[3rd] Snapshots by slmnabil

snapshots

Author : slmnabil | Cast : Kim Jongin, Park Chanyeol, Hong Seoljin (OC)

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : Poster by Jungleelovely Poster Channel

prolog : one dance | 1st | 2nd

THIRD SHOT

Dulu aku akan penasaran. Aku akan mencari tahu sampai ke akar-akar apa yang ingin dilakukan Jongin. Tidak selalu harus yang penting, pokoknya aku harus tahu semuanya. Dan kali ini, yah, harus kukatakan kalau aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan dengan kontrakku. Dia tidak akan melegalkan penganiayaan, bukan?

“Beritahu aku soal konsepmu,” katanya mengawali pembicaraan selang beberapa menit mengemudi.

“Konsep apa?”

Photobook.” Suaranya terdengar heran. “Kau sudah membuat rancangannya, ‘kan? Bukankah ada konsepnya? Ada alur cerita yang ingin kau sampaikan?”

Sial, aku belum memikirkannya. Profesional? Ha! Omong kosong. Yang memenuhi otakku sejak kemarin hingga detik ini adalah bagaimana membuatku terlihat hebat di depannya.

Ayolah, karang sesuatu. Aku pasti bisa. Membual dulu pun tak apa. Begitu kupikirkan matang-matang dan konsepnya jadi lain, katakan saja aku berubah pikiran atau apa sajalah!

Mmm … temanya di balik pertunjukan. Kautahulah, menunjukkan kerja keras. Semacam proses bagaimana kau bisa menampilkan pertunjukan fantastis?” ujarku, berusaha terdengar yakin.

“Bagaimana kau bisa yakin itu akan jadi pertunjukan fantastis?” debatnya. “Bisa saja aku mengacaukannya, karena tiba-tiba cedera atau kebetulan aku tertimpa sial?”

Oke … aku tidak memikirkannya sejauh itu. Bagaimana mungkin dia jadi sekritis ini?

“Aku … aku … yakin saja. Tak ada alasan,” sahutku.

“Ini yang kau sebut profesional? Ini caramu berbicara pada atasanmu?” tanyanya dingin, namun jelas menusuk tepat di hati.

“Baiklah, maaf. Aku belum membuat konsep, belum memulai apa-apa.” Jujur selalu lebih baik.

“Jadi rencanamu adalah mengekor ke manapun aku pergi dan mengambil beberapa gambar, begitu?” Nada suaranya meremehkan. “Aku tak percaya aku mempekerjakan seorang amatiran.”

Kutepikan mobil ke pinggir jalan, di manapun aku saat ini.

“Hei!” seruku tak terima. “Aku bukan amatiran. Kau harus menghormatiku sekalipun aku hanya orang yang kau pekerjakan.”

Aku memutar tubuh agar berhadapan dengannya. “Dengar, ya. Besok aku akan memaparkan konsepku padamu sampai mulutku berbusa. Dan kalau kau rasa itu bagus kau harus meminta maaf padaku.”

“Sudahlah, tak usah repot-repot. Jalankan saja mobilnya, aku masih ada agenda lain,” jawabnya, dengan sangat tidak tahu diri.

“Tidak, kau harus mengatakan ya.”

“Kenapa?”

“Katakan saja.”

“Aku bosmu, aku bebas melakukan apapun.”

Amarahku praktis membuncah dan menggelegak. “Ashole!”

Lipatan terbentuk di dahinya. “Nona Hong Seoljin, aku semakin meragukan profesionalitasmu. Kau tidak diperkenankan mengumpat pada atasanmu.”

Kupilih untuk mengabaikannya saja. Aku memukul setir cukup keras, sebelum melajukan mobil kembali dengan kecepatan yang cukup tinggi.

“Bagus, kau ingin membunuhku sekarang.”

Betapa bagusnya kalau bisa. “Agar Anda bisa lebih cepat makan siang,” sahutku, sopan dibuat-dibuat.

