[FREELANCE] Not Allowed to Hug

z2

Not Allowed to Hug

EXO’s Xiumin and Park Boyoung | Romance | PG
Aqueera @Poster Channel | Deevae,2016

Tadi kan aku sudah bilang, pegangan tangan saja membuatku tak ingin melepasmu, tapi sekarang kau malah memelukku?

 

Sambil berjalan mendorong sepeda pada jalan di tepian sungai. Bagai menikmati mentari terbenam, kita berjalan perlahan. Aku menahan sejuta pertanyaan di dalam hati. Merasa bimbang dan gelisah ingin mengajukan pertanyaan yang mana. Kupaksakan menajamkan mata dan mencuri kesempatan untuk melirikmu dari balik kacamata ini.

Pada saat jembatan terlihat, jalan kita akan berbeda arah. Jika aku tak bicara tentang hal apapun, pasti penyesalan akan tersisa menghantuiku. Aku suka matamu saat bicara impian, tapi aku ragu ingin membahasnya. Sungguh, aku hanya ingin melihat wajahmu sampai tidur nanti. Aku tak ingin kita berpisah di jembatan itu.

“Xiumin-a, apa kau ada di kelas saat Sungkyung dan Hara bertengkar?”

Dia mengangguk sambil menggumakan ‘hm’ panjang. Aku pun hanya memilih diam karena dia tak merespon banyak. Beginilah jadinya kalau kami bersama. Aku dan Xiumin sama-sama pendiam dan irit bicara. Kalaupun salah satu dari kami memulai obrolan, pasti hanya terjadi sepenggal-sepenggal saja.

Aku memanyunkan bibir. Enaknya membahas apa, ya?

“Aku lihat, mereka kalau berantem lucu juga, ya? Mereka sampai saling jambak rambut gitu, haha.”

Aku menoleh sedikit saat tiba-tiba Xiumin memberi komentar dari pertanyaanku tadi. Mungkin tadi dia sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk menanggapiku. Tapi tidak tahu juga sih. Ah~ setidaknya aku bisa sedikit memahaminya karena kita sama-sama pendiam dan irit bicara.

“Ekskulmu gimana?”

“Hm? Iya gitu deh.. lancar-lancar aja kok, hehe.” Seketika aku ingin mengumpat mendengar jawabanku sendiri. Bagaimana bisa aku mengucapkan itu? Tapi, serius, aku merasa konyol dengan pembicaraan ini. Dan juga, apa pacaran itu seperti ini rasanya?

Xiumin menghentikan langkahnya begitu kami hampir melewati jembatan. Dia memandangku sambil tersenyum. Inilah yang kutunggu, melihat senyum manisnya yang membuatku tersuntik tenaga.

“Kamu tahu? Aku tak ingin berpisah denganmu setelah ini.”

 “Aku juga.” Aku membalas senyumannya. Jujur saja, aku agak merasa geli dan aneh ketika mengucapkan ini.

“Baru saja kita bertemu, jalan bersama, tapi sekarang kita harus berpisah.” Xiumin memperlihatkan kekecewaan di wajahnya. “Boyoung-a, sampai jumpa besok di sekolah,” sambungnya seraya mengusap puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Jujur, aku juga benci saat-saat seperti ini.

“Boyoung-a, aku pasti akan merindukanmu.” Xiumin menatapku seolah ia ingin memelukku. Hal ini membuatku merasa kikuk dan bahkan membuatku sulit untuk bernapas.

“Apaan~ aku yakin kau akan sibuk membantu ibumu, jadi rasa rindu itu akan hilang, haha. Ohya, sampaikan salamku untuk ibumu, ya?”

Xiumin mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya dia kecewa karena aku malah memutar topik pembicaraan. Ya, tentu saja, bagaimanapun juga aku tak boleh sampai berpelukan dengannya. Bagaimanapun juga.

“Boyoung-a, kau tahu kan kalau aku menyukaimu?”

“Hm?” Rasa kaget jelas sekali menjadi ekspresiku saat ini. Kenapa tiba-iba dia bertanya seperti itu? Apa dia tak percaya padaku?

“Kau benar-benar tulus kan? Kau sama sekali tidak terpaksa untuk menjadi pacarku kan?”

Sepertinya dia benar-benar kepikiran sesuatu.

“Iya, tentu saja. Aku menyukaimu, makanya aku mau jadi pacarmu,” jawabku enteng.

Ini faktanya. Tapi sepertinya membuat Xiumin sakit hati. Kenapa?

