[2nd] Snapshots by slmnabil

snapshots

Author : slmnabil | Cast : Kim Jongin, Park Chanyeol, Hong Seoljin (OC)

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : Poster by Jungleelovely Poster Channel

prolog : one dance | 1st

SECOND SHOT

“Maaf, dia memang begitu,” kata Yura.

Inginnya aku mengatakan kalau aku juga tahu, dia tak perlu menjelaskannya. Namun pikiran seperti itu justru membuatku bertanya-tanya. Benarkah begitu? Apakah aku masih yang paling mengenalnya? Bukankah empat tahun dapat membuat lompatan perubahan yang besar? Tiba-tiba saja aku tak yakin.

“Kalau begitu sampai jumpa besok,” ujarku seraya meninggalkan ruangan. Aku masih sempat melihat-melihat dan mengagumi interior di gedung ini sampai kulihat potret Jongin terpajang paling besar. Tentu saja, K untuk Kim Jongin. Apa yang kupikirkan?

*

Tak ada salahnya menjadi orang yang datang ke tempat janjian duluan sekali-kali. Raeum pasti akan menepuk bahuku dan mengatakan aku keren. Tidak biasanya aku menunggu—tidak lagi—aku lebih senang ditunggu. Dan melakukannya sekarang membuatku berpikir kalau aku tak akan sering-sering melakukannya. Ditunggu jelas lebih aman, aku tak rugi apa-apa.

“Kutebak bosmu pasti orang yang napasnya paling bau sedunia.” Jenis sapaan Raeum.

Mulutku tertutup rapat. Kubiarkan ia bernapas dulu, santai, dan menebak-nebak. Kemanusiaanku tinggi sekali ya?

“Itu dia, bosku. Kim Jongin,” ujarku, mengendalikan diri agar tak meledak-ledak.

“Oh,” sahut Raeum tak acuh. Tapi sedetik kemudian,” OH?!” dia tersadar.

“Mantan pacarku, akan jadi bosku selama dua minggu penuh. Mau bertaruh bos siapa yang lebih sial?”

Raeum menatapku simpati. “Tidak, kau menang besar, Non. Tak perlu repot-repot.”

“Dia jadi penari balet kontemporer, sekaligus punya agensi.” Pikiranku menerawang. “Kautahu, kupikir dia bukan bergabung dengan agensi seperti ini. Kukira dia akan jadi anak boyband atau semacamnya.”

Raeum mengangguk-angguk saja tanpa sahutan. Tapi aku tahu dia memperhatikan.

“Tapi kenapa bisa aku tak pernah mendengar tentangnya kalau dia seterkenal itu?” tanyaku penasaran, mungkin lebih diajukan pada diriku sendiri.

“Dia bukan anggota boyband yang muncul secara berkala di program musik setiap minggu. Dia ini seniman, tingkatannya beda. Hanya orang-orang yang benar-benar menaruh minat yang biasanya mengikuti perkembangan mereka,” jelas Raeum.

Perkataannya ada benarnya. Namun haruskah dia memperjelas kalimat ‘tingkatan berbeda’? Seolah aku tertinggal seribu langkah di belakangnya.

“Tapi kau serius? Dia yang punya? Masa, sih? Empat tahun sepertinya terlalu cepat,” tanya Raeum kembali meningkatkan semangatku.

“Entahlah. Kulihat huruf K besar di depan gedungnya, dan dia punya ruangan sendiri … dan sekertaris cantik.”

Ugh, bayangan kesuksesannya membuatku geram.

“Belum tentu, bisa saja K untuk Kadas kurap.” Dia tergelak tawa karena leluconnya sendiri. “Jangan berkecil hati, kau fotografer yang bagus, punya pacar pengusaha kaya. Kau jelas lebih maju daripada dia.”

“Kautahu? Itu tidak menghiburku.”

Raeum tersenyum kecil. “Tidak berhasil ya?”

Aku menggeleng. “Tadi aku sudah menolak, kubilang aku bisa membawa orang lain hari ini juga. Tapi dia malah memberikanku waktu berpikir dan memintaku datang lagi besok,” paparku. “Menurutmu kenapa?”

“Ya ampun!” serunya. Aku sudah panik dengan dugaannya. “Mungkin dia berpikir untuk mendapatkanmu kembali,” tambahnya.

Kubalas dia dengan dengusan. “Menurutku dia cuma mau menyombong. Terlebih sepertinya Yura bukan sebatas sekertaris.”

