[IM]PERFECTION – 8TH SLIDE (END) — by Neez ~PG17/CUT VERSION

perf

IMPERFECTION

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

IMPERFECTION Universe, Campus Life, Romance, Angst, Drama

PG17++ || Chapter

BETA & POSTER © IMA

In Correlation with

IMPERFECTION by IMA

Jaehee – Joonmyun Dating Stories

IMPERFECTION SPIN OFF — (Joonmyun – Jaehee Stories) by IMA

Previous Slide

1ST SLIDE || 2ND SLIDE || 3RD SLIDE || 4TH SLIDE || 5TH SLIDE || 6TH SLIDE || 7TH SLIDE

FULL Version NC21

fresherthancola.wordpress.com (Akan di update menyusul)

© neez

Because in the perfection... always left the imperfection behind

8TH SLIDE (Cut Version)

”Bagaimana kalau beli yang ini?” Hana mengangkat jumper bermotif panda dan jerapah ke hadapan Jaehee yang sedang menghitung lembaran baju bayi yang hendak ia beli. Wajahnya langsung dipenuhi senyum dan mengangguk bersemangat. Hana menggoyangkan jumper di tangannya, membayangkan calon keponakannya yang akan mengenakan pakaian tersebut, dan hatinya langsung menghangat.

   Siapa yang sangka kalau Jaehee sebentar lagi akan melahirkan? Proses kehamilan yang tidak direncanakan, dan tidak diduga, namun tentu saja Jaehee dan Joonmyun—suaminya, menganggap kehamilan ini adalah anugerah paling indah yang pernah mereka miliki. Calon orangtua itu sangat bersemangat begitu mengetahui ada little Joonmyun hadir dalam rahim Jaehee.

   Memasuki usia kehamilan ke tigapuluh enam pekan, dokter kandungan Jaehee menyarankan agar calon ibu muda itu rajin berjalan-jalan untuk memudahkan proses persalinan nanti. Dan jalan-jalan dalam kamus Jaehee dan sahabat psikiater hebatnya adalah; belanja. Keduanya kini berada di sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi di salah satu pusat perbelanjaan besar di Apgujeong.

   ”Sebenarnya pakaian untuk anakku sudah banyak, tapi kenapa setiap lihat ke lemari dan menghitung ulang seluruh pakaian bayiku, aku merasa masih saja ada yang kurang. Masih saja ada yang harus dibeli, aigoo… apalagi anak ini jika di-USG selalu bersembunyi.” Jaehee mengerucutkan bibirnya, penasaran namun geli karena merasa bahwa anaknya menunjukkan bakat-bakat suka bercanda seperti dirinya sendiri. ”Aku merasa serba salah, feeling-ku mengatakan anak ini laki-laki, tetapi kami tidak pernah benar-benar yakin. Bagaimana kalau aku membeli semua pakaian untuk laki-laki dan ternyata yang lahir perempuan?”

   Hana mengangguk-angguk, memahami dilema si ibu muda. ”Tapi Joonmyun tidak bilang apa-apa, kau hampir tiga hari sekali belanja?” tanyanya hati-hati. Bukannya apa-apa, ia pernah sekali mengingatkan Jaehee untuk tidak terlalu banyak berbelanja, dan Hana mengerti mengapa hormon ibu hamil sensitif sekali. Wanita itu menangis tersedu-sedu hanya karena dilarang untuk membeli pakaian bayi.

   Jadi, sebaiknya kita biarkan saja ibu hamil ini melakukan apa yang diinginkan. Sebagai psikiater, tentunya Hana paham hal itu. Lagipula, Kim Joonmyun—suami Jaehee sendiri, amat sangat memanjakan istrinya itu dan ikut-ikutan kalap jika tengah berada di toko perlengkapan bayi seperti ini. Sayangnya, Joonmyun harus menghadiri sebuah pembuatan iklan di Jeju selama tiga hari, hingga ia tak dapat menemani istrinya jalan-jalan.

   ”Oke, kalau begitu… aku mau beli yang ini, yang ini, yang ini, dan yang ini… ah dan plushie jerapahnya juga lucu. Oh iya, apa aku sudah harus membeli teether sejak sekarang?”

   Hana menahan tawanya, ”Dia belum akan menggigit-gigit, Jaehee-ya, nanti saja.”

   Jaehee mengangguk antusias dan mendorong keranjangnya ke arah kasir sambil berjingkat-jingkat saking bersemangatnya. Jujur saja, kehamilan memang menyenangkan. Namun, tetap bukan perkara mudah. Ia kerap kali terbangun karena anaknya bergerak-gerak lincah di dalam perutnya, tak jarang menendang seolah meminta perhatian lebih dari orangtuanya. Jaehee juga kerap mengalami mual-mual, gatal, dan sudah beberapa bulan terakhir ia tidak dapat tidur dengan posisi miring, atau melakukan cuddle favoritnya dengan suami tercinta.

   Ia tak sabar untuk segera melahirkan Joonmyun kecilnya. Membayangkan putra atau putrinya nanti mengenakan pakaian bayi, topi, kaus kaki, sarung tangan, dan semua perlengkapan yang telah ia persiapkan benar-benar membuatnya sangat bersemangat. Tinggalah Hana yang harus meringis karena melihat Jaehee yang berperut besar berjingkat-jingkat menunju kasir dengan perasaan cemas.

   Kehamilan Jaehee memang bukan kehamilan rawan. Malah termasuk kehamilan yang cukup kuat, mengingat pasangan suami istri baru itu tidak menyadari bahwa mereka diberkati oleh seorang bayi hingga usia kandungan Jaehee sudah nyaris melewati trimester dua. Untungnya dokter mengatakan si jabang bayi sangat kuat, sehingga Jaehee dan Joonmyun yang awalnya panik, bisa lega.

   Tapi tetap saja kan, ibu hamil harus berhati-hati.

   ”Jaehee-ya, pelan-pelan… kau sedang hamil tua,” gumam Hana melihat kelakuan sahabatnya yang biasanya tidak pernah pecicilan itu, kini malah berubah bak anak kecil semenjak mengandung anak pertama.

   Dan Jaehee mengabaikan peringatan Hana tentunya, karena ia sibuk mengeluarkan seluruh perlengkapan bayi yang ia taruh dalam keranjang. Bahkan pegawai toko sudah mengenalinya sekarang, saking seringnya ia mampir dan belanja disini.

   Setelah Jaehee menerima kartu dan struk pembayarannya kembali, dengan susah payah ia membawa berkantung-kantung belanjaannya. Hana menghela napas dan menggelengkan kepalanya, sebelum mengambil sebagian besar kantung belanja itu, dan membiarkan Jaehee untuk membawa sisanya yang jauh lebih ringan.

   ”Hana-ya, bubble tea~”

   Oh tidak lagi. Satu hal lagi yang tidak pernah bisa ditolak dari keinginan si ibu hamil adalah mengidam. Joonmyun mungkin rela jika harus minum bubble tea dari pagi hingga pagi buta lagi menemani istrinya. Tapi Hana? Ia bahkan yakin tidak ingin minum bubble tea lagi disisa hidupnya sejak ia dipaksa Jaehee untuk minum bubble tea jika mereka jalan bersama.

   ”Bukannya tadi sudah minum bubble tea?”

   ”Mau lagi~”

   ”Arasseo,”

   Dulu, Jaehee heran dengan Sehun yang selalu minum bubble tea dimana pun dan kapan pun. Bahkan ketika ia masuk rumah sakit dulu, Sehun sering terlihat menungguinya sambil menyesap bubble tea, dan Jaehee sejujurnya tidak pernah mau mencoba minuman tersebut. Ia tidak terlalu suka manis, meskipun menyukai betapa kenyal dan enaknya bubble itu sendiri.  Tapi ketika ia mengandung, selera makannya berubah pesat dan ia merasa tidak perlu menahan diri dari menyantap berbagai makanan yang diinginkan oleh si bayi.

   Bayinya pastilah sangat menyukai Sehun samcheon.

   Slurp.

   Kenapa sebelum ini Jaehee tidak pernah tahu kalau bubble tea ternyata seenak ini? Pantas saja Sehun selalu meminumnya. Dengan bersemangat, Jaehee menyedot habis gelas kedua bubble tea-nya yang berukuran besar. Duduk di hadapannya, Hana yang hanya bisa geleng-geleng kepala sambil susah payah menghabiskan bagiannya sendiri.

   ”Ini enak sekali Hana-ya,” gumam Jaehee dengan nada penuh damba dan menatap gelas bubble tea-nya yang kini sudah kosong. ”Aww, kau pasti senang sekali ya, Nak…” ujar Jaehee sambil mengelus perutnya dengan sayang.

