Unspeakable Secret | 9th Chapter

unspeakable mancay

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

 

STORYLINE BY NISA

POSTER BY dyzhetta @ Art Fantasy

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 15

 

Previous Chapter

[BAB 1] || [BAB 2] || [BAB 3] || [BAB 4] || [BAB 5] || [BAB 6] || [BAB 7] || [BAB 8]

 

 

HAPPY READING😀

 

 

Jongin baru saja menyelesaikan rapatnya di sebuah restoran keluarga untuk menggantikan Sehun yang tidak dapat hadir. Perlu kalian ketahui, performa kerja Sehun dan Jongin tidaklah jauh berbeda, keduanya patut diacungi jempol. Dengan usia mereka yang masih semuda ini, keduanya sudah dapat membuat para partner bisnis mereka menaruh kepercayaan besar pada Ilhwa Group. Well, mungkin kalian bertanya-tanya mengapa jika Jongin sama hebatnya dengan Sehun ia hanya bekerja sebagai sekertaris Sehun? Ini semua sebenarnya atas kemauan Jongin sendiri, selain ingin membantu Sehun, ada alasan lain yang membuatnya enggan menjadi lebih dari seorang sekertaris di Ilhwa Group atau perusahaan lainnya.

Para pemegang saham sangat menyayangkan keputusan Jongin tersebut. Pasalnya, Jongin adalah salah satu dari beberapa karyawan Ilhwa Group yang merupakan lulusan dari Harvard University, begitupun dengan Sehun. Namun sayangnya, hanya Jongin satu-satunya yang menjadi sekertaris. Lulusan Harvard lainnya yang bekerja di perusahaan ini minimal menjadi Wakil Direktur.

Pria berkulit ekostis itu baru saja masuk kedalam mobil putih yang selalu setia mengantarkannya kemana-mana, saat ia hendak melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir restoran, ponselnya berbunyi.

Sebuah nomor tak dikenal muncul dilayar panggilan Jongin. Pria itu terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut menggunakan headset bluetooth yang sudah bertengger dengan gagah di telinganya.

“Halo?” ujarnya perlahan.

Yeoboseyo, Kim Jongin-ssi. Ini aku…” ujar suara yang terdengar girang diseberang sana.

Jongin mengerutkan alisnya, ia bingung siapa yang meneleponnya dengan nada cukup akrab siang ini, karena tak seorangpun terlintas dibenaknya. “Aku? Siapa?” tanya Jongin lagi.

“Aku kecewa, kau tidak mengenali suaraku ya?” terdengar hembusan nafas dari seberang sana.

“Maaf, tapi kau siapa?”

“Aku Do Nami, apa kau bahkan lupa namaku?” tanya Nami.  Jongin mengangguk-anggukan kepalanya. “Ah, Nami-ssi? Gadis yang tidak bisa par—“

“Hei, sudah kubilang jangan ungkit hal itu lagi!!” sungut Nami dengan nada geram dari seberang sana. Jongin terkekeh kecil mendengarnya. “Oke, aku minta maaf, habisnya itu kesan pertamaku, dan aku… tipe orang yang selalu mengingat kesan pertama,” jawab Jongin yang masih terkekeh.

“Oh ya, ada apa kau meneleponku? Tahu nomor ponselku darimana?” tanya Jongin to the point. Seketika Jongin merasa bahwa Nami yang di seberang sana sempat bungkam beberapa saat. Jongin hendak mengajukan pertanyaan lagi namun Nami lebih dulu menjawab. “Aku dapat nomormu dari kartu nama yang kau berikan dua hari yang lalu. Jadi hm… ah, bagaimana ya bicaranya?” ujar gadis itu, ia terdengar seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Ada apa? Mungkinkah kau ingin meminta bantuan dariku?” Lagi-lagi Jongin bertanya to the point. Sepertinya pria ini benar-benar mengerti seluruh gerak gerik wanita, hihi.

“Kenapa pria ini to the point sekali…” gerutu Nami tanpa sadar diseberang sana, disertai pula dengan dengusannya yang semakin membuat Jongin terkekeh geli ditempatnya.

“Oke, jadi kau butuh bantuan apa?” tanya Jongin lagi karena Nami tak kunjung merespon dengan jelas.

Nami akhirnya kembali fokus kepada panggilan mereka. “Bagaimana kalau kita bertemu langsung? Sepertinya kurang pas dibicarakan melalui telepon, hehe,” tawarnya.

Jongin menganggukkan kepalanya beberapa kali; pertanda bahwa ia setuju. Well, walaupun Nami takkan bisa melihatnya. “Deal, mau bertemu dimana? Kebetulan aku sedang berada di daerah Cheongdam-dong saat ini,” jawab Jongin.

Terdengan bunyi jentikkan jari Nami dari seberang sana, “Tepat sekali, aku juga sedang menuju ke Cheongdam-dong saat ini. Kalau begitu, kita langsung bertemu di Primavera, kau tahu?” tanya Nami.

Primavera? The Primavera Regency maksudmu? Bukankah itu Bridal Shop? Kau mau menikah?” tanya Jongin begitu saja. “Anni, temanku yang akan menikah, dan… arrghh!! Pokoknya nanti kujelaskan, oke?” ujar Nami cepat, sebenarnya apa permintaan Nami? Mengapa sepertinya berat sekali ia mengatakannya?

