The Dim Hollow Chapter 21-Final by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                              —Chapter 21 [Final]                                                            

Heal

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve ♣ Chapter 13—Jealous ♣ Chapter 14—Meet Them ♣ Chapter 15—Realize ♣ Chapter 16—Date ♣ Side Story: Forbidden ♣ Chapter 17—The Beginning ♣ Chapter 18—Truth ♣ Chapter 19—Past Chapter 20—Gone

Gadis itu duduk seorang diri sambil menekuni sebuah buku di pangkuan. Kedua telinganya disumbat earpeace yang tersambung pada ponsel di saku hoodie kebesarannya. Agak aneh sebenarnya, melihat gadis itu begitu tenang dan diam. Berbulan dibuntuti, rasanya Jongin telah terbiasa dengan keributan yang seringkali dibuat gadis itu.

“Yah—tidak bosan menungguku terus?” tanya Jongin sembari mendudukan dirinya di samping gadis itu.

Si gadis, refleks mendongak dari bukunya. Kedua matanya seketika melebar begitu menemukan Jongin duduk tepat di sampingnya. Perlahan tangannya bergerak melepas masing-masing earpeace yang menempeli telinganya.

“Jongin …?” Ia bergumam tak percaya

Jongin terkekeh pelan, mengerling gadis di sampingnya sekilas, sebelum akhirnya bertanya, “Kenapa terkejut begitu?”

Kim Chaeyeon mengerjap beberapa kali mendengar pertanyaan Jongin tadi. Bagaimana bisa ia tidak terkejut? Jongin, yang biasanya selalu menghindarinya kini duduk di sampingnya tanpa diminta. Chaeyeon nyaris tak mampu mempercayai matanya sendiri melihat Jongin seperti ini. Bukankah biasanya selalu ia yang mencari—dan membuntuti—Jongin kemana pun? Kenapa kini Jongin datang sendiri padanya?

Selepas kelulusan SMA-nya beberapa bulan lalu, Chaeyeon sengaja mendaftar di kampus yang sama dengan Jongin agar ia bisa bertemu pemuda itu dengan mudah. Jika jadwal kuliahnya kosong, ia selalu datang ke kampus hanya untuk menemui Jongin. Menunggu sampai kelas pemuda itu habis—seperti yang tadi tengah ia lakukan—lalu mengekorinya kemana pun ia pergi. Terhitung sudah berbulan-bulan Chaeyeon melakukannya, namun Jongin tak pernah mempedulikannya. Kelihatannya, pemuda itu sama sekali tak tertarik pada Chaeyeon. Meski begitu Chaeyeon tak mau ambil pusing. Apa boleh dikata, ia telah terlanjur jatuh hati pada sepupu teman baiknya itu. Mau bagaimana pun, Chaeyeon akan mengejar Jongin sampai dapat.

Lalu hari ini, Jongin tahu-tahu datang sendiri padanya. Tanpa diminta, tanpa dipaksa.

“Kau … apa yang membuatmu datang padaku?” tanya Chaeyeon setelah hening agak lama. Kedua mata gadis itu lantas melebar. Ia menekap mulutnya dengan ekspresi berlebihan. “Jangan-jangan kau sudah membalas perasaanku? Kau mulai suka juga padaku, ya?”

Begitulah Kim Chaeyeon. Tidak tahu malu dan blak-blakan. Dan kelewat percaya diri.

Jongin langsung dibuat tergelak mendengarnya. Butuh beberapa sekon baginya untuk menghentikan tawa sebelum akhirnya berujar dengan raut menyebalkan, “Berhenti bermimpi. Aku tidak mungkin balas menyukai gadis berisik sepertimu.”

Sebenarnya Jongin agak berbohong. Tapi sepertinya Chaeyeon tak perlu tahu—untuk saat ini.

Decakan jengkel lolos dari mulut Chaeyeon. Meski dikatai oleh lelaki yang disukainya, entah kenapa hatinya tak juga merasakan sakit. Mungkin karena apa yang dilakukan Jongin hanya sebatas ucapan semata.

“Kalau begitu kenapa tiba-tiba muncul di hadapanku begini? Biasanya kau selalu menghindariku. ‘kan.” Chaeyeon menukas.

Jongin tersenyum kecil mendengarnya. Ia lalu berdehem pelan. “Salah satu kerabatku akan mengadakan pesta pertunangan Sabtu nanti. Dan coba tebak, aku tak punya pasangan untuk pergi ke sana.”

Sebelah alis Chaeyeon berjingkat tinggi. “Maksudmu kau mau aku menemanimu ke pesta itu, begitu?”

“Hanya kalau kau mau,” sahut Jongin sambil mengedikan bahu. Ia lalu lekas-lekas menambahkan, “Tapi tentu saja kau pasti mau. Ya ‘kan?”

Cih, percaya diri sekali.

Meski memang benar, sih. Chaeyeon takkan mungkin menolak ajakan Jongin. Namun berhubung pemuda itu selalu merendahkannya, sekali ini saja Chaeyeon ingin sedikit jual mahal.

“Yang benar saja. Memangnya kau tak punya teman perempuan lain?” tukasnya.

Jongin lagi-lagi mengedikan bahu. “Semua teman perempuan yang kupunya hanya datang padaku di malam hari.”

Oh ya ampun.

Chaeyeon mendecak kecil mendengarnya. “Kau lupa sepupumu seorang perempuan, huh? Kenapa tidak ajak Dahye saja?”

“Ah. Dahye juga diundang ke pesta itu. Kurasa dia akan pergi dengan saudara kembarmu. Siapa namanya? Aku lupa.” Jongin menggaruk tengkuknya sambil mencoba mengingat-ingat.

“Taehyung. Namanya Taehyung,” sahut Chaeyeon kemudian.

“Ah, ya, Taehyung. Belakangan mereka dekat sekali,” gumam Jongin. “Mungkin mereka berkencan.”