   Hana tersenyum melihatnya, ia yakin sahabatnya itu akan menjadi ibu yang baik. Omong-omong soal jadi ibu yang baik, Hana baru ingat ia ingin menanyakan sesuatu pada Jaehee. ”Jaehee-ya, kapan anak ini perkiraannya lahir?”

   ”Perkiraan dokter akhir bulan ini, ini sudah masuk minggu ketigapuluh enam. Wae?” tanya Jaehee.

   ”Anhi, Jongin mengajakku pergi ke Maldives.” Jawab Hana tak bisa menyembunyikan antusiasme dari ekspresi dan nada suaranya. ”Kau tahu, kami benar-benar iri mendengar cerita honeymoon-mu disana…”

   Jaehee terkekeh, namun mengibas-ngibaskan tangannya. ”Kami tidak honeymoon disana. Tapi, ah… aku iri sekali, kalian masih bisa jalan-jalan bebas kemana pun, sementara aku… ikut Joonmyun ke Jeju pun sudah tidak boleh oleh dokter.” Gerutunya sambil memainkan sedotan besar dari gelas bubble tea.

   ”Tentu saja tidak boleh! Kandunganmu sudah sebesar ini. Kau mau melahirkan di pesawat? Aigoo…”

   Jaehee terkekeh, kemudian mengerucutkan bibirnya sambil menyipitkan matanya. ”Tapi kan aku mau ikut Joonmyun.” Keluhnya sambil meneruskan, ”Kalian nikmatilah saat-saat masih bisa jalan-jalan bebas berdua. Aku dan Joonmyun tidak sempat ke Macau mencoba bungee jumping karena ternyata keburu hamil.”

   ”Salahmu sendiri,” Hana menjulurkan lidahnya meledek. ”Jadi kau ngapain ke Maldives kalau bukan honeymoon?”

   Jaehee mengedipkan matanya dengan genit, ”Babymoon dong~”

   ”Sekaligus jalan-jalan terakhirmu karena ternyata kau sudah hamil cukup lama ketika menikah,” decak Hana sambil menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. ”Aku masih heran bagaimana, kau sudah hamil sebesar itu namun tetap tidak menyadarinya.”

   ”Aku pun tidak tahu,” Jaehee meringis sambil mengelus perutnya. ”Err, sebenarnya aku mau tambah lagi, Hana-ya.”

   ”Mwo?! Kau sudah minum dua gelas, Oh Jaehee.”

   ”Iya, aku tahu… dan aku sebenarnya sedikit mulas…”

   ”Kau terlalu banyak minum bubble tea hari ini,” omel Hana sambil membantu Jaehee yang kepayahan membawa perutnya untuk berdiri. ”Biar bagaimana pun…” belum selesai Hana bicara, ia bisa mendengar seorang wanita paruh baya, yang duduk di samping meja mereka memekik memandangnya dan Jaehee.

   Tidak heran, Oh Jaehee si supermodel kan cukup terkenal. Namun melihat ekspresi wanita yang cukup terkejut itu, Hana yakin ini bukan karena ia bertemu dengan orang terkenal. Apalagi Jaehee nampak pucat dan mulai berkeringat dingin.

   ”Ke…ketuban, air ketuban…”

   ”Damn!” Hana buru-buru mengeluarkan ponselnya.

 

*        *        *

Flashback

Jaehee’s Birthday

A Year Ago

 

Yang dimaksud dengan jalan-jalan oleh Joonmyun ternyata adalah tempat perkemahan di sebuah kota wisata, Chuncheon. Joonmyun menghentikan mobilnya begitu memasuki pelataran parkir tempat yang biasa dipakai oleh berbagai acara di televisi. Jaehee yakin pernah melihat grup idol ternama EXO melakukan shooting disini, begitu pula dengan We Got Married, dan 2 Days 1 Night.

   Tempat wisata ini, menyediakan fasilitas olahraga air seperti speed boat, blob jump, dan apa lagi namanya Jaehee tidak tahu, hingga ke bungee jumping. Jaehee bisa mendengar Joonmyun terkekeh melihat ekspresi herannya, namun pria itu melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil.

   ”Joonmyun berencana olahraga air atau bagaimana?” gumam Jaehee sambil melepaskan sabuk pengamannya sendiri, sementara ia bisa mendengar suara bagasi dibuka, dan beberapa pelayan penginapan menghampiri mereka.

   ”Kita akan menginap disini tiga hari dua malam,” Joonmyun memberitahu setelah Jaehee keluar dari mobil, masih dengan ekspresi keheranan. ”Lapar? Aku sudah memesankan makan malam untuk kita.”

   Yang membuat Jaehee heran sebenarnya adalah mereka ke Chuncheon malam-malam, untuk olahraga air? Tapi, begitu Joonmyun menjelaskan mereka akan disini selama tiga hari dua malam, Jaehee tidak bingung lagi. Ia kira hanya menetap hingga besok pagi, mana sempat untuk menikmati fasilitas olahraga air disini.

   ”Aku belum pernah kesini,” gumam Jaehee sambil meraih tangan Joonmyun dan menggamitnya. Keduanya berjalan mengikuti seorang pelayan dan membawakan tas-tas mereka menuju arena perkemahan. ”Ya ampun, udaranya enak sekali… ada bungee jumping, ada canoe. Aku tidak menyangka kau akan membawaku kesini.”

   ”Wae? Keberatan?”

   Jaehee menggeleng sambil tersenyum, ”Tidak bisa ditebak. Sangat penuh kejutan. Aku sudah ingin sekali kesini, tapi jadwalku tidak pernah memungkinkan. Tidak sabar sampai terang dan bisa menikmati danaunya…”

   Joonmyun terkekeh, ”Ya besok kita bisa bermain-main. Kau bilang kan kau mau mencoba bungee jumping setidaknya sekali seumur hidupmu. Tadinya aku mau mengajakmu ke Macau, tapi uangku habis karena membuat agensi.” Joonmyun pura-pura menghela napas sedih, dan Jaehee tertawa geli sambil memukul lengannya.

   ”Di Chuncheon juga enak,” gumam Jaehee sambil menaiki undakan menuju tenda-tenda yang disediakan pihak setempat untuk tamu yang hendak merasakan kemping yang nyaman. ”Woah, kita akan menginap di tenda?” pekik Jaehee bersemangat.

   Joonmyun mengangguk, geli sendiri melihat kekasihnya begitu bersemangat. Ia tahu Jaehee belum pernah merasakan kemping, dan ia sendiri juga belum pernah. Teman-temannya merekomendasikan Chuncheon sebagai tempat wisata yang indah.

   ”Silakan,” si petugas berhenti di depan tenda paling ujung, yang pintunya sudah dibuka, dan barang-barang mereka berdua sudah diletakkan di dalamnya. Jaehee melepaskan genggaman tangannya pada Joonmyun begitu saja dan masuk ke dalam tenda super besar itu untuk melihat-lihat isinya. Joonmyun mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada si petugas sambil mengucapkan terima kasih.

   Di dalam tenda, Jaehee masih mengagumi interior kamar tenda tersebut. Memang tenda tidak sebesar kamar hotel mewah, namun menilik dari ekspresi senang yang terlukis diwajah Jaehee, Joonmyun lega karena sepertinya gadisnya sangat menikmati liburan singkat yang ia siapkan, sebelum Jaehee akan kembali bekerja lagi. Untunglah Jaehee tidak berulangtahun pada akhir pekan, sehingga tempat wisata ini sedikit sepi, Joonmyun yakin Jaehee akan menikmatinya.

   Mereka berdua makan malam. Meski baru makan cukup larut, keduanya tidak tampak lelah sama sekali. Ditemani gemercik air danau, langit malam yang dihiasi bulan dan bintang, serta suara jangkrik, keduanya bercanda sambil sesekali saling menyuapkan makanan pada satu sama lain. Terakhir, Joonmyun membuka botol wine untuk merayakan ulangtahun Jaehee.

   ”Sayangnya aku lupa kue,” dengan canggung Joonmyun menggosok tengkuknya, seperti malu karena betapa pun sempurnanya ia usahakan acara ulangtahun Jaehee, masih saja ada hal kecil yang ia lupakan seperti kue ulangtahun.