“Oke, oke. I’ll be there in 10,” putus Jongin akhirnya.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Ini sudah hari ketiga Leera bertugas di Pattaya. Leera bangkit dari kasurnya saat ia merasakan sinar matahari mulai masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat. Saat ia menginjakkan kakinya di ubin berwarna putih tulang tersebut ia langsung meringis dan kembali terduduk di tempat tidurnya.

Leera mengangkat kedua kakinya ke atas kasur lalu melihat kearah telapak kakinya yang tergores hampir seluruh bagiannya. Untung saja darah yang keluar sudah berhenti mengalir sehingga tidak terlihat terlalu menyeramkan lagi.

“Kalau begini caranya, bagaimana bisa aku survey lapangan hari ini?” gumam Leera pada dirinya sendiri.

Tak lama kemudian sosok Sooyoung muncul dari balik pintu kamar mandi menggunakan jubah mandinya yang berwarna cokelat muda. “Oh, kau sudah bangun, Leera-ssi?” sapa gadis itu dengan gaya ceria khasnya. Leera menganggukan kepalanya dan membalas senyuman sumringah Sooyoung sebisanya karena rasa mencekit dikakinya semakin terasa saat ia menyentuh luka-luka tersebut.

“Kakimu masih sakit?” Sooyoung berjalan mendekat kearah Leera dan duduk ditepi kasur Leera.

Lagi-lagi Leera hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah mengernyit. Sooyoung bangkit dari tepi tempat tidur Leera lalu mengambil sebuah kantong plastik kecil berwarna putih dan memberikannya pada Leera. “Itu krim penyembuh luka, dari Oh Isajangnim,” ujar Sooyoung setelahnya.

Leera tak bisa menahan rasa terkejutnya. Lihatlah mata rusanya kini membulat sempurna dan sebelah tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang mengaga sedangkan tangan yang bebas ia gunakan untuk menyambut uluran kantong plastik dari Sooyoung.

“Kapan ia memberikan ini?” tanya Leera akhirnya setelah ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbentuk balok dari kantong plastik tersebut.

“Tadi pagi-pagi sekali ia mengetuk pintu kamar kita, membuatku terbangun dari mimpiku,” gerutu Sooyoung sembari mengucek-ucek matanya.

“—kau.. berkencan dengan Oh Isajangnim, ya? Bagaimana bisa?! So unbelievable!!” pekik Sooyoung yang kini kegirangan sendiri.

Leera langsung melambaikan tangannya secepat mungkin beberapa kali diikuti dengan gelengan kepala yang tak kalah cepatnya. “Tidak!! Jangan membuat gossip aneh-aneh, Sooyoung-ssi!!” seru gadis itu dengan wajah seriusnya.

Sooyoung menatap tak percaya ke arah Leera. “Kalau bukan kekasihmu, lalu hubungan macam apa yang kalian miliki sampai ia seperhatian itu padamu?” tanya Sooyoung dengan mata yang terpicing; penuh selidik.

“Hubungan antara atasan dan bawahan biasa yang tidak saling mengenal, mungkin?” jawab Leera entang.

Gadis itu membuka tutup botol krem penghilang luka tersebut lalu menekan bagian tengan botol krem dan mulai mengoleskan krem berwarna bening yang bersuhu dingin tersebut pada telapak kakinya yang tergores batu karang kemarin. Sesekali dahinya berkerut saat ia tak sengaja menekan bekas lukanya.

Sooyoung bangkit dari tempat tidur Leera dan mendekat kearah kopernya yang berada disebelah koper berwarna kuning pastel milik Leera. Lalu gadis itu mengeluarkan satu stel pakaian kerja formalnya yang merupakan perpaduan antara warna abu-abu tua dan hijau toska tersebut.

“Well, hubungan atasan dan bawahan yang tidak saling mengenal? Kau pikir aku anak bayi yang bisa kau bohongi?” sindiri Sooyoung yang kini sedang mengenakan pakaiannya.

“Aku tidak berbohong, kau tanyakan sendiri saja pada Oh Isajangnim jika kau tidak percaya,” balas Leera enteng. Lagipula ia memang benar kan? Ia dan Sehun sebenarnya memang hanya seorang atasan dan bawahan di kantor, tidak lebih. Well, mungkin ia sedikit berbohong dengan fakta bahwa mereka saling mengenal, bukan tidak saling mengenal seperti apa yang ia katakan tadi. Bahkan dapat dikatakan saat ini bahwa Sehun sudah mengenal Leera luar dalam.

Sooyoung tertawa renyah. “Maaf, Leera-ssi. Aku masih waras. Bertanya pada Oh Isajangnim secara langsung sama saja menghancurkan karirku begitu saja.”

“—tapi serius kau memang tidak ada hubungan apa-apa dengannya? Kalian bahkan pergi keluar bersama kemarin… dan kau juga mendapatkan luka itu setelah pulang bersamanya kan? Apa yang sebenarnya kalian lakukan kemarin?” lanjut Sooyoung yang sepertinya masih cukup penasaran dengan apa yang terjadi diantara Leera dan Sehun.

