{KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 12TH PART [BY IMA]

dm baruuuuw.jpg

Kim Tales :

“Deepest Memories”

Lee Hana / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Others

Romance, Family, Drama, Angst

Beta : Neez

PG || Chapters

[Teaser] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part] [5th Part]

[6th Part] [7th Part] [8th Part] [9th Part] [10th Part] [11th Part]

In Correlation with  :

{KIM TALES} WILDEST DREAM

© IMA 2016

[DEEPEST MEMORIES] — 12TH PART

Menyembunyikan perasaannya sendiri ternyata lebih sulit dari yang Hana bayangkan sebelumnya. Ia tidak membenci Kai, sama sekali tidak. Pikiran dan hatinya entah bagaimana selalu diisi sosok menyebalkan yang selalu mengganggu anaknya di setiap waktu. Kai terlalu mendominasi pikirannya hingga membuat jantungnya berdebar setiap kali mengingat suara tawa lelaki itu setelah mengganggu Tae Jun. Ya, Hana benci mengakui bahwa kehadiran Kai berhasil menyembuhkan luka hatinya.

Malam dimana ia dan Kai berpisah masih sangat membekas di dalam ingatannya. Wajar jika Hana merasa ragu dan belum sepenuhnya percaya jika Kai bekerja di bar –yang dipenuhi banyak wanita cantik dan seksi bukan? Ia takut perasaannya akan disakiti lagi… Dan sekarang ia membawa Tae Jun, tentu memilih pendamping hidup sebagai ayah pengganti bagi Tae Jun akan lebih sulit sekarang. Selain memikirkan perasaannya sendiri, ia harus memikirkan perasaan anak itu.

Tae Jun yang tidak mengerti apa-apa mungkin akan menerima siapa pun yang akan menjadi ayahnya. Tapi perasaan Tae Jun pasti akan terluka saat mengetahui pekerjaan ayah barunya sebagai seorang pekerja bar. Ditambah dengan intimidasi orang-orang pada Tae Jun setelah mengetahui pekerjaan ayahnya. Perasaan Tae Jun pasti akan terluka dan mudah murung, anak itu mungkin akan tumbuh menjadi sosok yang introvert atau bahkan sebagai bahan cemooh orang-orang.

 Jika berpikir secara rasional, mungkin Hana harus kembali pada Sehun dan membiarkan Tae Jun mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya. Tapi pekerjaan lelaki itu bahkan lebih buruk dari Kai. Dan jika memikirkan perasaannya sendiri, ia tentu akan memilih Kai –jika lelaki itu juga tidak bekerja di bar. Kenapa menentukan pilihan hidup bisa serumit itu? Mungkin lebih baik ia memilih laki-laki lain yang tidak pernah ada di hidupnya dan memiliki pekerjaan yang lebih baik. Luhan misalnya?

Ah tidak, Hana hanya berpikir random saja.

“Hana?”

Hana yang sedang duduk di lobi kantor Joonmyun sontak mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki yang baru keluar dari lift, menghampirinya yang sedang membaca majalah –sambil menunggu Jae Hee menemui Joonmyun.

“Eh, Luhan-ssi,” Hana berdiri dari sofa dan membungkuk singkat pada Luhan, mengabaikan pikiran random di dalam kepalanya yang tadi tiba-tiba memunculkan nama laki-laki itu.

“Mengantar Jae Hee lagi?” Luhan menyunggingkan senyum tipis dan berdiri di depan Hana dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.

Ne, karena aku libur dan sekalian menunggu Tae Jun selesai sekolah juga,” Hana memainkan jemarinya sendiri dan tersenyum kaku pada Luhan yang terlihat menaikkan sebelah alisnya.

“Tae Jun?” tanyanya ragu seraya mengerutkan kening heran.

“Anakku. Dia sekolah di preschool tidak jauh dari sini,” jawaban Hana seketika mengubah ekspresi Luhan menjadi canggung. Dan well, Hana sering sekali menemukan laki-laki yang kaget dan mundur teratur saat mengetahui dirinya memiliki satu orang anak. Ekspresi yang sama dengan yang Luhan tunjukkan saat itu.

“Ah, kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus bertemu klien di luar kantor. Sampai bertemu lagi, Hana-ssi,” Luhan membungkuk singkat dengan senyuman simpul sebelum meninggalkan lobi kantor, kembali membuat Hana duduk di sofa.

Luhan, coret!

Hana kembali sibuk membaca majalah dan tidak mau memikirkan apapun lagi. Memilih laki-laki secara random tentu akan mempertaruhkan hatinya –yang sensitif itu—pada laki-laki yang bisa saja lebih buruk dari Kai maupun Sehun.

Bahkan sampai detik ini, ia masih membayangkan Kai yang akan menemani hidupnya nanti.

“Hana-ya, maaf lama ya,” Jae Hee berujar dengan nada tidak enak seraya duduk di samping Hana.

Kepala Hana terangkat lalu menyunggingkan senyum simpul pada Jae Hee. “Tidak apa-apa kok. Aku yang mau ikut, jadi aku yang tidak enak karena eonni tidak bisa lama-lama bersama Joonmyun oppa.

Terlihat semburat merah samar yang muncul di pipi Jae Hee. “Joonmyun keluar dari kantor, Hana-ya. Pikiranmu itu, aish.

“Oh, ya?” kekeh Hana yang kembali memunculkan semburat merah di pipi Jae Hee. Pengantin lama yang benar-benar baru jatuh cinta itu ternyata menyenangkan untuk digoda. “Eonni bertemu siapa di atas?”

“Sehun.”

DEG.

Ekspresi Hana mengeras begitu nama yang sudah selama lebih dari satu bulan ini tidak pernah didengarnya. “Adik eonni?”

Eoh. Dia mulai kerja di sini sekitar satu bulan? Ah sudah lebih sih. Pokoknya ada masalah yang membuat dia berhenti dari pekerjaannya yang lama dan Joonmyun menyarankan Sehun bekerja di kantornya,” Jae Hee menyunggingkan senyum tipis, tanpa menyadari perubahan ekspresi Hana.

Hana tanpa sadar meremas majalah di tangannya. Apa Sehun berhenti bekerja di Triptych karena ucapannya waktu itu? Tidak mungkin ‘kan?

