[5th] Snapshots by slmnabil

snapshot-slmnabil-bycastorpollux

Author : slmnabil | Cast : Hong Seoljin (OC), Kim Jongin, Park Chanyeol

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : CASTORPOLLUX@posterchannel

prolog : one dance | 1st | 2nd | 3rd| 4th

FIFTH SHOT

Aku sering membicarakan adegan picisan seperti pertengkaran di mobil yang diakhiri permintaan diturunkan dengan Chanyeol. Dan keuntungan berpacaran dengan Park Chanyeol adalah aku tak akan pernah mengalaminya, karena kabar baiknya dia bukan orang yang suka mendramatisir.

Lain dengan Jongin.

Dia agak sulit diajak bergurau. Seringnya ia bertindak sesuai suasana hatinya tanpa mempertimbangkan untuk menyamaiku. Akulah yang dipaksa mengalah dan menyeimbangkan dengan emosinya yang naik turun.

Untuk pertama kalinya, aku berpikir bahwa berpisah dengan Kim Jongin adalah sebuah anugerah.

“Kau mau membawaku ke mana?!” teriakku, marah.

Aku agak yakin Jongin tak akan menjawab karena (1) rahangnya yang terkatup mengeras (2) pandangannya siaga menatap jalan (3) buku-buku jarinya memutih karena kepalang kuat memegang setir.

Beberapa detik kemudian ponselku melantunkan nada dering panggilan masuk. Karena terlalu kesal untuk sekadar memikirkan aturan Jongin, langsung saja kuterima panggilannya.

“Oh Tuhan, Seoljin! Akhirnya kau mengangkat panggilanku.” Suara Chanyeol jelas menunjukkan kelegaan. Jarang-jarang aku mengabaikan teleponnya seperti itu.

“Maaf,” sahutku singkat. Tiba-tiba Jongin membanting setir ke kiri yang membuat tubuhku praktis membentur pintu, ponselku lepas dari genggaman. “AAA!” —aku berteriak nyaring—”Apa, sih, isi kepalamu?!” Aku berusaha memungut ponselku yang terjatuh setelahnya.

“Ruang kosong,” jawab Jongin menyebalkan seraya membanting setir ke kanan. Kepalaku terantuk karenanya. Sial.

“Kalau kau sedang berusaha membunuhku” —dia membanting setirnya lagi dan lagi seperti orang kesetanan— “AAAAA!” Cepat-cepat aku meraih pegangan di atas agar tidak terpelanting ke sana ke mari.

Kulirik ponselku yang menunjukkan kalau aku masih terhubung dengan Chanyeol. Oh, tidak. Dia akan khawatir. Aku yakin dia tengah mengatakan sejuta kalimat tanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Namun, sebesar apapun keinginanku untuk mengambil ponselku dan menjawab, aku cukup yakin Jongin akan semakin menjadi-jadi. Dia paling tidak suka pelanggaran kontrak. Jadi kulepas sepatuku cepat, lalu menggerakan ibu jari kakiku untuk memutus panggilan. Yang untungnya berhasil.

“Pacarmu?” tanyanya sinis.

“Bukan urusanmu!” sahutku ketus.

“Oh, tentu urusanku. Kalau dia memang pacarmu aku akan menabrakkan mobil ini.”

Ya Tuhan, dia sudah gila. Dia sadis. Aku sangat ingin mengatakan panggilan tadi dari calon suamiku, kau mau apa? Tapi mengingat (1) aku ingin menikah dulu sebelum mati (2) aku sudah menabung untuk membeli gaun pernikahanku (3) aku tidak mau mati bersama mantan pacarku yang menjengkelkan luar biasa.

“Itu sahabatku! Puas?! Sekarang hentikan benda ini dan turunkan aku!”

Jongin menyeringai. “Kurasa tidak.” Ia menambah kecepatan mobilnya.

Hal terakhir yang ingin kulakukan di dunia ini selain mengemis dan bunuh diri adalah kembali ke ruang latihan tari bersama mantan pacarku. Dan terima kasih kepada Jongin, aku terpaksa merasakan itu sekarang.

“Turun,” katanya dengan nada memerintah.

