[FREELANCE] Who Knows? (Chapter 2)

z8

Title: Who Knows? (Chapter 2)

Author: yerisa07

Cast: Kim Yeri, Kim Yena, Kim Hanbin, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Byun Baekhyun

Genre: school life, family

Rating: Teenage

Length: Chapter

Disclaimer: Annyeong!! Yerisa07 is here. Nice to meet you. This is my first story in Say Korean Fanfiction. Don’t plagiarism. Oke, ini terinspirasi dari drama yang saya sukai dan ff yang saya sukai. Kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan.

Prev: Chapter 1 ||

Why do the stars shine brightly? Because they burn theirself to make their own light. The light is very beautiful. Beautiful. Just it, no reason. But, star’s life is not good as its look. Sometimes cloud cover it.

Previous Chapter

“Hei, Oh Sehun!” Sebuah suara menghentikan langkah sunbae itu menarik Yeri.

“Wae?” Sunbae itu bertanya kepada Suho, orang yang memanggilnya tadi sekaligus ketua OSIS mereka.

Suho hanya mengedikkan bahunya lalu menatap Yeri datar. “Jadi kau orangnya?” Tanya Suho malas sedangkan Yeri membulatkan matanya kebingungan. “Kau segera temui Park seonsaengnim! Ia mencarimu. Cepat!”Yeri membungkuk kepada kedua sunbaenya lalu pergi.

“Yakk, Suho hyung! Kau membuatnya bebas dariku.” Sehun mendecak kesal dan menggerutu kepada Suho.

“Hey, Sehun, mau kuberi nasihat?” Suho malah bertanya kepada Sehun. Spontan Sehun memutar bola matanya jengah.

“Yakkk, jangan memutar bola matamu!” Sontak Suho berteriak melihat kelakuan Sehun.

“Jadi itu nasihatmu, hyung?” Sehun malah menggoda Suho.

Suho menggeleng kasar lalu berkata, ”Hati-hati, Hun. Gadis itu terlalu menarik.” Sehun melongo mendengar Suho berkata bahwa Yeri terlalu menarik. Sehun memegang dahi Suho untuk memastikan bahwa Suho baik-baik saja.

“Yakk, apa-apaan kau ini?” Pekik Suho.

“Hyung, apa kau sakit?”

“Tidak, kenapa?”

“Yeri itu nerd, hyung! Nerd! N-E-R-D! bagaimana bisa hyung berpikir kalau Yeri itu menarik?” Sehun berkata dengan kecepatan melebihi Mono Rail Train.

“Ya, ya, ya, Sehun, aku paham seleramu tapi lhat saja nanti. Kita akan tahu siapa dia si nerd yang jadi peliharaanmu itu.” Suho lantas pergi meninggalkan Sehun. Sehun hanya tersenyum miris. Apa Suho hyung sudah tahu? Batin Sehun.

WHO KNOWS?

Langkah Yeri terhenti. Jonghyun juga ikut ikut berhenti. Jangan tanya kenapa mereka bisa pergi berdua tapi yang jelas mereka tidak kencan. Lihatlah, mereka tidak seperti pasangan kekasih yang sedang berkencan. Mereka masih memakai seragam sekolah dan membawa setumpuk map.

“Sudah dapat berapa uangnya?” Tanya Yeri.

“Kita sudah dapat 1.800.000 won. Sementara itu, total dana yang kita butuhkan adalah 4.000.000 won jadi kita sudah mendapat 45%. Uang yang telah kita terima secara tunai adalah 300.000 won. Nah, …”

“Cukup,” Omongan Jonghyun dihentikan Yeri. “Target kita masih jauh, Jonghyun. Target kita 85% dari seluruh dana.” Kata Yeri sambil membenarkan letak kacamatanya yang agak melorot. Jonghyun mengangguk paham. Ia juga merasa seperti Yeri. Ya, mereka mencari dana umum untuk bazar sekolah mereka. Sebenarnya, Yeri bukan anggota OSIS ataupun aktivis tapi Jonghyun, teman sekelasnya yang menjabat Sie Dana Umum, merekomendasikannya kepada Park seonsaengnim untuk menemani Jonghyun mencari dana untuk bazar sekolah. Park seonsaengnim yang mempercayai omongan Jonghyun bahwa Yeri sangat pandai berdebat langsung menyetujui saran Jonghyun sehingga Yeri harus berakhir sore ini. Padahal, hari ini Yeri sudah cukup pusing dengan urusannya sendiri. Mulai dari panggilan itu sampai map yang kini ia simpan di tasnya.

 “Kim Yeri, apa kau sudah siap?” Sesosok laki-laki menatap tajam Yeri.

