[FREELANCE] Crush On You #1

z7

Crush On You

Bagian 1

Author : marthasellyn

Cast: Chanyeol Park, Minju Jun, Luhan.

Genre: romance, school-life.

PG: G

Lenght  :  Bagian

Disclaimer:Semua isi fanfiction ini adalah milik saya dan murni hasil karya saya. Saya benci plagiat!

Note:Silakan membaca ya chingudeul, gamsa J Tolong komen, saran atau kritik juseyo! Karena sangat berarti hehe….Manhi saranghaejuseyo……! Makasiih….

 

“kogael sugin chae haneureul pihae sumji, eoduun maeum sok bameun haneobtjiii…yeyeyee…hhmm..”

            Oa! Menyanyi dengan berdeham memang hobiku. Kau tahu, sekolahku mempunyai sistem jam dinding yang sangat aneh. Lihat saja, dari tadi jarum detik terus berjalan, tapi jarum menit dan jarum jam tidak bergerak sama sekali, heol!

Hoamm….

“Ya, Minju Jun! Kau tuli hah? Minju Junnn!” suara Sanyoung  mengagetkanku, dasar nenek lampir.

“Emm..?” aku berdeham pelan, mengangkat kepala dari meja susah sekali rasanya, ini juga masih jam berapa, jam dua kurang lima belas.

“K..kau—ani,lepaslah earphone—mu, yak!” ucap Sanyoung sambil memberi kode padaku dengan tangannya.

Ah biarlah. Yang jelas, kadar mengantukku sundah sangat parah. Ini sudah diambang batas. Aku ingin tidur saja.

Mmmmmm…..

“Minju Jun! Ah kau sangat memalukan!” ucap Sanyoung sambil mengibas-ibaskan tangannya cepat.

“Ah, jinjja!”tambahnya kesal.

Geundae, hari ini hari apa ya? Sabtu-Minggu-Senin, ne maja (:ya benar)…

Selasa!

Sebentar, SELASA?

Selasa jam terakhir?

Anida, maksudku pelajaran apa? Kimia, bahasa inggris, biologi……

LUHAN SEONSAENGNIM!

Tamatlah riwayatmu! Benar saja, Sanyoung dengan cepat menutup kedua matanya. Dan seketika berhenti menatapku.

“Jun Minjun—ssi, kau tertidur lagi?” tepat, Luhan seonsaengnim.

“Hahahaha…animnida…” ucapku cepat sambil membalikkan posisi badan ke kanan. Tamatlah kau! Dalam hati aku sudah bisa mebayangkan apa yang akan dia katakan padaku.

“Geurae, pelajarilah kerangka karya ilmiahmu di luar selama 6 menit. Lalu presentasikan,” seketika suasana kelas berubah, dan semua orang melihat kearahku.

“NE!” ucapku cepat sambil berdiri dan mengambil tugas karya ilmiahku, aku tidak akan menyangkalnya kali ini.

            Luhan seonsaengnim, guru magang baru yang usianya masih cukup muda, kudengar dia mendapat predikat cumlaude  tapi mengapa dia magang jadi guru disini? Hahaha..tidak, tidak. Aku tidak akan mengungkit masalahnya.

Sebenarnya malas sekali harus presentasi kerangka karya ilmiah, aku tidak bisa menghitung berapa kali aku melakukan hal itu, maksudku saat kelasnya.

            ———————————————————————————————–

KENAPA HARUS SEPERTI INI?

Tugasku! Kertas kerangka berpikirku berserakan, itu adalah  mind mapping—ku yang berharga, ash! “Ya! Sunbaeniim!” aku berteriak padanya yang masih tertawa setelah menabrakku atau apapun itu kejadiannya.

“Jun Minjun—ssi?” sapa sunbae yang tinggi itu padaku dengan wajah tidak bersalah.

Siapa dia? Tahu saja tidak. Hah. Ekspresinya saat ini benar-benar tidak bersalah.

Tak selang beberapa detik,Luhan seonsangnimdatang melihat keadaan yang terjadi.

“Wae geuraeseoyo?”

“A..gwaenchanayo hyung!” jawab sunbae tinggi itu dengan gerakan mengibaskan tangannya.

Aku berpikir sedikit, hyung?