   Namun Jaehee berdecak dan menggoyangkan gelas wine-nya dengan penuh gaya, ”Gwenchana, Myeonie. Aku hari ini sudah diperlakukan seperti seorang Putri. Hanya tidak ada kue, tidak membuatku kembali jadi rakyat jelata kok…”

   Joonmyun tertawa mendengar gurauan kekasihnya itu dan menawarkan toast, mereka berdua mengetukkan gelas mereka dan menenggak wine dengan puas. Jaehee mencecap-cecap rasa pahit manis wine yang masih tertinggal pada bibirnya dan mengerang puas. Ia jarang sekali minum, karena harus menjaga kesehatan dan kebugaran badannya. Rupanya sesekali minum tanpa harus memikirkan berat badan enak juga.

   ”Myeonie…”

   Panggilan Jaehee membuat Joonmyun yang asyik memandangi wajah Jaehee tersentak, gadisnya itu tengah menunjuk danau dengan telunjuknya.

   ”Apa kita bisa merendam kaki disana?”

   Joonmyun terkekeh, “Tentu saja, kau mau merendam kakimu disana?” dijawab oleh anggukan penuh semangat, Joonmyun mengedikkan kepalanya, meminta Jaehee terlebih dahulu duduk di lantai kayu yang awalnya hanya dibatasi oleh pagar hitam kecil yang dapat dibuka jika mereka ingin berenang atau naik perahu. Joonmyun sendiri kembali ke dalam tenda untuk mengambil selimut karena semakin malam, udara di Chuncheon yang dikelilingi oleh perbukitan menjadi semakin dingin.

   Saat Joonmyun kembali ke halaman tenda, Jaehee sudah duduk di lantai kayu, dengan pagar yang sudah terbuka. Kedua kakinya dicelupkan ke dalam air, dan ia menggoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil disana, sehingga suara percikan air tersebut terdengar cukup nyaring di heningnya kompleks penginapan Chuncheon ini.

   Melihat profil Jaehee dari belakang, rambut panjang merah gelapnya yang bergelombang menjuntai berantakan, dan suara tawanya yang riang seperti lonceng membuat Joonmyun tak henti-hentinya mengucap syukur, karena Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk menyadari bahwa ia sangat mencintai dan menyayangi gadis itu. Ia juga berterima kasih pada Tuhan karena telah berbaik hati menyadarkan egonya, dan mengizinkannya memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu pada gadis yang ia cintai. Meski Jaehee sangat sangat pengertian dan tidak ingin membahas masa lalu sama sekali, Joonmyun yakin bahwa gadis itu sangat menderita karena perbuatannya. Tapi lihat? Ia bahkan menerimanya kembali tanpa syarat, hanya karena gadis itu juga sangat mencintainya.

   Tapi kesalahan dibuat untuk diperbaiki, Jaehee tidak ingin dirinya terbenam dalam rasa bersalah di masa lalu, dan selalu cemberut jika Joonmyun mengungkit-ungkit pertengkaran mereka. Joonmyun tersenyum dan menyampirkan selimut tersebut pada bahu gadisnya yang sedikit terlonjak, namun langsung kembali rileks saat mengetahui orang yang membawakannya selimut adalah kekasihnya.

   Joonmyun ikut duduk di samping Jaehee dan mencelupkan kedua kakinya, tanpa menggulung celana panjangnya sedikitpun. Saat itulah otak jahil Jaehee bekerja dan dengan kedua kakinya sendiri, ia mulai memercikkan air ke arah Joonmyun.

   ”Eoh? Hei, Sayang… jangan begitu!”

   ”Waeyo?” tanya Jaehee sok polos namun masih terus memercikan air dengan kedua kakinya, malah semakin kuat. ”Jangan bilang kau takut air, Kim Myeonie?”

   ”Tentu tidak tapi kan…”

   ”Kalau begitu biar saja… bawa baju ganti, kan?”

   ”Sayang…” suara Joonmyun semakin putus asa menghadapi kejahilan kekasihnya, namun melihat dua mata Jaehee menyipit karena tertawa membuatnya menyerah dan membiarkan gadis itu mengerjainya hingga puas. Bahkan Joonmyun ikut-ikutan memercikkan air—cukup tinggi pada Jaehee sehingga percikan itu mengenai pakaiannya.

   Dua mata Jaehee membulat, ”Myeonie!!!”

   “Wae? Jangan bilang kau takut air, Oh Jaehee?” balas Joonmyun menggoda.

   ”Aaaaa!!!” Jaehee kembali menyerang dan keduanya tertawa lepas. Untunglah tidak ada siapa pun yang menginap di tenda-tenda sekitar mereka, jadi suara tawa mereka tidak mengganggu.

   Jaehee menenggak wine-nya lagi dan meletakkan gelasnya sebelum menghirup udara malam Chuncheon yang begitu segar. Ulangtahunnya begitu spesial. Ia merasa spesial, karena Joonmyun tidak pernah lupa untuk membuatnya merasa seperti wanita paling bahagia di dunia ini. Ia hanya berdoa, agar ia bisa melakukan hal yang sama untuk Joonmyun. Ia rela meninggalkan pekerjaannya demi Joonmyun, namun pacarnya itu melarangnya.

   ”Myeonie…”

   ”Hmm?”

   “Terima kasih atas semuanya ya, hari ini…” gumam Jaehee serius, menatap kakinya yang mulai berkeriput karena terlalu lama direndam di dalam air danau. ”Aku harap aku bisa membuatmu bahagia, seperti kau membuatku sebahagia ini.”

   Joonmyun tersenyum dan mengelus kepala Jaehee perlahan, ”Kau sudah membuatku bahagia.”

   ”Aku serius. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan semua ini padamu. Kau tidak pernah gagal menunjukkan rasa cintamu padaku, membuatku berpikir… apa aku sudah jadi pacar yang baik?” Jaehee memainkan kedua jarinya di pangkuan.

   Joonmyun mengecup pipi Jaehee. ”Jangan berpikir aneh-aneh, pokoknya aku melakukan semuanya bukan karena aku ingin kau membalasnya.”

   Jaehee merebahkan kepalanya pada bahu Joonmyun, ”Pokoknya kau tahu kan aku cinta padamu.” Rengeknya seperti anak kecil, Joonmyun terkekeh dan memainkan ujung rambut Jaehee dengan jemarinya, membiarkan kekasihnya mulai merengek-rengek seperti biasa. Jaehee selalu menggemaskan jika sudah bertingkah seperti anak kecil begini. Tak ada lagi supermodel kharismatik yang terkenal dengan mata tajamnya di catwalk dan di majalah.

   “Ara, Jaehee-ya… aku tahu, dan selalu tahu.”

   Jaehee terkekeh dan mengeratkan pelukannya, dengan hidungnya ia menyusuri pipi Joonmyun hingga ke leher dan jakun pria itu. Mengecupnya sekilas disana. Joonmyun menggunakan tangan kanannya meraih pinggul Jaehee dan mengeratkan tubuh hangat kekasihnya itu ke dalam pelukannya.

   ”Kau bahkan membuat mimpimu jadi mimpiku juga,” gumam Jaehee memandangi dua kaki mereka yang saling bertaut di dalam air. ”Aku tidak pernah menyangka kau akan membuat agensi, Myeonie.” Kekehnya.

   Joonmyun juga terkekeh, ”Aku juga tidak tahu. Sejak dulu aku ingin membuat usaha, namun aku pun tidak pernah tahu usaha apa yang mau kubuat. Hingga kuliah dan memenangkan berbagai penghargaan dan wisuda pun, aku masih belum tahu apa yang kuinginkan.”

   ”Agensi entertainment, apa kau yakin akan melakukan ini?”

   ”Tentu saja.” jawab Joonmyun yakin. ”Kau tahu… selama ini, aku menerima banyak penghargaan seperti yang tadi kukatakan. Awalnya aku sangat bahagia menerima semua penghargaan itu. Sampai akhirnya, setiap namaku dipanggil, setiap aku maju ke depan dan menerima semuanya… aku merasa asing sendiri.”

   Jaehee mengernyit, heran. ”Kenapa?”

   ”Aku tahu semua itu memang yang aku mau. Semua itu targetku. Dosenku, orangtuaku, kakakku, teman-temanku… mereka semua ada disana.” Gumam Joonmyun dengan suara sedikit sedih. Kenangannya kembali pada hari-hari dimana ia mulai merasa semua kerja kerasnya tidak ada arti.

   Dan Jaehee, tentu saja mengerti ke arah mana pembicaraan ini. Menegakkan dirinya, ia memandang Joonmyun dengan rasa bersalah. ”Tapi… tapi aku, tidak ada disana, benar?” tanyanya hati-hati.

   Joonmyun tersenyum, menatap bulan. Ia mengangguk. ”Ne. Kurasa seharusnya disitu aku sadar kalau mendorongmu pergi dari hidupku adalah keputusan yang salah. Setiap mereka mengatakan mereka bangga kepadaku… semakin sedih dan semakin merasa bahwa aku gagal.”

