[FREELANCE] Married With me #1

z12

Title :

Married With me #1

Author :

Kusumaningpark99

Leght :

Chapter

Genre :

Friendship,Comedy(mungkin),Romance  and  Marriage Life

Rating :

PG 17

Main Cast :

Park Chanyeol (EXO)

Han Ji Hye (OC)

Support Cast :

Byun Baekhyun (EXO) as Chanyeol’s Friends

Jo Ra Ya (OC) as Baekhyun’s wife

Chanyeol’s Parent

Ji Hye’s Parent

Disclaimer :

ff ini murni milik saya,tidak ada plagiat.Walaupun agak kurang normal,tapi ini ff murni buatan saya.

 

 

Chapter sebelumnya

[Teaser]

Note : FF ini banyak Flashbacknya waktu mereka masih di Senior High School, loh. Jadi jangan sampai bingung. Pokoknya, kalau ada tulisan flasback dan huruf italic berarti itu flashback waktu di SHS.

Don’t Be A Plagiator~~

Don’t Be A Silent Readers~~

 

Happy Reading~~

Summary :

“menikahlah denganku!”

“apa maksudmu? Jangan main-main dengan ucapanmu Park Chanyeol.”

“aku tidak main-main dengan ucapanku. Aku berkata dengan jujur dan serius.”

—Chanyeol POV—

 

“aku tidak mau tahu kau harus segera menikah , nak. Apa kau tidak kasihan pada orang tuamu ini yang mulai tua. Dan apa kau juga tidak merasa malu jika menjadi seorang perjaka tua nantinya. Bahkan Baekhyun akan memiliki momongan, apa kau tak iri padanya?” Eommaku mulai mengeluarkan jurus andalannya untuk membujukku supaya aku merasa iba akan wajah melasnya.

Appa yang duduk disampingnya hanya acuh dan tetap membaca korannya tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Disaat seperti ini dia sungguh menjengkelkan, biasanya juga dia akan langsung membelaku jika eomma mulai protes padaku.

Aku memasang muka cemberut sembari menyandarkan kepalaku diatas meja makan. Sial sekali, pagi-pagi sudah mendapat sarapan pagi berupa protes tak bermakna dari eomma. Aku diam tak membalas perkataan eomma barang satu katapun. Aku memukul meja makan dengan kesal, kekanakan memang tapi inilah sifatku. Aku melirik appa yang tetap acuh sesekali membenarkan letak kacamatanya. Aku sudah tidak kuasa, aku harus melayangkan protes pada appa untuk minta bantuannya.

“appa…”

“kupikir apa yang dikatakan eommamu benar, Yeol. Kau memang harus segera menikah sebelum kau benar-benar menjadi perjaka tua. Dan dengan tidak ikhlasnya akan ku nikahkan kau dengan Ny.Lee.”

“heiikkk !!” aku melototkan mataku tak percaya dengan perkataan appa kali ini. Jadi dia mendukung eomma untuk aku segera menikah. Dan dia mengancamku akan menikahkanku dengan Ny.Lee yang merupakan nenek tua rekan bisnis appa dikantor yang gayanya centil seperti cabe-cabean itu.

“andwee !!” aku berteriak dan langsung berlari menuju kamarku.

Sesampaiku dikamar, aku merebahkan badanku diranjang dengan keras. Aku berteriak berkali-kali dengan kata ‘shireo’ ‘andwe’ seperti orang gila. Aku menendang kasurku dengan kaki panjangku tanpa ampun. Aku bisa gila kalau seperti ini. Berguling sana berguling sini, seperti kambing guling. Aku tidak peduli, aku tidak mau dinikahkan dengan nenek tua itu.

Setelah berkutat dengan pikiran gilaku beberapa saat, aku ingin curhat dengan sahabatku si Byun Baekhyun. Mungkin ia bisa memberiku solusi konyol berharganya untuk semua masalahku ini.

Cepat-cepat aku mengganti bajuku dengan tuxedo sederhana tanpa membereskan kekacauan yang kubuat atas kamarku. aku langsung saja keluar dari kamar menuju bagasi untuk mengambil mobilku.

“kau mau kemana nak?”

“ah, andwe!!” aku langsung berlari kencang menuju bagasi tanpa menghiraukan pertanyaan eomma. Sungguh saat ini aku tidak mau mendengar suara eomma dan appa.

Aku menjalankan mobilku menuju rumah Baekhyun. Tak berselang lama, aku telah sampai dirumah yang aku tuju. Aku segera menekan bel dengan tak sabar. Aku tak peduli orang mau berkata apa, tak lama kemudian terdengar gerutuan dari dalam. itu pasti Byun ahjumma, eomma Baekhyun.

“cklekk” seseorang dari dalam menyambut wajah masamku. Ia menatapku curiga, benar dugaanku jika itu eomma Baekhyun.

“Chanyeol ada apa pagi-pagi begini sudah kemari? Mencari Baekhyun?” seolah bisa membaca pikiranku, Byun ahjumma langsung hafal tujuanku untuk apa datang kemari.

“iya, ahjumma. Apa Baekhyun masih tidur?” ahjumma menatapku sambil terkekeh kecil.

“ani, Baekhyun tidak ada dirumah. Ia sedang mengantar Ra Ya ke Busan, sejak kemarin.”

“JDEEERRRR!!!” bagai petir yang menyambar di pagi hari yang cerah, sia-sia aku kemari. Kepalaku bagai CG yang mengeluarkan asap dan petir di sekeliling tubuhku #apa itu#.

