[Freelance] Forsythia

baev11

Title : Forsythia

Author : Baev11

Main Cast : Byun Baekhyun (EXO), Lee Nayoung (OC)

Other Cast : Oh Sehun (EXO)

Genre : Romance, fluff

Rating : PG-17

Length : Oneshoot

Disclaimer : All story is mine. Don’t plagiarize! Enjoy.

———-

Angin musim semi sore ini membelai lembut  helaian demi helaian surai hitam milik gadis berkulit seputih susu yang sedang sibuk melakukan hobinya. Kuas yang sebelumnya ia pegang untuk melukis sudah tergeletak di tempatnya semula. Tangannya terlentang, kedua indra penglihatannya terpejam, merasakan sensasi kedamaian menerpa jiwa dan raganya. Menghirup dalam-dalam perpaduan antara oksigen dan semerbak harum bunga-bunga musim semi yang selalu bersedia mencumbu mesra indra penciuman miliknya.

Taman di Kampusnya ini adalah tempat favoritnya. Dikelilingi berbagai macam bunga musim semi dengan forsythia mendominasi. Dimana pada saat musim gugur dibanjiri dengan kelopak-kelopak warna warni yang berjatuhan mencium tanah dan pada saat musim semi kembali berdiri tegap dengan anggun di singgahsananya.

“Forsythia?”

Obsidiannya perlahan terbuka tatkala alat pendengarannya menangkap vokal yang sama sekali sudah tidak asing baginya.

“Baekhyun!”

Panggilan tersebut menghidupkan kinerja otak Baekhyun untuk menjatuhkan dirinya pada kursi kayu yang sedang diduduki gadisnya tersebut. Memberikan sebotol susu strawberry kesukaan Nayoung yang selalu diterimanya dengan senang hati.

“Sudah lama menunggu?” senyum Baekhyun mengembang, sehingga menciptakan semburat kemerahan pada pipi Nayoung.

“Sepertinya mahasiswa jurusan management terlalu sibuk, ya,” cecar Nayoung berniat menyindir. Tangannya membuka tutup botol susu strawberry yang dipegangnya, lalu meminumnya perlahan membiarkan cairan lembut berwarna  merah muda itu menjamahi kerongkongannya dengan leluasa.

Baekhyun terkekeh kecil. Vokalnya bersuara, “Atau, mahasiswa jurusan psikologi yang terlalu bermalas-malasan?” sebelah tangannya menyentil dahi Nayoung pelan, membuat sang empu kini menelisik tajam pada permukaan wajah tampannya.

Kuriositas pria bermata sipit itu meningkat tinggi kala netranya melihat objek dan lukisan kekasihnya secara bergantian. Sepasang fokusnya berbinar. Sungguh sempurna!

Dahi Baekhyun mengkerut tanda meminta sebuah penjelasan, “Jadi, apa makna dibalik sebuah lukisan dengan forsythia menjadi objeknya kali ini?”

Iris coklat Nayoung beralih pada wajah tampan Baekhyun, tersenyum penuh arti namun hanya sekilas, kembali memfokuskan dirinya pada kumpulan-kumpulan bunga forsythia tepat di hadapannya yang tak lain adalah objek lukisannya.

“Aku hanya melukis seorang Byun Baekhyun,” katanya tenang.

Kerutan di dahi Baekhyun tentu dua kali bertambah, “Maksudmu, aku terlihat berwarna kuning, mempunyai putik dan banyak kelopak, begitu?”

Nayoung menahan tawanya, “Tidak, tidak. Bukan begitu Baekhyun. Aku hanya–”

Belum sempat ia menyelesaikan silabelnya, manuver Baekhyun kini membuat tubuhnya sedikit menegang. Pasalnya, kala ini kepala Baekhyun ia sandarkan pada bahu Nayoung, sedikit lebih dalam hingga ia bisa merasakan material basah Baekhyun menyentuh permukaan leher jenjangnya. Jemari kanan Baekhyun sudah terpaut sempurna dengan jari kiri miliknya.

