[FREELANCE] Darkness

darkness-tldnjf

Tittle Darkness

Author tldnjf (twt: jeonjeonhii)

Cast iKON’s Kim Hanbin and OC’s Lee Hana

Genre Romance, Hurt-Comfort

Rating General

Length Ficlet

Disclaimer I own nothing except the plot! Already posted on 나의book and at tldnjf on wattpad☺☺☺

☆☆☆

Ketika kemah malam itu, Hanbin menepukkan kedua tangannya, membersihkan debu-debu yang menempel di sana, seiring dengan senyum manis yang perlahan mengembang di parasnya.

Manik kecokelatannya lalu menatap bangga sebuah tenda yang baru selesai ia dirikan bersama teman kelompoknya. Ia dan kelompoknya terlambat datang, omong-omong. Itu sebabnya ia baru selesai mendirikan tenda malam-malam begini alih-alih di sore hari seperti temannya yang lain.

Setelah puas menatap tenda yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk 3 hari ke depan, Hanbin sedang dalam program kemah tahunan sekolahnya omong-omong, manik kecokelatannya bergerak ke arah lain. Ke kanan juga ke kiri, tak ada satu pun titik yang terlewati, hanya demi mencari tenda milik sang pujaan hati.

Gotcha!

Ia berseru riang dalam hati ketika pandangannya berhasil menangkap potret tenda milik sang pujaan hati. Pun berserta sang pujaan hati yang kini tertangkap lensa Hanbin sedang berjalan menjauhi area perkemahan.

Tanpa berpikir lagi, kaki panjang Hanbin spontan mengikuti jejak sang pujaan hati. Selangkah, dua langkah, hingga mereka memasuki hutan di sekitar area perkemahan entah pada langkah keberapa. Pohon-pohon tegak menjulang tinggi, suara hewan malam riuh menghiasi, kegelapan melengkapi pun kesunyian menambah sensasi. Semakin jauh memasuki hutan, suasana terasa makin mencekam. Namun, tak sedikitpun Hanbin lihat tubuh gadis yang berjalan beberapa meter di hadapannya itu bergetar, ketakutan. Sesungguhnya, Hanbin bertanya-tanya edalam hatinya, “Mengapa pacarku tiba-tiba begini?”

Setahu Hanbin, Lee Hana bukanlah seorang gadis yang suka menyendiri, apalagi malam-malam begini. Tadinya, ingin Hanbin hentikan langkah kecil Hana di tengah jalan. Namun, rasa penasarannya akan alasan Hana pergi menyendiri lebih mendominasi. Jadilah ia mengikuti Hana dengan rasa khawatir yang memenuhi dirinya hingga mereka berdua tiba, dengan Hanbin yang bersembunyi seperti penguntit beberapa meter di belakang Hana tentunya, di sebuah tanah kosong yang dikelilingi jajaran pepohonan yang melingkar, tempat di mana kita dapat menikmati indahnya langit malam yang bertabur bintang.

Satu menit, dua menit, sepuluh menit, tak ada yang terjadi. Hingga isakan pelan seorang gadis mengejutkan dan kemudian menusuk hati Hanbin.

Lee Hana menangis. Hana-nya menangis.

Hanbin panik. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Belum pernah dirinya melihat Hana menangis sendirian seperti sekarang ini. Hanbin lalu terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus ia lakukan, lalu mengembuskan napasnya berat, namun pelan. Lagi-lagi, ia mengembuskan napasnya sebelum kakinya melangkah mendekati Hana yang terduduk menenggelamkan kepala, meredam isakan.

Hanbin kemudian mendudukkan bokongnya dengan memberi satu jengkal jarak antara dirinya dengan sang kekasih.

Hana yang merasakan kehadiran orang lain di dekatnya lalu menghentikan, atau lebih tepatnya menahan, isakannya tanpa ada niatan untuk mendongakkan kepala, melihat siapa yang datang.

“Han,” panggi Hanbin pelan.

Hana diam, tak ingin merespon.

“Hana-ya,” panggil Hanbin sekali lagi.

Hana masih diam, tak sanggup bertatap wajah dengan Hanbin.

“Lee Hana…” Kali ini Hanbin memelas.

Hal itu cukup untuk membuat Hana mengangkat kepalanya. Memperlihatkan matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah usai menangis.

“Kenapa bisa ada di sini?” cicit Hana.

Hanbin menatap Hana yang mengarahkan pandangannya lurus ke depan, tak balik menatapnya. Ia pun lalu ikut mengalihkan pandangannya. Dengan menatap langit malam bertabur bintang yang terbentang indah di atasnya, Hanbin menjawab, “Aku mengikutimu dari tadi.”

Hana sedikir terkejut dengan jawaban yang terlontar dari mulut Hanbin. Ia lalu menoleh ke arah Hanbin dengam melemparkan tatapan bingung.

Seakan mengerti, Hanbin terkekeh pelan lalu berucap, “Aku berpikir kau butuh waktu sendiri. Jadi, aku biarkan saja. Tapi, aku khawatir. Jadi, aku mengikutimu sampai sini.”