“Kau harus mengenalkan Chanyeol padanya!” katanya bersemangat.

Jujur? Aku rasa itu bukan ide yang tepat. “Kenapa kau bawa-bawa dia?”

“Balas dendamlah! Apa lagi?”

“Raeum, aku tidak ingin menyangkutkannya dengan masa laluku. Chanyeol itu masa depanku.”

Dia menggulirkan mata. “Masa depan yang kau gantung-gantung.”

“Ke pokok masalah, tolong,” kataku menegaskan. Dia bisa membual lima halaman kalau kubiarkan. “Kupikir aku akan menolaknya saja.”

“Jangan! Menurutku sebaiknya kau menerimanya.”

“Kenapa?”

“Kau tidak melarikan diri dari masalah, kau menghadapinya,” katanya. “Dan ini cuma dua minggu, kalian sama-sama sudah bersama seseorang. Apa sulitnya? Malah kau bisa mencari tahu alasannya ngotot sekali mempekerjakanmu.”

Raeum ada benarnya. Dua minggu tak akan berarti apa-apa.

Suara ting pendek dari ponselku memecah perdebatan batinku. Surel masuk dari Park Chanyeol.

*

Dari         : Park Chanyeol

Untuk     : Hong Seoljin

Perihal   : Butuh kepastian

Sebelumnya aku mau memastikan, di sana pagi, kan?

*

Mau tak mau aku tersenyum. Dia ini bisa sangat imut kalau mau.

“Calon suamimu?” tanya Raeum seraya mengacungkan tangan memanggil pelayan. Dia tahu ini akan lumayan panjang.

Aku mengangguk saja, tak begitu mempedulikannya.

*

Dari        : Hong Seoljin

Untuk    : Park Chanyeol

Perihal  : Memberikan kepastian

Sedang makan siang, Darling. Coba ingat-ingat pelajaranmu saat sekolah dulu soal perbedaan waktu.

*

Dari         : Park Chanyeol

Untuk     : Hong Seoljin

Perihal   : Penyimpanan otakku sudah penuh. (Meminta kepastian untuk hal lain.)

KAU TAHU APA ISI KEPALAKU.

Jadi, bagaimana harimu sejauh ini? Ada yang seru?

P.S. Aku rindu sekali padamu xxx

*

Aku membeku sejenak. Haruskah kuberitahukan soal tawaran pekerjaanku padanya?

“Kenapa?” tanya Raeum memastikan. Dan omong-omong aku baru sadar pesanan kami cepat sekali datangnya. “Nih, minum dulu.”

Tapi aku tetap tak berkutik. Raeum yang sepertinya mengerti arti tatapanku pun hanya diam, membiarkanku membuat keputusan sendiri.

*

Dari          : Hong Seoljin

Untuk      : Park Chanyeol

Perihal    : (No subject)

Raeum dipelototi bosnya, dia kusuruh meninju hidungnya saja.

Bagaimana Washington?

*

Aku harus menyelesaikan ini sebelum Chanyeol pulang. Kurasa sebuah keputusan yang tepat kalau aku menuntaskan semua masa laluku untuk masa depanku. Menariknya, yang namanya masa lalu selalu bisa terseret-seret untuk masa kini dan masa depan, sedangkan mereka tidak.

“Jadi?” tanya Raeum.

Aku mengangguk mantap. “Kurasa aku harus belanja. Ada bos baru yang harus kusombongi.”

*

Keesokan harinya Raeum memuji penampilanku habis-habisan. Katanya aku harus berjalan di atas catwalk acara fashion week di Paris. Dan aku tak ingin bilang dia melebih-lebihkan, karena aku pun merasa sangat percaya diri dengan tampilanku sekarang. Kemeja putih dengan celana khaki biru navy, dan sepatu hak lima senti. Rambutku yang dibiarkan terurai tersibak tiap kali angin berembus. Aku cuma butuh mobil agar lebih bergaya.

Di sinilah aku, menjulang dengan kedua tungkaiku di depan gedung yang akan menjadi rumah keduaku selama dua minggu ke depan. Atau minus sehari mengingat dia ingin mempekerjakanku dari kemarin.

Kulihat Yura di resepsionis, dan sebelum dapat berkata apa-apa dia sudah menyambar tanganku duluan.

