[Freelance] Medicine

medicine

Bagi Chanyeol seharusnya hari ini ia berada di taman bermain, menggenggam tangan sang kekasih dan tertawa bersama.

Tetapi bagi Vianna, hari ini harusnya masuk dalam daftar ’10 hari paling konyol bersama Park Chanyeol’

 

****

Title : Medicine

Author/twitter : nialstr/-

Cast : Park Chanyeol, Vianna Lee (OC)

Genre : Fluff, Romance

Rating : T

Length : Oneshoot

Disclaimer : “This fic and plot of story’s absolutely mine. But casts are belonging to their self and family. Im here to express myself through writing and making readers happy, so i dont wanna deal with plagiators. Thankyou :D”

 

 

*****

 

 

Park Chanyeol seharusnya sudah berada di taman bermain lebih dari satu jam yang lalu. Pada saat ini mungkin ia tengah menggenggam tangan kekasihnya dan berjalan seolah dunia ini milik berdua. Atau mungkin juga mereka sedang berebut permen kapas seusai menaiki merry go round.

Baiklah. Itu seharusnya.

Nyatanya yang ada di hadapan Chanyeol saat ini bukanlah wahana merry go round. Bukan juga rumah kaca yang bisa memerangkap seseorang selama satu jam di dalamnya. Melainkan sang kekasih yang bersembunyi di balik selimut tebalnya sembari sesekali terbatuk.

“Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya kalau kau sakit?” Tanya Chanyeol setelah berhasil mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur.

Yang ditanya hanya menjawab dengan satu gelengan lemah. Tadi pagi tiba-tiba saja ia terbangun dengan sakit di kepalanya yang ternyata satu paket dengan bersin-bersin. Dan juga batuk. Dan lemas. Dan.. dan entah apa lagi. Vianna tak bisa menjabarkannya.

Gadis itu yakin sekali bahwa malam sebelumnya ia baik-baik saja.

“Aku mau menghubungimu. Sungguh. Namun tanganku lembek seperti agar-agar dan aku tak bisa menjangkau ponselku sendiri.” Jawab Vianna dengan suara serak.

Chanyeol mengangguk mengerti. “Tak apa. Kita bisa pergi lain kali.” Katanya sambil menaikkan selimut Vianna sampai sebatas dagu.

Chanyeol memperhatikan Vianna yang masih terbatuk-batuk. Kekasihnya itu tampak kacau dengan wajah sepucat bulan dan syal melingkar di lehernya. Suaranya serak, mirip suara Doraemon yang marah-marah karena alat masa depannya dirusak Nobita.
Padahal percayalah, Vianna adalah seorang penyanyi café di daerah Hongdae.

Lelaki jangkung itu menghela nafas. Kalau begini keadaannya maka siapa juga yang akan percaya?

“Kau mau sesuatu? Aku akan membawakannya untukmu. Es krim cokelat, vanilla, strawberry. Atau yang bertabur almond?”  Tanya Chanyeol sembari meraih ujung selimut dan memainkannya.

Mendengar itu, Vianna kembali memejamkan matanya. Ia mengerti bahwa Chanyeol hanya ingin membuat dirinya merasa lebih baik. Tetapi demi tiket konser boysgroup favoritnya yang harganya selangit itu, Vianna berani bersumpah bahwa denyutan di kepalanya bertambah ketika Chanyeol mengajukan pertanyaan tadi.
Orang waras macam apa yang membelikan es krim untuk kekasihnya yang sedang sakit?

Meskipun tawaran Chanyeol sepertinya menggiurkan, tetapi tentu Vianna akan menolaknya. Ya, karena ia masih waras dan tidak ingin sakitnya bertambah parah.

“Obatku.” Lirih gadis itu pada akhirnya.

Chanyeol berhenti bermain dengan selimut tebal di tangannya. Dahinya berkerut samar. “Apa?” Tanyanya.
Menerjemahkan suara Vianna yang serak agar dapat ditangkap oleh indra pendengarannya ternyata bukan pekerjaan yang mudah.

“Obatku, Park Chanyeol.”

