berapa banyak memar yang dimiliki pria tersebut, tangannya seolah merasa masih belum puas.

Merasa tengah dipermalukan dihadapan banyak orang, kedua tangan Junho mendorong dada Chanyeol lalu menjerat kaos hitam yang dipakainya dan dilanjutkan dengan balas memukul rahang pria tinggi itu berkali-kali.

“Brengsek!” Umpat Chanyeol lalu menendang perut Junho hingga pria itu kembali jatuh diatas aspal.

Junho mengerang tapi tangannya dengan cekatan menepis kepalan tangan Chanyeol yang hendak memukul wajahnya. Pria itu berdiri lagi, namun kalah cepat dengan tendangan yang Chanyeol berikan.

Chanyeol menduduki tubuh Junho, tangan kirinya ia gunakan untuk menarik kerah kemeja pria itu lalu memukulnya lagi berulang-ulang.

Junho yang masih memiliki tenaga—walau tak seberapa, menahan kepalan tangan Chanyeol. “Kau yang memulainya lebih dulu Tuan Muda Park” tatapannya yang tajam membalas tatapan iblis pria diatasnya “Bukan salahku jika bisa bermain dengan gadismu juga. Kupikir kita bisa impas”

Chanyeol menggeram, tangannya menepis tangan Junho yang menahannya tadi lalu mencengkram lagi kerah kemeja pria itu.

Dengan nafas yang memburu ia mendesis “Sialan! Coba saja kau berani main -main denganku, kuhabisi kau!” Ia melepas cengkramannya dengan kasar lalu bangkit dari atas tubuh Junho untuk kemudian pergi.

Belum sempat ia melangkah, kaki kirinya ditarik hingga membuatnya jatuh dan dahinya terantuk aspal. Chanyeol mengerang, ia ingin membalikan tubuhnya namun kalah cepat dengan Junho yang menarik tubuh Chanyeol untuk berdiri, kemudian membalas pukulannya lagi bertubi-tubi.

“Kau pikir siapa dirimu hah?!

Bugh

“Kau pikir aku takut pada ancamanmu Brengsek?!”

Bugh

“Gadismu—Biar tau seperti apa binatangnya kelakuanmu!”

Bugh

Mata Chanyeol mulai berkunang-kunang, namun ia masih bisa menepis pukulan Junho lalu menendangnya hingga terjatuh.Kedua tangannya terulur pada leher Junho.Mungkin kewarasannya sudah hilang, tapi Chanyeol tak peduli. Siapapun yang berani macam-macam dengan gadisnya—Kim Jira, ia tak segan-segan untuk menghukumnya.

Dirinya memang brengsek hingga bermain dengan banyak wanita dibelakang gadisnya tapi yang harus dicamkan, ia tidak pernah sekalipun meninggalkan gadis itu, jadi jangan menyentuh sejentik jaripun untuk menyelakai atau melukai Jira jika tidak ingin berurusan dengannya.

Kim Jira hanya miliknya. Kim Jira hanya milik Park Chanyeol. Yang diijinkan untuk bisa melukai perasaan gadis itu hanya dirinya, bukan orang lain. Tidak akan pernah.

Junho hampir saja kehabisan nafas jika kedua tangan Chanyeol yang sedang mencekiknya tidak ditarik oleh tangan seseorang.

“Apa yang kau lakukan Park Chanyeol!” Pekik Jira seraya menepis kedua tangan kekasihnya dari leher Junho. Ia memandang tak percaya bahwa Chanyeol bisa begitu menyeramkan seperti ini. Tadi, begitu tau maksud Saejin membawanya ke lapangan parkir, ia langsung berlari kearah dua pria tersebut yang tengah menjadi tontonan gratis para mahisswa. Mungkin ini juga yang menyebabkan kedua gadis yang berada dikantin tadi mendadak idiot ketika mendapati dirinya bertanya perihal tentang apa yang sedang terjadi. Siapapun pasti merasa akan gugup dan sulit menjelaskan jika berada diposisi mereka.

“Astaga Junho-ya…” begitu mendengar suara batuk Junho yang lumayan keras, Jira mengalihkan tatapannya untuk melihat kondisi pria itu. Ia yakin jika tadi terlambat sedikit saja, mungkin Junho sudah meregang nyawa. Chanyeol benar-benar keterlaluan. Jira menelan ludah, tangannya terulur pada bahu pria itu, berniat membantu Junho untuk bisa duduk.

Seketika itu juga ia merasakan tarikan keras pada sikunya. Chanyeol menarik—lebih tepatnya menyeret dirinya agar menjauh dari Junho lalu pergi dan meninggalkan tempat itu.

Jira bisa merasakan masih ada emosi dalam diri Chanyeol. Bisa ia lihat dari bentuk wajahnya yang pria itu tekan keras-keras, rahangnya yang mengatup dan langkah kakinya yang lebar-lebar.

Jira menarik nafas kuat, memjamkan matanya kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ia menepis tangan Chanyeol. Membuat pria itu berhenti berjalan dan berbalik menatapnya dengan tatapan semenyeramkan mata iblis. “Kita harus ke dokter, Chanyeol..” ungkapnya lirih.

“Tidak perlu” balasnya tegas.Chanyeol ingin meraih tangan Jira kembali, namun gadis itu menghindar. Membuat pria itu menggeram. “Aku tidak apa-apa!”

