Honey Cacti [Chapter 1]

honey-cacti-poster-huniel-2

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun

Genre: Romance, Comedy

Prev: Prolog

———————————————–

Chapter 1—Bastards of the Day

 

“Aku tidak tahu Pyeongchang-dong, dan GPS mobilku rusak.”

***

Satu hari yang berat untuk Choi Seo Ah.

Seo Ah mengendarai mobilnya dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain memijit pelipisnya. Seolah tidak cukup menegur Seo Ah dengan mulut pedasnya, manajer yang-sialnya-seumuran-sekaligus-teman-SMA-nya juga memberi Seo Ah kerja lembur hari ini. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, bahkan jalanan pun sudah mulai lenggang. Suara Jason Mraz dari CD Player mobil pun tidak mampu menghilangkan penat di tubuh sekaligus raganya. Ia benar-benar membutuhkan tidur sekarang, dan berharap semua itu hilang saat ia membuka mata di pagi hari.

Saat mobilnya berhenti di perempatan karena lampu lalu-lintas berwarna merah, Seo Ah menyenderkan kepala ke kursi. Tiba-tiba ia teringat dengan panggilan yang ia lakukan ketika seluruh rekan kerjanya meninggalkan ruangan divisinya. Ia tidak menyangka kalau pacarnya yang tinggal di Amerika itu membuat harinya makin buruk. Mereka bertengkar hebat lewat telepon, sampai akhirnya pria itu memutuskan panggilannya sepihak. Ini memang bukan pertengkaran hebat mereka, tapi hanya saja pilihan waktunya yang tidak tepat. Seo Ah ingin sekali memakan manusia sekarang.

Seo Ah kembali menjalankan mobilnya ketika ponselnya berdering. Ia melirik sekilas ponselnya yang menampilkan nama ‘Bo Mi’ di sana, lalu memasang earphone di telinga kanannya. Ia berharap Bo Mi tidak mengatakan apapun yang membuatnya tambah ingin menabrakkan mobil ke tiang lampu jalan.

“Halo?”

“Seo Ah-ya, Ji Eun….”

Tanpa sadar, Seo Ah mendesah keras mendengar nama itu. Ya, ia lupa masalah satu itu. Sudah lebih dari seminggu Lee Ji Eun hidup seperti orang idiot. Seo Ah bisa saja menamparnya bolak-balik, tapi ia masih punya otak dan hati untuk tidak memperburuk keadaan.

“Kenapa lagi dia?”

Seo Ah mendengar desahan Bo Mi di ujung sana. “Dia tidak sadarkan diri setelah meneguk sebotol wine. Aku tidak tahu sampai kapan ini bertahan.”

Orangtua Ji Eun tinggal di Jepang, dan sampai detik ini pun sahabatnya itu belum menceritakan masalahnya kepada orangtuanya. Padahal ini masalah serius, yang melibatkan dua keluarga sekaligus. Tapi sepertinya cinta sudah membutakan otak wanita itu. Ia tidak mau orangtuanya menganggap pria-yang-namanya-tidak-mau-Seo-Ah-sebut sebagai pria tidak bajingan yang tidak bertanggung jawab karena menyakiti putri satu-satunya. Dan hasilnya, Seo Ah dan Bo Mi-lah yang harus kerepotan dengan sakit hati seorang Lee Ji Eun.

Selama sepuluh hari, Ji Eun menginap di apartemen Bo Mi. Sebenarnya Bo Mi dan Seo Ah yang memaksa. Melihat Ji Eun yang semakin memburuk , mereka tidak ingin mengambil risiko. Lihat saja, sudah seketat apapun perhatian Bo Mi, Ji Eun masih punya kesempatan untuk merusak dirinya. Apa dengan mengiris pergelangan tangannya waktu itu tidak cukup?!

“Aku benar-benar tidak punya ide.” Seo Ah membelokkan mobilnya ke kawasan Gangnam yang masih sangat ramai. Lampu neon warna-warni terpantul di kaca mobilnya. “Harusnya kau singkirkan semua alkohol di rumahmu!”

“Dia membelinya sendiri, sialan!” sahut Bo Mi, tidak terima kalau ia disalahkan. “Lagipula memangnya rumahku itu sekolah TK?! Aku harus menyingkirkan benda tajam dan seluruh alkohol, yang benar saja!”

“Kalau begitu biarkan saja temanmu itu mati!”

“Dia juga temanmu, Gijibae!”

“AH! Sudahlah!”

Seo Ah melempar earphone-nya ke kursi sebelahnya. Hampir saja ia menabrak trotoar ketika berbelok memasuki parkiran bar besar. Niat untuk cepat tidur hilang sudah. Ia ingin mabuk! Ia ingin meneguk berliter-liter alkohol sampai—kalau perlu—mati sekalian.

Biasanya Seo Ah hanya minum soju di kedai pinggir jalan saat sedang penat. Tapi kali ini, ia rela merogoh dompetnya lebih dalam dengan memasuki bar mewah di Gangnam. Ia membutuhkan lebih dari sekadar soju. Selain itu, musik keras yang menghentak rasanya cocok untuk mengenyahkan sakit kepalanya ini.

Seo Ah langsung menduduki meja bar ketika masuk. Ia tidak sempat memperhatikan interior bar ini, ataupun orang-orang yang menari seperti orang gila di sana. Lampu-lampu laser yang menyinari wajah Seo Ah tidak mengusik wanita itu, ia pun memesan satu botol Whisky kepada bartender. Teriakan, suara bass menghentak gendang telinga, dentingan gelas dan bau parfum yang bercampur alkohol memenuhi udara di sekeliling Seo Ah.

Seo Ah menuang Whisky ke gelas kristalnya yang sudah diisi batu es, lalu meneguknya. Tenggorokannya terasa tercekat sekaligus terbakar, tapi ia tetap tidak berhenti. Seo Ah meletakkan gelasnya dengan kasar ke atas meja, lalu mengisinya lagi.

“Kelihatannya kau frustasi sekali.”

“Pergilah.” Tanpa menoleh, Seo Ah menjawab sindiran pria yang duduk di sebelahnya. “Aku bisa saja membunuh orang malam ini.”

Pria itu tertawa, lalu meneguk minumannya. Ia juga tidak sedang menggoda wanita itu, hanya saja kelihatannya janggal melihat seorang wanita yang masih memakai pakaian kantor duduk di bar mewah sendirian. Belum lagi ia memesan satu botol Whisky. Mengabaikan Seo Ah, pria itu pun berbalik dan pergi ke lantai dansa.

Seo Ah mendengus. Kepalanya mulai terasa ringan akibat efek alkohol. Mungkin setelah ini dirinya yang harus mendapatkan perawatan khusus, bukan hanya Ji Eun. Menyalahkan orang bukanlah sifat Seo Ah, tapi malam ini ia benar-benar ingin mengutuk Kim Jong In dan Kim Seol Hyun yang membuat hidupnya bagai di neraka.

Manager Kim—atau Kim Seol Hyun—adalah atasannya yang tidak pernah lelah mencari kesalahan Seo Ah. Seo Ah sendiri tidak mengerti kenapa, padahal hidup Seol Hyun jauh lebih beruntung darinya. Ia dilahirkan di keluarga kaya raya yang bisa langsung memberinya jabatan setelah lulus kuliah, wajah yang cantik, tubuh bagai model, dan disukai pria manapun yang memiliki mata normal. Dibandingkan dengan Choi Seo Ah, Seol Hyun jauh lebih segalanya. Tapi anehnya, wanita itu tidak pernah membiarkan Seo Ah hidup tenang, barang tiga puluh menit.

Seperti tadi. Belum puas dengan mengatakan kalimat sinis karena Seo Ah tidak mendapat promosi—padahal rekan kerjanya yang lain mendapatkannya, Manager Kim juga memberikan setumpuk laporan yang harus diperiksanya malam ini. Gila! Tidak sekalian saja mencekoki Seo Ah dengan tinta printer.