Pada detik itu akhirnya Chanyeol sadar bahwa orang sakit perlu obat.

“Oh benar. Biar kuambilkan sebentar.” Kata Chanyeol. Ia berlari ke dapur dan mencari kotak obat di lemari paling atas. Ia hafal betul tempatnya karena terakhir kali kemari, Chanyeol nyaris membakar tangannya sendiri saat mencoba membantu Vianna memasak. Kekasihnya yang biasanya sangat manis itu bahkan sampai bersumpah serapah. Bukan karena tangan Chanyeol yang hampir saja mengenai api kompor, tetapi lebih karena dapurnya yang juga hampir terbakar.

Chanyeol mengeluarkan kotak obat itu dari rak dan mencari obat demam. Tapi ia tidak bisa menemukannya dimanapun. Vianna justru menyimpan salep luka bakar banyak-banyak di kotak obatnya. Mungkin sekadar berjaga-jaga jika Chanyeol membuat kesalahan yang sama di dapur apartemennya.

“Aku tidak dapat menemukan obatmu. Kau yakin masih memilikinya?” Tanya Chanyeol yang akhirnya memutuskan kembali ke kamar.

“Ah.. aku membuang obat itu karena tanggal kadaluarsanya sudah dekat.” Vianna tersenyum meminta maaf. “Aku lupa.”

“Baiklah, akan kubeli nanti. Aku akan membuatkanmu makanan terlebih dahulu. Eotthe?” Tawar Chanyeol. Senyumnya lebar sekali. Tapi setidaknya tidak selebar senyum Chucky, karena menurut Vianna boneka yang satu itu menyeramkan.
Kekasihnya itu memang konyol, tapi ia tidak sudi memiliki kekasih yang menyeramkan.

Vianna mengerjap. “Aku tidak lapar Chanyeol..”

“Tapi orang sakit harus makan sebelum meminum obatnya.”

“Kalau begitu biar aku telepon Yeji dan Kyungsoo agar datang kesini.”

Kali ini Chanyeol yang mengerjapkan matanya berkali-kali. “Apa? Kenapa Kyungsoo?”

“Memangnya kenapa?”

“Tapi aku kan pacarmu.”

“Hah?”

Oke, Vianna merasa kepalanya mulai berdenyut lagi. Ia tak bisa menemukan esensi antara makanan, Kyungsoo, dan Chanyeol yang berstatus sebagai kekasihnya.

“Park Chanyeol, Kyungsoo bisa memasak untukku.”

Chanyeol berkacak pinggang. “Aku juga bisa. Aku bisa membuat dua porsi ramyun yang enak walaupun hanya memakai takaran bumbu untuk satu porsi.”

Vianna memijat pelipisnya. Terkadang sifat konyol kekasihnya itu bisa terlihat begitu lucu di matanya. Namun tidak untuk saat ini.

“Tapi orang sakit tak akan memakan ramyun.”

“Aku.. Oh! Aku bisa membuatkanmu bubur yang enak.” Seru Chanyeol. Ia tersenyum manis dan dengan cepat merebut ponsel  Vianna dari atas meja. “Tak usah menelepon Yeji dan Kyungsoo. Oke? Mereka ‘kan baru satu bulan bersama.”

Chanyeol terkekeh. Membayangkan ia akan memasak seporsi ramyun bumbu kari untuk Vianna. Atau jika benar orang sakit tak bisa memakan ramyun, ia akan membuat bubur dengan banyak taburan daging ayam di atasnya.

Namun selang beberapa detik, dahi Chanyeol berkerut. Sepertinya bubur terlalu aneh jika dimakan di siang hari begini. Otaknya kemudian sibuk memikirkan apakah rasanya akan enak jika ia mencampur ramyun kari dengan bubur.

Sementara Chanyeol berpikir, Vianna menggerutu dalam hati. Ia tahu Chanyeol bahkan tak bisa membedakan antara kecap dengan cola.

‘Lagipula memangnya kenapa kalau Kyungsoo dan Yeji baru satu bulan berpacaran? Apa mereka akan mengubah dapurku menjadi tempat kencan?’ Pikirnya.
Tapi akhirnya gadis itu menyerah. “Ya, ya. Terserah kau saja. Aku akan tidur sebentar.”

