Honey Cacti [Chapter 2]

honey-cacti-poster-huniel-2

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun

Genre: Romance, Comedy

Prev: Prolog || Chapter 1

———————————————–

Chapter 2—Why do you hate me?

 

Tanpa sadar Seo Ah menahan nafas, seolah ia takut aroma memabukkan dari tubuh Se Hun mempengaruhi kerja otaknya.

 

***

                Akhir bulan Oktober memang menyebalkan. Gara-gara satu hari bolos waktu itu, Seo Ah dipaksa kerja lembur tiga hari penuh oleh atasanya. Benar-benar ditraktor! Bahkan Seo Ah harus terus mengurungkan niatnya untuk menemui Ji Eun karena Nenek Sihir Kim itu terus-terusan membuat ponselnya berdering. Entah dendam kesumat apa yang dimiliki Kim Seol Hyun atas dirinya.

Sedikit beruntung untuk Seo Ah hari ini. Ia pulang di waktu yang normal, bisa menikmati makan malam bersama ibunya—walau tanpa Jeong Min, dan bisa melakukan kegiatan bersepeda malamnya lagi. Setelah makan malam, Seo Ah langsung kembali ke kamarnya dan berganti pakaian menjadi setelan baju olahraga. Seo Ah memang sibuk, tapi ia selalu menyempatkan diri untuk olahraga sedikit. Setidaknya melakukan yoga di kamar atau bersepeda malam seperti yang akan ia lakukan.

Keluar dari kamarnya, Seo Ah mampir sebentar ke ruang kerja ibunya. Ibu Seo Ah langsung menoleh ketika Seo Ah membuka pintu ruangan itu. Beliau tersenyum kepada Seo Ah, seolah menyuruh putri satu-satunya itu untuk masuk.

Eomma, aku ingin ke luar sebentar.” Kata Seo Ah, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja ibunya.

Diumur yang sudah mendekati lima puluh tahun, Choi Min Soo malah tengah menikmati masa keemasan karirnya. Ia mempunyai sebuah law firm di daerah Gangnam. Tidak terlalu besar, tapi cukup sukses diukurannya. Min Soo pun berperan sebagai pengacara di sana—namanya sudah terkenal di kalangan pengusaha besar bahkan politikus.

Seo Ah adalah harta berharga yang ia miliki, dan sekarang hidupnya makin lengkap dengan kehadiran Lee Jeong Min. Min Soo tidak pernah sekalipun berpikiran untuk menambah anggota keluarga baru, namun ketika bertemu Jeong Min, dua puluh tahun yang lalu, pikiran itu langsung lenyap. Ia ingin menghadirkan seorang teman sepanjang masa untuk Seo Ah, juga pelindungnya.

Min Soo menyambut uluran tangan Seo Ah dan mengelus punggung tangan putrinya. “Hati-hati. Dan jangan pulang terlalu larut.”

“Aku hanya berolahraga, kok.”

“Aku tahu. Tidak mungkin kau ke Sunny’s Glow dengan pakaian itu.”

Seo Ah mengerucutkan bibirnya. Jeong Min memang tidak bisa diajak kompromi, meskipun Seo Ah menawarinya seribu kardus ramyeon padanya. Hari itu, saat jam makan malam, Jeong Min langsung saja membeberkan ke mana Seo Ah semalaman. Bahkan ditambah adegan Seo Ah yang memintanya untuk mengambil mobil di parkiran Sunny’s Glow. Ibu Seo Ah memang tidak memarahinya seperti saat mereka SD, tapi percayalah… beliau benar-benar geram. Seharian kemudian, beliau sama sekali tidak ingin berbicara pada Seo Ah. Sampai akhirnya Seo Ah mendengar gosip dari Jeong Min kalau dirinya akan dijodohkan.

Dan, well, tentu saja bohong.

Dalam keadaan seperti itu, mempercayai ucapan Lee Jeong Min adalah sebuah dosa. Apalagi Seo Ah sangat tahu kalau ibunya lebih suka dia tidak menikah seumur hidup daripada tidak bahagia.

“Oh iya, Eomma. Jeong Min bilang akan pulang malam ini—setelah jam kerjanya selesai.”

Ibu Seo Ah mengangguk. “Dia juga menghubungiku tadi.”

“Baiklah. Aku pergi dulu.” Seo Ah mengecup pipi ibunya sebelum keluar dari ruangan itu. Ia bisa mendengar teriakan ibunya untuk berhati-hati sekali lagi. Seo Ah pun memakai sepatunya, mengambil sepeda di garasi, lalu keluar dari rumah.

Udara dingin mulai berembus di Seoul, musim gugur sudah memasuki puncaknya. Jalanan dipenuhi dengan ratusan daun yang berguguran. Bintang pun terlihat jelas di langit yang hitam, membuat Seo Ah tersenyum sambil menghela nafas berkali-kali. Malam yang indah. Juga malam yang cocok untuk melepas penatnya.

Satu-satunya yang Seo Ah sesali di dunia ini adalah bekerja di KeyEast Company. Perusahaan yang bergerak di bidang entertainment dan konstruksi bangunan itu sebenarnya tidak terlalu buruk, tapi berada di bawah komando Kim Seol Hyun adalah neraka. Oh oke, mungkin sepanjang hidupnya Seo Ah akan terus mengutuk Seol Hyun. Jujur saja, ia memang sedikit tidak menyukai Seol Hyun saat SMA. Maksudnya… dia cantik, keturunan chaebol, dan meski tidak terlalu pintar tapi dia tidak bisa dikatakan bodoh. Lalu Seol Hyun membencinya tanpa alasan. Dan setelah memasuki dunia kerja, Seo Ah terpaksa harus menjadi bawahan anak manja itu, kemudian bam! Nenek Sihir Kim itu memerintah seenaknya.

Kalau Seo Ah tidak sabar, ia sudah melayangkan gugatan ke wanita itu.

Seo Ah sudah berkali-kali berniat untuk resign saja dari perusahaan, tapi ia sama sekali tidak mempunyai back-up. Belum lagi ia tidak mempunyai keahlian membuat makanan seperti Bo Mi, atau pernah mencicipi sekolah desain seperti Ji Eun. Ia hanya lulusan Jurusan Manajemen Universitas Kyunghee biasa, yang beruntung bisa bekerja di perusahaan sebesar KeyEast.

Sampai di tepi sungai, Seo Ah menghela nafas dalam. Ia suka menghabiskan waktu di sini, sekalipun sedang tidak ingin berolahraga. Suara anak kecil, suara remaja puber yang bermain basket, atau bunyi petikan gitar musisi yang sedang busking menjadi obat penenang alaminya. Saat berada di sini, Seo Ah seperti merasa bukanlah seorang Choi Seo Ah dengan kehidupan membosankannya.

Kedua telinga Seo Ah disumpal oleh headset yang dihubungkan ke ponselnya. Suara merdu Baek Ah Yeon mengalun indah, mengiringi laju sepeda yang dikayuhnya perlahan. Perpaduan desir air dan embusan angin membuat Seo Ah tersenyum lebar. Ah… kapan-kapan ia harus menarik ibunya dan Jeong Min ke sini. Biarpun Seo Ah sering disebut ‘gila kerja’ oleh Bo Mi, tapi dua orang tercintanya itu jauh lebih sibuk.

Mungkin—hanya kemungkinan—karena Seo Ah tidak memiliki ayah, jadi ibu Seo Ah merasa bertanggung jawab penuh atas kehidupannya. Tidak, bukan karena sudah meninggal atau bercerai, hanya… tidak ada saja. Ibu Seo Ah tidak pernah membahasnya, dan itu membuat Seo Ah—bahkan di usianya yang sudah dewasa ini—juga takut untuk bertanya. Mungkin lebih baik kalau ia tidak tahu sama sekali, dengan begitu tidak ada yang tersakiti.

Seo Ah pun semakin larut dengan keadaan ibunya. Senyum di bibirnya perlahan memudar. Entahlah, ketika mengingat ibunya, Seo Ah selalu merasa seperti ini. Ia merasa tidak berguna. Harusnya ibunya sedang menikmati masa tuanya sekarang, duduk tenang di rumah tanpa pusing-pusing berhadapan dengan kasus. Tapi Seo Ah belum bisa membahagiakan beliau. Dan kehadiran Jeong Min membuatnya makin tertekan.

Tidak, bukan hal yang buruk, dan bukan berarti Seo Ah membenci Jeong Min. Seo Ah hanya merasa… ia kalah dengan Jeong Min. Seorang Lee Jeong Min, yang notabennya hanya anak angkat dan menjadi ‘saudara kembar’ dalam akta keluarga Choi, sudah semakin mendekati pintu keberhasilan sebagai dokter. Sedangkan Seo Ah, hanya bertahan di posisi Asistant Manager karena tidak bisa berkutik di depan Kim Seol Hyun.

Menyedihkan!

DUG!

“AWW!!”

Terlalu larut dalam pikirannya, Seo Ah sampai tidak melihat sebuah bola basket melayang ke arahnya. Bola basket itu berhasil menghantam kepalanya dengan keras, membuat Seo Ah terhuyung ke samping sebelum akhirnya jatuh terduduk. Sepeda Seo Ah menimpa kakinya, hingga pekikan keras pun lolos dari bibir Seo Ah.