“Tidak aneh kalau sampai Dahye dan Taehyung kencan. Sejak masih di SMA, Taehyung sudah menyukai Dahye, dan gadis itu tidak menghindar ketika Taehyung mencoba mendekatinya,” cetus Chaeyeon cepat. “Coba saja aku seberuntung Taehyung, menyukai seseorang sebaik Dahye. Mungkin saat ini aku juga sudah punya kekasih.”

Diam-diam Jongin mengulum senyum. Ia tahu benar Chaeyeon tengah menyindirnya, yang selalu menghindar kalau didekati. Namun Chaeyeon tak tahu saja, ada yang telah berubah dalam hati Jongin. Meski mungkin porsinya belum begitu banyak, harus diakui Kim Chaeyeon telah berhasil menggeser posisi Dahye dari hatinya. Tanpa disadari, gadis Kim itu perlahan-lahan menghapus nama Dahye, lalu mulai menorehkan namanya sendiri.

“Jangan-jangan kau sudah membalas perasaanku? Kau mulai suka juga padaku, ya?”

Kau benar. Kurasa, aku mulai menyukaimu, Kim Chaeyeon.

Jongin tertawa kecil memikirkan ini. Kim Chaeyeon yang semula begitu ingin ia hindari karena sikapnya yang agak aneh, justru telah berhasil memenangkan hatinya. Terkadang hidup memang selucu itu.

“Lihat, lihat, sekarang kau malah tertawa sendiri.” Chaeyeon menukas dengan wajah ngeri dibuat-buat. Ia lalu mengembuskan napas, dan berujar, “Baiklah. Karena aku tidak mau melihatmu sampai depresi mencari pasangan ke pesta itu, aku akan menemanimu ke sana.”

Senyum lebar dengan cepat tersungging di bibir Jongin. “Aku tahu jawaban seperti itu yang akan kau berikan.”

Chaeyeon memutar kedua bola matanya jengah.

“Oh, omong-omong siapa yang akan bertunangan?”

Jongin menelengkan kepalanya sembari menjawab, “Kau tidak mengenalnya, sebenarnya. Dia Byun Baekhyun, seseorang yang akan selalu kuanggap keluarga.”

“Nenek cerewet sekali. Dia menceramahiku ini itu, padahal aku hanya akan bertunangan dan bukannya menikah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai kita mengumumkan tanggal pernikahan kita.”

Di kursinya, Byun Baekhyun tertawa kecil mendengar ocehan kekasihnya. Bahkan meski mereka tak bertatap wajah, Baekhyun yakin sekali gadisnya itu kini tengah memasang raut jengkel.

“Nenek begitu karena beliau sangat menyayangimu, kau tahu.” Baekhyun berujar pada ponselnya.

Embusan napas berat terdengar dari seberang sana. “Tapi aku jadi tak bisa menemuimu jam makan siang ini. Nenek menyita seluruh waktuku yang mestinya kuhabiskan denganmu.”

Senyum hangat begitu saja mengembang di bibir Baekhyun. Ini yang selalu ia sukai dari gadisnya. Gadisnya yang apa adanya dan tak pernah malu mengungkapkan perasaannya. Gadisnya yang begitu sederhana, namun mampu membuat segalanya terasa istimewa.

“Kau tak perlu khawatir. Kita masih punya banyak waktu. Begitu banyak,” ujar Baekhyun kemudian, berharap dengan begitu dapat menghapus kejengkelan gadisnya.

            “Oh, Baekhyun-ah, kurasa aku harus tutup teleponnya. Nenek sudah kembali.” Gadisnya tahu-tahu berujar dengan cepat. “Kelihatannya dia masih punya banyak wejangan untuk disampaikan. Sampai jumpa lagi, ya!”

Dan sambungan pun terputus.

Baekhyun terkekeh sembari meletakan kembali ponselnya di atas meja. Dibayangkannya gadisnya yang bergegas mengantungi ponsel dan memasang raut serius seolah segala keluhan tentang Neneknya tak pernah ia luapkan. Pemuda Byun itu lantas merasakan mood-nya perlahan membaik setelah bercengkrama barang sebentar dengan kekasihnya.

Ia kemudian melonggarkan dasinya, dan bersiap menghadapi kembali laptopnya yang menyala, ketika ponselnya lagi-lagi berdering nyaring. Mengira kekasihnya yang menelepon kembali, senyum jenaka tak pelak menghias bibirnya. Namun raut bingung segera membayangi wajahnya begitu menemukan nomor tak dikenal yang menghubunginya.

“Halo?”

Sejenak hening di ujung sana. “Baekhyun hyung?”

Kedua mata Baekhyun melebar begitu mendengar suara itu. Suara yang telah berbulan lamanya tak pernah ia dengar. Suara milik seseorang, yang menghilang entah kemana tanpa kabar.

Ragu, Baekhyun mengerling nomor yang tertera di layar ponselnya. Tak sangka sosok itu kembali menghubunginya lagi setelah sekian lama pergi.

            “Hyung, kau masih di sana? Bisa kita bertemu?”

            Dahye punya seribu satu alasan bekerja paruh waktu di kafe milik paman Shannon—yang padahal sempat jadi tempat paling ingin dihindarinya. Tapi diganggu dan diusili oleh Kim Taehyung jelas bukan salah satunya.

“Kim Taehyung, kubilang berhenti!” Dahye berseru jengkel, berusaha menghindari tangan-tangan si pemuda Kim yang dipenuhi busa sabun cuci piring.

“Ayolah, kau tidak pernah mau cuci piring. Apa salahnya kena sedikit busa-busa ini?” balas Taehyung sembari tak henti mencoleki setiap sisi wajah Dahye dengan jari-jemarinya.

“Aku tidak mau cuci piring karena tugasku hanya mengantar pesanan!” Dahye mencoba berkelit, lantas mengerang ketika merasakan hampir setiap senti pipinya kotor terkena busa dari tangan Taehyung. “Sialan kau, Kim Taehyung!”