“Kenapa melamun? Ayo pulang sebelum Tae Jun marah lagi karena terlambat dijemput,” Jae Hee menggamit lengan Hana dan menarik wanita itu berdiri dari sofa, mengikuti langkahnya meninggalkan lobi kantor Joonmyun.

***

Kepala Kai masih terasa pusing ketika bangun di pagi hari, setelah semalam meneguk terlalu banyak vodka. Ia tidak begitu mengingat apa yang terjadi hingga ia bisa tidur di dalam kamar apartemennya sendiri. Padahal semalam ia mabuk berat dan sepertinya tertidur di meja bar, tepat di depan Minho –yang akan menuangkan vodka lagi untuknya. Minho bahkan masih sempat memarahinya, karena hidupnya menjadi berantakan setelah putus dari Hana.

Padahal Kai hanya berusaha mengenyahkan Hana dari pikirannya, walaupun tidak pernah berhasil.

Suara ribut-ribut dari arah luar kamar membuat kedua mata Kai –yang masih terasa lengket itu membulat seketika. Ia tidak mungkin pulang bersama wanita tadi malam ‘kan? Masih dengan mata berkunang-kunang, ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan terseok ke arah pintu kamar. Dengan kedua mata memicing, pandangannya berusaha fokus pada seseorang yang sibuk menata meja makannya. Hana?

“Sudah bangun?”

Sejak kapan suara Hana menjadi seberat itu? Seperti Minho?

Ya! Jangan melamun di pintu! Aku buatkan sup rumput laut. Kau merepotkan sekali saat mabuk berat, ck,” Minho berdecak pelan dan kembali ke dapur untuk mengambil mangkuk nasi. Meninggalkan Kai yang masih setengah sadar, berdiri dengan ekspresi bodoh seperti seorang anak yang kehilangan orang tuanya.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Kai saat sadar bahwa Hana hanya muncul dalam imajinasinya saja. Dengan langkah terseok Kai menghempaskan bokongnya duduk di kursi makan. Dari balik kelopak matanya yang setengah terbuka, ia melihat mangkuk besar berisi sup rumput laut dan beberapa lauk lainnya. Sekelebat ingatan sarapan bersama Hana dan Tae Jun kembali muncul dan membuat jantungnya berkedut sakit. Ia merindukan keduanya.

“Kau benar-benar merindukan Hana, eoh?” Minho meletakkan satu mangkuk nasi di hadapan Kai dan menarik kursi di hadapan lelaki itu.

“Aku masih kesal kalau ingat kebohongan Hana,” Kai mengambil sumpit yang diletakkan dekat mangkuk nasinya seraya menatap makanan di meja dengan tidak selera. Ia tidak pernah menemukan makanan yang bisa membuatnya memiliki selera makan, selain masakan Hana. Semua makanan terasa sama saja dan hanya masakan Hana yang terasa enak di dalam pikirannya.

“Dia pasti punya alasan. Kau yang bilang kalau Sehun adalah laki-laki dari masa lalunya yang pernah menyakiti Hana. Harusnya kau tidak emosi juga karena sudah tahu kalau Hana berbeda, wanita itu sangat sensitif menyangkut perasaannya ‘kan?” Minho menyuapkan nasi ke dalam mulutnya seraya memperhatikan Kai yang hanya diam memainkan nasi di dalam mangkuknya. “Dan kalau aku jadi Hana, aku juga tidak mau menikah denganmu.”

“Dan untungnya Hana bukan laki-laki sepertimu, hyung,” jawab Kai tanpa minat dan sontak mendapat pukulan ringan dari ujung sumpit besi milik Minho. Ringisan pelan keluar dari mulutnya dan ia hanya mengusap-ngusap puncak kepalanya tanpa berniat membalas lelaki itu. Moodnya selalu tidak baik akhir-akhir ini.

“Aku serius, pabo. Hana pasti melindungi perasaan anaknya,  bukan hanya mementingkan perasaannya sendiri. Kalau tidak ada anaknya atau tidak pernah disakiti sedalam itu, mungkin dia masih mau berpikir untuk menikah denganmu,” Minho kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya lalu memindahkan beberapa lauk ke mangkuk Kai. “Dan sebaiknya kau cari pekerjaan yang lebih baik kalau benar-benar serius dan mau dipercaya wanita seperti Hana.”

“Tidak bisa sampai akhir tahun ini,” Kai akhirnya menyumpit sedikit nasi dan lauk, menyuapkan ke dalam mulutnya –masih dengan tidak selera. “Aku sedang mengajukan pinjaman ke bank untuk membuka usaha sendiri. Dan aku tidak bisa berhenti kerja sampai akhir tahun ini.”

“Kalau begitu beritahu Hana, aish. Kalian sama-sama menyembunyikan rahasia satu sama lain, kenapa hanya kau yang kesal pada Hana?” kedua mata bulat Minho membola, menahan kesal karena ternyata Kai masih saja memiliki sifat kekanakkan.

“Tadinya aku mau membuat kejutan untuk Hana, hyung,” Kai meletakkan sumpitnya kembali seraya mengangkat kepala, menatap Minho. “Tapi keadaan jadi begini.”

Dwaesseo. Tidak perlu membuat kejutan kalau akhirnya putus seperti ini, ck. Sekarang kau temui Hana, minta maaf, dan jelaskan alasan kenapa kau tidak bisa berhenti kerja. Masalah selesai dan kalian bisa bersama lagi,” Minho mengatupkan kedua tangannya sambil menaik-turunkan alisnya, menggoda lelaki yang beberapa tahun lebih muda darinya itu.

Jinjja? Apa aku yang harus minta maaf?”

“Kalau kau memulainya duluan, Hana juga pasti minta maaf kok. Dia juga pasti merindukanmu tapi gengsi mau menghubungi duluan. Mengalah bukan berarti kalah, Jong In,” Minho menyebut nama asli Kai dengan nada serius kali ini, berharap lelaki itu menurunkan egonya kembali.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Kai, merasa beban di bahunya terasa berat karena ia akan bertemu Hana lagi. Jantungnya berdetak tidak karuan, membayangkan wajah Hana yang sudah selama lebih dari satu bulan ini tidak dilihatnya. Well, karena Hana tidak bisa pergi dari pikiran dan hatinya selama ini, maka ia akan mengejar wanita itu kemana pun.

