Unspeakable Secret | 8th Chapter

unspeakable mancay

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

 

STORYLINE BY NISA

POSTER BY dyzhetta @ Art Fantasy

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 17

 

Previous Chapter

[BAB 1] || [BAB 2] || [BAB 3] || [BAB 4] || [BAB 5] || [BAB 6] || [BAB 7]

 

HAPPY READING😀

 

Sehun dan Leera sudah kembali dari Turtle Island. Kini keduanya sedang mendaftar untuk menaiki wahana watersport yang sudah mereka pilih. Salah satunya adalah banana boat, flying fish dan parasailing. Namun Leera memilih untuk tidak berpartisipasi pada wahana banana boat karena ia tidak bisa berenang dengan baik. Akhirnya ia hanya mendaftar untuk wahana parasailing dan flying fish.

Setelah menunggu giliran menaiki parasailing sekitar lima belas menit, akhirnya kini giliran Sehun untuk terbang dengan parasutnya tiba. Ya, Sehun yang akan terbang lebih dulu. Keduanya sama-sama sudah mengenakan pelampung serta pengaman lainnya seperti sarung tangan dan lain-lain saat ini.

Sebelum benar-benar terbang, dua orang pria pribumi terlihat memberikan beberapa instruksi pada Sehun dengan bahasa lokal—bahasa Thailand yang disertai dengan beberapa isyarat tubuh. Sepertinya Sehun cukup mengerti dengan bahasa lokal karena ia terlihat menganggukkan kepalanya seiring instruktur menjelaskan hal-hal yang harus dilakukan di atas sana. Wajar saja, karena sepertinya bukan satu dua kali Oh Sehun ketempat ini, pikir Leera.

Sehun perlahan lahan mulai mendekat ke langit indah di atas sana dan menjauh dari daratan. Leera hanya bisa memandang penuh kagum membayangkan bagaimana serunya di atas sana walaupun sebenarnya ia juga membayangkan bagaimana seramnya terbang di ketinggian yang cukup tinggi seperti itu.

Sehun terlihat begitu menikmati pemandangan yang ia dapatkan saat ia terbang tadi. Buktinya pria itu tak henti-hentinya tersenyum sumringah saat ia berhasil mendarat kembali kedaratan. “Kau… benar-benar akan melihat surga dunia diatas sana, Leera-ya. Kau tidak akan menyesal pernah menaiki wahana ini,” seru Sehun dengan semangat.

“Benarkah? Aku tidak mungkin jatuh, kan?” tanya Leera ragu-ragu. Melihat Sehun yang kembali dengan tubuh yang lengkap dan sehat sebenarnya sudah cukup membuat Leera melupakan rasa takutnya, tapi tetap saja…

Sehun tidak menjawab, pria itu hanya menggelengkan kepalanya sembari menepuk bahu Leera beberapa kali. Setelah itu Leera mulai dipasangi dengan peralatan-peralatan yang akan membawanya terbang keatas sana. Tak lama kemudian sang instruktur memberikan instruksi persis seperti yang mereka berikan pada Sehun, namun Leera sama sekali tidak mengerti apa yang pria berambut emas sebahu ini katakan. Leera menoleh ke arah Sehun dan berkata tanpa suara dengan wajah merengek, “Aku tidak mengerti.”

Sehun mendekat kearah Leera dan menjelaskan pada gadis itu, “Jadi, apabila pria ini mengangkat bendera merahnya kau harus menarik kencang tali di tangan kananmu, lalu sebaliknya apabila pria ini mengangkat bendera birunya berarti kau harus menarik perlahan tali di tangan kirimu,” jelas Sehun.

Leera mengangguk-anggukan kepalanya dan memastikan bahwa ia mengingat jelas instruksi tersebut. Karena apabila ia lalai sedikit, bisa saja parasutnya terjun bebas kebawah sana. “Dan yang terakhir… kau harus melepaskan peganganmu di kedua tali apabila pria ini menyilangkan bendera biru dan merah, oke?” tambah Sehun terakhir kalinya.

“Baiklah, terimakasih,” jawab Leera. Setelah itu ia memberikan aba-aba dengan mengacungkan jempolnya pada dua orang pria tersebut yang berarti ia siap terbang.

Dalam hitungan detik, tubuh ringkih Leera berhasil ditarik keangkasa oleh parasut berwarna merah-kuning tersebut. Sehun terlihat menyeringai di tempatnya.

Tunggu…

Sehun menyeringai? Oh jangan bilang…

“Ya, kau akan melihat surga sebentar lagi, Stellee. Karena mungkin kau mati tenggelam…” gumam Sehun masih dengan seringaian khasnya.

