[Oneshot] Paradoksal pada Biru

paradoksal-pada-biru

a fan fiction by Jung Sangneul

// Paradoksal Pada Biru //

starring(s) [BTS] Suga and some OC(s) genre Surrealism, Fantasy, Family, Childhood, AU length Ficlet rating PG-15

Disclaimer: BTS’ member in this story are belong to God. Some OC(s) and the storyline is purely mine. Dont take it without my permission. Plagiarism is prohibited.

.

Lebam itu tetaplah simbol, yang lama kelamaan akan ditiadakan oleh kelelahan kami, kemajuan zaman, serta kekaburan persepsi akan keberadaan Dia.

.

.

 

            Orang-orang tua di kota ini lebih memilih diam sebagai alternatif, ketika kemarahan melanda batin. Entah, padahal kekuatan amarah itu terasa membakar ubun-ubun dan sanggup memerahkan wajah seketika akibat aliran darah yang naik.

Namun, tidak ada orang tua yang berani menyemburkan ego itu pada buah hati mereka. Anak-anak yang dengan polosnya melukai batin dan membuat khawatir setiap hari. Tanpa jeda atau spasi.

Begitu juga dengan Tuan Min, seorang pedagang yang baru pulang dari perjalanan jauh menjajakan satu pikulan kulit kudanya, harus menelan pil pahit. Pantatnya baru saja bisa menyentuh kursi kediamannya ketika mendapati sang anak pulang dengan kaki tertatih-tatih.

“Kenapa kakimu?” tanyanya. Tidak hangat, namun juga tidak terdengar beku.

Sang anak yang masih meletakkan sepatu di rak membalas dengan sapaan, “Ayah sudah pulang?”

“Kaubisa lihat sendiri,” sahut ayahnya pendek, “kakimu kenapa, Yoon?”

Yang disebut “Yoon” diam sejenak. Berusaha merangkai kata-kata paling tepat untuk menjelaskan kejadian beberapa hari yang lalu, ketika ayahnya tak juga kembali dari pekerjaannya berdagang. Ia tahu, kakinya tidak mungkin bisa sembuh tepat saat ayahnya menghabiskan dagangan kulit-kulit kudanya. Mau tak mau, ia sudah menyiapkan kedustaan.

“Jatuh, di lapangan sekolah.”

Karangan itu terdengar tidak buruk. Setidaknya, ayahnya tidak perlu tahu kalau berhari-hari yang lalu ia memiting temannya yang mengatainya dungu. Sebagai balasan, ia didorong keras-keras hingga mencium tanah. Untunglah, bekas luka di ujung bibir sudah hilang dengan cepat.

“Sini, ayah lihat.”

Yoongi, nama anak laki-laki itu menarik kursi untuknya duduk di hadapan Tuan Min. Ayahnya meneliti kakinya yang sama sekali tidak luka—tentu saja, hanya keseleo karena dorongan “babi gendut” itu.

“Lain kali hati-hatilah.”

Ia mengangguk.

Namun, memang keberuntungan sedang tidak berpihak hari itu. Dari balik pintu, sosok gurunya yang sudah hampir botak berjalan pelan-pelan. Seperti bom waktu, meledakkan diri bahkan sebelum Yoongi beranjak dari kursi.

“Selamat siang, Tuan Min.”

Tentu saja, usai percakapan singkat itu, bukan lagi kaki Yoongi yang sakit. Tapi, hatinya yang menderita luka, meski ia tahu belum sampai berdarah-darah. Seperti orang-orang tua lainnya, ayahnya menahan ego itu keluar lebih banyak lagi. Meski sambil mendengus-dengus tak rela, diakhiri jua kelakar amarahnya.

“Masuklah ke kamarmu, dan jangan membuat ulah lagi besok-besok! Apalagi berbohong.”

Frasa terakhir terdengar betul-betul dingin. Ayahnya memang tak pernah hangat, tapi Yoongi tidak sebodoh itu untuk tahu nada kecewa yang digunakan beliau.

