[4/6] Break My Fall : Her Other First Thing

break-my-fall2

by Tamiko

Chaptered || Romance & Hurt/Comfort || PG-17

Cast : Jooyoung (OC), Sehun (EXO), Jaehyun (NCT),

Support : Jennie (Blackpink), Doyoung (NCT), Kai (EXO)

Disclaimer : I don’t own any of the cast beside the OC

If I risk it all, could you break my fall? – Sam Smith

Summary : Jooyoung jatuh cinta sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Dan selalu hanya satu orang yang menghancurkan ketiga cinta itu.

PreviousSummer of 17 || Surrogate || Devoted To You

ℑζ

Jooyoung kira itu jenis hari yang biasa. Dia bangun di sabtu pagi dengan Jennie berteriak tanpa henti dari dapur menuduhnya menghabiskan seluruh kopi dari lemari dan pemberitahuan ponsel pintarnya ada satu pesan belum terbaca dari Jaehyun. Ah, lelaki itu. Lelaki Jooyoung yang paling baik. Bahkan setelah setahun menjalin kasih, dia masih tetap yang terbaik untuk Jooyoung.

Bertentangan dengan apa yang dipercaya olehnya, Jaehyun bahkan setelah semua keluhan tidak berguna yang diutarakan Jooyoung dan ketakutan-ketakutannya, lain lagi tangisan tiba-tiba di tengah malam — sebagai seorang manusia normal Jooyoung berpikir lelaki itu akan lelah dalam waktu singkat — dia tetap bertahan. Itu adalah sebuah dedikasi yang sangat luar biasa yang diberikan Jaehyun kepada Jooyoung. Lebih dari yang dia pantas dapatkan.

Saat Jooyoung membaca pesan singkat dari kekasihnya pagi itu, dia sama sekali tidak menyangka itu akan menjadi pembuka dari sebuah babak baru di kisah cintanya yang berjalan seperti roller coaster.

From : Pig Jae❤

Makan malam denganku nanti?

Ada kejutan untukmu sayang❤

XOXO

Jooyoung memaksa menyembunyikan rona merah di wajahnya sepanjang pagi. Pun jantungnya yang tidak berhenti berdebar tidak karuan karena rasa excited agaknya sangat sulit untuk disingkirkan pagi itu. Dia selalu merasakan ini setiap kali Jaehyun mengiriminya pesan serupa. Saat kekasihnya mengatakan kejutan, itu tidak pernah hanya sekedar kejutan biasa yang dibayangkan Jooyoung. Mereka selalu berupa kejutan-kejutan istimewa kalau sudah bicara tentang Jaehyun. Dan malam ini dia tahu Jaehyun sudah menyiapkan kejutan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Dia tidak sengaja mendapat bocoran beberapa hari lalu dari Jennie.

Jooyoung sudah tidak sabar. Dia sangat menantikan makan malam itu.

.

.

Saat Jaehyun muncul di depan apartemennya menggunakan suit hitam dengan sepatu pantofel berwarna serupa, rambut hitamnya ditata rapi dengan gel dan tangannya penuh dengan sebuket bunga. Itu adalah kemunculan yang sangat romantis. Sebut saja klise, tapi ini memang begitu romantis bagi Jooyoung. Meski sudah puluhan kali mendapati Jaehyun melakukan hal serupa, Jooyoung tetap tidak mampu menyembunyikan sipu di wajahnya. Dia berkencan dengan lelaki paling baik di abad ini. Apa seseorang bisa mempercayai keberuntungan Jooyoung?

Jaehyun tersenyum begitu hangat saat Jooyoung membukakannya pintu, menyodorkan buket bunga yang tadi menutupi wajahnya ke hadapan Jooyoung dan berkata “Bunga yang cantik untuk gadis kesayanganku.” Dan Jooyoung menerima buket berisi berbagai jenis bunga itu ke dalam tangannya. Membauinya dengan wajah sumringah. Itu adalah buket bunga terbesar yang pernah dibawakan Jaehyun untuknya sejauh ini. Dan ada begitu banyak jenis bunga terbungkus di dalamnya, terangkai sempurna. Sebagian yang dia ketahui namanya, sebagian lainnya tidak. Anyelir putih dan eustoma merah muda adalah yang paling mencolok di antara semua. Mereka adalah favorit Jaehyun dan Jooyoung.

Jooyoung suka bagaimana Jaehyun menjaga hubungan mereka dengan romansa yang indah. Jangan mengejeknya, Jooyoung tahu pasti cara Jaehyun memperlakukan dirinya adalah impian ribuan gadis di luar sana. Jaehyun tahu persis cara mengkomunikasikan perasaannya tidak hanya secara verbal tapi juga dengan ribuan simbol yang indah. Jooyoung seperti tidak bisa merasa lebih bahagia lagi. Dan Jaehyun selalu membuktikannya salah. Setiap hari, pernyataan cinta yang baru, rangkaian bunga yang belum pernah Jooyoung tahu sebelumnya, kejutan-kejutan yang tidak sekalipun gagal membuatnya takjub. Ini sangat sempurna. Nyaris terlalu sempurna untuk Jooyoung. Dan dia tidak sekalipun bermimpi ingin melepaskan kebahagiaan ini dari hidupnya.

Oleh sebab itu Jooyoung gagal untuk mengerti. Saat malam itu dia duduk di restoran paling mewah yang pernah dia datangi di distrik Gangnam. Dengan Jaehyun persis di sebelahnya terus tersenyum, menunjukkan lesung pipi favorit Jooyoung. Mereka ada di meja untuk berempat. Hidangan pembuka beserta wine yang terlihat begitu menggoda tertata rapi di hadapannya.

Ini seharusnya jenis hari yang biasa bagi Jooyoung. Itu yang dipikirkannya begitu terbangun oleh alarmnya pagi tadi. Pesan dari Jaehyun yang kemudian mengganti pendapatnya tentang hari itu. Ini akan menjadi makan malam yang istimewa. Demikian firasat Jooyoung. Tapi nyatanya makan malam itu memang berbeda dari yang biasa. Dan bukan. Jooyoung tidak sedang membicarakan kegugupan yang jelas dalam tingkah laku Jaehyun sepanjang malam. Atau kotak beludru merah yang tidak sengaja diintipnya di balik saku keper hitam Jaehyun. Ini bahkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jaehyun.

Otak Jooyoung mengalami kemacetan parah begitu matanya tersapu pemandangan itu. Seorang lelaki yang sudah tiba lebih awal dari mereka dan menunggu dengan patuh di meja itu. Berdiri menyambut Jaehyun begitu lensanya menangkap kedatangan mereka. Dan mata yang membulat sempurna, terlalu terkejut begitu bertemu pandang dengan Jooyoung. Mulutnya menganga selama beberapa detik, kedua taringnya mengintip dari balik bibirnya. Dan dia menatap Jooyoung dengan keterkejutan yang terlalu kentara.

Jooyoung sendiri tidak lebih baik. Begitu melihat dirinya yang terbungkus setelan serupa dengan milik Jaehyun, jantung Jooyoung sudah serasa mau pecah. Begitu juga otaknya. Seluruh pembuluh darahnya bekerja dalam mode panik. Dan dia bisa merasakan dengan jelas bulir-bulir keringat yang terasa sangat dingin memenuhi punggungnya.

Jooyoung agaknya tidak akan menggerakkan tubuh seinci pun kalau bukan karena jaehyun yang menuntunnya semakin mendekat kepada lelaki yang berdiri tegap di depan mereka. Melingkarkan lengan di pinggang Jooyoung dan membawanya maju selangkah lebih dekat.

Hyung, seperti janjiku. Aku kenalkan pacarku.” Jaehyun berbicara dengan suara baritonnya kepada lelaki itu. Lalu sedetik kemudian langsung menggerakkan kepalanya menghadap kepada kekasihnya, “Jooyoung, kenalkan ini kakakku, Sehun.”

Sehun.

Jooyoung tidak pernah menyangka, bahkan dalam mimpi paling liarnya sekalipun, untuk bertemu dengan pemilik nama itu lagi. Terlebih lagi bertemu dengan cara terburuk seperti ini. Bagaimana bisa Jaehyun — Jung Jaehunnya yang beitu baik hati, yang mencintai Jooyoung begitu luar biasa, yang menjaga Jooyoung persis miliknya yang paling berharga, yang menghapus semua cidera hati Jooyoung, yang mengobati organ yang dikira Jooyoung tidak akan pulih lagi itu, yang membuat Jooyoung akhirnya percaya lagi dengan cinta — bersaudara dengan lelaki lainnya yang sudah menghancurkan hati Jooyoung secara brutal untuk pertama kali?

Apa ini semacam lelucon pembuka drama komedi? Karena Jooyoung merasa ingin mengganti saluran sekarang juga.

Tapi ini bukan lelucon. Dan juga bukan drama. Ini kenyataan yang berdiri di hadapannya sekarang. Menampar Jooyoung dengan keras. Sampai dia serasa akan kehilangan kesadaran detik itu juga.

Seperti terhenti oleh waktu, baik Jooyoung maupun Sehun tidak bergerak untuk beberapa saat. Berusaha keras untuk memahami situasi di antara mereka saat itu. Sedang Jaehyun masih berdiri di samping Jooyoung, melingkarkan lengan di lekukan pinggang Jooyoung. Tanpa mengerti kekacauan yang dia timbulkan.

Lalu Sehun merusak kediaman itu pertama kali. Menyeret Jooyoung keluar dari khayalannya dengan berdehem keras. Persis seperti awal pertemuan mereka. Dia menyodorkan tangan dengan santai kepada Jooyoung dan berbicara “Halo, senang bertemu denganmu, Nona.”

Jooyoung tergagap untuk beberapa detik. Tidak mampu menemukan dalam dirinya kemampuan untuk mengeluarkan satu kata pun. Seluruh kosa katanya tercekat di dalam kerongkongan, tak sanggup terucap. Sementara Sehun terus menggantungkan tangan di depan perut Jooyoung, menunggu sambutnya.

Sekelebat bayang, dalam kepala gadis itu berputar begitu banyak memori tanpa diminta. Persis sebuah film roman yang berasal dari puluhan tahun lalu. Mereka adalah memori yang terasa sangat jauh tapi entah bagaimana begitu segar dalam ingatannya. Bahkan setelah sepuluh tahun. Kepingan-kepingan memori itu masih begitu sempurna menyerupai sebuah puzzle. Masalahnya ini adalah puzzle yang tidak pernah ingin diselesaikan Jooyoung lagi. Dia bahkan tidak ingin menyentuhnya. Lalu kenapa, saat kedua obisidiannya bertumbuk pandang dengan milik Sehun, kepingan-kepingan itu menyusun sendiri. Dengan sempurna. Memaksa Jooyoung kembali mengingat ciuman pertamanya dengan lelaki ini. Membawanya kembali ke laut yang mereka kunjungi terlalu sering musim panas di kala Jooyoung berusia tujuh belas?

Ini adalah rangkaian kejadian paling salah yang bisa dialami Jooyoung. Mengapa di saat hidupnya sudah mencapai titik stabil dalam percintaan bersama kekasihnya yang terlalu sempurna ini, Jooyoung harus kembali berhadapan dengan badai mimpi buruk yang sudah memporakporandakan hatinya.