“Keputusan bagus,” katanya. “Kau bisa langsung ke alamat ini, dia menunggumu di sana.” Dia menyerahkan selembar kertas.

“Tapi kontraknya?” tanyaku bingung.

“Itu, kan, cuma formalitas. Kau bisa menandatanganinya nanti,” sahutnya. “Dan ini, dia memfasilitasimu dengan mobil. Sepertinya dia melihatmu berjalan kemarin.” Sodoran kunci mobil menyusul kemudian.

“Perhatian sekali,” kataku diselipi sarkasme. Kuambil kuncinya dan berpamitan kepadanya.

Saat aku ke luar, kulihat mobil sport putih yang kelihatannya impor terparkir seolah teriak-teriak minta dikendarai. Bagus, aku semakin yakin kalau K bukan untuk Kadas Kurap, itu akan jadi 2K.

Kumasuki mobilnya. Seketika aku merasa seperti orang paling bergaya sedunia. Mungkin aku harus mulai jalan dengan Brad Pitt.

Kuinjak gasnya, dan dalam beberapa detik aku sudah menjadi raja jalanan. Kuperiksa navigasi yang mengarahkanku ke alamat yang diminta Yura untuk kudatangi, namun itu agak jauh dari sini. Dan siaran radio pagi tak begitu menarik, jadi kuputuskan untuk menghubungi Chanyeol. Sejak semalam aku berusaha menghubunginya namun selalu terhubung dengan pesan suara.

“Akhirnya kau menelpon,” katanya, terdengar kelelahan.

“Akhirnya kau mengangkat panggilanku.”

“Maaf, rapat gila-gilaan.” Bisa kudengar ia tertawa. “Kau sedang apa?”

“Merencanakan kencan dengan Brad Pitt.”

“Oh, tidak. Itu namanya merusak rumah tangga orang lain,” sahutnya geli. “Dan kupikir ia cocoknya dengan Angelina Jolie. Dia tidak cocok denganmu.”

“Aku hebat menyesuaikan.”

“Serius, kau sedang apa?” Nada bicaranya terdengar lebih santai.

“Mengemudi.”

“Kau beli mobil?”

“Tidak. Fasilitas kerja,” sahutku. Oke, aku tak ingin membuat bahasan ini lebih lebar lagi.

“Pekerjaan baru? Sekarang apa? Buku ensiklopedi lagi?” tanyanya penasaran.

Selama ini aku menumpahkan segalanya pada Chanyeol, dia tahu bahkan hal-hal terkecil mengenaiku. Rasanya agak sulit untuk menyembunyikan ini, tapi aku harus.

“Semacam,” kataku, berusaha terdengar meyakinkan. Photobook sama-sama buku, ‘kan? “Bagaimana pekerjaanmu? Lancar?”

“Sejauh ini ya. Kami baru saja mencapai kesepakatan dengan sponsor, kupikir kami akan segera membuka cabang di Amerika.”

Aku tersenyum mendengarnya. “Aku ikut senang, Chanyeol. Itu perkembangan yang besar, ‘kan? Kau akan mulai sibuk sekarang.”

“Apakah karena itu?”

Itu apanya?” tanyaku bingung.

“Aku ingin perkembangan soal yang lain juga, kautahu.”

Oh, yang itu. Dia mengira kesibukannya jadi penyebab aku belum setuju untuk menikah dengannya?

“Kau baru mulai, Darling. Kau harus fokus pada pekerjaanmu untuk sekarang ini,” sahutku. “Proyekmu bisa gagal, bisa dialihkan ke orang lain. Tapi aku selalu di sini, aku tak akan ke mana-mana.”

“Kau terdengar begitu yakin untuk ukuran wanita yang menggantungkan lamaran seseorang.”

Aku terdiam cukup lama. Dan selama itu aku merenungi perkataan Raeum. Dia benar. Apa yang kutunggu? Seseorang seperti Park Chanyeol ingin menjalani kehidupannya bersamaku, kenapa aku ragu? Dia adalah pilihan terbaik yang kumiliki saat ini, kenapa aku mengulur waktu?

“Kautahu? Mungkin kali ini … aku akan mengatakan ya.”

Chanyeol terdiam cukup lama, hanya helaan napasnya yang membuatku yakin dia belum menutup sambungan. “Kau bercanda.”

“Kau inginnya begitu?” tantangku.