“Geundae Lu…”

Belum sempat kutanyakan hal itu, Luhan seonsangnim menyuruhku masuk.

“Tto boja!(:sampai ketemu lagi!)” dia menyapaku sekali lagi, mana ada orang yang tidak meminta maaf malah menyapa dua kali? Saat ini ada, sunbae yang tinggi itu! Dia orangnya!

            Aku memutuskan untuk melupakan kejadian itu. Dan ini aku, aku memulai presentasi kerangka berpikirku pada karya ilmiah yang akan kubuat, sebenarnya aku mempunyai partner. Kang Jiwon, tapi dia sakit dan sudah tidak masuk beberapa hari.

“…..Ini sebenarnya ide Kang Jiwon, kami ingin membuat ‘kaos dalam’ yang menyerap keringat tetapi tetap aman pada kulit dan tidak membuat gerah, secara garis besar ini berguna saat kita sedang berolahraga dan mengeluarkan banyak keringat,”

Aku mulai menjelaskan secara garis besar kerangka karya ilmiah yang kubuat, walaupun terlihat pintar tetapi sebenarnya aku sangat bodoh, dalam hal ini yang pintar adalah Kang Jiwon, aku hanya membantu melengkapi saja.

 Jadi, jangan pikir aku pintar, tidak, aku sama sekali tidak pintar, ulangan fungsi invers saja mengenaskan.

“Geurae, presentasimu cukup, mungkin untuk pengembangan dan tindak lanjutnya masih perlu dilengkapi lagi,” ucap Luhan seonsaengnim sambil berdiri dari kursi belakang dan melangkah kedepan kelas.

            Aku menundukkan kepala dan berjalan ke arah meja dengan wajah banyak makna tak bisa diungkapkan. Dan inilah waktu yang kutunggu-tunggu.

Jam pulang!

“Geurae, pelajaran hari ini cukup sekian, untuk kelompok lain yang belum menyelesaikan mind mapping karya ilmiah segera diselesaikan,”

“NE!”

            Biasanya setelah memberi salam, Luhan seonsaengnim segera meninggalkan kelas, kenapa hari ini tidak? Semua orang sudah keluar, kelas kotor seperti kandang sapi begini tidak ada yang piket? Sebenarnya ada apa dengan hari ini?

Tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku segera berjalan meninggalkan kelas.

“Jun Minju—ssi, kemarilah!” ucap Luhan seonsaengnim padaku.

“Ne?”

“Apakah kau ada waktu minggu sore besok untuk  membicarakan perkembangan karya ilmiah?”

“Ah..y..y..ye..geurae seonsaengnim, tapi bagaimana dengan Kang Jiwon? ucapku pelan sambil menggendong tas ranselku.

“Kang Jiwon masih belum pulih. Kau saja. Nanti akan saya uraikan secara jelas bagaimana pengembangan kerangkanya.”

“A..ne seonsaengnim, kalau begitu saya pamit pulang dahulu. Oneul—eun gamsahamnida,(:terima kasih untuk hari ini)”

“Ne, hati-hatilah kau dijalan,” ucapnya dengan senyum yang mengambang dipipi.

“Ne,”

            Ini aneh. Otteokkaji?(:bagaimana ini?)

Tanpa memperdulikan pikiranku, aku segera berlari cepat. Lupakan, lupakan hal aneh hari ini!

Karena Jiwon tidak masuk, hari ini aku harus naik bus sendirian, gwaenchana!(:tidak apa-apa!)

            Aku keluar dari gerbang sekolah sambil memakai mantel warna krem dan menuju halte bus di seberang jalan. Setelah beberapa menit menunggu, bus datang. Hari ini bus tidak terlalu ramai, aku capek sekali mungkin aku akan tertidur. Tak selang beberapa lama, aku mulai terhenyak dalam tidur. Rasanya ingin segera pulang dan tentu saja, tidur.

Aku merasa kepalaku sedikit membentur jendela bus. Tapi aku tidak terlalu memperdulikan hal itu. Aku kembali memejamkan mata dan menyilangkan kedua tanganku didepan perut.

TIDAK PEDULI SAMA SEKALI!

Aku lelah dan ingin segera pulang!Aku masih terpejam, dan mulai merasakan ada orang lain duduk disebelahku.