Ini seharusnya menjadi malam istimewa untuk dia dan Jaehyun. Diiam-diam Jooyoung sudah tahu rencana Jaehyun — yang disembunyikan secara sia-sia — untuk berlutut dan meminta tangannya dalam pernikahan malam ini. Karena itu dia tidak bisa berhenti merasa gelisah sepanjang hari. Memilih gaun paling indah di lemarinya. Bekerja dengan rambutnya berjam-jam, memaksa Jennie memilihkan sepatu paling cocok untuk digunakan. Berusaha untuk tampil memukau bagi Jaehyun malam ini. Karena kekasihnya pantas mendapatkan itu. Ini seharusnya menjadi momen yang spesial.

Tapi mungkin seluruh dunia begitu membenci Jooyoung. Begitu juga dirinya terhadap seluruh dunia ini. Dia tidak kuasa berhenti mengutuki seluruh peruntungannya yang kembali berbalik ke sisi negatif.

Tapi lebih dari semua itu, Jooyoung lebih membenci dirinya sendiri. Karena entah bagaimana saat berdiri berhadapan dengan Sehun seperti ini, rasa rindu itu kembali menggerogoti setiap selnya. Melihat Sehun seperti ini. Dengan rambut yang sama sekali berbeda dari yang ada dalam ingatan Jooyoung. Tidak coklat dan sama sekali jauh dari pink. Diganti dengan hitam metalik yang indah. Tapi selain itu tidak ada yang berubah. Dagunya masih setajam Jooyoung terakhir melihatnya. Senyumnya tetap menggetarkan hati Jooyoung tidak karuan. Wanginya persis seperti dalam memori yang jauh di neuron Jooyoung. Mata hitamnya tidak gagal menghipnotis Jooyoung. Jooyoung ingin tersesat di dalam mata hitam itu terus. Dan meski lengan Jaehyun melingkar erat di pinggangnya, satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah berlari ke pelukan pria itu. Menjadi gadis musim panasnya, sekali lagi.

.

.

Pada akhirnya mereka membatalkan makan malam itu. Bahkan tidak menyentuh secuil saja hidangan pembuka yang sudah ditata rapi di atas meja mereka. Karena segera setelah mengatur posisi duduk, Jooyoung tidak berhenti mengeluh kepalanya yang seperti mau pecah dan tidak ingin berada di sana lebih lama. Jaehyun, dengan wajah kecewa, meminta maaf kepada saudaranya, dan membawa Jooyoung keluar dari restoran itu. Seperti yang diharapkan Jooyoung. Dia mengantarkan gadis itu dengan Benz hitamnya menuju bangunan apartemennya. Sepanjang perjalanan diisi hanya dengan suara penyiar radio lokal. Tidak pernah sebelumnya mereka duduk di mobil dalam diam seperti ini. Jaehyun tidak pernah gagal merangkai jutaan kalimat romantis di telinga Jooyoung. Seolah perbendaharaan katanya tidak pernah habis. Atau setidaknya dia akan membiarkan Jooyoung berbicara tentang harinya, sementara dia menyimak tiap suku kata yang keluar dari bibir Jooyoung. Bukan saling berdiam diri.

Tapi tidak malam itu. Mungkin Jaehyun terlalu kecewa dengan kegagalan rencananya. Sedangkan Jooyoung sama sekali tidak dalam mood yang benar untuk membuka mulutnya. Dia sama sekali tidak ada dalam mood yang benar untuk melakukan apapun sejak pandangannya mendarat pada Sehun dan kulit putih susunya. Jadi mereka membiarkan perjalanan dari restoran ke apartemen Jooyoung malam itu hanya dihuni tembang yang secara janggal begitu ceria di tengah suasana suram mereka.

Tapi meski terlihat kesal sampai tidak berkata-kata, satu tangan Jaehyun tetap dengan setia tertaut di antara jari-jari Jooyoung. Menolak melepaskannya. Sedang tangan yang lain konsentrasi dengan setir. Dan sejujurnya itu hanya membuat Jooyoung merasa lebih buruk lagi. Entah bagaimana.

Jooyoung menolak Jaehyun yang berniat mengantarnya sampai ke dalam kamar begitu mobil Jaehyun terparkir sempurna di depan bangunan apartemen Jooyoung. Menyuruh lelaki itu untuk kembali ke restoran bertemu hyungnya.

“Tapi aku sangat khawatir,” Jaehyun berbicara dengan dahi sengaja dikerutkan. Menatap Jooyoung persis seperti perkataannya. Khawatir. “Ayo, aku akan mengantarmu masuk.”

Jooyoung menghela napas lemah. Menolak memutar lehernya untuk memandang Jaehyun dan membiarkan netranya berfokus pada lapangan parkir kosong di depan. “Sudah kubilang, aku baik-baik saja. Sebaiknya kau kembali ke sana,” katanya.

Tapi Jaehyun menggeleng dengan keras kepala. Masih menatap kekasihnya dengan kadar khawatir yang sama, namun kali ini ekspresinya bercampur bingung. Tidak mengerti dengan perubahan tiba-tiba sikap Jooyoung.

Gadis itu terlihat sangat bahagia saat membukakan pintu untuknya tadi sore. Dan menerima buket bunga yang dibawa jaehyun dengan wajah berseri. Jaehyun pikir ini sudah sangat sempurna. Dia sudah sejak lama ingin memperkenalkan kekasihnya kepada anggota keluarganya yang lain. Jadi selagi saudara tirinya berada di Seoul, Jaehyun memutuskan untuk membawa serta Sehun dalam acara makan malam dengan Jooyoung. Dan dia akan melamar kekasihnya itu di hadapan hyung satu-satunya itu. Tapi tiba-tiba saja mood Jooyoung berubah. Belum sampai setengah jam sejak mereka melangkah ke dalam tempat mewah itu, dan Jaehyun baru memperkenalkan hyungnya dengan Jooyoung, gadis itu tidak berhenti mengeluh ingin segera keluar dari sana. Dia bahkan tidak repot-repot membalas jabat tangan yang ditawarkan Sehun.

Jaehyun sejujurnya marah. Sangat marah. Untuk pertama kalinya kepada Jooyoung. Tapi dia menekan kemarahan itu ke dalam sisi terjauh hatinya. Karena ini adalah Jooyoung. Dia sedikit banyak mengerti bagaimana emosi gadis ini bekerja. Dia bisa saja terlihat sebahagia anak anjing diberi tulang selama sedetik dan berubah sedih detik berikutnya. Dan Jaehyun sudah profesional dalam menghadapi Jooyoung yang seperti itu. Dia tidak pernah merasa terganggu sebelumnya. Meski malam ini berbeda. Disebabkan akumulasi rasa kecewa atas gagalnya rencana melamar dan juga karena betapa tidak sopan sikap Jooyoung kepada saudaranya. Karena itu dia sama sekali tidak berbicara sepanjang perjalanan menuju apartemen kekasihnya. Hanya menggenggam tangan gadisnya erat. Berharap itu cukup untuk mengangkat kegundahan yang menyerang Jooyoung tiba-tiba.

Dan sekarang Jooyoung menyuruhnya pergi begitu saja. Ini tidak baik. Jaehyun tidak merasa baik-baik saja.

“Apa ada yang salah?” Jaehyun bertanya lirih kemudian. Meletakkan bahunya menyamping di sandaran kursi dan menatap Jooyoung yang menatap ke luar mobil. Dia meraih tangan gadis itu dan membawanya ke depan dagunya, mendaratkan kecupan ringan di sana. Tapi Jooyoung hanya bergeming. Tidak menunjukkan reaksi malu-malunya yang biasa. Dia menarik tangannya dengan malas dan membalas Jaehyun dengan berbisik pelan.

“Tidak ada.” Jooyoung menggigit bibir bawahnya ragu selama beberapa saat dan kembali berbicara seraya menarik napas panjang, “Aku hanya lelah dan sedikit pusing. Ingin istirahat.”

Lalu gadis itu dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Tidak menunggu Jaehyun untuk membalas perkataannya. Dia segera berjalan ke dalam gedung apartemennya. Berpura-pura tuli saat Jaehyun meneriakkan namanya.

Jooyoung tidak yakin dia sanggup untuk mengatasi fakta baru yang tersodor di hadapannya sekarang.

Jaehyun bertanya apa ada yang salah.

Semua terasa salah.

.

.

Jennie sama sekali tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat berhadapan dengan Jooyoung begitu membuka pintu.

“Kenapa cepat sekali kembalinya?” tanyanya.

Jooyoung memilih mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu dan berjalan begitu saja melewatinya. Melangkah gontai menuju kamar.

Doyoung yang bersandar di sofa langsung mengangkat badannya dan menatap Jooyoung dengan ekspresi persis yang digunakan Jennie tadi. Lalu dengan dahi sengaja dikerutkan dia berujar bingung “Kukira kau tidak akan pulang malam ini.”

Kata-kata Doyoung juga diabaikan oleh Jooyoung. Dia tetap membiarkan kakinya melangkah dengan lemas menuju kamar tidurnya di seberang ruangan. Jooyoung tidak sempat untuk berbicara dengan dua orang itu sekarang. Kepalanya terasa terlalu penuh. Dan dia masih merasa seperti sedang bermimpi. Satu-satunya yang ingin dilakukan Jooyoung saat ini adalah masuk ke dalam kamarnya, menenggelamkan diri di antara selimut dan bantal. Merenungkan pertemuannya kembali dengan Sehun. Menangis mengingat pria itu lagi mungkin. Lalu tertidur. Siapa tahu dia akan bangun besok pagi dan semua ini ternyata hanya mimpi. Dan dia akan kembali dengan hubungan sempurnanya dengan Jaehyun. Mungkin besok dia akan mendapat lamaran yang tidak jadi diberi Jaehyun malam ini.

Tapi Jennie tidak membiarkan Jooyoung melancarkan rencana itu. Dia mencegat Jooyoung sebelum berhasil membuka pintu kamar. Menariknya menjauh dari ruangannya dan mendudukkannya di sofa di antara dirinya dan Doyoung.

Diapit oleh kedua sahabatnya ditambah kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah mereka membuat Jooyoung merasa semakin buruk. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia katakan?

Lalu Jennie bertanya, “Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat buruk sekarang?” Dia memandang Jooyoung dengan tegas. Jelas tidak akan menerima ‘tidak apa-apa’ sebagai jawaban. Tatapannya menuntut penjelasan dari Jooyoung.

Jooyoung tidak bisa menjelaskan. Dia bahkan tidak bisa berbicara sekarang. Terlalu banyak. Ada terlalu banyak beban di hatinya. Bertambah sejuta kali lipat dari yang sudah diangkat Jaehyun. Hanya karena bertemu dengan satu orang. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kekalutan yang dirasakan Jooyoung. Tapi mungkin air mata bisa.

Jadi Jooyoung menangis. Meletakkan tangan di kedua sisi lengan Jennie, membiarkannya di sana seolah seluruh hidupnya tergantung pada itu. Jennie dan Doyoung saling bertukar tatap bingung selama beberapa saat. Tapi segera pulih dari keterkujatan akan ledakan tangis Jooyoung. Karena ini benar-benar terlihat tidak baik-baik saja. Dan dimana Jaehyun sekarang saat kekasihnya menangis di depan dada Jennie begini? Dia seharusnya satu-satunya yang bisa meredam tangis Jooyoung.

Kedua sahabat Jooyoung itu —meski betul-betul tidak mengerti apa yang terjadi— kemudian melakukan satu-satunya hal yang mereka tahu benar untuk dilakukan. Jennie memberi sentuhan lembut di punggung Jooyoung, mengelusnya untuk menenangkan gadis itu. Sedang Doyoung menjalankan jari-jarinya di sepanjang rambut Jooyoung.