“Ne.” Yeri menjawab laki-laki itu tegas.

“Lakukan tugas itu mulai nanti. Kita harus segera mendapatkannya. Waktu kita tidak lama lagi.”

“Ne.”

“Ini,” Laki-laki itu menyodorkan sebuah map. Yeri menatap bingung sosok laki-laki itu. “Itu adalah tugas tambahan untukmu. Kau harus mempertimbangkannya.” Yeri hanya mengangguk lalu keluar ruangan.

WHO KNOWS?

“Yuk, ke kafe itu.” Jonghyun menarik Yeri masuk ke kafe di seberang jalan.

“Makanlah, aku yang traktir.” Wajah Yeri berubah menjadi cerah seketika. Wajarlah, sekarang sudah pukul 6 malam. Yeri langsung memesan double cheeseburger dan jus apel. Sementara itu, Jonghyun memesan hotdog dan cola. Selama makan banyak orang yang menatap aneh kepada Jonghyun dan Yeri. Mungkin, mereka merasa kasihan kepada Jonghyun yang keren karena harus makan dengan seorang gadis nerd seperti Yeri.

“Sudah selesai?” Tanya Jonghyun. Yeri cuma mengangguk. Mereka lalu pulang setelah Jonghyun membayar pesanan mereka. Jonghyun memaksa Yeri agar mau diantar pulang. Mereka terus berdebat sampai ada beberapa orang berjas hitam keluar dari mobil dan mengepung mereka. Dua orang dari mereka menarik paksa Yeri. “Lepaskan!” Yeri berteriak sekencang yang ia bisa ketika dua orang itu menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil. Jonghyun langsung panic. Dilepaskan dengan kasar tas dan map yang ia pegang. Jonghyun langsung meninju orang yang memegang lengan kiri Yeri.

“Bugh.” Orang itu langsung jatuh. Jonghyun menatap Yeri laksana seorang kesatria yang berhasil memenangkan perang. Diraihnya tangan Yeri dan digengamnya erat-erat. Jonghyun tersenyum dan…

“Bugghhh.” Jonghyun jatuh tersungkur karena salah seorang dari gerombolan berjas hitam meninju pipi kanannya.

“Arggghhh…..” Jonghyun mengerang kesakitan sangat keras. Untuk beberapa saat tidak ada sepatah kata yang terucap. Semua mata fokus kepada Jonghyun yang berlebihan saat mengerang. Tiba-tiba Yeri terkekeh sendiri membuat Jonghyun berhenti mengerang.

“Jonghyun, kau tidak boleh lengah saat berkelahi seperti orang-orang ini. Lihat baik-baik, ya.” Yeri tersenyum lalu “Bugh. Brakk!” tiba-tiba Yeri menendang orang yang memegang lengan kanannya lalu membanting orang itu ke mobil. Setelah itu Yeri meninju orang yang ada di belakangnya. Jonghyun menatap Yeri kagum. Seorang perempuan seperti Yeri mampu berkelahi dengan enam orang laki-laki bertubuh kekar. Wah, menakjubkan, batin Jonghyun.

“Jonghyun, lari!” Yeri menarik tangan Jonghyun untuk berlari setelah berhasil melumpuhkan enam orang laki-laki tadi. Jonghyun masih tidak percaya. Sementara itu, di belakang sana ada enam orang yang mengejar mereka.

“Hey, kau lambat sekali, sih!” Yeri mulai mengumpat Jonghyun. Akhirnya Yeri mendorong Jonghyun ke depan agar Jonghyun berlari lurus sedangkan dirinya sendiri melompati pagar rumah warga. Jonghyun berlari terengah-engah. Peluhnya menetas sangat banyak. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Aneh, pikirnya. Ia berbalik arah. Benar dugaannya. Orang-orang berjas hitam tadi tidak mengejarnya. Tapi, Yeri kemana? Apa ia ditangkap orang-orang tadi?

WHO KNOWS?

Ruangan itu berwarna biru muda. Terlihat begitu tenang dan elegan. Siapapun akan merasa nyaman di kamar ini kecuali gadis yang memakai dress pink itu. Wajahnya memang cantik tapi ekspresinya itu. Siapapun akan langsung tahu kalau gadis itu sedang dalam keadaan yang tidak baik.

“Paman Son, aku mau pakai kacamataku.” Kata gadis itu.

“Nona’kan tidak minus, kenapa harus pakai kacamata? Kalau tidak memakai kacamata nona terlihat sangat cantik seperti bidadari.” Balas seorang lelaki berumur empat puluh tahunan.