Leera menghela nafas kasar dan menatap jauh dengan serius kearah Sooyoung. “Well, aku berteman dengannya, sejak beberapa hari yang lalu, tidak lebih. Jadi tolong… jangan berpikir yang macam-macam. Bukankah kita semua tahu bahwa Oh Sehun tidak akan pernah mau menjalin hubungan percintaan dengan siapapun. Kalaupun dia pada akhirnya ingin mencari pendamping hidup, pastinya itu bukan aku. Orang sekelas pria itu pasti mencari wanita yang setara dengannya,” jelas Leera panjang lebar. Ia mengambil nafas banyak-banyak setelahnya.

Sooyoung terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali; mungkin ia setuju dengan perkataan Leera yang memang cukup logis untuk dijadikan jawaban atas rasa penasarannya.

“…dan luka ini, aku dapatkan saat bermain watersport di Pattaya Beach kemarin. Yah, ada kecelakaan kecil yang terjadi,” lanjut Leera sembari menggedikan bahu dan berusaha kembali untuk bangkit dari tempat tidur setelah ia rasa krem yang ia borehkan pada telapak kakinya sudah kering dan meresap.

“Benar juga sih katamu barusan. Tapi, Leera-ssi… aku merasakan sesuatu yang aneh. Sepertinya Oh Isajangnim menyukaimu. Buktinya ia—“

“—stop mengeluarkan perkataan-perkataan tak berdasar seperti itu, Park Sooyoung,” tegas Leera yang berhasil membuat Sooyoung bungkam.

Setelah itu Leera menghilang dibalik pintu kamar mandi dan tak lama suara percikkan air mulai terdengar.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Kini mereka semua tengah berkumpul di ruangan rapat hotel untuk sekedar briefing di pagi hari, mendiskusikan hal-hal yang harus mereka lakukan di lapangan hari ini.

Pada hari ketiga ini, mereka semua—termasuk Leera dan Sehun akan sibuk seharian menyurvey keadaan lokasi dimana proyek resort yang sedang mereka susun ini akan dibangun.

Leera beberapa kali mengutuk kesal pada dirinya sendiri yang begitu ceroboh kemarin sehingga akan berefek pada performa kerjanya hari ini atau mungkin selama beberapa hari kedepan. Oh ayolah, kakinya pasti harus banyak digunakan untuk melangkah kesana kemari hari ini, dan dengan kaki dalam keadaan terluka yang cukup parah seperti ini, ia tak berani menjamin bahwa ia bisa fokus bekerja tanpa menghiraukan rasa sakit yang sama seperti berjalan diatas duri tersebut.

Gadis yang kini menggelung rambutnya keatas tersebut kerap kali meringis tiap kali luka itu tertekan alas sepatu yang ia kenakan. Sehun yang tanpa disadari oleh siapapun–mungkin, sedari tadi sudah menangkap rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh Leera. Pria itu sedikit bingung dengan hati nuraninya, yang baru-baru ini terasa sudah ada kembali setelah hilang selama belasan tahun kemarin. Karena apa yang ia rasakan bukannya senang justru ia merasa iba dan jujur, ia merasa sedikit bersalah karena bagaimanapun juga, Leera seperti ini karena ulah jahatnya.

“Oh Sehun jangan bodoh, sejak kapan kau bisa kasihan pada orang lain? Lemah!” peringatnya pada diri sendiri dalam hati. Namun monolog-monolongnya di dalam hati sedari tadi belum juga berhasil menyingkirkan perasaan khawatirnya pada Leera. Sepertinya ada yang salah dengan Oh Sehun akhir-akhir ini, karena kita semua tahu bahwa Oh Sehun adalah pria berhati paling dingin di dunia ini, apalagi soal wanita.

Selama briefing berlangsung Sehun dan Leera sama-sama terlihat tidak tenang dan tidak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan oleh partner kerja mereka lainnya sampai kini mereka bahkan tidak sadar bahwa briefingnya sudah selesai.

“Jadi, bagaimana pendapat Anda, Isajangnim?” tanya Kang Minhyuk pada Sehun yang duduk berpangku tangan disebelahnya. Karena Sehun tak kunjung merespon, Minhyuk mengulangi perkataannya. “Oh Isajangnim? Jadi bagaimana pendapat Anda?”

Ne? Ah ya, aku setuju. Pokoknya, lakukan pekerjaan ini sebaik mungkin, karena Ilhwa Group tidak pernah mengecewakan klien.” Sehun akhirnya kembali mencoba untuk memfokuskan pikirannya pada pekerjaan.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Nami mendapati tubuh tegap Jongin yang sedang bersandar pada pintu mobilnya sembari mengotak-atik ponsel pintar digenggamannya saat ia memasuki pelataran parkir Primavera. Entah kenapa hatinya langsung membaik begitu saja saat ia melihat sosok yang selalu saja melintas dibenaknya beberapa hari belakangan ini. Well, Nami akui ia aneh karena ini baru pertama kalinya ia memikirkan seseorang yang hanya ia ketahui nama serta nomor ponselnya baru-baru ini.

Gadis itu melangkahkan kaki jenjang yang dibalut dengan heels dengan design seperti jaring laba-laba, keluaran Hermes—juga pernah terlihat dikenakan oleh Sosialita Kim Kardhasian—keluar dari mobil mewah berwarna merah tersebut. Kali ini mobilnya terlihat berbeda dari beberapa hari yang lalu saat ia bertemu dengan Jongin di parking area rumah sakit. Kalau dilihat dari gaya berpakaian serta cara bersikapnya, dapat disimpulkan bahwa Nami berasal dari kalangan atas, mungkin sekelas dengan Sehun?