***

Jadwal kerja Hana sudah selesai satu jam yang lalu, namun ia mendapat tugas tambahan lain yang membuatnya masih harus ditahan di dalam dapur. Sudah menjelang petang dan ia harus segera menjemput Tae Jun di tempat penitipan anak. Ya, pada akhirnya Hana harus menitipkan Tae Jun di tempat penitipan anak karena tidak mau merepotkan Jae Hee atau Nayeon lagi. Di siang hari ia bisa izin sebentar untuk menjemput Tae Jun dari sekolah dan mengantar hingga tempat penitipan anak.

Merepotkan untuk dirinya sendiri, tapi ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi.

“Hana.”

Hana yang masih sibuk mengelap meja dapur sontak mengangkat kepala, memperhatikan salah satu rekan kerjanya yang bertugas menjaga kasir kini berdiri di depannya. “Kenapa?”

“Ada yang mencarimu di depan,” ujar wanita itu dengan ragu-ragu. “Dan kau sudah boleh pulang sekarang.”

Gomawo,” Hana melepaskan apron dan sarung tangan cucinya, menaruhnya ke rak khusus dekat kamar mandi sebelum memasuki kamar ganti yang berisi loker-loker para pegawai. Ia mengganti bajunya di dalam kamar mandi sebelum bergegas keluar dari pintu khusus staff ke dalam restoran. Takut jika yang mencarinya adalah seseorang dari tempat penitipan anak.

Seketika langkahnya terhenti, menemukan sosok laki-laki yang duduk di bangku dekat pintu masuk. Tanpa sadar Hana meremas tali tas slempangnya, mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari pemandangan yang membuat jantung wanita mana pun bisa berhenti mendadak. Bahu lebar dan tubuh atletis lelaki itu dibalut kemeja dan jas, sementara rambut madunya disisir sedikit berantakan ke atas.

Mian. Aku baru berani muncul di hadapanmu,” Sehun berujar pelan seraya melangkah mendekati Hana, menyunggingkan senyum tipis yang membuat beberapa wanita yang duduk di dekatnya memekik pelan.

Hana kembali menatap Sehun, mengabaikan keringat dingin yang keluar di kedua telapak tangannya. “Aku tidak berharap.”

“Butuh waktu untuk membuktikannya  padamu, Hana-ya,” Sehun memperhatikan jaket tipis yang dipakai Hana lalu menghembuskan napas pelan. Udara musim gugur menjelang musim dingin sudah semakin ekstrim, tapi Hana hanya memakai satu lapis jaket tipis.

“Aku harus pulang sekarang,” Hana tidak peduli kalau ucapannya terdengar ketus dan dingin, ia melewati Sehun begitu saja dan bergegas keluar dari restoran tempatnya bekerja.

Jika tidak bersama Tae Jun, maka ia tidak memiliki urusan apapun dengan Sehun. Toh selama ini ia baik pada Sehun jika bersama Tae Jun saja, karena anak itu tentu harus mengenal sosok ayah kandungnya. Di luar semua itu, Hana tidak akan mau berurusan dengan Sehun –walaupun lelaki itu tengah berusaha mendapatkan maaf darinya.

“Hana-ya!” Sehun menggunakan kaki-kaki panjangnya untuk mengejar Hana yang berlari meninggalkannya. Hingga ia berhasil menyusul dan menghalangi langkah wanita itu. “Kenapa menghindar?”

“Aku tidak mau bertemu lagi denganmu,” Hana berujar dingin seraya melipat tangan di depan dada, berusaha terlihat tak acuh –padahal ia sedang menyembunyikan rasa menggigil di tubuhnya karena diterpa angin petang yang hampir menyentuh angka nol derajat.

Sehun mendengus pelan, melepaskan jas kerjanya dan menyelimuti bahu Hana –yang mulai bergetar. Tidak peduli bahwa wanita itu memberontak dan protes dengan perlakuannya. “Aku sudah meninggalkan pekerjaan menjijikkan itu. Apartemen dan mobilnya sudah kukembalikan, dan aku mulai bekerja di perusahaan Joonmyun hyung.

Hana terdiam, tidak sanggup melihat Sehun yang berjarak sangat dekat dengan tubuhnya –setelah memakaikan jas di bahunya. “Kenapa?”

“Pembuktian. Aku mau Tae Jun bangga kalau ayahnya bekerja di perusahaan,” Sehun tersenyum simpul lalu mundur selangkah seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Dan karena Jae Hee noona menamparku dengan sangat keras waktu itu. Aku juga tidak mau mengecewakan orang-orang lagi. Termasuk dirimu.”

Napas Hana tertahan di tenggorokan. Ia mengangkat kepala, memperhatikan Sehun dari balik helaian rambutnya yang tertiup angin. Ia tahu keinginan Sehun tidak pernah bisa dibantah dan laki-laki itu akan berusaha keras agar keinginannya terpenuhi. Tapi sekarang Hana yang kebingungan, mulai tidak tahu kemana arah tujuan permintaan maaf Sehun. Hanya ingin mendengar maaf darinya atau ingin kembali bersamanya dan Tae Jun?

Well, aku tidak punya mobil lagi sekarang. Jadi ku antar jalan kaki saja, eoh?” Sehun mengusap tengkuknya sendiri, menyembunyikan rasa panas yang menjalari wajahnya. Ia seperti kembali ke masa remaja, pertama kali mengajak Hana pulang bersamanya.

“Dia pulang denganku.”

Suara husky yang selalu menganggu pikiran Hana tiba-tiba menyeruak masuk di antara suara Sehun –dan orang-orang yang berlalu-lalang. Kepala Hana terangkat, menatap tidak percaya pada sosok laki-laki berambut cokelat yang berantakan menutupi kening itu berdiri di sebelahnya. Jantung Hana seperti mau meledak, berdetak dengan sangat cepat dan sulit sekali dikendalikan saat wangi tubuh yang sangat dirindukan itu menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.

“J-jong In?” tanya Hana tak yakin karena wajah lelaki itu terlihat semakin tirus sekarang.

“Aku sedikit terlambat, ya?” Kai meraih tangan Hana, menyelipkan jemarinya di antara jemari wanita itu seraya menyunggingkan senyum manis.

Kaki Hana terasa lemas dan rasa panas menjalari wajahnya saat bertatapan dengan sepasang iris cokelat yang sangat dirindukannya. Hana menggenggam erat tangan Kai lalu menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat busuk –mungkin. Uh, pertemuan mereka tidak romantis sekali.