“ya sudah kalau begitu, ahjumma. Saya pulang saja, anyyeong ahjumma.” Aku membungkuk lalu berjalan lunglai menuju mobilku.

Bahuku merosot seperti sudah tak ada daya dan semangat lagi dalam hidupku. Ingin rasanya aku menenggelamkan tubuhku ke Samudera Atlantik supaya dimakan ikan-ikan besar disana.

Keadaanku sudah seperti orang gila yang hilang entah kemana. Rambut acak-acakan, perut keroncongan, wajah kusut seperti pakaian belum disetrika. Aku sebenarnya prihatin juga dengan keadaanku sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi.

Aku masuk ke mobilku dan menjalankan kembali mobilku tak tentu arah. Kulirik jam yang dengan setianya melingkar di lengan kiriku. Jam 8 dan perutku sudah berbunyi minta makan sejak tadi.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengisi perutku terlebih dahulu di restoran di daerah sekitar sungai Han. Aku memasuki restoran tersebut dan mengedarkan pandanganku tak percaya. Restoran ini sudah penuh diisi yang kebanyakan pegawai kantoran. Aku harus duduk dimana? Aku akhirnya menemukan salah satu meja yang hanya dihuni oleh seorang yeoja. Mungkin tidak apa-apa jika aku bergabung dengannya.

Oh iya. Mungkin kalian penasarang kenapa aku tidak bekerja dan malah keluyuran tak tentu arah seperti ini. Perlu kuberitahu, aku adalah direktur di perusahaanku menggantikan ayahku yang sudah mulai tua itu. Jadi alasan itulah yang membuatku berlaku sesukaku, aku tak peduli lagi jika ayah akan memotong telingaku atau hal mengerikan yang lain akan terjadi padaku, aku sudah menyerah dalam hiudpku ini.

Kembali kepada cerita awal saat aku memasuki restoran yang kutuju.

“nona bolehkah aku duduk disini? Meja disini sudah penuh semua.” Setelah aku duduk di depan gadis ini aku minta izin kepadanya untuk duduk di tempatnya.

“n-ne.” Setelah mendapat izin aku langsung memanggil pelayan.

“anda mau pesan apa Tuan?” tanya pelayan itu ramah.

“aku pesan jjangmyeon dan cappucino” setelah mencatat menu pesananku pelayan itu membungkuk sopan lalu pergi.

“gila, pagi begini sudah banyak yang memenuhi restoran ini.” Aku bergumam dengan lirih.

“Anyyeong Chanyeol-ssi.” Aku mengalihkan pandanganku kearah sumber suara yang ada didepanku.

Mataku melotot hingga rasanya ingin keluar dari tempatnya, bagaimana bi-bisa?.

“Ji-ya, ah ani, Ji Hye-ssi.” Tanpa terpikir olehku, satu panggilan yang keluar dari mulutku adalah nama panggilan untuk seseorang yang sangat aku cinta dan kasihi di masa lalu.

Ya, dia adalah Han Ji Hye. Wanita yang dulu sangat aku cintai, dan sekarang rasa cinta itupun tak pernah pudar karena zaman yang berganti.

Lidahku kelu untuk sekedar membalas sapaannya, jantungku terasa berhenti berdetak kala menatap wajahnya yang tidak berubah sedikitpun seiring tahun yang telah berganti.

Tetap tenang dan cantik walaupun terkesan tomboy. Kenangan masa lalu kembali terngiang, masa dimana kami selalu penuh canda tawa. Kini rasa canggung muncul tatkala kami dipertemukan dalam situasi yang berbeda.

Cinta pertama, itulah masa lalu kami. Masa remaja dimana kami menemukan satu hal yang membuat kami memiliki perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata saja. Ada kalanya kami menjalin suatu hubungan yang baru kala itu kami jalin, Cinta pertama.

“lama tidak bertemu, Chanyeol-ssi.” Dia menyapa terlebih dahulu, aku membeku tatkala mataku bertemu pandang dengan mata teduhnya.

Rasanya ingin menariknya dan merengkuh tubuh kecilnya. Menyalurkan rasa rindu yang sudah beberapa tahun ini kulewati dengan semakin bertambah pada tiap detiknya. Tapi aku tidak bisa  lagi, kini ia bukan milikku lagi. Kami bertemu hanya sebagai kenangan masa lalu yang kembali bertemu pada suatu kesempatan yang tak pernah kami duga.

Akankah perasaannya masih sama sepertiku, perasaan cinta pertama yang tidak pernah akan luntur. Kulempar senyum ceriaku seperti dulu, kutatap mata teduhnya guna mengurangi rasa rindu yang menjalar didada. Rasa sesak terasa kala melihat kembali cinta pertama setelah beberapa tahun tak saling bertemu bahkan berkomunikasi.

“anyyeong, bagaimana kabarmu?” aku bertanya dengan nada mencoba untuk bersikap biasa walau dalam hati aku sangat merindukan tingkah premannya.

“aku? Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” ia mengulas senyum tipisnya seraya menatapku tenang. Beberapa detik lalu kami menyapa dengan bahasa formal, tapi sekarang sepertinya suasana canggung sudah mulai mereda.

“aku juga baik-baik saja. Lama tidak bertemu.” Kenapa jantungku terasa ingin copot begini? Aku menatapnya dengan senyum lebar khasku untuk menutupi kegugupanku. Ia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya kala melihatku tersenyum lebar.

“wae? Ada apa denganku?” aku salah tingkah melihatnya menggeleng tanpa kuketahui sebabnya.