Maafkan aku, Ayah. Dewa, tolong ampuni Ayah, mohon Yoongi malam itu dalam hati.

***

Ada seorang teman di sekolah, biasa dipanggil Hong. Ke mana-mana, ia selalu bersama seorang gadis bernama Klavier. Memang, namanya lebih mirip makanan anjing, tapi cantiknya bukan main. Sayangnya, Yoongi tahu kalau di sekolahnya yang berjenjang tujuh tahun—ya, memang selama itu, dan itu ditambah dengan kenyataan bahwa kelas mereka hanya dirombak tiga tahun sekali—mereka hanyalah biang omong.

Jadi, alih-alih berusaha merebut prestasi, justru yang mereka lakukan hanya berbincang-bincang. Yoongi yang tidak suka urusan mulut tidak pernah ikut melingkar di meja mereka, kendati banyak teman yang tertarik untuk bergabung. Semua bergantung apa yang sedang diobrolkan.

Klavier sendiri punya banyak sekali topik. Tidak hanya A sampai Z, dia bisa saja membuat abjad baru untuk menunjukkan betapa banyak yang bisa diperbincangkan. Gaya suaranya yang khas, bersama dehaman Hong yang tertarik adalah sensasi angkuh yang menarik banyak pasang mata di penjuru kantin, kelas, atau teras kelas.

“Wah, aku baru saja bisa membuat mata orang tuaku lebam biru lagi. Aku cinta sekali warna itu, Hong.”

“Oh, ya? Bagaimana caranya?”

“Memangnya kau tidak pernah?” Klavier terdengar terkejut.

Hong menggeleng. “Aku juga ingin melakukannya, biar mereka berhenti mengatur-aturku.”

Satu-dua anak mulai mendekat, sementara Yoongi yang mendengar pembicaraan itu sayup-sayup tidak ambil pusing. Tetap memakan mi yang dia pesan sambil menikmati langit kemerah-merahan kota ini. Kota yang tidak dilewati biru sama sekali di atasnya.

“Tentu mudah saja.”

Telinga-telinga dipasang semakin mendekat, penasaran sekaligus ingin verifikasi.

“Terlukalah, Hong,” Klavier berbisik misterius.

“Untuk apa?”

Tawa Klavier yang manis itu berderak. “Tentu saja untuk memunculkan biru itu. Biru lebam yang selamanya tidak akan berubah warna menjadi nila atau violet. Hanya biru, dan tidak akan bisa hilang.”

Yang menonton pembicaraan mereka ber-wow takjub. Sebagian baru mengerti rahasia itu, sedangkan yang lain akhirnya mendapat verifikasi mengapa anggota tubuh orang tua mereka bisa berubah biru seperti itu.

“Dan, apakah rasanya sakit buat mereka, Kla?”

Klavier mengedikkan bahu. “Seharusnya iya. Kata Miss Paula, lebam akan selalu terasa sakit, bahkan jika tidak berbekas. Apalagi berbekas seperti itu.”

“Mengapa Dewa memberi hukuman sekeji itu?”

Kali ini, Hong yang menjawab pertanyaan iseng itu. “Tentu saja karena Dewa mencintai anak-anak seperti kita. Orang-orang tua itulah yang tidak bisa merawat hati kita, melukai kita setiap hari.”

Yoongi berhenti menyendok minya. Yang tersisa hanya mangkuk kosong. Lekas ia meletakkan sekeping logam emas di meja, kemudian berpaling. Cukup sudah bualan yang memang fakta itu menyapa rungunya.

Kilasan-kilasan kejadian kemarin membentak-bentak memorinya. Apalagi, tadi pagi, ayahnya enggan keluar kamar. Dari celah-celah pintunya, Yoongi bisa mendengar erangan serta ringisan tertahan itu.

Ayahnya kesakitan. Itu karenanya.

***

Cerita Hong dan Klavier tentu akan menjadi dongeng di seluruh penjuru sekolah-tujuh-tahun itu. Beberapa siswa dengan sengaja menandai guru mana saja yang memiliki simbol biru itu, entah di mata, dahi, atau tangannya. Alhasil, semua yang memilih punya anak memang memiliki lebam-lebam itu, dua atau tiga bulatan biru. Yang tidak memilikinya, murid-murid percaya ada biru tersembunyi di bagian tubuh yang tak terlihat. Bersyukurlah mereka itu.