N-Noona tidak apa-apa?”

Kepala Seo Ah masih pening, tapi ia bisa mendengar suara langkah kaki yang menghampirinya juga pekikan remaja laki-laki. Sekitar lima orang pelajar SMA (well, mereka masih mengenakan seragamnya) mendekati Seo Ah, mengelilingi wanita itu.

“Apanya yang tidak apa-apa?! Kalian baru saja melempar bola sialan itu ke kepalaku!”

“Maafkan kami.” Ujar lima pemuda itu bersamaan.

Seo Ah bangun dari posisinya dengan susah payah. Badan sepeda yang menimpa kakinya tadi membuat pergelangan kaki sampai betisnya terasa nyeri. Belum lagi kepalanya yang berdenyut. Tapi Seo Ah hanya meringis, amarah menguasai dirinya.

“Memangnya dengan meminta maaf, semua akan terselesaikan?!”

Kelima pelajar SMA itu tidak menjawab, hanya menundukkan kepala seolah membiarkan Seo Ah meluapkan segala emosinya.

“Lagipula apa yang kalian lakukan di sini dengan masih menggunakan seragam? Kenapa tidak langsung pulang ke rumah? Atau pergi ke tempat bimbingan belajar? Bagaimana kalian akan bisa masuk universitas kalau yang kalian lakukan hanya bermain-main?!”

Tatapan kelima pelajar SMA itu berubah. Mereka seketika menjadi jengkel kepada Seo Ah yang terus mengoceh seperti ahjumma. Oke, mereka tahu, mereka memang salah, tapi apa perlu membawa masalah lain? Lagipula kalau hanya belajar saja yang mereka lakukan, bukan hanya otak yang—rasanya—akan meledak, tapi kemungkinan mental mereka juga rusak. Sepertinya noona ini yang lebih membutuhkan bimbingan rohani daripada mereka, yang notabennya pelajar kelas tiga SMA yang akan menghadapi ujian masuk universitas.

“Apa salahnya bermain?” sahut salah satu dari mereka.

Seo Ah membulatkan mulutnya, tidak percaya kalau ada yang berani menjawabnya. “Ya, kalian ini masih seumur jagung. Kehidupan orang dewasa lebih berat daripada melempar bola ke kepala orang!”

Noona, kami kan sudah meminta maaf.” Nada bicara pelajar yang memakai kacamata ini jauh berbeda dari saat ia menanyakan keadaan Seo Ah tadi. Ia bahkan jelas-jelas mendengus di depan Seo Ah.

“Lalu apa?! Lihat, lihat, kakiku sakit, dan kepalaku—“

“Jadi Noona ingin memeras kami?”

“Siapa yang bilang!” Seo Ah menunjuk wajah pemuda berkacamata—yang sialnya jauh lebih tinggi darinya—dengan kasar. Seenaknya saja menuduh Seo Ah begitu! Bahkan Seo Ah menjamin, uang yang ada di kantung Seo Ah jauh lebih banyak daripada uang mereka yang dikumpulkan menjadi satu.

“Jadi apa mau Noona? Cepatlah, kami ingin bermain satu ronde lagi sebelum pulang.”

“A-Apa?!” Seo Ah memekik tidak percaya. Wah! Generasi muda jaman sekarang memang mengenaskan. “Apa begini cara kalian memperlakukan orang yang kalian lukai?”

“Begini, Noona,” pemuda berkacamata itu kembali berkata. “Kami mengakui kesalahan kami, dan kami meminta maaf—bahkan sudah tiga kali. Jadi, bisakah Noona melepaskan masalah ini sehingga kami bisa pulang ke rumah seperti yang Noona inginkan?”

Seo Ah bersumpah, ia sangat sangat sangat tidak suka nada bicara bocah ini. Seolah meremehkan sekaligus menggurui Seo Ah secara tidak langsung. Seo Ah kehabisan kata, dan hanya bisa membulatkan mulutnya dan bergumam ‘heol’. Mengabaikan reaksi Seo Ah itu, kelima bocah tengik itu pun meninggalkan Seo Ah dan kembali ke lapangan basket, melanjutkan ronde-entah-yang-keberapa itu.

Daebak! Teriak Seo Ah dalam hati. Dia diremehkan oleh para pemuda yang bahkan belum bisa meminum soju itu. Tidak salah Seo Ah sangat membenci makhluk bernama pria. Mereka kurang ajar!

Seo Ah pun memutar langkahnya. Namun baru selangkah ia menggerakkan kaki, denyutan di pergelangan kaki sampai betisnya menusuk sampai tulang. Seo Ah meringis, lalu berjalan tertatih ke sebuah bangku terdekat. Sial! Lihat saja, Seo Ah pasti akan mengajukan tuntutan pada mereka. Apa mereka tidak tahu Pengacara Choi Min Soo yang terkenal itu?!

Seo Ah meluruskan kakinya yang sakit ke kursi panjang. Dilepasnya sepatu dan kaus kaki, sehingga ia bisa melihat pergelangan kakinya yang sudah membengkak. Tidak besar, tapi denyutannya luar biasa. Hancur sudah malam Seo Ah. Jangankan bersepeda, berjalan kaki untuk pulang ke rumah—atau tidak memanggil taksi—saja ia tidak kuat.

“Kau baik-baik saja?”

“Apa aku terlihat baik—“

Seo Ah menggantungkan kalimatnya ketika melihat wajah pria yang bertanya padanya. Oke, sepertinya kata ‘buruk’ tidak cukup menggambarkan malam ini. Melihat Oh Se Hun berdiri di dekatnya, dengan celana pendek dan kaus putih yang dilapisi jaket olahraga membuat Seo Ah ingin menebas lehernya sendiri lalu membuang kepalanya ke sungai. Dari sekian ribu meter tepi sungai yang ada di Seoul, kenapa ia harus bertemu Oh Se Hun di sini?! Lagipula Cheondam-dong dan Pyeongchang-dong lumayan jauh. Oh… mungkin Seo Ah sudah membunuh istri presiden saat kehidupannya terdahulu.

Seo Ah benar-benar sial!

“Apa yang kaulakukan di sini?!” tanya Seo Ah kasar.

Se Hun mengangkat kedua bahunya. “Berolahraga.”

“Maksudku, kenapa di tempat ini?!”

“Kurasa tidak ada peraturan yang menyebutkan orang tampan sepertiku tidak boleh berolahraga di sini.” Seolah sudah memperkirakan Seo Ah akan menanyakan hal itu, Se Hun menjawabnya dengan lancar. Ia bahkan sempat-sempatnya menggulung headset dan memasukkannya ke dalam saku jaket.

“Hah, sudahlah!”

Tidak ada gunanya berdebat dengan pria macam Se Hun. Setidaknya Seo Ah cukup tahu karena sifat Jong In tidak jauh berbeda. Jadi, daripada Seo Ah menggunakan jari-jari cantik yang sudah dipolesnya dengan kuteks warna merah tua itu untuk mencekik leher Se Hun, lebih baik ia mengalah. Seo Ah mengabaikan keberadaan Se Hun, dan kembali memijit pergelangan kakinya.

“Sakit?”

Seo Ah tidak menjawab.

“Kau mau ini?”

Akhirnya Seo Ah mengangkat kepala juga sambil menghela nafas panjang. Ditatapnya Se Hun yang sedang mengulurkan sebotol kecil tonik kepadanya. Tapi Seo Ah sama sekali tidak tertarik, dan hanya menatap wajah Se Hun sambil merapalkan mantra voodoo yang ia ingat dari salah satu novel yang pernah ia baca—berharap itu bekerja. Sebenarnya kepala pria ini terbuat dari apa, sih?!

“Bisakah kau menganggapku tidak ada? Tolong, aku sedang sibuk dengan diriku sendiri.” Ucap Seo Ah, lebih tepatnya memohon. Baru kali ini ia memohon pada seseorang yang sangat dibencinya.

“Aku bukan tipe orang yang bisa meninggalkan orang yang kukenal sedang terluka, begitu saja.” Se Hun pun meminum tonik yang tadi ia tawarkan untuk Seo Ah.

“Apa kita saling mengenal?”

Se Hun melirik Seo Ah sambil masih meminum toniknya. Wanita ini benar-benar….

“Ya… mungkin tidak,” jawab Se Hun. Ia melempar botol tonik yang sudah kosong itu ke arah tong sampah dengan gaya seperti pemain basket, dan bang! Masuk! “Tapi aku ingat ada seorang wanita yang tidak sadarkan diri di rumahku. Dan… wanita itu mirip denganmu.”

Seo Ah tidak berkutik. Pria ini memiliki lidah yang tajam di setiap sisinya. Ia selalu bisa mencari celah dari amarah Seo Ah, membalikkan keadaan, sehingga Seo Ah—yang biasanya ahli meluapkan emosinya—harus pintar-pintar menahan diri agar tidak langsung membunuhnya. Itu kejadian lama, ya… kalau empat hari bisa dihitung lama. Seo Ah sudah mencoba melupakan itu, bahkan ia rela melupakan rasa bencinya pada Se Hun. Tapi kalau begini, tidak ada pilihan lain selain lebih membenci pria itu.

“Terserah!”