“ani, kau masih sama seperti dulu, konyol.” Ia lalu tertawa lebar setelah mengucapkannya, entah mengapa aku juga tertawa lebar mendengar ucapannya. Tak terasa rasa canggung itu mulai berkurang sedikit demi sedikit.

“sudah lama kita tak bertemu, tapi tidak ada yang berubah darimu. Apa kau sudah memiliki namjachingu atau suami?” entah apa yang merasuki pikiranku, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Dia tampak menatapku kaget atas pertanyaanku. Apa aku bertanya sesuatu yang salah?.

“haha, eobsseo.” Ia tertawa kecil lantas mengaduk minumannya didalam gelas. Aku menatapnya terkejut, benarkah ia juga sama sepertiku yang belum sama sekali memiliki pengganti untuknya.

“wae?” ia tampak salah tingkah akibat aku menatapnya seperti itu.

Sungguh tidak ada sedikitpun yang berubah darinya. Tampak kuat dari luar walau sebenarnya hatinya begitu rapuh. Mata teduhnya selalu ia tunjukkan padaku, entah bagaimanapun keadaanya.

“ani, benarkah kau masih sendiri?” aku bertanya dengan sedikit menggodanya, mungkin masih ada kesempatan untukku lagi. Kami berpisah dengan damai tanpa ada pertengkaran yang melandasi. Aku begitu menyayangkan perpisahan kami, tapi aku bisa berbuat apa jika takdir sudah berkata lain untuk jalan hidup kami. Dan sekarang mungkin takdir juga yang mempertemukan kami lagi.

Ia masih sama seperti dulu, tomboy, rambut kucir kuda dan jangan lewatkan style kemeja dan jeans yang selalu melekat pada tubuhnya. Tak ada yang berubah walau umur telah bertambah, tetap seperti dulu.

“tentu, entah mengapa aku masih belum…” ia tak meneruskan ucapannya, nampak ia menutup mulutnya yang hampir saja mengeluarkan kata harapan untuk kelanjutan hubungan kami. Aku bisa menebaknya dengan benar, akupun juga sama sepertinya masih mengharapkan kelanjutan dari hubungan kami.

“mwoga?” aku meledeknya yang tampak malu akan ucapannya yang hampir keceplosan. Sungguh, rasanya sangat ingin memeluknya dengan erat.

“ molla, sudahlah jangan bahas itu lagi. Bagimana dengan Park ahjumma?”  ia nampak meminum cappucinonya demi menghilangkan kegugupannya. Aku hanya tersenyum menanggapi tingkah lakunya.

“masih sama seperti dulu, cerewet.” Aku memasang wajah cemberut. Sebenarnya aku masih sangat kesal pada eomma.

“tampaknya kau ada masalah besar yang menimpamu, aku benarkan?” tepat sasaran itulah kata yang cocok untuk Ji Hye saat ini, ia selalu mengetahui gelagatku yang sedang memiliki masalah besar yang menimpa.

Aku menatapnya terkejut, dia memang benar-benar seorang paranormal ahli. Aku menyengir, melihatnya mengacungkan telunjuk pada wajahku. Tidak bisa menutupi apapun yang kusimpan dengan baik darinya, karena ia akan selalu dapat menebaknya dengan benar.

“kau benar, hanya saja…” aku menggantungkan ucapanku menatapnya ragu, ragu bagaimana reaksinya setelah aku menceritakan masalah besar yang sedang menimpaku sekarang ini. Apa aku harus menceritakannya, atau mengelak. Dia menumpukan kedua tangannya pada meja cafe dan menatapku penasaran.

“bagaimana ya, aku sungkan jika harus menceritakannya padamu.” Aku menundukkan kepala mencoba mempertimbangkan, apakah aku harus menceritakannya pada Ji Hye atau tidak. Sedetik kemudian aku mengangkat kepalaku dan menemukan wajah herannya. Baiklah mungkin dengan menceritakan padanya aku akan mendapat solusi yang bisa memecahkan masalah rumit yang sedang menderaku.

“aku dipaksa untuk segera menikah.” Satu kalimat yang sangat sulit keluar dari mulutku dan penuh dengan usaha keras saat mengucapkannya. Bahuku merosot setelahnya, kembali teringat ucapan appa dan eomma pagi tadi.

“hahaha, kau sangat lucu Park Chanyeol, haha.” Tawanya luntur seketika melihat wajah seriusku, dia pikir aku sedang bercanda. Aku menatapnya galak, serius adalah hal tabu bagiku. Tapi kali ini, aku benar-benar serius dengan ucapanku.

“Aku serius Jihye-a, aish kau ini.” Aku menatapnya kesal. Ia kembali pada posisi tenang namun masih sesekali tersenyum.

“bukan begitu maksudku, hanya saja selama ini kau tak pernah menanggapi sesuatu dengan seserius ini.” Ia lalu menatapku iba.

“Ya begitulah.” Aku menggedikkan bahu acuh.

“ini Tuan pesanan anda.” Pelayan tadi memberikan pesananku  dan langsung membungkuk hormat.

“gamsahamnida!”

          Jihye menatapku datar, aku juga tidak tahu apa maksudnya menatapku seperti itu.

“Wae?” aku bertanya heran.

“kau masih saja seperti dulu, jika sedang kesal selalu tidak memikirkan kesehatanmu.” Ia menatapku malas.

“kau benar, aku juga tidak tahu kenapa selalu berahkir begini.” Aku mulai memakan jjangmyeonku dengan lahap. Tak mempedulikan lagi kehadiran Jihye yang masih menatapku.