“Kuharap tangisanmu sekarang adalah tangis bahagia karena Jaehyun akhirnya melamarmu,” Jennie berbicara ragu seraya menggigit bibirnya. Masih mengelus punggung Jooyoung, mengabaikan kausnya yang basah karena air mata sahabatnya. “Tapi rasanya terlalu konyol untuk mengatakan itu.”

Jooyoung tidak menjawab. Dia juga berharap dia menangis karena alasan itu. Dan bukan karena seseorang dari masa lalunya menampakkan batang hidungnya ke depan wajah Jooyoung. Atau karena kekasihnya yang baik hati itu yang membawa Jooyoung kembali bertemu dengan pelaku penghancuran hatinya bertahun-tahun lalu. Tapi seperti kata Jennie. Itu konyol. Dan mungkin besok saat dia bangun. Ini tetap bukanlah mimpi. Dan persaudaraan antara oknum perusak dan penyembuh hati Jooyoung itu akan menjadi kenyataannya mulai dari sekarang. Jooyoung tidak siap untuk itu. Ini terlalu banyak dari yang bisa ditanggung Jooyoung. Dan mungkin dia memang butuh membagi beban itu.

Jadi dia mengatakannya. Di sela-sela tangisannya yang tidak kunjung reda — karena tidak ada Jaehyun untuk menghentikannya. “Dia…” katanya dengan susah payah. “Bertemu dengannya lagi.”

Jennie dan Doyoung kembali saling menatap begitu Jooyoung menyelesaikan kalimatnya. Dia? Ini tidak mungkin sama dengan ‘dia’ yang mereka takutkan kan? Jadi mereka bertanya berbarengan. “Dia?”

Dan Jooyoung mengangguk. Membenarkan. Tidak tahu apa yang dibenarkannya. Jennie berharap bukan apa yang dipikirkan dia sekarang, karena kalau benar begitu…

“Iya, dia. Kepala pink. Sehun. Hyungnya Jaehyun.”

Lalu Jooyoung menangis lagi. Jennie ingin melorotkan tubuhnya ke bawah sofa kalau saja Jooyoung tidak sedang menempelinya sekarang. Terlalu marah dengan kebetulan bodoh ini. Terlalu sedih melihat Jooyoung menangis sekarang. Terlalu kesal karena Jaehyun bahkan tidak di sini untuk menghentikan tangis Jooyoung.

Ah, bahkan mungkin lelaki itu sama sekali tidak tahu Jooyoung menangis sekarang. Karena kalau dia tahu, tidak mungkin dia tidak berada di sini. Lebih dari segalanya, Jennie takut. Jaehyun mungkin sama sekali tidak tahu kalau Sehun dan Jooyoung punya sejarah masa lalu. Dan Jennie tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk untuk masa depan hubungan Jooyoung dengan Jaehyun.

Sebenarnya siapa yang sudah merancang skeanrio kejam ini dalam hidup Jooyoung?

.

.

Saat Jooyoung bangun keesokan harinya, dia merasakan pusing menghantam keras kepalanya. Akibat terlalu banyak air mata yang dia keluarkan malam sebelumnya. Entah bagaimana dia bisa tidur di kasurnya sendiri dalam balutan piyama. Dia sama sekali tidak ingat. Gambaran dari kejadian semalam yang terakhir terekam kepalanya hanya saat dia membanting pintu mobil Jaehyun dan berjalan menjauhinya.

Jooyoung meraba-raba ke atas nakas di sebelah ranjang untuk mengambil ponsel. Saat menyalakan benda persegi itu, dia melihat puluhan panggilan tidak terjawab dan lima pesan baru dari Jaehyun. Dia hanya menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum melemparnya ke kasur tanpa repot membuka satu pun pesan yang dikirimkan kekasihnya itu. Lalu dia menghempaskan badan ke atas kasur. Berusaha merenungi kembali kejadian semalam.

Ini adalah kebetulan yang sangat kejam. Bagaimana bisa dia bertemu kembali dengan Sehun tepat setelah sepuluh tahun. Tepat di musim panas. Dan yang membawanya kembali bertemu dengan patah hati pertamanya itu malah orang yang sudah dengan susah payah menambal luka hati Jooyoung dengan hati-hati. Dan bagaimana bisa dua orang itu bersaudara? Mereka berdua terlalu paradoks. Ini sangat jahat. Takdir mereka terlalu jahat. Jooyoung tidak pantas mendapat omong kosong ini menjadi hidupnya.

Dan rasanya sangat salah karena seketika dalam diri Jooyoung timbul kebutuhan untuk membenci Jaehyun karena perbuatan saudaranya. Terlalu tidak adil memang. Tapi Jooyoung tidak bisa menahan diri. Saat Jennie menerobos ke dalam kamarnya dan memberitahu bahwa Jaehyun menunggu di depan pintu, Jooyoung tidak bisa menahan keinginan untuk melampiaskan kemarahannya dengan menyakiti Jaehyun. Dan dia menyuruh Jennie untuk memberitahu Jaehyun kalau dia tidak ingin bertemu.

Jaehyun tidak seharusnya mendapat hukuman atas apa yang sudah dilakukan masa lalu kepada Jooyoung. Tapi Jooyoung tidak bisa berpikir rasional.

.

.

Selama seminggu Jooyoung memutus hubungan dengan Jaehyun sebelum hatinya melunak dan akhirnya mau mengangkat telepon dari lelaki itu.

“Jooyoung!” Jaehyun berseru lega begitu menerima panggilan teleponnya. Agaknya dia sudah hampir ribuan kali menelepon ke ponsel Jooyoung tanpa mendapat jawaban, bahkan tidak satu pun panggilannya yang dialihkan ke pesan suara. Setiap pesan yang dia kirim juga tidak ada yang dibaca. Dan setiap hari dia berdiri menunggu di depan pintu tanpa pernah melihat batang hidung kekasihnya. Karena itu Jaehyun sama sekali tidak menyembunyikan rasa senangnya — dan memang dia tidak perlu melakukan itu — saat akhirnya bisa tersambung dengan kekasihnya yang seolah menghilang ditelan bumi satu minggu terakhir.

“Aku sangat merindukanmu,” ujar Jaehyun lagi.

Jooyoung memberi jeda untuk percakapannya dengan Jaehyun selama beberapa detik, membiarkan sambungan telepon mereka hanya dipenuhi suara napas Jaehyun yang terlalu bersemangat. Menimbang-nimbang kata apa yang paling tepat untuk diucapkan sebagai alasan untuk hilangnya dia selama satu minggu penuh. Tapi tidak ada kata yang muncul. Jadi dengan ragu dia hanya mengatakan, “Aku juga rindu. Ayo kita bertemu.”

.

.

Jooyoung menyuruh Jaehyun mendatangi apartemennya malam itu setelah dengan sengaja mengusir Jennie dan Doyoung untuk mencari sarang bercinta lain. Jaehyun dengan senang hati menyanggupi keinginan Jooyoung. Dia muncul di depan pintu tepat pukul tujuh dengan celana khaki berwarna pastel cream dan hoodie abu-abu. Satu tangan penuh dengan buket bunga dan tangan lain sibuk menggenggam kantong belanja yang terlihat berisi berbagai jenis coklat dan keripik.

Jooyoung menghabiskan tiga puluh detik untuk berdiam dan melayangkan pandangan bingung ke arah tangan penuh kekasihnya sebelum bertanya, “Untuk apa semua ini?”

Pertanyaan Jooyoung dibalas dengan senyum khas Jaehyun dengan lesung pipinya. Kemudian dengan santai lelaki itu menjawab, “Tentu saja untuk gadis kesayanganku yang marah kepadaku selama satu minggu.”

Melihat senyum tulus Jaehyun yang ditambah dengan perkataan seperti itu membuat Jooyoung tertegun. Dan rasa bersalah kembali menyerang Jooyoung. Karena selama satu minggu dia sudah bersikap jahat dan kekanak-kanakan. Dia akan maklum kalau Jaehyun bahkan berhenti menelepon dan meminta maaf tiada henti sejak hari pertama. Tapi bukan saja Jaehyun tetap setia memenuhi ponsel Jooyoung dengan telepon dan pesan-pesannya, lelaki itu bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan pada Jooyoung.

Dengan ragu Jooyoung menggerakkan tangannya untuk menerima buket bunga dari tangan Jaehyun. Membauinya sebentar lalu tersenyum seraya melemparkan diri untuk memeluk kekasihnya. Tidak ada kata yang bisa digunakan untuk menunjukkan betapa terharu Jooyoung dengan aksi kekasihnya. Jaehyun di sisi lain memekik terkejut saat Jooyoung secara tiba-tiba menghambur kepadanya dan melingkarkan lengan di lehernya. Kemudian secara otomatis membiarkan tangannya untuk mengelus punggung Jooyoung.

“Dasar kau ini benar-benar,” Jooyoung berkata diiringi dengusan di atas bahu Jaehyun. “Hatimu itu terbuat dari apa sih?”

‘Kau membuatku merasa seperti satu-satunya gadis beruntung di dunia.’ Jooyoung berpikir dalam kepalanya tapi tidak benar-benar mengucapkannya.

Mereka menghabiskan malam itu dengan memakan spaghetti yang dimasak Jaehyun sejam kemudian dan meonton beberapa DVD yang dipinjam oleh Jennie beberapa hari lalu sambil menghabiskan seluruh jajanan yang dibawakan oleh Jaehyun.

Saat malam sudah larut dan Jooyoung hampir tertidur di lengan Jaehyun dengan film Now You See Me masih bermain di layar TV, samar-samar dia mendengar Jaehyun berbisik setelah mengecup keningnya, “Aku terlalu mencintaimu untuk marah dengan apapun yang kau lakukan. Konyol memang. Yang jelas setiap kau menutup diri dariku aku akan tetap di sini untukmu. Membawakanmu sekeranjang bunga dari berbagai jenis hanya untuk menyenangkanmu, amaryllis, bluebell, anyelir, bunga hazel, ditambah ditambah sebuket rasa cinta yang dirangkai khusus hanya untukmu. Aku ingin bisa menjadi musim semi untuk pohon sakuramu.”

Lalu dengan kelembutan yang tidak pernah bisa hilang dari sentuhannya, Jaehyun menggerakkan jemarinya untuk menyingkirkan poni Jooyoung dan kembali mendaratkan ciuman lembut di sana. Jooyoung berusaha melawan rasa kantuk detik itu demi melihat iris kelam Jaehyun yang berfokus kepadanya seolah matahari terbit dari sana. Dan percayalah sesungguhnya Jaehyun memang merasa demikian.

Jooyoung memasang senyum lemah dan berkata “Terima kasih, kau yang terhebat.” Sebelum mebiarkan rasa kantuk menguasainya.

Tidak sekalipun wajah Sehun terbayang dalam ingatan Jooyoung saat Jaehyun menyimpannya aman dalam pelukan pria itu. Dan untuk pertama kalinya selama satu minggu akhirnya Jooyoung bisa terlelap tanpa merasa terbebani.

.

.