“Tto neoya!(:kamu lagi!)” aku tersentak kaget melihat sunbae tingi itu duduk disebelahku.

“Tto neoya?” dia malah mengucapkan kembali kata-kataku.

“Sunbae, banyak kursi kosong kenapa kau duduk disini?” tanyaku cepat sambil menegakkan badan.

“Kau berbicara banmal(:tidak formal) denganku hah?”

            Aku menghembuskan nafas panjang.

“Ne, mianhamnida sunbaenim!” jawabku dengan sarkatis sambil berpura-pura menundukkan kepala, sedikit.

“Jadi kau pulang sekolah dengan bus?” dia memulai pembicaraan, heh

“Ne!”

            Mollaseoyo!(:gak tahulah!),aku akan bersikap dingin dengannya. Bayangkan, sampai sekarang dia belum meminta maaf padaku, setidaknya mengucapkan ‘maafkan aku, tadi tak sengaaja menabrakmu’ atau apa, Ya Tuhan ternyata ada orang seperti dia di dunia ini.

“Warna mantelmu bagus juga,” dia melanjutkan pembicaraan lagi.

“Ne. Gamsahamnida.”

“Kenapa bahasamu kaku sekali hah? Kau sakit gigi?”

Jujur, ini tidak lucu sama sekali. Apakah dia tidak punya topik pembicaraan yang lebih umum dan wajar hah?

Animnida, gwaenchanseumnida.”

            Dia hanya tersenyum dan memandang kearahku, aku semakin tak tahu harus bersikap bagaimana. AAAAAAAAAAAAA

“Mianhamnida sunbaenim,banyak kursi disana..dan emm… disana juga, kenapa kau malah  duduk disini?” ucapku cepat sambil menunjuk beberapa kursi kosong.

“Wae? Ini kan tempat duduk juga. Kau tak suka?

YA!YA! AKU TIDAK SUKA KAU DISINI! Tapi jawaban yang terlontar dari mulutku adalah…

“Tidak, geunyang, tak tahulah,”

            Ahh! Aku ingin menyuruhnya pindah kursi, tapi aku tak tahu harus berbicara bagaimana. Saat ini dia malah mulai membuka ponsel dan memandang kearahku sesekali. Kenapa dia memandangku seperti itu, apakah dia mau minta maaf soal tugas karya ilmiah tadi?

Tidak, tidak mungkin. Rupa-rupanya dia bukan tipikal sunbae yang seperti itu.

“Sini, pinjam ponsel—mu!” tiba-tiba dia mengambil ponsel—ku dan membukanya. Ya, apa-apaan?!

“Ya, sunbaenim, apa yang kaulakukan?” ucapku cepat padanya sambil meraih ponselku, tapi itu sia-sia saja, dia mulai mengetik sesuatu.

“Ya kau ini, kau tak mau menyimpan nomor sunbae tertampan disekolah hah?”

Aku mengernyitkan dahi sejenak sambil menelan ludah.

“Ya, sunbae! Kembalikan ponselku!” aku mulai kesal padanya.

“Ternyata kau lucu sekali, hahahhaa…” dia mulai tertawa kecil sambil menepuk lututnya.

Aku bersumpah ini tidak lucu sama sekali. Sama sekali tidak!

Dia mengetik nomor dan menamai kontak.

“Kau lihat? Coba bacakan,”ucapnya padaku sambil memperlihatkan layar ponsel.

“Park Chanyeol—“

Sesaat kemudian, dia tertawa dengan leganya.

“Syukurlah kau bisa membaca namaku,” tambahnya.

“Sunbaenim!” aku mulai menahan kekesalanku.

“Ponselku!”

Dia hanya tersenyum simpul dan memasukkan ponselku ke saku celana kanannya.

            Heol!Berpura-puralah saja tidak peduli!

Aku hanya meliriknya bengis lalu mengambil botol air mineral didalam tas dan meminumnya cepat. Percuma saja menyelamatkan ponselku. Aku tidak mau terlibat kontak fisik dengannya untuk mendapatkan ponselku kembali.

Dia masih tetap tersenyum dengan wajahnya itu. Dan aku?

Aku berpura-pura menyibukkan diri dengan merapikan buku yang ada didalam tas. Ya begitulah gambaran situasi saat ini.