Perlu kalian ketahui, sebenarnya Sehun memberikan instruksi yang berbanding terbalik pada Leera. Harusnya, saat instruktur mengangkat bendera merah maka Leera diperintahkan untuk menarik perlahan tali di tangan kirinya, sedangkan saat instruktur mengangkat bendera biru Leera harus menarik kencang tali ditangan kanannya. Dan yang terpenting… saat instruktur menyilangkan kedua bendera tersebut, tandanya Leera harus menarik sekencang-kencangnya kedua tali tersebut agar parasut bisa kembali kedaratan dengan selamat. Apabila kalian tidak menarik kedua tali tersebut dengan kencang saat instruktur menyilangkan bendera, makan kalian akan berkemungkinan besar akan mendarat di tengah laut atau jika beruntung akan mendarat di bibir pantai namun dalam posisi tersungkur.

Sesuai perkiraan awal, saat sang instruktur mulai menaikkan bendera merah dan Leera justru menarik tali di tangan kanannya, parasut Leera terlihat mulai bergerak tidak stabil dan sang instruktur pun berteriak sebisa mungkin untuk memberi isyarat bahwa tali yang Leera tarik salah. Namun karena jarak yang cukup jauh, Leera tidak mengindahkan teriakan dari instruktur itu sama sekali.

Apalagi saat kini sang instruktur menyilangkan kedua benderanya Leera justru melepaskan pegangannya pada tali parasut tersebut. Seketika suasana di darat dibuat cukup heboh karena ulah Leera. Perlahan-lahan dapat kita lihat bahwa parasut Leera mulai berhenti berkibar dan mulai membawa Leera turun kearah tengah lautan.

Leera benar-benar ketakutan saat ia merasakan bahwa hal aneh sedang terjadi. Ya, parasutnya tiba-tiba saja meluncur kebawah setelah ia melepaskan kedua tangannya. Semakin kebawah, tubuhnya semakin meluncur dengan cepat dan sialnya ia baru menyadari bahwa pelampungnya tidak terpasang dengan sempurna.

“Tuhan, aku harus apa?” tanya Leera dalam hatinya dengan jantung yang berpacu kencang setengah mati.

Leera merasakan kini tubuhnya mulai tersedot kedalam air hingga ia kini kakinya dapat merasakan tajamnya karang laut dibawah sana. Leera berusaha membuka matanya sebisa mungkin untuk menyelamatkan dirinya, namun karena tingkat garam yang cukup tinggi dipantai ini, saat Leera membuka matanya, maka akan terasa perih setengah mati.

Leera tidak peduli jika setelah ini ia harus buta karena matanya terlalu terkontaminasi oleh garam yang terkandung di air laut ini. Ia juga tidak pedul pada kakinya yang ia rasa kini sudah terluka karena ia berusaha menendang batu karang yang cukup tajam dibawah sana untuk mendorong agar tubuhnya mencapai permukaan air laut.

“Aku ingin hidup, Tuhan. Tolong selamatkan aku…” lirih Leera begitu saja dalam hatinya. Ia rasa ia harus menemui ajalnya saat ini juga karena ia mulai kehabisan nafasnya dan merasa seperti dicekik dengan kencang dibagian lehernya kali ini. Ya, ia kekurangan oksigen.

GREB

Bunyi sebuah mesin tiba-tiba menggema ditelinga Leera dan ia merasa bahwa tubuhnya tiba-tiba ditarik keatas dengan susah payah hingga kini hembusan angin pantai kembali mengenai permukaan wajahnya.

Semakin keatas ia mendengar bunyi mesin jetski semakin jelas dan berhasil membuatnya sedikit terbangun dari ketidaksadarannya. “Leera-ya, aku mohon bertahanlan. Kau harus bertahan, Stellee!!” seru seseorang.

Stellee…

Panggilan yang hanya diberikan oleh seseorang, dan Leera yakin betul bahwa saat ini yang sedang mendekapnya kedalam sebuah pelukan adalah Oh Sehun. Pencipta nama panggilan yang sangat ia sukai, Stellee.

‘Oh Sehun… menyelamatkan nyawaku lagi untuk yang kedua kalinya…’ batin Leera dalam hatinya sebelum ia merasa seluruh pasokan oksigennya tersedot habis.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Bel makan siang merasuki indera pendengaran seluruh karyawan yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tentunya bel tersebut juga berhasil terdengar oleh telinga si mungil ; Byun Haeyoung.

Haeyoung menutup laporan yang sejak tadi ia kerjakan dan membereskan beberapa peralatan-peralatan lainnya yang agak berserakan di hadapannya. Setelah itu ia meraih tas cokelat berukuran sedang yang berada di atas mejanya dan merogoh tas tersebut lalu mengeluarkan sebuah kotak pink metalic berbentuk bulat; bb cushion.