Taehyung tergelak puas melihat Dahye yang kini menjauh sambil mencak-mencak marah. Gadis itu membersihkan wajahnya di wastafel, lalu berbalik untuk menghadiahi Taehyung delikan tajam, yang justru malah membuat Taehyung semakin tergelak.

“Yah—kalian, tidak bisa ya, sehari saja tidak bermesraan terus.” Shannon Jung menukas bosan dari ambang pintu dapur, melipat kedua tangannya di depan dada, dan memandang Dahye dan Taehyung dengan mata menyipit.

“Apanya yang bermesraan.” Dahye mencibir ketus, masih membasuh wajahnya. Sementara Taehyung telah kembali menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring sambil terkekeh-kekeh.

Shannon mendecak kecil lalu berujar, “Begini ya, berhubung aku ini keponakan Tuan Jung, aku hanya ingin memperingatkan kalian berdua agar tidak terlalu sering bermesraan begitu di sini. Ini tempat kerja, bukan tempat kencan, oke?”

Sambil melepas apron yang melingkari pinggangnya, Dahye menukas cepat, “Harus berapa kali kubilang kami tidak bermesraan sih, Shannon? Sudah, ya, jam kerjaku sudah habis. Aku pergi dulu.” Ia melambai sambil lalu pada Shannon. Namun baru tiga langkah yang diambilnya, ia kembali berbalik untuk menatap Taehyung. “Dan kau, Kim bodoh, ayo bergegas. Kau bilang mau menemaniku mencari gaun.”

Shannon memandangi punggung Dahye yang menjauh dengan tatapan tak percaya. Gadis Jung itu lantas beralih pada Taehyung yang kini tengah mengeringkan tangannya.

“Dia bilang kami tidak bermesraan, jadi tidak usah tanya-tanya lagi, Noona.” Taehyung menukas cepat, bahkan sebelum Shannon sempat mengatakan apa pun.

“Yak, berapa kali kubilang untuk tidak memanggilku Noona! Kau membuatku kedengaran tua!” Shannon nyaris memekik pada Taehyung yang kini berlalu.

Pemuda Kim itu tertawa, lalu berbalik dan melambai pada Shannon. “Sampai jumpa Senin nanti, Noona!”

Pekikan jengkel dari Shannon lantas mengiringi langkah Taehyung meninggalkan kafe itu. Di luar, ia segera bertemu dengan Dahye yang telah menunggunya dengan raut tak sabar.

“Ayo cepat,” gumamnya dan menarik tangan Taehyung agar pemuda itu berjalan cepat di sisinya.

Taehyung terkekeh kecil, memperhatikan tangan mereka yang bertautan sebelum akhirnya berujar, “Kenapa tidak sabaran sekali, sih? Tokonya tidak akan tutup bahkan jika kita terlambat setengah jam sampai di mall.”

Dahye mendecak kemudian menghentikan langkahnya di halte bus. “Aku bukannya tidak sabar mencari gaun. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Hari ini terasa melelahkan saja,” sahut Dahye pelan.

Taehyung mengembuskan napas kecil. Jika mereka hanya berdua, Dahye selalu seperti ini. Murung, dan berkata bahwa ia telah melewatkan hari yang melelahkan. Perlahan Taehyung meremas tangan Dahye dalam genggamannya, lalu membawa gadis itu semakin dekat ke sisinya.

“Kau punya aku, kau tahu? Jangan bersedih terus,” ujarnya sambil memberikan senyum hangat.

Dahye mendongak menatap Taehyung. Lantas ikut tersenyum, meski senyumannya terasa agak hambar. “Ya, aku tahu.”

Tak lama bus mereka tiba. Keduanya naik dan menghabiskan perjalanan dalam diam. Sesekali Taehyung mencoba membuka pembicaraan, yang hanya Dahye sahuti sekenanya. Tak sampai sepuluh menit, mereka telah tiba di mall tujuan keduanya.

“Kau harus bantu aku pilihkan gaun mana yang paling cocok.” Dahye berujar pada Taehyung begitu mereka tiba di salah satu distro. Gadis itu mulai sibuk memilah-milah di antara pakaian-pakaian yang digantung.

Taehyung menarik salah satu gaun secara acak, lalu mengangsurkannya pada Dahye. “Yang ini kelihatan bagus.”

Kedua alis Dahye berjingkat, memindai gaun pilihan Taehyung dengan saksama. Ia lantas mengangguk, dan menerimanya. “Pilihanmu boleh juga.”

“Tidak mau dicoba dulu?” tanya Taehyung begitu melihat Dahye segera membawa gaun itu ke kasir.

“Kelihatannya muat,” sahut Dahye tanpa pikir panjang.

“Bagaimana kalau kekecilan?”

“Tidak mungkin.”

“Kau agak gemukan akhir-akhir ini, bisa saja—“

Ucapan Taehyung segera terhenti ketika Dahye berbalik padanya dan menghadiahi satu lagi delikan tajam.

“Apa kau bilang?”

Cengiran lebar segera menghias wajah Taehyung. “Kubilang gaun itu pasti pas sekali di tubuhmu.”

Dahye mendengus lalu kembali meneruskan langkahnya, tahu benar bukan kalimat itu yang tadi Taehyung katakan.

“Hei, kau tidak lapar?” Taehyung bertanya begitu Dahye telah membayar gaunnya. Keduanya tengah berjalan menuju pintu keluar. “Mau langsung pulang saja?”

“Eum. Aku ingin cepat sampai rumah,” sahut Dahye, mengulang perkataannya di halte tadi.

Taehyung mengangguk paham, ikut saja dengan keinginan Dahye. Ketika itu, tatapannya tak sengaja jatuh pada sesosok pemuda yang duduk di sebuah resto. Meski terhalang kaca, Taehyung dapat memandangnya dengan cukup jelas.

Kenapa kelihatan seperti …?

“Yah, Kim Taehyung, kenapa berhenti?”

