[FREELANCE] Ma Memoires, Tu Memoires

z3

Title : Ma Memoires, Tu Memoires
Author/twitter : Delonius (Twitter: @delonius52)
Cast : Kim Seokjin x Hong Rain
Genre : Sad Romance
Rating : M
Length : Oneshoot
Disclaimer : Hanya ide dan alur yang milik saya.

Warning: Some adult content

Rain adalah parasit, Rain adalah sampah, Rain adalah—badai negatif melebihi guyur hujan yang lebat.

Itu semua yang ingin di percaya Seokjin saat ia mengerjapkan mata di awal hari. Kakinya jatuh dari ranjang lalu menderap menuju kamar mandi, membersihkan diri dan segala tetek-bengek di pagi hari. Ia keluar dari kamar dengan Sweatshirt Andersson Bell, meringkus sarapan paginya (yang hanya roti tawar tanpa selai).

“Jin-ah, aku sudah memasak nasi goreng kimchi──

Debuman keras jawabannya. Sesaat sebelum itu Rain sempat melirik wajah Seokjin yang tak bersahabat, suram, seakan mendeklarasikan bahwa semalam bukanlah apa-apa. Pengangkatan sumpah janji setia bagai dandelion yang dalam kerjapan mata goyah tertiup angin. Rain menilik pada masakannya, duduk dengan wajah masam lalu mulai memakaninya. Miris. Rasa hambar yang menguar pada langit-langit mulutnya.

“Ini belum berakhir, kan?” Airmatanya menetes satu kali, mengusapnya kembali dengan ekspresi sok tegar lalu tersenyum pahit, “A─ah aku baik-baik saja, kok.”

 

Hahaha…ha, ha, hhh──a

 

.

Napasnya terengah, dengan mata menyalang kuat ia melirik bartender. Menggenggam erat sandaran kursi di sebelahnya, mencari perspektif singkat. Mulut Seokjin meracau tak jelas, pada akhirnya sang bartender tahu apa yang ia inginkan. “Martell Cordon Bleu.” Selepasnya bartnder mengangguk gelagapan, tangannya bergerak cepat seiring ketukan Seokjin yang menggema pada meja bar.

“Ini, tuan.”

Seokjin tak mau repot-repot mengambil gelas tebal di sisi kirinya. Menegaknya langsung pada botol kaca yang terisi penuh. Cairan kecoklatan itu sudah tandas, tanpa sisa setidaknya setelah beberapa menit berada di tangannya. “Yaaaa──” ia memutar matanya jengah, mendorong wanita jalang yang tadinya bergelayut manja pada bahu lebarnya; bahu seorang Kim Seokjin tak boleh di sentuh, oleh siapapun.

“Tu-tuan … tuan sudah mabuk──”

“Wiski … kubilang berikan aku Wiski ….” Dalam 19 detik, sebotol Wiski tersedia di hadapan Seokjin. Meringkusnya begitu beringas, lalu tumbang pada menit kedelapan. Para manager bar kewalahan, berakhir pada berbagai macam kartu yang ada di dompet Seokjin namun yang ditemukan hanya satu. Kartu kependudukan.

.

Ketukan yang terdengar di tengah malam membuat Rain tersentak dari tidurnya. Memang, tadinya ia menunggu Seokjin. Bagaimana bisa ia mengabaikan lelaki itu sementara ayahnya berpesan begitu lembut padanya sebelum pernikahan terjadi, “Jaga Jinnie-ku selagi ia bersamamu.” Miris, seharusnya itu di tujukan untuk mempelai laki-laki. Rentetan kata itulah yang membuat Rain berpikir bahwa Seokjin benar-benar lelaki polos yang harus di jaga. Namun baru beberapa hari seatap, tampaknya itu perspektif yang salah. Subtansinya, Seokjin lelaki liar di luar keluarganya.

“Ya … Seben─tar,” ucapnya terputus. Matanya liar mengamati sosok yang tengah dipapah begitu lemahnya, sebagian besar bagian wajahnya memerah dengan lengan lunglai tak berdaya. “Seokjin?”