Ia lantas membuka kotak berbentuk bulat tersebut dan bayangan wajahnya langsung terlihat melalui kaca kecil yang menempel di bagian kepala kotak tersebut. Tangannya dengan lincah menata bedak tersebut perlahan-lahan ke permukaan wajahnya. Tak lupa, ia juga memoleskan lipstick two-tone keluaran Laneige yang saat ini tengah menjadi tren di Korea Selatan.

“Sudah cantik kok, Tuan Putri.”

Haeyoung langsung mendongakkan kepalanya kala sebuah suara yang terdengar begitu dekat menyapa telinganya. Aura wajah gadis itu langsung berubah masam kala ia menemukan sesosok pria di balik balutan kemeja merah marun tersebut kini tengah berdiri di hadapannya sembari berpangku tangan yang sikutnya tertumpu pada meja kubikel milik Haeyoung.

“Ayo makan siang!” ajak pria itu bersemangat. Ya, kalian tidak salah lagi, dia adalah Park Chanyeol.

“Sejak kapan kita membuat janji untuk makan siang bersama?” balas Haeyoung acuh. Dengan senyuman lebarnya yang tak pernah sirna itu, Chanyeol kembali menjawab, “Sejak… detik ini?”

“Tapi aku tidak mau makan siang denganmu. Yang ada nafsu makanku bisa hilang selama-lamanya,” ucap gadis itu; menghindari tatapan Chanyeol sebisa mungkin.

“Aku yang traktir, ayolah…” ajak Chanyeol yang masih bersikeras untuk menghabiskan waktu makan siangnya hari ini bersama Haeyoung.

Haeyoung kini memberanikan diri untuk menatap langsung mata Chanyeol yang sejak tadi ia hindari; melayangkan tatapan menantang pada pria itu. “Kau akan menyesal bersedia mentraktirku. Kau tahu, aku makan banyak sekali dan aku anti dengan makanan pinggir jalan!!”

Up to you. Kau ingin makan di luar negeri pun akan aku turuti. Because  you should know, baby, menatapmu sembari makan benar-benar menaikkan nafsu makanku lima ratus persen,” goda Chanyeol yang diikuti dengan kerlingan mata genit di akhir.

Baby, baby. Kau sangka aku bayi? Sejak kapan aku terlahir menjadi bayimu? Sudah jelas aku anak seorang Byun, bukan Park.” Haeyoung memutar bola matanya dengan malas. Ia meraih tas cokelatnya dan menyampirkan tas tersebut di lengan kirinya.

Haeyoung melangkah meninggalkan meja kubikelnya dan menuju ke pintu keluar ruangannya. Tanpa pikir panjang, Chanyeol langsung menyetarai langkahnya dengan Haeyoung dan seenaknya saja pria itu melingkarkan lengannya di bahu Haeyoung yang berhasil membuat seluruh karyawan yang melihat dan mengenal mereka saling berbisik satu sama lain.

“Kau memang bukan terlahir dari Park. Tapi suatu saat nanti, kau akan melahirkan seorang atau bahkan dua dan tiga orang Park.”

Haeyoung langsung menghentikan langkah kakinya tepat dua detik setelah Chanyeol mengakhiri perkataannya. Karena kalian tahu sendiri bahwa perkataan Chanyeol barusan benar-benar menggelitik. Bahkan ia sendiri tidak bisa memungkiri bahwa jantungnya dibuat berparade kecil mendengar perkataan di telinga lebar itu.

“Terus saja lanjutkan perkataanmu. Tapi jangan salahkan aku jika tasku ini kujejalkan kemulutmu secara paksa,” balas Haeyoung yang sebisa mungkin terlihat sebal dan jijik dengan perkataan Chanyeol, padahal kenyataannya ia cukup tersipu dengan perkataan pria itu.

Chanyeol terkekeh kecil lalu tangannya terangkat untuk mengacak pelan rambut Haeyoung. “Aigoo, Nona Galak-ku memang tidak pernah berubah ya.”

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

Chanyeol berhasil mewujudkan keinginannya untuk makan siang bersama Leera siang ini. Pada akhirnya mereka memilih untuk mengganjal perut mereka dengan makanan khas itali yang notabene adalah tempat kencan favorit mereka sejak dulu.

Gino’s NY Pizza.

Dengan antusias ia memesan seporsi pizza berukuran sedang yang biasa di sajikan untuk porsi tiga sampai empat orang. Tak lupa juga ia memesan kentang goreng dan nachos yang berlumur saus keju leleh diatasnya. Benar-benar menu kesukaan mereka sejak dulu.

