[FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 3

z5

Jebal, He’s My Husband—Chapter 3

Author: SwanKim

Cast: Byun Baekhyun, Shin Eunbi (OC)

Genre: Marriage life, Romance

Disclaimer: OC and story is MINE. written by me, made by me, and send by me. ENJOY!

Chapter 1 | Chapter 2

(Jebal, He’s My Husband, Chapter 3)

***

Tampak seorang pemuda tampan dengan setelan jas lengkap berwarna biru tua sedang duduk di sebuah kursi meja makan bersama beberapa orang disekelilingnya, suasana hati pemuda itu terlihat buruk mengingat tadi siang memergoki ibunya sedang berbohong yang mengatakan jika sedang sakit sehingga memintanya untuk pulang kuliah lebih awal, namun nyatanya yang pemuda itu lihat saat ini adalah pemandangan dimana ibunya tertawa lebar mendengar lelucon kuno dari tamu yang mereka undang.

“Bagaimana Luhan?” Wanita paruh baya itu tiba-tiba melemparkan seluruh pusat perhatian menjadi kearah pemuda bernama Luhan, Xi Luhan yang memang sedang dongkol diam sejenak lalu menghembuskan nafasnya sabar.

“Bagaimana apanya, bu?” Tanya Luhan balik pada ibunya, karena memang semenjak tadi Luhan sama sekali tak menghiraukan apapun yang mereka semua bicarakan.

“Pertunanganmu dengan Jui, kapan akan dilaksanakan?” Nyonya Xi tersenyum diakhir pertanyaannya, Luhan lagi-lagi menghembuskan nafasnya lalu melirik kearah seorang gadis anggun yang duduk tepat dihadapannya. Gadis itu tampak tersipu malu karena ibunya yang menyinggung tentang pertunangan mereka.

“Bagaimana menurutmu?” Luhan dengan wajah datarnya justru melemparkan pertanyaan ibunya pada Jui, Jui mendongak kearah Luhan sambil tersenyum manis.

“Lebih cepat lebih baik, bukankah begitu?” Jawab Jui yang langsung di setujui oleh pihak keluarga Jui maupun Luhan dengan anggukan kepala, Luhan yang melihat respon semua orang begitu ingin mempercepat pertunangan mereka pun hanya bisa tersenyum pasrah.

“Baiklah, kalian urus saja.” Tutur Luhan yang langsung membuat semua orang bertepuk tangan bahagia, senyum gadis anggun itupun semakin lebar.

“Terimakasih.” lirih Jui namun masih dapat di tangkap oleh telinga Luhan.

“Oke, karena menurutku poin inti dari pertemuan ini sudah jelas, jadi sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. Aku masih ada urusan di kampus. Ayah ibu, paman bibi, dan Jui. Aku pamit.” Luhan berdiri dari kursinya dan segera merajut langkah pergi dari ruangan itu, meninggalkan kelima orang yang masih dihinggapi perasaan senang karena Luhan memberikan titik terang pada hubungan dua keluarga yang akan menjadi satu.

***

“Aww!” Eunbi memekik kencang saat tak sengaja bibi Han —kepala asisten rumah tangga keluarga Byun— memencet luka di punggung kakinya, bibi Han yang terkejut pun langsung menghentikan kegiatannya membersihkan luka Eunbi.

“Apa aku melukaimu, Nona?” Cemas bibi Han.

Eunbi segera mengibaskan tangannya sambil tersenyum, “Tidak, tidak. Hanya saja bibi Han menekannya terlalu kuat.”

“Ah, maaf Nona.”

“Tidak apa bi.”

“Tapi kalau boleh tau, darimana Nona mendapat luka ini?” Bibi Han melanjutkan dengan telaten menaburkan obat bubuk diatas luka Eunbi, mengambil perban lalu membalutnya. Eunbi mengusap belakang lehernya mendengar pertanyaan bibi Han.

Ehm, aku jatuh dari sepeda.” Jawab Eunbi bohong, karena nyatanya luka itu ia dapat akibat perlakuan buruk Byun Baekhyun.

Bibi Han pun sontak menatap Eunbi dengan kedua mata yang terbelalak. “Astaga Nona, bagaimana bisa Nona jatuh dari sepeda? Apa Nona baik-baik saja?” Panik bibi Han sambil mengecek bagian-bagian tubuh lain Eunbi.

Eunbi tertawa kecil melihat tingkah Bibi Han dan setelahnya Eunbi pun mencoba menenangkan Bibi Han dengan berkata, “Aku baik-baik saja bi, hanya punggung kakiku saja yang terluka.”