“Akh, Paman tidak seru. Lagipula bidadari itu adanya di surga memang Paman mau aku cepat mati, eoh?”

“Nona, Anda memang sangat ahli dalam hal bersilat lidah.”

“Bukankah Paman yang mengajariku?” Kedua orang itu kemudian tertawa bersama-sama.

Krakk. Pintu kamar itu terbuka dan memunculkan sosok pria lainnya.

“Kim Yeri, cepat keluar. Semuanya sudah lama menunggu. Kau ini membuat kami malu saja. Kami nyaris terlambat makan malam gara-gara dirimu. Cepat!” Laki-laki itu lantas keluar dari kamar putrinya, Kim Yeri. Baiklah, Kim Yeri yang cantik ini masih satu orang dengan Kim Yeri yang nerd dan barusan menghajar enam orang laki-laki. Sekedar informasi, enam orang laki-laki tadi adalah anak buah ayahnya, Tuan Kim Myungsoo. Ya, siapa yang sangka?

“Seandainya Jiwon tadi tidak memegang kakiku pasti aku tidak akan terjebak di sini, Paman. Aku akan menghajarnya habis ini.” Gerutu Yeri kepada paman Son, pelayan pribadinya sedari kecil.

“Nona, kumohon jangan bertengkar lagi.” Pinta paman Son kepada Yeri.

“Ya, ya, ya. Aku akan mempertimbangkannya. Meski begitu, aku tetap akan balas dendam kepadanya. Lihat saja, nanti.”

“Terserah Nona, sajalah. Mari keluar.” Paman Son membukakan pintu untuk Yeri.

Mereka hanya terbengong ketika mereka sampai di halaman depan tidak ada satupun mobil di halaman depan. Yeri mulai mengumpat dalam hati.

“Hei, Eunhyuk! Kemana mereka? Dimana mobilnya?” Yeri bertanya marah kepada Eunhyuk, salah seorang pembantu yang ada di rumahnya.

“Mereka telah berangkat lebih dahulu, Nona. Anda harus berada di rumah sampai Jung Ilhoon kemari menjemput Anda.” Kata Eunhyuk sabar.

Kalau tidak mau mengajakku tak usah memaksaku ke sini, bukan? Yeri menggerutu dalam hatinya. Paman Son menyadari perubahan wajah Yeri. Ia ingin menenangkan hati Yeri tapi tidak bisa. Yeri terlanjur sakit dengan semua ini.

Ciiiiiiiitttttttttttt……….. Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Yeri. Kaca mobil tersebut terbuka dan menampilkan seorang pria yang, well cukup tampan dan membuat Yeri mengeluarkan cengiran bodohnya.

“Hai, Nona. Kau butuh tumpangan?” Kata pria itu sambil melepas kacamatanya.

“Orang gila!” Balas Yeri kasar.

“Hei, kau itu sudah jelek jadi kau tidak perlu jual mahal kepadaku. Lagipula, jarang-jarang kau disopiri oleh orang setampan diriku.”

Yeri terkekeh pelan. Menurutnya, orang itu sangat lucu meskipun candaanya agak sarkastik.

“Gratis’kan?” Tanya Yeri.

“Hei monyet cungkring, kau ini adikku atau bukan sih? Kenapa kamu sangat perhitungan denganku? Aku ini oppamu!” Pria itu berteriak dengan kencang. Pria itu memang kakaknya Yeri. Satu-satunya kakak laki-laki yang ia punya dan satu-satunya anggota keluarga yang mempedulikannya di Korea.

“Ah, Hanbin oppa memang yang terbaik.” Seru Yeri riang sambil masuk ke mobil oppanya.

“Omong-omong, kita mau kemana?” Tanya Hanbin ketika Yeri sudah masuk.

“Oppa, kau ini keterlaluan. Kita akan malam dengan appa, eomma, dan Yena.”

“Iya, aku juga tahu kalau itu tapi aku tempat kediaman keluarga perusahaan itu.”

“Apa? Perusahaan?” Yeri heran ketika Hanbin menyebut perusahaan.

“Ah, appa pasti tidak menjelaskan kepadamu. Hari ini kita tidak hanya makan malam biasa di restoran yang sering kita kunjungi tetapi juga membahas beberapa proyek perusahaan. Hari ini setidaknya ada lima keluarga yang diundang.” Jelas Hanbin panjang kali lebar.

“Aisshhh, menyebalkan.” Yeri mendengus kasar. Itulah kenapa ia sebal berada di Korea. Dia merasa bahwa dia hanyalah alat pelengkap bagi bisnis ayahnya.

