[FREELANCE] Pervert Sehun #5

z11

Title :

Pervert Sehun #5

Author :

Kusumaningpark99

Leght :

Chapter (Perhatikan perubahan leght)

Genre :

Romance, Comedy, Absurd, Marriage Life etc

Rating :

PG 17

Cast :

Oh Sehun (EXO)

Kwon Yoora (OC)

Disclaimer :

Kembali lagi dengan Drabble buatan asli anak negeri. karya saya yang murni hasil pemikiran saya sendiri tanpa ada unsur plagiat.

Series sebelumnya :

Pervert Sehun #1

Pervert Sehun #2

Pervert Sehun #3

Pervect Sehun #4

–Author POV—

 

Disinilah Yoora, di taman dekat hotel dirinya menginap. Suara binatang malam mulai terdengar bersahutan seiring mulainya terpancar sinar bulan. Yoora mengayun-ngayunkan kakinya, ia terduduk di kursi kayu taman berwarna putih tulang. Semenjak momen yang terjadi antara dirinya dan Sehun beberapa waktu lalu, ia memutuskan untuk meredam gejolak aneh yang mulai mengerubungi hatinya. Entah bisa dikatakan sebagai hal macam apa perasaan yang dirasakannya sekarang, yang jelas ia bergerak gusar mencerna apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Matanya memandang kosong kearah kakinya yang berbalut sandal karet berwarna biru tua, sesekali melirik bosan kearah rerumputan hijau yang ia pijaki. Disinilah ia mencari secerca harapan pasti, tentang apa yang sebenarnya ia rasakan kini. Mencari arti dari getaran aneh yang menyerang jantungnya tiba-tiba, seperti tersengat listrik berkekuatan penuh. Mungkin terlalu mendramatisir, tapi ia baru pertama kalinya merasakan perasaan yang sedari tadi menggerogotinya.

Mengalahkan segala keindahan kerlap-kerlip lampu taman merambat yang terpasang dengan apik disetiap pohon, membuat beberapa pencahayaan minim. Rasanya  ia terlalu sulit menafsirkan arti dari semua ini, ia begitu membenci Sehun tapi juga merasakan keanehan pada jantungnya setiap kali berdekatan dengan makhluk itu. Mencoba mengeyahkan segenap pikiran retoris yang selalu merayapi otaknya, meninggalkan bekas pening tersendiri.

Mengingat itu, ia tak bisa menolak saat dirinya yang begitu munafiknya menerima sentuhan yang diberikan Sehun. Ia mencoba melawannya, namun tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Betapa bodohnya ia, begitu konyol memang mengingat dia yang selalu menolak kehadiran Sehun dalam hidupnya.

Berpikir dua kali, mengenai pernikahan absurd yang ia jalani dengan Sehun. Ia sudah seperti robot yang tidak bisa menolak setiap ucapan ayahnya, walau dalam hati kecilnya ia selalu dan selalu mencoba melawannya. Bukan, ia bukan gadis yang dengan mudahnya menerima permintaan seperti itu. Tapi disisi lain dari dirinya, ia tak bisa juga menolaknya.

Ia selalu menjadi gadis pembangkang, mengabaikan semua orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Ia benci kepada orang-orang yang berusaha memasuki kehidupannya, karena orang-orang itu akan selalu membawa penderitaan tersendiri baginya. Namun berbeda dengan Sehun, hatinya mengartikan kehadiran Sehun dengan keadaan berbeda. Berbeda dalam arti yang ia sendiri tak bisa mengartikannya dengan jelas dan gamblang. Alih-alih menolak, ia hanya berdiam diri saat ayahnya mengenalkannya dengan Sehun, walau sebenarnya ia sudah mengenal Sehun beberapa tahun silam.

Ayahnya yang notabenenya selalu memaksakan kehendak yang tentu saja tidak pernah sejalan dengan kemauan Yoora,  pemaksaan yang selalu ia tujukan demi kebahagiaan Yoora. Pernahkah ia berpikir apa yang sebenarnya membuat Yoora bahagia? Sehingga ia bisa menyimpulkan jika segala yang ia lakukan demi kebahagiaan Yoora. Yoora muak, selalu dijadikan robot penurut yang selalu menuruti ayahnya.

Ia membenci ayahnya, membenci orang yang telah menyakiti hati ibunya terlalu dalam. Ia menyimpan banyak rahasia yang kedua orang tuanya punya, tanpa mereka ketahui tentunya. Ia hanya bisa memendam, memendam kebencian itu yang hanya bisa ia salurkan lewat kepribadiannya sekarang ini.

Menjadi gadis seperti dirinya adalah salah satu bentuk pemberontakan yang ia bisa lakukan selagi rasa bencinya kepada ayahnya semakin memuncak. Meninggalkan luka menganga pada hatinya yang semakin lama luka itu semakin melebar. Ia hanya bisa berharap, jika dengan bertemunya kembali ia dan Sehun bisa memberi secuil kebahagiaan yang ingin ia rasakan selama ia hidup. Bisakah Tuhan mengabulkan permintaanya kali ini?.

Ia tertegun kala meraskaan kehadiran seseorang, fokusnya yang sebelumnya terarah pada kedua kakinya kini teralih pada seseorang yang berdiri di depannya. Mendongak lalu kedua matanya bertubrukan dengan mata orang itu. Tangannya terulur tanpa memberi kata-kata, Yoora menatap tangan itu sejenak lalu berdiri tanpa berniat menggapai uluran tangan tersebut.

“ada apa?” nada dinginnya masih tersirat seiring matanya menatap sang lawan dengan pandangan biasa. Sang lawan menarik kembali tangannya, lalu memasukkannya pada kedua saku celana jeans-nya. Beberapa detik kemudian ia berdeham lalu menatap kearah lain.

“bisakah kita melupakan kejadian beberapa waktu lalu?” dengan nada yang terdengar tak begitu bisa diartikan masih belum menatap Yoora yang memberi tatapan datar.