Setelah sekitar dua puluh menit menunggu, pesanan mereka datang dan dengan lahap keduanya langsung menyantap hidangan-hidangan yang begitu menggugah selera tersebut.

“Ah, sudah lama aku tidak kesini. Rasanya benar-benar tidak berubah sama sekali!!” pekik Haeyoung tanpa sadar di sela-sela aktivitas mengunyah kentang goreng kejunya.

“Kalau besok-besok kau mau kesini lagi, aku bersedia kok mengantarkanmu, hehe,” sahut Chanyeol yang selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan.

“Sayangnya, aku tidak mau lagi pergi kesini denganmu. Kalau Leera sudah pulang nanti, aku akan mengajaknya kesini.” Haeyoung langsung melayangkan senyuman miringnya kearah Chanyeol dan mulai melahap potongan pizza keduanya.

“Eii, Leera tidak terlalu suka makanan Itali. Lebih baik kau ajak aku saja, pilihan yang paling tepat dan bijaksana.”

Haeyoung memilih untuk tidak membalas perkataan Chanyeol. Karena sumpah demi apapun, ia sedang ingin makan dengan tenang. Lagipula, Haeyoung juga baru menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya ia bisa makan dengan lahap tanpa merasa mual sama sekali setelah insiden  yang membuat perpisahannya dengan Chanyeol tersebut. Mungkinkah… karena kali ini ia makan sembari ditemani oleh Chanyeol?

‘Tidak, tidak. Berhenti berpikir bodoh, Byun Haeyoung,’ ucapnya dalam hati.

Gadis itu lalu meraih segelas root beer dan tanpa sadar meneguknya tergesa-gesa. Tiba-tiba ia sedikit tersedak lalu merintih sembari memegangi perut bagian bawahnya. Sontak, Chanyeol bangkit dari tempat duduknya dan pindah ke sebelah Haeyoung. “Hei, kau kenapa?” pria itu mengelus punggung Haeyoung; berharap dapat mengalirkan kekuatannya dan sedikit meringankan rasa sakit Haeyoung.

“Air putih…” rintih gadis itu.

Dengan cepat Chanyeol meraih sebotol air mineral miliknya langsung diberikan pada Haeyoung. “Minum, Haeyoung-ah. Perlahan-lahan,” titah Chanyeol dan tentu saja dituruti oleh gadis itu.

Tak terasa, mereka sudah menghabiskan waktu sekitar satu jam di tempat ini. Jujur, Chanyeol begitu bahagia hari ini. Karena pada akhirnya ia bisa makan satu meja lagi dengan Haeyoung. Berbincang cukup lama dengan gadis itu; well, walaupun Haeyoung sering kali menjawabnya dengan sinis. Tapi tak apa, setidaknya gadis itu masih mau membalas perkataan-perkataan konyolnya. Ah, kalian juga harus tahu. Kalau tadi, Haeyoung sempat tertawa kecil dengan beberapa candaan konyol yang menggelikan dari Chanyeol.

“Setelah ini bagaimana kalau kita ke Humming Bella?” ajak Chanyeol seraya bangkit dari tempat duduknya.

Awalnya mata Haeyoung terlihat begitu senang saat mendengar ajakan Chanyeol, namun setelah ia melirik ke arah jam tangannya, ekspresi senang tersebut langsung sirna karena ia ingat kalau mereka berdua sudah melampaui batas waktu makan siang lebih dari tiga puluh menit.

“Tapi jam makan siang sudah berakhir tiga puluh menit yang lalu, Yeolda. Padahal aku sangat ingin kesana. Dengar-dengar dari teman satu rumahku, tempatnya benar-benar bagus,” ucapnya penuh kekecewaan.

Bukannya membalas perkataan Haeyoung, Chanyeol kini justru terdiam di tempatnya. Kalian sadar kenapa? Karena panggilan itu… akhirnya keluar lagi dari mulut Haeyoung. Entah gadis itu sendiri sadar atau tidak.

“Persetan dengan urusan kantor. Untuk hari ini, ijinkan aku menjadi karyawan yang tidak teladan. Lagipula Ilhwa Group tidak akan hancur tanpa kehadiran kita berdua selama beberapa jam kedepan,” tukas Chanyeol sembari menggedikan bahu.

Saat Chanyeol dan Haeyoung sedang berjalan beriringan menuju ke kasir, mereka berpapasan dengan seorang gadis berperut sedikit buncit yang dibalut oleh dress polos pas badan berwarna hijau tentara.

Moon Gayoung, mantan pacar Chanyeol yang menjadi faktor utama perusak hubungan Chanyeol dan Haeyoung beberapa bulan yang lalu.