Seo Ah memakai sepatunya dengan cepat lalu beranjak dari kursi itu. Ia mendorong sepedanya dengan langkah terseok. Rasa nyeri itu mulai menjalar dari pergelangan kakinya. Seo Ah jadi sangsi kalau ini bukan hanya terkilir biasa.

“Kau perlu bantuan? Aku bisa mengantarmu—“

“Maaf, Se Hun-ssi,” menghentikan langkahnya, Seo Ah berbalik menghadap Se Hun yang setia mengikuti di sampingnya. “Aku membencimu—apa itu kurang jelas? Jadi, segera menjauh dariku sebelum aku melemparmu ke dalam sana.” Seo Ah menunjuk ke arah sungai.

“Apa kau yakin bisa melakukannya? Dengan kaki seperti itu?”

YA!”

Se Hun tersenyum tipis ketika Seo Ah berteriak kasar padanya. Mengendalikan wanita bertempramen tinggi seperti Choi Seo Ah adalah hal yang mudah. Itulah kenapa Se Hun senang sekali menggodanya. Lihat, bahkan bantuan tulus Se Hun dianggap kotoran bagi wanita itu. Padahal akan jauh lebih mudah kalau Seo Ah menerimanya dan kemudian mereka bisa mengobati lukanya itu. Kalau begini, Seo Ah sendiri yang susah.

“Aku benar, kan? Berjalan saja kau kesulitan, apalagi melemparku ke sana.” sahut Se Hun tenang, ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil tersenyum miring.

Seo Ah tampak membuang nafas kasar. “Dengar ya, Se Hun-ssi. Jangan kaukira aku bisa terperangkap ke permainanmu dengan kau bersikap seperti itu. Selamanya aku akan terus membencimu! Aku bisa saja membuatmu jauh lebih menderita dari yang Ji Eun alami gara-gara kau!”

Ah… Lee Ji Eun. Mendengar nama itu entah kenapa Se Hun kehilangan semangatnya. Rasanya ada sesuatu yang bergejolak di dadanya, dan itu tidak bagus. Berusaha untuk tidak berkata kasar pada wanita di hadapannya ini, Se Hun memejamkan mata dan mengatur nafas. Kalau satu kata keluar dari mulut Se Hun tentang Lee Ji Eun keluar, ia tidak yakin apa yang akan Choi Seo Ah lakukan.

“Kau diam? Jadi sekarang kaupaham maksudku?” tanya Seo Ah.

Se Hun mengangkat kepalanya, ia kembali mengeluarkan senyum yang bisa membuat wanita manapun jatuh pingsan dengan hidung mengeluarkan darah. Ya… kecuali Seo Ah. “Tentu saja. Pewaris Sungjin dengan IQ 152 tidak mungkin tidak paham dengan kalimat sederhana itu.”

Meski jengkel, Seo Ah menjawab. “Baguslah. Jadi menjauh dari—“

Kring! Kring!

“MAAF!”

Seo Ah tidak yakin bagaimana kejadiannya sampai-sampai sekarang wajahnya berhadapan dengan leher putih Oh Se Hun yang berkeringat sebesar biji jagung. Kedua tangannya bertumpu pada dada bidang pria itu, merasakan jelas detak jantungnya. Tanpa sadar Seo Ah menahan nafas, seolah ia takut aroma memabukkan dari tubuh Se Hun mempengaruhi kerja otaknya. Apalagi matanya melihat urat leher Se Hun dan jakunnya yang bergerak. Tidak! Ayo sadar, Choi Seo Ah! Dia adalah pria yang harus kaubenci!

“Kau baik-baik saja?”

Se Hun menunduk, menatap Seo Ah yang masih belum bisa bergerak—dan bahkan berkedip—di pelukkannya. Se Hun masih belum menyadari kalau mental Seo Ah sedang tidak baik-baik saja sekarang, dan hanya mengumpat pada pria pengantar jajangmyun yang sudah berada di ujung jalan sana.

“Seo Ah-ssi, kau baik-baik saja?” ulang Se Hun karena Seo Ah tidak juga menjawab.

“A-Apa—aww!”

Sadar kalau posisi mereka sangat dekat, dan hanya dibatasi oleh sepedanya, buru-buru Seo Ah mendorong dada Se Hun. Tapi ketika itu pula Seo Ah kembali merasakan sakit di pergelangan kakinya yang semakin hebat. Tarikkan tiba-tiba Se Hun tadi secara tidak sengaja membuat Seo Ah kembali melukai pergelangan kakinya.

Mendengar pekikkan Seo Ah, Se Hun berjongkok untuk memeriksa kaki Seo Ah. Wanita itu menghindar, tapi Se Hun buru-buru menangkap pergelangan kaki kanan Seo Ah. Se Hun berdecak kemudian. Lihat, lihat, sudah bengkak begini, Choi Seo Ah masih ingin menolak bantuannya?

“Tunggu di sini, aku akan mencarikan kompres untuk kakimu.”

“Sudahlah—“

“Kubilang tunggu.”

Seo Ah langsung mengatupkan bibirnya ketika melihat kilatan di mata Se Hun. Pria itu bersungguh-sungguh, membuat Seo Ah tidak berkutik. Dari pertama ia mengenal Se Hun, baru kali ini Seo Ah merasa takut. Bukan takut seperti ya… ingin melarikan diri, tapi lebih ke ‘menurut’. Seo Ah merasa kalau ia tidak menuruti ucapannya, pria itu akan berbuat hal yang jauh lebih gila.

***

                Lima belas menit menunggu di atas rerumputan, akhirnya Seo Ah melihat Se Hun datang dengan membawa dua kantong plastik kecil. Dalam hati, Seo Ah mengumpat. Biarpun ini masih musim gugur, udara malam di tepi sungai cukup membuatnya menggigil. Dan Seo Ah hanya memakai kaus lengan panjang dan celana olahraga, tidak seperti Se Hun yang masih bisa menahan diri dibalik jaket, terlebih dia seorang pria.

“Kukira kau tidak menungguku.” Ucap Se Hun ketika sampai di tempat Seo Ah. Ia pun langsung duduk di sebelah Seo Ah dan membuka bungkusan yang ia bawa.

Seo Ah tidak menjawab, hanya mendecih pelan. Sudah ia duga. Memang harusnya Seo Ah tidak mendengar ucapan pria ini tadi.

“Sini kakimu.”

Tapi Se Hun tidak menunggu jawaban Seo Ah, karena pria itu menarik kaki kanan Seo Ah dan membawanya ke pangkuan. Dilepasnya sepatu Seo Ah sehingga pergelangan kaki yang bengkak dan sudah memerah itu terlihat. Seo Ah meringis saat Se Hun menyentuhnya. Ini jauh lebih parah dari yang dibayangkan.

Se Hun mengeluarkan satu kantung es batu lalu mengompres pergelangan kaki Seo Ah dengan itu. “Sepertinya kita harus ke rumah sakit.”

“Tidak perlu! Hanya terkilir sedikit.”

Se Hun mengangkat kompresan dan menunjuk pergelangan kaki Seo Ah dengan lirikan tajam. “Apa kau bodoh? Kakimu sampai membiru begitu! Aku tidak yakin kalau dokter tidak menyarankan kakimu diamputasi.”

“Hei—“

Se Hun memotong ucapan Seo Ah dengan decakan dan kembali mengompres kaki Seo Ah. Akhirnya Seo Ah pun ikut diam. Suasana ini benar-benar canggung. Bagaimana mengatakannya… ia membenci Se Hun, tapi pria ini sudah membantunya, jadi… haruskah Seo Ah kembali meneriakinya? Melarikan diripun percuma karena kakinya benar-benar sakit.

Tapi terlepas dari itu, Seo Ah mulai berpikir kalau Se Hun tidak sebrengsek sebelumnya. Maksudnya, ia tetap ingin menolong Seo Ah meskipun jelas-jelas Seo Ah membencinya. Dan Se Hun terlihat—seperti—tulus melakukan itu, meski diselingi beberapa gerutuan karena Seo Ah terus menggerakkan kakinya ketika ia menyentuh bagian tersakit. Entahlah, ini mungkin modus baru untuk meluluhkan hati wanita keras. Pokoknya Seo Ah tidak boleh terperdaya oleh wajah luar biasa tampan itu.

“Kau mau?”

“Eh?”

Seo Ah berhenti menatap wajah Se Hun ketika sekaleng kopi terulur di depannya. Seo Ah pun menerimanya untuk menutupi wajahnya yang memanas. Semoga Se Hun tidak menyadari kalau sedaritadi Seo Ah memperhatikan profilnya dari samping.

“Terima kasih.” Gumam Seo Ah, lalu membuka kaleng kopi itu.

Se Hun menurunkan kaki Seo Ah dari pangkuannya setelah melap kaki Seo Ah dan memberikan krim panas di area yang bengkak. Ia kemudian meminum kopi kaleng miliknya sambil menatap aliran sungai yang tampak seperti kaca hitam besar. Kerlipan lampu dari bangunan di sekitarnya membuat sungai itu berkilauan, dan menciptakan suasana tenang di tengah desiran angin dingin.

“Sudah berapa lama kau mengenal Lee Ji Eun?”