“Tuan ini mabuk di bar kami, jadi kami berinisiatif membawanya kemari.”

“Te-terima kasih, berikan saja padaku.” Seokjin sudah berpindah tangan, ada di rangkulan Rain dengan kepala yang memiring.

“Ini faktur minuman yang di pesannya tadi.”

Chivas Vegas 21 tahun, Gin, Brendi, Rum─astaga, semuanya lebih dari 100.000 won. “Tuan, ini faktur atau daftar harga di bar anda? Astaga, banyak sekali.”

“Seluruhnya sudah tertera, satu setengah juta won, nyonya.” Rain mendelik kesal, memapah asal Seokjin menuju sofa ruang tengah lalu mengambil kartu debetnya dari dompet.

“Bisakah?” tanyanya sambil menggantungkan kartu debetnya di udara. Matanya mengecil takut-takut, habisnya melihat nominal tagihan Seokjin membuatnya bergidik ngeri.

“Tentu, nyonya.” Rain tersenyum senang, membungkuk hormat ketika pria yang cukup berumur itu pergi setelah mendeteksi kartunya dengan suatu alat. Tubuhnya berbalik, berniat untuk membawa Seokjin pada peraduannya.

“Ji-jin, kau kenapa─” Akal Rain serasa kosong, menatap netra Seokjin satu arah membuat dadanya meletup seperti kembang api. Rambutnya lepek terkena keringat, wajah merahnya terlihat seksi dengan bibir merah menggoda. Bibir Rain bergetar takut-takut, tangan Seokjin ada di setiap sisi tubuhnya. Melihat cara Seokjin menatapnya saat mabuk membuatnya gemetar luar biasa. Di luar tengah turun salju, sensasi dingin sudah dapat di pastikan terasa hingga tulang terdalam. Cara Seokjin melepas Lewis Leather-nya lalu berdalih pada  rompi Diesel ELSH-PATCH yang ternyata juga menjadi penghangat Seokjin di musim salju terdingin tahun ini. Hanya meninggalkan kaos Astrid Andersen-nya lalu menggerakkan bagian depan telunjuk dan jari tengahnya secara sensual terhadap pipi Rain. Gemeretak gigi Rain terdengar beserta ringisan kecilnya, menjatuhkan setitik airmata yang mengenai tanga Seokjin. “A-apa … yang kau lakukan?”

Seokjin meremas pergelangan tangannya dengan keras, erat tanpa celah. Menariknya paksa menuju sofa beludru hitam yang berada di ruang tengah. Menghempaskan tubuh kecil Rain tanpa rasa kasihan. Permainan Seokjin di mulai; di pastikan tak ada batasan limit setelah memulai. Rain bergemetar kuat, merapalkan nama Seokjin berkali-kali hingga lelaki itu muak, “Seokjin, Seokjin … kumohon….” Seokjin menggeritkan gigi tanda tak setuju, menghembuskan napas penuh aroma alkohol hingga Rain bergidik. Indera perabanya serasa mati ketika Seokjin menjamah wajahnya penuh sensual dengan sebelah tangannya, sisanya ia mengunci pinggul wanita itu begitu erat. Rain terpejam, menolehkan kepalanya asalkan tak lagi dapat menatap rupa sempurna semacam Kim Seokjin. Seokjin memegangi belikat Rain, menghantukkan dahinya dengan dahi wanita di hadapannya, menyatukan ujung hidung mereka secara paksa lalu maraup mulut Rain dengan mulutnya secara brutal. Logikanya nol besar, sama tak heran dengan isi kesadarannya, tak ada yang terisi pada kepalanya selain memuaskan nafsu birahi yang entah sejak kapan muncul. Seharusnya ia melampiaskannya saja tadi pada wanita jalang di bar bintang lima itu, tapi entah mengapa nalurinya hendak pulang, itu saja.