Kai melepaskan jas Sehun dari bahu Hana, mengembalikan pada sang pemilik –yang masih speechless berdiri di hadapannya. Setelah diterima Sehun, ia melepas jaketnya sendiri dan memakaikannya pada bahu Hana sebelum kembali menggenggam tangan Hana. Tidak peduli bagaimana statusnya dengan Hana, ia tidak akan membiarkan Sehun mengambil kesempatan lagi.

Tanpa menunggu balasan dari Sehun, Kai menarik tangan Hana –agar mengikuti langkahnya berjalan di pedestrian. Karena Hana tak memberontak, ia tetap membawa Hana di antara kerumunan orang-orang menuju halte bus terdekat.

***

Tidak ada perbincangan yang terjadi di halte atau pun di dalam bus ketika perjalanan pulang. Hana tidak berani melepaskan genggaman tangan Kai, takut jika lelaki itu mungkin saja pergi lagi jika ia melepaskan genggamannya. Perasaannya campur aduk. Sulit sekali menggambarkan perasaannya yang membuncah karena bisa melihat Kai di hidupnya. Kali ini tidak di dalam mimpi atau halusinasi saja.

Begitu turun di halte dekat sekolah Tae Jun, Kai melepaskan genggaman tangannya. Membuat perasaan Hana kosong kembali, seolah dibawa oleh genggaman tangan lelaki itu tadi. Kepala Hana menunduk, tidak berani menatap Kai yang berdiri di hadapannya.

“Han-ah.”

Kkaman.

Keduanya berujar bersamaan, disusul hembusan angin yang membuat tubuh Kai bergidik kedinginan karena hanya memakai satu lapis sweater –setelah jaketnya diberikan pada Hana. Belum sempat mengucapkan apa-apa, ia melihat bahu Hana bergetar dan disusul suara isak tangis yang memecah keheningan malam. Hanya ada mereka berdua di halte itu sehingga ia bisa mendengar dengan jelas suara tangisan Hana yang semakin menjadi.

Hiks—mianhae—maaf, Jong In—hiks,” Hana menutupi kedua matanya dengan punggung tangan, berusaha menahan isak tangisnya yang tidak tertahankan. Ia begitu tersiksa dengan semua rasa rindu yang bertumpuk di dalam kepalanya selama ini. Ia merasa bodoh karena membohongi perasaannya sendiri. Ia menyayangi Kai, tapi ia sendiri kesulitan memberikan kepercayaannya pada lelaki itu.

Dua bulan ini Hana selalu merasa tersiksa karena merindukan lelaki di hadapannya.

Kai menggaruk pipinya yang tidak gatal sebelum maju selangkah dan menarik tubuh Hana ke pelukannya. Menyandarkan kepala wanita itu di dadanya, sementara ia berusaha menenangkan dengan mengusap kepala Hana berkali-kali. Padahal ia yang berniat minta maaf lebih dulu, tapi nyatanya Hana yang pertama kali memohon maaf padanya

“Aku juga minta maaf, Lee Hana,” Kai semakin merapatkan tubuh Hana di pelukannya, berusaha mencari kehangatan dari tubuh wanita itu. Rasanya hampir gila jika memikirkan semua rasa rindunya pada Hana selama ini.

“Aku bodoh—hiks—Harusnya aku cerita sejak awal…. Harusnya aku percaya padamu… Harusnya aku tidak egois…,” Hana semakin terisak seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Kai –yang sangat amat dirindukannya itu.

Anhi. Aku yang tidak mengerti keadaanmu, Han-ah. Aku yang salah paham, tidak sabar, egois juga. Kita sama-sama salah, ne?” entah datang darimana semua kata-kata manis yang keluar dari mulutnya.

Sungguh, selama hidupnya Kai tidak pernah mengalah seperti itu pada wanita mana pun. Sebelum putus dengan banyak mantan kekasihnya di masa lalu, ia pasti akan tetap mempertahankan egonya tanpa mau mengalah. Ia seperti menjadi orang lain ketika bersama Hana –namun dalam konteks yang positif tentu saja. Ia sadar bahwa sikap egoisnya akan membuat Hana menjauh dan meninggalkannya. Dan ia tidak bisa membayangkan itu semua terjadi lagi.

Hanya keheningan yang menemani Kai dan Hana, masih dalam posisi saling berpelukan hingga isak tangis Hana mulai mereda beberapa menit kemudian. Hana masih enggan melepaskan diri, tidak peduli bahwa sweater abu yang dipakai lelaki itu basah karena air matanya.

“Sudah selesai?” tanya Kai seraya menepuk-nepuk punggung Hana.

Mengangguk pelan, Hana memindahkan tangannya dari pinggang hingga melingkar di leher Kai, namun tetap menenggelamkan wajahnya pada dada bidang lelaki itu. Rasanya menyenangkan memiliki seseorang yang bisa dijadikan tempat bersandar. “Kita damai ‘kan sekarang?”

Kai tertawa pelan sebelum mengacak puncak kepala Hana. “Hanya damai saja?”

Hana cemberut, tetapi tetap tidak bisa dilihat Kai dalam posisi seperti itu. “Memangnya mau apa lagi?”

“Masih kurang sedikit,” Kai menyembunyikan senyum gelinya sambil menggoyangkan tubuh Hana ke kanan dan kiri. Ternyata semudah itu mendapatkan maaf dari Hana.

Hana menghela napas panjang berkali-kali, meredakan rasa sesak di kerongkongannya. Ia menjauhkan wajahnya, masih melingkarkan tangannya di leher Kai dan menatap kedua mata lelaki itu dari jarak yang cukup dekat. “Aku percaya padamu sekarang, Jong In.”

Nah, kau belum boleh percaya kalau aku masih kerja di Triptych,” Kai mengeratkan pegangannya yang melingkar di pinggang Hana agar wanita itu tidak terjatuh ke belakang. “Akhir tahun ini aku berhenti kerja dan kau baru boleh percaya.” Pada akhirnya ia kembali merahasiakan kejutan itu dari Hana.

“Tahun depan ada apa?” tanya Hana heran dengan kening berkerut.

“Pekerjaan baru,” Kai menyunggingkan senyum simpul lagi dan siap mendaratkan kecupan di bibir Hana saat mendengar ponsel wanita itu berdering.