Bibi Han bernafas lega, “Syukurlah, karena jika terjadi sesuatu pada Nona. Tuan besar pasti akan sangat marah.”

“Hehe, maaf ya bi. Sudah membuat Bibi Han cemas.” Ujar Eunbi lalu berdiri dari kursinya karena dilihat Bibi Han yang sudah menyelesaikan tugasnya membalut kaki Eunbi.

Bibi Han mengangguk sambil mengusap kedua bahu Eunbi, “Apapun yang terjadi disini, kuharap Nona selalu kuat.”

Eunbi tersenyum mendengar kalimar Bibi Han dan langsung pamit ingin kembali ke kamarnya, Eunbi berjalan dengan terpincang mengingat kakinya yang masih terasa perih. Bibi Han sebelumnya sudah menawarkan ingin mengantar Eunbi ke kamarnya namun Eunbi menolak dengan dalih jika ia bisa berjalan sendiri.

Namun ketika kaki Eunbi berjalan melewati ruang kerja Tuan Byun, tak sengaja sebuah pembicaraan didalam sana membuat pergerakan Eunbi terhenti tiba-tiba.

“Aku ingin ayah memindahkan gadis pulau itu dari kampusku.”

 

Eunbi mematung.

Itu suara Baekhyun, Byun Baekhyun yang beberapa hari ini telah membuat hidupnya sulit.

“Bagaimana bisa gadis sepertinya satu kampus denganku?”

Dapat Eunbi rasakan jika suara Baekhyun meninggi seiring dengan emosinya yang juga memuncak. Eunbi menggigit bibirnya, ada apa lagi ini?

“Baekhyun, asal kau tau bukan ayah yang memintanya kuliah disana. Tapi Eunbi sendiri yang sudah berhasil masuk ke kampus itu. Dia lolos dari ujian tes negara.”

 

“Apa? Mustahil!”

 

“Ayah tidak berbohong, jadi perhatikan sikapmu. Jangan meminta-minta hal konyol seperti ini.”

 

Eunbi menghela nafasnya dan memutuskan untuk tidak lagi mencuri dengar pembicaraan mereka, luka kakinya bahkan masih belum kering, bagaimana bisa Baekhyun menambahkan luka lagi di hatinya? apa hanya karena ia adalah seorang gadis miskin dari sebuah pulau jadi Baekhyun merasa jika Eunbi tak pantas mendapat pendidikan yang baik juga?

Eunbi berusaha melangkah menuju ranjangnya lalu segera merebahkan diri, ia menatap kosong kearah langit-langit kamarnya sambil memikirkan banyak hal.

Eunbi memikirkan tentang ayahnya, tentang bagaimana keadaan ayahnya disana bersama Taehyung.

Eunbi memikirkan tentang permintaan Tuan Byun, tentang bagaimana caranya ia bisa merubah Baekhyun jika saat mereka berpapasan saja yang Eunbi lihat dimata Baekhyun hanya sebuah kilatan kebencian.

Lalu, Eunbi juga memikirkan tentang mimpinya, tentang bagaimana ia bisa bertahan di kampus itu jika ada seseorang yang sangat meninginkannya untuk pergi.

Tak terasa airmata jatuh mengalir di pipi Eunbi, gadis itu menangis lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Entah mengapa setiap kali Eunbi memikirkan tentang hidupnya, ia selalu merasa sesak. Semuanya sudah berbeda, tak ada lagi ayahnya yang akan selalu menjadi tameng baja saat ada seseorang yang berniat ingin menyakitinya.

Ia sendirian sekarang,

Sendiri di kota asing yang tak ada satupun orang ia kenal dengan baik.

Sebelumnya, Eunbi begitu mempercayai perkataan ayahnya ketika mengatakan jika ia tak akan pernah sendirian karena ada calon suaminya yang baik yang akan selalu menjaga serta menemaninya.

Haruskah Eunbi menertawai perkataan ayahnya sekarang?

Bahkan detik ini, Eunbi berharap jika ia hanya sedang bermimpi, sehingga ketika ia bangun membuka mata akan ada ayahnya yang menyambut dengan sebuah pelukan hangat.

“Sudahlah, tak ada yang perlu disesali.” Lirih Eunbi sambil menghapus airmatanya. Eunbi memiringkan tubuhnya menghadap samping, memandang kearah pintu sambil mencoba untuk tidak memikirkan masalah apapun.