Chanyeol berseru kesenangan. Ia bergegas membuka pintu kamar dan baru saja akan menutupnya ketika Vianna memanggilnya kembali.

“Chanyeol?”

“Ya chagi?” Jawab Chanyeol. Kepalanya tersembul dari balik pintu.

Vianna menatap Chanyeol beberapa saat. Ia menunjuk kotak obat di tangan namja itu.

“Jangan lupa untuk membawa salep luka bakar.”

 
*****

 

 

Setelah hari ini berakhir Vianna berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menulis setiap kekonyolan Chanyeol di buku hariannya. Kelak jika mereka memiliki seorang anak, Vianna akan membiarkannya membaca setiap kata yang tertulis disana agar anaknya mengerti kelakuan sang ayah kala muda.

Harusnya setelah Chanyeol memutuskan untuk memasak, Vianna bisa beristirahat. Atau setidaknya ia bisa membiarkan matanya terpejam barang lima menit.
Namun anggapan itu buyar seketika. Kekasihnya itu selalu kembali ke kamar untuk bertanya tepat disetiap mata Vianna baru saja terpejam.

Catat, hanya untuk bertanya. Dan lagi, pertanyaannya samasekali tidak penting.
Vianna sampai harus menahan jengkel tiap kali menjawab jenis pertanyaan yang bahkan akan membuat bayi baru lahir sekalipun akan tertawa.

“Vi, berapa sendok garam yang kau masukkan bila membuat bubur?”

“Vi, menurutmu garam atau penyedap rasa yang dimasukkan lebih dulu?”

“Vi, apakah kau suka bubuk cabai?”

“Vi, apakah kau pikir jika aku memasukkan kecap kedalam bubur maka warnanya akan berubah menjadi cokelat?”

Vianna hampir menyemburkan sumpah serapahnya yang kedua kali.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Vianna sangat menyukai namanya. Ia juga senang dengan cara orang-orang disekitarnya memanggil namanya. Baginya panggilan ‘Vi’ terdengar manis. Mirip member boysgroup favoritnya yang wajahnya sering beredar di acara musik mingguan.

Tapi karena Chanyeol, hari ini Vianna membenci namanya sendiri.
Kepalanya berdenyut-denyut tiap kali ia mendengar suara pintu kamar dibuka, disusul dengan Chanyeol dan suara bass yang memanggil namanya.
Belum lagi serentetan pertanyaan bodoh dari Chanyeol yang benar-benar membuat kepalanya hampir pecah.

Vianna benar-benar tak habis pikir kenapa Chanyeol lebih memilih menggunakan suara bass nya yang seksi itu untuk membuatnya sakit kepala daripada untuk merayunya.

Ketika namja itu masuk kembali ke kamar dengan membawa semangkuk bubur plus uap yang mengepul di atasnya, Vianna kira penderitaannya akan berakhir.
Nyatanya tidak. Malah justru baru saja dimulai.

Vianna lagi-lagi harus menahan agar tak ada asap yang keluar dari ubun-ubun dan telinganya ketika ia berhasil melihat tampilan bubur yang dibuat Chanyeol.
Oke, ini bahkan baru tampilannya dan kita masih belum berbicara soal rasa.

Vianna yakin sekali Chanyeol menghabiskan seluruh persediaan kecap di dapurnya melihat warna buburnya yang cokelat, nyaris kehitaman. Gadis itu menatap Chanyeol tak yakin.

“Aku harus memakan ini?”

“Tentu. Aku yang memasaknya. Pasti rasanya mengalahkan standar masterchef Korea.” Kata Chanyeol bangga. Dan Vianna sekali lagi harus menghela nafasnya.

Oh dear..

Vianna tidak ingin membuat Chanyeol kecewa. Tapi..

“Chanyeol, kurasa aku benar-benar harus menelepon Kyungsoo..”