“Hai, sudah lama menunggu? Maaf aku terlambat,” sapa Nami sembari menyunggingkan senyuman tipis khasnya. “Tidak, mungkin baru lima menit aku berdiri disini,” jawab Jongin enteng.

“Kalau begitu, ayo kita langsung masuk saja,” ajak Nami. Ia melangkah lebih dulu menaiki lima buah anak tangga yang harus dilewati sebelum mencapai pintu masuk utama.

Sesampainya didalam ruangan yang di dominasi oleh warna putih dengan aksen mutiara dah juga bunga-bunga menghiasi bagian dinding dan langit-langit ruangan ini, Nami dan Jongin langsung disambut baik oleh beberapa karyawan wanita yang terlihat mengenakan apron hitam dipinggang mereka. Bukan, bukan seperi apron koki.

“Selamat datang, Nona,” seorang wanita dengan setelan formal ala kantoran yang datang entah dari mana kembali menyambut mereka berdua, khusunya Nami.

“Apa Somi Unnie ada diatas?” tanya Nami dengan gaya angkuh namun sopan khasnya. “Ne, Anda sudah ditunggu di atas oleh beliau,” jawab karyawan dengan rambut disanggul rapi keatas tersebut.

Nami kembali melangkahkan kakinya menuju kesebuah elevator yang berada di sudut ruangan, diikuti pula oleh Jongin yang masih tak mengerti apa maksud dari kedatangan mereka berdua ketempat ini.

Pasalnya, The Primavera Regency adalah Bridal Shop yang paling terkemuka di negeri gingseng ini. Rata-rata para penguasa di Korea Selatan akan menggunakan jasa dari Bridal Shop yang satu ini untuk menghandle acara pernikahan sanak saudara mereka, atau hanya sekedar memesan gaun dan tuksedo juga. Perlu kalian ketahui, harga pakaian yang ditawarkan di Bridal Shop ini berkisar dari angka 3.000.000 KRW sampai ratusan juta keatas. Bisa ditarik kesimpulan bahwa hanya orang kelas ataslah yang berani menginjakkan kaki mereka ditempat bagaikan berlapis berlian seperti ini.

Saat sampai dilantai dua yang terlihat lebih glamour daripada lantai dasar tadi, Nami dan Jongin kembali disambut oleh seorang karyawan wanita dengan model rambut disanggul keatas pula, bedanya gadis muda kali ini mengenakan pakaian berwarna putih dengan paduan outer babypink yang terlihat begitu anggun. “Nami-ya, di dalam sedang ada tamu, jadi sajangnim menyuruhmu untuk menunggu diluar sebentar,” ujar karyawan bernam tag Bae Joohyun tersebut.

Ne, Unnie,” jawab Nami yang dengan cepat mengambil posisi untuk duduk disebuah sofa empuk berwarna putih murni berbentuk huruf L yang berada di tengah-tengah ruangan lantai dua, sepertinya sofa ini memang disediakan untuk tempat menunggu, di depannya juga terdapat sebuah meja kaca dengan tinggi sesuai yang dilengkapi dengan majalah-majalah masa kini dan katalog pakaian hasil dari Primavera.

“Hei, kau belum menjelaskan apa yang sebenarnya akan kita lakukan ditempat ini,” ujar Jongin dengan tampang kebingungannya. Nami seperti tersadar akan sesuatu, “Ah, astaga!! Aku sampai lupa!!” pekiknya tertahan.

“Jadi begini… aku benar-benar membutuhkan bantuanmu untuk sekali lagi berpura-pura menjadi kekasihku…” ujar Nami yang terdengar ragu diakhir. Well, sebenarnya ia benar-benar tidak enak harus meminta bantuan seperti ini pada Jongin. Pasalnya, setiap bertemu dengan Jongin, pria itu selalu saja membantunya. Apakah ia adalah guardian angel yang akhirnya dikirimkan Tuhan untuk Nami?

Jongin tak dapat menahan keterkejutannya. “Apa?!” pria itu melotot dengan mulut mengaga.

“Ya… karena aku… besok aku harus menghadiri pernikahan mantan pacarku saat kuliah dulu.. dan aku tidak punya siapa-siapa untuk dijadikan pasanganku,” ujar Nami dengan wajah memelas.

“Tapi kau ‘kan bisa datang sendiri? Atau dengan teman wanitamu? Kenapa harus membawa pasangan?” tanya Jongin. Nami memutar bola matanya dengan malas. Oh ayolah, apa Jongin tidak mengerti maksudnya? “Begini, Kim Jongin-ssi. Mantan pacarku menikah dan aku… mana mungkin aku datang kepernikahannya seorang diri, aku juga harus menunjukkan bahwa aku punya pasangan, aku tidak boleh kalah darinya!!” ujar Nami dengan semangat.

Jongin mendengus sembari menyeringai. “Tapi nyatanya kau memang tidak punya pasangan bukan?” sindir pria itu.

“Enak saja!! Aku punya!!” sergah Nami tak terima. “Lalu kemana dia? Kenapa kau tidak mengajaknya saja?” lagi-lagi Jongin menghujani pertanyaan yang membuat Nami mati gaya.

Nami menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya perlahan, “Oke, sebenarnya aku ingin mengajaknya, tapi ia… ia sedang bertugas ke luar negeri sehingga aku tak mempunyai pilihan lain,” jawab gadis itu, masih mempertahankan ekspresi murungnya.