Pada pertemuan berikutnya dengan Sehun di apartemen Jaehyun beberapa hari kemudian Jooyoung berusaha terlalu keras untuk mengabaikan kehadiran pemuda itu. Berdiri sejauh setidaknya lima langkah dan berpura-pura tidak menyadari pandangan Sehun yang seperti melubangi punggungnya. Sebagai gantinya dia memusatkan perhatian kepada Jaehyun yang tengah memanggang pie apple untuk kudapan mereka.

Hanya bertanya sekali, “Apa saudaramu akan tinggal di sini selamanya?”

Dan dijawab oleh Jaehyun “Tidak, hyung hanya di sini selama libur musim panas.”

Dan Jooyoung kembali teringat pada waktu singkat yang dihabiskannya menjadi kekasih Sehun. Satu musim panas. Memang demikian adanya lelaki itu. Selalu hanya hadir dalam satu musim panas. Hari itu bayang tentang ciuman mereka di laut pada pagi hari sepuluh tahun lalu itu dipaksa Jooyoung untuk masuk ke dalam bagian terdalam ingatannya dan tidak boleh keluar. Kemudian dia tidak menyinggung Sehun lagi sepanjang hari.

.

.

Memandang mata Jaehyun pada sore hari yang mereka habiskan dengan meminum strawberry lemon punch di kedai dekat pantai membuat Jooyoung teringat akan sepenggal kalimat yang mengganggunya. Dan dia menghabiskan bermenit-menit berdebat dalam kepalanya untuk memutuskan apakah sebaiknya bertanya atau tidak.

“Kau baik-baik saja?” Jaehyun bertanya.

Jooyoung terlihat ragu untuk menjawab, dia menggigit bibir seraya menatap Jaehyun bimbang.

“Apa ada sesuatu di waajahku?” kembali pria itu bertanya, kali ini seraya mengerutkan kening.

Jooyoung menjawab dengan cepat kemudian, “Tidak.” Lalu kembali menggigit bibir sebelum berkata “Hanya saja aku penasaran dengan sesuatu.”

“Apa?”

Pada akhirnya Jooyoung tetap menanyakannya. Setelah benar-benar menyiapkan diri untuk jawaban yang sebenarnya sedikit banyak sudah bisa dia duga. Menghela napas panjang sebelum benar-benar membiarkan pertanyaan keluar untuk dijawab Jaehyun, “Ingat waktu kau mengatakan mataku seperti laut musim panas?”

Sejenak Jaehyun tampak berpikir, lalu mengangguk cepat. Teringat akan penggalan kalimat yang diucapkannya lebih dari setahun lalu untuk mencuri hati gadisnya.

Dan Jooyoung kembali menghirup oksigen banyak-banyak sebelum melanjutkan “Apa kau sudah bisa mengingat darimana kau dapat kata-kata itu?”

Setelah menyelesaikan kalimatnya Jooyoung menatap ragu lagi kepada kekasihnya. Memandang bagaimana Jaehyun berhenti bermain-main dengan sedotan dan menjauhkan bibir dari gelas minumannya. Pria itu kembali mengerutkan kening dan berusaha berpikir. Dari raut wajahnya nampak jelas tidak menyangka itu pertanyaan yang akan diberikan Jooyoung.

Jaehyun tampak berpikir selama beberapa saat. Berusaha menggali kembali ingatannya darimana dia menyadur sepenggal kalimat itu untuk diucapkan kepada kekasihnya.

“Kurasa…” ujar Jaehyun lambat. Membuat Jooyoung segera memfokuskan seluruh atensinya hanya kepada kata yang akan dikeluarkan Jaehyun. “Sehun hyung yang mengatakannya padaku. Itu kalimat yang digunakan untuk mendeskripsikan kekasihnya waktu di Korea. Aku meminjamnya karena terdengar sangat romantis. Dan waktu memandang matamu, rasanya seperti mendapat visualisasi yang sempurna dari gambaran gadis musim panasnya Sehun hyung. Kebetulan yang aneh bukan?”

Jooyoung tidak menjawab pertanyaan terakhir Jaehyun. Membiarkan kata-kata lelaki itu terproses dalam bilik-bilik otaknya. Lesung pipi yang timbul di wajah Jaehyun setelah menyelesaikan kalimatnya membuat perasaan Jooyoung sore itu begitu tak menentu. Gadis musim panas Sehun katanya. Jooyoung bertanya-tanya jika sampai sekarang Jaehyun tidak tahu siapa gadis musim panas itu. Atau bahwa Jooyoung memang visualisasi yang sempurna darinya karena dialah si gadis musim panas.

.

.

Terkadang mereka berseberang jalan sambil mengabaikan satu dengan yang lain. Di waktu lain Jooyoung harus menahankan berada dalam satu ruang yang sama dengan Sehun karena tidak mungkin mengusir pria itu dari apartemen adiknya sendiri. Dan dalam setiap kesempatan itu, Jooyoung meyakinkan hatinya bahwa dia sama sekali tidak peduli lagi dengan kehadiran Sehun. Bahwa pelukan Jaehyun sudah cukup untuk memblokir segala memori dari sepuluh tahun lalu dalam kepala Jooyoung.

Jennie berkata setiap kali, “Jangan pernah biarkan Sehun tau kalau dia masih punya pengaruh terhadap hatimu. Jangan.”

Dan itulah tepatnya yang ingin dilakukan Jooyoung.

Sepuluh tahun dihabiskan hanya untuk mengusir bayangan Sehun dari kepalanya dan sewajarnya dia sudah terbebas dari sihir apapun yang digunakan lelaki itu untuk menambat hatinya.

Karena itu saat mereka tinggal berdua dalam kecanggungan yang tidak tertahankan di ruang tengah Jaehyun sementara pemilik apartemennya belum kembali dari membeli telur, Jooyoung mengabaikan Sehun sebagaimana dia melakukannya selama beberapa hari terakhir. Berkutat dengan ponselnya dan tertawa pada pesan teks yang dikirim Jennie kepadanya.

“Kau banyak berubah,” Sehun berkata di sela-sela kecanggungan yang terasa membunuh. Dan Jooyoung bahkan tidak mengalihkan perhatian dari ponselnya sebagai tanggapan. Kemudian Sehun melanjutkan, “Kau terlihat jauh lebih dingin dari dulu.”

Jooyoung kemudian berhenti bermain dengan ponselnya setelah Sehun menyelesaikan kalimatnya. Dengan ragu dia mengangkat kepala untuk bertemu pandang dengan Sehun.

“Ya,” kata Jooyoung pelan. “Itu yang terjadi setelah seseorang mengalami patah hati mengerikan seperti aku.”

Sehun kembali membuka mulut untuk mengeluarkan balasan. Tapi kata-kata itu tidak pernah terucap. Karena Jaehyun menerobos masuk ke dalam rumah sambil berteriak mengumumkan kedatangannya. Jadi pembicaraan mereka terhenti di sana. Dan lagi pula bukannya Jooyoung akan mau mendengar apa yang hendak dia katakan juga.

Meski hanya Tuhan yang tahu bahwa Jooyoung sedang membohongi diri sendiri.

.

.

Dan lagi-lagi semua berubah kacau. Kali ini tidak ada yang bisa disalahkan untuk kekacauan itu selain dirinya sendiri. Tidak Jennie, tidak Doyoung, tidak Jaehyun, Kai maupun Sehun. Baiklah Sehun mungkin sedikit berpartisipasi tapi yang paling utama adalah semua karena Jooyoung sendiri.

Saat dia kembali ke rumah orang tuanya di akhir pekan, Jooyoung tidak bisa menahan diri untuk menggali tumpukan barang lama di gudang yang sudah terlalu lama tidak disentuh. Dan di sana dia menemukannya. Sebuah kotak persegi tua berwarna biru yang sudah bertahun-tahun tidak dijamah.

Di dalamnya ada sepuluh amplop dengan cap pos Kanada, tiga sudah dibuka sedang tujuh sisanya masih tersegel sempurna. Surat-surat yang dikirimkan Sehun kepadanya hingga Desember 2006 yang ditolak Jooyoung untuk dibaca setelah menerima surat ketiga. Di atas tumpukan surat itu diletakkan sebungkus Dunhill merah yang selalu menjadi pengingat setia betapa pahit rasanya jatuh cinta kepada Sehun.

Jooyoung tahu untuk tidak membuka surat-surat itu lagi setelah sekian lama. Karena sejatinya tidak akan ada yang berubah sekarang. Tapi siang itu, sembari meniup debu yang menempel di atas amplop-amplop itu, Jooyoung tidak kuasa menahan diri. Kemunculan Sehun kembali di hadapannya seperti menjadi trigger untuk dia ingin menggali kembali kenangan yang sudah lapuk. Dengan tangan bergetar dan hati cemas satu per satu dibukanya amplop yang masih tersegel. Membaca setiap huruf yang dituliskan Sehun untuknya. Dan membiarkan rasa rindu kepada wangi rokok yang selalu menguar dari tubuh Sehun memenuhi sistemnya.

Untuk kali ini saja, biarlah. Pikir Jooyoung. Untuk kali ini saja dia akan membiarkan nama Sehun memenuhi pikirannya. Untuk kali ini saja Jooyoung akan melupakan bahwa Sehun sudah menghancurkan mimpi indahnya tentang cinta pertama. Untuk kali ini saja dia akan berpura-pura Jaehyun yang dengan baik hati menambal luka yang menganga di hatinya tidak pernah ada.

Untuk kali ini saja biarkan Jooyoung tinggal di sini bersama surat cinta yang dkirim Sehun dan sekotak Dunhill.

.

.

Buruknya Jooyoung adalah, setelah membiarkan rasa rindu dengan licik menguasai dirinya, dia berikutnya membiarkan kerinduan itu tinggal. Mengendap dalam hatinya, semakin lama semakin tebal dan akhirnya meminta untuk disalurkan.

Senin berikutnya setelah kembali ke Seoul dia muncul di depan pintu Jaehyun. Tahu dengan pasti bahwa kekasihnya tidak akan ada di sana. Dan persis harapannya, Sehun membukakan pintu setelah dia mengetuk beberapa kali.

Ekspresi wajah Sehun adalah keterkejutan sejati pagi itu. Melihat Jooyoung dengan kaus putih dan blazer hitam, rambut dikuncir satu dan wajah dibalut make up.

“Halo,” keraguan begitu jelas dari Sehun saat menyapanya, tapi Jooyoung mengabaikan hal itu. “Jaehyun sudah berangkat dari sejam yang lalu kalau kau mencarinya.”

Jooyoung kali ini tidak menghindari mata Sehun saat berbicara seperti yang selalu dilakukannya akhir-akhir ini. Alih-alih, dia membiarkan pandangan mereka bertemu dengan jelas. Lalu berbicara, “Aku tidak ingin bertemu Jaehyun. Aku mencarimu.”

.

Menemui Sehun dengan sengaja adalah satu hal, berbicara dengannya adalah lain hal lagi. Sedangkan membolos kerja hanya untuk pergi naik kereta selama tiga puluh menit dengan mantan kekasihnya yang juga adalah sahabat dari mantan kekasihnya yang lain dan kebetulan juga bersaudara dengan kekasihnya yang sekarang ke pantai di sebelah barat Seoul betul-betul terdengar seperti hobi buruk.

Jooyoung tidak mengerti apa yang sudah merasukinya sampai melakukan ini. Dia bahkan tidak tahu apa tujuan dari semua ini. Dan meski ini terasa sangat salah, tapi Jooyoung tidak bisa menghentikan memori yang membanjiri kepalanya hanya dengan berhadapan dengan laut, dengan Sehun di sisinya. Ditambah isi surat-surat yang baru dibukanya beberapa hari lalu. Semua surat yang penuh tulisan cinta dan permintaan maaf.