Taehyung terkesiap ketika mendapati Dahye berseru padanya beberapa meter di depan. Rupanya ia sampai menghentikan langkahnya. Agak ragu, Taehyung menyusul Dahye meski sesekali masih menengok ke resto tadi.

Yang tadi itu, mungkinkah Oh Sehun?

            Baekhyun mengetukan jemarinya perlahan pada permukaan meja, sementara matanya tak pernah lepas sekali pun pada sosok lelaki yang kini duduk tepat di hadapannya. Menunggu lelaki itu untuk bicara tanpa diminta. Namun bahkan setelah nyaris lima menit berlalu, ia tak juga buka mulut. Baekhyun mengesah kecil, lalu menegakkan posisi duduknya. Kedua tangannya terlipat dengan tegas di depan dada.

“Jadi, kemana saja kau selama ini?”

Karena Oh Sehun tak juga bicara, maka ia memutuskan untuk bertanya terlebih dulu.

Pemuda Oh itu mendongak dari kopinya yang sejak tadi jadi objek pandangannya. Ia menatap Baekhyun sebentar lalu berujar, “Busan. Aku di Busan.”

“Apa?” Baekhyun nyaris tak mempercayai telinganya sendiri.

“Tujuh bulan lalu ayahku mengembuskan napas terakhirnya, penyakit jantungnya sudah tak tertolongkan lagi,” Sehun memulai, membuat Baekhyun terkejut mendengarnya.

“Kau tidak pernah cerita apa pun padaku tentang ini.” Baekhyun berujar bingung, tak sangka dengan apa yang baru saja didengarnya.

Sehun mengangguk sambil tersenyum kecil. “Maaf untuk itu, Hyung. Saat itu ada terlalu banyak hal memenuhi kepalaku, aku tak bisa berpikir dengan baik.” Ia berhenti sejenak untuk mengembuskan napas berat. “Setelah apa yang kulalui di sini, dan apa yang terjadi pada ayahku, aku memutuskan untuk tinggal di Busan dan menemani ibuku. Kupikir kami berdua sama-sama kesepian dan butuh teman untuk bertahan. Selain itu, kurasa aku juga bisa memulai hidup baruku di sana.”

Kening Baekhyun mengerut mendengar ini. “Apa maksudmu?”

“Aku berniat melupakan segalanya. Tentang apa saja yang sudah kulalui dan kudapatkan di sini.”

Butuh beberapa saat bagi Baekhyun untuk mencerna maksud perkataan Sehun. “Kau sedang … membicarakan Dahye?”

Sehun tersenyum tipis. “Setelah Dahye mengetahui segalanya, kurasa tak ada gunanya lagi aku menunggunya. Dia telah membenciku, enggan menerimaku lagi. Tapi tentu aku tak menyalahkannya—sama sekali tidak. Kalau pun aku jadi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama.” Pemuda itu mengembuskan napas perlahan sebelum kembali berujar, “Segalanya telah terlambat untuk kuperbaiki. Kesalahan yang kubuat memang tak termaafkan. Jadi aku memilih pergi, dan mencoba melupakan segalanya. Karena kurasa, inilah hukuman sesungguhnya yang patut kuterima.

“Aku mencoba menghapus semua jejak yang kutinggalkan selama di Seoul. Aku mengganti nomor dan menghapus semua kontak yang kupunya, demi mencegah diriku sendiri mencoba menghubungi orang-orang tertentu yang bisa membawaku kembali kemari. Dan yang paling utama, aku mencoba melupakan Dahye.”

Baekhyun memperhatikan temannya itu sejenak. Ia menelengkan kepalanya lalu bertanya, “Hasilnya?”

Sesaat Sehun terdiam. Ia menundukan kepalanya dan menggeleng pelan.

“Gagal. Benar-benar gagal,” ujarnya. Ia melepas tawa hambar yang terdengar begitu memilukan. “Bukannya lupa, justru aku semakin mengingatnya. Mengingat setiap kenangan yang pernah kami miliki, mengingat semua tentang dia. Bayangannya dalam benakku kian hari kian jelas. Semakin keras aku mencoba melupakannya, semakin nyata pula sosoknya dalam ingatanku. Perasaan yang pernah coba kubunuh juga terus bertahan hari demi hari, tumbuh semakin besar dan bukannya mati seperti yang kuingin.

“Aku tahu aku tak bisa begini terus. Mau bagaimana pun aku harus melupakannya—tapi sekali pun tak pernah bisa. Karena itu, meski aku tak bisa melupakannya, setidaknya aku harus menahan diri untuk tidak menemuinya.

“Tapi hari ini aku telah tiba di sini. Ibuku, seolah tahu alasanku tinggal sebenarnya hanya untuk melarikan diri, selalu memaksaku untuk kembali ke Seoul. Hingga hari ini ia memintaku mengantarnya menemui temannya di Seoul, dan membuatku kembali kemari.”

Hening yang tak biasa menyelimuti keduanya begitu Sehun usai bercerita.

“Aku tak pernah tahu kau telah melalui itu semua,” ujar Baekhyun akhirnya, ikut bersimpati dengan apa yang Sehun rasakan.

Sehun mengangguk kecil. Ia pun tak sangka hal seperti itulah yang kini didapatnya. Mencintai seseorang, yang justru membencinya karena kesalahan besar yang telah ia perbuat sendiri.

“Aku … sebenarnya aku hanya ingin bertanya pada Hyung mengenai Dahye,” tutur Sehun kemudian, rautnya kelihatan mendung. “Bagaimana kabarnya saat ini? Apa ia baik-baik saja?”

Sejenak Baekhyun bungkam. Lantas, ia mengeluarkan sebuah undangan bertintakan emas, dan menyodorkannya pada Sehun.

“Aku tahu mungkin ini bukan saat yang tepat untuk menyerahkan ini padamu. Tapi datanglah kemari jika kau ingin mengetahui kabar Dahye. Dia akan datang, dan mungkin, kau bisa bicara dengannya.”

