ALL I ASK [PART XV] — by Neez

aias-copy

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

Lee Hana / OC || Baek Jinmi / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Kim Jongdae / EXO Chen / Others

Alternative Universe, School Life, Family, Romance, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

 [PART XIV]

© neez

Beautiful Poster Cr : Kenssi at storyexo.wordpress.com

XV

”Baju sudah, gadget terbaru juga sudah. Sepatu, tas… apa lagi? Kosmetik… heuuuu, bahkan Appa-mu memberikan uang jajan tambahan jika kau masih mau berbelanja. Kenapa wajahmu masih kusut saja Oh Jaehee?”

   Jaehee cemberut, Sehun yang duduk di depannya terkekeh geli dengan suara kekehan nenek-neneknya yang khas. Mendesis, Jaehee menendang tulang kering Sehun dengan sadis hingga bocah itu meringis dan berteriak kesakitan. Haejin menghela napasnya putus asa, sudah satu minggu berlalu, tapi sikap putrinya tak kunjung berubah.

   ”Imo, Jaehee nakal…” rengek Sehun.

   Haejin melepaskan sisir besarnya dari rambut bergelombang Jaehee dan meletakkannya di atas meja rias. ”Berhenti memperlakukan Sehun seperti ini, Oh Jaehee! Kami tidak membesarkanmu untuk bersikap seperti ini.” Tegur ibunya.

   ”Ya, Eomma dan Appa hanya membesarkanku untuk bersikap tidak rasional pada hal tertentu, geuchi?” balas Jaehee sambil berdiri. ”Sudahlah, kalian memintaku untuk bersiap-siap. Aku mau siap-siap sekarang!” tidak peduli jika ibunya menganggapnya keras kepala, atau Sehun yang mengerucutkan bibirnya, keduanya terpaksa pergi meninggalkan kamar Jaehee saat itu juga. Karena bad mood Jaehee benar-benar mengerikan (atau menyebalkan bagi ibunya).

   Jaehee menutup pintu kamarnya dengan kasar dan memutar kuncinya, agar Sehun dan Ibunya tidak lagi bisa masuk dan menasehatinya ini dan itu. Setelah pintu kamar tertutup Jaehee kembali berdiri di depan meja riasnya dan memperhatikan bayangannya. Ibunya membuat rambut bergelombangnya nampak indah, dan ia masih dalam balutan jas handuk mandinya.

   Memikirkan apa yang akan terjadi malam ini membuat semangatnya merosot kembali. Ia ingat satu minggu ke belakang adalah neraka baginya.

*Flashback 1 Week Ago*

”Jaehee-ya~ jangan diamkan aku seperti ini. Apa salahku? Aku baru kembali dari jauh dan kau sudah memperlakukanku seperti ini.” Rajuk Sehun.

   Jaehee harus mengembuskan napasnya dalam-dalam, agar tidak melepaskan amarahnya di hadapan seluruh murid Hanlim pada saat ini. Bagaimana tidak? Oh Sehun sejak pagi, bahkan sejak kemarin mereka tiba di rumah, selalu mengekori Jaehee dan tidak berhenti mengoceh dengan suaranya yang menyebalkan.

   ”Jaehee-ya~”

   Akhirnya Jaehee terpaksa berhenti. Dan berbalik menatap Sehun sambil berkacak pinggang, ”Yah, sekarang beritahu aku apa yang kau mau, dan segera menyingkir dari hadapanku. Apa kau bisa?”

   ”Jagiya, kau begitu kejam.” Rengek Sehun bertingkah seperti anak kecil, Jaehee hanya bisa mendengus jijik melihatnya. Dia tahu Oh Sehun semudah membalikan telapak tangan, dan dia paling sebal jika Sehun sudah bersikap seperti ini, karena berarti Sehun tidak akan berhenti melakukannya sampai ia mendapatkan apa yang dia inginkan. ”Jangan tinggalkan aku, jangan acuhkan aku… aku bisa…”

   ”Kau mau mati, hah?” omel Jaehee sadis.

   Sehun terkekeh, akhirnya ia menegakkan diri dan meninggalkan akting anak manjanya dan memberikan Jaehee senyum miring yang dulu, dulu sekali membuat Jaehee berdebar-debar dan akan menuruti apa yang ia pinta.

   ”Kenapa kau membenciku, sih?”

   ”Aku tidak benci padamu, benci adalah kata yang berat, Oh Sehun.” Decak Jaehee sebal karena Sehun tak kunjung memberitahunya apa yang ia lakukan. “Sekarang kembali ke rumahmu di New York sana, oke? Jangan ganggu aku lagi, aku punya banyak hal yang harus kupikirkan daripada mengurusi tingkah manjamu.”

   ”Tsk, dulu kau tidak pernah keberatan dengan segala tingkah manjaku.” Geleng Sehun sambil melipat kedua tangannya.

   ”Itu dulu. Kau sebagai orang yang tinggal di Amerika lebih lama daripada aku jelas mengerti arti past tense, kan.”

   Sehun mengangkat bahu, ”Kau sangat cantik kalau ngomel, Jaehee-ya.”

   Jaehee menghela napasnya, Sehun benar-benar tidak dapat dihentikan. Dan ia sudah letih dengan tingkah Sehun yang jauh lebih menempel dengannya dibandingkan dulu. Sehun jauh lebih clingy daripada Joon yang notabene adalah supir pribadi merangkap asisten, dan segala-galanya yang diperintahkan ayahnynya.

