Honey Cacti [Prolog]

honey-cacti-poster-huniel-2

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah

Genre: Romance, Comedy

———————————————–

Prolog

Hujan lebat bercampur angin kencang mengisi malam kota Seoul. Embusan angin membuat orang-orang merapatkan jas hujan dan memegang erat payung mereka, sampai menemukan tempat yang aman untuk berteduh sejenak. Salah satunya kafe Spring Café yang terdapat di Dongdaemun ini. Berada di atas sebuah toko kado dan pernak-pernik, kafe itu memancarkan aroma hangat yang mengundang siapapun yang kedinginan untuk masuk ke dalam. Badai di musim gugur ini memaksa pemilik kafe untuk menambah jam operasionalnya, meski jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

Butiran-butiran tajam air hujan berbenturan dengan pintu geser kafe yang memisahkan bagian dalam dengan beranda. Di antara suara Kim Ji Soo yang mengalun indah, menyanyikan lagu Chocolate Drive andalannya, dan obrolan orang-orang yang datang untuk sekadar berteduh sambil menikmati secangkir cokelat panas, tiga orang wanita duduk di sofa, di sudut kafe, dengan wajah yang tidak jauh berbeda dengan cuaca di luar. Dingin, marah, kacau, khawatir, dan penuh air mata. Sebenarnya hanya satu orang yang benar-benar menangis, sedangkan dua orang lainnya berusaha menahan air mata agar keadaan tidak semakin kacau. Wanita yang duduk di tengah terus menghapus air matanya dan menutup mulutnya dengan tangan agar suara tangisnya tidak terdengar. Meski sebenarnya, bunyi hujan sudah cukup meredam suara tangis itu.

Sudah hampir satu jam mereka duduk di sana, mendengar salah satu di antaranya bercerita sambil menangis tersedu-sedu. Orang-orang yang baru memasuki kafe pasti langsung memperhatikan mereka, sebelum akhirnya memilih tidak peduli. Bukan apa-apa, dari penampilan saja sudah ketahuan kalau mereka bukan lagi gadis remaja yang menangis karena diputuskan pacarnya. Tapi dengan sekilas melihat pun keadaan ini tidak jauh berbeda.

“Kau belum bercerita kepada orangtuamu?” tanya seorang wanita berambut ikal cokelat madu. Satu tangannya mengusap punggung tangan wanita yang sedang menangis itu.

Lee Ji Eun, wanita yang menangis tersedu-sedu itu menggeleng sambil mengusap air matanya. Bukan pertama kalinya ia menangisi pria brengsek itu, tapi rasanya tetap menyakitkan. Dan kali ini… entah apakah bisa sembuh atau tidak. “Aku meminta dia untuk tidak mengatakannya duluan. Aku ingin… mereka tahu dari mulutku sendiri.”

“Kenapa? Kau ingin melindunginya?!” Yoon Bo Mi mengerutkan dahinya, sedikit kesal. Ia tahu Ji Eun memang wanita yang baik, tapi terus-terusan melindungi bajingan itu membuatnya ingin menyiramnya dengan minyak panas.

“Bukan begitu… keluarganya yang mengajukan lamaran. Kalau eomma dan appa tahu dia yang membatalkannya juga, a-aku… aku…”

Choi Seo Ah, wanita berambut ikal coklat itu, meraih kepala Ji Eun dan memeluk wanita itu dari samping. “Sudahlah… berhenti menangis. Kau malah akan membuatnya tambah besar kepala dengan menangis seperti ini.”

Ji Eun tahu, ucapan Seo Ah ada benarnya, tapi ia tidak bisa. Air matanya terus menarik seraya remasan itu begitu nyata di hatinya. Hanya dengan memikirkan nama pria itu, dunianya terasa runtuh. Bagaimana tidak? Sudah tujuh bulan mereka menjalani pertunangan ini. Meski terlihat jelas pria itu tidak menyukainya, tapi setidaknya mereka selalu bertingkah ‘baik-baik saja’ di depan orangtua mereka. Ji Eun tahu apa yang dilakukan pria itu di luar sana, tapi ia tetap tidak bisa menghentikannya. Melihat pria itu tetap berada di sisinya sampai nanti mereka menikah, sudah membuat hatinya senang. Ya, dia jatuh cinta pada pria bajingan itu—tanpa balasan apapun.

Tapi, dengan satu jari, pria itu berhasil meruntuhkan pijakan Ji Eun dengan membatalkan pertunangan mereka secara tiba-tiba.

Aish… bajingan itu!” Bo Mi menggeram di tempatnya. Ia meremas kesepuluh jarinya. “Aku tahu, harusnya aku mengacamnya lebih keras di pertemuan kita!”

“Bo Mi-ya….”

“Kenapa?! Kau sebenarnya juga setuju kan denganku?” ucap Bo Mi kepada Seo Ah.