            “Wah, Dahye-ya, kau cantik sekali!”

Chaeyeon tak mampu menahan decakan kagumnya begitu ia mendapati sosok Dahye berdiri tak jauh darinya. Gadis Kim itu cepat-cepat menyusun langkah menuju Dahye, seakan tak peduli dengan heels belasan senti yang tengah dipakainya. Di belakangnya, Jongin memperhatikan dengan was-was, ngeri sendiri membayangkan jika Chaeyeon sampai jatuh akibat sepatu kelewat tingginya itu.

“Ya Tuhan, aku tidak tahu kau bisa berdandan juga!” Chaeyeon memekik tertahan, memperhatikan wajah Dahye yang kini dipoles make up, membuat gadis Son itu kelihatan makin sempurna.

“Kau mau memuji atau mengejekku, sih?” tukas Dahye, sama sekali tidak tersanjung dengan pujian yang Chaeyeon berikan.

Chaeyeon lantas dibuat tergelak dengan tukasan Dahye tadi. Ia mengibaskan tangannya. “Tentu saja memuji, Hye-ya. Kau benar-benar cantik malam ini.”

“Kau tidak mau memuji gaun yang dikenakannya?” Taehyung yang sejak tadi hanya mengamati dua gadis itu akhirnya berujar. “Aku yang pilihkan. Bagus ‘kan?”

Sebelah alis Chaeyeon segera berjingkat. “Kau? Pantas saja jelek.”

“Apa?”

“Jelek kau bilang?”

Baik Taehyung maupun Dahye menukas bersamaan mendengar perkataan Chaeyeon tadi. Sama sekali tidak terima dikatai jelek.

“Hei, aku hanya bercanda.” Chaeyeon cepat-cepat berujar, tak ingin jadi sasaran amukan dua manusia di hadapannya ini.

“Kenapa kalian selalu ribut, sih? Tidak bisa ya diam sebentar saja?” Jongin tahu-tahu muncul dan berdiri di samping Chaeyeon.

Melihat Jongin dan Chaeyeon bersama, tak pelak membuat Dahye terkejut. Gadis itu menatap keduanya dengan tak percaya, nyaris bertanya jika saja Jongin tak mengisyaratkan dirinya untuk diam.

Ketika itu, rupanya acara pertukaran cincin telah dimulai. Di depan sana Baekhyun berdiri berhadapan dengan kekasihnya. Bertukar senyum, sambil bergantian memasangkan cincin di masing-masing jari. Keduanya kelihatan begitu bahagia, tanpa sadar membuat Dahye juga ikut tersenyum melihatnya.

Byun Baekhyun, akhirnya ia menemukan kebahagiaannya.

Kala Baekhyun membawa gadisnya ke dalam rengkuhan, Dahye menyadari sepasang mata tengah mengamatinya dari kejauhan. Gadis itu memutar kepalanya, menyapu pandang ke seisi ruangan. Detik selanjutnya, ia tahu jantungnya berhenti bekerja untuk beberapa saat.

Tak mungkin ….

Dahye nyaris kehilangan keseimbangannya begitu menemukan manik mata itu. Tubuhnya sampai oleng, namun Taehyung yang berdiri di sisinya dengan sigap menahannya. Pemuda itu melingkarkan lengannya di pinggang Dahye, menatapnya dengan cemas.

“Ada apa?” tanyanya khawatir. “Kau baik-baik saja?”

Dahye menatap Taehyung kosong. Ia menggeleng, lalu kembali menatap ke arah sana, di mana sepasang manik tadi ia temui. Masih ada di sana. Ia masih menatapnya.

Dahye tahu benar siapa pemilik manik itu. Walau ia tak pernah melihatnya lagi dalam waktu yang cukup lama, walau ia sempat membencinya … ia masih mampu mengenalinya.

Oh Sehun. Pemuda itu ada di sini.

Bergegas Dahye melepaskan diri dari Taehyung. Ia mengambil langkah menuju tempat Sehun berdiri tadi. Ia mencoba tak melepaskan matanya dari sana, namun tamu undangan lain berjalan menghalangi pandangannya. Kurang dalam sesekon, Dahye telah kehilangan jejak Sehun.

“Tidak … tidak ….” Dahye bergumam panik pada dirinya sendiri.

Begitu ia sampai di tempat Sehun berdiri tadi, tak ditemuinya lagi pemuda itu di sana. Ia menggeleng perlahan, mengedarkan pandangannya ke sana-kemari, namun Sehun tak juga ditemukannya.

“Jangan pergi lagi, kumohon ….” Ia berbisik pelan, sementara pandangannya mulai mengabur oleh air mata.

Ketika itu, seseorang meraih pergelangan tangannya. Dahye bergegas membalik badannya, dan ia tahu jantungnya mencelus jatuh sampai ke dasar perut.

Di hadapannya, kini berdiri sosok yang ia cari-cari.

Dahye merasakan kedua lututnya melemas. Campuran antara lega juga perasaan lain menyesaki dadanya, membuat air matanya nyaris pecah.

Oh Sehun, pemuda yang sempat pergi tanpa kabar, telah kembali ke hadapannya lagi.

“Aku … bisa minta waktumu sebentar?” Ia bertanya hati-hati, seakan takut satu kesalahan saja dapat membuat Dahye pergi.

Keformalan dalam tanya Sehun entah mengapa membuat hati Dahye ngilu. Pertanyaan yang disampaikan pemuda itu seakan membuat Dahye tersadar, bahwa jarak yang memisahkan mereka selama ini telah terlampau besar. Perlahan membuatnya kembali diselimuti takut.

“Y-ya. Tentu saja,” ujar Dahye kemudian. Suaranya yang bergetar kedengaran begitu asing bahkan di telinganya sendiri.