“Jadi sama saja kau menjadikanku pelampiasan untuk yang kesekian kalinya, begitu?” Jongin menyeringai. Well, kalau boleh jujur, sebenarnya Jongin tidak terlalu keberatan untuk membantu Nami, tapi entah kenapa ia hanya ingin bermain-main sebentar dengan menggoda gadis itu, karena wajah salah tingkah Nami benar-benar menghiburnya.

Anniyo, bukan begitu maksudku. Aku berani bersumpah!! Aku tidak pernah bermaksud seperti itu sama sekali. Aishh molla!!—“ Nami tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, lalu ia melanjutkan perkatannya “—kalau kau tidak bisa membantu bilang baik-baik saja, jangan menyindirku ter—“

Jongin segera memotong perkataan Nami, “Siapa bilang aku tidak mau membantu?”

Nami terperangah mendengar jawaban Jongin yang benar-benar membingungkannya. Oh ayolah, beberapa saat yang lalu Jongin terlihat keberatan membantunya, bukan? Bahkan Jongin menyindirnya segala dengan berkata bahwa ia menggunakan pria itu sebagai pelampiasan semata. Dan sekarang? Jongin tiba-tiba menyiratkan bahwa ia tak keberatan dengan permintaannya. Entahlah pria memang makhluk yang paling membingungkan, bagi wanita.

“Jadi maksudmu… kau mau membantuku?” tanya Nami yang dengan hati-hati kembali duduk ditempatnya. Jongin terlihat menyunggingkan senyum tipisnya lalu menganggukan kepalanya dengan santai. “Sure, hanya menjadi kekasih pura-pura ‘kan? Bukan hal berat, asal ada feedback yang setimpal.” Senyum tipisnya berubah menjadi seringaian kali ini.

Dengan sendirinya Nami menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Jongin perlahan-lahan, seakan tubuhnya menangkap sinyal bahaya dari seringaian Jongin. Melihat hal itu, Jongin justru semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Nami, dan gadis itu kembali menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Jongin sampai akhirnya ia tak sadar bahwa ia sudah berada pada bagian ujung kursi.

Karena kekurangan keseimbangan, Nami limbung dari posisinya dan hampir saja terjatuh dari kursi apabila Jongin tidak dengan sigap menangkap tubuhnya, membuatnya kini berada dalam rengkuhan seorang pangeran berkuda putih versinya, Kim Jongin.

Keduanya terdiam sebentar sampai akhirnya Nami tersadar bahwa kini Jongin semakin mendekatkan wajah tampan pria itu pada wajahnya yang pasti sudah tak terkontrol lagi seperti apa ekspresinya.

Saat Jongin semakin melancarkan aksinya hingga kini wajah mereka hanya berjarak sekitar lima sentimeter, tanpa gadis itu sendiri sadari, kini ia menutup rapat-rapat matanya, seakan pasrah dengan apa yang akan Jongin lakukan.

Melihat reaksi tak terduga dari Nami, Jongin yang awalnya hanya ingin bergurau tak bisa menahan dengusan gelinya melihat ekspresi Nami yang terkesan takut, namun juga… berharap Jongin melakukan sesuatu padanya?

Jongin mengalihkan wajahnya ke arah samping sehingga bibirnya berada persis di depan telinga Nami lalu berbisik, “Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Nona. Aku, Kim Jongin, tidak akan pernah mengharapkan imbalan apapun saat membantu seseorang.” Setelah itu Jongin menarik tubuh Nami agar tidak terjatuh dari kursi dan kembali mendudukan dirinya diposisi awal yang tidak terlalu dekat dengan Nami jaraknya.

Sedangkan Nami, dapat kita lihat bahwa kini wajah gadis itu memerah sempurna dan dengan cepat ia menundukkan wajahnya. Dadanya terlihat bergerak naik turun karena nafas dan detak jantung yang tidak stabil mungkin?

‘Sial… kenapa pesonamu sangat kuat, Tuan Berkuda Putih?’ batin Nami sembari merutuki kebodohan dirinya.

Tak lama kemudian akhirnya tamu yang berada didalam ruangan Somi—kakak kandung Nami, keluar. Gadis itu bertubuh bagaikan model dengan lekukan tubuh yang sesuai pada tempatnya. Bibirnya yang tebal dipoles dengan lipstik berwarna merah terang yang membuatnya terlihat gothic. Disekitar matanya juga dihiasi oleh eyeliner seperti mata kucing yang cukup mencolok sehingga membuat matanya yang sipit menjadi terlihat lebih sinis.

“Oh, ige nuguya? Do.. Nami? Long time no see, darling,” ujar gadis hijau lumut pas badan tersebut. Ia berkata dengan senyuman miring sembari bersedekap didepan dada.

Dengan enggan Nami menoleh kearah gadis itu dan tak kalah juga ia melemparkan tatapan sinis dengan mata bulatnya. Nami terlihat tidak berkeinginan untuk membalas sapaan angkuh dari gadis itu. “Oh, jadi pria itu kau?” kini gadis itu beralih bertanya pada Jongin. Jongin yang tidak mengerti hanya bisa memiringkan kepalanya kesamping sedikit dengan alis tertaut.

“Ayo, Sayang. Somi Unnie pasti sudah menunggu kita di dalam.” Nami langsung bangkit sembari menarik lengan Jongin dan mengalungkan lengannya disana.