“Ada baiknya kalau aku telpon Ilwoo.” Hanbin mencoba mengalihkan perhatian Yeri. Untungnya perhatian Yeri mampu teralih.

“Hai, Ilwoo. What’s up, man?” Sapa Hanbin sambil mengeluarkan gaya swagnya. Yeri menepuk lengan Hanbin mengisyaratkannya untuk menepi dahulu. Hanbin pun menurutinya.

“Kau dimana, Ilwoo?”

“……”

“Apa? Dimana?”

“……”

“Oh, OK. See you there, man.”

Bip. Hanbin mengakhiri panggilannya. Ia tersenyum lalu memutar arah mobilnya. Dia melirik Yeri sekilas. Ia cukup tahu apa yang dirisaukan adiknya karena ia juga merasakannya. Sebagai pewaris dari Taejin Group, mereka akan terseret dalam berbagai masalah bisnis. Ingatan tentang kejadian 8 tahun yang lalu membuat mereka takut dan memilih pergi dari rumah mereka sendiri. Tak terasa mereka sudah sampai di tempat acara makan malam.

“Selamat datang di Golden Hotel and Restaurant!” Sapa salah seorang pelayan ketika mereka turun.

“Taejin Group.” Kata Hanbin singkat kepada pelayan itu. Pelayan itu menunjukkan arah tempat keluarga mereka mengadakan makan malam.

Semua mata menatap Hanbin dan Yeri kagum. Mereka benar-benar memiliki DNA yang bagus. Banyak orang yang berhenti dari kegiatannya hanya untuk melihat Kim bersaudara lewat.

“Oppa, aku tidak nyaman.” Tutur Yeri.

“Sabar, Yeri-ya, mereka itu tidak melihatmu. Mereka sedang melihatku jadi jangan terlalu percaya diri.” Balas Hanbin sambil tersenyum konyol. Yeri tersenyum. Bukan, ia hanya tersenyum untuk menghargai usaha Hanbin membuatnya tertawa.

“Silahkan.” Pelayan yang menunjukkan arah tadi berhenti dan mempersilakan keduanya untuk masuk ke hallroom.

“Oppa, apa kau yakin ini makan malam?” tanya Yeri begitu masuk ruangan. Hanbin hanya mengernyitkan dahinya ketika Yeri bertanya seperti itu karena dia juga bingung.

“Oppa! Kau di sini? Yeri, kau juga?” Seorang gadis dengan gaun yang juga berwarna pink menghampiri keduanya. Wajahnya cantik seperti Yeri.

“Hmm, selama ada makanan gratis, aku akan muncul di manapun itu.” Jelas Hanbin singkat.

“Oppa, apakah Cina telah merubahmu sebanyak itu?” Tanya gadis itu sambil menggandeng lengan Hanbin. Sementara itu, Yeri memutar matanya sebal.

“Yena-ya, lepaskan tanganmu atau kita akan terlihat seperti orang yang terlibat cinta terlarang!” Titah Hanbin tegas. Dia merasa risih dengan kelakuan Yena.

“Aissshhh, Oppa. Apakah Oppa lebih sayang kepada Yeri daripada aku, eoh?”

“Entahlah. kurasa aku lebih menyayangi diriku sendiri daripada harus memilih untuk menyayangi salah satu dari kalian. Benar-benar bukan seleraku.”

“Oppa ini benar-benar keterlaluan.” Yena makin manja dengan Hanbin. Yeri hanya dapat melihat mereka dengan senyuman yang dipaksakan. Lagi dan lagi. Yeri harus berpura-pura tersenyum. Ia lelah seperti ini. Andai saja kedua orang tuanya tahu tapi tenanglah orang di pojok sana mungkin tahu perasaan Yeri. Orang itu terus mengawasi Hanbin dan Yeri sejak mereka masuk tadi. Ya, memang siapa sangka?

“Omong-omong ini acara apa, sih? Kok ramai sekali? Katanya kita Cuma makan malam. Menyebalkan. Aku harus tahu diri kalau begini.” Gerutu Hanbin ke Yena.

“Oh, ini acara salah seorang kolega ayah dari Zeus Group untuk merayakan ….”

“Yeri! Yena! Hanbin!” Suara seorang wanita mengalihkan perhatian mereka bertiga.

“Kemarilah!” Perintah wanita itu sambil melambaikan tangannya kea rah Yeri, Yena, dan Hanbin. Mereka lekas menuju ke wanita tersebut yang sedang bersama dua lelaki dan satu wanita.

