[Freelance] Kancing kedua

b

Title : Kancing kedua
Author : Dinopeach(@dinopeach)
Cast : Kim Kai . OC
Genre : Romance
Rating : Teen
Length : One Shot
Disclaimer : Plagiat? Go away!

.

.

.

Kancing kedua. Kancing kedua jas almamater yang diberikan seorang pria kepada gadisnya saat upacara kelulusan dipercaya akan menjadi pasangan hidup untuk selamanya.

Persetan.

Lilian mengumpat dalam hati menatap benda  bulat dengan ukiran khas di genggaman. Gadis itu mengusap lengannya yang terbuka oleh gaun tanpa lengan malam itu.

Lilian terduduk di kursi besi halte bis sendirian. Analog hitam di tangan menunjukkan waktu yang hampir menyentuh tengah malam saat Lilian menengok pada benda kecil itu.

Angin malam berhembus makin dingin terasa. Lilian memilih memeluk diri sendiri sambil bersandar pada papan penunjuk jalur bis di belakangnya. Matanya terpejam. Batinnya beruangkali mengumpat akan harapan yang membuatnya jatuh menukik malam ini.

Dia tidak datang.

Lilian terus mengulang tiga kata tersebut sejak kakinya memutuskan untuk keluar dari bar kecil pinggir jalan yang digunakan teman masa sekolah akhirnya untu mengadakan reuni.

Lilian kembali duduk tegak. Menunduk menatap kancing biru yang sempat terabaikan, melempar benda kecil itu ke trotoar di depan. Membiarkan benda sial itu terongok sadis antara tumpukkan daun mapel kering.

Bis terakhir berhenti ketika Lilian menangkup wajah, sebisanya menghilangkan resah.

“Nona, kau masih mau naik?” suara besar supir bis mengusik Lilian. Gadis itu menurunkan tangan lalu menggeleng sambil memaksa untuk tersenyum seadanya. “Baiklah” supir bus kembali memutak kemudi, melaju meninggalkan daun-daun yang berserakan di pinggir jalan berterbangan begitu saja.

Bodoh!

Seperti tak akan puas dengan umpatan. Gadis bermarga Kang itu menghentakkan ujung heel hitamnya. Gadis itu sangat bodoh membiarkan bis terakhir malam ini berlalu begitu saja melewatinya. Biarkan saja, lagipula masih ada taksi. Iya, kalau ada.

“Lelaki bodoh!” Lilian menjatuhkan pandangan pada kancing biru di tanah. Mitos hanyalah mitos. Hanya persen kecil yang akan jadi nyata. Lilian mengutuk pembuat mitos kancing kedua almamater kelulusan. Untuk apa menciptakan mitos tak berguna macam itu, apalagi harus mempercayainya.

“Jika benar, kenapa tidak terjadi, ha?!” Lilian berseru. Untung jalanan tengah malam sangat sepi, jadi tidak ada yang akan menganggapnya gadis gila yang berteriak sendirian.

“Kancing sialan!” serunya makin lantang. Menegakkan badan lalu menendang benda itu menuju tengah jalan. Membiarkan kemungkinan kancing itu akan hancur terlindas atau tersorok masuk ke dalam aliran pembuangan pada lubang tepi jalan.

“Untuk apa aku mempercayaimu?! Benda tak berguna! Bawa dia datang!” Lilian tau kancing itu tak akan mendengar apalagi menjawab. Gadis itu hanya meluapkan apa yang ia rasakan. Matanya memanas.

“Cepat! Bawa dia padaku!” benda kecil itu tak berkutik dari tempatnya. Ujung mata Lilian menampakkan kilauan bening tersiram cahaya kuning lampu jalan.

“Cepat! Sekarang!” Lilian terduduk menunduk memeluk lutut, setelahnya terisak. Angin musim gugur makin menusuk kulitnya, gadis itu tak acuh.

Lilian hampir saja melonjak saat sentuhan mantel hangat menyibak menutupi bahunya. Gadis itu mendongkak. Seorang tersenyum hangat di sana.

Seseorang yang dipaksa Lilian untuk didatangkan oleh kancing biru tak bernyawa. Seseorang yang Lilian kira tidak datang setelah mengucap janji untuk menghadiri reuni bersama. Seseorang yang tentunya sangat lilian rindukan.

Tapi rasa rindu yang meluap terganti oleh kekesalan yang baru saja menggerogoti.

Lilian sama sekali tak melepas kontak mata walaupun saat seseorang itu menengok pada benda yang sebelumnya miliknya tergeletak mengenaskan  di tengan jalan.

“Kenapa kau membuangnya?” pertanyaan ringan namun enggan bagi Lilian untuk menjawab. Entah mengapa bibir dan otaknya memberi perintah untuk diam saja.

Seseorang itu bangkit, berjalan pelan menuju jalan. Dengan tangan yang dimasukkan saku celana, Lilian bisa tau kalau seseorang itu kedinginan. Salah siapa menaruh mantelnya pada Lilian.

Tangan besarnya memungut kancing lalu berjalan kembali pada Lilian, ikut jongok.

“Bukannya aku minta untuk menyimpannya” seseorang itu kembali berucap seringan kapas. Oh ayolah, Lilian sangat ingin menangis lagi. Kalau tega, bisa dibunuhnya orang di depannya saat ini.

Lelaki yang tadinya dibilang sialan, bodoh, dan umpatan lain yang Lilian simpan dalam otak.

“Lilian yang kukenal cerewet kenapa tiba-tiba jadi pendiam saat kutanya?” lelaki itu merapatkan diri menyentuh kedua sisi bahu Lilian. Gadis itu termenung. Sudah sejak enam tahun terakhir dirasanya sentuhan yang sama.