“Chanyeol? Haeyoung?” ucap wanita itu sembari mengelus-elus perutnya.

Chanyeol dan Haeyoung sama-sama menampakkan wajah terkejut mereka saat mendapati keberadaan Gayoung tersebut. Ditambah lagi dengan kondisi Gayoung dengan perut buncit yang Haeyoung yakin betul bahwa di dalam sana terdapat seorang jabang bayi.

Seketika pikirannya langsung bercabang kemana-mana. Tubuh Haeyoung mulai bergetar bahkan matanya mulai terasa panas namun sekeras mungkin ia berusaha menahan air matanya dengan cara mengerjapkan matanya berulang-ulang. Oh ayolah, tidak salah bukan jika Haeyoung berpikiran bahwa Haeyoung sedang mengandung bayi Chanyeol? Hasil dari perbuatan kotor mereka malam itu?

“Gayoung-ssi? Kau… kau… itu…” Haeyoung terbata-bata sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah perut Gayoung yang terlihat jelas sedikit membuncit karena ia mengenakan dress pas badan.

Gayoung yang sadar dengan maksud Haeyoung langsung tersenyum dan menjawab, “Ah, ya. Aku sedang mengandung. Usia kandunganku tiga bulan.”

Chanyeol dan Haeyoung masih bergeming ditempat mereka tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Mungkin mereka masih asik berperang dengan pikiran mereka sendiri, berperang melaawn spekulasi-spekulasi yang berputar layaknya kaset model lama di benak mereka.

Menyadari penyebab dari kecanggungan yang menjadi pengisi di antara mereka, Gayoung kembali buka suara. “Tenang, apa yang ada di pikiran kalian saat ini sama sekali tidak benar. Ini bukan anak Chanyeol. Itu ayahnya—“ Gayoung menunjuk ke arah seorang pria tampan yang baru saja memasukki restoran tersebut.

Oppa, perkenalkan. Mereka adalah teman lamaku, Park Chanyeol dan Byun Haeyoung,” ucap Gayoung pada pria berkaos polo berwarna merah yang kini ia gandeng lengannya.

“Hai, aku Changmin. Senang bertemu dengan kalian.”

“Oh ya, akhir bulan depan aku dan Changmin Oppa akan melangsungkan pernikahan kami. Aku harap kalian berdua bersedia datang ke acara pernikahan kami,” ucap Gayoung lagi.

Chanyeol yang sejak tadi belum berkata apa-apa mulai membeo. “Tentu saja kami akan datang. Anyway, selamat atas pernikahan kalian, semoga semuanya lancar, kami turut bahagia.”

Gomawo, Chanyeol-ah. Kalau begitu, nanti ku kirimi undangannya ya,” balas Gayoung.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Oh apakah ini mimpi? Mengapa saat ini Leera merasakan bahwa ada benda kenyal yang sedang menempel dan meniupkan udara kedalam tenggorokannya yang sesak saat ini. Leera ingin membuka matanya memastikan apa yang terjadi saat ini tapi sialnya alam bawah sadarnya belum mengizinkan dirinya untuk meninggalkan mereka.

Akhirnya Leera hanya bisa menikmati sentuhan-sentuhan terputus dibibirnya dan juga pasokan oksigen buatan tersebut yang perlahan-lahan mulai menghilangkan rasa sesak ditenggorokannya. Bahkan kini ia merasakan bahwa akan ada sesuatu yang menyembur keluar dari dalam mulutnya.

Tak ketinggalan juga Leera merasakan bahwa kini dadanya sedang dipompa beberapa kali oleh sesuatu yang cukup besar, dan syukurnya itu membuat Leera mulai kehilangan rasa sesak yang sedari tadi seakan ingin melahap habis nyawanya.

UHUK UHUK

Air mulai menyembur dari dalam mulut Leera setelah Sehun memberikan nafas buatan yang ke lima kalinya diikuti dengan CPR yang ia lakukan. Sehun langsung memasang wajah sumringahnya—yang sulit ditebak ini tulus atau tidak, melihat Leera yang perlahan mulai membuka mata sayunya.

Stellee!! Akhirnya kau sadar!! Terimakasih, Tuhan!!” pekik Sehun sembari mengguncangkan bahu Leera yang masih terbujur lemah beberapa kali.

“Kau masih mengingat semuanya ‘kan? Kau masih mengingat aku ‘kan?” tanya Sehun dengan dahi berkerut.

“Kau… siapa?” tanya Leera dengan suara yang terdengar kurang jelas. Sontak Sehun membulatkan matanya mendengar perkataan Leera. Oh ayolah, bagaimana bisa tenggelam membuat orang amnesia? Bahkan kepala Leera tidak terbentur sama sekali.