Tapi aku tak berkutik. Sial benar dia.

“Dari tadi kau memintaku menurunkanmu, jadi sekarang kuberi kau kesempatan untuk turun.”

Aku menyilangkan lenganku, tak berniat menyahutinya atau bahkan meliriknya dari sudut mata. Persetan.

“Oke, kalau begitu aku akan membawamu lebih jauh lagi.”

Astaga, bisakah ia lebih menyebalkan lagi?

Tanpa melihatnya, kubuka pintu mobil dan menapakkan tungkaiku ke tanah. Masih tanpa bicara aku menunggunya untuk mengatakan apa maksud di balik dia membawaku ke sini setelah empat tahun berlalu.

“Ayo masuk,” katanya.

Yang benar saja! Apakah aku terlihat seperti wanita yang akan mengikuti apapun perkataannya?

“Seoljin, masuk.” Sekarang nadanya lebih tegas.

Oke, oke. Lebih cepat masuknya, akan lebih cepat aku melepaskan diri dari semua ini.

Kubiarkan Jongin memimpin jalan. Ia mengeluarkan kunci dari saku celananya dan memasukkannya ke lubang kunci, memutarnya dua kali. Pintu pun terbuka. Aroma kayu dan pengharum ruangan berebut masuk ke penciumanku. Kupendarkan pandanganku ke sudut-sudut ruangan seraya menjejakkan kakiku masuk semakin dalam.

Oh, Tuhan. Ini sudah empat tahun sejak terakhir kali aku di sini. Kilas balik mengenai apa-apa yang dulu kulakukan dengan Jongin di sini dan apa yang kulakukan setelah kepergiannya, satu per satu berdatangan. Begitu segar di ingatanku bahwa selama sebulan aku terus ke mari dengan harapan kosong kalau Jongin akan pulang, yang sama sekali tak pernah terjadi.

Kemudian aku menolehkan kepalaku untuk menatap Jongin. Astaga, terlepas apa yang sudah kualami karenanya aku tak bisa menampik kalau aku merindukan pria ini. Suasana hatinya yang tak terduga, senyumannya, sentuhannya, kata-kata cintanya. Dan di atas segalanya, aku rindu berdansa dengannya di tempat ini.

Menyadari aku sedang menatapnya, Jongin balas menatapku. Ia meraih tanganku, meletakannya di pundaknya, lalu menarikku mendekat. Dadaku bertabrakan dengan miliknya.

Aku tak bisa berkutik. Aku mengutuk tubuhku yang mengkhianati pikiranku. Aku tidak menginginkan ini, namun nyatanya aku tak bergerak sedikit pun.

Jongin lalu menggerakkan kakinya maju-mundur dan ke samping, menuntunku untuk berdansa dengannya. Mau tak mau tubuhku mengikuti gerakannya.

DEMI TUHAN SEOLJIN, SADARLAH!

“Maafkan aku,” katanya lembut.

Aku praktis mendongak. Ada apa dengan pria ini dan emosinya sepanjang hari yang menyebalkan?

“Karena meninggalkanmu dan bertemu denganmu lagi setelah empat tahun. Aku pasti mengacaukan hidupmu, ‘kan?” lanjutnya.

“Kau baru sadar?” tanyaku, bergurau.

YA AMPUN, SEOLJIN! APA YANG SEDANG KAULAKUKAN SEKARANG?!

KAU INI AKAN MENIKAH DENGAN CHANYEOL, TAPI LIHAT: REUNI MANTAN PACAR?!

SIALAN JONGIN, BERHENTI!

“Kau mau memaafkanku?”

“Kalau menjadikanmu bersikap lebih baik … baiklah,” sahutku.

Oke, niatku adalah bekerja dan menuntaskan segalanya selama dua minggu ini, kan? Ini termasuk langkah untuk mempermudah semua prosesnya, kan? Aku bukannya berkhianat pada Chanyeol atau semacamnya, kan?

Jongin menarik lenganku ke atas, membuatku berputar, kemudian ia berhenti. Dia menatapku. Berdiri tepat di hadapanku dengan pandangan yang sepenuhnya berpusat padaku.

“Apa?” tanyaku.