Lalu secepat kilat ia hengkang dari hadapan gadis dengan dandanan gothic tersebut dan mendorong pintu kaca yang merupakan ruangan tempat Somi berada, masih dengan menggandeng lengan Jongin.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Nami mendorong pintu kaca tersebut dan melangkah masuk kedalam ruangan yang hampir dipenuhi oleh beberapa manekin-manekin yang dipasangi gaun pengantin serta tuksedo nan indah. Senyum tipis langsung terulas begitu ia melihat wanita bersurai cokelat kemerahan yang sedang duduk disinggasananya, Do Somi. “Unnie, aku datang!” serunya dengan girang. Pandangan Somi yang tadinya terfokus pada katalog dihadapannya langsung terarah pada Nami dan Jongin yang kini berada di ambang pintu.

“Ah, kau sudah datang…”

Somi tiba-tiba mengaga melihat sosok Jongin yang kini terlihat salah tingkah di hadapannya. “Kim… Jongin? Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Somi.

Nami langsung menoleh heran secara bergantian pada Somi dan Jongin. Sepertinya Somi sudah mengenal Jongin sebelumnya, buktinya ia sudah mengetahui nama Jongin. Apakah ini yang membuat Jongin terlihat sedikit gugup dan juga salah tingkah sedari tadi?

Jongin tersentak di tempatnya berdiri. Ia bahkan membutuhkan waktu satu menit untuk merespon pertanyaan Somi. “Lama tidak berjumpa…. Do Somi,” balasnya dengan penuh keraguan.

“Kalian… sudah saling mengenal? Bagaimana bisa?” masih dengan wajah herannya Nami menunjuk bergantian kearah Jongin dan Somi yang seakan-akan tak mengakui keberadaan gadis bermata bulat tersebut.

Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat sampai akhirnya Somi kembali berbicara, “Kau kenapa bisa bersama adikku?! Dari mana kalian bisa saling kenal?!” tanya Somi begitu menuntut. Lagi-lagi eskpresi terkejut semakin tercetak jelas diwajah Jongin.

“Nami… adikmu?” Jongin justru bertanya balik, Somi meresponnya dengan anggukan cepat.

“Gila, dunia ini memang benar-benar sempit,” ujar Somi sembari menghembuskan nafas kasar, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Tatapan Somi beralih pada Nami yang sedari tadi terdiam dengan sepasang mata bulat yang bergerak bergantian ke arah Jongin dan kakaknya sejak tadi. “Kemana dia? Kenapa kau justru bersama Jongin?” tanya Somi.

Nami menghela nafas sebentar lalu menggedikan bahunya, “Tadi aku diberitahu oleh ayahnya bahwa ia sedang bertugas di luar negeri. Baru pulang besok lusa,” jawabnya.

“Jadi… kau akan pergi kepernikahan Taemin bersama Jongin?” tanya Somi memastikan. “Yap, Jongin yang akan menemaniku. Unnie tahu sendiri kan bagaimana senangnya Taemin bila aku pergi kepernikahannya besok malam seorang diri,” jawab Nami yang diiringi dengan decihan.

Lalu ia mengambil posisi untuk duduk dikursi berwarna putih yang terletak didepan meja kerja Somi, di ikuti pula oleh Jongin.

“Bagaimana gaunku, sudah siap ‘kan? Ah ya, tuksedo yang kemarin sepertinya pas dengan Jongin.”

“Kalau begitu kau bisa antarkan Jongin ke ruang ganti dan kita lihat ada bagian yang perlu diperbaiki atau tidak,” ujar Somi; yang terlihat jelas begitu menghindari tatapan mata Jongin. Nami mengangguk setuju dan langsung membawa Jongin keluar dari ruangan kakanya menuju keruang ganti yang berada di lantai dua bagian kiri.

Tak lama kemudian Somi menyusul mereka keluar dari ruangannya tersebut dan memberikan satu stel jas berwarna putih tersebut pada Jongin.

Selagi menunggu Jongin berganti pakaian, Nami dan kakak sulungnya duduk di kursi yang tadi sempat ia duduki dengan Jongin. “Kau sempat bertemu dengan Jiyeon tadi?” tanya Somi pada Nami yang sedang menatap lurus kedepan.

“Ya, ia bahkan mengegurku dengan gaya angkuhnya itu.” Nami berdecak malas. “Kau… sudah merelakan pernikahan mereka ‘kan?” tanya Somi penuh selidik kearah adik perempuannya itu.

Nami menoleh lalu mendengus yang diikuti oleh kekehan kecil setelahnya, “Oh ayolah, Unnie. Untuk apa aku tidak merelakan pernikahan mereka? Karena Taemin adalah mantan kekasihku dan Jiyeon adalah mantan sahabatku, begitu?” tanya Nami sarkastik.

Bukannya menjawab, Somi justru merangkul pundak adik perempuannya tersebut dan Nami balas menyandarkan kepalanya di pundak Somi. “Aku tahu kau gadis yang kuat. Tenang saja, Do Nami, kau kehilangan Taemin karena Tuhan sudah menyiapkan pria yang lebih baik untukmu di masa depan,” ujar Somi sembari mengelus pelan kepala bagian samping adik satu-satunya.