“Kau… jangan bercanda, Leera-ya. Aku Oh Sehun, kau harus mengingatku!!” Sehun kini mencengkram bahu Leera dan memaksa gadis itu untuk terduduk.

Dengan wajah yang masih sama bingungnya, Leera menjawab, “Oh Sehun? Siapa?”

Sehun terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali dan setelah itu ia kembali mengguncang keras bahu Leera serta menempelkan telapak tangannya dikening Leera. “Ya! Ya! Kim Leera, jangan bercanda!! Kau tidak boleh melupakanku!! Aku Oh Sehun… aku… aku… kekasihmu,” ujar pria itu dengan sedikit cengiran tak tahu malu diujung katanya.

Leera memasang wajah jijiknya sembari menempeleng kepala Sehun. “Ya! Kau bilang apa barusan? Jangan berani-beraninya kau membohongiku karena kau pikir aku amnesia. Oh terima kasih Tuhan, karena aku tidak benar-benar amnesia. Bisa saja aku ditipu habis-habisan oleh pria gila ini!!”

Setelah itu Leera berusaha untuk bangkit dari duduknya, namun ia langsung meringis kesakitan dan mau tak mau ia mendudukan kembali dirinya. “Kau kenapa, Leera-ya?” tanya Sehun yang tadinya hendak berdiri mengikuti Leera namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Leera kembali terduduk sembari meringis.

Leera mengernyit sembari mengigit bibirnya yang tanpa gadis itu sadari hasrat lelaki milik Sehun tiba-tiba saja menghinggapi dirinya. “Kakiku sakit sekali…” lirih gadis itu.

Sehun langsung memeriksa bagian telapak kaki Leera dan ia mendapati beberapa goresan yang berhasil mengeluarkan darah tertoreh sembarang di telapak mungil Leera. Sehun sebenarnya ingin bersorak gembira melihat kaki Leera; yang tak disangka-sangka akan terluka separah itu, sebab rencana awalnya hanya sebatas menenggelamkan Leera karena lagi-lagi Leera menunjukkan kekurangannya dibidang renang, tapi entah kenapa Sehun merasa terlalu jahat apabila ia bersorak saat ini, padahal bukankah memang ia bertujuan jahat pada Leera?

“Astaga!! Kakimu berdarah. Kenapa bisa?” tanya Sehun yang semakin hari kemampuan aktingnya semakin bertambah baik. “Sepertinya terkena batu karang tajam dibawah sana,” jawab Leera.

Aigoo, lagipula kenapa kau bisa sampai mengalami kecelakaan seperti ini, huh? Bukankah aku sudah menjelaskan instruksinya? Kau melupakannya ya?” Lagi-lagi Sehun berakting dengan tampang sok khawatirnya yang sangat meyakinkan.

Leera menggelengkan kepalanya cepat, “Aku tidak melupakan instruksi yang kau berikan sedikitpun, Sehun. Tapi justru saat aku mengikuti instruksi darimu aku merasa bahwa parasutku mulai tidak stabil,” jawab Leera. Lalu Leera memicingkan matanya ke arah Sehun, “Kau… tidak salah memberiku instruksi kan?” tanyanya penuh selidik.

DEG

Sialan, kenapa kau tepat sekali, Bodoh. Ya, aku memang memberimu instruksi yang salah dengan sengaja, salah sendiri kau  terlalu bodoh dan menelan bulat-bulat instruksi dariku, batin Sehun. Tapi lagi-lagi kesabaran serta kemampuan bersandiwara Sehun harus diuji. “Eii, mana mungkin aku sejahat itu padamu. Kalau aku memang mengharapkanmu kecelakaan, aku tidak akan repot-repot menolongmu ke tengah sana,  lebih baik aku melihatmu mati tenggelam saja, right?” ujar Sehun dengan cengirannya yang terlihat sedikit masam. “—sebenarnya aku ingin melihatmu mati tenggelam saja tadi, tapi setelah kupikirkan dengan bijaksana, sepertinya aku masih kurang cukup bermain-main denganmu,” ralat Sehun dalam hatinya.

“Benar juga katamu. Anyway, thanks for being my savior for the second time, i owe you, Oh Sehun,” ujar Leera sembari tersenyum manis pada Sehun.

“Kau tidak perlu berterimakasih, ini bukan apa-apa,” jawab Sehun merendah. “Well, aku tidak bisa jamin kau akan tetap berterimakasih padaku atau tidak jika kau tahu bahwa ini semua rencanaku. Untuk kesekian kalinya Sehun hanya bisa membatin dan menyeringai tipis dibalik senyuman tulusnya.