Seo Ah cukup kaget dengan pertanyaan Se Hun itu, namun ia masih bisa mengendalikan dirinya. Beberapa kali ia sempat membawa nama Ji Eun, pria ini tampak tidak begitu menyukainya. Tapi sekarang Se Hun-lah yang pertama kali membawa topik tentang Ji Eun.

“Kami berteman sejak masuk kuliah.” Jawab Seo Ah dengan lirikan di ujung matanya. Ia ingin tahu reaksi Se Hun.

“Ternyata sudah sangat lama…,” gumam Se Hun, mirip hanya sebuah desahan. “Jadi apa saja yang sudah dia ceritakan padamu?”

“Semuanya. Tentang semua ucapan manis yang pernah kauucapkan untuknya, bagaimana kau menyakitinya, dan kau membuang seperti sampah. Se-mu-a-nya.”

Berbeda dari waktu itu, Seo Ah kali ini bisa mengendalikan dirinya. Ia tidak berteriak, tapi nada bicaranya mengandung banyak sekali sinisme. Tiba-tiba saja rasa benci itu kembali naik. Padahal beberapa menit yang lalu Seo Ah memuji Se Hun karena sudah mau menolongnya. Ck, pria ini benar-benar….

“Dan kau membenciku karena itu?”

“Tentu saja!”

Oke, Seo Ah mulai kehilangan kendali. Ia hampir ingin melempar kaleng di tangannya ke wajah sok tenang Oh Se Hun itu. Lihat, bukannya takut, Se Hun malah terkekeh dan meminum kopinya dengan tenang, seolah ucapan Seo Ah tadi hanya gertakkan anak kecil.

“Apanya yang lucu?!” merasa tersinggung, Seo Ah akhirnya bertanya.

“Tidak. Aku hanya tidak percaya kau membenciku karena itu,” jawab Se Hun, masih dengan senyuman. Se Hun pun melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan, seperti bisikan. “Apakah kau masih membenciku kalau tahu yang sebenarnya?”

“Apa?”

“Bukan apa-apa.” Se Hun memutar kepalanya dengan cepat. Ia pun menepuk pahanya sekali sebelum akhirnya bangun dan meregangkan tubuhnya. “Ayo, aku antar kau pulang.”

Seo Ah mendecih lalu membuang wajahnya. “Tidak perlu. Aku bisa menelepon orang rumah untuk menjemputku.”

“Aku membawa mobil, dan sepertinya rumahmu tidak jauh dari sini.” Jawaban Se Hun tidak serta merta membuat Seo Ah menoleh. “Ayolah, anggap ini sebagai permintaan maaf. Bagaimanapun aku juga ikut membuat kakimu tambah parah.”

Karena Se Hun membawa hal itu, Seo Ah kembali mengingat kejadian tadi. Ia berada di pelukan Se Hun, mencium aroma maskulin yang bercampur dengan keringat, merasakan detak jantung dan menyentuh dada bidang pria itu, leher yang putih… ah, sial! Buang pikiran kotormu itu, Choi Seo Ah! Seo Ah pun menggelengkan kepalanya untuk mengeyahkan pikiran liarnya tentang leher jenjang Se Hun.

“Jadi bagaimana?”

Seo Ah refleks memundurkan punggungnya sampai menyentuh tanah saat tiba-tiba wajah Se Hun sudah ada di depannya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Mata coklat itu memantulkan wajahnya yang terlihat panik dengan mata membulat. Dan sebelum Seo Ah sadar, Se Hun sudah menarik tangannya sehingga ia bisa berdiri di atas kakinya yang nyeri dan… lemas.

“Sepertinya kau setuju dengan ideku. Ayo!”

***

Mobil sedan berwarna hitam itu berhenti di depan rumah keluarga Choi, tepat ketika Jeong Min baru saja menyalakan alarm mobilnya. Dilihatnya seorang pria turun dari mobil itu dan langsung menuju bagasi belakang. Kerutan di dahi Jeong Min semakin bertambah ketika ia melihat Seo Ah juga turut keluar dari sana. Dilihat sekilas, pria itu bukanlah Kim Jong In—dan seingat Jeong Min pula, Jong In sedang ada di Amerika. Jadi, sejak kapan Seo Ah dekat dengan pria lain? Selingkuhan?

“Oh, Min-a.”

Suara Seo Ah itu membuat Se Hun yang sedang mengeluarkan sepeda Seo Ah dari bagasi ikut menoleh. Dengan langkah terpincang, Seo Ah mendekati pria itu. Melihat ada yang aneh dengan Seo Ah, pria itu mempercepat langkahnya dan langsung merangkul pundak Seo Ah. Mereka terlihat dekat sekali.

“Kakimu kenapa?”

“Dia terjatuh ketika bersepeda tadi, dan kakinya terkilir sampai bengkak.” Jawab Se Hun, sebelum Seo Ah membuka suara. Ia pun menyerahkan sepeda Seo Ah kepada wanita itu.

“Dan… kau siapa?”

Se Hun tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. “Oh Se Hun.”

Jawaban Se Hun tidak membuat Jeong Min puas. Tapi sebelum Jeong Min bertanya lagi, pegangan tangan Seo Ah di lengannya yang menguat, membuat Jeong Min menoleh cepat. Sepertinya bukan hanya kaki Seo Ah yang terkilir, tapi juga otaknya. Seo Ah tidak pernah mau sedekat ini dengannya.

“Choi Seo—“

“Ini suamiku. Lee Jeong Min.” Ucap Seo Ah dengan dagu terangkat. Jeong Min pun membulatkan matanya.

Y-Ya—“

“Kami baru saja menikah bulan lalu. Iya, kan, suamiku?”

Di antara nada bicara Seo Ah, terselip ancaman untuk Jeong Min. Dari tatapan itu Jeong Min bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya kalau ia tidak mengikuti permainan Seo Ah. Mungkin bukan hanya koleksi Gundamnya yang menjadi korban, tapi juga koleksi majalah dewasa yang ia sembunyikan di bawah kasur.

“Y-Ya, begitulah.” Jeong Min mengangguk kaku. “Anggap saja begitu—aww!”

Seo Ah melemparkan tatapan membunuh untuk Jeong Min sekali lagi.

“Maksudku, aku suaminya.”

“Nah, Se Hun-ssi, aku yakin kau bukan tipe pria yang suka merayu istri orang, kan?” tanya Seo Ah sarkastik. Secara tidak langsung, ia meminta Se Hun tidak lagi berhubungan dengannya.

Se Hun diam beberapa saat untuk mencerna ucapan Seo Ah. Reaksi Se Hun yang seperti itu malah membuat Seo Ah salah tingkah. Ia pun semakin mengeratkan rangkulannya di tangan Jeong Min, lalu menyenderkan kepalanya di bahu kembarannya itu.

“Ah, baiklah, aku mengerti.” Se Hun mengangguk dan mengangkat sebelah tangannya. Ia pun tersenyum lembut kepada mereka berdua. “Maaf sudah mengganggu malam kalian. Dan… selamat atas pernikahan kalian.”

“Hm, okay….” komentar Jeong Min pendek, lebih ke arah tidak tahu harus mengatakan apa.

“Aku pergi dulu.”

Se Hun kembali mengangguk lalu berbalik menuju mobilnya. Ia menatap Seo Ah sekali lagi sebelum masuk ke dalam mobil. Seo Ah malah semakin bermesraan dengan Jeong Min, membuat Se Hun tidak ada pilihan lain selain cepat-cepat pergi dari sana. Seo Ah dan Jeong Min sedikit menepi ketika mobil Se Hun melewati mereka. Dan akhirnya, mobil Se Hun pun menghilang di tikungan.

“Bawakan sepedaku.” Seo Ah menyerahkan sepedanya kepada Jeong Min, sedangkan ia sendiri terpincang-pincang masuk ke dalam rumah. Jeong Min pun hanya bisa menghela nafas dan menuruti Seo Ah.

Tanpa Seo Ah dan Jeong Min sadari, mobil Se Hun berhenti beberapa meter setelah tikungan rumah Seo Ah. Bukan karena mogok atau tiba-tiba Se Hun terkena serangan jantung karena mengetahui kenyataan yang baru ia terima, tapi karena pria itu sibuk menahan sakit perutnya akibat terlalu banyak tertawa. Masih teringat jelas di otaknya bagaimana ekspresi Seo Ah tadi. Suami? Oh, ayolah… itu hal terkonyol yang pernah Se Hun dengar.

Se Hun tahu persis bagaimana hubungan Seo Ah dengan pria bernama Lee Jeong Min itu. Mereka tidak memiliki hubungan sedarah, tapi juga bukan hubungan romantis semacam suami-istri, atau paling tidak kekasih. Semua data yang diberikan Jun Myeon sudah termasuk hubungan Seo Ah dan Jeong Min. Se Hun menjadi tertawa sendiri ketika mendengar ucapan konyol Seo Ah itu. Kentara sekali kalau Seo Ah tidak pandai berbohong.

“Kau membuatku semakin ingin mendekatimu, Choi Seo Ah.” Dan Se Hun kembali tertawa, sebelum akhirnya melajukan mobilnya.

***

                “Aku ingin mengambil cuti.”