Bagaimana bisa Jooyoung melewatkannya dulu? Oh, dia punya alasan yang masuk akal untuk itu. Dia menolak membuka surat-surat itu karena besarnya intensitas kecewa. Sekarang Jooyoung bertanya-tanya akankah keadaan mereka berbeda kalau saja dulu dia tidak dengan keras kepala membiarkan surat-surat itu terbengkalai. Mungkin kadar kemarahannya akan sedikit berkurang dulu. Mungkin dia tidak akan membenci Sehun sedemikian besarnya dan di saat yang sama mungkin dia akan tetap mencintai pria itu bahkan setelah sepuluh tahun.

Mungkin tidak akan ada Kai maupun Jaehyun dalam daftar lelaki yang dicintai Jooyoung. Mungkin. Ada begitu banyak mungkin.

Tapi Jooyoung sama sekali tidak membicarakan perasaannya kepada Sehun. Hanya membiarkan kakinya berjalan berisisian dengan tungkai panjang Sehun. Membiarkan semilir angin menyapu pipinya dan memandang bagaimana rambut Sehun bergoyang ditiup angin. Ini persis seperti di musim panas saat Jooyoung berumur tujuh belas. Dengan suara ombak sebagai pengisi kencan mereka dan jejak kaki yang menancap di pasir. Bersama kepala pink yang dicintainya. Hanya saja kali ini kepalanya tidak lagi pink seperti sedia kala. Dan Jooyoung sudah tidak perlu memanggilnya kepala pink, karena sekarang dia sudah mengingat nama pemuda itu dan dia bisa menyebutnya lebih fasih dari saat dia memanggil nama Jaehyun. Seolah lidahnya memang terlatih hanya untuk menyebut nama pria ini. Begitu aneh. Saat bersama Sehun, entah bagaimanapun bencinya Jooyoung kepadanya dalam sepuluh tahun terakhir dan seberapa buruk hatinya patah karena lelaki ini, secara ajaib Jooyoung merasa sempurna. Seperti menemukan kembali bagian dirinya yang hilang.

Sebelum mereka berpisah di sore hari, Sehun bertanya “Apa yang membawamu kepadaku hari ini?”

Dan Jooyoung menjawab dengan senyum. Lalu berbicara pelan. “Entahlah. Kurasa rindu.”

“Rindu? Kukira kau membenciku.”

Jooyoung terdiam untuk beberapa saat, mengamini kata-kata Sehun. Tapi kemudian menggeleng dan berkata, “Kau tahu? Sudah sepuluh tahun sejak terakhir aku mendengar suaramu dan kupikir aku memang membencimu. Mungkin aku memang benci. Bagaimana kau selalu tetap menghantui pikiranku walau kukira aku sudah lupa tentangmu. Tapi kali ini aku ingin menyelesaikan semuanya denganmu.”

“Menyelesaikan?”

Jooyoung mengangguk mantap. “Karena kalau tidak, selamanya ini akan membayangiku.”

Sehun memandang Jooyoung dengan wajah penuh teka-teki. Gagal menangkap apa maksud dan tujuan Jooyoung. Jadi dia menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan oleh gadis itu.

Sebelum mulai berbcicara, Jooyoung menarik napas panjang. Sangat panjang. Kemudian membiarkan rentetan kalimat mengalir, “Karena aku tidak bisa melupakanmu. Aku selalu ingat, kau dan janji-janji yang tidak kau tepati. Bagaimana kau membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya, semua hal-hal yang kulakukan untuk pertama kali denganmu. Ciuman, seks, merokok, mengendarai motor, menyelinap keluar tengah malam hanya untuk berkencan di laut, minum bubble tea. Aku ingat semuanya. Bahkan setelah sepuluh tahun. Aku selalu mengingat tentang kita. Lebih dari yang bisa kuharapkan. Dan itu tidak seharusnya terjadi, karena aku sudah memiliki Jaehyun.”

Sehun bergeming mendengar penjelasan Jooyoung. Masih tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

Lalau Jooyoung menggigit bibir bawahnya. Begitu kuat sampai terasa sakit. Lalu lanjut berbicara, “Aku hanya… berharap. Dengan bertemu denganmu hari ini dan berbicara aku akan merasa lega dan kehilangan beban dan melupakanmu lalu melanjutkan hidupku seolah tidak terjadi apa-apa karena cara seperti ini berhasil sebelumnya…” dengan Kai.

“Lalu? Apa cara ini bekerja? Apa kau sudah lega?”

“Aku….”

Jooyoung tidak menyelesaikan kalimatnya. Dan sehun sama sekali tidak memaksanya untuk melakukannya. Mereka hanya berkendara untuk kembali ke Seoul sebelum ketinggalan bus terakhir.

Tapi jawaban itu masih menetap di kepala Jooyoung meski dia tidak mengutarakannya. “Cara ini sama sekali tidak berhasil.”

.

.

Jooyoung merasa seperti menjadi manusia yang sangat buruk. Dan jahat. Sementara Jaehyun memberikan seluruh hatinya kepada Jooyoung, dia malah datang hampir setiap hari ke apartemen lelaki itu demi melihat saudara tirinya. Tidak tahu kenapa. Dia hanya merasa perlu untuk memandang mata hitam milik Sehun setiap hari dan tersesat di dalamnya seperti yang selalu dia lakukan dulu. Menonton bagaimana kedua taringnya akan mengintip dari celah bibirnya setiap tertawa. Eyesmile ikonik milik pemuda itu — yang mirip dengan milik Jaehyun.

Sementara kulit Jaehyun yang begitu putih bersentuhan dengannya, Jooyoung tidak bisa berhenti mengingat bagaimana saudara lelaki itu memiliki nada warna yang sama pada kulitnya dan betapa suka Jooyoung dulu dengan sensasi sentuhan Sehun di sekujur tubuhnya. Jooyoung mendapati dirinya tidak bisa berfokus kepada Jaehyun saja bahkan kala pria itu mencium lembut lehernya. Dan sesi bercinta dengan Jaehyun belum pernah terasa sehampa itu.

Di pagi hari setelahnya Jooyoung mengumpulkan seluruh pakaian miliknya dari lantai dan meninggalkan apartemen Jaehyun sebelum pemiliknya terjaga. Melihat betapa damai wajah tertidur Jaehyun membuat Jooyoung ingin membunuh diri sendiri karena ketidakmampuannya untuk mengontrol perasaan sendiri. Sebab itu dia cepat-cepat angkat kaki dari tempat itu.

Saat kembali ke apartemennya dia lagi-lagi mendapat tatapan bingung dari kedua temannya seperti yang selalu terjadi setiap dia kembali sendirian sehabis menghabiskan malam bersama Jaehyun. Karena biasanya lelaki itu tidak akan membiarkan Jooyoung pulang tanpa mendapat kawalan darinya.  Jooyoung mengembalikan tatapan serupa kepada kedua temannya. Karena sejujurnya Jooyoung merasa jauh lebih bingung dan hilang arah. Dia merasa tidak mengenal diri sendiri. Tapi yang paling utama, Jooyoung merasa kacau. Karena hati dan perasaannya baik untuk Jaehyun maupun untuk Sehun seperti tidak bisa dikontrol. Seolah dia tidak memiliki kendali terhadap hatinya sendiri.

“Ada apa lagi denganmu?” Jennie bertanya dengan wajah tertekuk sembari meletakkan gelas kopinya. Kemudian kedua tangannya dilipat di depan dada. Meminta penjelasan.

Dengan wajah kalut Jooyoung menjawab gelisah. “Bunuh aku sekarang.”

“Hah?”

“Kubilang tembak saja aku sekarang supaya aku sekalian mati. Aku ini bajingan.” Kata Jooyoung lagi, kali ini dengan suara ditinggikan satu oktaf membuat kedua temannya menutup telinga.

“Baiklah. Aku tidak tahu apa lagi yang terjadi. Tapi itu sama sekali tidak lucu.”

“Aku juga tidak sedang melucu.”

“Jadi? Kau sudah mulai gila ya?”

“Kurasa aku memang gila.” –karena menyakiti lelaki sebaik Jaehyun.

.

.

Jooyoung tahu ide buruk untuk membiarkan kepalanya kembali dipenuhi oleh Sehun sementara Jaehyun tidak berhenti mengiriminya ratusan pesan dan bunga setiap hari. Jooyoung tahu, lebih dari apapun di dunia ini untuk tidak membiarkan masa lalu kembali menguasai hatinya. Tapi saat dia mengangkat telepon pukul dua pagi di hari minggu dan mendengar Sehun menyebut namanya, Jooyoung sekali lagi mendorong bayangan lesung pipi Jaehyun ke sudut terjauh otaknya. Membiarkan senyum taring Sehun menggatikannya tanpa rasa bersalah.

“Ayo kita ke laut,” Sehun berkata ceria di sambungan telepon mereka pagi itu.

“Sekarang?”

“Ya.”

“Ini jam dua pagi.”

“Aku tau.”

“Lalu?”

Semua terasa seperti de javu bagi Jooyoung. Mereka pernah melakukan ini. Sehun pernah mengajaknya untuk berkendara ke laut dini hari seperti ini.

Sehun mengambil jeda sejenak sebelum suara tarikan napasnya terdengar di telepon dan dia baerbicara lambat, “Aku rindu pergi ke laut denganmu.”

“Kita baru saja pergi berdua beberapa hari lalu.”

“Ya, tapi ini berbeda.”

“Apanya?”

Ayolaaaaah. Katakan kau mau. Katakan kau juga rindu ke laut denganku. Aku bisa melihatnya dari tatapanmu.”

Kata-kata Sehun begitu tepat menohok ulu hati Jooyoung. Jadi dia menyadarinya meski tidak sekali pun menyinggungnya. Jooyoung kemudian menarik napas panjang dan melepaskannya dengan dramatis, lalu menggigit bibir sebelum berkata ragu, “Kau tahu aku berkencan dengan adikmu kan?”

“Ya.”

“Dan aku bukan gadis musim panasmu lagi.”

Hening. Untuk beberapa saat tidak satu pun dari mereka berbicara. Bahkan suara napas pun tak terdengar di sambungan telepon mereka. Keduanya begitu diam. Sampai-sampai Jooyoung merasa bisa mendengar suara detak jantungnya yang tidak karuan di bawah dadanya. Mengantisipasi reaksi Sehun.

Setelah membisu pada beberapa detik yang terasa terlalu lama, akhirnya Sehun berkata “Kau akan selamanya menjadi gadis musim panasku.”

Dan hanya itu kata yang menjadi mantra untuk menyihir tubuh Jooyoung secara otomatis mengambil jaketnya dan bersiap untuk petualangan malam mereka. Persis sepuluh tahun sebelumnya.

.

.

“Aku tidak ingin mengkhianati Jaehyun,” Jooyoung berkata sambil menatap ombak di depan mereka. Sehun duduk hanya sejarak satu jengkal darinya — bahkan hampir tidak sampai sejauh itu— dan motor besar hitam yang dipinjamnya dari temannya diparkir beberapa langkah di belakang mereka.

“Dan aku tidak akan memintamu melakukannya,” Sehun menjawab ringan kemudian membiarkan keheningan menggantung di antara mereka.