“Rumahmu dimana hah?” tiba-tiba dia bertanya dengan bibir yang membentuk senyum sudut.

 Apa urusannya menanyakan alamat rumahku?

“Kurasa itu bukan urusanmu sunbae,”

“Memang, tapi aku ingin tahu.” Sambungnya dengan mata berbinar.

“Oh, alamat rumahku, itu mudah saja. Setelah halte pemberhentian ini, lurus terus ke barat, ada kedai kopi di ujung jalan, nah di sebelah kiri masuk saja, lalu jalan terus, sampai di persimpangan jalan kedua, di ujung pohon besar, masuk saja lalu belok ke kanan dekat toko olahraga, belok kanan lagi , ada turunan beberapa blok dan kau sampai!”

            Dia tidak menunjukkan reaksi apapun. Baguslah, jelas dia tidak paham, alamat itu bukan alamatku sebenarnya.

“Jeongmalyo?”tanyanya sambil menaikkan alis.

“Ne!”

Kupandangi jam tanganku terus menerus. Akhirnya tiba juga di pemberhentian bus, aku segera meraih alat pegangan tangan dan mulai berdiri untuk bersiap turun.

Tetapi, dia melihat ke arahku saat ini! Badanku tepat didepannya. Dia menatapku saat ini, yak!

Kau sadarlah Minjun. Sunbae aneh itu, apa  yang sebenarnya dia inginkan hah? Ah, menambah masalah saja!

“Minjun—ssi,”

Dasar sunbae aneh, kenapa dia memanggil namaku  lagi! Qjmptywygvacgv….kuakui, kali ini, aku tidak bisa tenang. Ash, kenapa tiba-tiba situasinya jadi seperti ini, ah dasar!

Continued…

Selasa, 16 Feb 2016, 0:56-dilanjutkan Senin, 5 Sept 2016 20:57

Bagian 1

Author : marthasellyn

Cast: Chanyeol Park, Minju Jun, Luhan.

Genre: romance, school-life.

PG: G

Lenght  :  Bagian

Disclaimer:Semua isi fanfiction ini adalah milik saya dan murni hasil karya saya. Saya benci plagiat!

Note:Silakan membaca ya chingudeul, gamsa J Tolong komen, saran atau kritik juseyo! Karena sangat berarti hehe….Manhi saranghaejuseyo……! Makasiih….

 

“kogael sugin chae haneureul pihae sumji, eoduun maeum sok bameun haneobtjiii…yeyeyee…hhmm..”

            Oa! Menyanyi dengan berdeham memang hobiku. Kau tahu, sekolahku mempunyai sistem jam dinding yang sangat aneh. Lihat saja, dari tadi jarum detik terus berjalan, tapi jarum menit dan jarum jam tidak bergerak sama sekali, heol!

Hoamm….

“Ya, Minju Jun! Kau tuli hah? Minju Junnn!” suara Sanyoung  mengagetkanku, dasar nenek lampir.

“Emm..?” aku berdeham pelan, mengangkat kepala dari meja susah sekali rasanya, ini juga masih jam berapa, jam dua kurang lima belas.

“K..kau—ani,lepaslah earphone—mu, yak!” ucap Sanyoung sambil memberi kode padaku dengan tangannya.

Ah biarlah. Yang jelas, kadar mengantukku sundah sangat parah. Ini sudah diambang batas. Aku ingin tidur saja.

Mmmmmm…..

“Minju Jun! Ah kau sangat memalukan!” ucap Sanyoung sambil mengibas-ibaskan tangannya cepat.

“Ah, jinjja!”tambahnya kesal.

Geundae, hari ini hari apa ya? Sabtu-Minggu-Senin, ne maja (:ya benar)…

Selasa!

Sebentar, SELASA?

Selasa jam terakhir?

Anida, maksudku pelajaran apa? Kimia, bahasa inggris, biologi……

LUHAN SEONSAENGNIM!

Tamatlah riwayatmu! Benar saja, Sanyoung dengan cepat menutup kedua matanya. Dan seketika berhenti menatapku.

“Jun Minjun—ssi, kau tertidur lagi?” tepat, Luhan seonsaengnim.

“Hahahaha…animnida…” ucapku cepat sambil membalikkan posisi badan ke kanan. Tamatlah kau! Dalam hati aku sudah bisa mebayangkan apa yang akan dia katakan padaku.