“hem…” hanya itu yang keluar dari mulut Yoora sebelum ia melangkahkan kakinya perlahan menjauhi Sehun.

“bisakah kita makan? Aku sangat lapar.” Sehun telah mensejajari langkah Yoora.

Yoora tetap melangkah meninggalkan sejuta keraguan dihati Sehun yang bertanya-tanya apakah Yoora marah padanya. Mau menanyakan secara langsung rasanya gengsi lebih mendominasi. Mau bagaimana lagi, tidak bisa dibaca juga ekspresi Yoora yang selalu datar. Walaupun sebenarnya langkah Yoora tak cepat sehingga Sehun tak perlu bersusah payah mengejar Yoora. Mengamati wajah Yoora dari samping adalah kegiatan Sehun kali ini, bibir yang selalu datar dan ekspresi tak terbaca yang selalu disuguhkan tak mampu membuat Sehun mengalihkan pandangannya.

Terlebih jika saja Yoora mau membuka dirinya untuk lebih berterus terang kepada Sehun, walau itu semua hanya hayalan Sehun semata. Bukannya Sehun suka diabaikan, tapi tak ada nyali sedikitpun untuk berani membuat Yoora semakin membencinya.

Baiklah mungkin terlalu berbelit-belit mengingat hubungan mereka hanya dilandasi perjodohan dan kenangan masa lalu yang menyakitkan untuk Yoora, dan itulah alasan Yoora membenci Sehun. Membuatnya terluka di masa lalu adalah penyesalan terdalam yang Sehun rasakan hingga kini. Ia tak tahu jika akhirnya akan dipertemukan dengan Yoora lagi dalam jenjang serius seperti ini, dulu hingga sekarang perasaan bersalah masih menggerogoti hati Sehun.

Walaupun ia mencoba mengikis rasa benci Yoora terhadapnya dengan sedikit perlakuan yang ia harapkan bisa membuat hati Yorra sedikit luluh. Andaikan, ya andai saja dulu ia tak seegois itu dan mungkin mereka tidak akan berakhir dengan keadaan dimana Yoora membencinya sebagai laki-laki.

Mau diapakan lagi, semua sudah terlambat dan Yoora sudah terlanjur membenci dirinya. Jauh dilubuk hati Sehun yang terdalam, ia masih mengharapkan perasaan Yoora terhadapnya masih sama seperti dulu, namun ia tidak tahu pasti bagaimana perasaan Yoora sebenarnya.

Kaki mereka menuntun kedua insan itu menuju sebuah restoran yang beberapa menit ditempuh dengan jalan kaki. Restoran bernuansa sedikit glamour namun sederhana disaat yang bersamaan. Yoora berhenti tepat di depan pintu restoran yang terbuka, mengikuti kegiatan Yoora, Sehun juga ikut menghentikan langkahnya lantas menatap Yoora.

“benar kita akan makan disini?” pertanyaan Yoora sedikit membuat Sehun linglung seketika, apa Yoora tidak suka dengan makanan disini atau alasan lainnya?.

“iya, tentu saja. Apa kau mau kita ke restoran lainnya?” Yoora menggeleng sebagai jawaban lalu mulai melangkah lagi memasuki restoran bergaya Perancis itu.

Saling terdiam beberapa saat sebelum seorang waiterss mendekat kearah mereka. Kedua oarang itu langsung mendongak, lalu masing-masing mengambil buku menu yang sudah diletakkan di atas meja. Mereka membolak-balik buku menu, mencari menu yang akan dipesan.

“aku pesan Nicoise Salad, Soupe a l’oignon, Gaufres, Pain au chocolat, dan Beef Bourguignon.” Wajah Sehun menegang seketika, mulutnya pun menganga lebar. Gila, Yoora memesan makanan sebanyak itu? Apa perutnya terbentuk dari karet?”

“ekhem, aku pesan Creme Brulee dan Coq Au Vin.” Bebarapa detik kemudian Sehun tersadar dan buru-buru mengutarakan pesanannya. Apalah mau ditolak, Sehun juga yang sengaja ingin mentraktir Yoora sebagai ungkapan maafnya.

Sembari menunggu pesanan datang, mereka hanya saling duduk canggung tanpa ada aktivitas lain yang dikerjakan. Matanya hanya sesekali saling melirik dan bertubrukan, membuat mereka saling membuang wajah kemudian. Masih dengan gengsi masing-masing, tak berupaya memecah keheningan yang semakin mengerubungi area sekitar mereka. Beberapa pengunjung terlihat saling bercengkrama dengan pasangan yang memang kebanyakan diperuntukan untuk pasangan kekasih atau suami-istri.

Sibuk dalam pikiran masing-masing, tanpa berniat memecah keheningan yang telah terjadi beberapa menit. Bulan madu, satu kata yang sekarang ini dua sejoli itu laksanakan. Tak tahu bisa dikatakan Bulan Madu atau tidak. Tepatnya mereka ada di sebuah pantai bernama Pantai Haeundae, Pantai yang berada di antara bukit Dalmaji dan Pulau Dongbaekseom kota Busan Korea Selatan. Kebetulan juga bertepatan dengan musim panas yang mulai menyerang Korea Selatan, cocok untuk berlibur musim panas di salah satu pantai terindah di Korea Selatan.

Bukannya memilih ber-Bulan Madu di luar negeri, mereka setuju untuk ber-Bulan Madu di Korea saja, padahal orang tua mereka sudah menyarankan untuk berbulan madu di Hawaii atau tempat libur yang cocok untuk musim panas di luar negeri. Dengan serempak mereka lebih memilih ber-Bulan Madu di Haeundae, alasannya tidak tahu juga. Dengan kata lain mereka harus rela mengabaikan pekerjaan menumpuk merekadi Seoul selama beberapa hari. Bahkan mereka dilarang keras untuk sedikitpun ikut campur dalam urusan perusahaan saat ber-Bulan Madu, dan akhirnya mereka hanya bisa bermalas-malasan. Harapannya mereka akan fokus membuatkan orang tua mereka cucu, padahal bisa dilihat apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa menit kemudian makanan telah sampai di atas meja dengan variasi yang di dominasi oleh menu pesanan Yoora. Sehun menelan ludah kesusahan, Yoora makan banyak tapi tidak memiliki daging yang pas untuk tubuhnya. Lalu kemana nutrisi dari makanannya berada?.