   ”Dwaesseo. Jangan ganggu aku, pulang sana!” baru saja Jaehee berbalik, namun Sehun kembali menahan tangannya, “Aku sekolah disini sekarang, Jagiya, jadi kau tidak bisa menyuruhku pulang atau Kepala Sekolah Jung akan menghukumku. Padahal kan aku anak baru. Dan aku disini pun hanya mengenalmu, Jagiya, jadi kau tidak boleh mengusirku.”

   ”What?! Kau pindah ke Hanlim?!”

   Sehun mengangguk-angguk, ”Kau pasti senang. Sekarang kita tidak akan terpisahkan lagi, Jagiya.” Ia meraih tubuh Jaehee dengan mudahnya, dan seperti biasa tidak menghiraukan puluhan pasang mata yang memperhatikan, Sehun memeluk Jaehee erat-erat sambil memejamkan matanya dengan bahagia. Jaehee kembali di pelukannya.

   Namun…

   ”OW!! OWW!! Jaehee-ya!”

   Jaehee memelototi Sehun, setelah berhasil melepaskan diri.

   ”Apa yang terjadi pada malaikat kecilku yang lucu? Kenapa kau menendang tulang keringku? Kalau aku tidak bisa menari lagi bagaimana?!” omel Sehun sambil berjingkat-jingkat dan memegangi kakinya.

   Jaehee berusaha mengatur napasnya yang memburu karena marah, dan kesal dengan sikap Sehun yang seperti ini. ”Mendengarmu masih bisa membalas kata-kataku, kurasa aku masih kurang kencang menendangmu.”

   Sehun berhenti berjingkat ditempat, dan memasang wajah datarnya. ”Kau kejam, kau tahu? Apa yang kulakukan hingga kau seperti ini?”

   ”Kau!” tunjuk Jaehee dengan jarinya. ”Apa yang kau lakukan disini dan apa maksudmu dengan pindah ke Hanlim, eoh?”

   ”Memang aku tidak boleh pindah?”

   Jaehee berdecak. Ia tidak akan mendapatkan jawaban apa pun dari Sehun, jadi lebih baik menyerah saja dan memutuskan untuk tidak lagi menghiraukan Sehun. ”Dengarkan aku, Oh Sehun. Aku tidak peduli kau kesini hanya untuk bermain-main atau benar-benar pindah, tetapi jangan ganggu aku, kau mengerti?!”

   ”Tapi kenapa? Apa yang kulakukan?”

   Jaehee terkekeh dan merendahkan suaranya hingga benar-benar berubah dingin. ”Sampai aku mengetahui apa maksudmu datang kesini, aku tidak akan bersikap baik kepadamu. Jangan lupa apa yang telah kau lakukan padaku dulu, Sehun.”

   Sehun nampak terhenyak mendengarkan kata-kata Jaehee, hingga gadis itu berlalu, meninggalkannya sendirian berdiri di tengah-tengah taman sekolah. Jaehee benar-benar marah, dan Sehun bisa mengerti mengapa gadis itu bersikap demikian kepadanya. Ia pun punya alasan sendiri kenapa datang ke Seoul, dan memenuhi permintaan pamannya.

   ”Dia memang begitu, tsundere.” Gumam Sehun pada beberapa orang dan mengedipi mereka sebelum berlari pergi dengan penuh gaya untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya dan tidak kehilangan harga diri.

   Sementara Jaehee, berhasil melepaskan diri dari lintah darat dalam arti sebenarnya bernama Oh Sehun itu dan berlari menuju balkon di lantai lima. Ia membuka pintu balkon dengan kasar sambil mengomel tidak jelas. Ia bahkan menendang-nendang pagar balkon dengan kesal, hingga akhirnya ia bisa mendengar suara pria berdeham.

   ”Omo!”

   Joonmyun, duduk bersandar di lantai, memegang sebuah buku, menatap Jaehee dari ujung rambut hingga ke kaki. Wajahnya yang memerah, dan ekspresi kesalnya yang sejujurnya sangat menggemaskan. Namun bayang-bayang pria tinggi setengah bule yang mencium gadis itu kemarin kembali memenuhi kepalanya.

   ”Mian, aku tidak tahu ada kau disini.” Gumam Jaehee sambil mengatur napasnya dan duduk bersila di hadapan Joonmyun. Ah, bahkan kehadiran Joonmyun saja sudah bisa membuat tensi darahnya merendah sendiri. Joonmyun menatapnya dengan ingin tahu, namun beberapa saat kemudian Jaehee menyadari bahwa pria di hadapannya ini tidak kunjung juga membalas senyumannya. ”Err… kau sudah lama disini?”

   Joonmyun mengangguk, menunduk kembali serius menekuri bukunya, ”Sejak awal untuk mendengar keluhanmu mengenai anak baru bernama Oh Sehun itu.”

   ”Ah, ya… aku… aku kenal dia.” Jawab Jaehee sambil menggaruk kepalanya, dan mendapati reaksi Joonmyun yang datar-datar saja sambil mengangguk dan membalikkan halaman di bukunya dengan cepat, bahkan terkesan kasar. “Err… kau sedang baca apa?”

   ”Buku.”

   Jaehee sedikit terhenyak mendengar nada dingin yang Joonmyun gunakan untuk menjawabnya, namun berusaha ramah, dan mengenyahkan pikiran negatif mengenai Joonmyun, Jaehee memutuskan bertanya lagi. ”Buku apa?”

   ”Midsummer Night Dream. Buku Shakespeare.”