“Kau harus menggantikan Delo, aku tak peduli.” Dengan mata sayunya Seokjin meracau, Rain mengaliri pipinya dengan airmata. Menyatukan gigi-giginya begitu gentar, pandangannya kabur benar. Tanpa ada niat menghapus jejak airmata Rain, Seokjin kembali mengambil mode beringas. Menyumbu bibir Rain tak sabaran hingga gadis itu memekik kesakitan dalam hati, terasa kelu untuk mengakui sakitnya diri. Seokjin mengeluarkan lidahnya, menyentuh telinga Rain dengan indera perasa itu lalu turun pada tulang belikatnya. Memberikannya segala sensasi menggelikan dan terkadang terasa ─sakit.

Sengatan listrik terasa saat mata Seokjin begitu haus akan nafsu. Melucuti segala yang di kenakan Rain untuk musim dingin, menjamahi seluruh tubuh wanita itu tanpa ampun. Membawa wanita itu pada dirinya yang terdalam, menunjukkan bahwa; inilah Kim Seokjin. Rasa kagum Rain pada Seokjin ─yang kelihatannya─ begitu terlihat layaknya bangsawan yang memiliki perbawa yang melekat sejak mereka masih kecil di pertemuan para konglomerat Korea Selatan, runtuh tak bersisa. Keluarga Hong begitu menghormati dan menghargai keluarga Kim sejak dulu, bahkan mereka sering makan malam bersama jauh sebelum berita ‘perjodohan’ di cetuskan.

Seokjin melepaskan celana abu-abu beanpole-nya sembarang. Mengontak kedua binar mata ketakutan Rain dengan seduktif penuh, tak ada yang memulai pembicaraan setelah napas terengah dari keduanya. Seokjin mencetak sunggingan nakal lengkap dengan bola mata yang bermain. Kembali membawa Rain pada sensasi puncak yang tak pernah sekalipun di bayangkan gadis 2 dekade itu. “Jin, kau mabuk.” Satu-satunya lirihan yang terucap dari bibir Rain walau tak berenergi dan bervolume minim. Seokjin mendekatkan wajahnya, mengucapkan sesuatu dengan gerakan halus, jemarinya bergerak dari ujung kepala hingga bagian atas paha Rain yang tak lagi terbungkus.

“Aku? Tidak.” Tolaknya mentah-mentah. Bermain-main pada bagian bawah tubuh Rain sembari menjelaskan segalanya, “Kau pikir aku tengah bercinta dengan adik Namjoon itu? Akalku masih sehat untuk melakukan seks bersama istriku sendiri, Hong Ra In.” Pelafalannya begitu jelas bagi Rain, terdengar tabu untuk keturunan bungsu Hong. Sangat vulgar hingga membuatnya menggelinjang bersamaan permainan Seokjin pada selatan tubuhnya. Mata Rain sayu, melewati masa orgasme pertamanya dengan derai airmata. Seokjin tersenyum puas, “Secepat itukah?”

Sial, Seokjin sangat terampil di ranjang. Ralat, mereka masih berada di ruang tengah, di atas sofa yang sempit bukan main. Seokjin membawa Rain pada pinggulnya, membawa wanita itu dengan kedua kaki Rain yang melingkar pada tubuhnya. Rain lelah, menumpu kepalanya tanpa daya di atas pundak Seokjin yang lebar, memeganginya dengan erat hingga ke tulang belikat Seokjin takut-takut pria itu merenggangkan gendongannya. Setelah dentuman pintu kamar, hempasan kuat yang di dapat Rain. Wanita itu kembali mengerang sakit, menggigiti bibirnya kuat menahan nyeri pada memar yang baru di dapatnya di ruang tengah. “Yang ini hukumanmu karena sudah memegangi pundak berhargaku.”