“Tidak apa-apa apanya?!”Balas Jira sengit. “Kau terluka” tangannya menyentuh memar yang berada di tulang pipi pria teresbut menyebabkan ringisan kecil keluar dari bibir pria tersebut. Jira menatap mata Chanyeol dengan pandangan lirih kemudian menggeleng, “Tidak bisa. Kita harus ke dokter, kita obati lukamu dulu—”

“Jira, please…”

“Lalu kau bisa menjelaskan apa yang terjadi disana? Kenapa kau bisa seperti ini?Kenapa kau seperti ingin membunuhnya?!” Jerit Jira dengan setetes air mata yang jatuh di pipi kanannya.

Chanyeol tertegun. Jira tidak pernah menangis untuk hal-hal yang seperti ini. Gadis itu tau seperti apa dirinya, setiap kali ia habis berkelahi yang gadis itu tunjukkan hanya wajah datarnya. Lalu semuanya akan kembali baik-baik saja. Tapi sekarang…

“Ada apa denganmu Chanyeol?” Tanya Jira dengan air mata yang perlahan-laham jatuh semakin deras, tidak ada isakan yang keluar dari bibir ranum mungilnya,tapi wajahnya yang memerah dan air yang terus mengalir dari kedua matanya menandakan bahwa gadis benar-benar terluka.

Tanpa Chanyeol tahu, Jira menangis bukan karena perkelahian pria itu dengan Lee Junho melainkan karena sikap pria itu yang semakin keras dan berubah. Jira tidak bisa menahannya. Sungguh.

“Baik, kita obati lukaku” Ungkap Chanyeol datar lalu meninggalkan gadis itu menangis sendirian.

Jira menunduk, tanganya meremas dadanya. Sakit sekali. Tapi ia harus kuat, ia harus bertahan.

∞∞∞

Memutuskan untuk pulang ke apartemen, Chanyeol tidak mau diobati oleh dokter. Ia meminta Jira saja yang mengobati lukanya. Saat ini, mereka ada di beranda

Sejak memasuki bangku kuliah, pria itu memang memutuskan untuk hidup sendiri.Ia ingin mandiri, katanya. Ia akan kembalimkerumah besarnya paling tidak saat akhir pecan saja.

Chanyeol berbaring, meletakkan kepalanya berada diatas pangkuan Jira, sedangkan gadis itu duduk diatas sofabed yang memang disediakan disana selagi tangannya sibuk mengoles salep pada memar di wajah Chanyeol yang mulai berwarna keunguan.

“Sssh.. pelan-pelan” ringisnya.

“Ini sudah pelan, Park Chanyeol”

“Kalau begitu lebih dipelankan lagi, ini sakit.”

Jira menghembuskan nafasnya. “Kemarikan tanganmu!” perintahnya begitu selesai dengan luka yang ada diwajah kekasihnya. Chanyeol mengulurkan tangan kanannya. Jira meringis saat melihat buku-buku jari Chanyeol yang juga terluka bahkan ada kulit yang mengelupas.  Chanyeol meringis begitu merasakan sensasi dingin salep tersebut.

“Yang satu lagi” Chanyeol menyerahkan tangan kirinya, walaupun disana hanya ada luka kecil di pergelangan tangannya tapi tetap saja itu luka. Jira sangat benci jika mendapati wajah atau tubuh Chanyeol penuh luka karena itu menandakan  bahwa Chanyeol masih belum bisa mengendalikan emosinya sama seperti Chanyeol yang sangat anti jika Jira melakukan kesalahan yang bisa membahayakan tubuhnya. Makanya Chanyeol sangat protektif pada gadisnya ini.

Selesai dengan urusan mengobati luka Park Chanyeol, tangan Jira menyapu lembut rambut pria itu berulang kali. Membuat Chanyeol yang memang kelelahan pasca perkelahian tadi semakin mengantuk. Diatmbah dengan angin sepoi sore hari yang ia rasakan.

“Jangan mendekat padanya” ucap pria itu dengan kedua mata yang masih tertutup. Jira mengernyit, tidak mengerti dengan apa yang Chanyeol ucapkan.

“Jangan dekati dia Kim Jira” ulangnya lagi saat tak mendapat respon dari kekasihnya. Masih dengan kebungkaman kkasihnya, Chanyeol membuka kedua kelopak matanya dan balas menatap tatapan bingung Jira dengan sorot mata yang tegas. “Shin Junho. Jangan biarkan dia mendekat padamu”

Kenapa?

Jira berdeham. Matanya menerawang pada perkelahian Chanyeol dan Junho tadi. Sampai saat ini, Chanyeol belum memberitahunya apa yang menyebabkan mereka berdua bisa terlibat dengan perkelahian. Bahkan Chanyeol tidak segan-segan untuk mencekik Junho.

Dengan sedikit senyum tipis ia berkata, “Ya, aku tidak akan membiarkannya mendekat padaku” tangannya kembali menyapu poni  yang menutupi dahi indah pria itu.

Untuk saat ini, hanya itu yang bisa ia katakan, menuruti kemauan pria tersebut. Tapi ia juga tidak akan tinggal diam. Ia harus mencari cara untuk mengetahui latar belakang perkelahian tadi. Ya, harus!

 

T~B~C

NOTES!!

Haiii ^^ halo ini FF debutku, gimana? gimana? lumayan gak? Aku lagi belajar nulis soalnya nih~ gatau menarik atau enggak heuheu😄

Awalnya aku buat jalan ceritanya gak seperti ini, tapi aku rombak habis-habisan karena aku pikir judulnya kurang cocok hihi :3 jadi beginilah~ ini baru awal, konflik aslinya belum dimulai. Jadi tunggu aja😄

Btw thankseeuu yang udah mau baca ini yaa xOx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s