   Joonmyun tak kunjung mendongak menatap matanya, padahal Jaehee berharap dengan bicara dengan Joonmyun, ia akan melupakan perkara ‘lintah darat’ Oh Sehun yang menganggunya. Tapi, sepertinya Joonmyun tidak sedang ingin diajak bicara sama sekali. Jaehee yakin, Joonmyun hanya sedang tidak mood saja. Setiap orang pasti pernah begitu, kan? Mereka tidak bertengkar… jadi kesimpulan mengapa Joonmyun bisa bersikap seperti ini adalah karena ia tidak mood saja.

   ”Ah…”

   Mungkin Joonmyun bisa mendengar nada bicara Jaehee yang berubah karena sikapnya yang mendadak dingin. Sebenarnya ia ingin berbincang-bincang dengan Jaehee seperti biasa, namun ia tidak mungkin dengan kasualnya bertanya pada gadis itu mengenai Oh Sehun yang menciumnya. Lagipula, apakah ia berhak bertanya dan merasa tidak suka dengan hal tersebut?

   Disisi lain, Jaehee berpikir meski ia kecewa dengan sikap dingin Joonmyun. Joonmyun juga manusia, yang bisa memiliki rasa jenuh dan bad mood. Lagipula, balkon lantai lima ini adalah tempat Joonmyun biasa berisitirahat jauh sebelum mereka saling mengenal, bukan? Mungkin ada baiknya ia membiarkan Joonmyun sendiri sekarang.

   ”Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu,” gumam Jaehee sambil tersenyum singkat, saat Joonmyun mendongak sekilas, dan ia segera pergi dari hadapannya, tanpa mengetahui bahwa pria itu langsung mengacak rambutnya dengan frustasi setelah Jaehee benar-benar pergi dari balkon.

   Joonmyun sadar ia seharusnya tidak bersikap seperti ini. Siapa pun Oh Sehun dan apa statusnya dengan Jaehee adalah hak Jaehee seutuhnya sebagai seorang manusia, kan? Dia kan hanya teman Jaehee, kenapa juga dia harus merasa kecewa bahwa Jaehee tidak mengatakan ia sudah memiliki seorang teman dekat?

   Atau, Jaehee begitu lancar berciuman dengan pria itu di depan orang banyak. Apakah Jaehee hanya berbohong saat kemarin meminta tips soal berciuman? Joonmyun menggosok-gosok bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghalau pikiran-pikiran aneh dan negatif mengenai gadis itu.

   Sorenya, Joonmyun ingat bahwa Kepala Sekolah Jung akan memanggilnya—dan anak-anak terpilih lainnya untuk mendengarkan pengarahan mengenai kompetisi antar sekolah seni. Joonmyun ingat, bahwa Jaehee juga akan ada disana, dan berharap ia bisa memperbaiki sikapnya tadi pada Jaehee.

   Ia, Jongin, dan Jongdae berjalan menuju aula pertemuan—tempat Kepala Sekolah Jung meminta mereka berkumpul, dan dari ekor matanya saja Joonmyun sudah dapat melihat Jaehee yang berjalan bersama Hana berdua dari arah yang berlawanan, dengan Oh Sehun mengekor di belakangnya. Mendadak, resolusinya untuk kembali bersikap baik pada Jaehee menguap, menghilang entah kemana.

   Matanya terus mengikuti gestur Jaehee yang dimatanya terlihat tidak begitu nyaman, dengan Hana menggamit lengannya, dan Sehun yang tidak bersikap clingy seperti kemarin. Jongin melempar senyum pada Hana dan Jaehee, yang membalasnya. Tetapi Joonmyun malah mendahului kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam aula pertemuan.

   Hana mengelus-elus lengan Jaehee membesarkan hatinya, karena sepertinya Jaehee terlihat kaget dengan sikap Joonmyun yang berubah dingin kepadanya sejak tadi siang. Jongin mengernyit, begitu juga dengan Jongdae yang menyadari perubahan sikap sahabatnya yang biasa bersikap tenang itu.

   ”Sudahlah kita masuk saja,”

   Jongdae mengangguk dan mengikuti Jongin, Hana, dan Jaehee masuk ke dalam menyusul Joonmyun yang duduk di sudut jauh dengan Yixing, sambil melipat kedua tangannya, dan memasang wajah dingin serta tak ramah agar tak ada satu pun orang, kecuali Yixing yang tidak pernah terpengaruh dengan keadaan yang berani menyapanya.

   ”Jangan-jangan dia membenciku, karena Appa tidak mengundangnya datang ke pesta ulangtahunku?” gumam Jaehee pada Hana yang duduk disampingnya, setelah menyapa Baek Jinmi, Ji Hyesoo, dan Park Chanyeol.

   Hana menjawab dengan pelan, ”Apa menurutmu Kim Joonmyun adalah tipe orang yang akan sakit hati dengan hal sepele seperti itu, Jaehee-ya?”

   ”Tidak sih,” Jaehee menunduk. ”Tapi aku kan tidak melakukan apa-apa. Kami hanya bertemu terakhir kemarin sebelum kau datang dan mengatakan bahwa ayahku ingin menemuiku. Kenapa dia tiba-tiba berubah setelahnya?”

   Hana mengangguk-angguk, ”Masuk akal. Tapi, rasanya tidak mungkin Joonmyun akan bersikap dingin hanya karena hal tersebut. Kau kan bisa saja mengundangnya sendiri, meskipun tidak ada undangan.”

   ”Dan menurutmu ia akan datang, begitu?” sahut Jaehee sinis.

   Hana mengangkat bahu, ”Kau tahu dia tidak mungkin datang. Dia juga pasti tahu kalau kau tidak mungkin mengundangnya. Jadi apa yang membuatnya tiba-tiba marah? Kurasa bukan berhubungan dengan undangan.”