Pelayan membungkuk setelah mempersilahkan keduanya untuk menikmati makanan khas Perancis yang sudah dihidangkan. Tanpa berpikir panjang Yoora sudah  memegang garpu dan pisau untuk memakan menu pertamanya yakni Nicoise Salad, memakannya dengan tenang namun terkesan buru-buru. Apa Yoora selapar itu?.

“jangan terlalu buru-buru, nanti kau tersedak.” Ucapan Sehun langsung menghentikan gerakan tangan Yoora yang akan menyuapkan satu potong daging ke mulutnya. Ia menoleh sekilas lalu kembali memakan daging itu.

“hem, aku sudah lapar dan makanan disini sungguh menggoda selera, jadi tidak baik untuk dilewatkan.” Jawaban Yoora membuat Sehun tersenyum seketika.

Mereka kembali melahap makanan dalam diam, tanpa bersuara hanya dentingan garpu dan pisau yang terdengar. Sesekali Sehun melirik kearah Yoora yag masih asik dengan makanannya dan memakan makanannya dengan lahap. Tangan Sehun terulur untuk menggapai sesuatu di sudut bibir Yoora, atau lebih tepatnya saus Beef Bourguignon yang tertinggal di sudut bibrnya.

Wajah Sehun masih dihiasi senyuman, melihat Yoora seperti ini membuat hatinya merasa tenang dan lega. Ia harus sering-sering mentraktir Yoora makanan demi melihat kebahagiaan tersendiri saat Yoora melahap makanan-makanan tersebut dengan rakus.

Ia mengerti dan sangat tahu, apa yang membuat Yoora menjadi gadis yang acuh pada keadaan sekitar. Tentunya ia mengetahuinya dari ayah mertuanya yang beberapa hari lalu mengajaknya bertemu secara pribadi di ruangan kerja Tuan Kwon, dan tentu saja tanpa sepengetahuan Yoora. Ia mengerti jika Yoora begitu membenci orang yang berada disekitarnya, karena Yoora selalu menganggap bahwa orang-orang tersebut selalu membawa masalah dalam hidupnya.

Sehun mengelap bibirnya dengan tissue lalu menatap kearah Yoora yang masih menikmati hidangan terakhirnya, Pain au chocolat. Yoora tidak ada manis-manisnya saat seperti ini, namun tak sekalipun membuat Sehun melepas senyum yang sedari bertengger indah di bibirnya.

“kau mau?” sebuah sendok yang berisi Pain au chocolat tersodor di depan mulutnya. Sehun menatap sendok dan Yoora bergantian lalu melahap suapan itu dengan mulut penuh. Seketika senyum manis tercipta di bibir Yoora saat melihat Sehun mengunyah makanan penutup tersebut dengan kesusahan karena memenuhi mulutnya.

“haha, bagaimana rasanya?” Yoora bertanya dengan kedua tangan berada di depannya. Sehun mengangguk sebagai jawaban tanpa suara karena mulutnya masih penuh. Yoora tersenyum lebar dan itu membuat tubuh Sehun membeku seketika, Yoora tersenyum selebar itu? Apakah ia sedang bermimpi?.

“permisi Tuan dan Nyonya, hari ini restoran kami sedang merayakan ulang tahun yang ke-3. Sebagai tanda terima kasih kami, kami akan memberikan wine gratis kepada setiap pasangan yang berkunjung ke restoran kami hari ini.” Dua orang waiterss menghampiri meja Sehun dan Yoora dengan salah satunya membawa nampan berisi dua gelas wine berwarna ungu gelap. Sehun dan yoora bertatapan beberapa saat lalu mengangguk. Salah satu waiterss yang memberikan wine itu menyodorkan gelas wine ke Sehun dan Yoora lalu membungkuk sebelum pamit. Sehun yang baru tersadar dari keterkejutannya melihat senyum Yoora karena kedatangan kedua waiterss, bahkan suapan Yoora masih belum ditelannya dengan sempurna.

Sehun dan Yoora sama-sama menatap wine itu dengan lekat, ini wine gratisan dan sedikit ada keraguan mengingat mereka sama-sama tidak kuat meminum-minuman ber-alkohol. Tapi kemudian mereka menegak cairan tersebut dalam satu kali tegakan. Sehun dan Yoora sama-sama meringis merasakan cairan tersebut memasuki kerongkongan mereka.

“aku sudah selesai, ayo kita pulang!” Sehun mengangguk ragu lalu berdiri, menghampiri meja kasir yang terletak di sebelah pintu keluar. Yoora berjalan keluar dari restoran menunggui Sehun yang masih sibuk membayar.

“kajja!” tangan Yoora meraih lengan kanan Sehun sesaat setelah Sehun berdiri di sampingnya. Sehun menatap lengan mereka beberapa saat lalu mengikuti Yoora yang mulai menarik tangannya.

“kita mau kemana?” pertanyaan Sehun tak membuat langkah Yoora berhenti, ia masih setia menarik tangan Sehun yang hanya pasrah di belakangnya. Bahkan Sehun yang tidak mengerti maksud Yoora hanya menggaruk-garuk kepalanya. Lebih baik ia mengikuti suasana hati Yoora yang berubah menjadi seperti ini.

“sudah, ikut saja.”

Sehun dan Yoora duduk di hamparan pasir putih pantai Haeundae yang terasa dingin. Yoora menekuk kedua kakinya di depan dada dan tangannya memeluknya sambil matanya menatap hamparan air yang sedang tergulung ombak. Sehun sendiri hanya duduk juga menikmati semilir angin musim panas yang larut dalam deburan ombak di malam gelap ini.