   ”Myeonie…” ujar Jaehee sedih.

   Joonmyun tersenyum dan menoleh pada kekasihnya itu, membelai pipinya sambil menatap kedua matanya dalam-dalam. ”Kurasa aku memang bodoh saat itu.”

   ”Aku bangga padamu, Myeonie. Kau tahu itu…” gumam Jaehee menahan tangan Joonmyun yang ada pada pipinya, ”Kau mungkin tidak tahu, tapi aku tahu kapan kau mengadakan seminar. Kapan kau wisuda…” akunya malu, ”Aku hanya tidak tahu apa aku harus bicara dan mengucapkan selamat padamu. Aku takut kau tidak mau menerimanya… tapi aku tidak bohong. Aku juga tidak mengatakan ini karena hanya ingin menghiburmu, tapi… kau memang selalu membuatku bangga. Kau tidak perlu merasa gagal…”

   Joonmyun tersenyum geli, ia tahu bahwa Jaehee sebenarnya memang masih memperdulikannya selama mereka berpisah. Dulu, ia merasa diatas angin karena merasa kuat saat meninggalkan Jaehee, namun lambat laun ia belajar. Ego membuat segalanya berantakan. Jika ia ingin melangkah lebih jauh dengan Jaehee, ia harus mengesampingkan itu semua.

   ”Jaehee-ya, mau berenang?” sebuah ide tiba-tiba terlintas dibenaknya. Setelah ia membulatkan tekadnya.

   Sejujurnya Jaehee hendak mendengus, karena tentu saja seorang Kim Joonmyun yang romantis bisa tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat seperti saat ini. Bukankah suasana barusan lebih ke arah mellow, apa-apaan dia tiba-tiba mengajak berenang? Mungkin pengaruh wine, pikir Jaehee sambil terkekeh memperhatikan Joonmyun menggerakan kedua tangannya ke arah ujung kausnya.

   Serius?!

   Mungkin karena pengaruh wine juga, Jaehee tidak bertanya, dan meskipun selama ini di apartemen, ia selalu menggoda Joonmyun dan tubuh atletisnya, Jaehee tidak benar-benar serius. Ia hanya senang melihat Joonmyun salah tingkah dan berwajah merah karena malu atas pujian-pujiannya soal tubuh indahnya yang mengingatkannya akan roti sobek untuk sarapan yang sering ia makan. Tapi kali ini, cahaya bulan, cahaya lampu kemah, dan bintang-bintang seakan melengkapi keindahan tubuh Joonmyun.

   Kim Joonmyun benar-benar menanggalkan pakaiannya. Namun ia tidak menoleh menatap Jaehee saat meletakkan kausnya di lantai kayu, dan perlahan-lahan, ia menurunkan celana training panjangnya.

   ”Myeonie…” Jaehee membelalakkan kedua matanya, menoleh ke kanan dan kiri. Waktu memang sudah begitu larut, dan ia yakin takkan ada yang melihat. Tapi tetap saja, udara malam ini sudah cukup dingin, dan Joonmyun ingin berenang? Apa ia mau sakit?! Jaehee meletakkan gelasnya dan beringsut mendekat.

   ”Myeonie, bukankah dingin?” tanyanya pelan, hendak menahan tangan Joonmyun yang sudah berada pada pangkal lapisan terakhir yang ia kenakan. ”Kau serius mau berenang tengah malam seperti ini?”

   ”Tidak akan dingin.” Ujar Joonmyun yakin sambil mengerling Jaehee dengan dua mata indahnya, Joonmyun tidak bergerak, tidak juga meminta Jaehee untuk mendekat. Namun ada sesuatu, sesuatu dari tatapan indah itu yang membuat dua kaki Jaehee seolah berjalan sendiri mendekat pada pria bertubuh adonis di depannya ini. ”Kau mau ikut berenang, kan?” tanyanya, namun Jaehee tidak mengerti.

   Joonmyun bertanya soal renang, namun Jaehee menangkap bahwa itu pertanyaan untuk hal lain.

   Jaehee meneguk ludahnya dan mengangguk, Joonmyun tersenyum dan membantu Jaehee melepaskan cardigan-nya, yang menyusul kaus dan celana training Joonmyun di dasar lantai kayu tempat mereka berdiri. Joonmyun tidak terlihat gugup, matanya pun hanya memancarkan rasa cinta yang membuat hati Jaehee membuncah-buncah, seolah ia adalah permata dan sesuatu yang membuat dua mata indah Joonmyun bersinar hanya untuknya.

   Jaehee ingin menangis, menangis bahagia. Karena hanya Joonmyun yang dapat membuatnya merasa begitu berharga hanya dengan tatapan mata. Ia menunduk dan menyadari Joonmyun telah melepaskan seluruh kancing piyamanya. Dan menurunkan piyama tersebut ke bawah, menyusul tumpukan pakaian mereka yang lain.

   ”Aku masuk duluan, oke?”

   Jaehee mengangguk pelan, lagi—ia tak bisa melepaskan matanya saat Joonmyun memunggunginya sekali lagi, melepaskan kain terakhir yang melekat pada tubuhnya dan meloncat ke dalam air, menyelam, sebelum muncul, dan menyelam kembali hingga ia berhenti beberapa meter di depan.

   Pertama-tama, Jaehee melepaskan kait branya. Menyusul celana piyamanya, hingga ia tak lagi mengenakan apa pun. Ia meneguk ludahnya dalam-dalam sebelum menyusul Joonmyun masuk ke dalam air danau. Seperti yang ia bayangkan, air danau itu amat sangat dingin, ditambah lagi dengan angin malam yang menusuk tulang. Ia hampir memaki Joonmyun yang memiliki ide bodoh berenang tengah malam ini, namun ketika berenang ke depan dan berhenti beberapa meter dibelakang Joonmyun, Jaehee paham.

   Udara dingin disekitarnya mendadak terangkat.

   Digantikan dengan sensasi panas, dan rasa tercekat di tenggorokan yang membuat Jaehee gemetar di tempatnya berdiri.

   Joonmyun masih tetap tidak menoleh, hanya menatap hamparan pegunungan di depannya yang gelap, dan menatap bulan yang bersinar. Rambut basahnya menempel pada kening dan tengkuknya, dan Jaehee bisa melihat tetesan air yang berseluncur indah di punggung kekar pria itu.

   Begitu indahnya malam, Chuncheon, tapi tak ada yang bisa membuat dua mata Jaehee berpaling dari Joonmyun. Ia mengerti kenapa Joonmyun bilang bahwa ia takkan merasa kedinginan. Jaehee berjalan mendekat, hingga kini ia benar-benar berdiri disamping Joonmyun. jika air danau tersebut baru sampai pada setengah paha Joonmyun, maka saat Jaehee berdiri, air danau hanya sampai pada pinggulnya.

   ”Indah ya.”

   Joonmyun tersenyum, ”Ya.”

   ”Joonmyun…”

   ”Hmm?”

   ”Aku mencintaimu.”

   Kali ini Joonmyun benar-benar menoleh, matanya tidak bergerak kemana pun, meski Jaehee berdiri tanpa sehelai benangpun di hadapannya. ”Aku juga mencintaimu, Oh Jaehee.” dan Joonmyun sedikit membungkuk untuk mendaratkan bibirnya yang basah pada bibir penuh Jaehee yang sama basahnya setelah berenang.

   Jika tadi rasa dingin sudah tidak terasa. Kini rasa panas yang justru menyelimuti Jaehee, juga Joonmyun. Joonmyun tak kunjung memangkas jarak diantara mereka, seakan semakin memperbesar api gairah yang sudah membakar Jaehee. Ia melepaskan ciumannya sebentar sebelum mengecup kening, hidung, kedua pipi Jaehee, dan kembali mendaratkan ciuman basahnya pada bibir Jaehee yang sudah sedikit membengkak tersebut.

   ”Aku sudah bilang tidak akan dingin, kan?”

 

*        *        *

TOK. TOK. TOK. TOK. TOK.

   Si pengetuk pintu sepertinya sudah tidak sabar lagi, karena bel yang ia tekan tak kunjung membawa penghuni rumah lekas membukakan pintu untuk mereka. Joonhyung hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah polah kedua orangtuanya—terutama ibunya, yang terlihat marah (dalam arti yang menggemaskan).