“Perkenalkan, Tuan dan Nyonya Do. Mereka adalah anak-anakku. Hanbin, yang berambut cokelat Yena, dan yang berambut hitam Yeri.” Wanita itu adalah Nyonya Kim, ibu mereka. Ia bersama Tuan Kim sedang berbincang hangat tentang bisnis ketika tak sengaja mereka melihat ketiga anaknya bersama jadi Nyonya Kim berinisiatif untuk mengenalkan ketiganya.

“Anak-anak, perkenalkan mereka adalah tuan dan nyonya pemilik Grup Zeus.” Lanjut nyonya Kim.

“Senang bertemu dengan Anda. Kami mohon bimbingannya.” Kata ketiganya serempak sambil membungkukkan badan.

“Wah, anak kalian sangat sopan.” Puji Nyonya Do.

“Mereka akan menjadi orang yang hebat di masa depan.” Tambah Tuan Do.

“Anda terlalu berlebihan, Tuan dan Nyonya Do.” Jawab Tuan Kim diiringi kekehan pelan. Sementara itu, ketiga Kim kecil hanya tersenyum. Senyum palsu lagi? Ya, siapa sangka?

“Kalian sudah bertemu dengan putraku?” Tanya Nyonya Do. “Dia benar-benar tampan, lho.”

“Ahhh, ayo cepat panggil dia.” Perintah Tuan Do. Nyonya Do mulai celingukan mencari putranya.

Aissshhh, aku kebelet buang air, Yeri mulai menggerutui keadaan itu. Hanbin yang melihat ekspresi adiknya langsung paham.

“Permisi, Tuan dan Nyonya Do. Aku harus mengantarkan adikku ke toilet. Dia tidak berani pergi sendiri. Tuan dan Nyonya Kim memelototi Hanbin yang menurut mereka kurang sopan sementara Tuan dan Nyonya Do hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.

“Oppa, kau baik sekali’sih?” Tanya Yeri ketika mereka berjalan keluar.

“Memangnya kau baru tahu kalau aku baik? Kasihan sekali.”

“Tapi Oppa, kenapa kita keluar? Aku beneran pingin buang air.” Yeri mulai bingung ketika Hanbin membawa dirinya keluar ruangan bukan ke kamar mandi.

“Eh, jadi kamu emang pingin buang air? Aku kira kamu tadi cuma nggak betah makanya aku sekalian bawa keluar.” Jawab Hanbin polos

“Aigoo, Oppa’sih sok tahu. Ya udah, kita nanti kencing di mall aja.” Balas Yeri bersungut-sungut.

“Apa? Kita? Berangkat aja sendiri. Aku ada kencan.”

“…….” Hening. Yeri cuma diam. Hanbin langsung merasa bersalah melihat adiknya.

“Ania, Yeri. Jangan marah, oke? Aku antarin kamu ke mall tapi nanti kamu pulang sendiri, ya? Soalnya aku emang ada kencan hari ini.”

“Shireo.”

“Ahhhh, Yeri-ya, aku akan memberimu uang untuk berbelanja.”

“Berapa?” Hanbin tersenyum kecut ketika mendengar ucapan Yeri barusan. Meski ia sudah paham dengan sifat adiknya, ia tetap merasa sebal.

“50.000 won. Okay?” Hanbin mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet hitamnya.

“Saranghae, Oppa. Cup!” Yeri mencium pipi Hanbin lalu berlari keluar.

“Hei, kau berangkat sendiri?” Teriak Hanbin ketika Yeri pergi dari hadapannya.

“Ckckck, orang gila.” Umpat Hanbin pelan

WHO KNOWS?

“Oh Sehun! Berani-beraninya, kau!” Laki-laki tua itu mulai menaikkan nada bicaranya. Tangannya terangkat hendak menampar lelaki yang terlihat lebih muda.

“Berhenti, yeobo! Berhenti!” Wanita yang sedari tadi diam itu menahan tangan suaminya.

“Dasar anak tidak tahu diuntung. Seharusnya aku membuangmu ke wanita jalang itu!”

TBC

Ehmm, aku bingung mau bilang apa. Mungkin cuma berharap kalau ada yang baca ff gila ini terus komen. Maaf ya, kalau ceritaku mulek tingkat tinggi. Hehehe……. Aku mau ngasih sedikit note biar reader nggak bingung.

NB.

  1. Ini pertemuan antar banyak perusahaan jadi jangan bingung kalau ada berbagai macam perusahaan di situ.
  2. Ibu Yeri adalah orang Cina terus Hanbin kuliah di Cina, ikut neneknya.
  3. Yeri bukan yatim piatu. Ada alasan tersembunyi kenapa ia selalu ke panti.

3 responses to “[FREELANCE] Who Knows? (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s