Chanyeol meletakkan mangkuk diatas meja nakas dan mendekat pada Vianna. “Ayolah, masakanku lebih enak dari bocah pororo itu. Ayo kubantu duduk dan biarkan aku menyuapimu.” Katanya lagi.

Fine. Vianna pasrah. Ternyata kekasihnya itu sangat percaya diri. Vianna menyesal sudah mengkhawatirkan perasaan Chanyeol jika ia menolak makanan berwarna aneh di tangannya itu.
Vianna akhirnya duduk dengan penyangga bantal di punggungnya. Disusul dengan Chanyeol yang ikut duduk setelah mengambil mangkuk buburnya kembali. Ia maju sedikit untuk memudahkan yeojachingu nya makan tanpa mengotori selimutnya.

Mata Vianna terpejam nyaman. Dari jarak sedekat ini dirinya mampu menghirup wangi musk yang berpadu dengan chamomile dari parfum yang dikenakan Chanyeol.
Ia selalu menyukai aroma tubuh kekasihnya itu, dan Chanyeol seolah mengerti. Karena itulah tak pernah sekalipun Chanyeol berniat untuk mengganti parfumnya.

“Katakan ‘aaaa..”

Suara Chanyeol itu mau tak mau membuat Vianna membuka matanya lagi. Matanya disuguhi pemandangan Chanyeol yang tengah menggenggam sendok bubur yang diarahkan padanya. Ditambah dengan ekspresi seperti hendak menyuapi anak-anak, –mulut terbuka dan alis yang naik beberapa inci— Vianna tertawa dibuatnya.
Gadis itu membuka mulutnya, mencoba mengunyah paksa bubur nasi yang warnanya sedikitpun tak menyerupai nasi itu.

Dahi Vianna mengernyit. Sepertinya roti yang tadi dimakannya sebelum Chanyeol datang masih terasa hambar. Tapi entah kenapa bubur ini terasa asin luar biasa bahkan bagi lidahnya yang tak mampu mengecap rasa dengan benar.
Bubur ini kalau tak salah warnanya pekat seperti habis ditumpahi oleh lautan kecap. Vianna tak menyimpan satupun kecap asin, jadi tak mungkin Chanyeol menggunakan jenis kecap yang satu itu.

Rasanya ia ingin memeriksakan lidahnya dan mengatakan pada dokter bahwa papilanya telah terkontaminasi, dan pelaku kejahatannya adalah kekasihnya sendiri.

“Enak?” Tanya Chanyeol semangat.

Pergilah kau ke Eropa tahun 1912 Park Chanyeol. Pakai mesin waktu dan hadiahkan kapal Titanic padaku, baru akan kukatakan kalau makananmu ini enak setengah mati.

Tapi Vianna hanya tersenyum hingga separuh matanya hampir hilang. “Mmm-hm.” Gumamnya.

Chanyeol tertawa penuh kemenangan. “Benar kubilang. Kau tidak perlu menelepon Kyungsoo ‘kan?”

Vianna mengangguk. Terserah apa katanya, yang penting Chanyeol senang.
“Yah.. Mungkin sekali-kali kalian harus masak bersama.” Katanya asal.

“Ide bagus.” Chanyeol tampak menimbang-nimbang. “Akan kuajak dia memasak bersamaku lain kali. Kami akan membuat perpaduan yang luar biasa.”

Ya, dan kau akan berubah menjadi pengganti shirloin asam manis di hidangan Kyungsoo.

Chanyeol menyendok bubur sekali lagi dan meminta Vianna untuk membuka mulutnya lebih lebar karena satu suapan sudah mengotori piyama gadis itu.
Chanyeol tahu orang sakit harus makan banyak agar cepat sembuh. Tetapi Vianna hanya bisa bertahan untuk lima suapan. Beruntung yeoja yang terhitung sudah menjadi miliknya selama tiga tahun itu tak berakhir dengan tewas mengenaskan.

Vianna benar-benar lega ketika setelah itu Chanyeol menyodorkan gelas air putih padanya dan membantunya minum. Ia pikir Chanyeol lupa kalau setelah makan orang sakit juga butuh minum. Sehingga ia mungkin saja harus menyeret kedua kakinya ke dapur dan mengambil minum sendiri.