Namun tak lama, tiba-tiba saja daun pintu kamar Eunbi terbuka. Memunculkan sosok pemuda yang beberapa hari ini membuat harinya kacau.

“Baekhyun-ssi.” Eunbi buru-buru bangun dari tidur nya sambil menahan sakit di punggung kakinya.

Baekhyun membuang nafas kasar sambil menatap Eunbi datar.

“Ikut aku.” ucap Baekhyun singkat yang sontak membuat Eunbi mengerutkan keningnya, tak lama ketika Baekhyun mengatakan itu, pemuda itu pun mengambil langkah pergi yang mau tak mau membuat Eunbi berdiri lalu berjalan mengikutinya dengan langkah tertatih.

“Cepatlah.” geram Baekhyun melihat Eunbi yang berjalan jauh dibelakangnya.

***

“Ki—kita mau kemana?” Eunbi bertanya lirih ketika Baekhyun menjalankan mobilnya, menyatukan dengan mobil-mobil lain di jalan raya.

Baekhyun hanya diam, menatap lurus kearah jalanan tanpa terganggu dengan pertanyaan Eunbi. Eunbi yang tak ingin mengambil resiko membuat Baekhyun marah pun lantas menelan kembali pertanyaannya. Nanti juga aku tau.

 

30 menit berlalu tanpa ada pembicaraan apapun antara Eunbi dan Baekhyun, Baekhyun sepertinya tiba ditempat tujuannya saat Eunbi merasa kecepatan mobil Baekhyun berkurang hingga berhenti tepat didepan kampus yang sangat Eunbi kenal.

“Bukankah ini kampus kita?” Eunbi kembali bertanya-tanya sambil keluar dari mobil Baekhyun, berjalan mengikuti Baekhyun dari belakang.

Hari memang sudah menjelang sore, namun masih terlihat beberapa mahasiswa berlalu lalang di area kampus. Para gadis pun tak melewatkan kesempatan dengan menahan mata mereka pada Baekhyun yang berjalan dengan gaya keren.

Eunbi awalnya terkejut, namun ia teringat kembali perkataan Sunmi yang pernah mengatakan jika Baekhyun termasuk mahasiswa Chaebol terpopuler.

Tidakkah Eunbi semakin mirip butiran debu ketika berada di dekat Baekhyun? Menyedihkan.

“Masuklah.”

Eunbi termangu sejenak mendengar perintah dari Baekhyun, alis Eunbi bertaut dengan mata yang menatap lekat kearah pintu berlabel Administration.

 

“Kalau boleh tau, kenapa aku harus masuk kesana?” Tanya Eunbi ragu-ragu, gadis itu sama sekali tak paham dengan alasan Baekhyun yang memintanya masuk kedalam ruangan administrasi.

Baekhyun memandang Eunbi jengah, memasukkan satu tangan kekantongnya lalu mulai berujar dengan suara datar.

“Katakan pada staff jika kau keluar dari kampus ini.”

Eunbi seketika mendongak, memberanikan diri melihat mata Baekhyun dengan ekspresi wajah yang terkejut bukan main. Dia gila?

 

“Apa?”

“Cepat masuklah, aku sudah muak selalu bertemu denganmu dirumah. Dan sekarang apa? aku harus bertemu denganmu di kampus juga?” Baekhyun terlihat marah ketika melontarkan kalimat itu, membuat Eunbi mengepalkan tangannya erat.

“Bagaimana jika aku tidak mau?” Entah keberanian darimana kata-kata itu keluar dari mulut Eunbi.

“Apa katamu?” Wajah Baekhyun pun merah padam.

“Aku tidak mau! Kau boleh menindasku atau mengolok bahkan memukulku sesuka hatimu. Tapi kau tidak boleh merebut mimpiku, kau tidak boleh.” Dengan suara dan bibir yang bergetar, Eunbi dengan lantang mengatakan hal itu pada Baekhyun.

“—dapat melanjutkan pendidikan di kampus ini adalah impianku, jadi kumohon… jangan merebutnya.” Lanjut Eunbi, airmata pun tiba-tiba menyeruak keluar dari matanya.

Baekhyun hanya diam dengan rahang yang sudah mengatup keras, ia benci melihat gadis menangis.

“Jangan menangis.” Geram Baekhyun yang tak diindahkan oleh Eunbi karena gadis itu masih saja sesenggukkan.

“KUBILANG JANGAN MENANGIS! BODOH!” Kali ini Baekhyun berteriak, menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat perhatian beberapa pasang mata.