Bo Mi, yang baru meletakkan sepotong Black Forest di meja Seo Ah, mengangkat sebelah alisnya. Ia pun kemudian duduk di sebelah Seo Ah. Meski kafenya ini sedang ramai, Bo Mi tetap memilih menemani Seo Ah daripada melayani pelanggan. Hampir seminggu mereka tidak bertemu, dan ketika di pertemuan pertama mereka setelah seminggu ini, Bo Mi malah disuguhkan dengan wajah ‘berantakan’ Seo Ah. Ia pun tidak bisa berbuat banyak selain mendengar keluh kesah Seo Ah.

“Aku ingin menemui Jong In ke New York.” Lanjut Seo Ah.

“Kenapa? Kalian bertengkar lagi?”

Seo Ah menghela nafas. “Mungkin… entahlah. Dia tidak menghubungiku sejak seminggu yang lalu.”

Bo Mi hanya menghela nafas. Hubungan Seo Ah dan Jong In sudah melangkah ke arah yang tidak sehat. Bo Mi tahu kalau Seo Ah sudah tidak nyaman di posisinya, terlebih sepertinya Seo Ah tahu kalau Jong In selingkuh di sana. Tapi—entah apa yang ada di kepala wanita itu—sampai detik ini, ia masih mempertahankan hubungannya dengan pria brengsek itu. Dan dengan bodohnya Seo Ah selalu menerima apa saja alasan yang dibuat Jong In. Kalau Bo Mi tidak sabar diri, ia sudah mencekoki Seo Ah dengan krim kocok andalan kafenya.

“Waktu itu ada wanita lain yang mengangkat teleponnya, dan aku marah. Tapi setelah itu, dia malah balik memarahiku karena aku mabuk.”

“Kau tahu, Seo Ah-ya, bahkan aku yang mendengarnya saja sudah pegal. Tidak bisakah kau mengakhiri saja hubungan kalian?”

“Aku yakin semua akan jauh lebih baik nanti.” Seo Ah menggerakkan telunjuknya di bibir cangkir Moccachino-nya.

“Nanti? Kapan? Ketika Jong In kembali ke Korea dengan seorang wanita hamil?!”

“Yoon Bo Mi.”

“Ini memang masalahmu, tapi aku juga tidak bisa diam saat kau disakiti.” Ucap Bo Mi dengan nada lebih lembut.

Bo Mi meraih tangan Seo Ah dan mengusap punggung tangan sahabatnya. Seo Ah memang jauh lebih kuat dari Ji Eun, dan ia juga percaya kalau Seo Ah tidak akan merusak dirinya seperti Ji Eun. Sudah cukup Ji Eun yang tersakiti karena seorang pria brengsek, Bo Mi tidak mau Seo Ah juga mengalaminya.

“Oleh karena itu aku ingin menemuinya. Aku… aku ingin memperbaiki hubungan ini.”

Seo Ah tidak sepenuhnya jujur dengan alasannya. Lebih dari ingin memperbaiki hubungan, Seo Ah ingin mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia ingin memastikan bahwa mimpi buruk yang selalu membayanginya itu tidak benar. Jong In adalah miliknya, dan mereka saling mencintai. Meski dikenal playboy, Seo Ah adalah satu-satunya untuk Jong In.

Sepertinya….

“Baiklah, terserahmu saja.” Bo Mi akhirnya menyerah dan tersenyum tipis, menggambarkan kalau ia mendukung keputusan Seo Ah. “Jadi, apa kau sudah menemui Ji Eun?”

Seo Ah meletakkan kembali cangkir Moccachino-nya. “Belum. Bagaimana keadaannya?”

“Semakin membaik. Makanya coba temui dia dan berikan semangat, kalau perlu marahi saja.”

“Kau tahu sendiri kan, si Kim Seol Hyun itu benar-benar diktraktor!”

Suasana hati Seo Ah berubah seketika. Kalau tadi rasanya ia ingin menangis ketika mengingat Jong In, kali ini Seo Ah ingin melempar sesuatu untuk meluapkan amarahnya. Atasannya itu benar-benar gila, meski faktanya mereka seumuran. Apa yang dilakukan Seo Ah seperti selalu salah di matanya. Bahkan Seo Ah rela jam makan siangnya terpotong gara-gara Manajer Nenek Sihir itu selalu meneleponnya ketika istirahat.

Drrt! Drrt!

Seo Ah menghela nafas, dan mau tidak mau membalik ponselnya yang terlungkup di atas meja. Sesuai dugaannya, Manajer Kim mulai mengganggu hidupnya. Mungkin Kim Seol Hyun ini umurnya akan panjang karena Seo Ah selalu menghujatnya dalam hati.

“Lihat. Panjang umur sekali.” Seo Ah menggoyangkan ponselnya di depan wajah Bo Mi. Ia sama sekali tidak berniat mengangkat panggilan itu, sampai akhirnya sambungan terputus.

Bo Mi berdecak sambil menggeleng. “Pergilah. Sebelum kepalamu dipenggal.”

“Nenek Sihir itu….”

Meski enggan, Seo Ah pun memasukkan ponselnya ke saku celana lalu meraih dompetnya, sementara Bo Mi masuk ke dapur. Ponsel itu masih terus bergetar, tapi Seo Ah mengabaikannya. Setidaknya nanti Seo Ah bisa membuat alasan kenapa ia tidak mengangkat teleponnya.

Bo Mi menghampiri Seo Ah lagi ketika wanita itu siap meninggalkan kafenya. Bo Mi menyerahkan satu paket makanan berisi cokelat panas dan seiris Cheese Cake kesukaan Ji Eun untuk dibawa Seo Ah. Wanita itu juga menyuruh Seo Ah untuk menemui sahabat satunya itu sebelum kembali bekerja, dan tentunya ditambah omelan-omelan khas Yoon Bo Mi. Seo Ah tidak punya pilihan lain selain mengiyakan ucapan sahabatnya.

Ponsel Seo Ah tidak lagi bergetar ketika ia masuk ke dalam mobilnya. Rupanya Nenek Sihir Kim itu lelah menghubunginya. Melegakkan—karena Seo Ah tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada ponselnya kalau tetap bergetar padahal dia sudah ada di depan butik Ji Eun. Bisa saja ia menghancurkan butik Ji Eun dengan melempar ponselnya sampai meledak.

Jarak kafe Bo Mi dengan butik Ji Eun tidak begitu jauh, hanya terpisah tiga blok. Ada perasaan iri di hati Seo Ah, ia juga mau mempunyai tempat kerja berdekatan dengan mereka. Tapi sekali lagi, Choi Seo Ah tetap Choi Seo Ah. Ia tidak mempunyai bakat memasak seperti Yoon Bo Mi—makanan terhebat yang pernah ia buat hanyalah pasta. Kemampuan gambarnya juga lebih buruk dari anak TK, jadi jangan harap Seo Ah mau mengikuti jejak Ji Eun atau paling tidak membuka studionya sendiri. Yang bisa dibanggakan Seo Ah hanya kemampuan mengetiknya, menghitung, dan presentasi—meski itu masih dianggap ‘buruk’ untuk standar seorang Manajer Kim.

Ia juga pernah berpikir untuk pindah haluan ke bidang hukum, seperti ibunya, atau mencoba sekolah kedokteran, seperti Jeong Min. Tapi, baru melihat ibunya mengeluarkan berkas perkara seorang klien, Seo Ah sudah migrain duluan. Dan Seo Ah pun tidak suka rumah sakit. Ya, beginilah jalan hidup seorang Choi Seo Ah.

Karena jalanan agak tersendat tadi, sepuluh menit kemudian, Seo Ah sampai di depan butik Ji Eun. Tidak begitu ramai, juga tidak begitu sepi. Brand milik Lee Ji Eun diperuntukan oleh orang kalangan menengah ke atas, tapi tidak jarang beberapa anak muda datang hanya untuk melihat-lihat. Memasuki butik, Seo Ah pun disambut oleh seorang pegawai Ji Eun yang langsung mengenalinya. Bagaimanapun Seo Ah dan Bo Mi sudah sering datang ke sini, meski tanpa membeli apa-apa.

“Apa Ji Eun ada?”

Sajangnim sedang ada di studionya. Nona bisa langsung masuk ke sana.” jawab pegawai itu dengan sangat sopan. Seo Ah jadi tersipu sendiri diperlakukan seperti ini.

“Baiklah, terima kasih.”

Seo Ah menaiki tangga menuju lantai dua, lalu berbelok ke arah kiri. Di ujung koridor, terdapat sebuah pintu bercat cokelat dengan tulisan ‘studio’. Seo Ah mengetuk pintu itu dua kali sebelum membukanya.

“Lee Sajangnim, apa Anda sibuk?”

Lee Ji Eun, yang tengah sibuk menggambar di atas sebuah sofa, mengangkat kepalanya dari sketsa. Senyum sumringahnya langsung terbit begitu melihat kepala Seo Ah menyembul dari balik pintu. Ji Eun pun meletakkan sketsanya ke atas meja, lalu bangkit dari sofa, bersamaan dengan Seo Ah yang mendekatinya dan langsung memeluknya.

“Aku merindukanmu….” ucap Ji Eun dalam pelukan Seo Ah.

“Aku juga.” Seo Ah melepaskan pelukannya. Ia pun memperhatikan sosok Ji Eun dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. “Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa baikan?”

“Jauh lebih baik.”