Berdiam diposisi masing-masing, belum ada yang berniat memulai percakapan demi menghilangkan kesunyian. Tangan kanan Yoora beralih menggenggam pasir putih kering, menghamburkannya kemudian. Retinanya masih menatap hamparan air yang berada beberapa meter darinya,.

“aku-“

“aku-“

“kau duluan saja!”

“apa kau marah padaku?” dengan sedikit keraguan akhirnya Sehun mengutarakan kata yang sejak tadi tersangkut di tenggorokannya. Yoora menoleh kearah Sehun yang menatapnya, lalu tersenyum tipis.

“untuk apa aku marah?” satu kalimat yang bisa disebut jawaban juga pertanyaan yang keluar dari mulut Yoora membuat Sehun bingung sendiri. Ia berdeham lalu mengayunkan satu tangannya menarik tangan Yoora yang sebelumnya bermain pasir lalu meniupnya perlahan. Yoora terkejut, tapi ekspresinya masih datar seperti biasanya.

“untuk kejadian tadi, aku-“

“tidak, apakah aku sedang terlihat marah?” Sehun menggeleng tangannya masih menggenggam tangan Yoora yang terasa hangat.

“kuharap aku bisa sedikit membuatmu melupakan rasa bencimu padaku.” Yoora terkekeh kecil mendengar ucapan Sehun yang takut-takut. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Sehun.

“entahlah, aku sebenarnya ingin melupakan kebencianku padamu walau terasa sangat sulit.” Mata Yoora kembali menatap hamparan air disana, menerawang ke satu titik abstrak tak tentu. Sehun masih menggeluti kegiatan menatap Yoora tanpa rasa jenuh.

“kau tahu itu hanya kesalahpahaman?”  Yoora mengangguk lalu menyenderkan kepalanya di bahu kiri Sehun yang lebar. Tak lepas dari titik jauh retina matanya memandang, Yoora telah membuat Sehun terlonjak dengan kelakuannya. Sehun hanya bisa diam, kenapa ia merasa Yoora mulai sedikit melupakan kebenciannya kepada Sehun.

“lalu-“

“aku sudah memaafkanmu, jadi kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu.” Angin semilir menerbangkan beberapa helai rambut Yoora yang terikat. Sehun mengerti dengan ucapan Yoora, tapi rasa bersalahnya belum sepenuhnya menghilang.

“kurasa aku-“

“aku masih mencintaimu, Kwon Yoora.” Terdengar dengkuran halus yang telinga kiri Sehun, dan tentu saja itu berasal dari Yoora yang sudah memejamkan matanya dengan tertidur nyaman di bahu Sehun. Sehun mengulum senyum bahkan terkekeh kecil melihat Yoora yang tidur dan tidak mendengar ungkapan Sehun. Bibir Sehun menggapai kening Yoora dan mengecupnya pelahan namun sedikit lama, ia sangat menanti Yoora kembali membuka hati untuknya.

Yoora sudah terbang ke alam bawah sadarnya, mungkin karena pengaruh wine yang diminumnya di restoran Perancis itu. Perlu diketahui jika Yoora memang tidak pernah meminum minuman seperti itu dan itu sangat berdampak pada tubuhnya. Sehun memeluk tubuh Yoora yang berada di sampingnya, bisakah ia memberikan sedikit kebahagiaan untuk Yoora?.

“sepertinya kita harus kembali ke hotel.” Setelah melepaskan pelukannya Sehun beranjak menggendong Yoora yang telah tertidur pulas di punggungnya. Ini malam pertama mereka ber-Bulan Madu dan Yoora sudah tertidur dengan nyenyaknya. Sehun menggeleng, mengenyahkan selururh pikirannya yang mulai mengawang jauh, ia tak ingin membuat Yoora kembali marah-marah setelah membuatnya sedikit luluh.

Sehun berdiri dan melangkahkan kakinya menuju hotel tempat mereka menginap. Senyum masih tercetak manis dibibirnya, sepertinya ia tak bisa melepaskan senyum itu setelah kejadian yang ia lalui hari ini. Yoora tertidur dengan pulas digendongan Sehun. Sehun terhenyak saat merasakan sesuatu yang lembut atau lebih tepatnya bibir Yoora menempel di lehernya, geli sekaligus membuat tubuhnya menegang seketika.

Sekelebat pikiran aneh muncul, otak Sehun yang sudah berusaha ia bersihkan sebersih-bersihnya demi menjaga emosi Yoora kembali terserang yang namanya virus ‘Mesum’. Pikiran itu semakin menjadi-jadi kala bibir Yoora bergerak-gerak pada area leher Sehun. Ouh, Sehun benar-benar sedang menahan nalurinya sebagai seorang pria, tapi apa? Yoora malah melakukan hal yang memancing kembali naluri prianya muncul. Oh Tuhan, Sehun sudah mulai dikuasai pikiran-pikiran yang melalang buana.

Bibir Yoora masih menyapu bagian leher Sehun, tentu saja Yoora tak menyadarinya karena ia benar-benar tertidur pulas akibat efek wine yang diminumnya. Kenapa tiba-tiba kepala Sehun ikut pusing ya? Dan Sehun merajut langkah lebar, cepat-cepat menuju kamar hotelnya.

‘BRUUKKKKK’ sehun melempar tubuh Yoora ke ranjang. Ia sudah tidak bisa menahan geli sekaligus sentuhan bibir Yoora pada lehernya. Ia bahkan masih terlonjak-lonjak kecil mengingat rasa dari sentuhan bibir Yoora beberapa menit lalu.

Butuh kesabaran ekstra saat menggendong Yoora menuju kamar hotel, bukan karena berat badan Yoora tapi lebih mengacu ketidaksadaran Yoora saat bibirnya bergerak-gerak di leher Sehun. Sehun menatap Yoora nanar yang saat ini tertidur dengan posisi miring, bahkan ia tak terbangun sama sekali saat Sehun melempar tubuhnya ke ranjang dengan kejam. Tentu saja, karena ranjang berteksture empuk itu malah semakin membuat tidur Yoora terlihat pulas.