Beberapa menit kemudian kuparkir mobil di sebuah restaurant yang tampaknya tak begitu ramai, namun setahuku cukup mahal. Biar saja dia, semoga bangkrut untuk membayar makan siang.

Kemudian Jongin turun dan melenggang masuk ke dalam restaurant tanpa mengucapkan sepatah katapun. Serius, dia tak menawariku ikut makan bersamanya? Atau sekadar memintaku menunggu? Sial benar.

Baiklah, meskipun aku kelaparan, aku tak mau menjatuhkan harga diriku dengan tiba-tiba masuk ke dalam sana dan marah-marah. Uangku sekarang pun tak sebanyak itu kalau aku nekat masuk dan menyombong. Kupendarkan pandanganku ke sekitar, dan syukurlah aku menemukan toko roti di seberang jalan.

Mantan pacarku sedang menyantap makan siangnya di restaurant mahal, calon suamiku akan membuka cabang perusahaan di Amerika. Sekarang lihatlah aku. Bukankah ini semacam anekdot? Atau ironi?

*

Aku mengingat ini karena terpaksa: Jongin selalu makan terburu-buru. Alasannya karena manajemen waktu atau apalah itu namanya. Sedangkan aku? Aku sangat menghargai yang memasak dengan menikmati santapanku secara khidmat, seperti kalau berada dalam rapat.

Jadi aku agak terkejut ketika Jongin ke luar dari restaurant dan aku masih di seberang sini, kelabakan. Dengan cepat kusambar pintu dan berlari ke arahnya. Jangan bayangkan aku tiba-tiba kecelakaan lalu lupa ingatan ya. Ceritaku takkan begitu.

Begitu kami berdiri berhadapan, pandangannya menghunjam ke arahku. Ekspresinya sangat tidak bersahabat, membuatku mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah. Barulah saat kuperiksa diriku, roti isi yang sedang kusantap tadi masih sisa separuh yang mana kugenggam kuat di tangan kananku—seolah kau bawa samurai.

Ya ampun, memalukan sekali.

Aku cukup yakin dia akan mulai merecokiku soal profesionalitas lagi, namun nyatanya tidak. Jongin memutar tubuh dan masuk ke kursi belakang. Oke, dia mau cepat. Dia mau pergi. Padahal aku masih makan. Lupakan saja.

Kuikuti gerakannya dengan duduk di kursi kemudi, lalu kembali melajukan mobil. “Ke mana tujuannya?”

“Kantor,” katanya pendek. Kucuri lihat dari spion, ia membuka laptop yang dibawanya dan mulai tenggelam dengan kegiatannya. Jadi dugaanku: aku bisa makan sambil mengemudi. Kemudian, aku melakukannya—yang mana lancar tanpa gangguan. Dia tidak menggerutu sama sekali.

Tapi lain cerita saat aku mengangkat panggilan dari Raeum.

“Ya, kenapa?” tanyaku.

“Kau sudah belanja bahan makanan, bukan? Jangan lupa malam ini jatahmu untuk memasak,” ujar Raeum.

Astaga, aku tak ingat. “Masa? Serius ini giliranku memasak?”

“Kalaupun tidak, anggap saja begitu.” Lalu ia memutus panggilan sepihak.

“Itulah mengapa tidak seharusnya kita tinggal bersama,” gerutuku seraya melemparkan ponselku ke kursi sebelah.

Bertepatan dengan itulah Jongin buka mulut. “Aku tidak suka kau mengangkat telepon saat bekerja.” Ketika aku buka mulut hendak menjawab, ia memotongnya duluan. “Nanti saja kalau mau diperdebatkan, di kantor.”

Baru hari pertama saja dia sudah menyebalkan, bagaimana nasibku dua belas hari ke depan?