“ini tidak baik untuk kesehatanmu, jangan makan ini!” ia merebut cappucino dan jjangmyeon yang akan kusantap dengan cepat.

“ah, wae?” aku berteriak tak terima. Dan mencoba merebut makananku darinya. Telat ia telah berlari menuju dapur restoran dan kembali dengan Sandwich dan susu coklat dalam nampan.

“apa ini? Kau yang mebuatnya? Bagaimana bisa?” serentetan pertanyaan meluncur dari mulutku dengan menatap Jihye penasaran.

“diamlah, dan makan ini!” ia menyodorkan sandwich dan susu itu dihadapanku. Aku menatap makanan itu tak mengerti.

“atau mungkin kau pemilik restoran ini?” aku bertanya to the poin padanya.

“bisa dibilang iya bisa juga tidak. Ini restoran ibuku, karena ibu sedang menjenguk nenek di gangwon-do aku menggantikannya sementara.” Ia menjawab panjang lebar lalu menatapku lurus.

“oh, begitu. Baiklah aku makan.” Aku mulai memakan sandwich yang diberikannya dengan lahap, kalian tahukan kalau aku sangat kelaparan sekarang.

“pelan-pelan. Tidak ada yang akan mengambilnya kok. Dan satu lagi, jangan pernah makan-makanan yang tidak sehat untuk tubuhmu. Kau itu punya riwayat penyakit maag, gara-gara sering ngambek pada eomammu dan mengabaikan makananmu.” Ia mulai menasehatiku panjang lebar lagi seperti eommaku.

“kenapa kau cerewet sekali seperti eommaku sih. Iya-iya aku akan menurutimu. Kenapa kau perhatian sekali sih?” Aku kembali melahap sandwichku dengan pelan seperti yang dikatakan Jihye, entah mengapa juga aku selalu menuruti perkataan yeoja itu.

“begitu dong, aku cerewet begini juga ada gunanya. bahkan dulu kau pernah dilarikan kerumah sakit karena masalah perutmu itu. Kau juga merepotkan aku waktu itu, Dasar! Eh, bagaimanadengan si ‘Mulut Ember’ temanmu itu.” Ia bertanya sembari menopang dagu pada meja dan melihatku makan.

“maksudmu siapa? Baekhyun?” ia mengangguk.

“dia sudah menikah dan mau punya anak tuh.” Aku menjawabnya acuh masih dengan sandwich yang kukunyah.

“ha! Si ember itu sudah menikah dan mau punya anak? Dengan siapa dia menikah?” selesai dengan sanwich aku mulai meneguk susu coklat yang ia buatkan.

“dengan Ra Ya, gadis Busan-Jepang itu.” Ia mengangguk mengerti. Ya dia mengenal Baekhyun karena mereka sekelas dan sahabatku. Sedangkan Ra Ya, yangku tahu kami sering double date dulu ia sebagai pacarku dan Ra Ya sebagai pacar Baekhyun.

“mereka langgeng ya?” ia berujar iri.

“kenapa? Kau ingin balikan denganku biar sama-sama langgengnya dengan mereka?” aku menjahilinya yang mulai cemberut.

“apa katamu? Dasar jahil!” ia membuang muka dengan wajah masam. Sensitif itulah sifatnya.

“ya mungkin saja siapa tahu isi hatimu. Jika memang benar seperti itu, mungkin aku bisa mempertimbangkannya.” Ngekk-ngokk, ia menatapku datar. Sembari bersedekap dada.

“ya sudah jangan marah aku kan Cuma bercanda.” Aku cengengesan menatapnya.

“ini bukan untuk candaan Park Chanyeol!”

“baiklah aku tidak akan bercanda lagi. Kau sibuk ya?” aku bertanya dengan nada ceria.

“tidak malahan aku bosan setengah mati disini.” Ia menopang dagunya pada meja, terlihat sekali jika ia benar-benar bosan.

“mau ikut aku?”

“kemana?”

“ke hatimulah.”

“Tukk..” ia memukul kepalaku dnegan nampan yang ada di sampingnya.

“ sakit tahu!” aku protes tidak terima.

“siapa suruh mengeluarkan kata-kata busuk seperti itu.”

“aku tidak mau sekarat lagi karena pukulanmu. Sudah sering kau melakukan kekerasan saat kita pacaran dulu.” Aku yang ganti cemberut.

“itu bukan lagi kekerasan, melainkan hukuman untukmu yang sering sekali menjahiliku.”

“aku bahkan tidak bisa menghitungnya lagi sudah berapa kali aku sekarat karena kelakuanmu, pertama saat kita belum pacaran kau meninju hidungku sampai mimisan.”

Author POV

–Flashback–

 

Suasana kelas yang kosong terasa sangat ramai. Para siswa-siswi berlarian kesana kemari bermain dengan teman-temannya. Ada segerombolan siswi yang tertawa terbahak-bahak karena melihat temannya kena hukum pada permainan mereka.

Ada juga yang duduk diam sembari menopang dagu. Sedangkan sang ketua kelas, Jihye sedang duduk manis sembari mebaca buku tebalnya, si murid teladan. Ada Chanyeol dan Baekhyun yang entah mengapa tidak ramai seperti biasanya, perlu kita selidiki mereka berdua.

          Baekhyun tersenyum menang saat ia memenangkan game tebak-tebakannya dengan Chanyeol. Perjanjiannya yang kalah harus menuruti apapun yang dikatakan sang pemenang tanpa mengelak.