“Terima kasih.” Senyumnya mengembang. “Karena melepaskan titel mantan pacar menjengkelkan dariku.”

“Oke,” sahutku.

Jongin menarik lenganku lagi, namun kali ini ia mendudukkanku bersandar ke cermin, sebelum ikut duduk di sampingku. Ia melepaskan jasnya lalu menyelemuti tungaiku yang diluruskan dengan itu.

“Dulu aku tak tahu harus menjelaskannya seperti apa padamu. Hari pameranmu adalah hari di mana aku memutuskan untuk menerima tawaran agensi itu.”

Oke, ini akan baik-baik saja. Ia hanya mau bicara. Seperti dibacakan dongeng pengantar tidur.

“Tapi kemudian kau muncul dan meruntuhkan keyakinanku. Keputusanku jadi samar-samar, aku tak mau meninggalkanmu. Namun kemudian aku berpikir kalau kesempatan yang sama tak akan datang dua kali, jadi aku pergi.” Ia menoleh, menatapku. “Aku benar-benar minta maaf.”

Aku menghela napas panjang. “Dulu aku sangat kecewa padamu. Tapi kalau kupikirkan sekarang dari sudut pandang orang yang mengejar cita-cita, aku setuju dengan keputusanmu. Hanya saja setidaknya kuharap kau menceritakannya dulu.”

Jongin tertawa lemah. “Jadi kau tak perlu susah payah mencari alasan untuk menolakku saat kutawari pekerjaan.”

Membayangkan kejadiannya membuatku ikut tertawa. “Aku benar-benar terkejut tahu. Jantungku seperti pindah ke mulut.”

Kami tertawa. Sebagian kecil dari diriku mengatakan ini tidak seharusnya dilakukan, namun sebagian lain melegalkan dengan alasan menuntaskan permasalahan masa lalu.

Dan Jongin terlalu memikat untuk kutinggalkan begitu saja sekarang. Tak terasa pembicaraan kami bergulir sampai matahari digantikan dengan bulan. Pengalaman Jongin selama empat tahun ini, apa saja yang kulalui tanpanya, pembicaraan itu tak henti-hentinya membuat kami tertawa. Bagaimana Jongin menyelinap karena rindu rumah, pertengkaranku dengan Raeum, semuanya masuk dalam topiknya.

“Kau memang mantan pacar yang buruk,” kataku, masih meredakan tawa. “Tapi kau teman yang baik.”

“Jadi sekarang kita berteman?” tanyanya.

Aku tak menjawab.

“Oke, kenapa tidak?” lanjutnya.

“Jadi bagaimana pertunjukanmu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku dan Yura akan mengatasinya,” sahut Jongin. “Bahkan aku sudah punya rencana untuk mendapatkan Trandy kembali.”

“Benarkah? Baguslah.”

“Putri pemiliknya menyukaiku, aku menolaknya. Kurasa itulah alasan mereka menarik kerjasamanya. Aku tinggal pura-pura menyesal dan suka padanya saja.”

“Memangnya dia akan percaya?”

“Tentu. Cinta itu buta.” Jongin tertawa. “Bagaimana menurutmu?”

“Boleh dicoba. Meski kupikir itu agak kejam,” sahutku jujur. Iya, kan? Itu sama saja memberi harapan kosong.

“Kau baik-baik saja dengan itu?”

Dahiku mengerut. “Dan kenapa aku mungkin tidak baik-baik saja?”

“Entahlah. Karena kau seperti teman yang mungkin kuraih?”

OH, TIDAK. SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI.

Sebenarnya aku tercengang dengan bagaimana aku mengahadapi hari ini dan masih belum gila.

Selesai dengan pembicaraan bersama Jongin dan kami setuju untuk segera pulang, di sinilah aku berakhir sekarang. Di dalam mobil bersama temanku di depan apartemeku dan Raeum, mengucapkan selamat malam.

“Sampai jumpa besok,” kata Jongin sebelum melajukan mobilnya dan menghilang di belokan jalan.

Entah datang dari mana, suara Raeum tiba-tiba muncul menyalak.