“Masih diam” sang lelaki mendecak sok kecewa. “Apa perlu aku menceritakan sesuatu?” Lilian tak perlu menjawab, lelaki itu menjawabnya sendiri dengan mengangguk ceria.

“Baiklah, aku akan bercerita” Lilian tak berkutik sama sekali. Masih terjongkok memeluk lutut, menatap lelaki di depannya yang meniru persis caranya duduk.

“Suatu hari ada seorang teman lamaku yang memberitahuku kalau ia akan mengadakan reuni bersama angkatan saat sekolah akhir, aku merasa senang. Bukan karena aku akan ambil cuti untuk pulang ke Korea dari London dan menikmatinya tanpa tumpukan pekerjaan..” ucapnya menatap Lilian. Gadis itu sama sekali tak bosan membalas tatapannya.

“..Kau tau karena apa aku senang?”

Lilian hanya diam.

“Karena aku akan bertemu dengan seorang yang sangat kurindukan saat aku mulai berangkat ke London setelah kelulusan” demi apa Lilian mulai merasa pipinya memanas entah kenapa.

“Tapi yang sangat aku kecewakan, saat aku akan terbang menuju Korea, pesawat yang akan kunaiki mengundur penerbangan selama tiga jam karena cuaca buruk”

“Bayangkan kalau pilot pesawat itu memilih untuk tetap terbang dan berakhir jatuh, aku mungkin tak akan jadi menemui orang yang kurindukan itu. Menyedihkan bukan?” lelaki itu mengakhiri secuplik ceritanya dengan mengusap sebelah pipi Lilian yang memerah menghangatkan dikala dingin menusuk. Tapi dingin malam itu tak mampu mengusik matanya yang terasa panas, lalu sebulir terjatuhkan.

“Sedih ya?” dengan pelan selembut kapas, lelaki itu dengan hati-hati mengusap sisa basah di pipi Lilian.

Lelaki itu bangkit berdiri, mengulurkan tangan pada Lilian. “Berdirilah. Sayang sekali jika kau mati membeku dengan posisi seperti itu” kekehan ringan terdengar oleh Lilian yang senang hati meraih telapak tangannya. Gadis itu mengusap sisa air matanya.

“Kita ngobrol di mobil saja, kau kedinginan” lelaki tinggi itu akan berjalan menjauh menuju mobil hitam tak jauh dari mereka sebelum panggilan dari Lilian membuatnya menoleh.

“Jong”

Kim Jongin tersenyum simpul saat mengetahui lawan bicaranya sedari tadi akhirnya berucap. “hm?”

“Kancing itu” Lilian menunduk, menatap ujung sepatunya yang menginjak tumpukan daun kering berwarna oranye sendu. Jongin mengangkat genggaman tangan berisi kancing di depan dada “Kancing ini?”

“Terima kasih menjadikanku orang yang kau percaya untuk menjaga kancing itu..” Lilian akhirnya mengangkat wajah “..tugasku untuk menjaga kancing itu sudah berakhir karena pemiliknya telah kembali” Jongin nampak tersenyum.

Senyum jongin melebar kala sifat cerewet Lilian ternyata taklah hilang. Lilian melanjutkan “Kau tau..”

“Tau apa?” Jongin memutar seluruh tubuhnya menghadap Lilian.

“Sangat sulit menjaga benda kecil seperti itu, apa lagi aku harus membawanya kemana-mana. Aku terlalu khawatir kehilangannya”

“Begitu juga dengan pemiliknya, kukira dia melupakanku” jantung Jongin mendapat serangan kejut dari ucapan Lilian.

Rasanya terbalas.

Lilian menghela nafas “Leganya tugasku selesai, benda mati itu tak lagi menakutiku”

Jongin mendekat pada Lilian, diraihnya kedua tangan dingin itu.

“Siapa bilang tugasmu selesai?” dengan senyuman geli, Jongin berhasil membuat mata Lilian melebar.

“Setelah kau menjaga kancing ini..” Jongin sengaja memotong ucapan hanya untuk melingkarkan pelukannya pada tubuh mungil Lilian. Selain melepas kebahagiaan, Jongin anggap pelukkannya juga sebagai penghangat. Jongin akui ia kedinginan.

Lilian sendiri memasang wajah terkaget penuh dengan mata yang semakin melebar. Degup jantungnya tak dapat lagi diselamatkan.

“..Kau harus menjaga pemiliknya” ucap Jongin setelah merenggangkan pelukan. Dipandangnya wajah cantik Lilian yang sedang terkejut, Jongin terkekeh geli.

“Tidak usah khawatir, tugas ini lebih mudah. Aku orang yang setia ‘kok” Lilian tersedak ludahnya sendiri.

.

.

.

“Hei! Apa yang kau lakukan, Jong?”

“Menghangatkan diri”

“Apa bisa?”

“Bibirmu bukan lagi penghangat, tapi pemanas”

.

.

.

.

.

Tinggalkan jejak ya..

Untuk karya lain, bisa kunjungi dinopeach.wordpress.com/

8 responses to “[Freelance] Kancing kedua

  1. lah trnyta kmu rilis ni cerita 2 x toh… pntes kya pernh baca… wkt tgl 13 sept kmrin aq smpt bca tpi gk leave coment… tpi aq ttp kasi bintang krna cruitany bgus… wkwkwk agk bingung soalny lumyn bnyk ada ff yg masuk k mail q .. n kdg judulny sma tpiupa na authornya… hehe…

    • oalaaah aku juga baru tau kalo ini dipost tgl 13 juga, soalnya di balesan email bilang kalo tgl 19 baru mau diposting. aku juga baru tau ini.. makasih infonya ya.. kirain ada yg plagiat.. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s