Hana cepat-cepat melepaskan diri sebelum merogoh tas slempangnya dan mengangkat telepon dari tempat penitipan anak. Ia menerima telepon itu dan langsung disambut dengan suara tangis Tae Jun yang memekakkan telinga.

Ahjumma? Ada apa?” tanya Hana panik ketika bibi penjaga tempat penitipan anak itu tidak kunjung menjawab suaranya.

‘Tae Jun terkilir dan tidak mau diobati siapa pun. Apa agasshi bisa jemput sekarang?’ tanya bibi itu, terselip nada ragu di dalamnya.

“Saya segera kesana,” Hana bergegas mematikan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu tanpa aba-aba menarik tangan Kai berlari dari halte. Menuju tempat penitipan anak yang berjarak satu blok dari sana.

.

.

Begitu tiba di tempat penitipan anak, hati Hana terasa diremas dengan kuat ketika melihat Tae Jun menangis di sofa. Berteriak-teriak menolak siapa pun yang mendekatinya. Hingga Kai melangkah lebih dulu, mendekati Tae Jun di sofa dan berjongkok di hadapan anak itu. Hana tidak bisa mendengar apa yang diucapkan Kai, tapi tangisan Tae Jun tiba-tiba terhenti dan langsung memeluk lelaki itu.

Hana menyeka sudut matanya yang berair sebelum mendekati Kai yang berusaha menenangkan Tae Jun. Ia menangkap raut khawatir di wajah bibi pemilik dan penjaga panti karena tidak berhasil menenangkan Tae Jun.

“Tadi Tae Jun bermain di halaman belakang dan tersandung batu sampai terkilir. Tae Jun hanya menangis dan tidak mau diobati oleh siapa pun,” ungkap sang pemilik panti dengan helaan napas panjang.

Hana tersenyum tipis sambil membungkuk singkat. “Maaf kalau anakku merepotkan, ahjumma. Tae Jun memang sulit menerima orang baru.”

Gwenchana. Wajar saja karena Tae Jun masih kecil,” bibi pemilik panti ikut membungkuk lalu memperhatikan Kai yang berdiri di sebelah Hana, mengusap-ngusap punggung  Tae Jun –yang masih sedikit terisak. “Tae Jun langsung diam di gendongan appanya.”

Hana tersenyum kaku seraya melirik Kai yang mengulum senyum di sampingnya. Mereka bahkan belum memutuskan untuk kembali bersama setelah saling bermaafan tadi. “Kamsahamnida. Terima kasih banyak, ahjumma.”

Setelah berpamitan pada bibi pemilik panti, Kai dan Hana melangkah ringan menyusuri pedestrian menuju komplek apartemen mereka. Sementara Tae Jun masih memeluk leher Kai dengan erat dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher lelaki itu. Masih terdengar sedikit isak tangis, namun tidak separah beberapa menit lalu. Ketika Kai berusaha mengajak berbicara, Tae Jun hanya menggumam dan merengek tidak mau.

Hana menghela napas panjang sambil mengusap puncak kepala Tae Jun. “Maaf merepotkan ya, Jong In. Kalau sudah pegal, aku juga bisa gendong Tae Jun.”

“Tidak akan. Aku mau bawa Tae Jun sampai apartemen,” Kai menyunggingkan senyum tipis seraya membetulkan Tae Jun di gendongannya, masih tetap mengusap-usap punggung anak itu hingga terdengar dengkuran halus. Menandakan kalau Tae Jun sudah tertidur.

Ucapan bibi pemilik panti kembali terngiang di dalam kepala Hana, sementara kedua matanya tidak lepas memandangi wajah Kai dari samping. Dua bulan berpisah sudah terasa sangat menyiksa bagi hidup Hana. Walaupun berusaha terlihat baik-baik saja, sel-sel di dalam tubuhnya seolah menolak untuk baik-baik saja karena selalu mengingat nama Kim Jong In dan membuat dadanya terasa sesak. Tapi ia belum yakin jika Kai ingin benar-benar kembali bersamanya, karena perbincangan mereka belum sampai ke sana.

Tanpa disadari, Hana sudah berdiri di depan pintu apartemennya sendiri dan bisa melihat dengan jelas wajah Kai –yang entah kenapa terlihat semakin tampan itu. Sembari mengalihkan tatapan ke arah lain, Hana membuka pintu dan mempersilakan Kai –bersama Tae Jun masuk lebih dulu. Sementara Kai membawa Tae Jun ke kamar, Hana bergegas ke dapur dan mencari obat spray pereda rasa sakit di lemari bawah konter.

“Besok aku antar Tae Jun ke rumah sakit,” suara Kai tiba-tiba menyeruak dari belakang tubuh Hana –yang masih berjongkok di depan lemari konter dapur.

“Tidak perlu, Jong In. Aku dapat libur besok, jadi bisa pergi ke rumah sakit bersama Tae Jun,” jawab Hana seraya meraih obat spray yang ditemukannya dan melangkah cepat ke dalam kamar. Ia menyibakkan selimut yang menutupi kaki Tae Jun dan menyemprotkan obat beberapa kali ke pergelangan kaki anaknya yang terlihat sedikit membengkak.

Kai memperhatikan dari daun pintu, bagaimana kedua mata Hana berkaca-kaca saat mengusap-usap pergelangan kaki Tae Jun. Bahkan hanya dengan pemandangan seperti itu, ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang benar-benar tulus pada anaknya. Berbalik dari kamar dan melangkah menuju ruang tengah, Kai menghela napas panjang sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah. Ruangan yang sangat dirindukannya selama dua bulan ini.

Begitu melihat Hana keluar dari kamar dan melihat ke arah sofa, Kai bersumpah bahwa ia merasakan debaran jantungnya yang berdetak menggila. Sosok wanita yang selama dua bulan terakhir hanya ada di dalam mimpi dan imajinasinya, kini hanya berjarak kurang dari tiga meter di hadapannya. Dan ia kesulitan mengendalikan aliran darah yang berdesir cepat di seluruh tubuhnya.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” Kai berusaha memecah keheningan seraya memiringkan kepala dan menyunggingkan senyum tipis.

Dunia Hana terasa berputar hanya dengan senyum manis milik lelaki itu. “Aku juga.”