Seo Ah tidak menjawab, ia hanya menggerakkan bola matanya ke sosok Ji Eun yang masih menangis di pelukannya. Melihat itu, Bo Mi melipat bibirnya. Ia pun ikut membelai rambut Ji Eun dan memeluk sahabatnya itu.

Di antara mereka, Ji Eun-lah yang paling polos, cantik, dan baik hati. Ia bagai malaikat; sedangkan Bo Mi sebagai setan kecil, dan Seo Ah sebagai iblis yang tukang marah-marah. Mereka sudah berteman sejak menjadi mahasiswa baru di Universitas Kyunghee. Mereka mengambil jurusan yang sama pada awalnya, sebelum akhirnya Ji Eun pindah ke jurusan desain pada tahun kedua. Tapi meski begitu, hubungan mereka sangat baik.

“Maafkan aku….” gumam Bo Mi, masih memeluk Ji Eun. Ia pun mulai mengeluarkan air mata.

“A-Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang,” Ji Eun melepaskan pelukan Seo Ah, lalu membersitkan hidungnya. “Se Hun oppa bahkan tidak mau bertemu denganku.”

“Kau tidak harus menemuinya. Kau harus membuktikan pada Bajingan itu kalau kau bisa hidup dengan baik tanpanya.”

“Seo Ah benar. Kau akan lebih baik tanpanya,” Bo Mi mengangguk. “Yang bisa dilakukan pria macam itu hanya menyakitimu, Ji Eun-a.”

Bukan sekali dua kali Ji Eun datang pada mereka dan menangisi pria itu. Ya, mungkin berpisah adalah jalan terbaik untuk mereka. Tapi entah karena terlalu cinta atau Ji Eun yang terlalu baik, mereka akan kembali bersama beberapa hari kemudian. Dan itu membuat kepala Seo Ah dan Bo Mi tidak berhenti berdenyut.

“Tapi aku sangat mencintainya…,” Ji Eun mulai menangis lagi. “Bagaimana aku bisa hidup setelah ini?!”

Kali ini Bo Mi yang memeluk Ji Eun. Meski dia terlihat jail, sebenarnya hati Bo Mi sama lembutnya dengan Ji Eun. Ia mudah menangis dengan hal-hal kecil. Sekarang pun ia terus menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis keras, dengan begitu suasana kafenya ini tidak semakin buruk.

“Lupakanlah dia.” Seo Ah menyenderkan kepalanya di punggung Ji Eun. Satu tangannya mengusap lengan atas wanita itu. “Kau wanita yang baik, pasti akan mendapat pria yang jauh lebih baik dari Oh Se Hun.”

Ji Eun melepaskan pelukan Bo Mi lalu menatap Seo Ah. “Suatu waktu, aku pernah berharap memiliki hubungan seperti dirimu dan Jong In, Seo Ah-ya. Kalian tetap baik-baik saja meski jarak menjadi halangan.”

Seo Ah tidak merespon banyak, hanya mengulaskan senyum tipis untuk menutupi goresan di hatinya yang kembali terbuka. Baik-baik saja, ya….


 

■■■

*HALO BACKKKK HUAAAA *cium satu-satu*

Sesuai janjiku di waktu itu #azek aku bakal bikin ff baru dengan cast Juniel feat (?) Sehun. Dan… ada jongin nyelip haha dan aku juga masih pake Jieun. Dijamin ini penokohannya beda semua… ya kecuali beberapa poin di Juniel masih sama haha

 

Ini masih prolog loh, jadi masih gak jelas gitu deh. Oh iya, ini up –nya gak setiap minggu kayak 10 steps, karena aku ngetik pas ada waktu luang aja. Jadi mungkin agak ngaret hehe, tapi aku usahain bakal ditamatin mat mat mat. Bahkan aku udah mikirin konflik sama endingnya *beginilah

 

Tapi jangan berharap banyak. Maaf banget kalo ini gak kayak 10 Steps dan banyak mengecewakannya. Jujur, berapa poin masih kosong hehe belum dipikirin sampe situ. Tapi aku akan berusaha #azek see yaaa

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

16 responses to “Honey Cacti [Prolog]

  1. yeeaayy FF baruu..
    kayaknya sih ini bakalan ada banyak konflik ya? penasaran sama sehunnya.

    next chapt sangat sangat ditunggu ^^

  2. authornya blik bwa crita baru *cium cium*.. ini prologny msih blm jlz kya gmna bkl alurny k dpn… tk tungguin… aq bkl sllu ngikutin ffmu… keep writing yee…🙌🙌

  3. Jadi si cadel tunangan ama jieun terus si cadel mutusin pertunangan sama jieun secara sepihak gitu yah kak ??
    Kalo salah mohon hampura abdi yak abdi teh teu ngartos 😆😆
    Keep writing kak✊✊✊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s