Meski begitu, Seo Ah malah berpikir sebaliknya. Ji Eun memang tersenyum, tapi sorot matanya masih menyimpan sebuah rasa sakit yang dalam. Wajah wanita itu terlihat lebih tirus, dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Tapi Seo Ah tidak membahas itu, karena ia tahu Ji Eun akan membantahnya sekuat tenaga—mengatakan itu hanya akibat terlalu keras bekerja. Tidak ada lagi Lee Ji Eun si pemilik senyum malaikat yang dicintai semua pria.

Terus diperhatikan dengan tatapan iba oleh Seo Ah, Ji Eun pun mulai mengalihkan topik. “Kau mau minum apa?”

“Apa saja.” Seo Ah akhirnya menghela nafas dan memilih duduk di salah satu sofa. “Oh, iya, Bo Mi menitipkan ini untukmu.” Ia pun meletakkan kotak kue ke atas meja.

“Kebetulan sekali aku sedang menginginkan makanan manis.” Kata Ji Eun sambil meletakkan sekaleng jus apel di hadapan Seo Ah, lalu membuka kotak kue kafe Bo Mi.

Seo Ah tidak membalas apapun, hanya memperhatikan Ji Eun yang sudah mencolek krim keju di kuenya lalu beranjak untuk mencari garpu. Tubuh ringkih itu seolah bisa dihempas angin begitu saja. Dress yang biasanya terlihat pas ditubuh Ji Eun yang tidak terlalu kurus juga tidak gemuk, kini terlihat hanya seperti potongan kain tidak berarti. Padahal baru dua minggu Ji Eun mengalami masa-masa tersulitnya, tapi Seo Ah seperti tidak mengenali sosok yang sudah duduk di hadapannya ini.

“Ji Eun-a.”

“Hm?” Ji Eun mengalihkan perhatian dari Cheese Cake-nya.

“Apa ada yang kausembunyikan dariku dan Bo Mi?” tanya Seo Ah dengan nada pelan. “Tentang… Oh Se Hun.”

Wajah Ji Eun mendadak menjadi kaku. Jemarinya yang menggenggam garpu kecil itu mulai bergetar. “A-Apa maksudmu?”

“Kau terlihat sangat tertekan. Kau tahu, kalau kau masih belum bisa menceritakannya pada orangtuamu, kau bisa menceritakannya pada—“

“Tidak ada apa-apa.”

Seo Ah langsung mengatupkan mulutnya ketika Ji Eun memotong. Dari aura dan nada bicara Ji Eun, dia benar-benar tidak mau membahas itu sekarang.

Sebenarnya ada alasan lain kenapa Seo Ah menanyakan hal itu pada Ji Eun. Pertemuan keduanya dengan Se Hun membuat pandangan Seo Ah terhadap pria itu sedikit—sangat sedikit—berubah. Se Hun tidak sebrengsek yang dipikirkan Bo Mi, juga tidak sejahat yang diceritakan Ji Eun. Bahkan pria itu menolongnya meski Seo Ah terus menolak, bahkan sampai mengumpatnya. Oleh karena itu mungkin saja ada beberapa fakta yang tidak diketahui olehnya—atau tidak boleh diketahui.

Dan satu kalimat Se Hun samar-samar membekas di kepalanya.

————-“Tidak. Aku hanya tidak percaya kau membenciku karena itu. Apakah kau masih membenciku kalau tahu yang sebenarnya?”

 

Yang sebenarnya?

“Perpisahan kami tidak berjalan baik, Seo Ah-ya. Itulah kenapa aku tidak bisa menceritakannya,” jawab Ji Eun. Ia menghela nafas berat untuk menghalau air matanya. “Ini terlalu menyakitkan.”

Seo Ah menggigit bibirnya lalu meraih tangan Ji Eun. Ia merasa bersalah. “Maafkan aku.”

Ji Eun tersenyum. “Aku akan mencoba berbicara lagi dengan Se Hun oppa. Aku harap kali ini dia mau mendengarkanku.”

“Apa yang akan kaubicarakan?”

“Sesuatu yang harus diperbaiki.”

***

                Seo Ah baru saja duduk di kursinya, setelah rapat usai, ketika seorang rekan kerjanya menghampirinya sambil membawa sebuah paket yang dibungkus cantik dan sebuket kecil bunga mawar . Park So Dam meletakkan paket itu di meja Seo Ah. Ia melemparkan senyum menggoda untuk Seo Ah.

“Apa ini?” tanya Seo Ah dengan dahi berkerut. Ia bergantian melirik barang-barang yang diletakkan So Dam dan Park So Dam sendiri.

“Kenapa bertanya padaku?” masih dengan senyum menggoda, So Dam menjawab.

“Hah?”

“Ada kiriman khusus untuk Asisten Manager Choi, dari seseorang. Hm… kelihatannya Anda mempunyai seorang penggemar rahasia.” So Dam menyenggol bahu Seo Ah dengan bahunya.

“Dari siapa?”

“Bukankah sudah kubilang ‘penggemar rahasia’? Artinya, tidak ada nama pengirimnya.”

“Kalau begitu, ini mencurigakan!”

“Eiy!” So Dam langsung menahan tangan Seo Ah yang hendak membuang barang-barang cantik itu ke tempat sampah. “Mana ada yang ingin mencelakai Anda dengan bunga mawar.”

“Tapi tetap saja mencurigakan!”

“Pokoknya, buka saja dulu. Kalau Anda tidak suka, Anda bisa memberikannya padaku.” Ucap So Dam, ia pun memberikan sebuah wink sebelum akhirnya kembali ke tempatnya.

Seo Ah tidak punya pilihan lain selain mengikuti saran So Dam. Lagipula ia jarang mendapat kiriman paket di kantor, siapa tahu ini dari salah satu kliennya. Membuka pita pengikat benda berbentuk kotak itu, Seo Ah kemudian merobek sebagian kertas pembungkus yang berwarna merah muda itu. Sebuah ukiran tulisan ‘Brown-Eyed Girl’ yang ditulis dengan tinta ungu, dan tulisan besar Lisa Kleypas di atasnya, membuat dahi Seo Ah berkerut. Seo Ah pun akhirnya merobek seluruh kertas pembungkusnya.

Novel?

Berbahasa Inggris?

Karena tidak memiliki ide apa yang harus ia lakukan dengan buku itu selanjutnya, Seo Ah pun memeriksa buket bunga yang juga ia terima. Di antara tangkai-tangkai mawar itu, terselip sebuah kartu. Hah… sebenarnya Seo Ah benci hal yang merepotkan, tapi ia tetap mengambil kartu itu untuk mengobati rasa penasarannya.

 

————“Saat pertama kali melihat judulnya, aku langsung teringat olehmu. Tidak tahu sebenarnya novel ini tentang apa, aku hanya ingin memberikannya padamu. Semoga kau suka :)”

 

Seperti yang dikatakan So Dam, sama sekali tidak ada nama pengirimnya. Apa mungkin ini dari Jong In? Yah… mungkin saja pria itu sedang meminta maaf padanya. Tapi meski kemungkinannya kecil, itu tetap saja ada. Seo Ah tidak akan bisa hidup tenang kalau belum menyelesaikan masalah ini. Ia pun akhirnya menelepon Jong In.

“Halo?” Jong In mengangkat di dering keempat.

“Sudah tidur?” tanya Seo Ah sambil memeriksa jam kecil di atas mejanya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dan di sana pasti sudah hampir tengah malam.

“Belum, aku baru saja habis mandi. Kenapa menelepon?”

Meski nada bicara Jong In terdengar biasa saja, entah kenapa Seo Ah kesal sendiri. Maksudnya, mereka sudah seminggu tidak berhubungan, dan ketika Seo Ah meneleponnya pertama kali, kalimat itu yang dikeluarkan pria itu. Apa tidak salah?! Tidak ada ungkapan rindu atau apapun?

“Apa tidak boleh?” Seo Ah bertanya balik. “Kita sudah seminggu tidak berhubungan, tau!”

“Baiklah, baiklah, maafkan aku.” Ucap Jong In akhirnya. “Aku sangat sibuk belakangan ini.”

Seo Ah menghela nafas. “Baiklah.”

“Jadi… apa yang sedang kaulakukan? Kau masih di kantor?”

“Hm,” jawab Seo Ah. “Omong-omong apa kau yang mengirimiku buku?”

                “Buku…. ah! Iya! Itu dariku.”

Seo Ah mengerutkan dahinya mendengar nada aneh Jong In. “Benarkah?”

“Aku membelinya karena tiba-tiba teringat olehmu. Apa kau menyukainya?”

Kerutan di dahi Seo Ah digantikan oleh sebuah senyum tipis. Ia menyenderkan punggungnya ke punggung kursi. Ada perasaan lega ketika tahu Jong In masih memikirkannya. Jadi, masih boleh kan kalau Seo Ah berharap hubungan mereka akan membaik?

“Ya… meski aku tidak suka novel seperti ini, tapi akan kubaca.” Jawab Seo Ah. “Terima kasih.”

“Bukan apa-apa, aku senang kalau kau senang.”

Baru Seo Ah ingin memuji Jong In, atau paling tidak mengungkapkan perasaan rindunya, Jong In sudah memotong ucapannya dan mengatakan kalau ada panggilan lain yang masuk ke ponselnya. Tanpa menjelaskan lebih lanjut—hanya berkata itu dari orang penting—Jong In pun memutuskan panggilan, dengan sebelumnya menyelipkan ‘aku mencintaimu’.