Dan Kim Jong In memperburuk semua itu. Awalnya Seo Ah berpikir, mendengar suara Jong In akan menambah sedikit semangatnya, apalagi kalau pria itu sampai memainkan piano untuknya. Ia tahu, ia sudah melakukan panggilan di jam yang salah—kalau di sini sudah jam 5 sore, maka di sana masih jam 5 pagi—tapi ia tidak menyangka kalau kesalahannya malah membuat ia ingin menghilang saja dari bumi. Suara wanitalah yang menjawab panggilan Seo Ah, sebelum terdengar gumaman di belakang lalu berganti dengan suara serak Jong In yang panik. Heol!

Dan mereka bertengkar. Tapi entah karena Seo Ah yang kurang garang atau Jong In yang terlalu pintar mengelak, pria itulah yang menang, sampai-sampai memutuskan panggilannya sepihak.

Whisky Seo Ah tinggal sisa seperempat. Kesadarannya pun mulai menipis. Dengan kepala yang seolah berputar 360 derajat, Seo Ah menyeret langkahnya menuju toilet. Setidaknya ia harus mencuci muka agar mendapat sedikit kesadarannya untuk menelepon taksi atau Jeong Min.

Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Seo Ah berjalan dengan meraba dinding lorong. Kepalanya sudah terasa ringan, dan itu membuatnya sedikit melupakan masalah yang datang bertubi-tubi hari ini. Namun, baru Seo Ah ingin mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang untuk menjemputnya (well, dia masih waras untuk tidak mengendarai mobil dalam keadaan mabuk begini), ponselnya di saku blazer sudah bergetar duluan.

Seo Ah mendecih setelah melihat nama penelepon, tapi toh tetap menjawab juga.

“Halo?”

“Seo Ah-ya… maafkan aku.”

Seo Ah bersender di dinding. Matanya terpejam sambil menghela nafas. “Apa?”

“Soal tadi pagi. Maaf sudah membentakmu,” jawab pria di seberang sana. “K-Kau tahu… aku sangat lelah, jadi… tanpa sadar membentakmu.”

“Lalu siapa wanita itu?”

“Dia temanku.”

Tanpa sadar, Seo Ah mendengus mendengar pembelaan seorang Kim Jong In. Ayolah… mana ada wanita dan pria berduaan di pagi buta—waktu New York—dan menyebut kalau itu hanya ‘teman’?! Hei, Seo Ah sudah cukup tua untuk paham masalah seperti ini.

“Teman?” tanya Seo Ah dengan nada sinis.

“Baiklah… kami memang cukup dekat.” Kata Jong In. “Dia rekan modelku, dan semalam hujan deras jadi aku terpaksa membawanya ke apartemenku untuk berteduh.”

Dan kemudian kalian tidur bersama. Lucu sekali! Sambung Seo Ah dalam hati. Tapi ia tidak mau mengatakan itu, sudah cukup bertengkar dengan Kim Jong In hari ini. Ia sudah sangat lelah dan ingin cepat-cepat menelepon Jeong Min.

“Baiklah, aku mengerti.”

“Sekali lagi, maafkan aku.”

“Iya. Bawel sekali!”

“Kau tidak terdengar sudah memaafkanku.”

Seo Ah menghela nafas. “Aku memaafkanmu, Jong In Oppa.”

Terdengar kekehan di ujung sana, tapi Seo Ah tidak tertarik. Apapun tentang pria ini benar-benar membuatnya muak hari ini. “Apa yang sedang kaulakukan? Di sana sudah malam, kan? Sudah makan malam?”

“Aku sedang di bar.”

“APA?!” Jong In memekik, sampai-sampai Seo Ah menjauhkan telinganya dari ponsel. “Dengan siapa?! K-Kau mabuk? Katakan, apa kau dengan pria lain?!”

“Kim Jong In.”

“Choi Seo Ah! Kalau kau sampai ketahuan selingkuh—“

“Kau akan membunuhku! Iya, lakukan saja! Dasar brengsek!” Dan Seo Ah pun memutuskan panggilannya. Tidak lupa ia mencabut baterai ponselnya dan melemparnya ke dalam tas. Sial! Kepalanya kembali berdenyut. Kenapa orang di sekitarnya selalu membuatnya meledak, sih?!

Tidak ada pilihan lain, Seo Ah akan pulang dengan menggunakan taksi. Masalahnya, ia tidak suka menunggu, apalagi di pinggir jalan dengan kesadaran tinggal setengah dan bau alkohol bercampur keringat dari tubuhnya—ugh! Sangat tidak cantik! Tapi untuk kali ini, ia terpaksa merendahkan harga dirinya di muka umum.

Berjalan dengan langkah terseok dan limbung, Seo Ah berhasil keluar dari tempat bising itu. Kebetulan sekali ia melihat sebuah taksi berhenti tidak jauh dari pintu masuk bar. Ia pun mempercepat langkahnya, tidak mau kesempatan emasnya diambil orang. Seo Ah membuka pintu belakang taksi itu, dan seketika tubuhnya ambruk—ia terbaring di kursi penumpang taksi. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Seo Ah menyebutkan alamat rumahnya pada supir taksi itu.

Ahjussi, tolong antar aku ke Pyeongchang-dong.”

Oh Se Hun menjauhkan bibirnya dari bibir wanita yang sedang ia cumbu ketika mendengar suara lain dari kursi belakang. Ia menaikan sebelah alisnya, mendapati seorang wanita terkapar di jok belakang. Wajah wanita itu tertutup oleh rambutnya yang ikal, sehingga Se Hun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun bisa dipastikan wanita itu tidak sadarkan diri karena mabuk, bau alkohol terkuar dari tubuhnya.

“Siapa wanita ini?!”

Berbeda dengan wanita—yang Se Hun lupa namanya—yang duduk di sebelah Se Hun, pria itu malah menyeringai lalu terkekeh pelan melihat pemandangan aneh ini. Ia terus memperhatikan sosok yang sudah mendengkur halus itu, tanpa ada niatan mengganggunya.

“Hei, bangunlah. Ini bukan taksi, Nona.” Wanita di sebelah Se Hun mencoba untuk menyentuh wanita di kursi belakang, tapi Se Hun menghalangi tangannya.

“Biarkan saja.”

“Memangnya Oppa mengenalnya?!”

“Tidak.”

“Kalau begitu kenapa tidak usir saja!”

“Kau pergilah.”

“APA?!” suara wanita itu naik satu oktaf. Tidak hanya itu, ia juga membulatkan matanya.

Se Hun menghela nafas, lalu menatap wanita yang duduk di sebelahnya. Ia kira, ucapannya cukup jelas tadi. “Turun dari mobilku.”

“T-Tapi kita bahkan baru memulainya….”

Se Hun tertawa. “Apanya yang dimulai? Aku bahkan tidak berniat melakukan sejauh itu. Jadi, kau boleh pergi.”

Oppa!”

Mata Se Hun memicing. “Pergilah selagi aku memintanya dengan cara yang sopan.”

Sebenarnya, dilihat dari sisi manapun, ucapan Se Hun tidak ada sopannya. Mungkin kalimat yang tepat ‘sebelum Se Hun membuat harga dirimu hancur’. Bagaimanapun, Se Hun ahli dalam hal itu. Ya… walau belakangan ini ia merasa kemampuannya menurun gara-gara satu wanita. Ah! Benar. Ia berubah karena wanita itu, tapi juga tambah brengsek karena wanita itu.