“nah sekarang, hukuman untukmu adalah….” Baekhyun berbisik ditelinga Chanyeol yang lebar.

“apa…..?” Chanyeol berteriak keras yang menyebabkan semua penghuni kelas itu menoleh serentak, alasan ia berteriak karena mendengar hukuman yang diberikan Baekhyun.

“yak kalian berdua, bisa tidak tidak usah berteriak-teriak seperti di hutan saja.” Sang ketua kelas, menatap dua orang di belakangnya dengan galak.

“maaf…” Chanyeol mengacungkan dua jari membentuk huruf ‘V’.

“apa kau gila?” kali ini Chanyeol bersuara lirih sembari menatap tak suka pada Baekhyun.

“hukuman adalah hukuman Park Chanyeol. Kau sendiri yang bilang harus menerima hukuman dengan lapang dada. Dasar pengecut!” Baekhyun mencibir Chanyeol yang menatapnya tak terima dikatai ‘pengecut’.

“baiklah, tarik kata-katamu itu karena aku bukan pengecut. Lihat saja!” baekhyun menggedikkan bahu tak mau tahu.

          Butuh keberanian 100% untuk melaksanakan hukuman yang diberikan Baekhyun. Saat tangannya terangkat untuk melakukan sesuatu, hati Chanyeol mencelos tak berani. Bahkan ini bisa membahayakan nyawanya, begitulah pikiran bimbangnya.

          “aku pasti bisa!” ia menyemangati dirinya sendiri dalam hati.

“Fighting, Yeol. Aku mendukungmu dari sini.” Baekhyun kembali bersuara dengan tawa yang ditahan.

“mendukung, dengkulmu apa. Aku malah semakin tidak berani melakukannya.” Ia berujar lirih dan lemah.

“sudahlah! Paling juga ‘Cuma’ kena pukul.” Seolah itu enteng Baekhyun mengatakannya.

“Cuma? Kau pikir pukulannya cuma-cuma?” Chanyeol kembali bergidik ngeri saat membayangkan ia kena pukul.

“ aku hitung ya. Hana…dul…set”

‘jeprett…’

“yak apa yang kau lakukan? Dasar mesum!”

“buGHHH…..”

“aww….”

          Seseorang tergeletak tak sadarkan diri dilantai kelas. Dengan hidung yang mengeluarkan cairan merah berupa darah. Dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Chanyeol.

“Chanyeol-a bangun…yakk Park Chanyeol Bangun…” Baekhyun mengguncang tubuh Chanyeol yang tak sadarkan diri lagi.

“aku dimana?” orang itu mendudukkan dirinya setelah terbangun. Dan orang itu adalah Chanyeol yang baru saja terbangun dari pingsannya.

“kau di UKS.” Jawab seorang yeoja dengan nada malas.

“Ji-ji hye.” Chanyeol mulai tergagap melihat seseorang yang sedang bersandar pada dinding UKS dengan bersedekap dada.

“apa?” Jihye menatap Chanyeol galak, yang langsung membuat Chanyeol menciut mendengarnya.

“maaf..” Chanyeol menunduk tak berani menatap Jihye yang datar. Jihye mendekat dan Chanyeol beringsut menjauh.

“kenapa? Takut kupukul lagi?” Jihye menatap Chanyeol heran saat ia mendekatinya Chanyeol justru menjauh darinya. Chanyeol mengangguk takut-takut.

“hemm, masih syukur aku cuma meninjumu. Ya coba kalalu ada pisau didekatku mungkin aku sudah menebas lehermu.” Jihye mendudukkan diri disamping Chanyeol yang mulai diam tak berkutik.

“haha, cuma bercanda. Kau sih main-main denganku.”

“anu tadi-“

“anyheong maaf agak lama. Ini obatnya, Jihye tolong obati Chanyeol ya aku ada panggilan alam nih.” Baekhyun lari terbirit-birit keluar dari UKS.

“dasar, dia yang menyebabkan semua ini dan tidak mau membantuku menjelaskan yang sebenarnya pada Jihye.” Batin Chanyeol kesal pada Baekhyun.

“sini biar aku obati lukamu!” Jihye mulai mendekat pada Chanyeol yang menatapnya polos. Ia tak berani berkata apa-apa lagi, takut Jihye akan benar-benar memotong lehernya jika ia salah bicara.

“lanjutkan yang tadi, kau mau bilang apa?” Jihye masih sibuk mengobati luka memar yang ada di sekitar hidung Chanyeol.

“a-aku tidak melakukanya dengan maksud jahat. Aku hanya melaksanakan perintah Baekhyun sebagai hukumanku.”

“hukuman? Hukuman apa?”

“hukuman atas kekalahanku bermain tebak-tebakan dengannya.”

“dasar kekanak-kanakan kalian ini.”

‘aww…’ Chanyeol meringis saat Jihye menyentuh lukanya yang membiru.

“sakit ya? Sebenarnya tadi aku hanya reflek saja meninjumu. Siapa suruh melakukan hal seperti itu. Untung hanya menariknya, kalau kau sampai berani-beraninya berbuat lebih mungkin kau akan, kekk” gerakan tangan Jihye mengisyaratkan bahwa ia akan membunuh Chanyeol.

“tidak, tidak akan kuulangi lagi aku berjanji.” Chanyeol dengan cepat memohon pada Jihye bahwa ia tak akan mengulanginya lagi.

“baiklah sudah beres, sebentar lagi kelas terakhir akan dimulai. Aku kembali ke kelas dulu ya? Istirahatlah!”

andwe, aku mau kekelas saja.” Chanyeol mulai berdiri dengan memegangi hidungnya yang terasa ngilu.