Tangan Seokjin menyampirkan poni Rain dengan pelan, sengaja menguji nafsu yang di miliki Rain saat ia menyentuhnya. Rain mengeluarkan desah panjang setelah Seokjin memberikan tanda di kulit tulang selangkanya, di sertai ritme kurang ajar pada pusat tubuhnya, mempermainkan seluruh hasrat wanita Hong yang di cumbuinya berkali-kali hanya dalam semalam. Keringatnya mengucur dari ujung pelipis hingga dagu, menetes begitu banyak. Bersanggama bersama Seokjin membuat Rain seakan mabuk akan Seokjin. Pikirannya penuh dengan Kim Seokjin, Kim Seokjin, dan Kim Seokjin. Masalah pelampiasan nomor sekian, belai beringas Seokjin mendominan. “Seokjin, a─ku.”

Tamparan Seokjin terealisasi pada belakang Rain, Rain mengerti, ia tak boleh membantah. Seokjin kembali dengan aksinya yang kasar, entah mata Rain yang salah karena sudah beberpa kali orgasme akibat Seokjin, atau karena pencahayaan kamar yang begitu temaram dan minim; Seokjin meneteskan satu kali airmata. Entah untuk siapa dan bagaimana, Rain memilih bungkam.

Musim dingin terasa seperti malam musim panas dibuatnya. Penghangat ruangan bagai hanya pajangan semata seketika, peluh pemandangan biasa, aroma dewasa menguar seketika bersamaan dengan napas tersengal tinggal satu-satu. Seokjin menciumnya sekali lagi sebelum membawa Rain pada dekapan hangatnya. Masih mencoba menjamah tubuh wanita itu sebelum akhirnya terlelap di sela antar leher dan dada Rain. “Danke schön.”

Rain hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya ikut terlelap. “Bitte schön.”

.

Rain terbangun akibat gemerasak kecil, membuka matanya yang sembab lalu mengerjap beberapa kali setelah melihat Seokjin bersiap mengenakan Kaos Beslow bermodel Long sleeve. Memerhatikan pria itu dalam diam hingga pria Kim menyadari terjaganya ia dari tidur. Di luar dugaan, Seokjin mengalihkan pandangannya dengan kecanggungan penuh. Melenggang pergi tanpa tameng apapun, “Jin-ah.” Seokjin menoleh, wajah minim eksprektifnya membuat Rain membenak begitu banyak. “Setidaknya pakai mantel, atau aku ambilkan?”

Seokjin segera menahan pergerakan Rain melalui isyarat tangannya, “Tidak perlu, kau telanjang.” Seokjin berbalik mengusak isi lemainya dan hanya memilih asal Low Classic over fit. Ia benar-benar pergi setelahnya. Rain mengulas senyum.

Cih, apaan. Mantelnya mencolok sekali, dasar pria narsis.”

.

Jari kaki Seokjin seakan merapat lalu merenggang mendengar tutur kata wanita setengah baya di sekitarnya. Tergugu melakukan apapun bahkan saat menyesap teh yang masih di genggamannya. “Kau sering tersenyum sekarang, lalu apa-apaan mantelmu itu? Pink? Are you sure my son? Kemana jaket metalmu itu?”

Sial, ini skakmat telak.

“Aku tak sengaja mengambilnya tadi, mana tahu aku ada mantel berwarna semacam ini di lemariku.” Ibu Seokjin tergelak keras, ikut duduk di pantry tepat di seberang Seokjin.

“Kau tak melupakan sesuatu, kan? Ulang tahunmu barangkali.” Tawa nyonya Kim kembali keluar menghiasi, “Hari ini tanggal 5 Jinnie-ku, itu hari kemarin.”

“Apa?”

“Ulang tahunmu….”

“Lalu? Apa berpengaruh pada isi lemariku?” Bibir Seokjin maju seketika protes tanda tak terima, membesarkan matanya bertingkah seolah ia tak mengerti apapun yang dikatakan sang ibu.

“Mungkin,” ucap sang Ibu. Seokjin jelas tak terima dengan pertanyaan setengah jadi seperti itu, ia mengerang marah melihat sang Ibu. “Oh iya, ngomong-ngomong kau sudah dekat belum dengan Rain?”

Semburan teh yang hampir mendingin terjadi, Seokjin berkelit menatap Ibunya kesal,”Apa-apaan? Ya tidaklah!”