And there he is…” celetuk Nami begitu saja. Somi mengerutkan alisnya seketika sampai akhirnya ia paham bahwa apa yang dimaksud oleh adiknya adalah pria yang baru saja keluar dari fitting room dengan tuksedo putih yang terlihat lebih sempurna dikenakan olehnya dibandingan oleh manekin yang memakai sebelumnya.

Nami tidak dapat menahan wajah terpukaunya saat ia melihat Jongin dibalik balutan tuksedo putih tersebut. Dan di saat seperti ini, Jongin semakin pantas disebut pangeran berkuda putih. Bahkan tanpa gadis bermata bulat itu sadari kini Jongin sudah berdiri tepat dihadapannya dan kondisi gadis itu masih terpaku dengan mulut mengaga dan mata bulat yang terlihat seperti orang yang sedang terkena pengaruh hipnotis.

“Sesuai harapan, tuksedo ini terlihat pas ditubuhmu. Hanya saja… hm—ya, di bagian bahu sepertinya harus sedikit diperbaiki karena terlihat kebesaran, right?” ujar Somi yang berhasil menyadarkan Nami dari fantasi-fantasinya tentang pangeran berkuda putih alias Kim Jongin.

“Bagaimana? Penampilanku tidak mengecewakan untuk dijadikan seorang kekasih pura-pura dengan tujuan untuk membuat cemburu mantan pacar yang akan menikah dengan gadis lain bukan?” tanya Jongin langsung pada Nami. Gadis itu hanya bisa menelan ludahnya perlahan karena pertakaan Jongin yang selalu saja tepat pada tempatnya dan juga karena ketampanan pria itu saat ini pastinya.

Masih dengan wajah melongonya yang membuat Jongin tersenyum geli, tanpa sadar Nami bergumam, “Perfect…”

Sorry? Bisa kau ulangi sekali lagi…” goda Jongin dengan mata memicing.

Perfect…. tuksedonya,” balas Nami dengan terbata-bata dan gerakan bola mata yang gelisah.

Ia sedang salah tingkah saat ini.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Setelah melakukan briefing yang berjalan sekitar kurang lebih tiga puluh menit tersebut, kini mereka semua menaiki sebuah van yang memang sengaja disiapkan oleh Ilhwa Group untuk menjadi kendaraan operasional para karyawan Ilhwa Group selama di Pattaya.

Sehun yang sebenarnya sudah disiapkan mobil lain yang jauh lebih mewah justru memilih untuk naik van sama seperti karyawan lainnya. Lagi-lagi Sehun bertingkah tidak seperti dirinya.

Dalam waktu sepuluh menit mereka berhasil sampai di lokasi dimana pembangunan resort akan diadakan. Lokasi ini terlihat cukup luas dan strategis karena sangat dekat dengan Pattaya Beach yang menjadi salah satu simbol kebanggan di Pattaya. Dengan lokasi sestrategis ini resort yang akan mereka bangun bisa dipastikan akan ramai penginapnya. Apalagi melihat gambar design bangunan yang di design langsung oleh arsitek-arsitek hebat andalan Ilhwa Group semakin membuat kita tidak sabar untuk menantikan hasil jadinya.

Jam makan siang pun tiba, mereka kini sedang dijamu makan siang disalah satu restoran terkenal yang berada tepat menghadap ke arah Pattaya Beach.

“Leera-ya, bisa ikut aku sebentar?” tanya Sehun sedikit berbisik pada Leera saat mereka baru saja turun dari van.

Tanpa banyak tanya, Leera langsung mengiyakan permintaan Sehun. “Oke.”

Sehun membawa Leera menuju balkon restoran yang terletak di lantai dua dan langsung menghadap ke arah Pattaya Beach sehingga kita dapat melihat dengan jelas para pengunjung yang sedang bermain watersport atau pengunjung yang hanya sekedar berjemur saja.
Sehun menumpukkan kedua telapak tangannya pada pagar pembatas balkon tersebut, sedangkan Leera justru memunggungi pemandangan pantai tersebut dan menyandarkan pinggangnya di pagar pembatas sembari bersedekap dada.

“Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terimakasih atas krim luka yang kau berikan padaku tadi pagi.” Leera berinisiatif untuk membuka percakapan lebih dulu.

Nevermind, bagaimanapun juga aku merasa bersalah karena kau terluka saat bersamaku,” jawab Sehun dengan pandangan lurus kearah Pattaya Beach.

Leera menoleh ke arah Sehun dan tersenyum tipis. “Tidak, kau tidak salah sama sekali. Ini semua karena aku saja yang ceroboh dan tidak bisa berenang pula,” sergah Leera.

Kini Sehun menoleh ke arah Leera. “Oh ya, apa kakimu masih sakit?” tanya Sehun. Leera mengangguk, “Masih, tapi sudah tidak terlalu, aku rasa lukanya sudah hampir kering.”

“Sayang sekali, padahal besok aku ingin mengajakmu ke Bangkok,” ujar Sehun lagi dengan wajah murung dan menunduk ke arah pagar pembatas yang menjadi tumpuannya tersebut.

“Bangkok?! Whoa, aku benar-benar ingin kesana!!” tiba-tiba Leera memekik girang ketika mendengar ucapan Sehun tadi.

“Ya, aku juga ingin kesana bersamamu. Tapi sepertinya kakimu masih terlalu sakit untuk menyusuri Bangkok besok, tidak mungkin ‘kan aku menggendongmu seharian di Bangkok?” balas Sehun dengan sedikit candaan diakhir.