Baekhyun bisa merasakan manuver kegelisahan dari gadisnya tersebut. Obsidiannya ia pejamkan sempurna, tersenyum sedetik lalu berniat menjelaskan untaian kalimat untuk menenangkan gadisnya.

“Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun, sayang. Hanya seperti ini.”

Sedikit lebih tenang, Nayoung mempererat genggaman pada jari mereka.

“Baekhyun..”

“Ya, sayang?”

Nayoung menghirup lalu menghembuskan nafasnya perlahan, “Bunga musim semi forsythia.. kuning, orange dan jingga. Warna-warnanya cerah, aku suka. Mereka hanya akan mekar pada saat musim semi, mewarnai bumi dengan keindahannya, mereka tahu akan dipuji.. tetapi mereka tahu tak akan selamanya. Kira-kira seperti itulah seorang Byun Baekhyun di mataku.”

Serentetan kalimat tadi mampu membuat akal sehat Baekhyun kembali ke alam sadarnya pasca terjerumus dalam buaian harum memabukan milik gadisnya. Kembali menegakkan kepalanya tanpa melepaskan genggaman di antara mereka. Menatap lembut kedua manik si gadis, dengan sebelah tangannya mengacak penuh sayang poni miliknya.

“Manis sekali, kau ini pintar merangkai kata ya rupanya.”

“Manis seperti wajahku, ya?” lisannya berucap mencoba untuk menggoda Baekhyun.

“Wah, aku jadi semakin ingin menikahimu, Nay.”

Kali ini giliran Nayoung yang menyandarkan kepalanya pada bahu Baekhyun, menatap lekat-lekat hasil karyanya yang mencoba menuntunnya memasuki garis kebahagiaan yang tak berujung, meyakinkan macam apa perasaan sejuk yang kendati melekat pada jiwanya saat ini. Akan semakin jatuh dalam imajinasinya, seandainya vokal Baekhyun tidak mengudara, “Menikahlah denganku, Nay.”

Nayoung menciptakan sebuah senyuman lirih, walau sejatinya kini tengah jengah dibuatnya, “Jika aku tidak salah, ini kali ke 10 kau mengucapkan kalimat itu.”

“Aku serius, sayang.” Baekhyun mengecup penuh harap pada permukaan tangan Nayoung. Berharap tendensi gadisnya tersebut sama dengannya. Namun disayangkan, Nayoung akan menjadi gadis super dewasa jika sudah disangkut pautkan pada pernikahan.

“Bukan serius, kau itu terlalu berambisi Baekhyun.”

“Aku tidak merasakannya.”

“Ya, kau tidak merasakannya. Tetapi, orang lain lah yang merasakannya, dan orang lain itu adalah aku.”

“Aku hanya ingin menikahimu secepatnya, Nay. Menjadikanmu milikku seutuhnya dan selama-lamanya dalam ikatan status. Apakah itu salah?”

Nayoung memutarkan kedua bola matanya malas, “Tidak tahun ini Baekhyun, sidang kelulusanku dan kau itu tahun depan, juga peresmianmu menjadi direktur di perusahaan Ayahmu pun tahun depan. Aku yakin kau bisa menunggu sampai saatnya datang.”

“Kau tidak mencintaiku, ya?” lisan Baekhyun bersuara, terdengar nada kekecewaan dibaliknya.

Kedua tangan Nayoung kini berada di pundak Baekhyun, menyalurkan keyakinannya dalam cengkraman kuat namun hangat.

“Baekhyun, semua itu butuh proses. Salah satu alasanku menyukai forsythia karena mereka tumbuh dari suatu proses yang sangat lama. Berhasilnya bunga forsythia mekar dengan eloknya pada saat musim semi, itu semua karena sebuah proses. Tidak akan ada yang istimewa jika tidak ada kerja keras. Kau harus meniru mereka, dengan proses yang lama dan kesabaran yang tinggi, percayalah akan ada keindahan yang membuat kita senang.”

Baekhyun terdiam, lalu meraih tubuh mungil si gadis dengan penuh kasih, menyalurkan kehangatan tak terbatas dalam sebuah dekapan. Menyatukan keyakinan keduanya yang sejatinya tidak sejajar.