Sehun berkacak pinggang kearah yoora yang tertidur, andai saja Sehun tidak bisa menahan hasratnya, mungkin Yoora sudah kehilangan ‘Sesuatu’ dan besok paginya Yoora akan menghajar Sehun habis-habisan. Padahal hari ini ia sudah membuat Yoora sedikit tenang, dan jangan sampai ia mengacaukan semuanya.

Sehun mendudukkan tubuhnya di ranjang, tepatnya di samping Yoora. Tangannya menarik selimut dan menyelimuti tubuh Yoora dengan selimut tersebut. Ia mengelus rambut Yoora dengan pelan, lalu mencium kening Yoora sedikit lama. Bukannya lancang mencium seseorang saat orang tersebut tertidur lelap? Tapi status mereka adalah sumai-istri jadi wajar, kan?.

Sehun membaringkan tubuhnya di samping Yoora, disisi ranjang yang kosong. Manik matanya memandangi wajah Yoora yang tertidur dengan seksama, meneliti setiap inchi dari bagian-bagian wajah istrinya. Ia selalu ingin melihat Yoora tersenyum, walau hanya senyuman tipis yang terukir di bibirnya.

Mata itu, mata yang selalu memancarkan aura dingin namun sebenarnya tersimpan kerapuhan yang sangat, hanya orang tertentu yang bisa memahami. Bibir itu, bibir yang selalu membuatnya tertarik, bagaikan magnet yang selalu menarik bibirnya untuk sekedar menempelkan atau bahkan melumatnya. Wajah itu, wajah yang selalu menjadi mimpinya disetiap ia tertidur.

Tak mau menyia-nyiakannya, Sehun mendekat kearah Yoora dan mengecup bibir tipis Yoora dengan dalam, mencoba menyalurkan segenap kehangatan yang ia miliki kepada Yoora atau lebih tepatnya hati Yoora yang dingin. Tangannya menarik lembut pinggang Yoora untuk mendekat kearah tubuhnya. Dirasakannya kehangatan menjalari tubuhnya kala jarak mereka telah musnah, memberikan kenyamanan tersendiri bagi keduanya.

“semoga mimpi indah Yoora-ku.”

Jam dinding terus berdenting, menandakan jarum detik telah menjadi menit bahkan jam. Malampun semakin larut menyisakan suara-suara yang terdengar jelas dalam kesunyian. Udara panas, mengingat musim panas telah dimulai beberapa hari lalu. Suara lenguhan terdengar nyaring dari mulut Yoora, kakinya menendang-nendang selimut tebal yang mengurungnya hingga membuatnya mengeluarkan keringat banyak.

‘panas.’

Yoora bergerak gusar dalam tidurnya, padahal AC dalam ruangan telah diatur dalam suhu dingin. Sehun sedikit bergerak kala merasakan gerakan lain di samping tubuhnya, ia sedikit membuka matanya mencoba mencari gerangan yang tengah mengusik tidurnya yang nyenyak.

Yoora terduduk dari tidurnya, matanya bahkan masih terpejam sempurna. Tangannya menggapai ujung bawah kaos abu-abunya lalu menariknya ke atas, melepasnya. Sehun sekarang telah membuka matanya walau masih terasa lengket. Ia juga mendudukkan tubuhnya lalu melirik kearah Yoora.

“YAKK!” mata Sehun terbuka lebar, bahkan mungkin hampir copot dari tempatnya saking lebarnya ia membuka mata sipitnya.

Pemandangan yang ia lihat saat ini adalah Yoora yang telah melepas kaos abu-abunya hingga meninggalkan bra berwarna putih polos pada tubuh bagian atasnya. Ia menelan ludah kasar, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kedua matanya menangkap tubuh bagian atas Yoora yang terekspos walau masih meninggalkan sehelai bra Putih disana. Apa Yoora tidak sadar apa yang sebenarnya ia lakukan?.

Wajahnya memerah melihat pemandangan menakjubkan itu, dan perlu diketahui seluruh tubuh Sehun menjadi panas-dingin dan mengeluarkan banyak keringat, bukan karena cuaca yang panas tapi lebih ke reaksi tubuhnya menanggapi pemandangan di hadapannya.

Yoora sudah kembali berbaring setelah melepas kaosnya dan melemparnya entah kemana. Ia hanya bergumam ‘Panas’ tanpa menyadari apa yang telah terjadi. Kalau begini terus bisa-bisa Sehun benar-benar lepas kendali.

Tangan Sehun hendak menarik selimut yang telah terjatuh akibat ulah Yoora, yang kini telah tergeletak pasrah di bawah ranjang. Ia menariknya dan meletakkannya pada tubuh Yoora yang terekspos, ia menelan ludah kasar lalu kembali berbaring membelakangi Yoora.

‘HAPP…’ tubuh Sehun terlonjak dan menegang seketika saat merasakan pelukan pada pinggangnya, dan sudah bisa ditebak jika itu semua adalah kelakuan tak sadar dari Yoora.

“Oh My God, aku benar-benar sudah mati-matian menahannya, tapi Yoora yang telah memancingnya.”

“Ya Tuhan, kuatkan aku.”

Sinar cerah telah menyusup ke jendela sebuah kamar, lebih tepatnya kamar hotel yang berkorden putih terawang itu. Gadis bersurai hitam legam sebahu itu bergerak-gerak di bawah selimutnya, merasakan matanya tertusuk oleh sinar cerah dari matahari. Perlahan namun pasti, kelopak matanya mulai sedikit terbuka menyisakan ringisan pelan akibat sinar matahari yang sangat menusuk matanya.

Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar hotelnya yang polos itu. Belum sepenuhnya tersadar dari alam mimpinya, ia masih belum menyadari sesuatu. Ia menoleh, mendapati seorang laki-laki meringkuk membelakanginya dan tentu saja itu suaminya.

‘huh, sudah pagi.’ Batinnya setelah melirik kearah jam dinding yang tergantung di dinding bangian kanan ranjang.Ia terduduk, namun baru beberapa detik matanya melotot.

“YAK!! Kemana bajuku???” teriakannya sontak membangunkan laki-laki yang kini menutup kupingnya rapat-rapat. Laki-laki itu meringis merasakan telinganya yang berdengung akibat teriakan cetar gadis disampingnya yang kini melotot.

Gadis itu menoleh cepat kearah laki-laki yang masih meringkuk di sampingnya sambil menutup telinganya. Oh kepalanya sudah mau pecah mengetahui ia terbangun dalam keadaan naked bagian atas. Ia sudah menuduh laki-laki itu sebagai pelakunya dari tatapan matanya yang sudah siap menguliti laki-laki yang masih tak bergeming itu.

Tangannya terangkat, lalu sebuah pukulan keras ia tandangkan ke bokong laki-laki yang kini terlonjak dari tidurnya. Laki-laki itu duduk dengan perasaan sakit pada bokong cantiknya yang telah dihadiahi tamparan keras pagi ini. Ia meringis mengusap-usapnya dengan sayang, mungkin bokongnya sekarang telah mencetak warna merah merona.

“aish, sakit tahu!” ringisnya masih dengan mengelus-elus bokong indahnya yang masih meninggalkan panas sekaligus nyeri akibat tamparan telak dari gadis disampingnya.

“kau! Kau apakan aku semalam, Huh?” nada suara gadis itu terdengar menenkan dan marah. Laki-laki itu membuang napas panjang, sudah ia duga jika akhirnya akan seperti ini.

“kau sadar tidak sih? Kau sendiri yang membukanya, Kwon Yoora.” Sehun melirik sekilas kearah Yoora yang masih setia dengan wajah marah plus sebalnya.

“aku tidak percaya pada makhluk sepertimu Oh Sehun.” Ia sudah hafal tabiat laki-laki bernama Oh Sehun itu dengan jelas. Jadi sudah sepatutnyakan ia mencurigai makhluk mesum macam Oh Sehun. Dan dengan santainya Sehun membohonginya dengan dalih jika Yoora sendiri yang membuka bajunya. Damn you, Oh Sehun!

Sehun berdiri lalu melangkah ke sisi bagian ranjang yang ditempati Yoora, tangannya meraih kaos berwarna abu-abu yang tergeletak naas di bawah kolong ranjang. Dilemparkannya kaos itu pada sang empunya, lalu berjalan menuju pintu bercat putih, kamar mandi.

shit! Pagi-pagi seperti ini aku harus marah-marah tak jelas.” Ucap Yoora pada dirinya sendiri

shit! Pagi-pagi seperti ini aku harus mendengar ocehan menggelegar dari gadis monster itu.”

Sehun keluar dari kamar mandi dengan wajah masih basah oleh air, tapi pakaiannya masih sama seperti tadi malam, jadi bisa dikatakan jika Sehun tidak mandi pagi ini. Ia berjalan kearah cermin besar yang terletak di meja rias, lalu menyorot penampilan pagi ini dengan senyum merekah. Walau tak mandi, ia tetap terlihat tampan dan keren, pujinya pada dirinya sendiri.

Sehun berbalik dan menemukan Yoora menatap sinis kearahnya, sekarang ia telah memakai kaos abu-abunya. Gadis itu melipat tangannya dan melirik pada setiap gerakan Sehun, juga saat Sehun mematut penampilannya di depan kaca dengan gaya sok kerennya membuat Yoora mual seketika. Yang ditatap tak sengaja menemukan ketidaksukaan dari tatapan itu, ia mengerucutkan bibirnya lalu berdiri di depan Yoora yang masih bersenderan di kepala ranjang.

“apa?”

“kau makhluk termesum yang pernah kutemui, dan aku akan membunuhmu jika aku ingat apa yang kau lakukan padaku semalam.” Ancaman Yoora membuat Sehun refleks memundurkan kepalanya. Ia sudah di beri percobaan hukuman mati kalau seperti ini, dan ia sudah menduganya dari semalam.

“ya, dan kalaupun aku benar-benar melakukan sesuatu padamu semalam, aku akan bertanggungjawab jika membuahkan hasil. Bukannya itu yang memang sebenarnya kita harapkan?” dengan wajah santai, plus gaya berdiri yang sok berwibawa kata-kata Sehun barusan membuat Yoora tak segan-segan melempar bantal dengan kekuatan penuh.

“kau! Menyebalkan!” setelah melempar bantal dan meneriaki Sehun, Yoora berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Ia harus segera menjernihkan pikirannya dengan mandi satu bak air kalau perlu.

“aku tunggu hasilnya, semoga appa dan eomma segera mendapatkan cucu!” teriakan Sehun terdengar sebelum Yoora menutup pintu. Yoora yang masih berdiri di depan pintu melayangkan tatapan tajamnya kearah Sehun yang tertawa terpingkal-pingkal entah karena apa.

“aku membencimu, Oh Sehun menyebalkan!”

“ya, dan aku sangat mencintaimu, istriku yang galak.” Tentu ucapan yang keluar dari mulut Sehun hanya bisa ia dengar sendiri karena saking lirihnya.

‘BRAAAAAAAAAKK.”

Yoora keluar dari kamar mandi, lengkap dengan sebuah handuk putih menggulung kepalanya. Ia berjalan dengan malas kearah kopernya yang tergeletak menyender di dinding dekat ranjang. Ia berjongkok, lalu membuka resleting kopernya dengan tak bersemangat. Sungguh dalam pikirannya masih terbesit pikiran-pikiran negatif tentang tadi malam, apalagi ia dalam keadaan teler dan tidak menutup kemungkinan Sehun yang berotak mesum itu melancarkan aksinya saat Yoora tak sadarkan diri. Apalagi ia mendapati dirinya tak berbusana bagian atas, dan yah segala pikiran dangkal kini memenuhi otaknya.