Rasanya begitu canggung. Padahal belum genap sebulan semenjak Jooyoung menangis kepada Jennie dan Doyoung hanya karena melihat lelaki ini di depan mata. Tapi sekarang disinilah mereka. Berkendara dengan motor besar pinjaman Sehun, hampir pukul tiga dini hari di tengah pantai yang jauh dari rumah, duduk berdua mengulang masa lalu.

Sebatang Dunhill terselip rapi di antara dua jemari Sehun dan lelaki itu tanpa henti menempelkan batang kanker itu di bibir dan mengisapnya. Persis seperti saat pertama mereka bertemu. Sehun masih merokok seperti kereta api. Ini sudah batang keenam yang dia hisap selama setengah jam mereka duduk bersisian di atas pasir dingin. Wangi rokok Sehun secara aneh membuat Jooyoung merasa damai. Dia kembali teringat dengan rokok pertama yang dibuat Sehun dihisapnya. Dan secara mengejutkan Jooyoung sama sekali tidak membenci memori itu ketika datang begitu saja menghantam neuronnya. Dia tidak membenci satu pun memori yang dia buat dengan Sehun pada satu musim panas yang singkat di usianya yang ke tujuh belas. Dan dia tidak bisa memutuskan apakah ini buruk atau tidak.

“Aku dulu menyatakan cinta kepadamu di laut,” suara Sehun tiba-tiba menginterupsi khayalan Jooyoung.

Gadis itu mengangkat kepala yang tadi memperhatikan rokok di antara Sehun untuk memandang wajah pemilik suara itu. Dan pada momen itu mata mereka bertemu. Kembali rasa rindu menyeruak di seluruh bilik jantung Jooyoung. Mengalir di sekujur pembuluh darahnya.

“Ya, aku ingat itu,” Jooyoung menjawab pelan tanpa menghancurkan kontak mata mereka.

“Itu pertama kalinya aku menculik perempuan dini hari, kau tahu?” kata Sehun lagi sembari tertawa.

Jooyoung membalas ketus, “Memang kau pikir itu bukan pertama kali aku menyelinap keluar hanya untuk naik motor ke laut dengan laki-laki? Kau membuatku merasa binal.” Kemudian ikut tertawa dengan Sehun setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Aku juga membuatmu minum bubble tea pertama kali kan? Merokok juga. Mengambil ciuman pertamamu dan..”

“Juga mengambil keperawananku lalu meninggalkanku begitu saja. Kau cinta sekaligus patah hati pertamaku.” Jooyoung berkata santai. Sehun segera menghentikan kata dan tawanya begitu Jooyoung mengatakan itu. Jadi Jooyoung cepat-cepat menambahkan untuk membunuh kecanggungan tiba-tiba mereka, “Seperti katamu aku melakukan banyak hal pertama kali denganmu. Mereka semua kenangan yang baik.”

Bohong besar.

Sehun masih diam sambil memandang Jooyoung. Rokok di tangannya seketika terlupa. Sampai tembakaunya perlahan mili demi mili berubah menjadu abu begitu saja, tanpa dihisap. Tapi Sehun mengabaikannya. Malah berfokus ke mata Jooyoung dan berkata, “Kau juga cinta pertamaku.”

Sehun diam. Begitu juga Jooyoung. Merasa salah tingkah untuk melakukan apapun.

Kemudian Sehun lanjut berbicara “Walau meinggalkanmu untuk pergi ke Amerika, aku tidak pernah benar-benar melepaskanmu, Joo.”

Mendengar Sehun memanggilnya Joo membuat hati Jooyoung yang dari awal sudah tidak karuan menjadi semakin tak menentu.

“Kau adalah cinta yang tidak pernah bisa kuhapus dari hatiku meski sudah bertahun-tahun lamanya. Cerita yang tidak pernah bosan kebicarakan dengan orang-orang sampai ribuan kali. Satu-satunya gadis musim panas yang terus bertahan bahkan di musim-musim lain sepanjang tahun. Dalam hati berharap suatu hari nanti kau akan menjadi milikku lagi.”

Jooyoung semakin membungkam mulutnya. Sejak kapan Jaehyun menjadi dua orang? Darimana Sehun belajar untuk berbicara manis seperti itu? Ini sangat curang. Kenapa dua saudara ini berusaha menjerat hati Jooyoung dengan menggunakan trik kata manis yang sama?

“Karena itu Joo, meski aku tahu ini salah, tapi berikan satu kesempatan lagi. Biar aku menjadi hal pertama lain lagi untukmu.”

Jooyoung masih tidak menanggapi Sehun. Hanya menatap bagaimana lelaki itu berbicara dengan wajah memelas dan puntung rokok yang sudah terlalu pendek terapit di antara jarinya.

“Aku akan menjadi selingkuhanmu yang pertama,” kata Sehun.

Jooyoung tertegun. Tidak menyangka itu yang akan dikatakan oleh Sehun. Bagaimana bisa Sehun mengusulkan hal seperti itu secara gamblang dan begitu enteng? Seolah-olah ini bukan masalah besar dan dia hanya sedang mengajak Jooyoung untuk mencicipi rasanya bubble tea dan bukan hal lainnya.

Pada saat itu Jooyoung berusaha meredam suara detak jantungnya yang tidak mau bekerja sama dengan otaknya untuk langsung menolak mentah ide konyol sehun. Dia berbicara dengan dahi dikerutkan, “Aku sudah punya Jaehyun.”

“Aku tahu. Karena itu kubilang selingkuh.”

“Sudah kubilang aku tidak mau mengkhianatinya. Dia sangat mencintaiku.”

Sehun mengeraskan rahang sejenak sebelum berkata lagi, “Aku sudah jatuh cinta kepadamu lebih lama darinya.”

“Jaehyun itu adikmu.”

“Krystal juga sahabatmu. Apa itu menghentikanmu dari mengencani Kai?”

Jooyoung bungkam. Tidak bisa langsung menemukan balasan untuk itu. Merasa sangat buruk karena sudah jatuh cinta dengan Kai dulu. Sehun benar. Fakta bahwa Krystal adalah sahabatnya tidak menghentikannya untuk mencium Kai dulu. Dia sama buruknya dengan Sehun yang ada di hadapannya sekarang.

“Tapi kami tidak berselingkuh.” Balas Jooyoung ragu kemudian setelah menemukan kembali kemampuan bicaranya. “Lagipula darimana kau tahu itu?”

“Sama sekali tidak ada bedanya. Dan tidak penting aku tahu dari mana.”

“Kau benar-benar serius?”

Sehun menggangguk sebagai balasan. Lalu memalingkan wajah dari Jooyoung seraya membuang puntung rokok yang tidak dihisap di tangannya.

“Ini gila.”

Lucunya malam itu Jooyoung sama sekali tidak berkata tidak. Meski juga tidak secara terang-terangan menerima ajakan Sehun. Tapi dia mempertimbangkannya. Dan itu saja sudah cukup buruk.

-kkeut-


A/N:

Bener2 minta maap buat chapter yang super terlambat ini. Kuliah menyita waktuku😦

Btw ini masih blm end, aku ngebagi chapter 4 nya jadi dua karena terlalu panjang

Kuharap kalian gak kecewa

Jujur aku gapuas sama chapter ini jadi maaf kalo ini juga gak memenuhi ekspektasi kalian😦

But still tinggalkan jejak setelah membaca ya ^^

Aku senang baca teori-teori kalian di komentar😄

Tamiko

82 responses to “[4/6] Break My Fall : Her Other First Thing

  1. Akhirnyaaaa di post juga yang kutunggu 😄
    Katakan aku juga gila karena aku pengen jooyoung nerima ajakan “selingkuh” dari sehun 😂😂😂 *poor jae
    Kek nya di pikiranku emang harus jooyoung satu” nya gadis musim panas sehun 😁 , tau deh bingung juga kek nanti kalo jooyoung balikan sama sehun rese bgt tuh cewe 😀, tapi kalo joo gk balikan berasa munafik bgt sih tu cewe hahaha jooyoung serba salah deh keknya 😅😁

    • Maap yaaa lama bgt 😢😢😢
      Wkwk jooyoung sm sehun jd jahat bgt dong kalo mereka selingkuh 😆😆😆
      Iya jy kan emang satu2nya gadis musim panas sehun 😣😣😣
      Jooyoung serba salah bgt yalord :”

  2. gak mungkin kecewa klo ceritanya sebagus ini…kyaknya sejauh yg q baca aq paling ska sma part ini. bahasanya, feelnya smuanya aq suka…mkin pnsran gmn klo jaehyun tahu ttg jooyoung dan sehun, aduh author-nim….d tunggu lanjutannya…

  3. Uhhh yaampun 😱😱 ini kapan endingnya??? Aku ga sabar ihh. Ini pasti ujungnya ama sehun kan? Smiga aja selama inu si sehun emng nungguin gadis musim panasnya itu -.- kasian siii si jaehyunnya, tapi si jooyoung juga ga bisa move on dari sehun 😣 duhh aku sndiri yg bingung deh wkwk
    Duhh ga sabaran deh, cepetan endingnya siii wkwk aku harep mereka tetep brsama -sehun jooyoung- selingkuhan jga ga papa wkwk

  4. Aku sama brengsek nya sma jooyoung, karena lebih milih sehun dibanding jaehyun.
    Tapi kasihan jaehyun nya, dia baik banget. Author nya tega bikin karakter kaya gitu. Hati jaehyun itu terbuat dari apa sih? Kok baik buangettt!
    Awalnya luluh sama jaehyun, tapi oh first love. Untuk lupa susahnya minta ampun. Mau di bagaimanapun, kita nggal bakalan bisa lupa sma yg pertama*saya contohnya*
    Eh sebenarnya bisa sih*saya contohnya. Lagi*
    Pake metodenya jooyoung sma kai. Bicara baik2. Kan lega. Dan hasilnya yah, bisa move on. Udah bisa buka hati buat laki2 lain, walaupun kemungkinan di sakiti masih ada. Pasti ada!
    Astaga! Sorry, skip bagian curhatnya aja. Abaikan!
    Pokoknya ff nya kuerennn buangettt. Syukaaa buangetttt..
    Ditunggu lanjutannya^^

    • Tiihhhddddaaaaaaak jgn jd brengsek kek jooyoung 😂😂😂
      Akuuuu jg ndatau kok bisa jaehyunnya jd sebaik itu di sini 😢 mana tersakiti lg dia huhuhu
      Wkwkwk bisa apa enggak nih, tbh susah loh *saya contohnya
      Tungguin chapter2 berikutnya yaaa, ini bakal segera end kok xD

      • pengennya jadi brengsek sih, tp nggak bisa. huhuhu.. aku kan cewe baek2.
        huhuhu uri jaehyun..
        bisalah *aku contohnya* nih udah berhasil pindah kelain hati.. eaa.. xD

  5. Hidup jooyoung ribet banget.. aku gatau deh harus komentar gimana yaoloh, kasian jaehyun kalo diselingkuhin tapi setuju jg kalo sama sehun.. dilema ah

  6. Kannnnnn kannnnnn aku benerr jooyoung selingkuh sma sehunnn 😏😏😏, tp aku salpoknya sehun sma jaehyun sodara an brayy, waduhh makin runyam kakak 😂😂😂, galau* tuh si jooyoung mau milih siapeee?? Klo menurutt aku sih jooyoung masihh pakek bgt suka sma sehunn 😂, lha sehun serba pertama sih, pakek di ajak selingkuh yg pertama, 😂😂😂, ahhh akuu penasaran sma akhir pelabuhan cintanya si jooyoung, bakalan sma si cinta serba pertama sehun ato si baek hati jaehyun,jaehyun mah terlalu baikk, akuu dukung sehun ajaa pokoknya #teamsehunjooyoung 🙌🙌🙌

    • Wkwkwk krn tebakan kamu tepat makanya kmrn aku like komenmu 😆😆😆 yg komennya dilike brrti tebakannya pas sm rencanaku wkwk
      Iya dr awal bikin aku udh rencana buat mereka saudara wkwkwk maapkan kejahatanku
      Nah ituuuu sehun jd pertama buat jooyoung segalanya
      Sehunjooyoung shipper spotted 😆

  7. Aahhh bingung and dilema juga..gmn ini jd y..disatu sisi kasian ma jaehyun dia udh byk berkorban bwt jooyoung..disisi lain juga sehun sama…gmn donk…ahhhh bingung..aapa jooyoung lepas adja kedua2 y heheheehe..jd smua adil..tp kasian ntar dia menderita lg…hmmm gmn yg nulis crt adja dech..tp sich pengen y ma sehun hihihi..