“Tidak, tidak. Tentu saja aku ingin mendengar kau mengatakan ya.” Dia terlalu bersemangat, dan terkejut barangkali. “Kupikir aku harus terbang ke Korea sekarang juga untuk memberikanmu cincin.”

Aku tertawa. “Kau bersemangat sekali, sih? Santai saja Chanyeol, kau bisa melakukannya nanti.”

“Kenapa aku mengambil waktu dua minggu di Washington? Ya ampun, aku bisa gila kalau begini.”

“Jangan gila, aku tidak akan menikah dengan pria gila,” ujarku.

Baru saja hendak mengatakan candaan lain, tiba-tiba ada panggilan masuk. Tidak ada namanya, hanya sederet nomor. Aku penasaran itu siapa.

“Ada panggilan masuk lain. Kuhubungi nanti ya?” ujarku pada Chanyeol. “Dan jangan gila, tolong.”

“Halo? Dengan siapa ini?” sapaku begitu kuangkat panggilannya.

“Bosmu yang baru.”

Oh, aku tahu siapa dia.

“Sebentar lagi aku sampai. Tunggu saja,” ujarku seraya mempercepat laju mobil.

“Aku tidak akan marah-marah di hari pertamamu. Aku hanya ingin kau menyimpan nomorku,” katanya dari seberang.

“O … ke. Maksudku, baiklah. Tentu.”

Dan panggilan terputus tiba-tiba. Biar kupastikan satu hal, dia orang yang sama dengan yang bersikeras agar aku bekerja padanya bukan? Lalu apa yang dilakukannya sekarang? Balas dendam? Bukankah seharusnya aku yang melakukannya?

Rupanya benar, empat tahun membuat lompatan perubahan yang besar. Dia jadi brengsek.

*

Lucunya, selang tiga puluh menit kemudian seluruh perhatianku terpusat padanya. Mengarahkan lensa, lalu membidik di saat dia terlihat menawan. Ya ampun, aku tak percaya baru saja mengatakan itu.

Yang dilakukannya di sini hanyalah memeriksa gedung pertunjukannya. Aku agak yakin itu bukan bagian dari agendanya, namun sepertinya itu adalah bagian dari profesionalismenya. Dan omong-omong soal profesionalisme, aku ingin menunjukkan padanya kalau aku profesional. Aku tidak akan bertindak menyebalkan hanya karena dia pernah jadi mantan pacar paling buruk di masa lalu.

“Kau bisa berhenti sekarang,” kata Jongin tiba-tiba setelah beberapa saat menganggapku tak ada. “Suara kameramu menganggu. Tunggu saja di luar.”

Oke, profesional saja. Kuyakinkan diri untuk menganggapnya angin lalu dan kuderapkan kaki ke luar, menunggu di mobil. Sepertinya cukup banyak foto untuk hari ini.

Kuperhatikan hasil-hasil bidikanku. Sepertinya … kemampuanku meningkat tiba-tiba. Aku berhasil mengambil sudut yang tepat dan, kautahulah arah pengambilannya pas saja. Bukan karena dia mendadak bertambah tampan kok.

Astaga, lupakan Seoljin! Kau baru saja menerima lamaran seorang pria dan sekarang lihat yang kau lakukan.

Aku memasukkan kembali kameraku ke tasnya dan mulai menyalakan musik. Lagu Closer milik The Chainsmokers mengalun. Kebetulan aku sedang suka sekali dengan lagu ini. Namun mendengarnya sekarang … saat ini … ketika Jongin sedang berjalan ke arahku rasanya agak aneh saja. Liriknya tidak pas.

Dia membuka kursi di kursi belakang, melirikku dari spion dan menyuruhku mematikan musik lewat pandangannya. Sungguh, dia semakin menyebalkan saja. Mulutnya masih bekerja, bukan?

“Kau bisa bicara baik-baik, kautahu,” kataku akhirnya, tak tahan karena kesal. “Tidak usah bertindak menyebalkan.”

“Memangnya kalau aku baik kau tak akan marah? Setelah semua yang kulakukan padamu?” Dia meninggikan suaranya. “Aku bertingkah begini agar kau meledak! Aku ingin kau melampiaskan kemarahanmu, mengamuk karena meninggalkanmu tanpa kabar, muncul setelah empat tahun dan dengan tidak tahu malunya mempekerjakanmu. Aku juga ingin kau merasa direndahkan seperti kau biasanya saat kuberi mobil.”

Oh, jadi begitu?