Sepanjang perjalanan ia tidak banyak bicara, dan aku pun mengacuhkannya mengingat itu baik untuk kesehatan mentalku. Sepuluh menit kemudian, ia masih mempertahankan egonya dan langsung masuk ke dalam kantor saat aku mematikan mesin mobilnya. Kuikuti langkahnya, namun terhenti di meja resepsionis yang mana Yura berada di sana, dengan bungkusan makanan dari restaurant yang Jongin datangi barusan.

Sempurna sekali. Aku kesal.

“Dia mungkin tertekan karena pertunjukannya tinggal dua belas hari lagi. Beban ternyata mampu mengubah seseorang,” kata Yura. “Sebaik-baiknya Kim Jongin, dia tak pernah mau membelanjakan uangnya untuk orang lain.”

Lalu dia melihat ke arahku. “Sepertinya dia suka dengan kerjamu. Mobil yang kaupakai itu baru ia beli kemarin. Kalian akan jadi rekan kerja yang baik.”

Andai saja kautahu tempramennya. “Eh, terima kasih,” sahutku, sebelum menyusul Jongin ke ruangannya.

Ia sudah duduk di sofa dengan selembar kontrak di atas meja, menungguku menempati tempat. Dan setelah itu, dia tak mengulur waktu.

“Mampu bekerja di bawah tekanan. Menjaga fasilitas kantor dengan baik. Bersikap profesional yang ditunjukkan dengan tutur kata yang sopan, mengutamakan atasan di jam kerja, dan tidak melibatkan masalah pribadi dalam hubungan kerja.” Jongin mendiktekan.

Terserah, tak perlu kuingat. Yang akan kulakukan hanyalah memotret dan membuat photobook. Siapa yang peduli dengan masalah pribadi?

Aku sudah siap menandatangani, namun ada satu hal yang baru kusadari kalau itu tak dibacakannya barusan. “Menjadi pekerja fleksibel dan multi-tasking. Maksudnya apa?” tanyaku.

“Kalau kuminta kau jadi supir, kau akan mengantarkanku ke manapun. Kalau kuminta jadi asisten, kau akan menuruti apapun perintahku,” jelas Jongin. Namun kentara kalau batasannya bukan hanya itu, jadi aku menunggu ia mengungkapkan lebih banyak. “Dan kalau aku butuh pasangan, kau harus jadi pasanganku.”

“Apa hubungan antara pertunjukanmu dengan pasangan?” debatku tak terima.

“Aku ini bukan hanya seniman, aku juga pengusaha di seni. Aku mempelajari bisnis, membuka agensiku sendiri, memperluas jaringan.” Menyadari aku tak begitu tertarik, ia mengubah perkataannya. “Akan banyak makan malam antar perusahaan dan sponsor. Aku tak bisa datang sendiri.”

“Kan ada Yura.”

“Dia cuma sekertaris.” Nada bicaranya seolah memberikan klarifikasi.

Aku tak peduli, omong-omong. “Memang di kontrak kerjanya tidak ada syarat menjadi pekerja fleksibel juga?”

“Tidak, tugasnya sudah terlalu banyak.”

Atau kau memang tengah merencanakan sesuatu yang lain. Baiklah, mari lihat apa yang bermaksud kau lakukan. Kuraih pulpen dan kutandatangani surat kontraknya. Dari sudut mata, kalau tak salah lihat, Kim Jongin sepertinya baru saja tersenyum menang.

*

Aku tak bisa memikirkan apapun. Kepalaku kosong melompong nyaris seperti tak ada isinya, atau mungkin tak pernah ada. Haha.

Kalimat ‘Konsep Photobook Atasan yang Tak Merakyat’ sudah kutulis besar-besar. Namun hanya segitu saja. Tak ada tulisan, garis, atau bahkan titik. Aku butuh seseorang menyiram kepalaku dengan inspirasi.

Tiba-tiba saja perkataan Jongin tadi berputar dalam kepalaku. Mempekerjakan seorang amatiran? Sial benar, kini aku malah tertekan karena label yang dia berikan. Seperti, aku ingin menghasilkan sesuatu yang luar biasa tapi aku tak tahu harus mulai dari mana. Aku bisa stres kalau begini terus.