“baiklah, kajja!”

          Chanyeol dan Jihye masuk kedalam kelas yang masih ramai oleh siswa-siswinya karena jam istirahat kedua belum berakhir. Melihat itu semua mata tertuju pada mereka berdua. Ada yang melihat dengan tatapan kasihan, cemas dan masih banyak lagi.

“kau tak apa-apakan, Yeol?” salah seorang siswa dengan nametag ‘Kim Jongdae’ mendekati Chanyeol yang berada di ambang pintu kelas.

“ya begitulah.” Nada chanyeol terdengar biasa-biasa saja seperti biasanya.

“kau sih…” Jongdae malah menyalahkan Chanyeol dengan ucapannya.

“dasar! temanmu sedang tertimpa musibah, malah menyalahkan. Teman macam apa kau ini?” Chanyeol meninggalkan Jongdae yang mematung di depan pintu.

“bukan begitu, maksudku tak seharusnya kau melakukan ini. Kau kan tahu sendiri, Jihye seperti apa?” Jongdae berlari mengejar Chanyeol menuju mejanya. Chanyeol duduk dengan enggan, dan melirik Baekhyun yang diam dengan malas.

“Yeol…” dengan takut-takut Baekhyun memanggil, suasana hati Chanyeol jadi berkabut karenanya juga. Chanyeol diam tak merespon.

‘kriiiiiiiiiiiiiiing…….’ bel masuk berbunyi tanda pelajaran terakhir akan segera dimulai.

          Seorang laki-laki berkacamata memasuki ruang kelas. Ia adalah Kim Saem yang akan mengajar di kelas Chanyeol.

“anyheong, anak-anak. Hari ini saya tidak mengajar karena ada rapat penting di kantor guru. Jadi kalian bisa pulang setelah ini.”

“yeeey, asikkkk.” Semua murid bersorak dengan gembira kecuali Jihye dan chanyeol yang murung .

“taapi…’

“yah kenapa ada tapinya Saem?”  sahut seorang murid.

“kalian harus mengerjakan tugas latihan halaman 100-110 dan dikumpulkan besok. Aratchi?”

“aish tidak asik.” Beberapa murid berbisik tidak suka.

“kalian kumpulkan pada Jihye, dan Jihye letakkan tugasnya di meja Saem ya?”

“ye, Saem.” Jihye memberi hormat dan diikuti seluruh siswa-siswi.

          Seluruh murid berbondong-bondong keluar dari kelas mereka masing-masing.

“Yeol kau bisa pulang sendirikan? Aku mau menjemput adikku. Tidak apa-apakan?” Baekhyun menoleh pada Chanyeol disampingnya.

“ya tak apa-apa” balas Chanyeol cuek.

‘kau marah ya?” baekhyun merasa tak enak pada Chanyeol yang masih cuek padanya.

“Tidak. Pulanglah! Aku benar tidak apa-apa.”

“yasudah aku pulang dulu ya. Anyheong..”

“Yeol sudah mau pulang? Yuk keluar denganku! Kebetulan aku mau mengambil motorku di parkiran.” Jihye dengan ramah sembari tersenyum manis kearah Chanyeol. Sebenarnya Jihye itu yeoja yang ramah, namun sangat sensitif. Jadi ya begitulah, gampang emosian.

“e-eh, baiklah.”

kajja!”

“nanti pulangmu dengan siapa?” tanya Jihye saat mereka berjalan keluar kelas.

“naik bus mungkin. Tadi aku berangkat dengan Baekhyun, tapi karena tiba-tiba Baekhyun bilang akan menjemput adiknya, ya mau bagaimana lagi aku terpaksa naik bis.” Jawab Chanyeol sedikit lirih.

“jangan begitu! Mau kuantar saja? Aku kebetulan sendiri pulangnya. Hitung-hitung tanda maafku karena sudah meninjumu tadi.”

“tidak usah, Aku nggak apa-apa kok naik bis.”

“sudahlah, kali ini aja. Setelah dipikir-pikir aku sudah keterlaluan meninjumu seperti itu.”

“baiklah, terserah kau saja.”

“gitu dong.”

“ternyata kau nggak se-galak yang kupikirkan.”

“maksudmu?”

“ya, kan biasanya aku melihatmu yang jutek dan tak bersahabat gitu. Eh maaf”

“haha…nggak apa-apa. Sebenarnya sih, bukan maksudku begitu. Sebenarnya aku sangat sensitif, jadinya hanya untuk menjaga jarak saja.”

“o, begitu.”

“hem…”

“sudah sampai, sebentar aku ambil helmnya dulu.”

“ini!”

“Jihye-a, sudah mau pulang.” Seorang laki-laki berjalan mendekati Jihye dan Chanyeol.

“iya nih. Mau ngaterin Chanyeol dulu.”

“oh, gitu. Aku duluan  ya, anyheong!”

“siapa dia, Jihye?”

“oh, itu Sehun, tetangga sekaligus sahabat kecilku.”

“o.”

‘kenapa Sehun itu menatap Jihye seperti bukan tatapan seorang sahabat. Tapi seperti suka sama Jihye.’ Chanyeol menggaruk-garuk kepalanya yang tentu tidak gatal.

“terima kasih ya udah mau nganterin” kata Chanyeol sambil tersenyum canggung.

“iya sama-sama, maaf untuk yang tadi.” Jihye membalas senyuman Chanyeol dengan senyum tulus.