Tapi rasa itu berbeda.

Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, ketika Jong In mengatakan kata itu pertama kalinya. Atau ketika Jong In hanya sekadar memujinya manis saat berkencan. Perasaan mereka tidak lagi terhubung. Seo Ah justru merasa kehampaan, tapi entah karena apa.

Meletakkan ponselnya, Seo Ah menatap novel yang masih tersegel plastik itu. Gadis bermata cokelat—yah… Seo Ah memang bermata cokelat. Tapi apakah benar, bola mata cokelat mengingatkan Jong In akan Seo Ah?

***

                Jam makan siang kali ini, Seo Ah menghabiskan waktunya untuk membaca buku pemberian Jong In di atap gedung KeyEast Company. Atap gedung KeyEast Company terdiri dari dua bagian; satu bagian berupa taman kecil dengan bangku dan gazebo, dan satu lagi—yang berada beberapa meter lebih tinggi—merupakan sebuah lapangan luas yang dilengkapi helipad. Seo Ah memilih sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan jejeran bangunan pencakar langit Seoul, dengan novel, segelas es Moccachino dan sandwich tuna.

Angin yang berembus, sinar matahari yang teredam rindangnya pepohonan, membuat Seo Ah merasa tentram. Ia menghirup udara banyak-banyak. Seperti kebanyakan pegawai lainnya, Seo Ah juga jarang datang ke tempat ini. Ia hanya datang ketika sedang banyak masalah, lalu berteriak sekerasnya sampai tenggorokannya sakit. Tapi hari ini berbeda. Seo Ah datang dengan perasaan yang sangat tenang.

Novel ini sepenuhnya berbahasa Inggris. Dan meski beberapa kali Seo Ah harus mengerutkan dahi karena beberapa kosakata sulit, tapi entah kenapa Seo Ah menyukai alurnya. Rangkaian katanya mengalir dengan indah, sampai Seo Ah tidak sadar kalau hanya batu es yang tersisa di gelas Moccachino-nya.

Sampai sebuah langkah kaki masuk ke indra pendengaran Seo Ah, dan wanita itu mengangkat kepala. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah punggung tegap yang terbalut kemeja hitam. Seorang pria berjalan ke arah pagar pembatas lalu berhenti di jarak satu meter dari pagar, dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana. Angin yang berembus, membuat rambut cokelat pria itu terlihat menawan, terlebih dengan sinar matahari yang menciptakan siluet indah. Untuk beberapa saat Seo Ah terpaku dengan sosok itu, sebelum akhirnya pria itu berbalik dan bertatapan dengannya.

Oh Se Hun awalnya datang ke tempat ini untuk melepas penat setelah satu jam penuh rapat bersama petinggi KeyEast. Tadi itu adalah satu jam terburuknya karena omongan orangtuanya semalam terus saja teringang di kepala Se Hun. Bagaimana tidak, semalam, tiba-tiba saja orangtuanya mengundang Se Hun untuk makan malam bersama di rumah utama. Awalnya semua berjalan normal, sebelum mereka mulai membahas Lee Ji Eun. Ya, mereka akhirnya mengetahui kalau Se Hun membatalkan pertunangannya dengan Ji Eun.

“Kau membatalkan pertunangannya?” tanya ayah Se Hun, sambil mengiris steak-nya.

                Jujur, Se Hun cukup terkejut karena berita itu sudah sampai ke telinga orangtuanya, tapi ia masih bisa mengontrol ekspresi.

                “Iya.”

                “Kenapa? Kau bilang, Ji Eun adalah pilihan yang tepat.”

                “Semua tidak sama lagi, Abeoji.”

                “Jadi, kenapa?” kali ini ibu Se Hun yang bertanya.

                Sebenarnya, keluarga Se Hun bukan keluarga yang dingin. Tapi karena Se Hun adalah anak satu-satunya, ditambah dia seorang pria, ayahnya bersikap sedikit keras dalam mendidiknya. Meski begitu, mereka bukan pemaksa. Perjodohan ini pun awalnya hanya ditujukan untuk perkenalan saja, dan untuk ke depannya semua ditentukan oleh Se Hun maupun Ji Eun sendiri. Namun masalahnya, mereka sudah sampai tahap bertunangan, dan tanggal pernikahan pun sudah diputuskan. Tentu ini bukan masalah yang bisa diabaikan begitu saja.

                Malam tadi, Se Hun belum ingin mengatakan yang sebenarnya. Ia menunggu—lebih tepatnya terpaksa. Ia masih ingin memberi kesempatan untuk Lee Ji Eun memperbaiki kesalahannya, meski itu tidak merubah fakta kalau Se Hun tetap membatalkan pertunangan mereka. Tapi Se Hun pun tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi. Oleh karena itu, tanpa bisa dikontrolnya, mulut Se Hun mengucapkan kalimat yang membuat ibu dan ayahnya harus meletakkan alat makan mereka dan menatap Se Hun intens untuk beberapa detik.

                “Aku tidak ingin menikah dengan seorang wanita sampah.”

***

                “Apa kabar, Choi Seo Ah-ssi?”

Seo Ah dengan terpaksa menutup bukunya lalu berdiri dari kursi. KeyEast Company sekarang terasa jauh lebih buruk dari neraka terdalam. Tidak cukup dengan Kim Seol Hyun, sekarang ia harus bertemu dengan pria ini, di tempat yang paling ia benci.

“Mau ke mana?” dengan kurang ajarnya (sebenarnya, biasa saja. Hanya saja Seo Ah berpikiran kalau tindakkan Se Hun ini tidak sopan), Se Hun menggenggam pergelangan tangan Seo Ah untuk menahan kepergian wanita itu.

“Bukan urusanmu.”

Seo Ah mencoba melepaskan tangan Se Hun dari tangannya, tapi pria itu terlalu kuat.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Se Hun.

Seo Ah mengerutkan hidungnya. “Bukannya aku yang harusnya bertanya? Kukira kantormu itu bernama Sungjin.”

“Oh, tentu saja.” Akhirnya Se Hun melepas genggamannya dan terkekeh. “Aku ke sini untuk pekerjaan, kok.”

Rupanya Seo Ah termakan ucapan Se Hun. Seo Ah lupa kalau ia bisa saja kabur saat ini, dan malah memikirkan alasan Manajer Kim terlihat senang sepagian ini. Oh, tentu saja, manajer genit itu pasti kesenangan karena mendapat kunjungan Presdir Sungjin Group yang masih muda dan super tampan ini. Pantas saja Seo Ah belum terkena semprotannya.

“Duduklah.” Tanpa aba-aba, Se Hun menarik lengan Seo Ah sehingga wanita itu kembali duduk di tempatnya. Se Hun pun sudah terlebih dulu duduk di sana dengan kaki tersilang.

“Pekerjaan apa?”

Tanpa Seo Ah sadari, Se Hun tersenyum tipis mendengar pertanyaan Seo Ah. “Ini dan itu. Sesuatu yang tidak akan kaupahami.”

Seo Ah mendecih.

Se Hun pun terkekeh melihat respon Seo Ah. “Kami sedang merencanakan proyek real estate besar.”

“Oh… begitu.” Seo Ah mengangguk, meski tidak sepenuhnya paham.

KeyEast dan Sungjin sama-sama bergerak di bidang real estate, tapi dalam skala yang berbeda. Tentunya Sungjin lebih besar, mereka malah juga mengembangkan perusahaannya ke bidang departement store dan hotel. KeyEast dulunya hanya bergerak pada bidang entertainment saja, dan baru satu dekade ini mereka mengembangkan bidang real estate. Dan mungkin bekerja sama dengan Sungjin adalah langkah menuju ke tahap yang lebih tinggi.

“Omong-omong Se Hun-ssi,” ucap Seo Ah. “Apa… sekretarismu juga datang?”

“Kenapa kau menanyakannya?”

Seo Ah tiba-tiba saja terserang sakit tenggorokan yang membuatnya berdeham berkali-kali. “Ya… geunyangyo.”

“Iya, dia ikut. Tapi sepertinya sudah kembali ke kantor.”

“Benarkah?” Seo Ah harus menelan kekecewaannya karena tidak bisa bertemu dengan pria-berwajah-malaikat itu. “Tapi, kalau boleh tahu, siapa namanya?”

Tidak tahan, Se Hun pun melirik Seo Ah dengan tatapan penuh selidik. Tapi ia tidak juga menemukan jawabannya, hingga akhirnya ia memutar tubuhnya sambil meringis. Tangannya terlipat di dada, dan ditatapnya Seo Ah dari atas ke bawah.

“Apa yang membuatmu sangat penasaran dengan sekretarisku?”

“Y-Ya… a-aku….”

“Kau cemburu padanya?”

“C-Cemburu?!”

Se Hun menjentikkan jarinya, seolah sudah mengerti apa yang terjadi di sini. Ia pun membenarkan letak duduknya. “Ya, Irene memang cantik, dan kau tidak ada apa-apanya dibanding dia. Tapi… perlu kauketahui, kau lebih menarik.” Se Hun membisikan kalimat terakhirnya itu tepat idi telinga Seo Ah.