Se Hun menggelengkan kepalanya—ia tidak boleh mengingatnya kembali. Wanita yang tadi bercumbu dengannya sudah keluar dari mobil, dengan perasaan kesal setengah mati tentunya. Bahkan wanita itu tidak segan-segan menendang pintu mobil Se Hun dan memakinya. Well, Se Hun tidak peduli. Lagipula wanita itu yang datang padanya pertama kali, Se Hun hanya menikmati. Dan tiba-tiba hasratnya itu hilang ketika melihat wanita aneh ini. Oke, tidak terlalu buruk.

Se Hun mengulurkan tangan untuk menyingkirkan sebagian rambut yang menutupi wajah wanita itu. Pipi yang kemerahan pun terlihat. Se Hun sedikit merasa kecewa karena wajah wanita ini tidak seperti yang diharapkannya. Maksudnya… tidak terlalu buruk memang, tapi Se Hun juga tidak bisa menyebutnya cantik luar biasa. Dia… manis—kalau Se Hun boleh menilai. Dan seperti ada sisi lain yang tidak bisa Se Hun ungkapkan lewat kata-kata, namun cukup membuatnya tertarik.

“Jeong Min-a, tolong Kimchi-nya.”

Se Hun terkekeh mendengar igauan wanita itu. Wajah dan suara familiar ini rasanya pernah ia lihat di suatu tempat. Ah, benar! Di dalam bar tadi! Pantas saja ia merasa tertarik. Pakaian yang digunakan wanita ini dan nada frustasi yang dilemparkannya—padahal Se Hun adalah orang asing—membekas di ingatan Se Hun. Biarpun sering bermain dengan wanita, Se Hun memiliki kapasitas otak yang besar hanya untuk sekadar mengingat wajah orang yang ditemuinya.

Berbalik badan, Se Hun pun menyalakan mesin mobilnya. Pyeongchang-dong? Se Hun tahu daerah itu, tapi entah kenapa ia tidak ingin mengantarkannya ke sana. Melirik dari spion tengah, Se Hun pun bergumam pada wanita itu, meski sebenarnya hanya ia sendiri yang dapat mendengarnya.

“Aku tidak tahu Pyeongchang-dong, dan GPS mobilku rusak. Bagaimana kalau Cheondam-dong?”

***

                Merasakan sesuatu menusuk matanya dengan tajam, Seo Ah pun mengeryit. Perlahan, ia kumpulkan nyawa yang beterbangan entah kemana. Rasa sakit langsung menyerang kepalanya, dan terus menjalar sampai leher dan punggungnya. Seberkas cahaya terang masuk ke retinanya, tapi kelopak matanya yang berat hanya bisa terbuka sedikit. Pikiran konyol langsung melintas di otak wanita itu; apa dia sudah mati?

               Ah, tidak mungkin! Meski samar, Seo Ah ingat kalau dia masuk ke dalam taksi dan sampai di rumah dengan selamat. Setelah itu Jeong Min pun datang dan membawanya masuk ke dalam. Ia pasti begitu—soalnya Seo Ah bisa merasakan dirinya terbaring di kasur empuk kamarnya. Aroma maskulin pun berpadu dengan angin semilir dari kaca jendela yang terbuka, menerbangkan udara musim gugur—

                Tunggu…. ini bukan bau pengharum ruangannya.

                Kelopak mata Seo Ah terbuka dengan cepat. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang sama sekali tidak dikenalnya. Ia pun menoleh ke samping, dan mendapati sebuah jendela besar yang tertutup gordyn tipis. Cahaya matahari sudah terlihat tinggi di luar, membuat bola mata Seo Ah membulat dan otomatis bangun dari tidurnya.

                Selimut yang menutupi tubuhnya merosot, hingga membuat tanktop hitamnya terlihat. Seo Ah memekik sambil kembali menarik selimut kembali menutupi tubuhnya lagi. Tidak… jangan bilang kalau dia sudah melakukan sesuatu….

                “Oh, sudah bangun?”

                Bunyi pintu yang terbuka lalu diikuti dengan suara seorang pria, membuat Seo Ah memutar kepalanya dengan cepat. Harapan untuk menganggap kalau ia bisa saja pergi sendiri ke hotel karena saking tidak sadarnya, pupus sudah. Seo Ah memang suka alkohol, tapi itu tidak menjamin ketahanannya pada alkohol tinggi. Kalau sudah begini, Seo Ah sama sekali kehabisan kata.

                “Ini… di mana?”

                Pria tinggi yang memakai kemeja biru langit dan celana hitam itu mendekat. Ia berdiri di samping tempat tidur Seo Ah, membuat wanita itu semakin merapatkan selimutnya.

                “Rumahku.”

                “B-Bagaimana bisa aku di rumah Anda?”

                Pri itu meringis sambil melipat tangannya di dada. “Kau tidak mengingatnya?” melihat ekspresi bodoh Seo Ah, pria itu menambahkan. “Sayang sekali….”

                “Apa… terjadi sesuatu?” tanya Seo Ah hati-hati. Jujur, ia sangat ingin membenturkan kepalanya ke tembok karena tidak mengingat apapun selain masuk ke dalam taksi dan menyebutkan alamat rumahnya. Sepertinya ia harus menghindari alkohol untuk beberapa hari—atau mungkin beberapa puluh tahun.

                “Kau juga tidak mengingatnya?!” mata pria itu membulat. “Kupikir kau akan ingat bagian itu karena aku melakukannya dengan sekuat tenaga.”

                Melihat wanita di kasurnya semakin merapatkan selimut dengan rahang terbuka, Se Hun semakin gencar menggoda. Entahlah, rasanya menyenangkan melihat ekspresinya yang bermacam-macam. Harusnya ia berpikir saja, tidak ada yang kurang dari pakaiannya—kecuali blazer dan sepatu hak tinggi yang Se Hun lepas. Apa mungkin Se Hun bisa melakukan itu tanpa membuka apapun? Lagipula ia bukan tipe yang suka menyerang wanita mabuk—tidak seru. Ia suka wanita agresif.

                Se Hun pun duduk di pinggir kasur, tapi wanita itu tidak meresponnya karena masih terlalu kaget. “Apa perlu aku ingatkan—“

                “Kau memakai pengaman, kan?”

                “Apa?”

                “Pengaman! M-Maksudku… saat melakukannya semalam, kau menggunakan kondom, kan?”

                Itu adalah pertanyaan teraneh yang pernah Se Hun dengar setelah ‘bermain’ dengan wanita. Sekalipun dia kaget, harusnya menanyakan hal lain, atau paling tidak menangis sesenggukan. Mungkin Seo Ah adalah spesies baru wanita yang diciptakan seorang profesor gila.

                “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

                Sekarang giliran Seo Ah yang mengerutkan dahinya. “Kenapa?! Apa kau tidak berpikir, bagaimana kalau aku hamil gara-gara ini?! Maksudku… anak hasil one night stand? Ayolah! Tidak ada yang lebih buruk daripada itu!”

                Seo Ah tidak terlalu mempermasalahkan kalau dia benar-benar sudah tidur dengan pria ini. Oke, bukannya murahan, tapi… toh sudah terjadi. Mau menangis sampai matanya mengeluarkan darah pun rasanya percuma. Lagipula ini bukan pertama kalinya. Ia pernah melakukan itu dengan Jong In beberapa kali, dan pria ini juga terlihat ‘terlalu’ berpengalaman untuk urusan wanita.

               Tapi lebih daripada itu, sebenarnya ia takut kalau Jong In tahu apa yang ia lakukan ini, semua akan bertambah kacau. Bagaimanapun Seo Ah masih tetap ingin mempertahankan hubungannya dengan Jong In.

               “Entahlah. Semalam sangat terburu-buru dan gelap, aku tidak yakin.” Jawab pria itu sambil mengangkat bahu. “Tapi, kalaupun itu terjadi, aku akan bertanggung jawab.”

                “Kau gila!”