Alisnya bertaut kala, mendapati isi kopernya bukanlah barang-barang miliknya. Ia mengobrak-abriknya dengan kejam, dan beberapa benda keramat terlempar dari sana.

“yak! Kurang ajar, siapa yang menukar isi koperku?” teriaknya lantang hingga menyadarkan keasikan Sehun bermain game. Laki-laki itu memandang sekilas kearah Yoora, lalu mematikan ponselnya dan mendekati Yoora. Matanya melotot seketika.

“WOW, Kwon Yoora kau ternyata maniak bikini ya?” pertanyaan itu sukses membuat Yoora menatap Sehun beringas. Laki-laki itu tersenyum aneh sambil memandang dengan lekat barang-barang yang disebutnya ‘bikini’ yang ada di koper Yoora.

“ini bukan milikku, dan buang jauh-jauh otak mesummu itu Oh Sehun.” Yoora menatap nanar kearah koper miliknya yang berserakan, tak ia pedulikan lagi bagaimana reaksi lebih dari Sehun. Karena perlu diketahui, Yoora tak punya pakaian lain yang lebih layak dari barang-barang menjijikkan itu. Dan sebelumnya, ia sendiri yang menata pakaiannya yang akan dibawa, tapi kenapa sekarang isinya berubah menjadi seeprti ini?.

Yoora meremas rambutnya sendiri, ia bisa gila detik ini juga. Apakah ia harus memakai baju ini terus selama beberapa hari disini, dan sekarangpun ia sudah merasakan gatal pada matanya karena melihat benda-benda menjijikkan itu.

“tidak buruk.” Sehun yang dengan lancangnya menyiwir sebuah bikini berwarna merah dengan tali tipis dibagian punggungnya. Yoora melotot lantas menampar tangan Sehun yang masih memegangi bikini berwarna merah menyala itu.

“aish, aku bisa gila.” Dengan nada frustasi Yoora menjambak rambutnya, kenapa ia harus se-menderita ini?.

“sudah pakai saja! Apa susahnya sih memakainya?”

“MWO?, Yak!!”

“tidak usah berteriak-teriak seperti itu. Tidak ada ruginya memakai ini, kau pasti terlihat sexy.”

“sialan kau!” setelah mengumpati Sehun, Yoora segera memasuk-masukkan kembali benda-bena menjijikkan yang menurutnya serbet itu. Bukan hanya satu atau dua, tapi mungkin ada sekitar 30-an bikini dan juga lingrie yang barcampur menjadi satu dengan berbagai bentuk dan warna.

“kau mau kemana?”

“aku mau beli baju.”

“tidak dipakai saja bikini atau lingrie-nya?”

“ish, aku tidak sedang ingin bercanda denganmu Oh Sehun.”

“baiklah.”

Yoora membuka pintu mobilnya lalu keluar dari sana, diikuti dengan Sehun yang keluar dari pintu pengemudi. Yoora berjalan mendahului Sehun yang berlari kecil mengejarnya, setelah sejajar lengan sehun merangkul pundak Yoora.

“wae?”

“kenapa kau merangkulku?”

Loh, bukannya kita suami-istri? Bukankah sudah sewajarnya kita melakukan skinship seperti ini, bahkan bisa lebih dari ini.”

“lepaskan!”

“Shireo!”

“terserah!”

Mereka berjalan ke sebuah Mall terbesar yang ada di kota Busan, kebetulan Mall itu terletak tak jauh dari hotel mereka menginap. Sejoli itu melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu besar berbahan kaca, masuh dengan keadaan semula dimana Sehun merangkul bahu Yoora. Yoora berjalan malas, sebenarnya jika bukan karena terdesak ia tak mau keluar dari kamar hotel.

Sesekali Yoora melirik tajam kearah Sehun yang mengeratkan rangkulannya pada bahu Yoora. Tentu saja Yoora merasa risih, karena sejak mereka amemasuki kawasan Mall besar itu, mereka tak lupt dari pandangan orang-rang yang berada disana. Mereka pikir kami tontonan apa? Pikiran tidak suka menyerang Yoora. Sedangkan Sehun yang seperti orang tak punya dosa itu hanya berjalan dengan gay Cool, yang membuat Yoora ingin menendangnya saat itu juga jika tak mengingat mereka sekarang ada di tempat umum.

Mall itu terlihat sangat ramai, apalagi banyak juga turis-turis luar negeri yang sedang berbelanja disana. Karena letaknya yang dekat dengan Pantai Haeundae, sudah jelas Mall besar itu akan kedatangan pengunjung dari berbagai penjuru. Sehun-Yoora sedang berputar-putar mengelilingi pusat perbelanjaan, banyak toko-tok yang menjual berbagai keperluan seperti souvenir, pakaian, sepatu, makanan dan masih banyak lagi.

Mereka masih sibuk berputar-putar, sebenarnya sih Yoora yang terus berjalan sedangkan Sehun mengikutinya.  Yoora berhenti disebuah Boutique bernama Kim’s Boutique yang terlihat elegan dari luar. Yoora melangkahkan kaikinya diikuti Sehun yang masih bergaya Cool saat beberapa pengunjung menatap terpesona kearahnya. Bahkan saejak tadi kedatangan mereka, Yoora dibuat mual karena tingkah Sehun yang menurutnya menjijikkan itu. Dasar Tukang Tebar Pesona!

Yoora melepaskan rangkulan Sehun dengan paksa saat i mendekati berjejer-jejer pakaian Pria, dan tentu saja ia akn membeli pakaian Pria. Ia sendiri yang akan memakainya, karena ia tidak menyukai pakaian yang khusus dibuat untuk wanita. Kakinya melangkah mendekati barisan kaos-kaos yang tergantung dengan rapi, ia memilah-milah mana kaos yang menurutnya bagus.