“Memangnya kau percaya kata Klavi itu, ya, Yoon?” tanya teman sebangkunya suatu waktu.

Yoongi hanya mengedikkan bahu. Batinnya sedang terluka, tapi ia yakin Dewa tidak menghadiahi biru di tubuh ayahnya untuk lukanya yang ini. Karena bukan kemarahan (yang bahkan beralasan) yang membuatnya sakit hati.

“Bagiku, Dewa tidak adil. Aku tidak percaya lagi dengan keyakinan orang-orang,” sahut Yoongi.

Lelaki di sebelahnya yang biasa dipanggil Jimin mengerutkan kening. “Mengapa?”

“Kau harusnya bisa melihat, Jimin,” ujar Yoongi. Setelah menarik napas, ia berhasil meyakinkan dirinya untuk meneruskan ceritanya. “Anak-anak bukannya suci, bahkan ego sudah menguasai pola berpikir mereka. Lihatlah Klavier yang tertawa senang saat induk semangnya justru kesakitan. Lihatlah anak-anak yang memanfaatkan kekuatan Dewa, mereka terluka untuk melukai orang yang merawat mereka. Tidakkah itu dinamakan ego?”

“Lantas, dengan tidak adilnya Dewa hanya menghadiahi biru itu pada orang tua? Kapan kita bisa kenal hukuman, jika begitu? Saat sudah tua seperti mereka juga? Menurutku, sirkulasi ini tidak akan berhenti kalau ego itu tidak dipangkas dari kita kecil. Saat kita dewasa, menjadi orang tua, ego itu akan berkembang sebesar naga, dan telanjur susah dijinakkan.”

Jimin yang mendengarnya mencelos seketika. Tidak terdengar seperti bocah umur belasan tahun, ketika Yoongi berbicara panjang tadi.

Jimin tidak tahu, bahwa sejak hari itu, Yoongi telah mengingkari arus keyakinan yang diwariskan turun-temurun oleh leluhurnya, berupa kepercayaan pada Dewa Pengatur Kota. Dan, sampai kapan pun, ia akan menyelisihi peraturan simbol biru itu.

Karena ia terluka saat melihat lebam biru itu menghiasi pipi kanan ayahnya. Ayahnya yang wajar marah akibat kelakuannya. Bentuk kecemasan tak terperi hanya sebab kakinya yang sakit.

***

Bagi warga kota ini, tidak lagi tabu memakamkan orang-orang tua dengan lebam biru di sekujur tubuhnya. Mereka akan dibalut kain, hingga wajah dan seluruh lebam itu tertutupi. Namun, tidak dapat dielakkan, ada saja desas-desus yang dilancarkan pelawat, memperbincangkan sejahat apa si mati pada anaknya.

Begitu pula ketika mereka melihat pejalan kaki yang sudah tua dan ringkih dengan biru-biru di wajah dan tangannya. Dengan segera, warga kota menjustifikasi bahwa orang tua itu pernah menelantarkan anaknya, hingga saat tua tak ada lagi yang merawatnya. Hingga ia berakhir menjadi musafir.

Berbeda dengan semuanya, Yoongi yang sudah mengubah betul prinsipnya sejak ia remaja menolak ketika pelawat hendak menutupi satu luka itu. Luka yang menjadi alasannya terluka.

“Aku tidak tahu bagaimana ibu dimakamkan. Tapi, tolong, lebam ayah yang ini jangan ditutupi,” sanggah Yoongi, “beliau hanya punya satu biru, ini saja.”

Terserah pelawat-pelawat itu mau percaya atau tidak. Tapi, hati Yoongi memang telah mati untuk luka yang bersumber dari kemarahan. Lebih-lebih, sejak lebam itu ada, ia tidak pernah berani lagi membuat ayahnya marah. Atau mungkin saking sakitnya satu lebam itu, ayahnya menahan amarahnya sebisa mungkin.