                Bukannya tersinggung, Se Hun malah semakin tertarik dengan wanita ini. Setelah bertanya apakah Se Hun menggunakan pengaman—tanpa menangis ataupun melempari Se Hun dengan barang-barang—sekarang dia malah menyebut Se Hun gila. Se Hun sama sekali tidak mengerti jalan pikiran wanita ini. Harusnya ia bersyukur karena manusia tampan-hampir-sempurna-dengan-harta-berlimpah ini mau bertanggung jawab kalau nanti dia mengandung anak Se Hun—meski itu mustahil. Ekspresi wanita itu pun terlihat tersinggung dan marah, seolah ingin menguliti Se Hun sekarang juga.

                “Ah, sudahlah!” menyibak selimutnya, wanita itu turun dari kasur lalu mengambil blazer di lengan sofa, di kamar itu. “Aku mau pulang.”

                “Kau mau pulang begitu saja?”

                “Lalu aku harus apa?!” oke, dia membentak sekarang. Dia bahkan mengabaikan satu lengan blazer-nya yang belum masuk untuk membentak Se Hun. “Meminta bayaran darimu, atau aku yang harus membayarmu?!”

                Se Hun bangun dari kasur sambil terkekeh. Wanita ini luar biasa. “Kau tidak membutuhkan kamar mandi?” Se Hun menunjuk pintu kamar mandi dengan dagunya.

                “Untuk apa?”

                “Kurasa, kau akan menemukan sesuatu di sana.”

                Meski tidak mengerti, Seo Ah pun memutar langkahnya menuju kamar mandi. Ia juga membawa tasnya sekalian, takut-takut Se Hun melakukan hal tidak terduga saat ia di kamar mandi. Asal tahu saja, Seo Ah selalu menyiapkan spray air cabai di tasnya.

                Seo Ah menyugar rambut cokelat madunya ketika berada di depan wastafel. Dua detik kemudian pekikan nyaring keluar dari mulutnya, bersamaan dengan bola mata yang ingin ia lemparkan agar cermin itu berhenti menampilkan wajah buruk rupa yang sangat mengerikan.

                Se Hun terkekeh di depan pintu kamar tamu ketika mendengar pekikan wanita itu. Ia sudah menduga bakal seperti ini. Jangankan wanita itu, Se Hun sendiri hampir menyemburkan tawa saat pertama kali melihat penampilan wanita itu, ketika bangun tidur. Rambut wanita itu sudah tidak keruan, ditambah dengan wajah seperti penyihir jelek di buku dongeng. Maskara dan eye liner sudah pudar dan menciptakan garis aneh di mata sayu wanita itu, lipstiknya pun sudah tidak jelas. Wajah yang masih memerah dan sedikit membengkak karena efek alkohol, membuatnya terlihat seperti balon.

                Se Hun pun meninggalkan kamar itu dan beranjak menuju ruang makan. Meski hanya satu lantai, penthouse ini sangat luas. Penthouse ini berada di lantai teratas Sungjin Seoul Hotel yang memiliki layanan bintang lima. Sudah dua tahun Se Hun menempati penthouse ini sendirian, dan wanita itu adalah wanita ketiga yang menginjakkan kaki ke sini setelah ibunya dan… satu wanita-yang-tidak-ingin-Se-Hun-sebut-namanya. Baginya ini area pribadinya, dan tidak boleh sembarang orang masuk. Tapi entah kenapa, tanpa berpikir dua kali, Se Hun langsung membawa wanita itu ke sini tadi malam.

                “Hei, kau membohongiku, ya?”

                Se Hun melirik dari cangkir kopinya. Wanita itu sudah ada di sebelahnya dengan wajah yang lebih normal. Ya… meskipun Se Hun merasa sedikit aneh karena melihat wajahnya yang tanpa make-up itu.

                “Apa?”

                “Kita tidak melakukannya semalam.”

                Berbeda dengan nada yang Seo Ah gunakan saat di kamar tadi, ia sedang menyatakan pernyataan. Saat di kamar mandi tadi ia sadar, tidak ada yang berubah dari penampilannya—kecuali blazer dan wajah yang ah-sudahlah-Seo-Ah-tidak-bisa-menjabarkan. Seo Ah juga tidak menemukan tanda-tanda kalau ya… mereka memang melakukannya. Melihat hal itu, Seo Ah merasa bodoh sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa bertingkah memalukan di depan pria yang baru dikenalnya?!

                Pria itu tidak menjawab, hanya mengangkat bahu sambil menikmati kopinya.

                Seo Ah menghela nafas. “Kau membuatku hampir terkena serangan jantung!”

                “Apakah itu artinya kau mengharapkan kalau kita benar-benar telah melakukannya?”

                “Jangan gila!” sahut Seo Ah. “Kenapa kau membawaku ke sini, hah?!”

                Pria itu mengubah posisi duduknya sehingga berhadapan dengan sosok Seo Ah yang tengah berkacak pinggang. “Seingatku, ada seorang wanita mabuk yang masuk ke mobilku dan mengatakan untuk mengantarnya ke Pyeongchang-dong. Jadi, daripada aku meninggalkannya di depan salah satu minimarket di Pyeongchang-dong, lebih baik aku membawanya ke kamar tamuku yang hangat.”

                Penjelasan pria itu membuat Seo Ah merasa benar-benar dungu. Sekarang ia tidak bisa menyalahkan pria itu sepenuhnya, dan malah berpikir untuk berterima kasih karena tidak membiarkan Seo Ah menjadi gelandangan semalam. Tapi tetap saja! Membawa wanita yang tidak dikenal ke rumahnya itu sangat tidak sopan! Sama saja dia mengaggap Seo Ah adalah seorang pelacur.

                Dua sisi di diri Seo Ah saling beradu pendapat, membuat Seo Ah pusing sendiri. Menggeleng, Seo Ah pun akhirnya memutuskan untuk berhenti memikirkan masalah ini.

“Sudahlah, aku pulang. Terima kasih atas semalam—“

                “Sarapan dulu.”

                Seo Ah mengangkat alisnya ketika pria itu menawarinya sarapan sambil melirik kursi kosong di sebelahnya. Di meja terdapat dua piring berisi menu sarapan ala Amerika—telur, bacon, cheese sandwich. Juga ada segelas susu putih yang masih segar.

                Seo Ah menelan air liurnya. Aroma keju yang meleleh di antara dua roti, bercampur dengan bau mentega dari bacon panggang membuat perutnya yang tidak diisi sejak sore itu bergerumul. Otaknya menyuruh Seo Ah untuk cepat-cepat meninggalkan tempat ini—sebagian dirinya mengatakan kalau pria ini berbahaya. Tapi… satu gigitan tidak apa-apa, kan….

                Tidak! Apa-apaan kau, Choi Seo Ah!

                Tidak tahu malu! Sudah bermalam di rumah pria tidak dikenal, dan sekarang sarapan bersamanya?! Pantas saja Jeong Min sering memanggilnya gila!

                “Tidak, terima ka—“ grwwl….

                Shit! Di saat otaknya sudah bisa diajak berkompromi, tubuhnya malah berpikir sebaliknya. Apalagi saat kedua matanya melihat pria itu dengan nikmatnya menggigit pinggiran roti yang garing itu.

                Dan double sial, pria itu terkekeh mendengar geraman perut Seo Ah. Ia pun bangun dari kursinya dan menarik lembut tangan Seo Ah untuk duduk di kursi. Terlihat seperti penghinaan, tapi Seo Ah tidak bisa berbuat banyak. Ia terlalu malu untuk menolak—lagi. Pria itu menggeser satu piring yang berisi menu sarapan lengkap, lalu meletakkan segelas susu juga secangkir kopi di hadapan Seo Ah—membiarkan Seo Ah memilih sendiri.