Wajahnya berubah kecut. “Ini bukan hanya sekedar kata-kata, Boyoung-a. Apa kau serius menyukaiku?”

Aku mengangguk. Entah mengapa aku jadi merasa sangat tegang dengan situasi ini.

“Tapi kenapa.. kenapa kau bersikap seolah aku ini bukan pacarmu?”

“Maksudmu?” Untuk kali ini, serius aku tak tahu maksudnya. Sikap yang mana?

“Kau selalu menghindar.. memberi jarak kalau aku mencoba mendekatimu. Dan bahkan kita belum pernah berpegangan tangan. Padahal kau tahu sendiri kan, kita sudah enam bulan pacaran. Kenapa? Barusan juga, aku merasa kau ingin menghindariku.”

“Bukan begitu, aku hanya..”

“Aku tanya sekali lagi, Boyoung-a. Apa kau menyukaiku?”

Aku menunduk sebentar lalu mencoba menatap manik Xiumin. Aku ingin memberi penjelasan yang rinci, tapi bahkan aku tak tahu apakah penjelasanku ini akan bisa dicerna olehnya.

“Aku hanya takut tak bisa melepas tanganmu ketika sampai di ujung jembatan. Aku takut tak bisa pulang karena ingin menggenggam tanganmu terus.” Jeda sejenak. “Apa kau percaya?”

Aku yakin, saat ini kedua mataku terlihat berkaca-kaca. Aku merasa kecewa pada Xiumin. Apa dia sebegitu tak percayanya padaku, hm?

Kemudian air muka Xiumin berubah menjadi merasa bersalah. “Mianhae, Boyoung-a,” ujarnya seraya memegang satu pundakku. “Aku tak bermaksud melukaimu.”

Tapi aku menangis sekarang. Segera kualihkan wajahku, tapi Xiumin menangkup wajahku dengan satu tangannya.

Uljima, hm? Ini salahku.” (arti: jangan menangis) Sambil mengusap air mataku yang menetes.

Aku menghela napas dan mengangguk.

“Apa kita di sini dulu, ya? Sebentar saja, aku tidak mau kau pulang dengan wajah seperti ini. Bisa-bisa ibumu menuduhku melakukan yang tidak-tidak, hehe.”

Dan berhasil membuatku tertawa kecil sebelum mengangguk.

Kami memarkirkan sepeda dan memilih berdiri di jembatan sambil mengobrol pendek. Aku ingin seperti ini setiap hari, supaya bisa lebih lama bersamanya. Eh, mikir apa aku ini! Aku harus segera pulang dan membantu ibu mengurus restoran, bukannya enak-enakan di sini.

“Xiumin-a, jam berapa ini?” Aku hanya berharap dia bisa peka dengan pertanyaanku ini.

“Kenapa? Kau ingin pulang sekarang?”

Aku mengangguk. Syukurlah, dia peka.

“Ya sudah, jalanlah duluan.”

Hng? Kau tidak pulang?”

“Nanti saja. Aku masih ingin di sini.”

“Tapi ibumu bagaimana? Pasti dia sangat khawatir, kau kan anaknya satu-satunya.”

Xiumin terkekeh kecil. “Boyoung-a, apa aku boleh memelukmu?”

“Eh?” Aku salah dengar kan?

“Sekali saja, hm?”

Mau tidak, ya?

“Boleh?”

Kalau ku katakan ‘tidak’ pasti dia kecewa, tapi kalau ku katakan ‘ya’…

Xiumin memelukku tanpa mendengar persetujuanku. Kalau begini, buat apa bertanya dulu?

“Hangatnya, aku harap bisa sesering ini berpelukan denganmu.”

Awalnya aku merasa kesal-tidakterima-syok-senang-marah, tapi sekarang aku merasa baikan. Xiumin mempererat pelukannya, membuatku merasa tidak ingin lepas darinya. Kemudian kedua tanganku yang tadinya berada di samping badan, kini kugerakkan—memeluk punggungnya.

Aku yakin Xiumin sedang tersenyum sekarang, sebagaimana aku. Hihi.

“Nyaman sekali~ aku merasa bahagia sekarang ini.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Tapi.. tunggu dulu..

Eng..  Xiumin-a, apa kau tahu?”

“Apa?”

“Sepertinya aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal, bahkan melepasmu saja rasanya sulit.”

Xiumin terkekeh.

“Tadi kan aku sudah bilang, pegangan tangan saja membuatku tak ingin melepasmu, tapi sekarang kau malah memelukku? Sungguh, aku tidak mau mengakhiri ini~”

—fin

One response to “[FREELANCE] Not Allowed to Hug

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s