   ”Tapi apa salahku lagi?”

   Hana menghela napas dan menepuk-nepuk bahu Jaehee, ”Mungkin dia memang sedang tidak enak mood,”

   ”Aish, jinjja… Oh Sehun menyebalkan, sekarang Kim Joonmyun menyebalkan. Apa salahku sih?” omelnya lebih kepada diri sendiri. Tidak menyadari Hana meliriknya dan melirik Sehun yang duduk diam di belakang mereka secara bergantian.

Belum sempat Hana bertanya, Kepala Sekolah Jung, Guru Kwon, Guru Han, dan seluluh guru kepala jurusan masuk. Diikuti dengan Kim Minseok yang membungkuk-bungkuk memohon maaf karena ia terlambat.

   ”Minseok!” pekik Jinmi saat melihatnya kaget.

   ”Woah Kim Minseok kembali!” Yixing juga berseru sambil menyenggol lengan Joonmyun.

   Kepala Sekolah Jung membalas bungkukan para murid yang datang dengan melambaikan tangannya, ”Kalian boleh kembali duduk. Terima kasih sudah datang. Seperti yang kuberitahukan kemarin… pertemuan hari ini adalah tentang kompetisi antar sekolah seni di seluruh Korea Selatan. Dan aku memutuskan akan mengirimkan kalian semua untuk kompetisi ini, yang mungkin akan dilangsungkan selama dua minggu, di Provinsi Gyunggido.”

   ”Gyunggido, Sir?” tanya Seolhyun cukup terkejut.

   Kepala Sekolah Jung mengangguk, mempersilakan para kepala jurusan untuk membagikan kertas berisi informasi, dan kebutuhan-kebutuhan yang harus para peserta bawa karena mereka harus berada di luar kota selama dua minggu penuh untuk mengikuti kompetisi ini.

   ”Jika ada yang keberatan untuk mengikuti program ini, bisa langsung bicara sekarang agar kami dapat mencari kandidat lain.” Beritahu Guru Kwon saat para kepala jurusan membagikan kertas-kertas tersebut. ”Kalian semua juga diharapkan agar benar-benar mengikuti kompetisi ini dengan baik, karena selain mendapatkan sertifikat kompetisi yang akan berguna di karier kalian kelak, seluruh juri yang ada dalam kompetisi ini adalah pencari bakat entertainment dan pencari bakat universitas.”

   ”Woah,” siul Jongdae sambil membaca kertas yang dibagikan oleh kepala jurusannya.

   ”Dan nilai yang akan diberikan sekolah juga besar,” kedip kepala jurusan Vokal.

   Kepala Sekolah Jung tersenyum, mengamati ekspresi seluruh muridnya satu persatu yang menatap penuh minat kertas-kertas yang dibagikan. ”Absen selama dua minggu dari sekolah tentunya bukan hal mudah yang kami berikan, tapi kami percaya akan kemampuan kalian untuk mengembangkan bakat kalian di kompetisi ini. Jika ada yang merasa keberatan, maka silakan katakan sekarang.”

   ”Woah, daebak…” gumam Hana dengan mata berbinar-binar. ”Ini kesempatan langka bagi kita, Jaehee-ya.”

   Jaehee juga mengangguk-angguk disampingnya.

   “Satu lagi, kalian akan dikirim sebagai tim.” Kata Guru Kwon. ”Bukan sebagai individu. Kompetisi kali ini akan menilai kekompakan kalian dalam membuat sebuah produksi. Itu adalah misi terakhir kalian. Jadi, sebisa mungkin kembangkan diri kalian dan bakat kalian masing-masing, namun saling bekerjasama antar satu sama lain. Penjelasan lebih lanjut akan diberikan begitu kalian sudah sampai disana.”

   Kepala Sekolah mengangguk, ”Jadi, adakah yang hendak mundur?” ia memandang berkeliling, alih-alih mengharapkan tatapan takut dan ragu, ia mendapati tatapan penuh cahaya dan harapan dari para muridnya. ”Bagus, buatlah Hanlim bangga. Persiapkan diri kalian selama dua minggu ini. Selamat sore.”

   ”Jurusan Teater Musikal, berkumpul disini.” Guru Han memberi isyarat saat Kepala Sekolah Jung mengakhiri pidatonya, kepala jurusan lain pun melakukan hal yang sama. Jaehee berdiri, bersama Seolhyun dan Minseok, ia menghampiri Guru Han yang duduk di sudut ruangan. ”Selamat, sudah terpilih… Mr Kim, bagaimana keadaanmu?”

   Minseok tersenyum penuh terima kasih, ”Sudah baik-baik saja, Guru Han. Terima kasih.”

   ”Syukurlah, karena kau akan kembali sibuk di kompetisi besar ini. Aku juga ingin kalian bertiga menjaga kesehatan kalian disana nanti. Aku tidak tahu berapa guru yang akan dikirim, tapi aku ingin kalian melakukan yang terbaik di kompetisi besok. Gali seluruh peran yang pernah kalian pelajari, dan akan lebih baik jika kalian bisa mengajari teman-teman kalian bagaimana berakting.” Pesannya. ”Soal pemilihan naskah… nanti disana aku yakin kalian akan diminta membuat pertunjukan musikal lagi, akan lebih baik jika kalian memilihkan naskah yang tidak terlalu berat bagi teman-teman kalian yang bukan berasal dari jurusan akting. Soal musikal, kalian bisa minta tolong teman-teman dari jurusan vokal.”

   Jaehee, Seolhyun, dan Minseok mengangguk.