   Invasi hari ini sebenarnya dipicu oleh telepon dari Ibunda Jaehee yang hendak mengantarkan oleh-oleh. Tentu saja, seperti ibu-ibu pada umumnya, dua calon besan itu berbincang singkat hingga mengarah pada dimana putra-putri mereka saat ini. Betapa terkejutnya ibu Joonmyun saat mendengar bahwa Jaehee dibawa oleh putranya berlibur selama tiga hari, tanpa kabar!!! Ibunya harus meminta  maaf berulang kali, dan hanya dibalas oleh tawa geli oleh ibu Jaehee yang yakin bahwa Joonmyun akan menjaga putrinya dengan baik, dan meyakinkan ibu Joonmyun bahwa Jaehee sangat bahagia dengan semua kejutan yang disiapkan oleh Joonmyun di hari ulangtahunnya.

   Dan hari ini, setelah mendengar dua sejoli itu sudah kembali selama dua hari tanpa repot-repot mengabarinya, ibu Joonmyun—menyeret ayah dan Joonhyung tentunya, datang ke apartemen Joonmyun pagi-pagi buta untuk mengonfrontasi putranya dan calon menantunya. Sekaligus memastikan jika Oh Jaehee tidak hamil.

   ”Bagaimana kalau ternyata Joonmyun dan Jaehee ada di apartemen Jaehee, Yeobo?” tanya ayah Joonmyun khawatir, sementara putra sulungnya menahan kuap berkali-kali. ”Aku khawatir tetangga akan datang jika kita begini terus, Yeobo.”

   ”Astaga, persetan denga tetangga. Bagaimana kalau Oh Jaehee hamil lebih dulu? Dia orang terkenal, kita tidak bisa mendidik putra kita seperti ini, Yeobo… aku tidak mau! Aku mau menikahkan mereka sebelum Jaehee hamil.”

   ”Eomma, sudah banyak kok pasangan yang tinggal bersama. Artis-artis juga banyak yang hamil duluan,”

   ”Diam kau Kim Joonhyung! Kau juga, kalau kau sama seperti Joonmyun, Eomma akan menggunduli kepalamu…”

   Belum selesai Nyonya Kim mengomeli putra sulungnya yang meneguk ludahnya dengan ketakutan, pintu apartemen terbuka. Menampilkan Joonmyun dengan wajah mengantuk, rambut berantakan dan setengah menguap.

   ”Astaga, Eomma… kenapa tidak bilang jika mau datang?”

   ”Apa yang kau lakukan sampai lama sekali baru membuka pintu, Kim Joonmyun?!” Ibunya menyipitkan matanya curiga.

   Joonmyun menggosok matanya dan melirik jam dinding sebelum membukakan pintu lebar-lebar, mempersilakan orangtuanya dan kakaknya yang nyengir masuk. ”Ini masih pagi, Eomma. Aku benar-benar lelah.”

   ”Mana Jaehee?!”

   ”Mandi. Dia harus ke Jepang sebentar lagi.”

   ”Dia tidak hamil kan?”

   ”Eomma!”

 

*        *        *

Jika ingin bicara jujur, Jaehee dan Joonmyun kembali ke honeymoon phase seperti awal mereka berkencan dulu. Segalanya terasa baru setelah mereka berdua berkomitmen malam itu. Dulu, Joonmyun memang penasaran, apa rasanya melakukan hubungan intim dengan orang yang ia cintai. Sekarang, setelah merasakannya, Joonmyun tahu kenapa hal ini disebut surga dunia.

   Mereka tak berhenti, seolah tak bisa menjauhkan tangan mereka dari satu sama lain. Hanya menarik napas, mengistirahatkan jantung mereka yang berdetak kencang setelah aktivitas bertensi tinggi yang mereka lakukan, namun begitu kedua mata mereka bertemu, seolah tak ada jeda yang bisa memisahkan mereka berdua. Bibir, tangan, pinggul, kaki, semuanya bertaut, dan melebur menjadi satu.

   Jaehee sendiri kagum dengan stamina dan gairah yang ia miliki. Mungkin ini karena Joonmyun. Hanya satu kerlingan mata saja, Jaehee sudah menyerah dan ia berubah menjadi lemah untuk Joonmyun. Ia rela suaranya hilang karena terlalu banyak mengerang kenikmatan, tapi ekspresi Joonmyun yang mencapai kenikmatan karena dirinya, membayar semuanya. Saat mereka berbaring, berusaha menenangkan diri pasca orgasme, hanya saling menatap tanpa bicara, saling menyentuh tanpa bicara.

   Jaehee sudah bahagia. Mereka melakukannya dimana pun. Liburan di Chuncheon yang awalnya direncanakan untuk melakukan olahraga air, berubah menjadi olahraga kasur, dan mereka berdua tidak mengeluh. Mereka tidak berhenti, tidak ingin berhenti, kecuali hanya untuk makan dan panggilan alam.

   Kembali ke rumah pun butuh usaha besar, karena tensi diantara mereka selalu tinggi. Dan tentu saja, di apartemen, mereka tidak berhenti melakukannya lagi. Hingga pagi ini, mereka baru saja tidur pukul empat setelah melakukannya semalaman, dan orangtua Joonmyun datang! Awalnya, mereka berdua bahkan tidak mendengar suara bel, saking lelahnya. Namun toh semakin keras gebrakan pintu dan bel yang tak kunjung berhenti ditekan membuat mereka kalang kabut mencari pakaian yang tersebar berantakan ke seluruh ruangan. Joonmyun menyuruh Jaehee untuk langsung mandi, sementara ia berpakaian dan pura-pura baru bangun tidur.

   ”Kau benar pergi dengan Jaehee tiga hari lalu?” tanya ayahnya memicingkan mata ke arah putranya, sementara sang ibu sibuk mencari-cari ke dalam kamar. Joonmyun hanya dapat berdoa di dalam hati, tidak ada jejak-jejak pertempuran mereka yang masih tersisa.

   Joonmyun mengangguk, menggosok matanya. ”Aku sudah bilang, mau memberi Jaehee kejutan, sebelum ia mulai bekerja lagi.”

   ”Kenapa tidak bilang?”

   ”Ya ampun, Appa…”

   Ayahnya masih curiga, namun tidak berkata apa-apa lagi. Ibunya keluar dari dalam kamar, memutuskan menyerah mencari-cari bukti, dan menyiapkan sarapan untuk mereka semua karena sekarang masih amat sangat pagi. Ayahnya mengikuti ke dapur, meminta kopi.

   ”Yah, Eomma dan Appa mungkin curiga namun tidak menemukan bukti. Tapi aku tahu kau dan Jaehee habis melakukannya!” tuding kakaknya.

    ”Hyung… kami tidak…”

   ”Jangan menyangkal. Memangnya usiaku berapa, hah? Aku bahkan bisa mencium aroma seks dari sini… ya ampun,” dengan berlebihan kakaknya bergidik, ”Dan itu… ada satu bercak ungu di lehermu!”

   Joonmyun buru-buru menyentuh titik yang disebut sang kakak dengan wajah memerah.

 

*        *        *

4 Bulan Kemudian

Joonmyun berjalan mondar-mandir di kantornya sambil meremas-remas kedua tangannya. Sesekali ia mengembuskan napas berat dan berdecak kesal. Jongin, duduk di sofa tamu, meneguk teh chamomile-nya, dan ekor matanya mengikuti setiap gerakan mata sahabatnya itu dengan kesal. Semalam Joonmyun memintanya untuk datang ke kantornya, karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.

   Namun sudah dua puluh menit Jongin duduk di kantor CEO JH Entertainment ini, dan tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Joonmyun.

   ”Yah! Duduklah, kenapa mondar-mandir begitu? Kepalaku pusing melihatnya,” keluh Jongin akhirnya, tidak tahan untuk tidak bersuara.

   Joonmyun mendesah lagi dan duduk di hadapan Jongin. ”Jongin… apa yang harus kulakukan?”

   ”Apa?” balas Jongin bingung. Demi Tuhan, Joonmyun tidak bercerita apa-apa dan justru bertanya apa yang harus dia lakukan?

”Aku sudah mengikuti saranmu,” Joonmyun mengeluh lagi, ”Tapi sampai sekarang aku masih belum melamar Jaehee juga. Dan aku kehabisan akal mencari cara untuk melamarnya. Padahal semuanya sudah siap.”

   Jongin membelalak, ”Mwo? Kau benar-benar mempersiapkan pernikahanmu sendirian, tanpa Jaehee? Dan belum melamarnya juga sampai sekarang?”

   ”Aku masih bingung bagaimana cara melamarnya yang tepat.”

   ”Ya ampun, kukira kalian sudah tinggal menikah saja. Kalian bahkan sudah tinggal bersama selama berapa bulan coba?”

   Joonmyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak tahu harus berkata apa karena ia benar-benar tersesat dalam pikirannya sendiri. ”Kecuali tempat bulan madu, gaun dan tuxedo, dan nama-nama tamu tentunya… semua sudah siap. Bahkan undangan sudah kupesan… ahh, kepalaku pening.”

   “Memang kapan tanggalnya?”

   “Satu bulan dari sekarang.”

   ”Kau benar-benar gila, Kim Joonmyun. Secepat itu?”

   ”Itulah, tanggalnya semakin dekat, dan aku belum bicara pada Jaehee sama sekali. Kau bilang menyiapkan ini lebih awal agar ia tidak stress… kau tahu, aku tidak mengakui ini di hadapannya, tapi aku stress membaca artikelnya saat membintangi video klip teman SMA kita yang sudah jadi penyanyi solo itu.”

   Jongin terbahak, ”Yixing?! Yaampun, kau kan yang menerima tawaran kontraknya. Kenapa kau yang stress?”

   ”Media dan netizen tidak berhenti memasangkan mereka berdua setelah Jaehee jadi model video klipnya.” Keluh Joonmyun, ”Aku tidak bisa… aku… aku harus menikahinya segera!”

   Jongin tersenyum kecut. Ia tahu benar apa yang Joonmyun rasakan, dan ia tidak menyalahkan Joonmyun sama sekali, karena ia pun pasti seperti itu. ”Kalau begitu tunggu apa lagi? Jika ia pulang, langsung lamar dia. Kau kan ingin semua orang tahu kalau dia milikmu, ya lakukan saja.”

   ”Ya. Kau benar…” Joonmyun bergumam.

 

*        *        *

Jaehee bisa mendengar last call untuk penerbangan kembali ke Incheon, sambil membuang gelas minumannya, Jaehee berjalan mengikuti Daeyong yang lebih dulu melangkah di depannya sambil menarik kopernya, menunjukkan paspor dan tiket.

   Drrrttt.

   Nama Joonmyun menghiasi layar ponselnya, dan Jaehee tidak bisa tidak tersenyum. Jika ada kesempatan, kekasihnya itu pasti meneleponnya untuk menanyakan pekerjaannya, atau sekedar menyapanya. Semenjak Jaehee sibuk bekerja, terutama belakangan ini karena Jaehee banyak bekerja sama dengan majalah dan beberapa brand ternama untuk melakukan pemotretan di Jepang, mereka sering terpisah. Memang kadang, jika tak sibuk, Joonmyun sendiri yang akan langsung menemani Jaehee, namun jika tidak bisa, Joonmyun selalu meneleponnya.

   Joonmyun jauh lebih manja semenjak banyak artikel yang menjodoh-jodohkan dirinya dengan Yixing—teman semasa SMA mereka, yang kini sudah sukses menjadi penyanyi solo. Joonmyun yang manja selalu membuat Jaehee berbunga-bunga, Joonmyun biasanya selalu kalem dan bijaksana diantara mereka, dan dirinya yang jauh lebih manja dan pencemburu.

   ”Kau sudah di pesawat?”

   ”Baru mau naik, Myeonie… nanti setelah sampai, aku langsung ke kantor, oke? I miss you sooooo much my teddy bear,”

   Joonmyun terkekeh, ”Kasihan, pacarku hanya memeluk guling saat tidur.”

   “Hmm, malam ini aku mau gulingku…” kikik Jaehee membayangkan dirinya dalam pelukan Joonmyun lagi saja sudah membuatnya begitu bahagia dan ia bisa membayangkan betapa hangatnya pelukan itu.

   ”Excuse me, Miss… I’m afraid that you might be cannot take your flight,” baru saja Jaehee hendak melangkah melewati metal detector, saat petugas wanita yang menjaga menahannya dengan wajah khawatir.

   Jaehee, yang masih meletakkan ponselnya pada telinganya terperangah. ”W-what? What do you mean I can’t take the flight?!”

   Joonmyun pun tentu dapat mendengar percakapan antara Jaehee dan petugas itu. Ia mengernyit, rasa khawatir mulai menyelimutinya. Apa yang terjadi? ”Jaehee-ya, ada apa? Kenapa?” tanyanya.

   ”Miss, would you please follow me… so I could explain this properly.”

   Jaehee menarik napas dan mengangguk singkat, memberi isyarat pada petugas itu untuk memberinya waktu menjawab teleponnya. Si petugas juga mengangguk, mempersilakan.

   ”Myeonie, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak boleh naik pesawat, dan aku disuruh ikut petugas…” gumam Jaehee sedikit cemas, ”Nanti kukabari lagi oke?”

   “O…oke, kabari ya jika ada sesuatu. A…atau aku akan menyusul kesana.”

   Daeyong berjalan balik ke arah Jaehee sambil mengernyit heran, dan si petugas membawa Jaehee dan Daeyong menuju sebuah ruangan.

 

*        *        *

”Aku pulang~”

   Joonmyun berdiri dan segala kecemasan yang ada di dalam hatinya menghilang sudah saat melihat wajah lelah Jaehee yang tersenyum menatapnya di pintu. Joonmyun nyaris berlari, mendekat dan memeluk gadisnya erat-erat, merasakan dua tangan mungil Jaehee mengalungi lehernya, memebalas pelukannya.

   ”I miss you.”

   ”Miss you too…” Joonmyun melepaskan pelukannya, menangkup wajah lelah yang tetap bersinar ini dan mendaratkan ciuman pada bibir gadisnya, dan mencumbunya. Memang mereka hanya berpisah selama beberapa hari, namun kejadian tadi nyaris membuatnya terbang ke Jepang untuk menyusulnya. Berpikir Jaehee takkan bisa kembali lagi.

   Jaehee memiringkan kepalanya untuk memberikan akses lebih pada Joonmyun agar lebih leluasa menciumnya. Setelah beberapa saat barulah mereka melepaskan diri, dan Joonmyun kembali mendekapnya.

   ”Aku mau bicara,” bisik Joonmyun. Ia bisa merasakan kekasihnya menegang dalam pelukannya namun mengangguk dan justru berkata, ”Aku juga mau bicara. Kau duluan…”

   Joonmyun mengurai pelukannya dan tersenyum. Ia tidak peduli kalau sekarang masih jam sepuluh pagi. Dan Jaehee masih mengenakan sepatu, belum mengganti pakaian atau apa. Tapi ia menghela napas dalam-dalam dan berdeham salah tingkah sebelum menarik keluar sesuatu dari dalam kantungnya.

   ”Apa ini?” tanya Jaehee mengernyit melihat sebuah kartu kecil berwarna biru muda dengan tali berwarna keemasan yang disodorkan Joonmyun.

   Joonmyun menjawab, ”Undangan pernikahan.”

   ”Oh? Siapa yang menikah?”

   ”Bukalah,”

   Jaehee menatapnya heran, namun toh menarik lepas pita emas tersebut dan membukanya. Membaca kata mutiara indah yang menghiasi lembar pertama sebelum membuka lembar berikut dimana nama dua calon mempelai ditulis dengan tinta emas juga.

 

Kim Joonmyun & Oh Jaehee

 

   Jaehee mendongak lagi, bingung.

   Joonmyun meraih sesuatu lagi dari dalam sakunya dan kali ini sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam yang terbuka, menampilkan sebuah cincin kecil bertahtakan batu berlian indah. ”Would you marry me, Jaehee-ya?”

   Jaehee mendengus dan menahan tawa, meski matanya sudah dipenuhi genangan air. Ia menekap mulutnya tidak percaya, ”Bagaimana aku bisa menolak kalau kau sudah menentukan tanggalnya seperti ini, ughh Pabo.” Gerutunya, namun tidak bisa menahan senyum dan tawanya, juga kebahagiaannya yang luar biasa.

   Ketika ia tidak mengira bisa mencintai Joonmyun lebih dari ini, Joonmyun justru membuktikan hal yang sebaliknya.

   ”Demi Tuhan, aku cinta kau Joonmyun-ah…” Jaehee malah menangis tersedu-sedu saking bahagianya, dan Joonmyun terkekeh geli melihatnya. Lega, karena bagaimana pun ia tetap saja takut Jaehee menolaknya, meski hanya satu persen.

   Joonmyun mengecup mata Jaehee lagi mengucapkan terima kasih dan membisikkan kata cinta berkali-kali sambil mengecupi wajah Jaehee, berharap gadis itu berhenti menangis, namun sama sekali tidak.