“Calon suamimu kelabakan menanyai semua kenalanmu di Korea karena kau yang sedang reuni dengan mantan pacarmu dan ponselmu tak bisa dihubungi. Kau pantas dihukum, tahu tidak?”

Astaga, Park Chanyeol! Terkutuklah aku! Bisa-bisanya aku mengabaikannya?

Mengacuhkan kemarahan Raeum, segera aku lari ke arah gedung apartemen, naik lift dan memasuki apartemen kami, langsung melesat ke kamarku. Kunyalakan laptopku untuk menghubungi Chanyeol lewat panggilan video. Ini tidak bisa diselesaikan via suara ataupun surel. Aku mengacau. Kekacauan yang parah sekali.

Tak perlu menunggu lama akhirnya layar laptopku dipenuhi wajah Chanyeol di seberang sana, yang tak bisa kupungkiri sama kacaunya dengan masalah yang kubuat.

“Aku akan memesan tiket kembali ke Korea kalau kau tidak menghubungiku dalam 24 jam, tahu tidak?” Nada bicaranya terdengar marah, namun di balik wajah lelahnya aku dapat melihat kelegaan luar biasa.

Ya Tuhan, dosa sebesar apa yang kubuat karena mengabaikan pria sebaik Park Chanyeol?

“Maafkan aku,” kataku lemah.

“Panggilan terakhir yang kau buat adalah teriakan. Demi Tuhan, Seoljin jika sesuatu terjadi padamu ….” Chanyeol tak mampu menyelesaikan kalimatnya, begitu tampak frustasi.

Sepanjang siang dan malam yang dipikirkannya adalah keselamatanku, dan yang kulakukan malah bersenda gurau dengan mantan pacarku. Aku benar-benar yang terburuk.

“Chanyeol, aku baik-baik saja.” Sungguh, aku tak tahu harus mengatakan apa.

“Ya, tapi aku tidak. Aku khawatir, marah, ingin terbang ke Korea sekarang juga, merindukanmu, astaga kau tak akan tahu isi pikiranku sekarang.” Chanyeol mengerang.

“Jangan marah padaku,” kataku. Yang benar saja?! Chanyeol punya hak seratus persen untuk marah sekarang!

Kini Chanyeol tampak putus asa, ekspresinya menunjukkan kalau ia terluka. “Demi Tuhan, Seoljin, mana bisa aku marah padamu?”

“Aku mencintaimu,” kataku tulus. Ya, aku tak meragukannya. Kalau bukan untuk Chanyeol, perasaanku ini untuk siapa?

“Ya Tuhan, Seoljin. Aku juga mencintaimu.”

“Kalau begitu cepatlah pulang, aku merindukanmu juga. Kalau tidak—”

“Kalau tidak?” tantangnya, nada cerianya kembali lagi. Syukurlah.

“Kalau tidak aku mungkin akan kehilangan akal dan memecahkan layar ini karena berpikir bisa jadi jalanku untuk menemuimu.”

“Coba saja,” sahut Chanyeol diselipi tawa.

“Tapi kau yang bertanggung jawab mengganti laptopku.”

“Tentu. Sebentar lagi semua milikku akan menjadi milikmu juga.”

Astaga, apa yang membuatku menggantungkan lamaran pria ini selama lima bulan?

“Seoljin, tidak bisakah kita memanggil pendeta dan menikahkan kita sekarang?”

Aku praktis tergelak tawa. “Kau punya nomor kontaknya?”

 

TO BE CONTINUED

updated every saturday-sunday

  • follow wordpress pribadi nabil❤ slmnabil.wordpress.com

36 responses to “[5th] Snapshots by slmnabil

  1. entah ya.. tapi aku suka banget seol-chan ketimbang seol-kai…
    nyata-nya, bagiku kai itu harusnya cuman jadi masa lalu seoljin dan chan akan jadi masa depannya… -seperti yang dibilang seoljin sendiri-
    tapi realitanya.. biasanya sih.. endingnya seoljin bakal sama kai, well kisah semacam itu… -biasanya-
    gk tau lagi sama ini…
    tapi entahlah.. lebih suka seoljin sama chan nih..