   ”Baiklah… Mr Kim, aku ingin kau menjadi leader dari tim musikal teater. Jangan lupa pesan Kepala Sekolah tadi, oke?” pesan Guru Han. ”Kalian bisa mencari naskah-naskah di perpustakaan, dan aku akan memberikan kalian saran sebisa mungkin. Apa kalian mengerti?”

   ”Ya, Guru Han.”

   Guru Han mengangguk, ”Bagus. Good Luck.” Guru Han menepuk-nepuk bahu Minseok, Seolhyun, dan Jaehee bergantian, sebelum bangkit dan bergabung dengan staff guru lainnya. Meninggalkan mereka bertiga.

   ”Minseok-ah, senang melihatmu kembali. Kau baik-baik saja?” tanya Jaehee, menyapa Minseok dengan khawatir. Minseok tertawa dan mengangguk-angguk memberikan Jaehee senyuman manisnya.

   ”Aku sudah sehat sekarang. Maaf, telah membuat pertunjukan hampir kacau. Tapi kudengar kau dan Joonmyun berhasil membawakan Romeo & Juliet dengan baik, benar?” tanya Minseok baik hati. ”Sayang sekali aku tidak bisa datang, berperan… aku juga penasaran melihat kalian berdua, karena semua orang bilang akting kalian berdua bagus.”

   Jaehee tertawa, malu. ”Gomawo. Kuharap kita memiliki kesempatan bekerja sama lagi, Minseok-ah.”

   ”Tentu, tentu… omong-omong, bagaimana dengan permintaan Guru Han tadi? Soal naskah… aku yakin kita akan diminta memerankan sesuatu. Kita harus bisa membawa naskah yang baik dan membuat para juri terkesan.”

   ”Kau benar, tapi… seperti kata guru Han, hanya kita bertiga yang mengerti basic akting disini. Kita tidak bisa memilihkan peran yang sulit bagi mereka semua…”

   ”Kalian bisa menyerahkan soal naskah kepadaku,” celetuk Seolhyun tiba-tiba. Membuat Jaehee dan Minseok yang sedang berdiskusi menoleh kepadanya. ”Bukan aku menyombongkan diri, tapi… aku rasa, secara pengalaman naskahku jauh lebih banyak dipilih untuk pertunjukan dibandingkan dengan rekomendasi milik kalian.”

   ”Ah…” komentar Minseok.

   Jaehee, karena tidak tahu harus menjawab apa, hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Seolhyun tersenyum dan membungkuk, berpamitan, dan meninggalkan mereka berdua yang langsung bertukar pandang.

   ”Tidakkah menurutmu sebaiknya kita diskusikan soal naskah dengan teman-teman dari tim sutradar?” gumam Minseok, ”Karena tidak semua orang bisa berakting.”

   Jaehee hanya terkekeh, mengangkat bahu.

   ”Kurasa kita harus tetap mencari naskah tambahan, barangkali jika milik Seolhyun tidak mendapat persetujuan seluruh tim.” Usul Minseok masuk akal, dan Jaehee—yang tidak pernah merasa dirinya ahli dalam bidang ini, hanya mengangguk-angguk setuju. ”Bagaimana kalau kita bergabung dengan Jinmi dan Chanyeol?”

   ”Aku akan mengikutimu, Leader-nim.”

   Minseok tertawa. Rupanya, hanya Seolhyun saja yang langsung meninggalkan aula setelah pengarahan, sementara yang lain tetap di tempat untuk saling berdiskusi. Kali ini, Joonmyun harus menahan rasa mengganjal ditenggorokannya yang entah datang darimana saat melihat Jaehee bicara begitu akrab dengan Kim Minseok, yang seharusnya memerankan Romeo di panggung kemarin. Juga saat menoleh ke arah Hana dan Jongin yang berbincang dengan Sehun.

   Sepertinya ia bisa mengerti apa yang Jongin rasakan saat ia bekerjasama dengan Yixing. Ingin rasanya Joonmyun menahan Jongin agar tidak berteman dengan anak baru bernama Sehun itu, namun melihat mereka berbincang cukup akrab, bahkan Jongin tertawa dengan pria itu, membuat Joonmyun ingin pulang saja.

   ”Minseok-ssi, ajarkan aku berakting!”

   Minseok, Jaehee, Jinmi, dan Chanyeol mendongak ke arah Jongdae yang datang diikuti dua orang temannya dari jurusan vokal. Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo.

   ”Hai, Jongdae-ssi.” Sapa Minseok balik dengan senyum ramah. Ia juga mengangguk singkat pada Baekhyun dan Kyungsoo. ”Kudengar kau berakting dengan baik kemarin sebagai Tybalt. Sayang sekali aku tidak bisa menyaksikannya.”

   Jongdae tertawa malu, ”Kata siapa aktingku baik?”

   ”Jinmi-ssi tentu saja.”

   Dan wajah Jongdae menjadi super merah, hingga ia nampak salah tingkah dan terbata-bata menatap Jinmi yang tertawa geli melihat tingkahnya. Bahkan Jaehee ikut tersenyum melihat tingkahnya.

   ”Kalau Jinmi-ssi yang bilang, aku jadi malu.”

   Chanyeol berdecak dan menyahut, ”Lalu kalau aku yang bilang kau tidak akan malu, Kim Jongdae-ssi?”

   ”Ssshh, kenapa kau menyebalkan?” tegur Jinmi, dan Chanyeol harus berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa. ”Gwenchana, Jongdae-ssi. Sepertinya kalau dari yang kudengar mengenai kompetisi ini dari kakakku, kita akan bergabung untuk membuat banyak projek. Salah satunya adalah film. Karena dari tim akting hanya ada tiga orang, kita harus berlatih agar bisa berakting.”