                Seo Ah berdeham, menyembunyikan rasa malu yang mungkin akan dibawanya sampai mati ini. Satu tangannya terulur untuk mengambil cheese sandwich, lalu menggigit pinggirannya dengan gigitan kecil. Oke, lihat sisi baiknya. Dengan begini, perut Seo Ah tidak lagi berulah dan ia tidak lagi dipermalukan—oleh dirinya sendiri.

                Se Hun memperhatikan sosok wanita itu dari samping. Kepribadiannya benar-benar tidak terduga. Setelah bangun dan bertanya hal yang sangat mengejutkan, pekikan di kamar mandi, marah-marah sendiri, lalu menikmati sarapannya dengan malu-malu, padahal terlihat jelas ia tengah kelaparan. Mungkin karena risih Se Hun terus memperhatikannya, wanita itu berkali-kali meliriknya lalu dengan cepat membuang pandangannya lagi. Se Hun menahan senyum. Ternyata ada juga wanita semenarik ini.

                “Aku tahu, wajahku sangat aneh tanpa make-up. Jadi berhenti menatapku!”

                Se Hun tertawa, lalu menikmati kembali sarapannya. “Iya, memang aneh.”

                Wanita itu mendecih sebagai balasan. “Omong-omong, terima kasih.”

                Berbeda dari ucapan terima kasih sebelumnya yang terdengar seperti formalitas saja, kali Se Hun merasakan kesungguhannya, meski tanpa menatapnya. Se Hun pun hanya bergumam tidak jelas sebagai jawaban. Jujur, rasanya canggung menerima ucapan terima kasih seperti ini. Maksudnya, Se Hun sudah membohongi wanita itu tadi, terlebih sudah membawa ke rumahnya tanpa persetujuan dia. Harusnya Se Hun yang meminta maaf.

                “Namaku Oh Se Hun. Kau?”

                Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Se Hun dengan dahi berkerut. “Oh Se Hun… Sungjin Group?”

               “Oh! Kau mengenalku?” seru Se Hun dengan senyuman lebar. Hehe, pesona Oh Se Hun memang tidak bisa ditutupi. Mungkin seluruh wanita di pelosok negeri ini mengenalnya.

                Tanpa diduga, wanita itu meletakkan sandwich-nya dengan kasar ke atas piring. Ia pun mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. Se Hun mengangkat sebelah alisnya; apa dia sudah melakukan kesalahan lagi? Cepat sekali wanita ini mengubah emosinya.

                “Tentu saja aku mengenalmu, Bajingan!” pekik wanita itu. “Kau… kau adalah bajingan paling jahat di dunia ini!”

                Se Hun merasakan tengkuknya berdenyut nyeri. Ia kehabisan ide tentang wanita ini. Padahal Se Hun hanya mengatakan namanya, dan dia berharap wanita itu juga menyebutkan namanya, lalu mungkin saja sesuatu yang baik terjadi. Tapi belum apa-apa, wanita ini sudah menyebutnya bajingan. Apa ini masalah semalam? Ayolah… apakah dia mempunyai ingatan jangka pendek sampai-sampai lupa kalau beberapa detik yang lalu sudah berterima kasih kepada Se Hun?

                Se Hun berdecak, lalu ikut berdiri dari kursinya. “Apakah ini masalah semalam? Baiklah, aku minta—“

                “Bukan itu, Brengsek!” oke, umpatan lainnya. Wanita itu menunjuk kasar dada Se Hun. “Aku tidak peduli dengan apa yang kaulakukan padaku semalam, tapi… aku tidak akan pernah memaafkanmu yang telah menyakiti Ji Eun!”

                Dahi Se Hun semakin berkerut. “Ji Eun?”

                Lima detik kemudian, otak Se Hun baru mengerti apa yang dikatakan wanita ini. Ah… Lee Ji Eun yang itu.

                “Iya, Lee Ji Eun, mantan tunanganmu—atau tidak, entahlah aku mulai berpikir kalau Ji Eun terlalu bagus untuk dirimu yang brengsek ini.”

                “Kau mengenal Lee Ji Eun?” tanya Se Hun sambil memejamkan mata. Dalam hati, ia mulai menghitung satu sampai sepuluh untuk menenangkan gejolak emosinya. Imej kerennya tidak boleh rusak hanya karena melempar piring-piring itu untuk membuat wanita ini berhenti mengoceh.

                “Lebih baik dari yang kaupikirkan.”

                “Apa yang sudah diceritakan wanita itu?”

                Wanita itu mendengus, sedikit tersinggung dengan nada yang digunakan Se Hun. “Semuanya. Semua kebusukanmu.”

                Oke, intinya wanita ini teman Lee Ji Eun—teman yang sangat dekat. Se Hun menggeleng sambil terkekeh pelan, semuanya ya…. Se Hun tidak berpikir demikian. Lee Ji Eun tidak jauh berbeda dari wanita yang Se Hun kencani sebelumnya, dan sudah pasti tidak ‘semua’ yang ia ceritakan. Tiga puluh tahun berpengalaman di dunia ini dan bertemu bermacam-macam wanita, membuat Se Hun sedikit hapal tipe wanita macam Lee Ji Eun. Yah… dia memang baik.

                “Sepertinya belum….”

                “Apa maksudmu?!”

                “Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya.”

 Se Hun kembali duduk di kursi lalu menyesap kopinya, membuat Seo Ah naik pitam. Benar-benar! Ia tidak paham kenapa Ji Eun selalu membanggakan pria bajingan ini. Sudah jelas-jelas dia sangat buruk untuk kategori pria normal, tampan, dan mapan. Seo Ah sempat berpikiran kalau mungkin saja Se Hun adalah jelmaan pangeran Disney. Tapi setelah melihat Ji Eun menangis, sampai ingin mengakhiri hidupnya, dan bagaimana ia terjebak di rumah, Se Hun terlihat jauh lebih buruk dari sampah.

“Kau boleh pergi.”

Seo Ah kehabisan kata. Ia membuka mulutnya, mendengar ucapan Se Hun. “Hei, Tuan—“

“Kalau kau ingin mengumpatku lagi, lakukan lain waktu. Pagiku sangat sempit.”

Mengabaikan Seo Ah yang siap melemparnya dengan high heels, Se Hun pun meraih tablet PC di meja. Entah apa yang dikerjakan pria itu, tapi cukup membuktikan kalau ia sangat sibuk. Seo Ah keki sendiri. Ia sangat ingin membunuh pria itu sekarang juga dengan ujung high heels-nya.

Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Seo Ah memutar langkahnya dan keluar dari dapur. Kalau ia tetap berada di sana barang lima detik saja, sudah pasti rumah ini sudah rata dengan tanah. Seo Ah bisa lebih garang daripada Piranha kalau sudah marah besar. Jeong Min bahkan mengatakan kalau Seo Ah bisa saja menggerogoti pagar besi saat sedang marah. Dan Seo Ah tidak ingin menghabiskan seluruh tabungannya yang-bahkan-tidak-cukup-untuk-memperbaiki-lift-hotel-ini karena sudah membunuh sekaligus menghancurkan rumah Oh Se Hun.

“Maaf, Anda siapa?”

Saking emosinya Seo Ah melangkah, ia tidak memperhatikan kalau seseorang membuka pintu depan, lalu seorang pria berjas masuk. Pria itu berhenti di depan Seo Ah, membuatnya ikut berhenti juga. Seo Ah menahan nafas. Wajah pria ini sangat mulus namun tegas, seperti pahatan yang dibuat seniman dengan mengorbankan seluruh hidupnya. Tatapan matanya menampakkan kelembutan, berbeda dengan milik Oh Se Hun yang suka mengerling genit. Rambutnya yang tertata rapi, pakaian yang licin dan berkelas, aroma parfum mahal—oh… Seo Ah mungkin sudah mati karena melihat penampakan seindah ini.

“Nona?”