Perlahan Hana mendekati sofa dan duduk di sisi lain yang tidak ditempati Kai. Hanya berjarak tidak lebih dari dua puluh senti dan Hana sedang berusaha keras bernapas dengan baik –karena rasa gugup yang mendadak menyerangnya.

“Mungkin bisa dimulai dari Sehun,” Kai memutar tubuhnya dan menyilangkan kaki ke atas sofa menghadap Hana. Hana terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan helaan napas panjang. “Aku mau mendengar ceritanya darimu, Han-ah.”

Hana terdiam. Menghela napas panjang sekali lagi sebelum menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Menghindari tatapan Kai dengan memainkan jemarinya sendiri yang mulai berkeringat dingin. “Dia laki-laki brengsek yang pernah meninggalkanku dalam keadaan hamil waktu itu.”

Melihat tangan Hana yang sedikit bergetar, Kai meraih tangan wanita itu untuk digenggam. Berusaha menenangkan Hana yang sedang bercerita menyangkut masa lalunya dan menghangatkan tangan Hana yang terasa dingin.

“Dia ayahnya Tae Jun. Dia juga yang membuatku tidak percaya dengan laki-laki mana pun. Bertahun-tahun bersama Sehun, aku yakin kalau kami berdua saling menyayangi dan saling percaya satu sama lain. Tapi semuanya berubah 180 derajat saat Sehun tahu kalau aku hamil. Dia kabur besok paginya, membawa semua bajunya dari apartemen kami dan menghilang seperti ditelan bumi,” papar Hana panjang lebar dengan satu kali tarikan napas, tanpa berani menatap lelaki di sebelahnya. “Itulah kenapa aku susah percaya pada laki-laki lagi, termasuk dirimu, Jong In. Mianhae.

“Kenapa minta maaf?” Kai memiringkan kepalanya, menarik dagu Hana hingga wajah wanita itu menghadap ke arahnya lalu menyunggingkan senyum tipis. “Kau tidak salah apapun. Aku yang harusnya mengerti.”

“Kita harus sama-sama mengerti untuk membuat hubungan ini berjalan dengan baik, Jong In-ah,” Hana menundukkan kepalanya lagi lalu menggigit bagian dalam bibirnya, menahan tangis. Ia bahkan tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak sekarang. “Dan aku tidak mau merasa kehilangan untuk yang kesekian kalinya.”

“Aku juga tidak mau melakukan hal bodoh dengan melepaskanmu untuk kedua kalinya,” Kai memeluk pinggang Hana dan mengangkat sedikit tubuh wanita itu hingga duduk di atas pangkuannya. Saling berhadapan satu sama lain dan ia bisa melihat sudut mata Hana yang mulai berair. “Kenapa menangis?”

Hana tidak menjawab dan beralih memeluk leher Kai, menenggelamkan wajahnya pada bahu lelaki itu. “Aku takut. Sehun kembali dan aku takut dia mengacaukan semuanya.”

Well, aku juga takut kalau perasaanmu berubah lagi. Kau pasti sangat menyayanginya dulu, sampai rasa sakit karena ditinggalkannya membekas sampai sekarang,” Kai mengusap punggung Hana dengan lembut, diam-diam menahan rasa sesak yang mendadak menyerang kerongkongannya karena Hana tidak menjawab apapun. “Han-ah… Kita harus sama-sama berjuang, eoh?”

***

Bekerja keras setiap hari hingga larut malam adalah kegiatan baru Sehun akhir-akhir ini. Semua pekerjaannya bisa diselesaikan sebelum petang, tapi ia memilih menyelesaikan pekerjaan untuk esok hari hingga larut malam. Toh ia tidak memiliki kegiatan lain, jadi ia bisa langsung tidur ketika sampai di apartemen. Biasanya ia memandangi Hana dari jauh, tapi sejak Kai merebut Hana darinya waktu itu, ia melindungi perasaannya sendiri dengan tidak mendekati Hana untuk sementara waktu.

Kepala Sehun terangkat dari kertas-kertas yang sedang dibacanya saat melihat pintu menuju ruang kerja –yang terdiri dari beberapa cubicle dan termasuk mejanya di salah satu cubicle itu terbuka. Ia melihat Joonmyun dengan jas yang dipegang di tangan kiri, menyunggingkan senyum ke arahnya.

“Belum pulang, Sehun-ah?” tanya Joonmyun heran seraya menutup pintu di belakangnya.

“Masih ada yang harus kukerjakan, hyung,” jawab Sehun dengan senyum tipis di bibirnya. “Hyung baru mau pulang?”

Eoh, aku ada janji makan malam dengan Jae Hee. Dia mengajakmu juga,” Joonmyun berdiri bersandar pada sisi cubicle Sehun dan memperhatikan kertas-kertas yang dipegang Sehun. “Hey, deadline untuk laporan itu masih dua minggu lagi, Sehun-ah.”

Gwenchana, biar aku bisa lebih santai nanti. Hyung dan noona saja yang pergi, aku masih mau di kantor,” Sehun berusaha menolak ajakan makan malam Joonmyun, namun lelaki yang beberapa tahun lebih tua darinya itu malah melipat bahan laporan yang sedang dibacanya.

“Ini ajakan kakakmu sendiri, Sehun-ah. Kaja, aku tunggu di lobi, ya,” Joonmyun menepuk bahu Sehun sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sehun yang menghela napas panjang dan dengan pasrah mengikuti permintaan Jae Hee.

Mobil Joonmyun menyambut Sehun yang baru keluar dari lobi dan ia segera menaiki mobil kakak iparnya itu tanpa mengatakan apapun. Perjalanan ke tempat makan pun hanya dihiasi lagu-lagu dari tape, sementara Sehun memandangi keluar jendela dan memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Hingga Joonmyun membelokkan mobilnya memasuki parkiran sebuah restoran ala Perancis yang cukup ramai. Dan Sehun hanya mengikuti langkah Joonmyun yang melangkah lebih dulu di hadapannya.

“Ah, kau duluan saja ke meja Jae Hee. Aku mau ke kamar mandi dulu,” Joonmyun menepuk bahu Sehun seraya menunjuk sebuah meja di sudut restoran yang diisi Jae Hee.