   ”Hanya membuat film?” tanya Minseok penasaran.

   Jinmi menggeleng, ”Tidak hanya membuat film, tapi juga menyanyi, menari, membuat naskah. Membuat set panggung.”

   ”Itulah kenapa kita bekerja sebagai tim,” gumam Jongin yang tiba-tiba nimbrung, Hana dan Sehun kini ikut bergabung. Jaehee tersenyum kepadanya, Jongin membalasnya. Namun saat mata Jaehee menangkap sosok Sehun ia kembali membuang wajah dan menyadari bahwa Byun Baekhyun dari jurusan vokal menatapnya dengan senyum dan mata berbinar-binar.

   Jaehee balas tersenyum dengan canggung.

   ”Ah, kenalkan… ini Byun Baekhyun, dan Do Kyungsoo.” Kata Jongdae melihat Jaehee yang tersenyum pada temannya.

   Baekhyun tersenyum sumringah, ”Aku menyaksikan pertunjukan Romeo & Juliet, kau sangat-sangat keren, Jaehee-ssi. Aku penggemarmu.” Ia melambaikan tangannya dengan heboh.

   ”Penggemar berat.” Ralat Do Kyungsoo sambil memutar matanya, namun toh tersenyum pada Jaehee. ”Halo, aku Do Kyungsoo.”

   Jaehee melambaikan tangannya, ”Gomawoyo.”

   ”Dan terima kasih atas undanganmu, kami pasti datang.” Byun Baekhyun kembali menyerobot kesempatan Kyungsoo menjawab.

   Terakhir, Hyesoo bergabung ke dalam lingkaran para murid yang akan ikut dalam kompetisi tersebut, bersama Yixing dan Joonmyun yang berwajah masam, sehingga Jaehee pun jadi menahan senyumannya.

   ”Kita bisa mulai saling mengakrabkan diri, semoga Hanlim bisa menang.” Ujar Jinmi dengan penuh semangat. ”Kita akan saling membantu. Jika untuk membuat film, tentunya Yixing dan Joonmyun sudah membuktikan dipertunjukan kemarin soal tata musiknya. Kita pun memiliki Jongdae, Kyungsoo, dan Baekhyun yang bisa menyanyikan soundtrack-nya. Set yang indah akan dibuat oleh Hyesoo, dan koreografernya… ada Jongin, Hana, dan Sehun.”

   Kepala Sekolah Jung berdeham tiba-tiba, menghampiri mereka semua dengan senyum kebapakan. Ia lega melihat baik keluarga Kim dan Oh bisa menyingkirkan perbedaan diantara mereka, itu yang ia pikirkan sebelum menaruh nama-nama dari keluarga Kim dan Oh dalam kompetisi ini. Berharap, sebagai generasi penerus keluarga Kim dan Oh, mereka bisa membawa keluarga mereka berdamai juga.

   Jung Yunho tersenyum penuh arti pada Minseok yang balas memberikan kode berupa acungan jempol kepadanya, sementara teman-temannya yang lain menyusun jadwal berlatih secara bergantian.

   ”Seolhyun mana?” tanya Hyesoo tiba-tiba setelah mereka sepakat bahwa besok, Jongin, Hana, dan Sehun setuju untuk mengajari mereka semua dance. ”Bukankah ada Seolhyun di grup kita?” tanyanya.

   ”Seolhyun bilang dia ingin mencarikan naskah untuk kita.” Jawab Minseok. ”Nanti naskahnya akan kita latih bersama, yang mana saja yang cocok untuk dibuat sebagai film, atau mungkin musikal jika nanti kita diminta tampil.”

   ”Oke kalau begitu, besok pulang sekolah jangan lupa di studio. Erhm…” Jongin berdeham singkat, melirik Yixing. ”Aku juga… berharap Yixing-ssi, yang memiliki bakat di bidang dance membantu.”

   Yixing, awalnya hanya melamun dan mendengarkan, mendadak terperangah. Ia tahu kalau Kim Jongin tidak menyukainya, namun melihat Jongin meliriknya, canggung dan menginginkannya untuk membantu, ia jadi merasa kaget dan sedikit terharu.

   ”Ah tentu saja… tentu… tentu aku akan membantu.” Yixing buru-buru menyanggupi, dan Jongin memberikannya senyum kaku. Dan Hana terkekeh sambil melirik Jongin dengan bangga, membuat yang bersangkutan merona merah.

   ”Daaannn untuk akting kita akan latihan lusa, bagaimana?” tawar Minseok, lagi-lagi semuanya mengangguk setuju. ”Aku juga senang jika Joonmyun mau membantu. Karena kudengar ia aktor yang hebat.”

   Jaehee mendongak untuk mendapati wajah Joonmyun yang sedikit terhenyak dengan kata-kata Minseok, namun berusaha menutupinya dengan senyum datarnya. ”Sudah ada kau, Minseok-ssi. Kurasa aku sudah tidak dibutuhkan lagi.”

   ”Eyy,” sergah Jongdae cepat, ”Dia memang memiliki bakat di bidang akting, Minseok-ssi. Dia hanya malu.”

   ”Hmm, penampilanmu kemarin bagus sekali lho, Joonmyun-ssi.” Puji Baekhyun juga, kemudian ia melirik Jaehee dan tersenyum, ”Walaupun kalian berdua bermusuhan, itu tidak terlihat sama sekali. Kalian jadi seperti Romeo dan Juliet yang asli, AWW!!!” Baekhyun melotot kesakitan, karena kakinya diinjak oleh Kyungsoo.