Sedangkan Sehun hanya ikut-ikut kegiatan Yoora, ia hanya ingin membeli kalau ada yang merasa cocok juga. Namun saat ia menoleh-noleh keberbagai arah ia melihat sesuatu yang langsung menghentikan gerakan matanya. Ia meninggalkan Yoora yang masih sibuk, Yoora yang amsih sibuk tak peduli dengan apa yang dilakukan Sehun.

“permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” seorang pelayan mendekat kearah Sehun yang sedang mengamatis ebuah dress yang terpajang disebuah manequin.

Tangannya membolak-balik dress berwarna abu-abu tanpa lengan yang tiba-tiba menarik perhatiannya. Ia menyangga dagunya, menimbang-nimbang kira-kira Yoora akan cocok atau tidak jika memakai dress itu.

“tolong, suruh wanita yang memakai kaos abu-abu itu untuk mencobanya!” suruhnya pada pelayan wanita itu dengan menunjuk seorang gadis yang sedang sibuk memilih-milih kaos di deretan pakaian pria. Mengerti, pelayan itu mengangguk dan mengambil dress di manequin itu lalu berjalan kearah gadis yang ditunjuk Sehun.

Pelayan itu membungkuk sesaat ketika telah sampai pada tempat tujuannya, Yoora yang merasakan kedatangan pelayan wanita yang memakai kemeja putih serta rok hitam itu menuju padanya, ia berbalik dan mengernyitkan alis. Pasalnya, pelayan itu membawa sebuah dress ditangannya, menerka-nerka apa benar pelayan itu tidak salah orang?.

“permisi Nyonya, silahkan mencoba dress ini!” kerutan di dahi Yoora semakin terlihat jelas, kenapa ia harus memakainya?.

“kenapa aku harus memakainya?”

“disana, seorang laki-laki menyuruh saya untuk memberikan dress ini kepada Nyonya untuk dicoba.” Seusai perkatan penjelasan dari pelayan itu, mata Yoora segera mencari seseorang yang dimaksud pelayan itu. Dan disana ia menemukan laki-laki tengah menatapnya dengan maksud ‘Cobalah!’. Ia membalas dnegan tatapan tak suka, kenapa makhluk itu menyuruhnya memakai pakaian seperti itu?

Yoora berjalan kerah Sehun yang beridiri di deretan manequin yang terpajang di depan pintu masuk butik, laki-laki itu hanya berpura-pura sibuk memandangi beberapa pakaian formal untuk laki-laki saat ia melihat Yoora melangkah kearahnya.

“apa maksudmu menyuruhku memakai pakaian seperti itu?” pertanyaan to the poin Yoora langsung meluncur begitu saja, Sehun masih pura-pura sibuk dan hanya menjawab tanpa menoleh.

“bukannya setelah Bulan Madu ini kita akan menghadiri  acara makan malam keluarga? Jadi pakaialah itu saat kesana.”

“ish, shireo!”

wae? Kau mau memakai baju premanmu itu? Dan aku tidak akan mengijinkanmu memakainya.”

“ish, sialan!”

“permisi, ada apa ini?”

“Sehun? Yoora?”

“Kim Jennie?”

“Kim Jennie?”

–TBC—

Anyheong, aku mau sapa readers dengan segenap rasa bersalah. Bersalah karena tiba-tiba leght ff ini berubah, kenapa berubah?. Karena saya telah berubah pikiran utnuk menajdikannya ff ber-Chapter, alasannya saya sendiri juga tidak tahu dengan pasti. Jadi gini, berhubung leght-nya diubah dan otomatis waktu pengerjaannya semakin molor, jadi aku mau minta maaf banget#emang siapa yang nungguin?#.

Untuk chapter ini, konfliknya masih belum ada, tapi udah ada sedikit yang mulai aku masukin ke chapter ini. Siapa Kim Jennie? Jawabannya akan ada di chapter selanjutnya. So, tunggu dan beri saya komentar lewat chapter ini.

–Thank You—

–SEE YOU LATER–

15 responses to “[FREELANCE] Pervert Sehun #5

  1. huh… kasian sehunnya disalahin sama yoora mulu.. salah yang inilah yang itu lah..
    padahal yg mulai duluan ya yooranya sendiri
    greget deh chap ini
    ditunggu next chapnya ya thor

    keepwriting^^

  2. Baca paragraf” awal jadi baper sendiri masa ……
    Eh pas baca yoora pas marah” sama sehun jadi ngakak lagi hahahaha
    authornnya emang dabes lahhh….

  3. kasihan amat sehun padahal yang buka baju yoora sendiri tapi yang kena tendang sehun
    padahal sehun udah nahan hasratnya mati matian

  4. eiii… ternyata Yoora tomboy banget y_ wkwk ksian sehun, udh cool bgono, dpt istri yg urak-urakan¿ haha Ayolah Yoora.. Definitely you’ll look so beautiful when U wear the dress! Siapa td nma prmpuan yg disebut diakhir?? mantan sehun dan shabat Yoora zmn dlu kh? atau org ketiga yg bkin rusak hub. mreka dimasa lalu? nah.. sprtinya q blum bca ff ini author_ jd g tw kish awlx gimana haha😀

  5. duh, ini akuu bacanya mundur apa maju ya, tahunya pas tengah”, maju aja deh
    yooranya jutek gitu, sehunnya jadi korban mulu hahahaha

  6. Kimjenni jangan jangan mantan pacar sehun dan temen sekolahnya yoora,oh oh oh….apa yang bakalan terjadi selanjutnya….

  7. Penasaran sama masa lalu nya ☹️ Kira2 apa yg buat yoora jadi benci sama sehun ? Apa ada hubungannya sama kim jennie?

  8. Sehun kyknya serba salah ya di matanya yoora😂😂
    Eeh…jgn lama2 yak thor
    Ditunggu chapter slanjutnya
    Semangat thorrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s