Air mata Yoongi menitik setetes tadi pagi, ketika tangan ayahnya telah terasa dingin dalam genggaman.

Sempat ayahnya bertanya semalam, “Kapan kau menikah, Yoon?”

Demi tidak ingin mengecewakan sang ayah, ia menjawab, “Minggu depan, Ayah. Bertahanlah sampai minggu depan agar bisa melihatnya.”

Tetapi, tekadnya bulat sudah. Ia tidak akan menikah. Bukan, ia bukan kehilangan rasa cinta. Juga bukan takut pada lebam biru itu. Biru yang telah menjadi simbol bagi setiap orang tua.

Lebih tepatnya, ia takut melukai hati anaknya hanya karena melihat lebam konyol itu. Atau ia takut akan melukai hati anaknya akibat egonya yang berkobar-kobar. Ia juga takut wanita yang dicintainya ikut biru bersamanya, dan membuat anaknya semakin terluka.

Ia memang tidak lagi memercayai Dewa Pengatur Kota. Namun, apa dayanya bila memang fakta berkata bahwa kutukan lebam biru itu memang ada? Lebam biru itu memang nyata dan tidak dibuat-buat, berapa kali pun ia mendustakannya.

Maka, cukuplah ia menyimpan cinta itu dalam dada, tidak untuk disejatikan.

 

Setelah makam ayahnya kering, dan ia pun mengering bersama sisa usianya, banyak sekali warga kota yang berbondong-bondong menentang Dewa.

Yoongi-lah pelopornya.

 

fin.

15 responses to “[Oneshot] Paradoksal pada Biru

  1. ini tuh bagus sekali, berasa baca cerpen2 kompas/koran elit lainnya. Terus juga filsafat. meskipun aku kurang ngerti darimana asalnya lebam biru itu kalau bukan krn kutukan dewa(?). soalnya kan manusia baru bisa lebam2 kalau dipukul (?) tapi makna lain dari cerita ini udah bisa diambil kok (?)

    • Noooo. Belum sampai di taraf itu, kok. Masih surealis amatir ini mah. Yap, memang itu karena kutukan dewa aja sihh hehe. Wah ga kepikir sampai sana tuh. mungkin di negeri itu kalo dipukul bukan lebam biru tapi lebih ke ungu ((lah kok bikin cerita lanjutan wkwk)) Anyway terima kasih sudah membaca🙂

  2. Dalem banget ini isi ceritanyaa aku suka aku suka. Bahasanya keren, tata kalimatnya keren.. Ah keren pokoknya.

    Aku tunggu ff kamu yg selanjutnya, semangat nulisnya author ^^

    • Maksudnya yaah cuma perkara kebijakan Dewa yang kurang adil dan berakhir ditentang sama penduduk kota. Memang genre surrealism tidak bisa dilogikakan kebenarannya karena menabrak batas riil dunia🙂 Anyway terima kasih sudah membaca.

  3. Sedikit banyak aku ngerti kok apa maksudnya, tema anak-orang tua kyk gini tuh emang favorit aku jg, krn yaa ga kan ada habisnya, bikin dilema, seneng, sedih, marah, campur aduklah pokoknya. Apalagi masalah ego kayak gini, masalah adil dan ga adil, terus yg terakhir nyinggung2 nikah omg aku bapeeer….
    Nice storylah pokoknya ini mah ^^

  4. Oke… annyeong authornim… Surealism and Absurdism lover here…😛
    q suka bgt dengan cerita ini.. perlu konsentrasi, imajinasi, dan interpretasi untuk memahami apa maksud dari ceritanya… Huhu Thanks for giving this amazing story! for Next other absrud & surealis genre please I beg U published as soon as is possible. Will U? hehe *ReaderRepot

  5. Bagus banget author, yah biarpun perlu mikir lama bahkan smpe bacanya 2 kali tapi puas akhirnya bisa mulai memahami maksud dari tulisannya. Surealis banget lah ini pake simbol simbol😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s