 Pria itu merendahkan kepalanya sambil melambai di depan wajah Seo Ah. Lalu, dengan bodohnya, Seo Ah malah balas melambai dan tersenyum tidak jelas.

“Namaku Choi Seo Ah.”

“Apa?”

Hyeong, sudah datang?”

Seperti petir di musim panas, suara Se Hun langsung membuat Seo Ah sadar kembali. Ia pun menurunkan tangannya dan melirik ganas Se Hun. Oh Se Hun dengan santainya berdiri dengan tangan terlipat dan menyenderkan bahunya di rak berisi botol-botol wine. Sial! Tidak bisakah ia menikmati satu menitnya yang indah itu sebentar lagi?! Pria ini benar-benar pengganggu kelas teri.

“Siapa wanita ini?”

“Hanya salah satu dari mereka. Abaikan saja.” Jawab Se Hun enteng. “Ah, bagaimana perkembangan proyek di Shanghai?”

Seo Ah baru ingin berteriak dan mengumpat, tapi Se Hun dan pria-tampan-dengan-wajah-malaikat itu meninggalkannya seperti orang bodoh di sini. Mereka berkumpul di dapur. Seo Ah mendengus kasar, ternyata ia tidak salah telah membenci Oh Se Hun. Pria itu benar-benar brengsek. Menghentakkan kakinya, Seo Ah pun meninggalkan rumah itu.

Mendengar pintu tertutup, Se Hun menghela nafas sambil memejamkan matanya. Ia pun memijit dahinya. Se Hun sudah sepenuhnya tidak mendengar ocehan Jun Myeon tentang perkembangan proyek di Shanghai. Paginya kali ini benar-benar buruk.

“Jadi, siapa wanita itu?” Jun Myeon, yang sudah mematikan tablet PC, menatap Se Hun ingin tahu. Dari pertama kali masuk dan melihat wanita itu Jun Myeon tahu, kalau dia bukan wanita biasa. Ditambah sikap Se Hun yang seperti ini.

“Dia teman Ji Eun.”

“Lalu? Kau takut?”

“Bukan begitu, Hyeong.” Se Hun membenarkan posisi duduknya. “Sepertinya Ji Eun belum menceritakan semuanya.”

Jun Myeon menghela nafas. “Kalau begitu kau yang harus menceritakannya, paling tidak kepada orangtua kalian.”

Faktanya, pertunangan Se Hun dan Ji Eun sudah dua minggu berakhir, tapi itu hanya diketahui mereka berdua. Ya, hanya diketahui, karena Ji Eun sama sekali tidak setuju dengan keputusan Se Hun. Orangtua mereka sama-sama belum tahu. Se Hun memberikan kesempatan untuk Ji Eun yang menjelaskan, karena tidak ada akan yang percaya kalau Se Hun yang berbicara—sekalipun itu sebuah kebenaran. Tapi sepertinya Ji Eun salah mengartikan kebaikannya ini. Wanita itu malah menggunakannya sebagai pengulur waktu.

Bagaimanapun tanggal pernikahan sudah ditentukan.

“Dan mereka akan percaya?” Se Hun tersenyum pahit. “Kau tahu kan, Hyeong. Mereka memang tidak membenciku, tapi mereka akan lebih mendengarkan ucapan wanita itu daripada anaknya sendiri.”

Jun Myeon tidak menjawab, karena ucapan Se Hun memang benar. Kata ‘playboy’ sudah melekat di dirinya, seperti sebuah nama tengah. Sekuat apapun Se Hun membantah telah menyakiti Lee Ji Eun, mereka tetap akan menganggapnya kebalikan. Seperti… bocah yang meneriakan ‘serigala’ dan tidak ada yang percaya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa wanita itu?” mengubah topik, Jun Myeon kembali membahas wanita yang—kalau ia tidak salah dengar—bernama Choi Seo Ah.

“Aku tidak tahu namanya, tapi dia teman Ji Eun.” Jawab Se Hun tanpa minat. Ia pun kembali membuka pekerjaannya di tablet PC.

“Kenapa dia ada di sini pagi-pagi? Apa dia sengaja datang untuk membunuhmu?”

“Lucu sekali, Hyeong, ha-ha.” Se Hun tertawa sarkas untuk lelucon tidak lucu Jun Myeon. Namun ia melanjutkan. “Aku yang membawanya. Dia mabuk semalam, dan… aku ingin bermain-main sebentar.”

“Kau tidur bersamanya?!” pekik Jun Myeon.

Se Hun mendengus. “Berisik sekali.” Komentarnya. “Tidak—memangnya aku harus bermain dengan menidurinya?!”

“Maaf, kupikir begitu.”

“Dia sendiri yang masuk ke mobilku, jadi… yah… aku hanya ingin mengerjainya sedikit.” Se Hun mengangkat bahunya. “Dan cukup sukses.”

“Kau menyukainya?” tanya Jun Myeon penuh selidik.

“Apa terlihat begitu?” Se Hun malah balas bertanya dengan kerlingan nakalnya. “Bagaimana menurutmu, Hyeong? Apa sudah saatnya mencari pengganti Lee Ji Eun.”

Aish! Anak ini!” Jun Myeon mengangkat tablet PC-nya, berpura-pura ingin memukul Se Hun dengan itu. “Berhenti bermain-main dan carilah wanita yang benar.”

“Jangan sok menasehatiku! Hyeong sendiri belum menemukan pasangan, kan?”

“Itu karena aku terlalu menyayangimu.”

Se Hun memeluk tubuhnya sendiri dan bergidik. “Kau membuatku merinding, Hyeong.”

“Kalau kau memang tertarik padanya, cobalah untuk bersikap serius. Cinta bisa datang dengan cara tidak terduga.”

Sebenarnya Se Hun adalah pria yang baik. Meski Jun Myeon lima tahun lebih tua darinya, terkadang Jun Myeon banyak belajar dari Se Hun. Ya, memang, posisi Se Hun lebih tinggi dari Jun Myeon karena orangtuanya, tapi bukan berarti Se Hun adalah anak yang manja. Sifatnya yang kadang terlihat tidak seriusnya saja yang terkadang membuatnya sakit kepala. Terutama untuk masalah wanita.

“Jadi Hyeong mau membantuku?”

“Apa?” Jun Myeon memijit dahinya. Ia mempersiapkan dirinya untuk permintaan aneh Tuan Muda Oh.

“Carikan aku informasi tentang wanita itu. Hal-hal yang umum saja, jangan terlalu mendetail. Aku ingin mencari tahu sisanya dengan cara Oh Se Hun.”

***

                “Dari mana kau?”

                Seo Ah langsung disambut oleh Jeong Min, yang sedang menyiram tanaman di halaman depan, ketika memasuki halaman rumahnya. Ia terpaksa pulang menggunakan taksi karena mobilnya masih terparkir di lapangan parkir bar itu. Mood Seo Ah masih terlalu buruk. Ia ingin cepat-cepat membersihkan diri lalu rebahan di kasur tersayangnya seharian. Hari ini ia berniat untuk bolos bekerja.

                “Kau tidak bekerja?” bukannya menjawab, Seo Ah malah balik bertanya. Tidak biasanya ia melihat Jeong Min di rumah pagi-pagi, apalagi dengan pakaian santai. Walaupun masih magang, Jeong Min adalah dokter tersibuk yang pernah Seo Ah lihat.

                “Aku libur hari ini,” jawab Jeong Min sambil mengangkat bahu. “Jadi, ke mana saja kau semalaman?”

                Seo Ah memutar bola matanya, mencari jawaban yang setidaknya masuk akal daripada menginap-di-rumah-Oh-Se-Hun. “Yah… aku terlalu mabuk semalam jadi aku menginap di rumah temanku.”

                Ugh! Teman apanya! Mulut Seo Ah gatal sendiri karena menyebut Se Hun sebagai ‘teman’nya.