Sehun mengangguk singkat lalu melangkah menghampiri meja Jae Hee sambil menggulung lengan kemejanya hingga siku. Seulas senyum muncul di bibir Jae Hee begitu Sehun semakin mendekat dan memberikan pelukan singkat sebelum duduk di hadapannya. “Ck, Joonmyun mengadu padaku kalau kau terlalu sibuk bekerja, Sehun-ah. Makanya aku mengajakmu makan bersama hari ini.”

“Aku tidak mau mengecewakan noona dan Joonmyun hyung. Lagipula aku masih harus belajar banyak, jadi mau-tidak-mau harus sering di kantor dan banyak mengerjakan laporan,” ujar Sehun beralasan, walaupun tidak sepenuhnya bohong juga. Lagipula pekerjaan bisa mengalihkan pikirannya yang terus memikirkan Hana. “Kenapa noona pesan meja untuk enam orang?”

“Ada Jong In, Hana, dan Tae Jun juga. Barusan mereka masih di jalan habis jemput Hana dari tempat kerja,” Jae Hee meneguk air putih yang ada di dekatnya sebelum melambai semangat ke belakang Sehun.

Sehun tanpa sadar mengepalkan kedua tanganya di bawah meja, mendengar suara heboh Tae Jun yang memanggil Jae Hee. Tidak pernah sekali pun Sehun menginginkan terjebak di situasi seperti itu. Rasanya ia ingin melarikan diri saja dari sana, tapi ia masih tahu diri dengan menghargai ajakan kakaknya.

“Kalian sudah pernah bertemu adikku ‘kan?” tanya Jae Hee pada Kai dan Hana yang baru saja tiba di dekat meja.

Sehun sontak menoleh dan matanya langsung menangkap tangan Kai dan Hana yang saling bertautan. Membuatnya mual seketika. “Eoh, aku sudah kenal Kai dan Hana.”

“Sehun hyung!” pekik Tae Jun antusias seraya menarik-narik lengan Sehun.

Sehun sontak mengangkat tubuh mungil Tae Jun hingga berada di atas pangkuannya dan mengacak rambut di puncak kepala anak itu. “Tae Jun semakin berat, eoh?”

“Ehehe, Tae Jun banyak makan enak akhir-akhir ini,” Tae Jun memilin-milin tangannya sendiri sambil melirik malu-malu ke arah Sehun. “Hyung juga makin keren.”

Sehun memilih untuk mengabaikan Kai dan Hana yang duduk di barisan yang sama dengan Jae Hee, karena ia menyibukkan diri dengan Tae Jun yang masih duduk di pangkuannya. Hingga Joonmyun datang, menarik kursi di sebelah Sehun dan terpaksa harus bersilangan dengan Jae Hee.

“Tae Jun-ah, ayo duduk di sini,” ujar Hana pada Tae Jun yang sibuk tertawa bersama Sehun. Pemandangan yang menyejukkan hatinya namun entah kenapa terasa sedikit menyakitkan.

“Tidak mau. Tae Jun mau duduk dekat Sehun hyung,” Tae Jun mengerucutkan bibir mungilnya dan pura-pura menyandarkan kepala di dada Sehun seraya melingkarkan tangan pendeknya ke tubuh Sehun.

Hana melirik Kai yang terlihat menahan kesal di sampingnya, hingga ia harus mengusap-usap punggung tangan lelaki itu. “Tapi Sehun hyung mau makan juga, Tae Jun ‘kan harus disuapi.”

“Ah, biar aku duduk di tempatmu saja, Hana-ya. Kau duduk disini bersama Sehun dan Tae Jun,” Joonmyun berinisiatif bangkit dari kursi dan meminta bertukar tempat duduk dengan Hana –yang bersebelahan dengan Jae Hee.

Karena merasa tidak enak, Hana terpaksa bangkit dari kursi dan melepaskan genggaman tangan Kai –yang berusaha menahannya. Dan akhirnya Hana duduk di sebelah Sehun, mengambil alih Tae Jun ke pangkuannya dan mengabaikan perasaan aneh yang mengaduk perut saat Sehun membantu Tae Jun duduk dengan benar di atas pangkuannya.

 Sementara Joonmyun dan Jae Hee sibuk memilih makanan, pandangan Kai tidak lepas dari Sehun dan Hana yang sama-sama sibuk dengan Tae Jun. Ia merasa seperti orang asing yang tiba-tiba hadir di tengah keluarga harmonis yang sedang makan malam bersama. Apalagi melihat Sehun, Hana, dan Tae Jun yang benar-benar terlihat lengkap seperti keluarga sesungguhnya. Melihat bagaimana Tae Jun nyaman berada di dekat Sehun, Kai meyakini pepatah yang mengatakan bahwa darah memang lebih kental dari air.

Kai menangkap tatapan Sehun dan melihat senyum miring yang dilemparkan lelaki itu padanya. Membuat kedua tangannya terkepal, ingin rasanya menghajar Sehun lagi jika tidak ingat sedang berada dimana dan bersama siapa saat itu. Dan lagipula, walaupun ketiganya terlihat seperti keluarga bahagia, toh sudah jelas hati Hana memilih siapa. Senyuman miring Sehun pun dibalas dengan senyum tipis olehnya.

Dan Hana menoleh untuk memberikan seulas senyum manis yang bisa menenangkan hati Kai –setelah sebelumnya merasa diasingkan di sana.

“Eyy, duduk sebelah Hana sana,” goda Jae Hee saat melihat Kai dan Hana yang saling melempar tatapan satu sama lain.

Melihat Hana tidak terusik sama sekali dengan kehadiran Sehun, membuat Kai menggeleng dengan cepat. Mereka sudah berkomitmen untuk saling percaya, jadi tidak ada gunanya menunjukkan rasa cemburunya di sana. “Anhi. Aku duduk di sini saja.”

Hana menahan senyumnya sebelum bangkit dari kursi, mendudukkan Tae Jun di kursi –yang ditinggalkannya sebelum ia pindah ke kursi lain yang kosong, berhadapan dengan Kai. Hingga posisi duduk Hana dan Sehun dibatasi oleh Tae Jun.

Dan Kai tersenyum lebar pada Hana –mewakili hatinya yang bersorak karena ia menang telak di hadapan Sehun.

[DEEPEST MEMORIES] — 12TH PART CUT


Ima’s Note :

Ada yang masih mau baca?