“Ow… Ibu takut pada Seokjinnie….”

“Ibu!”

“Oh, astaga! Seokjin si preman, kenapa telingamu merah?” Seokjin reflek memegangi kedua telinganya, “Itu hukuman karena mengotori meja dapurku.” Gelak tawa terdengar kembali, Ibu Seokjin memang gemar tertawa renyah selayak sekarang.

“Hah… Sayang sekali….” Jidat Seokjin mengerut, meminta penjelasan pada Ibunya hanya dengan tatapan intimidasi yang padahal ia tahu sendiri tidak akan berhasil, “Kau tak ingat, itu yang kusayangkan.”

“Apa-apaan, aku tak pernah melupakan apapun!”

Ibu Seokjin tersenyum ramah, menampakkan seluruh aura keibuannya dengan begitu baik, “Tak apa, suatu hari kau akan ingat.”

“Apaan sih? Pakai rahasia, memangnya Ibu masih remaja tanggung?” Seokjin menggebrak meja cukup keras lalu berniat hendak pergi, “Aku pulang saja kalau begitu.”

Apalagi yang bisa dilakukan sang Ibu selain mengangguk dan melepas tanggung jawab penuh pada sang Anak. “Bodoh sekali dia, sampai mantel dari Istrinya pun ia tak tahu. Ya Tuhan, berikan Seokjin pintu yang tebuka.”

.

Seokjin menutup pintu dengan keras, melangkah besar menuju kamar ingin mengistirahatkan segalanya.

“Seokjin? Baru pulang?”

“Bukan urusanmu,” desisnya pelan. Melepas long sleeve-nya dan menggantinya dengan Short Sleeve Pull Over. “Kenapa masih berdiri disana? Aku mau ganti baju.”

Rain meletakkan tas kertas di atas ranjang Seokjin lalu kembali berbalik, “ Kupikir kau masih suka menggambar sketsa.”

Seokjin berdecih remeh, menilik isi tas yang di berikan Rain dengan teliti; buku sketsa ukuran sedang, pensil warna isi 36. “Memangnya aku anak TK?”

.

Dua belas tahun-Seokjin tidak mengenal kata takut walau berada di ujung lidah. Melakukan segala hal yang ia mau sampai kata lelah benar-benar terucap. Pohon maple dengan tinggi sepuluh kaki ia panjat pada hari terik, gadis berkepang satu selalu bersamanya, dengan memakai kaos dan topi sebagai pelengkap, gadis itu selalu menunggu Seokjin hingga bosan. Meneriakinya ketika Ibu Seokjin sudah memanggil untuk makan kudapan, atau berbagi cerita kala bosan benar-benar mendera. Keduanya dekat, sangat. Sepasang anak konglomerat berbeda marga dan keluarga, namun ikatan takdir seakan terukir sejak lahir ke dunia.

“Seokjin, turun yuk! Kita main yang lain saja!”

“Sebentar,” ujarnya singkat lalu benar-benar menuruti. Seokjin seakan ter-install untuknya. Turun lalu tersenyum ramah pada sosok gadis sebayanya. “Yap, Hong Ra In.”

“Main yang lain, bagaimana?”

“Melukis?”

“Usulmu selalu membosankan, aku jamin.” Dengus Rain kesal. Seokjin terkikik, menggasak poni Rain tanpa menghancurkannya. Mengulum bibirnya lalu pura-pura berpikir keras.

Dance? Kau suka itu, kan?” Rain mengangguk keras. Kemudian mereka berlari bersama.

Di antara pilar-pilar megah yang menjadi saksi betapa dekatnya mereka, dulu. Keduanya terkadang didapati bermain di rumah keluarga Hong karena percayalah, anak Konglomerat selalu kesepian dengan segala tetek-bengek menjaga kehormatan serta citra yang menjunjung. Kegiatan yang terbatas dan harus berkelas agar enak di pandang keluarga terpandang lainnya.