  8. ini.. waahhh.. sumpah bingung mau comment gimana.
    Sebagai reder menyelami bngt yg di rasain jooyoung, antara ga tega lahir batin nyakitin Jaehyun dan masih baper ama Sehun, mana rasa cinta nya pake tumbuh lagi ke Sehun..
    Yg satu niat ngajak nikah, yg satu lagi ngajak selingkuh..
    Berasa mau bunuh diri aja kyak apa kata Jooyoung #hallaahh
    .
    Endingnya mau Jooyoung tetep ama Jaehyun atau balik ke Sehun, terserah author dah😀
    soalnya q uda browsing Jaehyun itu kyak gimana rupa fisiknya, dan ternyata ganteng maksimal😀
    Jadi mau Jaehyun atau Sehun terserah aja, sama2 cakep sih😀
    Ditunggu selalu update annya.. lama juga gpp hehehehe

    • Aku juga bakal galau kalau jadi jooyoung huweeee kita kudu otokae *apaan
      Wkwk sip sip yg jelas sih jooyoung ttp bakal sama salah satu dr tiga cowok itu, kemungkinan balikan sm kai jg blm tertutup btw (har har) *dikira emot line

  9. Oh my, sehun tega ya sama adiknya sendiri. Kalau jaehyun tau gimana jadinya? Kasian jaehyun, tp aku jg pengennya jooyoung sm sehun u.u

  10. omg mereka balikan lagi astaga jaehyun terkhianati
    kok ngras kalo jaehyun udah tahu segalanya soal jooyoung dan sehun dimasa lalu ya
    gregetan nih bakal kayak gimana nasib asmara ketiganya

  11. Entahlah, aku benci sikap jooyoung yg kek gini.. Karena aku ngerasa ada di posisi jae,,, dan soal perselingkuhan,,, pliz y juyong jangan nyakitin jae sampek dalem gini,,, sumpah aku jadi baper tingkat stadium puncak ngebayangin gmana hancurnya jae kalo tahu hyungnya selingkuh sama gadisnya…😭😭
    Terimakasi u/ authornim karena ff ini aku jadi inget yg dulu2, karena aku perna ngalamimd kisah kek gini,, dan aku bca ini sambil nangis *maap jadi curhat*
    Jangan buat jae-kuh menderita pliz..

  12. Hmmm kan kan sehun datang dan merusak segalanya. Ya bukan salah sehun sepenuhnya cuma klw gak ada sehun gak bakal goyah deh hatinya jooyoung.
    Menurutku sih emang jooyoungnya cintanya ke sehun, ke jaehyun mungkin rasa terimakasih deh.
    Tapi klw gimana pun yg nama mantan pasti selalu dateng pas acara2 mau nikah gini. Yg bikin kita bisa gak sih tahan sm godaan mantan. Klw pas pacaran aja masih bisa selingkuh apalagi ntar sudah nikah. Bisa2 jadi puber ke2 dong hehe.
    Aku berharap sih jooyoung tetep sm jaehyun, gimana2 klw sudah ngomongin masa depan pasti intinya harus bisa bikin kita nyaman. Dan aku ngerasa jaehyun sudah top bgt buat masa depan jooyoung, jaehyun sudah bisa mengatasi jooyoung yg lagi up down. Jadi intinya pertimbangin deh pilih jaehyun atau sehun yg bakal nemenin kamu untuk selamanyaaa

    • wkwk persis summarynya, sehun emang selalu merusak hubungan jooyoung, baik yg sama dia sendiri, kai, dan jaehyun, scr langsung maupun tdk langsung😄
      Nah loh banyak teori konspirasi mengenai perasaan jooyoung ke jaehyun😄
      Soal sama siapa jooyoung nanti,kita tunggu dan lihat saja. Yg jelas seperti janji aku kemarin2 jooyoung pasti bakal ttp sama salah satu dr tiga cowok itu. Gabakal menjomblo abadi

  13. My God! Ampun deh ka, kemaren belom kelar dibikin galau sekarang malah makin bikin gue galau akut berkepanjangan! Ngeselin ihh-_- seriously, gue envy banget ama jalan ceritanya Jooyoung *hiks
    Heran gue makin kesini idup Jooyoung makin complicated aja ya, harus banget apa love story-nya dibikin serumit ini? Rada kesian juga liat Jooyoung, tp dianya juga ga terlalu ambil pusing wkwk sbenernya sih lebih heran ama yg bikin ceritanya, gimana si cara nongolin idenya kaa? Curious I am… *ha-ha-ha!
    Gue sempet mikir kalo sebenernya dr awal cintanya Jooyoung ke Jaehyun tu masih semu belom layaknya pure love *cieelah, dari pas Jaehyun yg nggombalin Jooyoung tentang ‘mata musim panas’, trus dr segi fisik yg ‘katanya’ perpaduan antara Sehun-Kai, tu kan semuanya masih ada sangkut pautnya ama Sehun, ya walopun terlepas dr perasaan kasih sayang juga perhatian yg itu semuanya emang bener2 tulus buat Jooyoung, tp tetep aja kan masih ada rasa Sehun’nya wkwk jd Jooyoung kaya cuma ngasih suggest buat pikiran + hatinya kalo dia tuh udah lepas dr Sehun dan pen mulai ama Jaehyun, tp padahal ngga berhasil wkwk intinya Jooyoung masih nglibatin cerita cinta masa lalunya ama Sehun walopun udah ada Jaehyun
    Juga banyak hal baik/buruk yg udah Jooyoung lakuin yg katanya ‘kali pertama’ ama Sehun (termasuk hal gila buat ngajakin selingkuh *sakaw) , tp tetep aja kan seburuk apapun moment itu pasti kaya ada tempat tersendiri buat Jooyoung simpen dimemori hati + otaknya scara otomatis terkhusus buat Sehun *duhh gakuku ganana😥
    Jaehyun juga menurut gue terlalu sempurna (malahan kelewat sempurna) selalu hal baik + positif yg dikasih buat Jooyoung, gada gregetnya wkwk
    Ehh udah deh commentnya, too long wkwk intinya ditunggu banget ka next part (last? No!) Tengkyuu^^
    Oya, ini masih sangat menyentuh + bikin terhura ka *hiks

    • Omg first of all I love you. Second of all I love youuuuuu. Yaampun komennya panjang banget aku seneeeeeeng T^T
      wkwk hidup jooyoung emang complicated bgt😄 soal ide cerita ntah aku jg gangerti, tiba2 aja udah nulis cerita aneh bin ajaib dgn konflik keterlaluan seperti ini. Someone need to stop me tbh
      Yap soal teori kamu aku benerin walaupun bakal jd agak spoiler sih, jooyoung yg ngerasa cinta sama jaehyun emang krn di satu sisi jooyoung yg udh lama gak pacaran dan tiba2 kedatangan jaehyun yg super sempurna yah cewek mana sih yg gabakal baper, kalopun gak beneran cinta pasti bakal maksain diri buat cinta jugalah wkwk tapi bakal ada kejutan lagi di part selanjutnya sehubungan jaehyun jooyoung
      jadi ditunggu saja yah😄
      Naaah soal kesempurnaan jaehyun, biar gimanapun mana ada kan manusia yg bener2 sempurna di dunia ini, pasti nanti akan muncul flawnya, ditunggu sajaaah😄
      Makasih yaaaa lagi2 buat komen panjang kamu, definitely made my day aaaaaaa :””””

  14. CRAZY!! SO CRAZY!!! Trnyata Jaehyun & Sehun Sodara? Jooyoung, ada apa dgn nasibmu? malang sekali.. g bs move on aku sma ff ini sma kya Jooyoung n Sehun haha… tiap baca chapternya kok semuanya nembus jleb diulu hati ya ¿*LebayKumat* Feelnya dpt bgt ini adl ff dgn konflik cinta yg SUPER EXTREME! Aplgi bag. Sehun mnt jd selingkuhan Jooyoung? rsax pgen teriak “HE’S SO CRAZY!” Trs ngatain lagi “SO AM I !” krn lgsg menyetujui ide Sehun! hahaha payah kn?g sbar nunggu ending..Btw ttp smgt kuliah jg_Author😀

  15. Aku makin kesini makin kesel sama jooyoung deh kak, dia knapa ngga bersyukur aja sih?? Uda punya jaehyun yang sebegitu amat sanga sangaaaattt baik kedia, knapa jahat banget sih jooyoungnyaa:(( ditunggu selanjutnyaa

  16. Yeee yang ditunggu akhirnya dateng juga..
    Ihhhh kenapa sehun ngajak jadi selingkuhannya jooyoung?? Andwee jooyoung,, kasian jaehyun..
    Tapi bener deh aku juga sebagai reader yg lebih suka jaehyun jadi tergoyahkan dengan sehunn??? Ahh gimana ini?? Kenapa sehun juga romantis??? Sumvah ini bener bener bikin penasaran sama chap selanjutnya ..
    Aku tunggu ya ^^
    Hwaiting

  17. Yaampuunn gilaaa.. beneran nih sehun ama jae saudaraan?? Aku jadi berasa serba salah kayak jooyoung nihh.. sumpah baper banget sama part ini. Aku bener2 ngerasa sebel pas jooyoung pergi keluar sama sehun gara2 gatega sama jae. Tapi dilain sisi aku juga pngennya jooyoung balik sama sehun aja. Tuh kan aku sama labilnya kyk jooyoung.

    Btw kalo jooyoung bener2 nerima ajakan sehun buat selingkuh dan kalo mereka berdua jadi bener2 selingkuh dan nglanjutin kisah cinta mereka di masa lalu aku sih bakalan seneng banget. Soalnya aku dari dulu bener2 dukung mereka aku sih juga pengennya ntar di endiing mereka brsatu gitu. Tapii di part ke 3 sama ke 4 aku tuh jadi baper sama jaehyun soalnya dia tuh prhatian bgt sama jooyoung sampe2 aku ikut baper. Jaehyun tuh baikk banget sumpah. Tapi sekarang pas baca part ini, setelah kemunculan sehun, aku jadi ikutan goyah kyk jooyoung. Aku jadi pengen sehun sama jooyoung jadi selingkuh tapi aku ga bisa bayangin gimana ntar reaksinya jaehyun kalo dia tau kakak sama pacarnya selingkuh.