“Eii, siapa bilang? Aku mampu kok berkeliling Bangkok. Luka sekecil ini tidak akan berpengaruh pada diriku. Ayo kita ke Bangkok besok!!!” jawab Leera yang semakin bersemangat. “Lihat, kakiku sudah tidak sakit lagi,” lanjutnya sembari menghentakkan kedua kakinya beberapa kali untuk meyakinkan Sehun.

Sehun tak dapat menahan cengiran gelinya melihat tingkah Leera yang sungguh bersemangat dan ini adalah kali pertamanya melihat Leera se ekspresif ini, perlu kalian ketahui, saat ini Sehun sedang bahagia setengah mati melihat tingkah Leera.

“Hei, mengapa kau semangat sekali? Aku tidak menyangka kau bisa bertingkah seperti ini,” ujar Sehun yang semakin menyengir lebar seperti kuda.

“Bagaimana tidak semangat, aku sudah lama ingin ke Bangkok, karena apa? Kudengar dari rekan kerjaku, berbelanja fashion di Bangkok sungguh murah dah kualitasnya oke!!” jawab Leera menggebu-gebu.

“Dasar wanita, hobi sekali sih berbelanja,” cibir Sehun sembari mencubit pipi sebelah kiri Leera.

“Asal kau tahu, dibandingkan pantai seperti ini serta wisata alam lainnya, aku lebih memilih wisata di kota, karena aku bisa berbelanja dan menikmati hal modern lainnya. Aku tidak terlalu suka berbaur dengan alam dan hal-hal tradisional, pengecualian untuk hobi melihat bintang di malam hari” jelas Leera.

Well, kalau boleh jujur, ia tidak terlalu menikmati liburannya di Pattaya, karena sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di negeri pengekspor beras terbesar di Asia ini, ia selalu memikirkan Bangkok, Bangkok, dan Bangkok.

“Jadi?” tanya Sehun sembari tersenyum tipis dan mengangkat sebelah alisnya.

“Jadi? Ya, kita berangkat ke Bangkok besok, oke, oke?” pinta Leera dengan wajah penuh harap percis seperti bocah berusia lima tahun.

DEG

Sehun tertegun, bukannya tergelitik melihat tingkah kekanakkan Leera, ia justru mendapatkan sekilas bayangan saat melihat jauh kedalam manik mata beriris honey brown tersebut. Ia rasa ia baru saja mengalami deja vu. Karena apa? Karena ia merasa seakan-akan ia pernah menyaksikan ekspresi kekanakan Leera tersebut di masa lampau yang tak ia ketahui kapan tepatnya itu terjadi. “Ekspresi serta tatapan mata itu… tidak asing. Aku pernah melihatnya sebelumnya,” batin Sehun. Ia bahkan menyipitkan kedua matanya untuk mengingat-ingat sekilas bayangan yang menghinggapinya tadi.

Mungkinkah Sehun pernah menjumpai tatapan yang sama dengan tatapan Leera saat ini? Tapi kapan, dan dimana? Karena perlu kalian ketahui, Sehun dan Leera baru bertatap muka beberapa minggu belakangan ini.

Dan…

Ingatkah kalian bahwa Leera juga pernah merasakan hal serupa saat pertemuan mereka di ruangan rapat kala itu?

 

 

TO BE CONTINUED

.

#PREVIEW FOR NEXT CHAPTER

 “Sudah siap menjelajah Bangkok bersama bos tampanmu ini?”

“Ternyata gadis ini cantik juga. Sayangnya kau harus terlahir dari rahim wanita jalang seperti itu.”

“Senang bertemu denganmu disini, Oppa. Perkenalkan ini Oh Sehun, atasanku di kantor. Kebetulan aku sedang ada urusan kantor disini,”

“Ah, atasanmu ya? Aku kira kau sudah memiliki penggantiku.”

“Apa kau masih menyukainya?”

===

Ketemu lagi kita hellow hellow😀

Duh bingung mau ngomong apa nih wkwk intinya, tetap ikutin terus yah ceritanya Sehun – Leera, jangan bosen-bosen pokoknya!! Hihihi.

and the last, maaf kalau ada typo dan sejenisnya, percayalah bahwa aku juga manusia yang nggak bisa lepas dr typo.

[ note :: chapter 10 akan di update apabila comment sudah mencapai 70 comments, thanks!😀 ]

 

 

57 responses to “Unspeakable Secret | 9th Chapter

  1. aakkk keterusan baca ampe lupa komen author stagahhh. kusuka sekali ceritanya ga terlalu terburu2 ga kelamaan bgt jugaa, alurnya syantiqq. ini perasaan aku aja atau emang ini otp an di exo ya? kai sama do (nami), chanyeol sama byun (hyayoung), sehun sana xi (bapaknya leera) oh myyy wakakak

  2. Pingback: Unspeakable Secret | 10th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Jongin sama Sini itu mantanan yaa? Kisah Jongin-Nami juga menarik nih.

    Leera kayay pernah liat tatapan Sehun. Sehun juga kayak perang liat tatapan Leera.
    Apa di masa lalu mereka pernah saling kenal?

    Itu preview, pas Sehun-Leera jalan-jalan ke Bangkok mereka ketemu mantannya Leera ya. Kkkkkk~

    Semoga aja dari situ Sehun ngerasa cemburu, terus Sehun suka deh sama Leera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s