“Nah, aku akan membeli obatmu dulu. Aku akan beli vitamin juga jadi kau akan cepat baikan.” Kata Chanyeol setelah membereskan mangkuk dan gelas untuk makan tadi. “Kita akan segera naik bianglala raksasa dan piknik ke pinggir sungai Han.” Ujarnya riang.

Dan akhirnya Vianna tersenyum manis.

“Tentu.”

 

 

*****

 

Tepat lima menit setelah mendengar suara pintu yang ditutup, Vianna langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Entah harus bahagia atau tidak ia hari ini. Ia senang karena ada Chanyeol yang menemaninya. Dan Vianna mungkin bisa lebih senang lagi jika saja Chanyeol tahu bagaimana cara mengurus orang sakit.

Ah, mungkin hari ini memang harus masuk ke daftar ’10 hari terkonyol bersama Park Chanyeol’.

Ini baru permulaan, dan Vianna penasaran bagaimana nanti kalau mereka menikah dan punya anak.
Vianna mendesah muram, memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk jika ia membiarkan anak mereka sehari saja berada dalam pengawasan sang ayah.

Ia harap Tuan Telinga Lebar –panggilannya pada Chanyeol di awal pertemuan mereka— itu tak salah membedakan mana susu formula dan mana bedak tabur bayi.

Park Chanyeol memang konyol. Tetapi yang paling konyol disini jelas dirinya, yang bisa-bisanya membiarkan hatinya diambil oleh pencuri yang bahkan tak tahu bagaimana cara menyembunyikan sidik jarinya.

Vianna tertawa sendiri pada perumpamaannya. Terkadang cinta memang seperti itu. Kau tak bisa menentukan orang yang nantinya akan dijatuhi oleh pilihan hatimu. Tapi biarkan hatimu yang memilih orang itu. Seperti hatinya yang mutlak menjatuhkan pilihan pada laki-laki seperti Chanyeol.

Samar-samar ia mendengar kunci apartemennya dibuka, disusul dengan langkah ringan seseorang. Vianna tahu itu Chanyeol. Katakanlah ia gila karena suara langkah kaki Chanyeol pun sudah dihafalnya di luar kepala.
Gadis itu tersenyum ketika Chanyeol melangkah masuk ke kamarnya sambil membawa kantung belanja.

“Apotiknya tutup, jadi aku ke minimarket. Aku beli ikan untuk makan malam.” Kata Chanyeol. Ia mengobrak-abrik kantung belanja dan menyerahkan sebuah kotak persegi panjang pada Vianna. “Aku beli termometer juga untukmu. Aku harus tahu suhu tubuhmu dengan pasti agar bisa membeli obat yang tepat.”

Vianna menerima benda yang diberikan Chanyeol dan membaca tulisan yang tertera disana. Pipinya sontak bersemu merah. Bukan karena demamnya yang makin menggila, tetapi karena Chanyeol benar-benar sudah kehilangan kewarasannya.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin Vianna tanyakan pada Chanyeol. Seperti, apakah kau yakin bisa membersihkan ikan dengan benar sebelum memasaknya? Atau apakah Chanyeol yakin kalau dirinya tak akan keracunan setelah jam makan malam berakhir.
Tapi yang bisa Vianna lakukan hanya mengacak rambutnya frustasi. Dengan satu tarikan nafas ia berujar pelan,

“Chanyeol, ini alat tes kehamilan.”

Chanyeol menghentikan pergerakannya dan menatap Vianna dengan alis mata yang dinaikkan.

“Tapi bentuknya seperti termometer.” Katanya sambil mencoba mengingat-ingat. “Aku tidak bohong..”

“Tapi nyatanya bukan.” Vianna menatap Chanyeol sesaat. “Lagipula obat dibedakan berdasarkan usia peminumnya. Bukan berdasarkan suhu tubuhnya.” Keluhnya lagi.

“Memang sih.. Kalau begitu aku akan kembali dan membeli obatmu.”