‘Cantik!’ kata itu langsung muncul di dalam hati Chanyeol, saat melihat senyum Jihye. Ia termenung beberapa saat lalu, kembali ke ekspresi awalnya.

“nggak mau masuk dulu?” tawar Chanyeol, Jihye mencopot helmnya lalu menatap seseorang yang muncul dibalik gerbang rumah Chanyeol.

“Yeol, ajak temanmu mampir!” wanita paruh baya itu adalah ibu Chanyeol. Ia menghampiri Chanyeol dan Jihye dengan senyum mengembang sempurna.

“iya, sudah aku ajak.” Chanyeol menoleh kearah ibunya yang kini sudah berada di sampingnya.

“tidak usah ajumma, saya pulang saja, Sudah sore.” Nada suara Jihye terdengar tidak enak tentang menolak ajakan ibu Chanyeol.

“iya tidak apa-apa. Lain kali kau harus mampir dulu, ya?” ibu Chanyeol tersenyum maklum lalu mendekati Jihye yang bersiap pulang.

“siapa namamu, Nak?”

“Han Jihye imnida, saya teman sekelas Chanyeol, Ajumma.”

“lainkali, jangan sungkan untuk memukul Chanyeol jika dia jahil padamu, ya?” mendengar candaan ibu Chanyeol, Jihye tersenyum lebar. Tak salah jika Chanyeol suka bertingkah konyol, pikir Jihye dalam hati.

“kalau begitu saya pulang dulu, ajumma.” Jihye sedikit menunduk

“hati-hati di jalan!”

Jihye melajukan motornya meninggalkan gerbang rumah Chanyeol. Chanyeol hendak membuka gerbang untuk masuk ke rumah, namun perkataan ibunya menghentikan langkahnya.

“pacarmu, Yeol? Cantik juga, kapan-kapan ajak dia main kesini ya!” ibunya tersenyum menggoda kearah Chanyeol, sedangkan Chanyeol pipinya sudah memerah.

“apa sih eomma, dia bukan pacarku.”

‘tapi akan menjadi pacarku.’

–Flashback END–

Begitulah awal mula kedekatan Chanyeol dan Jihye, yang selanjutnya menjadi dekat dan lebih dekat hingga jadilah mereka sepasang kekasih. Bisakah dibilang jika ini semua adalah, acar pertemuan kembali cinta pertama di SHS yang berpisah karena suatu alasan tertentu?.

“kau masih galak seperti dulu.”

“dan kau masih konyol seperti dulu.”

Mata mereka saling menatap satu sama lain, terpancar aura aneh yang saling menyelubungi tubuh mereka. Tersirat pancaran mata yang menjurus ke seseuatu seperti, perasaan rindu mungkin. Setelah sekian lama berpisah, akhirnya cinta pertama itu kembali dipertemukan dalam keadaan yang bisa dibilang cocok. Chanyeol yang sedang bingung mencari istri, sedangkan Jihye yang masih jomblo, bukannya suatu kebetulan yang seperti de javu?.

Kepala Jihye geleng-geleng, bibirnya dimanyunkan dan matanya menyipit. Melihat itu Chanyeol melontarkan kata protes tanpa suara yang berbunyi ‘Mwo?’. Membalas dengan mengangkat bahu adalah yang dilakukan Jihye setelahnya.

“jadi, kau mau ikut denganku tidak?” pertanyaan Chanyeol membuat Jihye merubah posisi duduknya menjadi tegak. Lalu mendongak dengan arah pandangan ke kanan atas, tanda sedang berpikir.

“em, memangnya mau kemana?” belum bisa memberikan jawaban pasti karena ia harus berhati-hati pada laki-laki bernama Park Chanyeol itu.

“kau tidak ingin bertemu dengan eomma, mungkin ia akan senang bertemu kembali dengan ‘mantan calon menantunya’.” Dahi Jihye mengekerut juga tubuhnya yang condong ke belakang tanda tak terima dengan spekulasi Chanyeol yang membuatnya sedikit, salanh tingkah ya bisa dikatakan begitu.

“apa maksudmu dengan ‘mantan calon menantunya’?”  pertanyaan Jihye seketika membuat Chanyeol meringis lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Alis Chanyeol naik-naik, dan membuat Yoora membuang muka seketika.

“ish sudah hentikan aksi konyolmu itu. Baiklah aku akan ikut denganmu.” Mendengar persetujuan Jihye membuat Chanyeol berjingkrak girang seperti baru mendapat lotre jutaan won. Melihat itu Jihye tersenyum menanggapi reaksi Chanyeol yang menurutnya berlebihan itu.

kajja!!” tangan Chanyeol menarik lengan Jihye lalu menautkan kelima jarinya pada lima jari Jihye#ngertikan?#. seketika Jihye memandangi tautan tersebut, persisi ketika mereka masih pacaran waktu SHS.

“eh, apa ini maksudnya?” menatap tautan tangan lalu beralih ke Chanyeol sampai beberapa kali.

“upss, mian. Hehe….” setelah mengucapkan kalimat tersebut, diiringi juga cengiran lebarnya Chanyeol melepaskan tautan tersebut lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“kau ini.”

‘kenapa aku masih berharap?’

‘perasaan macam apa ini?’

cha, masuklah!” mempersilahkan Jihye memasuki mobil Audi Hitam-nya dengan cara membuka pintu bagian penumpang sebelah kanan bagian pengemudi. Belum sampai Jihye duduk, ia kembali berdiri dan menatap Chanyeol sambil bersedekap dada.