Perlahan Sehun menautkan jari-jemari mereka, mengantarkan rasa hangat yang lantas mengalir ke seluruh tubuhnya. Pemuda itu lalu menuntun jalannya, membawa ia ke sebuah balkon di seberang ruangan. Tak seperti di aula sana, balkon ini begitu sunyi, hanya desau angin yang mampu tertangkap rungu.

Di tempatnya Sehun menunduk mengamati jemarinya yang bertautan dengan milik Dahye. Genggaman ini, entah kenapa terasa begitu pas. Seolah tangannya memang diciptakan untuk bergenggaman dengan tangan gadis Son itu.

Lalu ia tersadar. Dan meski enggan, perlahan melepas tautan jemari mereka. Membiarkan tangannya kembali terasa kosong.

Mereka bungkam untuk waktu yang terasa lama. Benak keduanya disesaki oleh berbagai macam tanya, namun tak satu pun lolos dari mulut.

“Kau … kemana saja sebenarnya?”

Dahye merupakan yang pertama memecah hening.

Pertanyaan yang sama seperti yang diajukan Baekhyun, namun entah bagaimana kali ini terasa lebih sukar untuk dijawab.

“Aku tinggal bersama ibuku,” jawab Sehun akhirnya.

Tinggal bersama ibunya?

“Kenapa …?”

Sejenak Sehun terdiam. “Ayahku meninggal dunia beberapa waktu lalu, karena itu aku memutuskan untuk menemani ibuku.”

Kedua mata Dahye melebar mendengar ini. Sebelah tangannya terangkat untuk menekap mulut. “Oh ya Tuhan. Maafkan aku … aku tak tahu—:

“Tidak, tidak apa-apa.” Sehun cepat-cepat menyahut, berusaha meyakinkan gadis itu.

Lalu mereka kembali tenggelam dalam hening. Mengetahui alasan Sehun, Dahye merasakan dirinya bagai terempas dari ketinggian. Tak pernah ia sangka pemuda itu telah kehilangan ayahnya.

“Tadi aku melihatmu dengan Kim Taehyung.” Sehun memulai dengan suara parau. “Kau dan dia … bersama?”

Dahye sama sekali tak menjawab begitu Sehun mengajukan tanya itu. Gadis itu hanya bungkam, menatap Sehun dengan tatapan tak terbaca.

Mendapati diamnya Dahye, Sehun dapat menyimpulkan sendiri jawaban atas pertanyaannya. Pemuda itu tersenyum pahit, lalu memaksakan satu tawa kecil.

“Ah, rupanya begitu.” Ia berujar pada dirinya sendiri. Seketika tersadar Dahye memang benar-benar tak bisa lagi diraihnya, tak peduli sekeras apa pun keinginannya. “Mungkin kau tak mau mendengar ini, tapi kurasa aku tetap harus mengatakannya. Aku … maaf. Maafkan aku. Sepertinya aku belum pernah benar-benar menyampaikan maaf padamu.

“Maaf karena telah membuat hidupmu berantakan, maaf karena telah mengantar begitu banyak luka padamu, maaf untuk semua yang telah kulakukan padamu, juga pada Dayoung. Aku tak pernah ingin menyakiti siapa pun, tapi kurasa aku terlalu bodoh sampai tak bisa menahan diriku sendiri. Aku mengerti jika kau tak bisa menerima permintaan maafku, aku mengerti jika kau masih membenciku. Tapi setidaknya dengarkanlah kata hatiku ini. Maafkan aku, Dahye-ya.”

Mendengar ini membuat Dahye nyaris kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Gadis itu lantas menundukan wajahnya, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai basah.

“Dan maafkan aku, karena sampai detik ini aku masih tak bisa melupakanmu.” Sehun berbisik begitu pelan, seolah takut Dahye enggan mendengarnya. “Maafkan aku karena tanpa tahu malu masih saja mengharapkanmu. Kau tahu, kurasa aku benar-benar seorang bajingan. Bahkan setelah apa yang kulakukan padamu, kini aku masih berpikir untuk tinggal jika kau mau menerimaku.” Ia lalu melepaskan tawa kering yang terdengar begitu dipaksakan. “Tapi kau tak perlu memikirkannya. Aku—“

“Kalau begitu tetaplah tinggal.”

Sehun membeku di tempatnya begitu ia mendengar Dahye bicara. Pemuda itu menatap gadis di hadapannya dengan tak percaya, berharap semoga telinganya tak salah mendengar.

Perlahan Dahye mendongak, untuk pertama kalinya menatap Sehun lurus-lurus.

“Kau benar. Aku memang sempat berpikir untuk tidak memaafkanmu, untuk terus membencimu. Namun setelah waktu berlalu aku tersadar aku tak bisa melakukan itu. Karena bahkan setelah kau pergi, perasaan yang kumiliki masih saja sama. Rupanya kebencianku tak bisa mengalahkan rasa sukaku. Rupanya waktu telah berhasil menyembuhkan luka yang sempat kau buat.

“Kau bilang kau akan tinggal jika aku menerimamu. Maka tetaplah tinggal, jangan pergi lagi.” Dahye berujar sembari menahan tangis. Dadanya terasa begitu sesak memikirkan Sehun sampai meninggalkannya lagi. “Tetaplah tinggal di sini—atau jika kau ingin pergi, maka bawa aku bersamamu. Karena aku hanya ingin berada di sisimu.”

Kala itu Sehun tak tahu lagi apa yang dipikirkannya. Bahkan sebelum otaknya sempat memerintah, tubuhnya telah bergerak membawa Dahye ke dalam pelukannya. Merengkuhnya dengan begitu erat, tak membiarkan sedikit ruang saja memisahkan mereka. Ia membenamkan wajahnya di puncak kepala gadis itu, membiarkan air matanya jatuh di sana.

Perlahan Dahye mendongak tanpa melepas pelukannya, membuat Sehun menunduk menatapnya. Jemari gadis itu lantas terangkat untuk menyentuh permukaan wajah pemuda di hadapannya dengan lembut. Ia kemudian berbisik, begitu halus seakan hanya ingin Sehun seorang yang mendengarnya.

“Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.”

Kedua kakinya berjinjit, sementara tangannya menangkup rahang Sehun dengan lembut. Ia lantas melabuhkan bibirnya pada Sehun untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ciuman kecil, yang mempertemukan segenap rasa mereka.

“Aku mencintaimu, Dahye-ya.”

            “Jadi kau tidak pernah kencan dengan Taehyung?”

Esok harinya, mereka kembali duduk di bangku taman itu setelah berbulan-bulan lamanya. Dahye membiarkan Sehun memainkan jemarinya sementara pemuda itu bertanya.

“Tentu saja tidak. Kami hanya teman,” jawab Dahye sambil tersenyum kecil.

Sehun ikut tersenyum mendengarnya. “Padahal dulu kau tak pernah mau disebut temannya.”

“Taehyung telah banyak membantuku. Belakangan dia selalu menemaniku dalam kesulitan yang kudapat.” Ia berhenti sebentar lalu menambahkan. “Dia tak pernah suka melihatku murung karena memikirkanmu terus. Suatu waktu dia berjanji akan berusaha menggantikan posisimu jika aku tak bisa melupakanmu.”

Kedua alis Sehun berjingkat mendengar ini. Ia lalu terkekeh kecil dan berujar, “Aku bersyukur telah kembali dan menggagalkan rencana pemuda itu menggantikan posisiku.”

Satu senyuman lebar tak pelak menghias bibir Dahye begitu ia mendengar perkataan Sehun.

“Ah, kau ingat, persis di tempat ini aku pernah gagal menciummu hanya karena perutmu berulah, hm?” Sehun tahu-tahu bertanya, membuat pipi Dahye seketika merona.

“Kenapa harus membahasnya lagi, sih?” Ia bergumam sambil menjauh dan menyembunyikan wajahnya.

Sehun terkekeh kecil lalu berusaha menarik Dahye kembali mendekat padanya. “Bagaimana kalau kita melakukannya sekali lagi?”

“Melakukan apa?” sentak Dahye cepat. “Di sini banyak anak kecil kau tidak boleh—“

Dan celotehannya seketika terputus ketika Sehun mendaratkan kecupan cepat di bibirnya. Pemuda itu menjauh, lalu tertawa geli ketika mendapati raut terkejut di wajah Dahye.

“Yah—jangan pasang wajah begitu.” Sehun menukas sambil menahan tawa. “Aku jadi ingin melakukannya lagi.”

Dan ia mengecupnya lagi, kali ini di puncak hidungnya.

“Dan lagi.”

Satu kecupan lagi, tepat di pipi kanannya.

“Yah—Oh Sehun!” Dahye memekik tertahan sembari menahan bahu Sehun, malu setengah mati karena beberapa pasang mata mulai mengamati aksi mereka. “Jangan membuatku malu.”

Sehun tertawa kecil mendegarnya. Lalu seolah tak mendengar perkataan Dahye, ia bergerak menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Sembari mengubur wajahnya di helaian rambut Dahye, ia bergumam pelan, seakan tak pernah bosan mengucapkannya.

“Aku benar-benar mencintaimu, Dahye-ya.”

Mendengar ini, Dahye tersenyum kecil. Tangannya tanpa ragu membalas pelukan Sehun, tak peduli dengan orang-orang yang mungkin menyaksikan mereka. Ia bahkan tak peduli dengan apa pun lagi.

Karena kini, ia telah memiliki Oh Sehun di sisinya.

Dan itu saja, sudah lebih dari cukup.

“Aku juga mencintaimu. Sampai kapan pun.”

.

.

.

—Kau tahu kau telah menemukan sosok yang tepat ketika waktu sekalipun tak mampu menghapuskan perasaanmu.

FIN

Note♥

Haaaaluuuuuu

Yaa aaaampuuun akhirnya tamat jugaaaaak

Gimana ini gimanaa? Kecepetan ya? Maksa ya?

Dududuh maafin aku kalo endingnya ga sesuai sama ekspetasi kalian:”) tapi buat aku pribadi, ending ini udah yang terbaik—meski mungkin kecepetan dan agak maksa:”)

Asli sih sebenernya aku takut dihujat karena bikin happy ending yang maksa macem W yang juga dihujat abis-abisan karena happy endingnya maksa. Tapi tapi dari awal aku emang udah pengen bikin si sehun sama dahye bersatu—sama halnya kaya aku pengen yeon joo sama chul bersatu cihuy /lah malah curhat /siapa lagi yang nonton W /siapa lagi yang suka sama happy ending maksanya W /acung kaki cobak wkwk

Hiks aku terhura loh seriusan The Dim Hollow akhirnya ketemu sama kata FIN. Jujur nih ya The Dim Hollow itu fic chaptered pertama yang aku beresin nyampe end. Biasanya, kalo nulis fic chaptered aku selalu jenuh di tengah jalan dan berenti gitu aja, ngegantung. Tapi The Dim Hollow ini bisa aku beresin nyampe seabis-abisnya—yhaa meskipun mungkin endingnya gak memuaskan yah:”) Dan sedikit banyak ini semua berkat kalian loh. Iya, kalian temen-temen yang udah berbaik hati baca dan ninggalin komen di setiap chapternya:”) aku ga mau boong dengan bilang kalo aku ga butuh komen. Jujur aku butuh banget sama yang namanya feedback (entah itu komen atau like), aku seneng banget kalo ada yang mau ninggalin review di fic yang udah aku buat. Aku ngerasa dihargain, ngerasa disemangatin sama kalian-kalian:”) makanya aku bisa beresin The Dim Hollow nyampe end juga karena dukungan kalian:”) intinya, aku mau bilang makasih banget buat kalian yang setia baca The Dim Hollow hihi aku padamu lah xD maafin yah kalo selama ini The Dim Hollow banyak kurangnya, banyak telat updatenya:”)

Kapan ya kita ketemu lagi di note kaya gini? Ehm rencananya aku mau bikin fic chaptered sehun lagi, udah dibuat prolognya, tapi gatau kapan dilanjut:”)

Yaah segini aja—segini aja? Note sebanyak ini dibilang ‘segini aja’?!—dari aku, sekali lagi makasih buat kalian semua^^ /tebar kisseu dari sehun

1473678261581

…mind to leave a review?