   Jadilah Joonmyun memasangkan cincin itu di jari manis Jaehee yang masih mengisak. Ketika ia mengecup tangan Jaehee, tepat pada cincinnya, Jaehee malah menangis semakin kencang dan melempar tubuhnya ke dalam pelukan Joonmyun.

   ”I love you,” bisik Joonmyun pelan, mengecup puncak kepalanya dan mengeratkan tubuh gadis itu dalam pelukannya. ”Thank’s for accepting me. I will love you forever…” setetes air mata pun lolos dari ujung matanya sendiri.

   ”Dan kau… katanya kau mau membicarakan sesuatu juga padaku. Apa yang terjadi? Apakah sesuatu terjadi di Jepang? Ada masalah?” tanya Joonmyun sambil menggoyangkan Jaehee pelan dalam pelukannya, ke kanan dan ke kiri.

   Jaehee terkekeh, menggeleng. Suaranya terbenam dalam dada bidang Joonmyun, ”Sudah tidak perlu dibicarakan, toh kita akan menikah.”

   ”Hmm?” Joonmyun mengernyit, tidak mengerti. ”Apa maksudmu?”

   Jaehee melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Joonmyun dengan wajah bersimbah air mata bahagia. Ia menggigit bibirnya malu, bingung harus memulai darimana.

   ”Jadi…” mulainya ragu, ”Aku tidak boleh naik pesawat, karena aku harus dibawa ke ruang kesehatan.”

   ”Kenapa? Memang kau sakit?” Joonmyun terkejut.

   Jaehee menggeleng, nampak bahagia sekali. ”Mereka… mereka khawatir… jadilah aku… aku harus diperiksa sebelum naik pesawat.”

   ”Khawatir kenapa?!”

   ”Joonmyun…” Jaehee menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, menahan air mata bahagianya lagi. ”Me…mereka bilang, aku… aku hamil.”

   Dunia seakan berhenti berputar. Joonmyun pernah menonton film Breaking Dawns dengan Jaehee dulu, di bangku kuliah sebelum mereka putus. Dan sebuah adegan yang sangat sangat menyita perhatiannya, adegan dimana Jacob Black yang mencari Renesmee yang baru lahir, untuk dibunuh. Namun, begitu mata mereka bertemu, lutut Jacob justru terjatuh lemas dan seluruh gravitasi berubah.

   Jika pusat dunia sebelumnya gravitasi. Bagi Jacob saat itu adalah Renesmee.

   Hal itulah yang Joonmyun rasakan saat Jaehee mengatakan bahwa gadis itu tengah mengandung. Gravitasinya sudah berubah, dan seperti Jaehee juga. Jika sebelumnya ia mengira ia tak bisa mencintai Jaehee lebih dari ini, Jaehee membuktikan kalau ia salah.

   ”Ha…hamil?” bisik Joonmyun, air mata bahagia dan senyuman merekah di bibirnya.

   Jaehee mengangguk-angguk, ”Me…mereka khawatir akan suspense pesawat dan… dan… karena aku sepertinya tidak tahu aku sendiri hamil… jadi mereka memeriksakanku, dan memintaku meminum obat penguat kandungan. Setelah… setelah semua beres, dan dokter memastikan aku bisa naik pesawat dengan aman…” Jaehee tidak bisa meneruskan kalimatnya karena ia sudah tersedu-sedu lagi saking bahagianya.

   ”Ya Tuhan, Ya Tuhan… aku… kita… akan jadi orangtua, Oh Tuhan…” Joonmyun meraih Jaehee dalam pelukannya lagi, ”Su…sudah… sudah berapa lama?”

   ”E…empat bulan. Coba bayangkan… aku tidak tahu aku hamil empat bulan, ibu macam apa aku ini?” kekehnya.

   “Ya Tuhan, Ya Tuhan… Jaehee-ya, Jaehee-ya… kau benar-benar…” Joonmyun tertawa-tawa memeluknya erat-erat, mengusap air matanya sendiri. Semua seolah terjadi dengan benar, seolah sudah direncanakan.

   Pernikahan, dan anak.

Akhirnya tepat satu bulan kemudian, Jaehee dan Joonmyun mengikat janji suci mereka di tempat yang sudah disiapkan Joonmyun sejak awal. Joonmyun bersyukur Jaehee adalah gadis yang easy going, kebanyakan ia sudah setuju dengan apa yang Joonmyun persiapkan. Dalam waktu satu bulan, mereka mencari gaun dan tuxedo, menyusun nama-nama tamu, memilih jenis makanan, musik, dan tentu saja destinasi untuk honey(baby)moon.

   Joonmyun langsung membawa Jaehee ke rumah sakit keesokan harinya setelah gadis itu kembali dari Jepang. Dan untungnya dokter kandungan menyatakan bahwa kehamilan Jaehee tergolong cukup kuat, meski tidak disadari sejak awal. Bayinya tidak kekurangan nutrisi, namun dokter menyarankan agar Jaehee berhenti melakukan diet dan berhenti mengenakan sepatu tinggi hingga melahirkan nanti.  Gaun pengantin yang dipesan pun bisa muat dengan elegan tanpa benar-benar mengekspos baby bump Jaehee yang mulai terlihat meski sedikit kecil. Awalnya mereka berdua khawatir mengapa tak ada baby bump padahal sudah memasuki bulan kelima, namun dokter mengatakan tidak semua kehamilan sama, dan kemungkinan besar karena ini adalah kehamilan pertama Jaehee makanya tidak terlalu terlihat.

   Joonmyun juga heran bagaimana mungkin Jaehee tidak sadar kalau ia sudah tidak datang bulan selama berbulan-bulan lamanya. Mereka sangat aktif melakukan hubungan seksual, dan tanpa pengaman sama sekali. Namun Jaehee menjawab karena sejak awal memang siklus menstruasinya selalu kacau, terkadang bisa dalam dua bulan tidak datang sama sekali. Dokter kandungan mengatakan bahwa hal itu tidak mengganggu bayi, yang penting Jaehee tetap menjaga makan dan terus memantau kesehatannya.

   Kedua orangtua Jaehee dan Joonmyun tetap tidak tahu kalau keduanya sudah dikaruniai jabang bayi hingga di usia kehamilan ketujuh bulan. Baby bump Jaehee mulai terlihat. Baru menikah dua bulan, namun mengandung tujuh bulan. Ibu Joonmyun benar-benar hampir membotaki putranya saat tahu. Untungnya Jaehee menangis dan memeluk suaminya erat-erat sambil meminta maaf, hingga mertuanya menjadi tidak tega.

   Jaehee jadi supersensitif sejak hamil. Ia tidak pernah marah-marah tidak jelas pada Joonmyun seperti yang ibunya peringatkan bisa terjadi pada ibu hamil, namun Jaehee berubah jadi super cengeng semenjak mengandung.

 

*        *        *

Back to Future

Seoul International Hospital

 

Sudah tujuh jam, tujuh jam berlalu semenjak Jaehee dibawa ke rumah sakit karena pecah ketuban di kedai bubble tea. Semua ini karena bubble tea, bahkan Jongin bisa-bisanya menyalahkan Oh Sehun yang datang dengan panik saat mendengar adiknya akan melahirkan. Dan Hana tentu saja memukul kepala Jongin yang sempat-sempatnya berpikiran konyol saat mendengarkan Jaehee mengerang kesakitan.

   Kontraksi demi kontraksi terus dirasakan oleh Jaehee. Awalnya hanya dua puluh menit sekali, namun menjelang subuh, interval kontraksi semakin sering. Hingga tiga menit sekali, dan waktunya lumayan lama hingga tiga puluh detik. Jaehee hanya bisa merintih, berusaha sebisa mungkin tidak menjerit-jerit seperti orang gila. Ia hanya menggenggam tangan Sehun yang seperti biasa, selalu setia mendampinginya sementara Joonmyun masih di belahan Korea sebelah mana, entahlah.

   ”Se…hun?”

   ”Hmm?”

   ”Apa…apa Joonmyun tidak akan sempat datang… sakit perutnya semakin sakiiit…” rintih Jaehee menggigit bibirnya. Tubuhnya basah karena keringat. Ia pernah dengar bahwa sakitnya melahirkan itu luar biasa, namun ia tidak mau bayinya ketakutan jika ia menjerit-jerit seperti orang gila. Maka ia sebisa mungkin menahannya, sambil berharap suaminya akan segera datang.

   ”Dia sudah dalam perjalanan, sabar ya…” bujuk Sehun, sementara Jongin dan Hana sudah ketiduran di sofa tunggu saling bersandar.