“Geurae, pelajarilah kerangka karya ilmiahmu di luar selama 6 menit. Lalu presentasikan,” seketika suasana kelas berubah, dan semua orang melihat kearahku.

“NE!” ucapku cepat sambil berdiri dan mengambil tugas karya ilmiahku, aku tidak akan menyangkalnya kali ini.

            Luhan seonsaengnim, guru magang baru yang usianya masih cukup muda, kudengar dia mendapat predikat cumlaude  tapi mengapa dia magang jadi guru disini? Hahaha..tidak, tidak. Aku tidak akan mengungkit masalahnya.

Sebenarnya malas sekali harus presentasi kerangka karya ilmiah, aku tidak bisa menghitung berapa kali aku melakukan hal itu, maksudku saat kelasnya.

            ———————————————————————————————–

KENAPA HARUS SEPERTI INI?

Tugasku! Kertas kerangka berpikirku berserakan, itu adalah  mind mapping—ku yang berharga, ash! “Ya! Sunbaeniim!” aku berteriak padanya yang masih tertawa setelah menabrakku atau apapun itu kejadiannya.

“Jun Minjun—ssi?” sapa sunbae yang tinggi itu padaku dengan wajah tidak bersalah.

Siapa dia? Tahu saja tidak. Hah. Ekspresinya saat ini benar-benar tidak bersalah.

Tak selang beberapa detik,Luhan seonsangnimdatang melihat keadaan yang terjadi.

“Wae geuraeseoyo?”

“A..gwaenchanayo hyung!” jawab sunbae tinggi itu dengan gerakan mengibaskan tangannya.

Aku berpikir sedikit, hyung?

“Geundae Lu…”

Belum sempat kutanyakan hal itu, Luhan seonsangnim menyuruhku masuk.

“Tto boja!(:sampai ketemu lagi!)” dia menyapaku sekali lagi, mana ada orang yang tidak meminta maaf malah menyapa dua kali? Saat ini ada, sunbae yang tinggi itu! Dia orangnya!

            Aku memutuskan untuk melupakan kejadian itu. Dan ini aku, aku memulai presentasi kerangka berpikirku pada karya ilmiah yang akan kubuat, sebenarnya aku mempunyai partner. Kang Jiwon, tapi dia sakit dan sudah tidak masuk beberapa hari.

“…..Ini sebenarnya ide Kang Jiwon, kami ingin membuat ‘kaos dalam’ yang menyerap keringat tetapi tetap aman pada kulit dan tidak membuat gerah, secara garis besar ini berguna saat kita sedang berolahraga dan mengeluarkan banyak keringat,”

Aku mulai menjelaskan secara garis besar kerangka karya ilmiah yang kubuat, walaupun terlihat pintar tetapi sebenarnya aku sangat bodoh, dalam hal ini yang pintar adalah Kang Jiwon, aku hanya membantu melengkapi saja.

 Jadi, jangan pikir aku pintar, tidak, aku sama sekali tidak pintar, ulangan fungsi invers saja mengenaskan.

“Geurae, presentasimu cukup, mungkin untuk pengembangan dan tindak lanjutnya masih perlu dilengkapi lagi,” ucap Luhan seonsaengnim sambil berdiri dari kursi belakang dan melangkah kedepan kelas.

            Aku menundukkan kepala dan berjalan ke arah meja dengan wajah banyak makna tak bisa diungkapkan. Dan inilah waktu yang kutunggu-tunggu.

Jam pulang!

“Geurae, pelajaran hari ini cukup sekian, untuk kelompok lain yang belum menyelesaikan mind mapping karya ilmiah segera diselesaikan,”

“NE!”

            Biasanya setelah memberi salam, Luhan seonsaengnim segera meninggalkan kelas, kenapa hari ini tidak? Semua orang sudah keluar, kelas kotor seperti kandang sapi begini tidak ada yang piket? Sebenarnya ada apa dengan hari ini?

Tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku segera berjalan meninggalkan kelas.

“Jun Minju—ssi, kemarilah!” ucap Luhan seonsaengnim padaku.

“Ne?”

“Apakah kau ada waktu minggu sore besok untuk  membicarakan perkembangan karya ilmiah?”