76 responses to “The Dim Hollow Chapter 21-Final by Cedarpie24

  1. Wuuuaahhh ending jg yeay! Kecepatan, enggak jg sih.. udah bagus kok happy endingnya ☺
    Gmna klo ditambahin epilognya aja, sweet2’an pacarannya SehunDahye dan JonginChaeyeon ya yaa yaaa… hihihi

  2. Uwaaaahhhhhh
    terharu sendiri aku bacanya :’)
    Keren banget thor, akhirnya mereka bisa bersatu yeayyy happy ending…

    Tp gimana sama taehyung? Dia sama sapa? Sama aku? Gamungkin kann… trs gimana juga sama kai n chaeyeon mereka jadi pacaran?
    Bikin epiologue dong thor hehe buat mereka

  3. aaaaaa gilaaaaa rasanya kyk bru kemaren baca ff ini chap 1 :v dari awal pertama ff ini dipublish aku udh baca wkwkkw dan di chap 21 udh end, dan gua jg ultah tgl 21 (gk ada hubungannya :v)
    ini kenapa gua mau nangis bacanya ya? sakin happy ending bgt mau nangis gua wkwkwk
    Oooo iya, gua tunggu project ff lainnya secepatnya wkwkwkwk dan mungkin sequel dari dim hollow ini :v klo ada … wkek

  4. Wuaaaaaaaa…akhirnya update juga,nangis terharu😂,kenapa aku nggk dari tadi ya taunya,kenapa baru sekarang,,,gara2 ff ini gk nongol2 aku jadi jarang cek2 lagi,,,ff ini yg aku tungguin banget #beneranLoh dan akhirnya end juga….horeeee,tebar confetti…😅,aku seneng banget akhirnya dahye sama sehun bersatu juga,yah walopun iya sih,sedikit maksa dan alurnya kecepetan,tapi ini ttp bagus kok,aku dah puas,sepuas2nya,,cuman aku bingung,jongin udah ngasih tau dahye soal perasaannya belom ya?? Apa aku yg ketinggalan? TRus si taehyung gimana kabarnya?? Kasian taehyung…cintanya bertepuk sebelah tangan..gk papa tae..masih ada aku #diGaplok

    Wah…gomawoyo authornim,next ff di tunggu😁

  5. Kelaaar yeahhh😄
    Akhirnya ada titik terang yg jd cahaya kebahagiaan buat dahye :”D
    Kirain sehun ga balik2 lg, tp ujung2nya tetep nyariin dahye juga hahahahaaa
    Happy ending dehh *nangis haru* lebay hahaha
    Paling tinggal jjong-chaeyeon yg msh ngambang *lahh wkwk

    Next projectnya ditunggu eonn😄

  6. End juga akhirnya. Dan syukurlah mereka happy end :’) thank you ya dek udah selesaiin cerita nya. Sampe ketemu di fic2 kamu selanjutnya. Terus semangat ^o^9

  7. Akkkkkkkkkkkkkkkk authornim kece bngettttttttt ini uda end aku jadi sedihhhhhh. Dim hollow keren bngetttt kakkkkk. Happy ending aku seneng bngettttttttttt
    Akhirnyaaa mereka barengannnn yaampunnnnnnnnnnnnnnnnnn
    Pokoknyaaaa dim hollow kerenn abisss dehhh.
    Mkasihhhh buat authornyaa yg selalu kece buat ff ini sampe tamatttt.
    Salam cium kakkk

  8. woaahhh finnn ceepe amat thor tpi aku belum baca nih…. haha sequel thor buat pas masa pacaran terus saling cemburu gitohh
    saran ajah sih thor tpi berharap sequel….
    ok makasih thor semangat terus

  9. maafin sebelumnya baru sempet komentar nih 😂
    dududu sedih sih fanfict favoritnya udah end hueeee 😭😭
    tapi gapapa deh kan endingnya mereka happy, dan aku bodo amat sama happy ending yg maksa, karena yg penting semuanya hapyyyy 🙌🙆😘
    ditunggu fanfict” lainnya 😋

  10. Huaaaa, akhirnya penantian dahye ga sia sia😭 sweet banget sehun😥 gakuku tolong. Terus happy ending gini kan bikin seneng u,u
    Squel dong squel😂😂😂 .g

  11. pertama tama oke aku sedih karna apa?? sedih harus berpisah sama ff inu sama sehun dahye :’ sedih harus pisah sama mereka…
    kak epilouge kek ka???? hihihi
    kedua … itu yang tunangan sama baekhyun siapa juseyo???
    ketiga ekhm ekhm akhirnya cintanya sikimche ga bertepuk sebelah tangan lagi …
    buat kimtae sabar ya baby kamu sama aaku aja ya /? hahah pokoknya aku suka banget sama ff kakak ini sweetnya mereka kerasa banget lucunya sedihnya itu ngena banget konfliknya itu loh walaupun sempet greget gitu sama sehun dahyenya yang sama sam ehmn gataulah ya .. tapi akhirnya mereka bahagia juga ketemu lagi dan bersatu lagi … seneng banget pokoknya keren banget kak karya!! ..
    aku mau ngubek ngubek google dulu siapa tau ada cerita buatan kakak lagi biar baca lagi hihi .. semangat terus kaka nulisnya!! fighthing!!

  12. Happy ending.. horree…
    Suka banget mereka akhirnya sama-sama lagi..
    Tapi jadi gak rela sih ending.. masih pengen tau kisahnya mereka.. mungkin ada rencana bikinin sequelnya.. hehhehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s