    Yah pokoknya endingnya terserah kakak aja deh. Kalo sehun bner2 berakhir sama jooyoung aku bakal seneng banget karena secara dia itu her first everything jadi aku paling ngefeelnya jooyoung sama sehun terlepas dari bagaimanapun baiknya jaehyun sama jooyoung..

    So,, endingnya aku serahin sama kakak aja gimana yang penting jooyoung punya happy ending. Harapannya sih dia happy ending sama sehun trs jaehyunnya buat aku aja?? Haha..

    Okedeh ditunggu banget ya next chaptetnya… semangatt

    • Hayolooooh tetapkan pilihanmu naaak😄
      Mau balik sama si mantan yg seba first everything atau sama pacar yg baik bangetngetnget kayak jaehyun? Kalo aku jadi jooyoung, udah gatau lg harus gimana😦 untungnya bukan kita yg ada di posisi jooyoung wkwkwk
      Jooyoung pasti bakal happy ending kok tapi sama siapanya masih rahasia😄

  18. dr awal sehun adalah yg pertama buat jooyoung, jadi aku harap dia jg akan menjadi satu”nya yg pertama dan terakhir buat jooyoung…

    seneng banget kalau sampai nantinya sehun bisa bersama lagi dgn jooyoung … because sehun is the first and will be the last for jooyoung🙂
    semoga jaehyun bisa mengerti keadaan ini, dan mau melepaskan jooyoung untuk sehun🙂

  19. baca ini aku ko ikut baper yah,, ya ampun bener-bener bikin hati ga karuan, jadi ikut ngrasa kya jadi jooyoung,, ko aku jadi ga suka klau jooyoung balik sama sehun yah, nrasa kasian banget jaehyun nya,,
    tp qu jg ikut bingung,,

  20. aahhh bener-bener baper deh bacanya, kerasa kya kita jadi jooyoung nya,, bener2 ikut d bikin bingung sama authornya, ngeliat jooyoung mau nerima ajakan sehun, berasa kya jahat banget, kenapa ga bilang dr awal saja ke jaehyun klau sehun itu cinta pertamanya, jd ntar jaehyun g terlalu sakit,,
    aaahhhhh jd ikut bingung,,

  21. gk tau knp,wlwpn tau sehun brengsek,w lbih ska jooyoung sma sehun,,klo untuk jaehyun kya nya dy trlalu baik buat jooyoung,,hha
    jngn lama” yaaa update nya..serruuu

  22. Kecewa?? Enggak mungkin.. aku sukaaaaaa banget part ini.. konfliknya pelik banget, dapet banget, bahasanya, feelnya uggghhh..
    Aku bisa banget ngerasain klo diposisi Joo, sumpah antara senang banget dan ngerasa bersalah banget. Tp banyakan senangnya sih karna Sehun 😅 gila, Sehun bisikan setan banget ngajakin selingkuh.. tp senang sih *ups hahaha klo dipikir menurut aku kliatan cinta Sehun yg lebih dalem, klik banget rasanya dihatiku hihihi.. pokoknya part ini oke banget👌 Semoga part finalnya happy ending ya.. #ngarepbarengsehun😆
    Author semangaaaattt!!

  23. Huaaaa.. Jooyoung kok gitu sihh.. Aku jadinya sebel sama jooyoung.. Ada sih cewek macem gitu.. Waduhh aku benci jooyoung.. Huhh.. Kan kasian jaehyun.. Dia kan cinta banget sama jooyoung.. Kenapa bisa2nya jooyoung ngianatin jaehyun.. Aduhh hun kenapa kamu jadi antagonis disini.. Iyahh.. Menurut aku kamu antagonis banget.. Udah tau itu punya adeknya.. Masih diembat juga.. Pokoknya kakk di parr ini aku bencideh sama jooyoung dan sehun.. Udah jaehyun kesini aja sama aku.. Wkwkkwkwkk

    • Iya juga sih Jooyoung menyebalkan wkwk
      Tapi Jooyoung belum khianatin jaehyun kok disini, gaktau ke depannya gimana wkwkwk
      Sehun bukan antagonis kok😄 tapi ya kan mau gmn lg, org si cewe itu punya sehun dluan wkwk, yaampun kita lihat saja ke depannya mereka bakal seperti apa😄

  24. Kak ini udah bagus. Puas jugaan sama chapter ini. Gasabar bngt nunggu ini chapter. Soalnya teasernya aja menggoda iman😂
    Awalnya aku ngira ini bakal jadi the last chapter, tp ternyata ada tambahan chapter lagi. Tp gapapa asalkan hasilnya memuaskan dan ga gampang di tebak.

    Aku baca ini chapter jadi takut sendiri😂
    Soalnya di drama2 cowo yg ngerti/paham sama si cewe tokoh utama jarang bakal “bersama”😂 contohnya aja school 2015. Takutnya jaehyun bakal merasakan apa yg dirasakan si gong tae kwang😂

    Tp balik lagi sama kakak, itu semua terserah kaka mau diapain asalkan endingnya apik. Aku ga bakal maksa atau ngedesak kakak endingnya harus inilah, si itu sama si inilah, yg ini harus ginilah. Semua terserah kakak.

    Kupercaya padamu kakkkkkk.
    Fightinggggg^^
    Sukses buat kuliahnya kak.

    • Huweeee makasih yaaa dibilangin bagus T^T
      Maafkan kelabilanku heuheu habis ternyata emang gamungkin aku jadiin satu chapter aja bagian ini, plotnya masih panjang. Malahan sepertinya akan muncul chapter2 berikutnya lagi #plak /gak
      wkwk iya biasanya cowok baik selalu tersakiti kan hahaha
      kita liat aja ntar kalo di fic ini nasib si cowo baik gimana ><
      Makasih yaaa udah nungguin dan dukung ff ini selalu hwhe

  25. Ngenes bgt sumpah T_T
    Udah bahagia sm jaehyun tinggal nunggu dilamar, ehh si sehun malah jd hyungnya jaehyun x____x
    Emang sih, sehun itu serba pertama buat jooyoung.. Tp please deh joo… Jgn jd yeoja bdoh yg mau aja jatuh dilubang yg sama. Siapa tau nanti sehun pergi lagi?! Who knows?? Lagian sehun cuma masa lalu, masa depan ada jaehyun yg jelas2 bisa lebih bahagiain…
    Haduhh greget bgt deh jadinya eonn… Padahal bias aku sehun😄 tp kalo dia dulu kaya gitu ke joo, jd bikin kesel permanent :s

    Next partnya ditunggu eonn😄

    • Iya kok Jooyoung hidupnya gini bgt sih T^T #plak pdhl diri sendiri yg bikin😄
      Wkwk iya semoga Jooyoung bisa berpikir rasional yaaa
      wkwk kalo kamu benci dengan sehun sekarang siap2 aja terkejut sama chapter berikutnya *spoiler

  26. Omg….kenapa takdir jooyoung kejam sekaliii
    Huhu jadi jatuh lgi tiba2 ada sehun

    Aku suka banget pemilihan kata2nya..jjang

    Ditunggu chapter selanjutnya
    Jangan lama2 yah😉

  27. Oh I like BMF a lot because of the always unexpected plots. Tapi gemes banget sekarang jadinya karena Sehun balik lagi dan Jooyoung galau lagi dan Jaehyun diabaikan lagi😦 dan entah kenapa feelnya ke Jaehyun jadi kurang bangettt << kedistract sama Sehun yang bawa pengaruh buruk🙂 bad boy just always attracts tch.

  28. kak biarkan aku bernapas dulu:(((.

    sumpah kak ini asdfghjkl banget lahhh ga nyangka sehun….. jaehyun…… aku bingung milih siapa :(( jaehyun terlalu baik ya ampun aku ga sanggup suer ga sanggup. jaehyun beneran udh ngobatin hati jooyoung sehun malah dateng wkwkwk antara sedih,kesel,emosi juga plis jooyoung hatinya jangan labil lagi :(( kasian jaehyun . udh mau dilamar banget ini mah😦 hidup jooyoung gini amat yah ;”,tpi yah nau gimana lagi kuserahkan semuannya padamu kak. mau jaehyun atau sehun yang sama jooyoung kuterima saja wkwkw

    aku tunggu loh kelanjutannya 😁😁

  29. Yah emang sih kalo jooyoung balik lg ke sehun, mas jae kesian dong😞
    Tapi kalo menurutku jooyoung ama sehun aja pls soalnya sehun itu first love nya joo, dan sampe sekarangpun dia masi deg”an kalo sama sehun. Lagian kayaknya sehun juga cinta sama joo😀

  30. Antara kasian ama jaehyun tp sbnrny jooyoung mnding ama sehun aj.. abisan klo dipaksain ama si jahe entar kasian jahe krn jooyoung msih cinta ama sehun..

    Belibet bgt kisah cinta km joo..

  31. Jalan pikiran otak sehun gimana sih gila banget ngajakin jooyoung selingkuh😣ini lg jooyoung plin plan bnget 😱😒sumpah makin panas banget ni bacanya haha haha 😄😁😍😘

  32. Ak gantung diri aja aah di pohon toge. . . Hayati udah terlalu lelah dengan semua ini kakanda Sehun. . . Hiksss
    Ak nangis baca part ini. Antara kesian sama sehun atau sama jaehyun. Hikss
    tapi menurut ak yaa apa si jaehyun itu gak aneh. Kan dulu sehun selalu cerita sama dia terus pasti kan sebutib namanya. Masa gak tau sih kalo jooyoung mantannya si kakak. Jangan2 dia tahu terus penasaran. Terus pacarin jooyoung. Entahlah. . . Hanya author dan Tuhan yg tau.

    Semangat utk kuliahnya yaaa ^^
    Tapi keren looh walopun sibuk kamu bisa nyiptain cerita keceh giniiii. . .

    Berhubung ak udah baca part 5nya jadi ak tunggu part selanjutnyaaa yaaa ^^

    Mangaaaat

    • Wah soal itu……
      Bahkan authornya tak tahu wkwkwk. Gak ding becanda hehe
      Walaaaah sampe nangis T^T mianhae ;-;
      Huhu iya makasih ya ^^ tp sejak masuk kuliah nulisnya jd lambat gini. Maaf ya *bow*

  33. SUMPAH YAAAAA JOOYOOUUNNGGG BENER BENEERRRRRRRRRRR BRENGSEKKK WKWKKWKWKWKKW

    TAULAH CINTA PERTAMA SIH CINTA PERTAMA TAPI OH GOD KASIHANILAH SEORANG SEPERFECT JUNG JAEHYUUUNNNNNNNNN

  34. astaga rasanya kek ikut naik rolles coaster dgn kisah percintaannya jooyoung ini.. sehunnya smpe mau djadikan slingkuhan.. what about jaehyun? ah molla.. 😣
    keep writing ^^

  35. Jooyoung gimana sih? Aku pegel sendiri bacanya kak. Nggak bisa bayangin waktu Jaehyun tahu kalo kakak tirinya selingkuh sama pacarnya, sounds complicated😦 Sehun sehebat apa sampe kamu tega sama Jae, nak?😄
    Ohiya kak, agak nyeleneh sih, tapi aku pengen tahu Jooyoung di wawancarai. Kakak tahu games ‘ask your original character’ yang lagi banyak di dashboard wordpress? Kayaknya seru kalo Jooyoung juga dibuatin satu interview gitu hehe😄
    Sudah ya, aku mau lanjut dulu ~ Keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s