“Ah..y..y..ye..geurae seonsaengnim, tapi bagaimana dengan Kang Jiwon? ucapku pelan sambil menggendong tas ranselku.

“Kang Jiwon masih belum pulih. Kau saja. Nanti akan saya uraikan secara jelas bagaimana pengembangan kerangkanya.”

“A..ne seonsaengnim, kalau begitu saya pamit pulang dahulu. Oneul—eun gamsahamnida,(:terima kasih untuk hari ini)”

“Ne, hati-hatilah kau dijalan,” ucapnya dengan senyum yang mengambang dipipi.

“Ne,”

            Ini aneh. Otteokkaji?(:bagaimana ini?)

Tanpa memperdulikan pikiranku, aku segera berlari cepat. Lupakan, lupakan hal aneh hari ini!

Karena Jiwon tidak masuk, hari ini aku harus naik bus sendirian, gwaenchana!(:tidak apa-apa!)

            Aku keluar dari gerbang sekolah sambil memakai mantel warna krem dan menuju halte bus di seberang jalan. Setelah beberapa menit menunggu, bus datang. Hari ini bus tidak terlalu ramai, aku capek sekali mungkin aku akan tertidur. Tak selang beberapa lama, aku mulai terhenyak dalam tidur. Rasanya ingin segera pulang dan tentu saja, tidur.

Aku merasa kepalaku sedikit membentur jendela bus. Tapi aku tidak terlalu memperdulikan hal itu. Aku kembali memejamkan mata dan menyilangkan kedua tanganku didepan perut.

TIDAK PEDULI SAMA SEKALI!

Aku lelah dan ingin segera pulang!Aku masih terpejam, dan mulai merasakan ada orang lain duduk disebelahku.

“Tto neoya!(:kamu lagi!)” aku tersentak kaget melihat sunbae tingi itu duduk disebelahku.

“Tto neoya?” dia malah mengucapkan kembali kata-kataku.

“Sunbae, banyak kursi kosong kenapa kau duduk disini?” tanyaku cepat sambil menegakkan badan.

“Kau berbicara banmal(:tidak formal) denganku hah?”

            Aku menghembuskan nafas panjang.

“Ne, mianhamnida sunbaenim!” jawabku dengan sarkatis sambil berpura-pura menundukkan kepala, sedikit.

“Jadi kau pulang sekolah dengan bus?” dia memulai pembicaraan, heh

“Ne!”

            Mollaseoyo!(:gak tahulah!),aku akan bersikap dingin dengannya. Bayangkan, sampai sekarang dia belum meminta maaf padaku, setidaknya mengucapkan ‘maafkan aku, tadi tak sengaaja menabrakmu’ atau apa, Ya Tuhan ternyata ada orang seperti dia di dunia ini.

“Warna mantelmu bagus juga,” dia melanjutkan pembicaraan lagi.

“Ne. Gamsahamnida.”

“Kenapa bahasamu kaku sekali hah? Kau sakit gigi?”

Jujur, ini tidak lucu sama sekali. Apakah dia tidak punya topik pembicaraan yang lebih umum dan wajar hah?

Animnida, gwaenchanseumnida.”

            Dia hanya tersenyum dan memandang kearahku, aku semakin tak tahu harus bersikap bagaimana. AAAAAAAAAAAAA

“Mianhamnida sunbaenim,banyak kursi disana..dan emm… disana juga, kenapa kau malah  duduk disini?” ucapku cepat sambil menunjuk beberapa kursi kosong.

“Wae? Ini kan tempat duduk juga. Kau tak suka?

YA!YA! AKU TIDAK SUKA KAU DISINI! Tapi jawaban yang terlontar dari mulutku adalah…

“Tidak, geunyang, tak tahulah,”

            Ahh! Aku ingin menyuruhnya pindah kursi, tapi aku tak tahu harus berbicara bagaimana. Saat ini dia malah mulai membuka ponsel dan memandang kearahku sesekali. Kenapa dia memandangku seperti itu, apakah dia mau minta maaf soal tugas karya ilmiah tadi?

Tidak, tidak mungkin. Rupa-rupanya dia bukan tipikal sunbae yang seperti itu.