Eunbi tentu kaget, ia pun buru-buru menghapus airmatanya karena takut jika Baekhyun akan kembali marah.

Aish, menyusahkan.” Karena dipikir rencananya membuat Eunbi mengundurkan diri dari kampus gagal, Baekhyun pun memutuskan mengambil langkah pergi dari hadapan Eunbi dengan tak lupa sengaja menubrukkan bahunya pada bahu Eunbi sehingga gadis itu pun terdorong kebelakang, Eunbi yang merasa jika kakinya masih belum pulih mengorbankan tubuhnya terhuyung jatuh sebelum seseorang berhasil mendekap tubuhnya.

Menyelamatkan Eunbi dari kerasnya ubin kampus.

“Kau baik-baik saja?” Suara seorang pemuda menyapu telinga Eunbi.

Eunbi pun sesegera mungkin menyeimbangkan tubuhnya dan berhasil berdiri.

“Aku baik-baik saja, Oh—kau?” Mata sayu Eunbi membulat lebar saat tau jika pemuda yang menyelamatkannya adalah pemuda yang sama yang telah membantunya beberapa saat yang lalu.

“Xi Luhan-ssi?”

Baekhyun yang tadinya sudah berjalan beberapa langkah jauh dari Eunbi menghentikan langkahnya cepat ketika sebuah nama yang memang sedang ia cari tersebutkan.

Baekhyun memutar tubuhnya hingga menghadap pada Eunbi dan pemuda yang Eunbi panggil dengan nama—

Xi Luhan? dia Xi Luhan? Calon suami Jui?

 

Berbagai pertanyaan pun muncul dari kepala Baekhyun,namun hanya satu pertanyaan yang sangat membuat Baekhyun penasaran detik itu juga adalah, “Mereka saling mengenal?”

Tanyanya pada angin ketika melihat Luhan yang membawa Eunbi dengan tangan Eunbi yang terkalung di pundak pemuda itu.

***

Eunbi tak menyangka pemuda penyelamatnya menjadi seperhatian ini, mereka bahkan tak terlalu mengenal satu sama lain namun Luhan dengan sigap membantu Eunbi ke ruang kesehatan ketika Luhan memperhatikan kaki Eunbi yang mengeluarkan banyak darah.

Eunbi menggigit bibirnya canggung ketika petugas kesehatan sudah selesai menangani lukanya hingga saat ini hanya tinggal mereka berdua didalam ruangan itu.

“Luhan-ssi, ehm—terimakasih.” Ujar Eunbi sambil mengusap kikuk bagian belakang lehernya.

Luhan menoleh pada Eunbi dengan senyum kecilnya.

“Dua kali kita bertemu, dan dua kali juga aku selalu melihatmu dalam keadaan yang tidak menyenangkan.” Canda Luhan yang membuat Eunbi tertawa hambar.

“Tapi kalau boleh tau, siapa namamu?”

“Ah iya—aku Shin Eunbi.” Eunbi mengulurkan tangannya pada Luhan, Luhan pun segera meraih tangan Eunbi dengan senang hati.

“Nama yang indah.” Puji Luhan tanpa memperhitungkan jika kalimat itu berhasil membuat pipi Eunbi merona merah.

“Kau dari pulau Yeosu kan?” Tanya Luhan tiba-tiba, Eunbi sedikit terkejut jika Luhan tau darimana ia berasal. Eunbi mengangguk.

“Bagaimana bisa kau tau?”

“Logatmu.” Jawab Luhan diakhiri dengan gelak tawa dari Eunbi, mereka berdua pun melanjutkan perbincangan tanpa peduli jika langit jingga sudah berubah menjadi hitam diluar sana.

Bahkan Luhan juga mengabaikan ratusan panggilan masuk diponselnya yang tak lain dari calon istrinya, Jui. Mereka berdua juga tak menyadari jika semenjak tadi ada sepasang mata yang menatap tajam kearah mereka, mata penasaran yang menuntut sebuah penjelasan.

—To Be Continued

101 responses to “[FREELANCE] Jebal, He’s My Husband—Chapter 3

  1. Wah wah wah ada yg jeles nih #colekbaekhyun 😂
    Kalo diliat2 luhan sepertinya ada hati sama eunbi, wkwkwk kasian jui😂😛
    Next nya ditungguin banget loh ya

  2. Jangan bilang nanti eun bi di bully sama jui juga, kasian banget dia apalagi sikapnya baek yang euhhh kasar dan kejam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s