   Jaehee kembali diam dan meringkuk memeluk tangan Sehun sambil menangis karena kesakitan. Anaknya sudah mau keluar, kah? Rasanya seperti tubuhnya dibelah menjadi dua, namun pembukaan dibawah tak kunjung menjelang pembukaan akhir. Dan Joonmyun juga masih belum juga datang.

   Dokter dan suster kembali datang dan memeriksa jalan lahir bayinya. Dokter mengangguk, dan Suster mulai mempersiapkan ranjang Jaehee untuk di dorong ke ruang persalinan.

   ”Yah, yah, bangun!” Sehun dengan sadis membangunkan dua sejoli yang tertidur pulas di sofa, keduanya memberengut dan hampir mengomeli Sehun, sebelum menyadari bahwa Jaehee akan dibawa ke ruang bersalin.

   ”Omo! Sudah mau lahir?” pekik Hana.

   ”Joonmyun belum datang?” tanya Jongin pada Sehun. Sehun menggeleng, mereka bertiga mengikuti para suster yang mendorong tempat tidur Jaehee menyusuri lorong. Jaehee masih menangis menahan sakit, dan cemas sekaligus sedih karena ia akan melahirkan sendirian, tanpa Joonmyun.

   Baru saja pintu ruang bersalin ditutup, Joonmyun tiba sambil terengah-engah. Rambut hitamnya yang biasanya disisir rapi kini berantakan, lengan kemejanya digulung hingga siku dan ia menghampiri Sehun, Jongin, dan Hana yang bersorak heboh saat melihatnya.

   ”Kau darimana saja?!”

   ”Jaehee sudah mau melahirkan!”

   ”Sana, masuk!”

   Dan tanpa disuruh Joonmyun masuk ke dalam ruang bersalin. Begitu suster tahu bahwa ia adalah suami pasien, Joonmyun diberikan pakaian steril dan masker. Joonmyun membersihkan tangannya dengan gel disinfektan yang disediakan, dan barulah menghampiri istrinya yang terbaring lemah sambil menangis.

   ”Sayang… Jaehee-ya, aku disini.” Katanya sambil mendekat ke sisi tempat tidur, meraih tangan Jaehee, dan mengabaikan para dokter dan suster yang melakukan entah apa di jalan lahir anaknya.

   Tangis Jaehee baru tumpah sekarang saat melihat bahwa akhirnya, Joonmyun tiba di sisinya. Ia tidak jadi melahirkan sendirian, ia punya Joonmyun sekarang. Joonmyun mengecupi kening Jaehee berkali-kali, dan menghapus air matanya.

   ”Lama sekali…” isak Jaehee.

   ”Mianhae, banyak kekacauan di Jeju, jadi aku baru bisa kembali sekarang…” Joonmyun hanya bisa menghibur Jaehee dengan kata-kata, dan mengecup kening istrinya. Ia tahu gestur tersebut hanya gestur kecil, yang mungkin tidak akan membantu meringankan kesakitan Jaehee sama sekali.

   ”Nyonya Jaehee, saya akan meminta Anda mengejan sekarang, sudah waktunya.”

   Jaehee terisak.

   ”Semangat, Sayang. Kau wanita hebat, kau wanita paling hebat yang ada di dunia ini yang Tuhan berikan… anak kita menunggu kita berdua, Sayang. Aku disini, genggam tanganku kuat-kuat cubit, cakar apa pun yang bisa meringankan rasa sakitmu.”

   Jaehee tidak menjawab, dan terus mengisak. Rasa sakitnya semakin tak tertahankan.

   ”Mengejan!” perintah Dokter.

   Jaehee mulai mengejan, dan ia tidak pernah merasakan sakit seluarbiasa ini dalam hidupnya. Tidak ketika ia terkena virus meningitis, tidak sesakit ini. ”Tahan! Sepuluh… sembilan… delapan…” Dokter menghitung agar Jaehee menahan ejannya, Joonmyun mencengkram erat tangan Jaehee, melihat dengan jelas wajah istrinya mengerut kesakitan dan menangis.

   Ia tak bisa berbuat banyak, dan ia merasa benar-benar tidak berguna. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.

   ”Halsuisseo, Sayang… kau hebat… kau hebat… kau kuat…”

   Jaehee kembali terjatuh ke kasur setelah hitungan dokter berhenti di angka satu, dan kembali terisak-isak.

   ”Sekali lagi mengejan, Nyonya Jaehee. Mulai!”

   ”Sepuluh… sembilan…”

Jaehee merintih sambil sedikit terbangun dan mengerahkan seluruh daya upayanya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia, dengan dukungan Joonmyun disampingnya. Ia tetap menahan diri untuk tidak menjerit.

   “Sayang… aku disini, aku disini… kau sangat hebat,” bisik Joonmyun membelai-belai kepala Jaehee setelah hitungan kesatu, dan Jaehee kembali merebahkan dirinya untuk sejenak beristirahat. ”Sebentar lagi, sabar sebentar lagi…”

   ”Dua kali lagi, Nyonya Jaehee… bersiap, mengejan!”

   Jaehee kembali bangkit untuk berjuang merintih dan mencengkram tangan Joonmyun, ia berusaha mengesampingkan rasa sakit luar biasanya dan berkonsentrasi dengan hitungan dokter. Bisikan Joonmyun membuatnya tetap tegar, ia bisa mendengar suaminya ikut menangis dan berdoa disampingnya, memberikannya kekuatan.

   Joonmyun dengan lembut memeluk Jaehee saat untuk perjuangan terakhir, Jaehee melepaskan jeritan kesakitan dan perjuangan yang jauh lebih keras dari usahanya sebelumnya. Dan mereka berdua bisa mendengar suara tangis keras dari bayi mereka yang kini sudah lahir ke dunia.

   ”Selamat Tuan dan Nyonya, anak pertama kalian laki-laki.”

   Joonmyun terisak dan memeluk leher Jaehee sambil membelai rambut istrinya dengan penuh cinta, penuh pemujaan. Melihat langsung bagaimana Jaehee bertarung nyawa untuk melahirkan putra mereka, Joonmyun bertekuk lutut pada gadis itu. Ia berjanji akan selalu berusaha sebaik mungkin bagi keluarga mereka.

   Saat bayi mereka sudah dibersihkan dan dibungkus handuk, suster menyerahkannya pada Joonmyun yang mendekatkannya pada Jaehee yang tersedu-sedu melihat wajah putranya untuk pertamakali.

   ”Annyeong, Jaehyunie~”

 

-THE END-

Annyeong~

Maaf banget gak update rutin seperti biasanya, truth to be told beberapa minggu ini kehidupan pribadiku lagi kayak roller coaster, jadi aku masih cukup shock #halah dan sedih sih sebenernya. Jadilah gak bisa nulis. Jangankan nulis, fangirling aja nggak nafsu wkwkwkwkwkwk. Semoga untuk kalian yang mungkin juga lagi dilanda masalah, atau lagi pusing mau ujian, atau apa… kita semua tetep semangat ya

Walaupun terlambat mudah-mudahan masih mau di baca, karena Alhamdulillah akhirnya tamat juga [im]per yang satu ini. Bikinnya kerja keras banget karena ngembaliin mood yang super jelek dan lama gak nulis rasanya kaku.

Akhir kata aku mau ucapin terima kasih untuk semua yang mau baca dari awal, kasih komentar, nyemangatin aku nulis sampe akhirnya ff ini selesai di part 8. Juga makasih buat IMA baby boo bala bala yang sudah mengizinkan ngespin off ff Impernya yang badass yayyyy. Aku bisa fokus lanjut AIA lagi, Insya Allah minggu ini apdet ya untuk AIA.

Sampai jupa di FF lainnya ^^

bye yeom

Neez,

56 responses to “[IM]PERFECTION – 8TH SLIDE (END) — by Neez ~PG17/CUT VERSION

  1. Ekkewkwk ngakak kenceng njir ngebayangin joomyeon sama jaehee kwwkwkkkw
    Tapi daebak lahh sampe 7 bulan baru kelihatan kalo ternyata jaehee hamil wkwkwk
    Disini ceritanya jongin juga udah sama hana ya eumm jadi kangen

  2. Nggak kebayang sama skinshipnya mereka pas masih sma kayak gimana sampai reaksi mamanya junmen segitu protektifnya. Dan mereka sekalinya ngerasain begituan malah nggak bisa nge-rem 😂

  3. akh terima Kasih authornim…
    fanficnya Bagus bget, alur, konflik, penokohan semuanya memuaskan…
    ditunggu karya selanjutnya yaw…
    love you

  4. Trlmbat bgt ya aku baca nya… Keren bgt… Cut aja udah gini apalagi yg full.. Karen bgt k. Neez .. Semngt selalu ya nulisnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s