Hati Baekhyun melunak, mengubur dalam-dalam egonya yang ia sembunyikan dalam permukaan, “Aku mengerti, aku akan melamarmu secepatnya,” ia lalu mencium kecil puncak kepala Nayoung.

Lengkungan itu terukir pada bibir ranum si gadis, puas akan kepercayaan Baekhyun padanya. Kedua tangannya membalas pelukan Baekhyun, saling menghantarkan rasa sayang menuju roma kehangatan yang semakin menjadi di antara keduanya.

———-

“Baekhyunnnnn, Lepaskan! untuk apa kau mengajakku kesini?”

Bersamaan dengan selesainya kerja vokal Nayoung, ia pun menghempaskan pergelangan tangannya pada cengkraman Baekhyun. Yeah, cengkraman yang memang tidak keras namun mampu menumbuhkan benih-benih kekesalan pada dirinya. Ada apa siang-siang begini Baekhyun mengajaknya ke tempat seperti ini?

Alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan Nayoung, pria Byun ini tersenyum pada seorang wanita yanng memakai seragam hitam-putih tersebut yang berada di hadapan keduanya.

“Permisi, aku ingin melihat jenis-jenis cincin yang berada pada etalase di atas itu, bisa kau ambilkan?”

Si pegawai tersenyum ramah, “Baiklah,” lalu pegawai tersebut mengambil cincin yang berada pada etalase tersebut, hanya beberapa.

“Nayoung, kau ingin pilih yang mana?”

Baekhyun terhenyak, melihat tatapan tak bersahabat datang dari raut wajah gadisnya tersebut. Seolah meminta penjelasan yang berakhir tanpa sebuah jawaban keluar dari mulut si pria.

“Baekhyun, kau belum menjawab pertanyaanku.”

Perlahan, Baekhyun menggenggam tangan Nayoung, mengusapnya lembut lalu memberikan lengkungan manis pada bibrinya berniat meredakan kekesalan yang melanda diri Nayoung. Tanpa tahu, ada yang sedang tersenyum malu-malu di depan sana.

Merasa tahu wanita Lee ini sedikit melembut, lisannya pun mengudara, “Sayang, apa perlakuanku ini belum cukup menjelaskannya?”

Di tempatnya, kini Nayoung dilanda rasa canggung dan malu luar biasa, namun ia suka. Dilepasnya genggaman pada tangan Baekhyun untuk mencegah perasaan membuncah ini lebih lanjut. Iris coklatnya memaku pada sebuah cincin dengan kelopak forsythia pengindahnya.

“Aku suka yang ini!” telunjuknya mengarah dengan semangat pada cincin tersebut.

“Sudah kuduga. Baiklah, aku ambil yang ini.” tukas Baekhyun pada si pegawai.

“Tunggu sebentar.”

Setelah kepergian si pegawai, keduanya terjebak dalam keheningan. Seolah tidak ada yang perlu dibahas karena terlalu larut dalam fikiran yang diciptakan masing-masing.

Tak mau berlama-lama jengah dalam pengasingan, Nayoung bersiap bertanya. Yeah, walaupun sebenarnya pertanyaan yang kurang masuk akal karena dirinya sendiripun tahu jawabannya.

“Ehm, kau membelikannya untukku?”

Baekhyun menoleh, “Bukan.”

Iris Nayoung mendelik. Ia sedikit merasakan gencatan atas jawaban Baekhyun barusan, “He,  kau cari mati ya? Lalu untuk siapa kalau begitu?”

“Haha. Aku hanya ber-”

“Byun Baekhyun? Lee Nayoung?”

Seseorang menyela ucapan Baekhyun. Keduanya kini menoleh pada asal suara, netra ketiganya bertemu dalam satu ruangan, menciptakan raut wajah yang berbeda dari setiap masing-masingnya.