   ”Kenapa kau tidak bisa menjaga mulutmu?!” desisnya. ”Itu topik sensitif! Kenapa harus kau bahas?”

   Jongin mengangguk, ”Baekhyun-ssi benar, kok. Mereka tidak terlihat seperti bermusuhan.” Gumamnya penuh arti sambil bersandar di kursinya, membiarkan Hana meliriknya penuh arti namun toh terkekeh.

   ”Biar bagaimana pun, kita harus tetap profesional,” gumam Joonmyun tidak enak dengan semua mata menatapnya. Ia mengangkat bahu, ”Apa yang terjadi diantara kami berdua hanya murni profesional saja. Dan akan terus begitu.”

   Hati Jaehee serasa mencelos saat Joonmyun berkata apa yang ada diantara mereka berdua hanya murni profesional saja. Joonmyun pun mengatakannya dengan nada datar dan cuek, sementara ia hanya dapat menunduk dan tidak berani mengangkat kepala dan mengatakan bahwa ia dan Joonmyun berteman. Benar-benar berteman, tanpa unsur profesional. Kenapa kata-kata itu terdengar menyakitkan?

   ”Kuharap dengan profesionalisme diantara kalian berdua, Hanlim akan juara,” Jinmi menyadari ada tensi dingin diantara mereka. ”Semangat untuk kita semua. Kalau begitu, karena ini sudah sore, lebih baik kita pulang.”

   ”Benar, sampai berjumpa besok.” Hyesoo melambai.

   ”Jangan lupa bawa baju olahraga ya untuk latihan dance, kalau perlu sepatu ganti!” seru Hana pada teman-temannya. ”Yixing, maukah kau tunggu sebentar untuk berdiskusi dengan kami soal koreografi besok?”

   Yixing mengangguk, “Tentu.”

   ”Jaehee-ya, kau mau pulang saja duluan atau bagaimana?” tanya Hana menatap Jaehee yang berdiri dari tempatnya duduk. ”Aku mungkin akan satu jam lagi baru selesai membicarakan koreografi dengan Jongin, Sehun, dan Yixing.”

   Jaehee melirik Sehun dengan malas, namun Sehun sudah lebih dulu menjawab, ”Samcheon berpesan agar aku membawa pulang Jagiya sendiri. Tidak ada Joon di depan, jadi kau tunggu disini ya manis.” Sehun mengelus kepala Jaehee dan mencoba mencium bibir Jaehee lagi, tapi Jaehee menghindar dan malah memelototinya.

   ”Kau Joonmyun?” Jaehee mendengar Jongin bertanya.

   Joonmyun sudah membawa tasnya pergi begitu saja, ”Aku pulang duluan dengan Jongdae. Pulanglah sendiri!”

   Jongin menahan tawanya, membuat Hana menoleh dengan bingung tapi Jongin memberi isyarat akan memberitahunya nanti, maka Hana mengangguk sambil menatap Jaehee yang terlihat down dengan Joonmyun yang melangkah pergi tanpa menoleh sama sekali.

*        *        *

Joonmyun menghindarinya.

   Jaehee yakin sekali Joonmyun menghindarinya. Mereka terkadang berpapasan, dan Joonmyun akan mendadak berhenti, kemudian berbalik arah agar tidak berselisih jalan dengannya. Membuatnya merasa bahwa Joonmyun membencinya dengan alasan yang tidak jelas, dan membuatnya merasa buruk.

   ”Kenapa dia membenciku, Hana-ya?” Jaehee bertanya pada Hana, dan Jongin. Setelah mereka berlatih dance, dan hanya ada Hana dan Jongin sementara teman-teman lainnya sudah meninggalkan studio dance. Jaehee tidak percaya ia bahkan menanyakan hal ini pada teman Joonmyun sendiri.

   Jongin menggeleng, ”Tidak mungkin dia membencimu, Jaehee-ya.”

   ”Tapi dia menghindariku. Apakah ini karena aku tidak mengundang kalian keluarga Kim ke ulangtahunku?”

   Jongin terkekeh dan mengambil botol air yang disodorkan Hana padanya sambil tersenyum lembut pada gadis yang duduk disampingnya, setelah membukakan botol air untuk Jaehee, dan memberikannya.

   ”Jaehee-ya, kalaupun kau mengundang kami, apa mungkin kami datang ke rumahmu?” tanya Jongin sambil mengangkat sebelah alisnya. ”Kami tahu kau baik, dan kami berterimakasih kau sebenarnya berniat mengundang kami. Tidak diundang pun, kami tahu maksud baikmu, kok. Jadi kurasa tidak, Joonmyun tidak akan marah hanya karena hal sesepele itu.”

   Hana melipat kakinya dan meletakkan kepalanya diatas lulutnya sambil menatap Jongin, “Jadi karena apa? Karena jujur saja, sebagai orang yang mengenal mereka berdua, aku pun merasakan hal yang sama.”

   ”Tsk, jangan pura-pura tidak tahu. Kurasa kau tahu kenapa Joonmyun jadi begitu.”

   Hana tertawa geli dan menggelengkan kepalanya, ”Itu hanya asumsi, mana mungkin Joonmyun begitu.”

   ”Apa? Apa? Hana-ya kau tahu kenapa Joonmyun begitu? Kenapa tidak bilang?” cecar Jaehee penasaran.

   Hana mengangkat bahu, ”Kalau bukan karena apa yang kupikirkan bagaimana, coba? Jatuhnya fitnah.”