                Jeong Min berhenti menyiram tanaman, lalu menatap Seo Ah sambil berkacak pinggang. “Apa yang kukatakan tentang alkohol?”

                “Iya, iya, aku tahu. Aku hanya sedang banyak pikiran.” Seo Ah mengibaskan tangannya. Ia terlalu malas untuk mendengar ceramah pagi Jeong Min. “Eomma ada di rumah?”

                Jeong Min kembali menyirami tanaman. “Eomma sudah berangkat ke kantor.”

                Seo Ah mengangguk. Merasa tidak ada lagi yang ingin dibicarakan dengan Jeong Min, Seo Ah pun memutar langkahnya. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.

                “Min-a, kau libur, kan?”

                “Kupikir, aku sudah mengatakannya.”

                Seo Ah mendecih. Jeong Min bisa menjadi sangat menyebalkan saat sedang kesal. “Bisa tolong ambilkan mobilku di Sunny’s Glow?”

                Saking kagetnya mendengar nama tempat itu, Jeong Min memutar tubuhnya dengan tiba-tiba tanpa mematikan keran terlebih dahulu. “Kau minum-minum di tempat mahal?! Ya! Kau… apa kau baru saja menggadaikan berlian?!”

                “YA!”

                Mendengar teriakan Seo Ah, Jeong Min pun menurunkan selang airnya sambil bergumam maaf. Siapa yang tidak tahu Sunny’s Glow—bar mewah dengan harga minuman yang hampir menyamai gaji sebulannya. Apa mungkin otak Seo Ah terbentur asteroid sampai-sampai menghabiskan uangnya dengan hal tidak berguna? Oh, akan lebih baik kalau Seo Ah pulang dengan puluhan kantung belanja daripada mengetahui kalau ‘adik kembarnya’ mabuk di tempat sekelas Sunny’s Glow.

                Seo Ah melempar kunci mobilnya dengan kesal ke arah Jeong Min. “Aku akan membayarmu dengan ramyeon.” Setelah itu, dia masuk ke dalam rumah, mengabaikan teriakan Jeong Min.

                Seo Ah melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil sebotol air mineral dari kulkas. Ditemukannya Jung Ahjumma yang sedang mencuci piring.

                “Nona sudah pulang?” tanya wanita paruh baya itu.

Ibu Seo Ah dan Jeong Min bekerja sebagai pengacara, itulah kenapa beliau jarang ada di rumah. Jung Ahjumma sudah bekerja di rumah ini sejak Seo Ah berumur lima tahun. Jadi bisa dibilang, Jung Ahjumma adalah ibu kedua Seo Ah. Tapi meski begitu, wanita paruh baya itu selalu memanggil Seo Ah dengan sebutan ‘nona’ dan menggunakan kalimat formal.

Seo Ah membuka tutup botol air mineralnya sambil mengiyakan pertanyaan itu dengan singkat. Ah… tubuhnya sangat lelah.

“Apa mau saya buatkan sarapan?”

Seo Ah hanya menggerakkan tangannya, karena ia sibuk meminum air mineral itu sampai habis. “Tidak perlu. Aku ingin segera tidur.”

“Baiklah. Nona bisa memanggil saya kalau butuh sesuatu.”

“Hm, terima kasih.”

Membuang botol kosong itu ke tempat sampah, Seo Ah pun melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Rumah ini tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman untuk ditempati bersama ibu dan Jeong Min. Sebenarnya tidak juga… Jeong Min lebih sering menginap di dorm daripada tidur di sini. Ibu Seo Ah pun sangat sibuk. Meski hubungan mereka baik-baik saja, tapi jujur, Seo Ah merindukan masa-masa dimana ia masih bisa bermanja bersama ibunya. Belum lagi kalau Seo Ah bekerja lembur, mereka sama sekali tidak bisa bertemu.

Aroma mawar menyambut Seo Ah ketika membuka pintu kamar. Dilempar tubuhnya begitu saja di atas kasur. Kemarin dan pagi ini adalah yang terburuk. Sepertinya tensimeter pun akan meledak saat mengukur tekanan darahnya. Seo Ah memejamkan matanya, menikmati penghangat ruangan yang bercampur aroma mawar di kamarnya. Ah… setidaknya ia tidak sia-sia bolos bekerja hari ini. Kamarnya adalah yang terbaik.

Mengingat sesuatu, Seo Ah pun menarik tali tasnya lalu mengeluarkan ponsel yang terpisah dari baterainya. Seo Ah duduk di atas kasur, dan merangkai kembali ponsel itu kemudian menyalakannya. Mungkin puluhan omelan Jong In akan langsung menyerbunya, tapi Seo Ah tidak peduli. Untuk kali ini, ia sangat lelah dengan pria itu.

Benar saja, puluhan pesan dari Jong In masuk ke ponselnya, ditambah dengan beberapa panggilan tidak terjawab. Di antara itu, ada pesan dari Bo Mi juga Jeong Min. Ah, ada lima panggilan tidak terjawab dari ibunya juga. Seo Ah bergidik sendiri. Untung saja ia mematikan ponselnya, kalau tidak sudah pasti ponsel ini sudah hancur berkeping-keping karena terus berdering.

Seo Ah mengabaikan seluruh pesan Jong In dan hanya membuka pesan dari Bo Mi. Begitu banyak—intinya dia meminta maaf karena berteriak pada Seo Ah dan mengatakan bahwa Ji Eun sudah baik-baik saja. Wanita-yang-sedang-frustasi-karena-putus-cinta itu sudah kembali ke apartemennya sendiri. Seo Ah menghela nafas, bagaimana mungkin Bo Mi bisa membiarkan Ji Eun kembali ke sana padahal dia belum stabil? Ia pun memencet nomor telepon Bo Mi.

“Bo Mi-ya, ini aku.”

Ya! Ke mana saja kau?! Apa kau tidak tahu kalau aku berusaha menghubungimu semalam?! Kau bahkan tidak pulang ke rumah dan membuat orang-orang panik! Setidaknya beritahu aku kalau kau bermalam di hotel, jadi aku bisa membuat alasan masuk akal untuk ibumu. Kau tahu, aku hampir berpikir kalau ibumu akan membawaku ke pengadilan—“

“Bo Mi-ya, aku baik-baik saja. Maaf tidak menjawab teleponmu.”

Seo Ah bisa mendengar dengusan Bo Mi di sana. “Kau tahu betapa paniknya aku?! Ji Eun saja sudah cukup, jadi kau jangan membuatku tambah gila!”

“Semalam aku mabuk dan menginap di rumah teman.”

“Baiklah.” Jawab Bo Mi, terdengar jauh lebih tenang dari sebelumnya. “Kau sudah membaca pesanku?”

Seo Ah berguling ke samping, memandang jauh ke luar jendela. “Hm. Apa Ji Eun benar akan baik-baik saja?”

“Aku harap begitu.” Kata Bo Mi. “Dia juga mulai bekerja lagi.”

Seo Ah sedikit menyayangkan hal itu. Meski di pesan tadi Bo Mi mengatakan kalau Ji Eun sudah mendatangi psikiater untuk mengatasi stress-nya dan mulai kembali membangun dirinya, kekhawatiran itu masih ada. Akan lebih baik kalau wanita itu jujur kepada orangtuanya yang tinggal di Jepang sehingga mereka bisa merawat Ji Eun selama beberapa waktu. Atau paling tidak… meluruskan hubungan pertunangannya.

Lee Ji Eun adalah seorang desainer dan memiliki sebuah butik. Brand-nya memang belum besar, tapi cukup berkelas. Sekilas, pekerjaan Ji Eun terdengar jauh lebih simpel dari Seo Ah. Tapi dengan keadaan tertekan seperti ini, Seo Ah tidak bisa menjamin kalau Ji Eun mungkin saja lebih memilih menjahit matanya sendiri daripada kain-kain itu.