Jawaban Hanbin alih-alih membuat Hana terharu dan tersipu justru malah membuat gadis yang menyandang predikat sebagai kekasih Kim Hanbin itu tersenyum miris, menyimpan luka di baliknya.

Hana kemudian menghela napas sebelum mengutarakan serangkaian kata yang mampu membuat mata Hanbin membulat.

“Kalau aku minta putus, bagaimana, Bin?”

Setelah kalimat itu terlontar dari bibir Hana, hening menyelimuti mereka berdua.

“Kenapa?” Setelah sekian lama, suara Hanbin memecah hening. Meruntuhkan dinding sunyi antara keduanya.

“Aku merasa… kita terlalu jauh, Bin.”

“Mereka mengganggumu lagi, hm?”

Hana menolehkan kepalanya ke arah Hanbin. Begitupun dengan Hanbin yang memusatkan pandangannya pada Hana. Mereka bertatapan. “Tidak. Apa yang mereka katakan benar, Bin. Aku memikirkannya berulang kali dan tak ada satupun dari perkataan mereka yang salah…”

Hana memutus kontak mata mereka. “…Kita memang seharusnya tak bersama.”

“Hana, tak bisakah kita bertahan hanya dengan fakta bahwa kita saling mencintai?”

Hana menggeleng pelan. Setetes air mata meluncur dari matanya melewati pipinya.

Tangan Hanbin bergerak menggapai wajah Hana. Kemudian, ibu jarinya bergerak mengusap pipi Hana, menghapus jejak air mata di sana. “Kita juga saling melengkapi, Han.”

“Hanya kau yang melengkapiku. Aku tak bisa melengkapimu karena kau sempurna, Bin, tanpa celah.”

“Han,” panggil Hanbin putus asa.

Hana hanya menggeleng sebagai jawabannya.

“Apapn yang mereka katakan, aku telah memilihmu, Han. Hatiku memilihmu.”

“Tapi, aku tak bisa menerimamu, Hanbin. Kau terlalu sempurna untukku.” Hana mengambil jeda pendek sebelum melanjutkan, “Jika kau adalah cahaya, maka aku adalah kegelapan. Aku hanya akan menutupi sinarmu. Aku tak ingin menjadi penghalang bagimu.”

Hening kembali menyelimuti keduanya. Hanya embusan napas pelan dari keduanya yang terdengar. Mereka berdua diam, tak mengeluarkan suara lain. Pun tak mengalihkan pandangan mereka dari langit malam yang terbentang indah di atas keduanya.

Hingga akhirnya Hanbin bersuara, “Itu adalah hakmu untuk menganggapku sebagai cahaya dan dirimu sebagai kegelapan.”

Hanbin mengalihkan pandangannya dari langit malam, menoleh ke arah Hana yang masih enggan mengalihkan pandangannya.

Lelaki itu tersenyum simpul lalu berkata, “Tapi, kurasa itu bagus. Cahaya yang bersama dengan kegelapan, aku suka.”

Mereka menoleh bersamaan. Dua pasang mata bertatapan.

Hanbin lagi-lagi tersenyum. “Coba lihat bintang-bintang di atas sana,” ucapnya seraya menunjuk bintang-bintang yang bersinar indah di atas mereka.

Hana menuruti kata Hanbin, dia menatap bintang-bintang yang bercahaya di atas sana.

“Kenapa? Kau ingin mengatakan jika kau adalah bin-”

“Apa yang akan terjadi pada bintang-bintang itu ketika pagi menjelang?”

Mereka sirna. Cahayanya terkalahkan cahaya lain,” batin Hana.

Hanbin terdiam sesaat, memberi waktu bagi Hana untuk berpikir kembali sebelum mengeluarkan serangkaian kata dari bibirnya. “Aku pun begitu, Han. Aku bersinar hanya bersamamu. Aku berarti hanya denganmu. Cahayaku terlihat indah hanya jika bersama kegelapanmu.”

Ucapan Hanbin itu membuat mereka kembali bertatapan. Hana menatap Hanbin ragu. Hanbin menatap Hana meyakinkan.

Hingga senyum simpul mengembang di paras keduanya. Lalu, Hanbin memangkas jarak di antara mereka dengan membawa Hana ke dalam dekapan hangatnya, memeluknya.

“Jadi, tetap bersamaku ya? Agar dunia dapat melihat indahnya sinarku,” pinta Hanbin seraya mengeratkan pelukannya.

Hana tersenyum tanpa Hanbin ketahui, lalu mengangguk pelan dalam pelukan sang kekasih, mengiyakan permintaan Hanbin.

☆☆☆

Seperti itulah gelapnya langit malam menyatukan mereka.

FIN

Fix ini gajelas banget.

Fix ini romancenya failed pake banget.

fromwolwith♥

One response to “[FREELANCE] Darkness

  1. Fix juga aku suka cara Hanbin mendeskripsikan dia sebagai bintang dan Hana sebagai kegelapan🙂 Ditunggu next post nya , Author..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s