[Vignette] Ideal Type by ShanShoo

rocky

-ShanShoo’s present

Rocky ASTRO x OC

 Personal blog : http://ikhsaniaty.wordpress.com/

Kalau ditanya soal, “Bagaimana tipe cowok idealmu?” oleh teman dekatmu sendiri, jawabanku tak pernah jauh dari, “Yah, pokoknya baik, setia, enggak emosian, enggak gampang marah.” Yang bahkan selalu direspons oleh gelengan kepala atau sahutan berupa, “Memangnya jaman sekarang masih ada, ya, cowok seperti itu?”

 

Tapi aku tak peduli. Karena aku yakin, di dunia ini, masih ada cowok sesuai kriteriaku itu. Yakin, seyakin-yakinnya, deh.

Itu, sampai aku bertemu dengan seorang cowok bernama Park Minhyuk.

Jujur saja, aku sama sekali tak mengenal Minhyuk sampai ke hal paling kecil. Atau bahkan mengetahui apakah Minhyuk masuk ke dalam tipe cowok idealku atau tidak. Tapi, ketika telingaku mendengar bagaimana sikap dan sifat yang dimiliki Park Minhyuk, aku lekas mengembuskan napas dalam sekali sentakan keras.

Katanya nih, ya, Park Minhyuk itu orangnya humoris, kadang galak, kadang menyebalkan, sering bikin onar, tidak pernah mau ikut membereskan kelasnya padahal hari itu adalah jadwal piketnya, serta beragam fakta lainnya yang beneran melenceng jauh dari kata tipe idealku.

Pertemuanku dengan Minhyuk adalah sebuah ‘ketidaksengajaan’. Kami bertemu―ah, kata bertemu sebenarnya tidaklah tepat, karena saat aku menyambangi ruang perpustakaan untuk mengembalikan buku yang kupinjam, manikku tak sengaja melirik ke arah seorang cowok berambut pirang yang tidur dengan nyaman di sudut bangku panjang. Well, disebut nyaman karena letak bangkunya amat strategis, berada di belakang rak buku yang lebar serta menjulang tinggi, sehingga ia tak perlu merasa takut kalau sang penjaga perpustakaan mendapati dirinya sedang tidur di sana.

Awalnya aku hendak mengabaikan cowok itu. Tapi karena mungkin ini memanglah ‘takdirku’ untuk bertemu dengannya, aku melangkah ke rak buku tepat di depannya. Berhubung buku yang hendak kuletakkan ke tempatnya semula adalah di sana. Beneran takdir, bukan?

Sebelah tanganku menyingkap celah di antara buku-buku lainnya yang berderet rapi, bermaksud menyimpan buku sesuai alpabet. Namun entah pergerakanku yang terlalu berisik, atau telinga cowok itu yang terlampau jeli, ia menggeliat tak nyaman lantas mengerang kecil. Aku, yang masih berdiri di tempat itu kemudian berjinjit, mengintipnya di antara sekat-sekat kotak kosong yang tak tersentuh puncak buku. Kudapati ia menguap lebar, meregangkan otot-otot tangannya dan … manik kami saling bersitatap!

Aku terkejut bukan main, jantungku mendadak berdetak amat cepat, membuatku nyaris limbung dan jatuh saking kagetnya. Sementara aku membeku di tempat, cowok itu berdiri, melangkah ke arahku dan menatapku dengan picingan matanya.

“Kau siapa?” tanyanya, tak mempedulikan sebuah sapaan yang kuinginkan. “Kau mengganggu tidurku saja.”

“Apa?” aku mengerang kecil, berupaya menjaga suaraku agar tidak keras dan mengganggu para aktivis perpustakaan. “Lagi pula, kenapa kau memilih tidur di perpustakaan daripada di kelas? Apa kau tak takut terkena teguran? Ini, kan, masih di jam pelajaran.” Ujarku, masih berusaha mengatur suara.

Sontak saja ia menaikkan sebelah alisnya, seraya menyandarkan sisi tubuhnya pada rak buku. “Namaku Park Minhyuk, omong-omong,” sahutnya, tak mengacuhkan pertanyaanku sama sekali.

“Enggak nanya, tuh.” Aku menjawab sambil tersenyum asimetris. Tapi Minhyuk tetap tak mengacuhkan segala sikapku.

“Yang penting kau tahu.” Minhyuk berdecak sekali, mimiknya terlihat memikirkan sesuatu sebelum melanjutkan, “Tapi kau bisa memanggilku Rocky.”

“Aku enggak―”

“Enggak peduli. Yang penting kau tahu.” Selanya seraya tersenyum lebar, yang anehnya malah terlihat menyeramkan dibanding menggemaskan. Ah, entahlah.

Bibirku bungkam, enggan mengatakan hal apa pun lagi. Selama keheningan menyapa, Minhyuk―atau … haruskah aku mengatakan Rocky?― mengusak belakang kepalanya sambil berdesis kecil. Maniknya bersitatap denganku, dan aku hanya memandangnya kesal.