“Syukurlah kalau dia memang merasa lebih baik.” Ucap Seo Ah. “Bagaimanapun ia terlalu baik untuk Brengsek itu.”

“Benar. Aku sangat menyayangkan wajah tampan Oh Se Hun.”

“Apanya yang tampan?! Dia terlihat seperti drakula penghisap darah! Belum lagi gaya bicaranya, sangat menyebalkan—seolah dirinya pria terhebat di dunia!”

“Benar, benar, dia seperti vam—eh, tunggu. Kau pernah bertemu dengannya?”

Seo Ah refleks menepuk mulutnya sendiri. Hampir saja ia membeberkan pertemuan tidak menyenangkannya dengan makhluk satu itu. Saat waktu acara perkenalan mereka, Seo Ah sedang berlibur bersama ibunya dan Jeong Min ke Denmark, jadi hanya Bo Mi yang bisa bertemu langsung. Dan karena—katanya—Oh Se Hun adalah orang yang sangat sibuk, sangat sulit bertemu dengannya. Jadi pagi ini adalah pertama kalinya ia bertatapan dengan pria brengsek itu, setelah sekian lama mendengar ceritanya dari mulut Lee Ji Eun.

“Mana… mungkin….” Seo Ah memutar-mutar bola matanya. Sial! Jangan sampai ketahuan! “Aku hanya menebak kepribadiannya dari yang Ji Eun ucapkan.”

“Begitu?”

“Ah, Bo Mi-ya, sudah dulu, ya. Kepalaku masih sakit, jadi aku ingin tidur sebentar lagi. Aku akan ke kafemu besok. Sampai jumpa.”

Seo Ah mengucapkan itu dalam dua tarikan nafas. Bo Mi tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau, dan Seo Ah tidak ingin itu terjadi. Seo Ah tidak akan bisa berbicara benar ketika berbohong. Pertemuannya dengan Se Hun adalah dosa terbesar di hidupnya. Bahkan hanya mengingat nama pria itu, membuat kepala Seo Ah kembali mendidih.

Seo Ah melempar ponselnya ke kasur dan mulai menelungkupkan tubuhnya. Tidak diperdulikan lagi tubuhnya yang masih bau keringat bercampur alkohol itu. Ia hanya berharap tidur akan membuatnya lebih baik.


 

■■■

*Tadinya mau dipanjangin lagi, tapi ternyata udah panjang HAHAHAHA. Eh enggak deng, ini baru 23 halaman. Tapi… biar dipotongnya lebih greget

 

Oh iya, tadi niatnya Jeongmin mau aku pake Kyungsoo, tapi setelah pertimbangan… sekali-kali pake Jeongmin leh uga. Biar gak exo semua gitu. Dan… jeng jeng jeng Kai muncul lagi di ffkuuu setelah sekian lama bertahan dalam luka ini T.T #azek

 

Gimana jalan ceritanya? Aku butuh masukan nih, dan mungkin apdet selanjutnya bakal lama jadi stay tune yaa hahahaha dan dan buat yang minta sequel 10 Steps, i’m sorry, i can’t T.T bener-bener udah mentox itu

 

Tapi… gimana nih Sehun-Seoa? Cocok?

 

See yaaa

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

32 responses to “Honey Cacti [Chapter 1]

  1. Seru nih keknya, gabisa ditebak jalan ceritanya ini mah. Sehunnya jail bener, anak orang digituin, untung Seo Ah masi ‘sedikit’ baik, jadi sehun ga diapa apain wkwkwk, lanjut yaaa kak fa

  2. Wah pertemuan pertama mereka luar biasa aneh+cukup menggelikan. Sebenarnya sehun ko bisa berakhir gitu ama ji eun? Apa itu beneran kesalahan dan kebrengsekan sehun atau si jieun sendiri? Soalnya pembicaraan sehun sama junmyeon ‘sedikit’ mencurigakan. Berbalik dari apa yg jieun katakan sama temen2nya. 😕

  3. Zia is back 😆😆 keren 😍 suka karakter sehun disini 😂😂 usil banget 😂😂 ditunggu lanjutannya zi 😉😉

  4. gimana respon ji eun klo tau seo ah uh ketemu sehun pake nginep di rumah sehun juga? :3 btw kepo juga sebenernya masalah sehun ji eun apa sampe sahabatnya juga ikutan mencak2 :3 ditunggu next chapternya :3

  5. WOW WOW WOW! #Sule
    Ini keren bingitt wkwk seriusann!!! Bacanya sih masih santai, konfliknya juga belom complicated banget, masih banyak senyumnya pas bayangin Sehun-Seo Ah
    But, ini seriusan Sehun langsung tertarik ama Seo Ah? Ampe langsung minta general profilenya gitu *ciehh
    Oiya sebenernya ada cerita apa si dibalik hubungannya Sehun-Eun Ji, ko disini kayanya Eun Ji rada gimana gitu pas nyeritain Sehun ke Seo Ah ama Bomi, penasarann…
    Okay ditunggu next part ya ka. Tengkyuu^^

  6. aq suka sm couple seo-hun,tpu msih bingung sm crita dibalik ji eun sm sehun
    ah,molla,aq suka ff in,ditunggu ya chap slanjutx

    keep writing

  7. daebakk. keren keren keren keren!!! disini si sehun kayanya ga kmvrt kmvrt amat yakk wkwkw kayanya ji eun gitu yang salah. ihh aku suka banget sama seo ah-sehun kopel. mendingan sehun sma seo ah aja deh daripada ama ji eun. ditunggu next nya yaa. moga banyak sweet moment mereka bedua >,<

  8. Sumvahhh demi apa dari awal smpek akhir aku ketawa sendiri bacanya, inij kerenn bangettt lucuu pulaaa 😂😂😂, mna abang sehun sma kai yang maen 😱😱😱, katanya* itu lhoo selalu bikin ngakak jd gg bosen buat baca, di tunggu deh selanjutnyaa 🙏🙏

  9. Kalo Sehun gini sih cocok sama Seo Ah. Sehun playboy agak dewasa gitu sih. Baru awal udah mancing emosi si Sehun. Seo Ah jadi cewek gak ada malu2 mulut gk direm bikin seru. Ikut Meledak2 pas baca wkwk

  10. sukaà sma cerita nya,,seruu…
    itu jongin udah ketahuan selingkuh masihh aja d maafin sma seo ah..
    d tunggu kelanjuta nya..

  11. Jongin bisa bisanya masih minta bertahan sama seo ah padahal jelas jelas udah selingkuh.Sehun kok mulai agak suka sama seo ah,hemb….gawat tuh bakal gimana ya jadinya.terus kalau teman teman Seo ah tau bakalan gimana persahabatan mereka….#kepo

  12. Ff nya keren banget…jjang deh buat authornya. Penasaran sama masalahnya jieun sama sehun, sebenernya knp??
    Si jongin kampret bener deh udah ketahuan gitu masih aja gk ngaku, malah nuduh seo ah yg selingkuh dasar.

  13. Kebayang betapa lucunya muka seo ah waktu liat kaca wastafel pantesan si cadel ngakak so hard , aku kira si cadel orangnya melebihi kata ka*mvret ehh ternyata nggak 😂😂😂 tapi 4 jempol deh buat kak zia bikin karakter si cadel agak miring+agak ka*mvret 😂😂
    Keep writing kak ✊✊✊

  14. Makin panjang makin seruu…

    Uhhh penasarn banget sama srhun yang mutusin pertunangannya sama jieun. Makin geregetan sama jalan ceritanyaaa

  15. Seruuuu. Sehun playboy tapi berkelas wkwk ji eun masalahnya apa si sama sehun?
    Ditunggu kelanjutannya. Fighting!!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s