*

Dari    : Park Chanyeol

Untuk    : Hong Seoljin

Perihal  : Perizinan

Bisa kuhubungi?

*

Kebetulan, momennya pas sekali. Tak mengulur waktu, aku memencet panggilan cepat nomor empat yang menghubungkanku dengan Chanyeol.

“Gerak cepat.” Nada Park Chanyeol terdengar sangat ramah dan hangat, kalau saja bosku seperti dia.

“Mulai sekarang aku akan menanyakan tiga pertanyaan, kau harus menjawabnya secara objektif,” sambarku cepat.

“Baiklah,” ia bilang, terdengar terheran-heran.

“Apakah aku seorang amatiran?”

“Bukan. Kau profesional.”

“Kalau aku baru di hari pertama kerja dan aku belum punya konsep soal pekerjaanku, apakah aku tetap profesional?”

“Kau harus paham terlebih dulu apa keinginan konsumen. Kau bekerja untuk membantu merealisasikan pikiran yang tak bisa mereka wujudkan sendiri dan memberi masukan kalau dibutuhkan. Jadi intinya kau masih profesional.”

“Kalau bosku brengsek boleh kuhajar?”

“Kenapa tidak?”

Aku praktis tertawa. “Bayangkan sekertarismu menghajarmu.”

“Kalau aku pantas mendapatkannya, aku sama sekali tak keberatan.”

“Sangat murah hati,” cibirku.

Kini giliran ia yang tertawa, membuatku ingin mendengarnya langsung sambil melihat ekspresinya. Tiba-tiba aku merindukannya. Aku rindu tingkahnya mengipasi kepalaku kalau sedang tertekan seperti ini. Biasanya aku mengatakan kalau itu konyol dan tak pengaruh apa-apa, tapi kini aku bisa naik penerbangan pertama ke Washington agar dia melakukannya.

“Kau akan melakukannya dengan baik.”

“Aku tahu,” dustaku. Nyatanya aku hanya meyakinkan diriku saja agar begitu.

“Sesuatu terjadi, bukan? Kau ingin cerita?”

Apakah dari suaraku saja ia semudah itu menebak? Tolonglah!

“Ya, tapi kau tidak perlu khawatir kok. Aku bisa menuntaskannya.”

“Katakan saja kalau butuh bantuan.”

Sudut-sudut bibirku naik. “Tentu.”

Beberapa detik berselang, Raeum muncul di ambang pintu, mulutnya mengintonasikan ‘Siapa?’ tanpa suara.

“Chanyeol,” jawabku, lalu beralih pada pendengar di sambungan telepon. “Raeum bilang hai.”

Setelah mengangguk mengerti, Raeum melenggang ke dapur. Astaga, aku lupa memasak.

“Bilang pada Raeum untuk mengecek surelnya,” kata Chanyeol mendistraksi keterkejutanku.

“Kau berkirim surel dengan Raeum?” tanyaku, terkejut untuk kedua kalinya. “KATA CHANYEOL PERIKSA SURELMU!”

Tiba-tiba Raeum muncul dari melempariku dengan sandal rumahnya. Melakukan upaya penyelamatan diri, kuraih bantal-bantal sofa dan melemparinya dengan itu—sementara sambungan teleponku belum diputus. Tak sengaja menyentuh loudspeaker, suara Chanyeol terdengar seperti pengumuman di pusat perbelanjaan.

“Kau akan merindukan momen seperti itu,” katanya. “Karena begitu aku pulang dari Washington, aku akan cepat-cepat membawamu pergi.” Chanyeol tertawa. “Aku masih tak percaya kita akan menikah.”

Gerakan Raeum praktis terhenti. “AKHIRNYA!” Dia memelukku erat.

“Apa ini? Kau senang aku pergi?”

“Tidak. Aku senang ada juga laki-laki yang sudi menikah denganmu.”