“Ya terserah.” Vianna memijat tulang hidungnya. “Sana. Aku perlu memejamkan mataku lagi. Aku nyaris gila karena benda ini.” Tambahnya sambil membuat gerakan mengusir.

Chanyeol tertawa. “Penglihatanku sedang tidak bagus. Dan apakah kau keberatan dengan obat kapsul? Pil?”

“Beli saja yang sirup.” Sahut Vianna. Ia menarik selimutnya agar Chanyeol mengerti kalau ia butuh istirahat baik bagi tubuhnya ataupun pikirannya.

“Baiklah. Aku akan cari obat sirup untukmu.” Jawab Chanyeol. “Satu lagi chagi..”

Vianna memandang Chanyeol malas. “Apa lagi?”

Chanyeol tersenyum manis. Sebelah tangannya meraih kenop pintu, memudahkannya untuk kabur sewaktu-waktu. “Kau coba saja alat tes kehamilan itu. Siapa tahu besok aku akan jadi seorang ayah.”

 

 

*****

 

 

Park.Chanyeol.Memang.Kurang.Ajar.

Vianna menggeleng, tak tahan dengan kelakuan kekasih tercintanya. Ditatapnya lagi Chanyeol yang tengah memasang puppy eyes andalannya. Pandangannya kemudian beralih pada botol obat di tangan kirinya. Gadis itu mengerang.

“Chanyeol, aku bilang padamu untuk membelikanku obat sirup untuk demam. Bukan alkohol untuk membersihkan luka.”

“Rasanya petugas minimarket disana mengatakan kalau ini obat demam..” Chanyeol memajukan bibirnya beberapa senti menyadari aegyonya tadi gagal total. “Aku tidak mungkin salah untuk yang satu ini.”

Vianna mendelik. “Tadi kau bilang penglihatanmu bermasalah. Sekarang apa kau juga mau bilang kalau pendengaranmu sama-sama bermasalahnya?” Tanyanya galak. “Lagipula memangnya kau tidak bisa membaca dahulu nama obat sebelum membelinya?”

Chanyeol meringis. Barangkali petugas minimarket itu masih magang dan tak tahu apa-apa. Ya, pasti bukan salahnya.

“Lalu bagaimana? Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan.”

“Kau mau aku minum ini dan berakhir jadi headline koran besok pagi?” Sungut Vianna kesal.

“Jangan.” Chanyeol tersenyum memohon. “Kalau kau seperti itu lalu siapa yang nanti bertugas mengandung anakku?”

Vianna mengerjap dan tertawa setelahnya. Lihat, Park Chanyeol benar-benar kurang ajar. Lelaki itu memang sungguh konyol. Tapi biar bagaimanapun, ia masih mampu membuat Vianna jatuh hati berulang kali.

“Oh, jadi selama ini tugasku yang sebenarnya itu hanya mengandung anakmu? Begitu?”

“Anak kita.” Ralat Chanyeol. “Dan ya, memang kau yang harus melahirkan anakku nanti. Kau keberatan nona Lee?” Tanyanya lagi.

Vianna tertawa renyah. Ia bangun dan menggeser bantalnya. Kemudian gadis itu menepuk tempat dimana bantalnya tadi berada.

“Sini.” Katanya pada Chanyeol. Namja itu tampak bingung dengan apa yang tengah Vianna lakukan. Tapi ia tetap menurut dan duduk pada tempat yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.
Setelah Chanyeol duduk, Vianna langsung merebahkan dirinya pada bahu Chanyeol.

Chanyeol menaikkan alis matanya heran. “Apa yang sedang kau lakukan? Aku masih harus membeli obatmu.”

“Ssst.” Vianna tersenyum dan memandang Chanyeol dari posisinya. “Kau tidak perlu membeli obat apapun. Cukup peluk aku sampai aku bisa memejamkan mataku dan tidur dengan lelap.”

“Hah?” Chanyeol membuka mulutnya lebar-lebar. “Sejak kapan kekasihku yang tadinya galak berubah jadi semanja ini eh?”

Vianna mengangkat bahu. “Sejak kau salah membelikanku alat tes kehamilan.”