“kenapa kau jadi berubah ‘sok romantis’ begini?” nada mengintimidasi terdengar begitu mencurigai gelagat yang diberikan Chanyeol.

“aku kan memang romantis.” Tak terima dengan kata ‘sok romantis’ Jihye, Chanyeol mengerucutkan bibirnya lalu memeletkan lidahnya dan berjalan menuju bangku kemudi.

“cih, kau itu ‘sok romantis’ bukan romantis.”

“MWOYA??” Jihye mengerang kesal saat tangan Chanyeol dengan jahilnya mengacak rambutnya hingga kusut. Tak terima, ia menarik telinga lebar Chanyeol dengan sadis. Salah satu moment bertengkar yang sering mereka lakukan, dulu.

‘AAWWWW……..’

“rasakan!”

Hanya menyunggingkan senyuman lebar, karena selanjutnya Chanyeol telah menginjak pedal gas lalu melajulah mobil mewah tersebut membelah jalan Seoul yang cukup padat akan kemacetan pagi ini. Chanyeol fokus pada acara mengemudinya sedangkan Jihye menatap jalan Seoul dari kaca mobil. Begitu ramai, sedikit berubah sejak ia meninggalkan kota kelahirannya itu.

Menempuh pendidikannya di luar negeri, membuatnya harus rela meninggalkan keluarga, negara serta cinta pertamanya. Siapa lagi kalau bukan sosok makhluk bertelinga lebar yang sering ia juluki Yoda tersebut.

Matanya beralih dari semula menatap sekeliling jalanan kini beralih pada sosok Yooda konyol yang masih menatap jalan dengan konsentrasi penuh. Senyuman tercetak jelas di bibirnya, bukan melainkan ada yang lucu pada sosok yang ditatapnya, tapi lebih mengacu ke kenangan masa lalunya dnegan sosok itu yang entah mengapa berputar di otaknya layanya nostalgia.

wae?” merasa risih ditatap dan dnegan senyuman sepeerti itu cepat-cepat saja pertanyaan tersebut meluncur dengan lancarnya. Ia mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Jihye, lalu kembali menatap jalanan di depannya.

ani.” Hanya gelengan-lah yang menjadi jawaban pasti pertanyaan Chanyeol. Lantas sebuah senyum jahil terukir dengan begitu mencurigakannya di bibir Chanyeol.

“aku tahu, aku semakin tampan, kan? Dan kau semakin terpesona padaku, kan?” dengan percaya diri yang sampai menjebol langi ke-7 Chanyeol mengucapkan kalimat tersebut. Jari telunjuk Jihye bergoyang ke kana dan ke kiri hingga beberapa kali, tak setuju dengan kalimat percaya diri Chanyeol.

“sudah, aku mau tidur saja dari pada bertengkar terus denganmu.” Memposisikan tubuhnya menyender pada kursi lalu mulai memejamkan matanya, tak lupa tangannya terlipat di depan perut.

“kau mengalihkan pembicaraan Han Jihye, dan wajahmu bersemu tahu.” Kembali membuka matanya yang semula sudah ia pejamkan dengan rapat.

“tidak tuh, kau hanya mengada-ada. Diam, aku mau tidur!”

“kau tidak takut jikalau aku membawamu ke suatu tempat yang tidak kau ketahui letaknya. Dan aku berbuat macam-macam padamu, hingga kau….”

“diam Park Chanyeol! atau aku akan menarik telinga lebarmu itu hingga menjadi lebih panjang lagi.”

“ya, ya.”

“Yak, bangun!”

“jadi dimana kita sekarang di-“

—TBC/END—

Setelah sekian lama akhirnya Chapter 1 nya aku post. Oh iya, untuk pemberitahuan aja ff ini sebelumnya berjudul Let’s go Married, trus aku ganti dengan alasan tertentu. Jadi, waktu aku rilis teasernya, ff ini berjudul Let’s Go Married, untuk teaser udah aku kirim freelance di beberapa blog, entah readers ada yang pernah baca atau belum. Chapter 1 nya pendek dulu, nunggu respon dari readers sekalian. Mohon komennya, komen kalian sangat aku butuhkan.

–Thank You—

–SEE YOU LATER–

 

9 responses to “[FREELANCE] Married With me #1

  1. wah debak,aku belum bca teasernya eon,nanti ya setelah komen part in

    aku suka banget sma jalan ceritanya,lucu,gokil dan aneh suka banget sama pasangan ini,chanyeol y ad di ff in kyakx orgx ga jauh beda sma aslinya

    heheheheh
    salam kenal aku read baru di ff in thor

  2. Oh jd mereka putus gara* chanyeol kuliah di luar negeri
    Berharap mereka bisa balikan lgi 😊
    Sehun disini jdi org ke3 kah?

    Klau bisa bhsx diubah ke bhs yg baku thor supaya nyaman dibaca *hanyasaran ☺
    Dan ada typo td harusx jihye bkn yoora

    Ditunggu yah chapter 2nya ^^

  3. Bagus ceritanya. Tapi kalo misalkan bahasanya diganti dg bahasa yg baku mungkin bakalan lebih enak bacanya. Hehe

    tapi aku suka sama ide dan jalan ceritanya. Aku tunggu chapter 2 dua nya ^^ semangat author

  4. Ide ceritanya bagus,castnya chanyeol jadi makin suka.ini cerita clbk yang kembali lagi….
    Pasangan yang cocok banget,chanyeol yang suka jahiliah jihye,dan jihye yang cuek,galak tapi baik hati….ditunggu deh cerita selanjutnya…..semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s