Ibu Seokjin selalu memperingati agar berhenti memanjat pohon maple belakang rumah, mulutnya seakan berbuih jika sudah bersitatap dengan sepasang makhluk menggemaskan itu. Dan mau bagaimana lagi, Seokjin si remaja tanggung ingin terlihat keren menjadi sok preman. Tumbuhnya perasaan dan gejolak aneh disaat usianya yang beranjak remaja membuatnya ingin terlihat bertalenta di depan gadisnya, Hong Rain. Dan di suatu hari menjelang petang ia mencoba gaya baru untuk turun, berayun beberapa kali sebelum benar-benar mendarat sempurna ke tanah. Tapi semuanya kacau, kakinya tak cukup kuat untuk melompat begitu besar, hingga kakinya patah dan harus di-gips dengan Rain yang tanpa henti menangis melihat Seokjin begitu tersiksa.

“Ini salahku Bibi… Seokjin yang tampan jadi pucat, aku benar-benar minta maaf, kakinya Seokjin tak bisa berjalan lagi.” Setiap kali ia masuk ke ruang rawat inap Seokjin, Rain selalu merengek, memohon ampun atas segala perilaku yang ia anggap salah.

Ya! Kau bercanda?! Aku masih bisa jalan setelah ini.” Ibu Seokjin tersenyum melihat segala tingkah mereka, berdalih pada kedua orangtua Rain bahwa gadis itu memiliki jiwa simpatik yang begitu tinggi. Hingga janji menyatukan kedua anak manis itu tercetus begitu saja dari mulutnya.

.

Sekolah mereka sama, sepatu mereka pasangan yang se-model, mereka berangkat bersama, pulang bersama, mengerjakan tugas bersama karena Rain berceloteh bahwa Seokjin sangat bodoh dalam akademik; bocah itu hanya mengerti olahraga dan seni, tak ada yang lain. Seantero sekolah tak lagi heran jika melihat mereka bagai kekasih, bagaimana lagi, dua anak konglomerat itu sudah tampak bersama bahkan sejak masa orientasi dan dengan ajaibnya selalu sekelas. Tak ada satupun wanita yang berani mendekat pada Seokjin, hal itu yang membuat Seokjin begitu canggung ketika berdekatan dengan gadis selain Rain. Rain itu arang penghangat, Rain itu lukisan yang harus ia jaga, Rain itu suara hujannya.

Pada suatu hari ketika dekat dengan waktu petang mereka berguam begitu hebat, emosi Seokjin benar-benar meluap ketika langit sudah sore temaram. Rain menangisi kebodohannya sebentar lalu menangis terguguk, “Kau tak tahu aku Rain, kita hanya sahabat, itu yang kau tahu!” Rain menggeleng enggan, “Kau tahu? Isi hatiku sama dengan pria yang mengirimimu surat picisan ini!” Seokjin menggenggam kertas putih itu begitu kuat, nyaris meremasnya dan mengayunkannya di depan wajah Rain yang hancur. Wajahnya merah, tak ada yang ingin menghentikan saat itu sementara jalanan sepi tanpa ada pejalan kaki yang lewat.

Rain mengepalkan tangannya pada sisi tubuh, memekik sekuat tenaga, “Kau yang pengecut, bodoh.”

Pukul 5 sore, decitan roda mobil tedengar. Tadinya Seokjin menyebrang dengan hati dongkol, tak memerhatikan mobil dari arah utara dan hanya menatap lurus. Nyaris, namun tak terjadi. Rain menggantikan dirinya untuk tergeletak pada aspal kotor, mengeluarkan darah pada bagian tertentu. Seokjin terkejut hebat hingga keduanya ditemukan tak sadarkan diri bersama. Seokjin yang tanpa luka memegangi tangan Rain begitu erat.

.

“Jadi, apa yang terjadi sepulang sekolah?”

“Aku menyebrangi jalan, lalu terserempet mobil. Itu saja,” penuturan Seokjin membuat orang yang berada di ruangan tersebut mengernyit bingung.

“Apa yang terjadi pada Ra In sebelumnya?” kali ini Seokjin yang mengernyit bingung.