“Sini, pinjam ponsel—mu!” tiba-tiba dia mengambil ponsel—ku dan membukanya. Ya, apa-apaan?!

“Ya, sunbaenim, apa yang kaulakukan?” ucapku cepat padanya sambil meraih ponselku, tapi itu sia-sia saja, dia mulai mengetik sesuatu.

“Ya kau ini, kau tak mau menyimpan nomor sunbae tertampan disekolah hah?”

Aku mengernyitkan dahi sejenak sambil menelan ludah.

“Ya, sunbae! Kembalikan ponselku!” aku mulai kesal padanya.

“Ternyata kau lucu sekali, hahahhaa…” dia mulai tertawa kecil sambil menepuk lututnya.

Aku bersumpah ini tidak lucu sama sekali. Sama sekali tidak!

Dia mengetik nomor dan menamai kontak.

“Kau lihat? Coba bacakan,”ucapnya padaku sambil memperlihatkan layar ponsel.

“Park Chanyeol—“

Sesaat kemudian, dia tertawa dengan leganya.

“Syukurlah kau bisa membaca namaku,” tambahnya.

“Sunbaenim!” aku mulai menahan kekesalanku.

“Ponselku!”

Dia hanya tersenyum simpul dan memasukkan ponselku ke saku celana kanannya.

            Heol!Berpura-puralah saja tidak peduli!

Aku hanya meliriknya bengis lalu mengambil botol air mineral didalam tas dan meminumnya cepat. Percuma saja menyelamatkan ponselku. Aku tidak mau terlibat kontak fisik dengannya untuk mendapatkan ponselku kembali.

Dia masih tetap tersenyum dengan wajahnya itu. Dan aku?

Aku berpura-pura menyibukkan diri dengan merapikan buku yang ada didalam tas. Ya begitulah gambaran situasi saat ini.

“Rumahmu dimana hah?” tiba-tiba dia bertanya dengan bibir yang membentuk senyum sudut.

 Apa urusannya menanyakan alamat rumahku?

“Kurasa itu bukan urusanmu sunbae,”

“Memang, tapi aku ingin tahu.” Sambungnya dengan mata berbinar.

“Oh, alamat rumahku, itu mudah saja. Setelah halte pemberhentian ini, lurus terus ke barat, ada kedai kopi di ujung jalan, nah di sebelah kiri masuk saja, lalu jalan terus, sampai di persimpangan jalan kedua, di ujung pohon besar, masuk saja lalu belok ke kanan dekat toko olahraga, belok kanan lagi , ada turunan beberapa blok dan kau sampai!”

            Dia tidak menunjukkan reaksi apapun. Baguslah, jelas dia tidak paham, alamat itu bukan alamatku sebenarnya.

“Jeongmalyo?”tanyanya sambil menaikkan alis.

“Ne!”

Kupandangi jam tanganku terus menerus. Akhirnya tiba juga di pemberhentian bus, aku segera meraih alat pegangan tangan dan mulai berdiri untuk bersiap turun.

Tetapi, dia melihat ke arahku saat ini! Badanku tepat didepannya. Dia menatapku saat ini, yak!

Kau sadarlah Minjun. Sunbae aneh itu, apa  yang sebenarnya dia inginkan hah? Ah, menambah masalah saja!

“Minjun—ssi,”

Dasar sunbae aneh, kenapa dia memanggil namaku  lagi! Qjmptywygvacgv….kuakui, kali ini, aku tidak bisa tenang. Ash, kenapa tiba-tiba situasinya jadi seperti ini, ah dasar!

Continued…

Selasa, 16 Feb 2016, 0:56-dilanjutkan Senin, 5 Sept 2016 20:57

 

4 responses to “[FREELANCE] Crush On You #1

  1. sebenarnya aku agak kurang ngerti sih, tp aku penasaran sm kelanjutannya di tunggu next chapter. aku reader baru salam kenal dan ijin baca ya……

  2. Annyeong~ Kim Nami imnida~ aku reader baru thor ^^ ijin baca karya author yg satu ini oke? aku suka sma ff author… walau penasaran hehehe keep writing and hwaiting juseyo~

  3. ff in menarik,bgus kok buat ditunggu,walaupun msih blum phm sm alur ceritanya
    ,semangat ya buat nulusx,dan berikan karya terbaikmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s