“Mmm, namamu Shin Ayeon, kan?”

Eh? Da-dari mana dia tahu namaku?

Rocky malah menyengir lebar ketika aku memberinya tatapan penuh tanya.

“Kau enggak perlu mengetahui dari mana aku tahu namamu,” katanya. “Tapi kayaknya, aku harus mengingatkanmu satu hal.” Rocky berdeham beberapa kali, maniknya terarah sejenak pada setiap deretan buku di rak yang ia sandari, sebelum akhirnya ia berkata lagi, “Seminggu yang lalu, aku enggak sengaja lihat kau jatuh dari sepeda di sebuah taman bermain.”

Entah sejak kapan kedua pipiku terasa menghangat. Jantungku semakin berulah. Aku mulai bergerak resah selama Rocky terkikik geli di depanku. Oke, pertanyaan pun muncul lagi. Dari mana dia tahu kalau aku jatuh dari sepeda?

“Sialan, kenapa kau mengatakan hal itu padaku, sih? Itu hal yang memalukan, tahu!”

“Aku tahu, kok.” Cowok ini masih terkikik. “Jadi, kau enggak bisa main sepeda, ya?”

Sialan lagi!

Kini, Rocky menegakkan posisi tubuhnya. Netra hitamnya menilikku lekat-lekat, seakan-akan ia melihat hal yang ganjil dalam diriku.

“Park Minhyuk, kau bisa diam enggak? Jangan mengungkit masalah―”

“Aku bisa mengajarimu cara bermain sepeda dengan cepat.” Rocky menyela lagi. Tambahkan satu cengiran lebar di bibirnya. Aku tertegun mendengarnya, dan Rocky melanjutkan, “Tapi dengan satu syarat!”

“Apaan? Aku baru saja kenal denganmu dan kau―”

“Mau enggak? Apa kau enggak merasa malu? Sudah besar tapi masih belum bisa main sepeda.”

“Aku kan sedang belajar―”

“Belajar sendirian itu enggak mudah, loh.” Rocky memberiku tatapan mengejek. “Ayolaah, tinggal bilang mau saja apa susahnya? Lagian, aku enggak akan membocorkan rahasia kecilmu ini pada siapa pun.”

“Oh, ya?” aku baru merasakannya sekarang, kalau sosok Park Minhyuk memang sosok cowok paling menyebalkan dan mengesalkan di muka bumi. Andai saja aku bisa menyalahi takdir yang akan mempertemukanku dengan Minhyuk, pasti aku tidak akan datang kemari dan lebih memilih membayar denda terlambat mengembalikan buku pada petugas perpustakaan.

Yep,” dengan tegasnya, Rocky mengangguk. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Jadi, bagaimana?”

Lidahku mendadak kelu, sekadar untuk menjawab tawaran Rocky. Mataku bergerak gusar, antara menyetujui dan menolak. Dua pilihan itu beneran sukar untuk dipilih dengan cepat. Beberapa saat kemudian, dalam satu tarikan napas, aku menjawab, gugup, “O-oke.” Kataku, yang sukses menguarkan sebuah tawa ringan dari bibir Rocky. Uh, baiklah, kuakui kalau Rocky ternyata terlihat menawan ketika ia tertawa seperti itu. Seakan sikap menyebalkan yang ia tunjukkan padaku, lenyap tak bersisa.

“Oke? Maksudmu, kau menerima tawaran serta syarat dariku?”

Ya Tuhan, bisakah Rocky tidak menunjukkan sikap mengesalkannya lagi padaku? Padahal aku baru saja memujinya, dalam hati. Gila saja kalau aku menguarkan pujianku itu. Bisa jadi, ia akan berubah menjadi cowok sombong yang siap kutendang kapan pun.

“Iya!” jawabku, setengah tegas, setengah kesal.

“Mmm, oke. Syaratnya mudah, kok.”

“Apaan?”

“Aku mau kembali tidur karena aku masih mengantuk.” Ucapan itu hendak kusela, ketika Rocky berbicara lagi, “Kau hanya tinggal mengawasi guru yang bisa saja datang kemari, dan membangunkanku kalau aku nyaris kepergok sedang tidur.”

“A-apa?” mataku membelalak lebar. “Syarat macam apa itu, huh?”

“Setuju enggak? Atau, apa kau mau rahasiamu kuberi tahu pada teman-temanmu? Aku yakin, mereka enggak mengetahuinya.” Seringaian liciknya tiba-tiba muncul dan membuat tekadku untuk menendangnya ke Mars, semakin bulat.

“Iya, iya! Aku setuju! Kau puas, huh?” manikku nyaris terlepas dari tempatnya, kalau saja aku semakin tidak tahan karena sikapnya yang teramat menyebalkan. Rocky menyengir puas, telunjuknya bergerak, menyuruhku untuk mengikutinya ke arah bangku perpustakaan, tempat di mana ia tertidur beberapa saat yang lalu.