“Siapa Rain?”

‘Selevtive Amnesia.’

 

.

Seokjin membuka lembaran buku sketsa yang di berikan Rain. Terlihat kumuh hingga Seokjin tak berselera untuk melihatnya. Namun goresan gambar yang berada di buku itu begitu penuh perasaan. Seokjin merasa setiap gambar yang dilihatnya penuh ekspresi hanya dengan melihat garis pasti yang tertoreh.

‘Teman setiaku menemaniku memanjat pohon maple hari ini, untuk tahun ke-5.’

‘We Are Forever’

‘Hujan.’

‘Kerja bagus untukku hari ini, Kim Seokjin memang hebat.’

Kalimat yang satu itu membuatnya sadar bahwa pemilik sketsa adalah dirinya sendiri. Membuat kedua jarinya membuka halaman terakhir dengan gentar.

‘Hong Rain’

Garis wajah Rain yang ada di kertas nyaris lenyap itu. Pose Rain yang tersenyum begitu cerah, menunggu Seokjin di bawah pohon maple. Ingatannya memutar begitu cepat, ia sampai tak sempat mengerti bagaimana caranya bernapas. Kepalanya pening luar biasa, mengingat segala hal tentang Rain di masa lalu membuatnya sakit kepala. Seokjin keluar kamar dengan pandangan kosong, meneguk air secara rakus, melirik Rain yang menonton Channel National Geographic. Mengunci pandangannya begitu lama hingga tungkainya mendekat, lengannya melingkar pada leher Rain dengan ringisan kecil. Anggap Seokjin pria paling kurang ajar di dunia, pria sok preman padahal mentalnya hanya sekecil kacang. Harga diri sudah menjauh pada diri Seokjin, Rain bahkan hampir menangis merasakan betapa jatuhnya Seokjin saat ini.

“Rain, maafkan aku.”

Segalanya hening, BGM suara televisi tak menganggu sedikit pun.

“Aku melupakannya terlalu lama, maaf. Sudah 7 tahun dan aku menyakiti hatimu, aku berengsek kan?” Rain terdiam, masih tak mau lengser barang sebentar. Rasa terpendam yang sudah lama tak ia rasakan, dadanya serasa meletup senang mengetahui Seokjin mengingat segalanya. “Aku ingat, Rain. Bahkan saat di pohon maple.”

“Jadi? Apa yang harus kukatakan kalau segalanya telah terjadi?” mata Seokjin melebar senang, memutar arah untuk duduk di sebelah Rain dengan raut penuh binar euforia. Jemarinya menangkup tak sabar seluruh rahang Rain hingga wanita itu tersentak sebentar. “Seokjin?”

Mengecup singkat bibir istrinya seharusnya tak apa kan, Seokjin tersenyum geli, “Panggil aku Oppa, aku lebih tua 28 hari daripada kau.”

Cih, dasar perongrong.”

“Itu harus, sayang.”

“He─eh kenapa begini?” Rain memutar kepalanya menyembunyikan rona merah pada pipi, menggerutu tak jelas hingga Seokjin kembali tertawa menggoda. Seokjin menempelkan dahi, mendekatkan wajahnya pada leher Rain hingga Rain tak berani berkutik sedikit pun.

“Mau mengulanginya? Aku sudah ingat kisah kita, Nona.”

.

“Seokjin, Seokjin… Bangun─” Seokjin terpaksa terjaga mendengar bisikan Rain. Menggeliat enggan lalu menoleh ke kiri.

“Hmm… Yeah, aku sudah bangun.”

“Sanghoon bangun, tolong tidurkan dia.”

“Astaga….”

.

Fin.

4 responses to “[FREELANCE] Ma Memoires, Tu Memoires

  1. Aaa…. manis sekali endingnya… tiba-tiba trnyata mreka sudh punya anak. Berasa kaya baca novel! tulisan Author keren! Typological error itu manusiawi bwahahaa….
    Suka banget intinya… Ditunggu onother story nya ya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s