Raut wajah Baekhyun terlihat heran, penasaran mengapa kekasihnya bisa saling mengenal dengan pria di hadapannya ini. Raut wajah Nayoung terkesan gelisah, takut-takut Baekhyun mengetahui bahwa pria bertubuh tinggi tersebut adalah mantan kekasihnya. Sedangkan raut wajah si pria yang baru saja masuk dalam lingkaran suasana tersebut, memasang raut wajah santai tanpa tahu kedatangannya adalah awal dari sebuah pertengkaran kecil yang akan terjadi pada Baekhyun dan Nayoung.

“Oh Sehun,” ucapnya pelan, dahinya mengernyit, “Kenapa, kau bisa ada disini?”

Oh Sehun, pria berkulit seputih susu itu mengembangkan senyumnya, menyapa indra penglihatannya tanpa sedikitpun penyesalan terlihat dari dirinya, “Sudah lama tidak bertemu, ya. Aku di sini sedang menemui calon tunanganku.”

Hati Nayoung yang gelisah kini sedikit lega, tetapi sesuatu masih mengganjal dalam fikirannya, “Tapi, kenapa kalian bisa saling mengenal?”

Baekhyun yang masih belum mengerti medan terhenyak pelan. Masih banyak pertanyaan dalam otaknya. Sekarang gilirannya yang menyumbang suara, “Aku dan Sehun pernah bertemu di Konser musik, dahulu.” Baekhyun menghembuskan nafasnya berat, “Lalu, kalian sendiri bagaimana bisa saling mengenal?”

Tenggorokan Nayoung tercekat, kuat-kuat ia menahan nafasnya guna bertahan dalam kekalutannya, di hadapannya Sehun menatap bergantian wajah Baekhyun dan Nayoung, siap menjawab pertanyaan yang dilontarkan Baekhyun.

“Kau tidak tahu? Aku ini mantan kekasih Nayoung.”

Tubuh Nayoung terhenyak, ini seperti sebuah bom molotov yang tiba-tiba meledak di kepalanya. Di sebelahnya kini Baekhyun sedang menganga tak percaya, “Apa kau bilang?!”

Gurat wajah Nayoung kali ini berbinar, sangat ingin berterimakasih kepada si pegawai karena telah datang di waktu yang tepat.

“Permisi, ini pesananmu.”

Kesempatan baik ini digunakan Nayoung dengan sebaik-baiknya. Setelah tak lupa mengucapkan terimakasih dan serangkaian pembayaran yang dilakukan Baekhyun, cepat-cepat ia menarik lengannya.

“Ayo kita pergi, Baek.”

Cecar Nayoung tanpa mengucapkan salam perpisahan pada seorang Oh Sehun yang kini tengah menatap tanpa arti pada keduanya.

———-

Hening kembali berkuasa selama perjalanan menuju Apartemen Nayoung. Baekhyun telah mempersiapkan sesuatu di Apartemen kekasihnya dibantu oleh Chanyeol juga tanpa Nayoung ketahui. Keduanya seakan bisu, sampai mereka telah di Apartemen Nayoung. Tepat di depan pintu, Nayoung menahan tangan Baekhyun, menatapnya lamat diiringi Baekhyun yang sedang menatapnya dengan alis yang menaut. Nayoung tahu Baekhyun sedang marah.

“Baekhyun.. aku.. emm aku mohon jangan marah.”

Pria bermata sipit itu menghembuskan nafasnya berat, ia sebenarnya tidak marah, hanya saja kesal.

“Aku tidak marah, sayang. Hanya saja aku kesal, kau tidak pernah menceritakan Sehun padaku,” setelahnya Baekhyun mengusap puncak kepala Nayoung.

“Maafkan aku, aku tahu aku salah. Lalu, kau bilang tadi kau membelikan cincin itu bukan untukku!” nada suara Nayoung sedikit meninggi.

Baekhyun memutarkan bola matanya malas, “Perkatan ‘aku hanya bercanda’ tadi bisa saja aku selesaikan seandainya si brengsek itu tidak datang, Nay.”

Nayoung terkekeh, “Yasudahlah, ayo kita masuk ke dalam.”

Kedua tangannya kini yang menahan Nayoung, menyeringai di hadapannya lalu bersuara, “Kau harus mempersiapkan dirimu terlebih dahulu sebelum masuk, Nay.”