“Nah,” Rocky meletakkan kedua tangannya di atas meja, lantas menoleh menatapku lekat. “Kalau ada guru ke sini, jangan lupa kasih tahu, ya? Terus kita pura-pura belajar bersama.” Katanya. “Lagian, bentar lagi juga istirahat. Enggak bakal kena marah kok,”

Awalnya aku telah berniat untuk meninju wajahnya sampai memar, tapi di saat Rocky memberiku senyuman manisnya, niatan itu seolah minggat entah ke mana. Menyebabkan jantungku berhenti bekerja selama sepersekian sekon, kedua pipiku pun menghangat. Aku tak membalas apa yang diutarakan Rocky padaku, karena aku masih sibuk menenangkan diri dan berspekulasi kalau Rocky bukanlah cowok idealku. Dia bukanlah cowok baik-baik, apalagi ditambah kenyataan kalau ia memberikan syarat serta akan membocorkan rahasia kecilku kalau aku tak mengikuti kemauannya. Tapi, tak apa, deh. Syaratnya, kan, cuma mengawasi keberadaan guru selama Rocky masih terlelap dalam tidurnya.

Ketidakberatanku pada akhirnya menimbulkan satu pertanyaan yang menyeruak, tepat setelah Rocky menyandarkan sisi wajahnya ke atas kedua lengannya yang melipat di meja, wajahnya yang terlelap menghadap ke arahku sepenuhnya.

Bagaimana bisa Rocky terlihat semenggemaskan ini saat tertidur?

Aku bahkan tidak merasa terganggu sama sekali ketika Rocky mendengkur halus di sebelahku. Seakan-akan waktu kami untuk mengobrol tadi hanyalah angin lalu, tidak ada beban sama sekali sampai ia pergi ke alam mimpi.

Oh, aku bisa edan mendadak kalau begini ceritanya!

Tidak! Aku tidak boleh begini! Aku tidak boleh menaruh perasaan terhadap cowok menyebalkan ini! Rocky bukanlah cowok idealku! Bukan!

“Kalian sedang apa?”

Pertanyaan itu bersumber dari penjaga perpustakaan. Aku yang mulai dilanda kepanikan baru akan menyikut rusuk Rocky, tapi aku kalah cepat dengan cowok itu yang menegakkan posisi duduknya, lalu menyambar salah satu buku yang tergeletak begitu saja di meja kami.

“Kami sedang belajar, Pak.” Kata Rocky begitu penjaga perpustakaan menghampiri kami, sembari membawa sebuah catatan di sebelah tangannya. Jantungku masih bertalu cepat karena kaget, tetapi cowok ini berhasil memasang tampang seakan-akan kami memang sedang menekuni buku untuk tugas kami.

“Ya sudah, selamat belajar.” Sang penjaga perpustakaan lantas meninggalkan kami ke tempatnya. Aku memandang Rocky penuh kagum, sementara laki-laki itu menunjukkan raut penuh kelegaan.

“Untung saja,” katanya setelah mendesah panjang. “Aduh, kau sih, diam terus! Coba kalau aku enggak refleks bangun.” Penjelasannya membuatku tersadar. Ah, benar juga! Kenapa aku diam saja dan malah asyik menatap wajah Rocky? Uh, untung saja kenyataan yang terakhir tidak diketahui―

“Atau jangan-jangan, kau malah memerhatikanku, ya?”

―atau mungkin … Rocky mengetahuinya?

Sepertinya aku sudah beneran edan!

“Sok tahu kau! Sudah ah, aku mau keluar! Kau enggak akan tidur lagi, kan?” aku berdiri dalam sekali sentakan. Sedangkan Rocky mendongak menatapku sambil terkekeh geli.

“Kita keluar bareng, deh.”

Seharusnya, aku lah yang lebih dulu keluar dari perpustakaan, jika Rocky tak meraih sebelah tanganku dan memimpin jalan menuju keluar. Oh, Ya Tuhan … sepertinya jantungku terasa semakin berulah. Aku tak mampu mengendalikan rasa gugup yang kian berdentam.

Kalaupun aku akan tak sadarkan diri karena ulah jantungku sendiri―

“Sore nanti kita mulai belajar main sepeda, ya?”

―aku akan menerimanya. Karena pada kenyataannya, ada Rocky di sampingku yang siap membawaku ke unit kesehatan dengan cepat. Dan setelah sampai di sana, aku akan langsung mengatakan keluhanku, bahwa jantungku berulah karena senyuman serta kekehan milik Rocky yang terlampau manis untukku.

Eh, atau jangan diberi tahu saja?

-oOo-

Hai, semoga kalian terhibur dengan FF yang kusajikan ini, ya. Maaf tulisannya enggak baku seperti biasanya😀

Tolong hargai karyaku dengan komentar kalian, ya. Kritik dan sarannya juga kuterima kok ^^

Makasih buat yang udah baca ♥

4 responses to “[Vignette] Ideal Type by ShanShoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s