Chanyeol terkekeh mendengar hal itu. Ia hampir mendekatkan wajahnya pada Vianna, namun yeoja itu segera mendorongnya jauh-jauh.

Yah!! Kau mau tertular?” Katanya sambil menutup sebagian wajahnya. Ia tidak ingin Chanyeol mencuri ciumannya ketika dirinya sedang sakit.

“Baiklah, baiklah. Aku menyerah.” Ujar Chanyeol di akhir tawanya. “Tapi apa kau yakin aku tak perlu membeli obat?”

Vianna kembali bersandar pada Chanyeol. Ia bermain dengan tangan namjachingunya yang tengah mendekapnya erat. “Tidak.” Katanya mantap.

.

.

.

“Aku hanya perlu kau disini. Karena kaulah obatku, Park Chanyeol..”

 

 

 

—END—

 

Epilog

 

Vianna meringis saat kakinya berpijak pada lantai marmer kamarnya yang terasa dingin. Ia mengecek ponselnya. Jam lima sore. Itu artinya ia sudah tertidur selama kurang lebih empat jam.

Gadis itu berbalik demi memandang Chanyeol yang ternyata masih terlelap dengan posisi sama persis sebelumnya. Mungkin Chanyeol kesulitan bergerak karena dirinya. Vianna merasa bersalah.

Ia merasa perlu membalas semua yang sudah Chanyeol lakukan untuknya hari ini.
Bubur yang tadi memang asin, tetapi Chanyeol pasti membuatnya dengan penuh cinta.

Vianna berdiri dan beranjak ke dapur. Pusing di kepalanya berangsur-angsur hilang. Jadi ia memutuskan untuk membuat makan malam dengan ikan yang dibeli Chanyeol di minimarket.
Vianna tersenyum ketika mencari kantung belanja Chanyeol di dalam kulkas. Badannya benar-benar terasa lebih segar. Pasti karena waktu tidurnya yang terbilang cukup, dan ditambah dengan hangatnya dekapan Chanyeol selama ia tidur tadi.

Vianna terkikik. Belum ada lima menit ia keluar dari kamar tidurnya, ia sudah merindukan namja konyol itu.
Baiklah. Ia harus memasak dengan cepat, membangunkan Chanyeol, makan bersama lalu kembali berlovey-dovey. Pemikiran yang bagus.

Tak ingin berlama-lama, Vianna segera membawa kantung belanja yang berhasil ia temukan menuju dapurnya.

Dan kantung belanja berisi ikan itu otomatis terjatuh dari tangan Vianna tepat ketika gadis itu melangkahkan kakinya di dapurnya sendiri.

Dapurnya tak berbentuk.

Vianna mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapurnya. Ini gila.

Rak atas terbuka dan isinya berhamburan kemana-mana. Vianna dapat melihat kulit telur yang tergantung di keran washtafel, panci bubur yang terbalik di meja makan, sampah sayuran yang belum dibuang juga tembok dapurnya yang ‘dihujani’ kecap.

Vianna mengepalkan tangannya geram.

“PARK CHANYEOL!!!”

 

 

Dan Chanyeol yang sedari tadi hanya berpura-pura tidur langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut.

 

 

 

*TRUE END*

 

A/N

Hola!

Sebenernya fic ini udah pernah dipublish di wattpad loh dengan judul, cerita dan cast yang sama persis.
Gatau kenapa kegoda aja buat bikin fic si Cyeol yang agak dodol tapi romantis haha.
Hope you enjoy the story! ^^

(Thanks to: Say Korean Fanfiction, yang sudah bersedia mempublish cerita abal bin abil (?) ini😀 )

9 responses to “[Freelance] Medicine

  1. Ngakak banget njirr gue bacanya,konyol banget sumpah chanyeol disini.ujian kesabaran banget deh buat vianna.tapi mereka sweet couple banget jadi iri….
    Bikin cerita konyol lagi dong tentang chanyeol,ditunggu ya kak….

  2. Haha ini lucu sekaligus sweet, aku suka karakter pasangan ini. Dan suka banget majas2 nya kayak perumpamaan titanic itu. Great work

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s