*

Singkat cerita, aku dan Raeum berakhir adu mulut. Memperdebatkan apakah Raeum adalah teman yang baik atau yang tega. Dan dengan pertimbangan Raeum mau membantu membuat konsep untuk diusulkan kepada Jongin, sementara ini kuanggap dia lumayan baik.

“Aku punya ide,” katanya memulai. “Tapi pasti salah satu dari kalian tak akan suka.”

Kerutan samar terbentuk di dahiku. “Jangan menjadikan ‘kalian’ jadi pronominanya aku dan Jongin,” kataku sebal. “Dan beritahu saja dulu idemu.”

Dia berdeham. “Waktu. Bagaimana ia memulai dan bagaimana ia sekarang. Tunjukkan transformasinya.”

“Awal macam apa? Sejak dia suka menari, begitu?”

Raeum praktis menggeleng. “Menurutku cakupannya terlalu luas. Bagaimana kalau ….” Ia menatapku ragu. “Dari saat ia memutuskan untuk bergabung dengan agensi? Itu, kan, bagaimana semuanya dimulai sampai dia seterkenal ini.”

“Aku akan memikirkannya.” Atau tidak. Entahlah.

Ya, itu memang awal yang baik untuknya. Namun rasanya … nyaris seperti mimpi buruk bagiku. Kau benar Raeum, salah satu dari kami tidak akan menyukainya. Dan kukira itu aku. Aku tak begitu minat mengorek masa lalu.

Bunyi ting pendek membuyarkan pikiranku. Pesan masuk dari Jongin.

Kau menyampah di mobilku.

Memang apa peduliku? Lama-lama dia bisa mengirim pesan hanya untuk mengatakan ia masih bernapas.

Kuputuskan untuk mengacuhkannya saja. Sampai tahu-tahu Raeum mencuri lihat dan mengomentari isi pesannya.

“Menurutku maksudnya adalah perasaannya untukmu masih ada. Itu cuma kiasan saja agar maknanya tersamarkan.”

Aku menelengkan kepala ke arahnya. Benarkah? Kok aku merasa kalau ia hanya sedang menggerutu ya?

TO BE CONTINUED

updated every saturday-sunday

31 responses to “[3rd] Snapshots by slmnabil

  1. Huaaaaaa akhirnyaaaa seoljin bakal nikah sama chanyeol ♡♡♡♡♡♡♡♡♡

    Ah boleh juga tuh ide konsep untuk photobooknyaa, biar seoljin juga itung2 bisa tau kenapa jongin ninggalin diaa

    Bener juga sih katanya raeun tentang yang jongin masih punya rasa, bisaa jadii kaaan

  2. Jongin masih nyebelin seperti biasa, dan aku suka Jongin yang begini, Jongin banget!! Masih lama ya Chanyeol munculnya di secara “real” gitu?

  3. huaaaaa trnyata ada udang dblik batu… apa clbk akn bersemi dlm 2 minggu ni… ato bkl ada konflik cinta segitiga… penasaran bingitz… keep writing thor….😍😍

  4. Yeahh.. akhirnya sojin bakal nikah sama chanyeol /semoga/ berharap mereka bner2 nikah dan seoljin gak trpengarauh sama jongin mskipun mereka bkal deket slama 2 minggu..

    Eh tapi kayaknya emang si jongin masi suka sama seoljin gak sih? Kok aku ngerasa dia masih suka 6a sama seoljinn

    Okedeh aku tunggu ya next chapternyaa..

  5. meski ada beberapa kata yang mengganggu, tapi aku suka gaya bahasanya >< bisa gak jonginnya dihapuskan saja hahaha masa lebih suka sama chanyeol

  6. pelajaran yang harus diambil dari ff chapter ini:
    bekerja dengan mantan menyebabkan gangguan jiwa, hipertensi, ingin menonjok sesuatu, dan lain lain

    sekian.

  7. Kasian chanyeol… Pfttt padahal udah di terima lamarannya. Kok aku juga ngerasa kalo jongin emg masih cinta ya sm seolji hiks 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s