“Lalu setelah itu apa?” tanyaku dingin. “Kalau aku melakukan semuanya, setelahnya kau akan bersikap bagaimana?”

“Aku tak ingin punya hubungan yang buruk dengan mantan pacarku, oke? Marah saja sekarang. Aku akan terima.”

Aku bertemu pandang dengannya lewat spion. “Tidak. Selama dua minggu ini aku hanyalah pekerjamu, dan setelah itu selesai. Jadilah profesional, tak usah libatkan masa lalu.”

Ekspresinya tak terbaca. “Kautahu apa? Kupikir itu ide bagus. Sekarang antarkan aku ke restaurant terdekat.”

“Aku bukan supirmu.”

“Kau pekerjaku, aku bebas memerintahmu. Jadilah profesional.”

Mau tak mau aku membalikkan tubuh agar berhadapan dengannya. “Kontraknya tak mengatakan aku bebas diperintah. Tugasku cuma jadi fotografer.”

“Oh, apakah kau bahkan sudah menandatanganinya? Sudah kau baca tiap butir penjelasan tugasmu?”

Sial. Terserah. Aku tak perduli. Kulajukan mobil tanpa bicara lagi, biarkan saja dia.

Selang beberapa menit kudengar ia menghubungi Yura. Dan kalimatnya begitu jelas melewati telingaku.

“Yura, aku akan meninjau ulang kontrak Hong Seoljin. Bawakan ke ruanganku.”

Apa-apaan! Dia mau apa?

TO BE CONTINUED

updated every saturday-sunday

19 responses to “[2nd] Snapshots by slmnabil

  1. Jongin benar- benar menyebalkan!! Untung dia tampan,jadi bisa di maafkan!! Kalo aku jadi Seoljin udah aku habisin tuh si item!!

  2. stlh bca dri prolognya… ni ceritany bnr2 seru… kmbli brtmu stlh 4 taon pisah.. nth knp ko kta2 jongin wktu d prolog “aq mncintaimu, sweetheart” tu yg ngbikin jongin ktmu lgi sma seoljin… mngkn jongin bkl bkin clbk lgi slma kontrak 2 minggu ni… *eh ceye msak dgantung gitu aja… mmmm….* pnsran ma isi kontrak nya… mna seoljin blm baca… adeh… dtunggu next updatenya…😍😍

  3. Lwar byasah kim jongin. Ini chanyeol sepertinya sebaik itu kalau seoljin balik sama jongin gatau deh bakal gmn hahaha. Anw keren kak! Semangat nulis trs yaaaa

  4. Jongin ny3belin amat yak. Minta dihajar tu orang. Oiya btw aku seneng banget akhirnya seoljin mau nerima lamaran chanyeol.. Semoga seoljin tetep sama chanyeol aja. Chanyeol klewat baik soalnya. Ga tega klo liat dia sakit hatii..

    Okedeh izin baca next chapter dulu yaa

  5. Karakternya Seoljin tu loh… bikin gemes
    Ohh jadi tu yg bikin Kai nyewa Seolji jdi fotografer….
    Biar gk ada hub yg jelek sama mantan pacar? Kok susah percaya, ya?
    Keep writing, kak…!!

  6. Agak heran ya sma seoljin…ngagantung lamaran chanyeol…jongin kyknya bakal mo balikan sma seoljin…jongin dri dulu smpe skrg ttp egois…hrusnya seoljin mrh n bner2 putus hubungan sma jongin…apa kta chan nnti klo tau mrk krja brng..

  7. Eh buset ya si jongin ckckck… Bikin gemes ya, saking gemesnya ampe mw nyekek jdnya hehe…
    Kalo inget K itu Kadas Kurap jd pgn ketawa wkwkw tp dr pertama diblg ada huruf K di depan gedungnya, aku lgsg kepikiran K itu Kai, bkn kim jongin..

  8. mantan adalah seseorang yang sangat berharga di masa lalu, dan akan menjadi seseorang yang sangat menyebalkan di masa sekarang.
    bos adalah seseorang yang dianggap oleh beberapa orang sangat menyebalkan.
    maka, apabila bosmu adalah mantanmu, berdoalah. minta pada Tuhan agar nasibmu diubah.

    Sekian.

  9. Greget >< andai aku jasi seolji aku udh teriak teriak kedia minta penjelasan dr pertama kali ketemu. Huhu seolji emg the best!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s