Leera tertawa renyah, “Hei, sejak kapan kau merendah seperti ini? Bukankah biasanya kau percaya diri berlebihan?”

“Aku tidak merendah, aku hanya merasa bahwa melindungimu adalah salah satu kewajibanku karena aku menyukaimu. Prinsipku, aku akan melindungi orang yang aku sukai bagaimanapun situasinya,” jawab Sehun. Oke, biarkan kali ini ia sedikit mengeluarkan gombalan untuk membuat gadis dihadapannya ini tersipu.

Dan kali ini sepertinya Sehun berhasil karena ia dengan jelas mendapati wajah Leera yang sedang merona malu. Bahkan Leera terlihat menyembunyikan wajah meronanya dengan cara menunduk. Tangan Sehun tergerak untuk menyentuh dagu Leera; bermaksud mengangkat wajah gadis itu agar tatapan mereka bertemu.

Perlahan tapi pasti Sehun mulai mendekatkan dirinya ke wajah Leera, ia juga memiringkan sedikit kepalanya memberi kode akan apa yang hendak ia lakukan. Saat wajah mereka semakin dekat, dengan bodohnya Leera justru menutup matanya dan tentu saja membuat Sehun bersorak kegirangan karena ia yakin bahwa ia sudah berhasil membuat Leera jatuh padanya.

Sehun awalnya membiarkan bibirnya menempel pada bibir manis Leera sebelum akhirnya mulai melumat lembut bibir cherry gadis itu. Butuh waktu bagi Sehun untuk membuat Leera membalas ciumannya, bahkan ia sampai mengigit kecil bibir Leera tiga kali sebelum akhirnya Leera membalas ciumannya.

Ciuman itu terus berlanjut dari yang awalnya sangat lembut kini berubah menjadi penuh gairah. Leera dan Sehun memang sedang berada di tempat umum; walaupun tidak ramai karena saat ini mereka beristirahat di posko kesehatan yang tersedia. Tapi mereka terlihat tidak peduli sama sekali dan menganggap bahwa saat ini isi dunia hanya mereka berdua.

Saat Sehun memberanikan diri untuk memasukkan tangannya kedalam kaus putih Leera yang kini basah; sehingga ia dapat menyentuh kulit punggung Leera, tangan gadis itu langsung mendorong dada  Sehun dan melepaskan ciuman mereka. “Please, don’t. Kau tidak ingin aku pingsan yang kedua kalinya hari ini ‘kan?” Leera menatap Sehun dengan tatapan sayu.

“Kurasa ini jalan satu-satunya untuk menyembuhkan phobiamu, Leera-ya,” protes Sehun menggebu-gebu.

Oh ayolah, Sehun sangat ingin menelanjangi Leera dan membuat Leera mendesahkan namanya sekencang mungkin disiang bolong seperti ini. Entah terkena sihir atau apa, Sehun pun bingung dengan dirinya sendiri mengapa ada rasa tidak tega saat ia ingin mendorong Leera paksa untuk berbaring dan meniduri gadis itu sekarang juga seperti yang biasa ia lakukan pada gadis sewaannya. Hati nurani? Bolehkan Sehun tertawa? Perlu kalian ketahui, dirinya sendiri bahkan tidak yakin bahwa ia masih memiliki hati, apalagi hati nurani.

“Tapi ini bukan saat yang tepat, Sehun-ssi, dan kurasa kau juga bukan orang yang tepat untuk membantuku menyembuhkan phobiaku,” jawab Leera miris. Selalu seperi ini, setiap mengigat phobia seksnya, Leera akan mulai berkaca-kaca; walaupun belum tentu ia berujung menangis sungguhan.
Sehun mulai berapi-api, selain karena gairahnya yang tak tersalurkan, kemarahannya disebabkan oleh penolakan Leera yang membuatnya mulai habis kesabaran. Oh ayolah, sepandai-pandainya ia bersandiwara, Sehun tetap belum terbiasa ditolak seperti ini, karena biasanya justru ia yang menolak.

“Berhenti membohongi dirimu sendiri, Leera-ya. Aku tahu kau juga menyukaiku.” Sehun mengeluarkan seringaiannya yang sudah jenuh ia tahan sejak tadi. “Kau terlalu percaya diri, Oh Sehun,” balas Leera cepat dengan senyum meremehkan.

Gadis itu kini mulai mengambil ancang-ancang untuk kembali berdiri dan meninggalkan posko kesehatan, ia tidak peduli dengan kakinya yang serasa ditancap beling saat ini. Karena bagaimanapun juga, ia pernah merasakan sakit yg lebih luar biasa delapan belas tahun yang lalu.