  2. chanyeol cpet blik k korea, nikah sm seoljin.. fix… itu pgnnya.. kekeke
    kai itu menyebalkn…
    lebih baik memikirkn masa depn yg sudh jelas trtata dan saling mencintai..
    kai it bgian dr masa lalu yg tdk hrus d lupakan tp jg tdk boleh mengacaukn masa depn. setiap keputusan yg telah diambil pasti ad resiko.. resiko kai adlh kehilangan seoljin untuk meraih cita2nya…
    biarkn seoljin bahagia sm chanyeol..

  3. Oh My… Jongin kode ngajak balikan?? Duhh nambah lagi deh masalahnya Seoljin, lagian sii tau udah ada Chanyeol eh malah nyoba job ama mantan yg dulu masalah cintanya belom kelar pula wkwk
    Lierr kann??? Hehe
    Ditunggu next part ka^^ Tengkyu

  4. Demi kancutnya chanyeol yg bolong2!!!!! AAAA SEOLJIN SAMA CHANYEOL AJAAAA DOOONG PELIIIZZZZ!!!! ah tapi disisi lain aku juga mau dia sama jongin, tapi jahat banget kalau seoljin balik sama jongin, cowok sebaik chanyeol gak pantes di jahatin kayak gituuuu aaa :((((

    Parah siiih coba kalau castnya bukan chanyeol, aku relain seoljin sama jongin, tapi ini….. aaaah gak sabar buat minggu depan, tapi gamau buru2 minggu depan karena bakalan banyak tugas di akhir pekan huh #maafjadicurhatwkwk

  5. Chanyeol easygoing….tpi apa reaksi chan klo tau seol kerja brg mantan pacar…gak enak jdi seoljin biar gmana pun jongin udah bicarain knapa dy pergi diam2…chanyeol yg kelewat sabar…

  6. kyanya seoljin msih terjebak dlm byangan msa llu sma kai… trz bingung mmtuskn msa depanny dgn chanyeol… ntah knp kyany dy lgi dilema … klo pun skrg jg mnggil pendeta,, seoljin msih ragu nih kayanya sma chanyeol,, mngkn… keep writing thor…

  7. Suka banget sama seljin-chanyeol…
    Tuh kan jongin masi suka sama seoljin. Ngajak balikan lagi .. Jujur aja aku rada ga ikhlas kalo seoljin balikan lagi ama jongin. Bener2 brharap kalo seoljin ama chanyeol aja..

    Okedeh ditunggu ya next chapternyaa

  8. punya calon suami seperti chanyeol dan mantan terindah kaya jongin adalah anugrah terindah dalam hidup gue kalo aku jadi seoljin hehehe

    aaaaa chan, apa masih ada cowok seperhatian kamu dan apa masih ada cowok semenyebalkan jongin item ?? hahaha

    aku takut nih nanti chanyeol bakalan terluka pdahal dia super duper baik tapi biar bagaimanapun jongin tetap paling membekas dihati seoljin dn kayaknya 2 minggu kedepan nanti bisa jadi proses penumbuhan cinta lagi buat kai ama seoljin, penasaran seoljin nanti pilih siapa karena aku yakin cinta seolji sama jongin itu masih ada tapi kalau disuruh milih mending seoljin sama kai aja, chanyeolnya sama aku😀
    ditunggu kelanjutannya ^^

  9. semakin ke sini semakin gak suka sama kai… ahhh kenapa lu dateng sekarang sih??? chanyeol juga cepet pulang napa… biar cepet nikah jadi sih seol gak goyah lag

  10. Kyaaaaa siapa lagi putri pemilik trandy….. cinta bakal makin rumit dan bersegi2 ini hahaha. Suka sma part ini keep writing thoorrr

  11. gila ya pacar sebaik chanyeol kurang apa coba kurang apaaa seoljinnn.. hiks
    aku setuju seoljin sama chanyeol.. tapi.. kok kayaknya masih ada something antara seoljin sama kai ya wkwkwk

  12. Kyaa~~~ part chanyeol dikit tapi kok sweet banget ya 😍
    Bisakah seoljin tetap berakhir dengab chanyeol? Huh drpd sm jongin hahha harapan hanya harapan deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s