Hampir sebulan dan mood ngetik susah kembali karena skripsi

Tapi tetep aja ngetik ff lebih gampang daripada skripsi haha

Yang masih mau baca silakan dikomen

Jangan bosen bosen nunggu cerita ini ya, hampir tamat kok wkwk

Thanks so much buat yang udah komen dan semangatin di part 11 hihi love love love kiss and hug dari willis \m/ SEMANGAT!!

Regards,

IMA♥

75 responses to “{KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 12TH PART [BY IMA]

  1. Aaaaaahhh makin parah nih manisnya.. haaaaaaaaaaa
    Momen KaiNanya masih kurang banyak imaaa…hhh
    Big thanks buat ima yang udah mau mnyatukaan KaiNa dgn cara yang mnurut gw sweet bgt..hahahah walau Hana blg gk sweet..hhheeehhee
    Omaigoott Ya Allah berikanlah lelaki kece keren ganteng brtanggung jawab penyayang gentle dan baik hati 1 lagi yang macam Kai gini buat hamba Mu ini Ya Allah..aamiin

    Smangat imaaaaa… im waiting ur ff always

  2. Perpisahan membuat mrk bertambah dewasa. Bgslah mrk ga mementingkan ego saja. Cuma yg jadi kendala itu tae jun. Klu dia tau sehun ayahnya apa dia ttp mau jong in jd ayah barunya ?

  3. Yaampun, yaampun akhirnya diupdate lagi. Kai-Hana balikan lagi yeayy, momen balikannya sweet banget sumpah. Kalau Kai sama Hana, Sehun gimana.. Kayaknya Tae jun juga sayang banget sama Sehun

  4. Alhmdllh bisa komen…yampuun sinyal lagi ga bersahabat bgt…

    Seneeeeng bgt siihh Kai Hana balik lagi duuhh…sehun nyamuk jadi’y bisa’y cuma ganggu doank…
    Makasiih udah d share walaupun nunggu lama…ya ga pa2…hohoho ttp semangat buat next chapter!!!

  5. Senangnya akhirnya Hana sama Jong In balikan lagi, eh tapi bener kan mereka udh balikan???
    Duhh kalo liat Sehun ko berasa dia jadi PHO ya -_- tapi Sehun kasihan juga

  6. argghhhh setelah sekian lama menunggu akhirnya di publish juga ahahahaha.
    finally kai sama hana baikan.mereka udah belajar untuk saling peecaya. tapi sebenernya ngeliat sehun terpuruk gini juga kasihan.huhuhu dia udah rela berybah untuk hana dan tae jun tapi apalah tuhan berkehendak lain. hati hana udah dimiliki jongin dan gak bisa sehun ambil kembali eaaaaa
    😂😂

    okau nextnya ditunggu ya eonnn 😙

  7. “Tapi tetep aja ngetik ff lebih gampang daripada skripsi haha” berat banget kayannya ya bikin skripsi 😄 Semangtt ka .. Hampir lup sama jalan ceritanya.. Nunanya sehun udah tau klw taejun anaknya sehun? Ko lempng/?lempeng aja, bahkan nyuruh hana sama jongin duduk sebelahan 😂😂

  8. yeheyyy mereka udah baikan dan akhirnya balikan 🙆😘
    semoga Hana ttp percaya dan makin percaya sama Kai biar nggak usah peduliin Sehun lagi, dia kan dulunya jahatin Hana masa mau balikan heyy nggak akan mudah itu.. lagian Kai juga usahanya udah banyak banget buat dapetin Hana, semoga semoga dan semoga mereka selalu bersama walu banyak godaan hmm.. 😄
    Tae Jun duhh gimana nih, bagus sih dia bisa deket sama Ayah kandung nya lagian dia kan masih kecil ya pasti blm paham masalahnya, tapi semoga dia juga makin deket sama Kai 😆

  9. Kak Ima…. Akhirnya update jg. Seneng bacanya hbs ujian tengah semester. Langsung seneng ja gitu bacanya.
    Hore… Kai balikan sama Hana. Dadah sehun appa. Walaupun dia aappanya Tae jun tpi gk suka ja klo dia sama Hana. Secara dia dah pernah ninggalin Hana dulu. Dan di akhir part ni, seneng bgt aa kkat-kata ‘Kai menang telak dari Sehun’. Tu kayak yg menegaskan kembali nasibnya si Sehun. Over all suka bgt, kak… Tetep semangat nulis ya, kak…!! Fighting!!!

  10. wah akhirnya mreka baikan ..
    hampir tamat? bkal happt ending untuk kai sma hana kan..?
    smoga saja iya . ditunggu next chapternya kka

  11. ahirnya update jugaa, makin kesini makin penasaran sm kelanjutannya seneg ahirnya jongin sm hana balikan yeaay tinggal nunggu ke pelaminannya aja nih wkwk
    ditunggu next partnya, jgn lama lama ya kak^^

  12. makin daebak ni ceritanya..
    jd penasaran ending nya gimana..
    soalnya aku blm yakin hana itu bakalan sm kai apa sehun…
    ni ff paling jago bikin dilema..

    next.. lanjut teruuusss kak….
    pengen baca smpe ending

  13. pastinyaaa ditungguin sampe ending…
    meskipun di part ini ada sedikit nyuut ke hati, tapi syukurlah kai dan hana kembali bersama. semoga mereka tidak pisah lagi…
    harapan diakhir cerita kai, hana dan taejun jadi keluarga kecil yang bahagia…..

  14. Ahhh aku senang baca chapter ini, akhirnya Jongin dan Hana bersatu ☺..
    Jongin juga semakin dewasa, dan Hana lebih mau terbuka, aku harap Sehun dapet cewek lain gitu supaya gak gnghuin mereka..

    Semangat terus eonni, semoga skripsinya cepat selesai dan sangat ditunggu next chapternya 😃😍😘😙

  15. Aw gereget banget dah part ini><

    Liat Tae Jun yang deket sama Sehun, entah kenapa aku maunya Hana balik lagi aja sama Sehun.

    Tapi bakal sulit juga, kalo Hana pilih Sehun, Kai nanti yang tersakiti, lagi pula sekarang Hana juga udah sayang sama Kai.

    Tapi kalo Hana tetep pilih Kai nanti Sehun juga tersakiti. TTT

    Aaaaa aku jadi bingung sendiri.
    Ok ditunggu next part-nya, semangaaaaaat kak Ima~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s