Sehun menghentikan langkah Leera; ia menarik tangan gadis yang sedang tergopoh dengan kaki terlukanya. “Kalau kau tidak menyukaiku, kenapa kau menerima ciumanku tadi? Aku rasa kau bukan tipe gadis yang akan menerima sebuah ciuman dari orang yang tak kau sukai, Leera-ya. Kau ingat ‘kan kau bahkan menamparku saat aku mencium bibirmu pertama kali,” ujar Sehun.

Skak mat.

Leera bungkam, ia bergeming ditempatnya berpijak saat ini. Tidak, ia bukannya merasa tersindir dengan perkataan Sehun, ia hanya butuh waktu untuk bertanya-tanya pada dirinya sendiri, benarkah ia menyukai Sehun? Karena jujur, dirinya sendiri tidak yakin bahwa debaran jantungnya saat berada didekat Sehun, saat Sehun menyentuhnya disebabkan oleh perasaannya yang mulai memberikan atensi pada Sehun. Ya, tidak mungkin ia menyukai Sehun. Karena Leera sangat yakin bahwa ia… masih menyukai pria masa lalunya, dan ia rasa sampai kapanpun fakta itu takkan pernah berubah.

“Terserah kau mau menganggap ciuman tadi apa, tapi bagiku itu tak lebih dari sekedar ungkapan terimakasih karena kau sudah menyelamatkan nyawaku untuk yang kedua kalinya.” Leera menyelesaikan kalimatnya lalu kembali melanjutkan langkahnya yang begitu terlihat menyedihkan. Ia berjalan pincang dan harus berpegangan pada dinding yang ada.

GREB

Leera merasakan bahwa pijakannya di lantai terangkat dan rasa sakit pada telapak kakinya pun ikut terangkat.

Oh Sehun menggendongnya ala pengantin.

“Oke, mungkin menurut opinimu ciuman tadi hanya sebatas ungkapan terimakasih. But based on my opinion, kau menciumku karena kau menyukaiku. Jadi, ijinkan aku untuk merubah status opiniku menjadi fakta dan menjadikan opinimu sebagai kebohongan, Stellee.” Sehun berbisik ditelinga Leera dengan seduktif.

Untuk kesekian kalinya… jantung Leera dibuat berparade karena perkataan Sehun. Sialan kau, Oh Sehun.

Tuhan tolong aku, aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Karena aku yakin akan ada yang terluka diantara kami diakhir, dan yang berkemungkinan besar terluka adalah… diriku sendiri, batin Leera dengan ekspresi penuh harap serta kemirisan.

 

 

TO BE CONTINUED

===

. #PREVIEW FOR NEXT CHAPTER

“Ya! Sudah kubilang jangan ungkit hal itu lagi!!”

 “Hei, kau belum menjelaskan apa yang sebenarnya akan kita lakukan ditempat ini,”

“—kau.. berkencan dengan Oh Isajangnim, ya? Bagaimana bisa?! Whoa jinjja daebak!!”

“Kau… sudah merelakan pernikahan mereka ‘kan?”

===

HOLAA PARA KESAYANGANKUU😀

Aduuhh maaf yah aku ngaret banget update chapter ini😦 soalnya sejak hari rabu kemaren laptopku chargernya rusak dan baru sempet beli tadi siang makanya baru bisa nyala deh kikikiki😀

Hayooo kira-kira Leera berhasil masuk perangkapnya Sehun gak yaa? Cuss ikutin yuk kisahnyaaa😀

[jangan lupa komentarnya yah, semakin banyak semakin cepet apdet nih :D]

61 responses to “Unspeakable Secret | 8th Chapter

  1. Huiiii.. sehun jahatnya g ktulungan… aku bingung sehun it udh ad mulai ad rasa atw tdk dih. Mngingat kadng dy it tulus l
    Kadang jg g.

  2. Bener2 ya ini si sehun. Tiap inget sehun maniak seks, entah knp ak ngakak sndri. Biasku knp dbikin gini2 bgt sih wkw. Jgn smpe Leera kejebak perangkap sehun. Nggk bs bayangin gmn sakitny Leera ntr. Masa laluny udh cukup kelam. Sehun, tobat lah kau nak-,-

  3. Gila Sehun bener-bener kejam banget.
    Kasian Leera, dia nganggep Sehun sebagai malaikat menolongnya padahal Sehun juga yang jadi dalangnya.

    Kapan Sehun mulai ada perasaan ke Leera? kasian Leera TTT

    kaget aku pas ada Gayoung. Kirain itu anaknya Chan tapi untungnya bukan. Hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s