Dahinya mengkerut heran, “Memangnya ada apa?”

Baekhyun hanya mengangkat bahunya acuh.

“Kau aneh.”

Setelah menekan serangkaian password lalu membuka pintunya, Nayoung masuk ke dalam. Baru saja selangkah ia berjalan, Nayoung dikejutkan dengan pemandangan di dalam Apartemennya itu. Mulutnya kaku, bahkan tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia hanya bisa membulatkan matanya dengan mulut menganga, membiarkan rasa keterkejutan menguasai dirinya.

Di dinding sebelah kiri terdapat banyak foto Baekhyun dan Nayoung mulai dari pertama menjalin hubungan hingga sampai saat ini. Di sebelah kanan, terdapat beberapa bouquet bunga forsythia. Yang paling mengejutkannya adalah, di tengah-tengah terdapat sekumpulan bunga forsythia yang merangkai kalimat,

Will you marry me?’

dengan lampu-lampu kecil berkerlap-kerlip penghiasnya.

Sederhana namun sangat indah dan manis!

Nayoung susah payah melangkahkan kakinya lebih dalam memasuki ruangan. Matanya berbinar, kepalanya ia tolehkan pada Baekhyun yang sudah merentangkan tangannya siap menerima pelukan Nayoung.

Nayoung berlari kecil lalu memeluk Baekhyun erat, sang priapun balas memeluknya tak kalah erat. Sama-sama menyalurkan rasa bahagia dalam diri masing-masing yang tak tertahankan.

“Baekhyun.. kau yang melakukan ini semua? Kapan?” tanya Nayoung.

Baekhyun mengangguk dalam pelukannya, “Chanyeol juga membantuku, sih. Tadi, saat aku mengajakmu keluar,” ia melepaskan pelukannya lalu menatap iris coklat itu lamat-lamat. Terdapat keseriusan di dalam matanya.

“Lee Nayoung, jadilah keajaiban ibarat bunga yang tumbuh di tegarnya karang, jadilah pemberi harapan pada janji setia ibarat bunga mengembun. Seorang wanita yang selalu baik dan penuh pengertian, seorang wanita yang membanggakan dan membahagiakan kepada semua orang.”

Kedua tangan Baekhyun kini menggenggam tangan Nayoung, mengusapnya lembut lalu mengecupnya, “Jadi, Lee Nayoung wanita pecinta forsythia yang aku sayangi. Will you marry me?”

Hati Nayoung sangat terharu, matanya memanas. Ia mengangguk dan sekali lagi memeluk Baekhyun, “Yes, i will.”

Baekhyun tersenyum puas dalam cekukan leher Nayoung, menghirup aroma gadisnya yang selalu memabukkan. Kepalanya kini ia tarik, kembali menatap si gadis, lalu mengeluarkan kotak kecil berwarna merah berisi cincin yang tadi keduanya beli lalu menyematkan pada jari manis Nayoung. Kepalanya mendekat, lalu perlahan mencium kening si gadis. Menyampaikan rasa bahagia sekaligus terimakasihnya. Baekhyun akan lebih menjadi dirinya sendiri jika sudah bersama Nayoung, dan Nayoung sedikit demi sedikit akan lebih menjadi dewasa jika sudah bersama Baekhyun.

Ich liebe dich, Nay.”[1]

Ich liebe dich sein, Baekhyun.”[2]

You are the one i found

One and one and only

Touching the tip of our toes

Touching our hands

Touching our space

All of it is you

~ One and Only – Exo ~

End.

Thanks for everyone who takes the time to read my cheesy story ><

FF ini pernah dipublish di wp sebelah dengan nickname yang dulu, jadi jika kalian menemukan ff yang sama dengan nama author berbeda, itu sama-sama milikku^^

Big love! -Baev11

 

 

 

[1] Aku cinta kamu.

 

[2] Aku cinta kamu selamanya.

19 responses to “[Freelance] Forsythia

    • Hi Dindaariyanti!!! Thanks udah baca ff ku ya, aku ga berencana bikin sequel ff ini maaf:( tp aku akan buat ff lain dg cast Baekhyun^^ big love❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s