“Irene?!” Seo Ah menjauhkan kepalanya. Bukan karena nafas Se Hun yang menggelitik telinganya, tapi lebih ke arah terkejut karena pria-berwajah-malaikat itu memiliki nama seorang perempuan.

“Kenapa?”

“T-Tidak, maksudku… kenapa namanya sangat aneh. Seperti… nama perempuan. Kau tahu, dari penampilannya dia terlihat… sangat pria! Aku yakin, mataku tidak salah… tapi….”

Dua detik kemudian, Se Hun baru paham apa maksud Seo Ah. Ah! Tentu saja! Seo Ah pasti tertarik dengan sosok Jun Myeon, seperti kebanyakan wanita yang dekat dengannya. Tapi bagaimanapun aura Se Hun jauh lebih kuat dari Jun Myeon. Mungkin hanya Choi Seo Ah yang tidak mempan dengan aura sekuat itu dan malah tertarik dengan wajah polos Kim Jun Myeon.

“Maksudmu Jun Myeon hyeong?”

“NAH! Jun Myeon! Sudah kukira namanya pasti tampan.”

Se Hun memutar bola matanya, sedikit jengkel karena Seo Ah begitu mengagumi Jun Myeon. “Kau menyukainya?”

“Bukan urusanmu!” celetuk Seo Ah. Tapi, kemudian ia melanjutkan. “Berapa umurnya?”

“Cari tahu saja sendiri!”

Se Hun mendengus lalu membuang pandangan ke depan. Namun ujung mata Se Hun masih memperhatikan gerak-gerik Seo Ah yang ingin memukulnya dengan sebuah buku di tangannya. Buku itu pun mendapat perhatian Se Hun. Dan ketika Se Hun tahu buku apa yang dipegang Seo Ah, rasa jengkelnya digantikan dengan sebuah senyum lebar.

“Oh, kau sudah menerimanya?”

Seo Ah mengerutkan dahinya. “Apa?”

“Buku itu.” Se Hun menyenderkan punggungnya, dan hanya menunjuk buku itu dengan lirikan mata. “Bagaimana? Apa isinya bagus? Aku tidak terlalu suka novel dan hanya memilihnya dari judul. Kau suka sisi romantisku, kan?”

Seo Ah tidak bisa mencerna apa ocehan Se Hun selanjutnya, karena otaknya terlalu sibuk memikirkan kata-kata Jong In di telepon tadi. Tidak menemukan titik terang, Seo Ah pun membandingkannya dengan kalimat Se Hun barusan. Jong In yang berbohong… atau Se Hun yang berbohong… Seo Ah tidak bisa menentukan. Semua terkesan abu-abu dan malah membuat kepalanya berdenyut nyeri. Satu hal yang muncul di kepalanya kemudian adalah; ia memang harus pergi ke New York untuk menemui Jong In.


 

■■■

*Hehehe lama ya lama? Sudah kukatakan sebelumnya kaaan…

dan ini panjang loh walaupun belum sampe 30 halaman, tapi nulisnya seminggu lebih muehehehehe.  #azek BTW buat yang gak tau Jeongmin, itu Jeongmin boyfriend. dia temenan sama Juniel di real life hehe. silahkan cari di gugel buat liat momen mereka haha

sudahlah begitu saja. See ya. Dan mungkin bakal lama lagi haha

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

30 responses to “Honey Cacti [Chapter 2]

  1. Yahatt ada ff ini, sehun ni bossy bgt ye, aku penasaran masalah apaan si sehun sama si ji eun, ampe sehun nyebut ji eun sampah dududu. Jongin kmvrt udhlah seo ah sama sehun ajaa heheh see you!! Jgn lama ya..

  2. aku kok gak ‘suka’ sama sehun ya… ~kkk. moga seoah gak gampang jatung cinta ke sehun…, sepertinya it akan lebh menarik, hee

  3. Ihh ini makin seru aja dehh. Jadi ji eun itu knapa ama sehun?? Aku kasian deh sama sehun. Udah deh. Sehun smaa seo ah aja, cocok banget koo. Si jongin keknya deh yg kmvrt nihh wkwk. Suka deh, long banget, jadi smngat bacanya. Sehun nya keten disini wkwk. Next yoo

  4. haduh jongin seklainya ada disini jadi pria brengsek
    udah kamu di NY aja gak usah balik

    sehun tuh pede banget? rasa minta ditimpuk pake novelnya

  5. wah debak, jadi makin penasaran nih, tapi kok semuanya masih banyak misterinya ya….

    ditunggu chap selanjutnya thor

  6. wah debak, jadi makin penasaran nih, tapi kok semuanya masih banyak misterinya ya….jong in jadi jahat ya di sini…

    sehun kaya orang kagak waras aja kalo sudah behubungan sama seo ah

    ditunggu chap selanjutnya thor

  7. Curiga sama jongin….penasaran mmg jieun lakuin apa ya smpe2 sehun benci sama dy???sehun kyknya dah mulai suka sama seoah..😍😍

  8. hueeeee… critany mkin mnrik… kyanya wlw bnci stngh mati tpi seo ah bkl b’tkuk lutut deh… *azekkk… tpi apa sih fakta dblik bubarny sehun n ji eun? wanita sampah… mmmm…. btuh pnjlzn nih thor… trz buku novel itu sehun yg kasi toh… berrt jong in boong donk *prlu kna taboknya seo ah nih… dtunggu next chapny thor… keep writing…

  9. Sehun pemaksa, tapi suka dia manis banget sama Seo Ah walaupun Seo Ah jutek.
    Dan kenapa Sehun bilang Ji Eun wanita sampah? ditunggu next chapternya yaa

  10. ohhohoo penasaran apa sih yg bkin sehun benci sma jieun..smpe bilang wanita sampah..
    trus buat hub jongin sma seoah itu udh gk baik,mndingan putusin aja dehh,buat apa sihh d pertahanin..
    cepet” deh susul ke new yirk trus outusin jongin..udh mndingan sma sehun aja..hhi

  11. Disini Ji Eun jadi antagonisnya tohh, salah tapi gamau disalahin-_- kesian Sehun imagenya jadi jelek dimata sahabatnya Ji Eun, termasuk Seo Ah
    Ji Eun ketauan selingkuh ampe berhubungan badan kali ya? Sehun ampe bilang ‘wanita sampah’
    Okay ditunggu nextnya ya ka^^ tengkyuu

  12. “Wanita Sampah” sebenarnya Ji eun Itu sifatnya gimana sih? Kok Sehun Kayak nggak sudi banget:/
    Seo Ah ke Amerika aja biar cepat putusnya sama Jongin trus bareng Sehun ^.^

  13. Jangan2 jongin sama sehun sama2 ngirim novel? Hahahha bisa jadi kaaan

    Duh aku jadi gakau antara milih ke pihak jongin atau sehun.

    Btw udh deh si jieun lama bgt ngasih tau kebenaran ke sahabatnya, mendingan sehun aja yg ngasih tau

  14. Disini jongin jahat sama seo ah yak :v kasian seo ah dibohongin terus. Udah putus ajaaa. Btw mskin penasaran nih. Ditunggu kelanjutannya. Fighting!!!^^

  15. Menarik nih….nunggu lanjutannya ya…
    Tebakanq jongin tuh yg brxxxxxk..seo ah Udh cinta buta kyknya..gpp mo ke new york..nti liat jongin selingkuh live n putusin aja..penasaran jg apa yg disembunyikan ji eun..

  16. Part 2 udah tergila-gila dg segala sikapnya Sehun. Cowok emang harus gitu klo mau deketin cewek. Apalah arti Jong In mendung putusin aja ngapain ngarepin cowok yg gajelas gitu. Kadang kasian sama Ji eun tapi klo dr sudut pandang Sehun malah dia yg kayak terluka.

  17. Kayaknya sehun putus sma jieun bkn krn salahnya sehun deh, felling aku sih jien hamill 😱😱😱 tp bkn sma sehunn 😂😂😂*sok tauu, ahhhh akuu makinn penasarannn akuu makinnn suka sma nih ff, seo ah buruan deh putusin si hitamm soalnya dia yg brengsek bkn sehunn 🙏🙏🙏

  18. Makinn.gemes ajaaa,, makin bikin prnasarannnnnn….

    Masih penasaran, apa akhirnya nanti seo ah putus sama jongin, aku sih brharapnya mrk putus aja apalagi kalo jongin sampe ketauansama seo ah kalo dia selingkuh,abis aja jongin. Madih penasaran juga kenapa sehun kayanya benci banget sama jieun, apa yang jieun lakuin sampe sehun lebih milih membatalkan pertunangannya padahal tanggal pernikahan udah d ujung mataa..

    Emnnm,, di tunggu nextnya ya kakkk

  19. Sehun sama jieun sebenarnya knapa? Ada masalah apa?
    Ah penasaran. Ditunggu kelanjutannya, kalo bisa sih jgn lama2 hehe

  20. Jangan jangan jongin selingkuh, udah jemput aja jongin di new york. Kok jdi tambah greget sama pasangan satu ni….Eh gk pasangan
    Maksudnya sehun sama seo ah, sehun udah mulai nunjukin kalo dia tertarik sma seo ah, semoga di next chap bakal lebih banyak adegan sehun sma seo ah kekekek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s