   ”Anhi, Jaehee-ya… boleh aku bertanya?” tanya Jongin serius.

   Jaehee mengangguk.

   “Sebenarnya… apa hubunganmu dengan Oh Sehun?”

   Jaehee mengernyit dan menjawab, ”Sepupu,”

   ”Sepupu?” ulang Jongin terlihat kaget. Jaehee mengangguk, Hana juga mengangguk karena ia tahu hubungan Jaehee dan Sehun. ”Sepupu… tapi… tapi…”

   ”Jagiya, ayo pulang!” yang dibicarakan tiba-tiba saja muncul, menatap mereka bertiga dengan tajam dari ambang pintu. Tidak berhenti melotot sampai Jaehee harus mendengus dan membereskan barang-barangnya.

   Jongin berjanji akan mengantar Hana pulang, dan membiarkan Jaehee pergi bersama Sehun sambil marah-marah. Jongin menghela napas selepas Sehun dan Jaehee meninggalkan studio bersama-sama, ia masih bisa mendengar seruan marah Jaehee yang bergema di koridor-koridor kelas.

   ”Aku tahu mereka sepupu, tapi…”

   Hana mengangkat bahu, ”Kalau cerita itu, hanya Jaehee yang berhak menceritakannya. Bukan aku.”

*        *        *

Jongin menyarankan agar Joonmyun bertanya langsung pada Jaehee ada apa diantara gadis itu dengan Sehun, namun Joonmyun jelas menolak mentah-mentah dan berkeras bahwa ia tidak peduli akan hubungan Sehun dan Jaehee, karena ia hanya sebatas teman bagi Jaehee. Bahkan Jongdae bisa merasakan aura cemburu dari sahabatnya itu dan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kekeraskepalaan Joonmyun. Latihan tidak bisa terlalu lepas, karena Oh Sehun selalu mencoba mendekati Jaehee seolah merayu gadis itu secara terang-terangan, memancing Byun Baekhyun, Zhang Yixing dan Kim Minseok ikut-ikutan.

   Sikap para pria itu tidak membuat mood Joonmyun menjadi baik, ia malah menjadi jauh lebih pendiam, hingga hampir semua orang dalam tim menyadarinya, meski beberapa tidak bisa menebak apa penyebab pastinya.

   ”Apa karena kita bekerjasama dengan keluarga Oh lagi?” tanya Chanyeol yang heran dengan sikap dingin Joonmyun di sela-sela istirahat seusai mereka berlatih vokal kali ini. ”Maksudku, aku mengerti jika keluarga Kim memang tidak terbiasa bekerja sama dengan keluarga Oh.”

   ”Ah, tapi kemarin saat Romeo & Juliet mereka bisa bekerjasama dengan baik, meskipun mereka berdua saling bermusuhan.” Gumam Hyesoo tidak yakin. ”Masa Joonmyun bad mood hanya karena ini?”

   ”Permusuhan mereka bukan hal kecil, Hyesoo-ya.” Gumam Baekhyun melirik ke arah Joonmyun yang duduk sendirian disudut ruangan, ditemani handuk dan botol minumnya, kemudian ke arah Jaehee yang ngobrol dengan Jongdae, Baekhyun menggeleng lagi, ”Tapi Jaehee nampak baik-baik saja berteman dengan Kim Jongdae dan Kim Jongin.”

   ”Yang berseteru lebih parah kan keluarga Jaehee dan Joonmyun. Mungkin itulah kenapa Jongdae dan Jongin lebih bisa berteman…”

   Setelah satu pekan mereka setiap hari berlatih subjek yang berbeda, di hari Jumat, mereka berlatih dance kembali. Dan mood Joonmyun masih tak kunjung membaik. Padahal hari ini, Jongin, Sehun, dan Yixing hendak mengajarkan sebuah gerakan terbaru yang satu tingkat lebih sulit dibandingkan dance minggu lalu.

   ”Nope, bukan seperti itu Joonmyun-ssi!” Tegur Sehun untuk sekian kalinya, ia menghampiri Joonmyun dan memposisikan kaki Joonmyun sebagaimana harusnya. ”Kau kaku sekali… oke, lanjut!” serunya pada Yixing yang menekan tombol play di CD player, dan semuanya kembali mengikuti Jongin yang bergerak di depan.

   Lagi.

   ”Bukan seperti itu, Kim Joonmyun-ssi!” decak Sehun, kali ini membetulkan posisi dada dan tangan Joonmyun. ”Lanjut!”

   Dan lagi, dan lagi, dan lagi, hingga Joonmyun menggebrak tasnya dan pergi begitu saja keluar dari dalam ruangan. Jongdae menghela napas dan meminta maaf pada Sehun atas sikap sahabatnya itu. Sehun mengangguk maklum, sedikit merasa bersalah, tapi Jongin meyakinkannya bahwa Joonmyun memang tidak dalam kondisi yang baik.

   ”Kita break dulu ya, mungkin kalian semua terlalu lelah.” Ujar Yixing yang disetujui oleh Jongin.

   Jaehee menghela napasnya sambil meraih handuknya dan mendekati Hana yang merapikan ikatan rambutnya. ”Hana-ya,”

   ”Hmm?”

   ”Apa menurutmu aku harus bertanya pada Joonmyun?”

   Hana tersenyum geli, dan mengangguk sambil bersedekap. ”Kurasa ia memang memiliki masalah denganmu, Jaehee-ya.”

   ”Tuh kan,” gerutu Jaehee sambil buru-buru meninggalkan studio. Hana melihat Sehun yang hendak menyusul gadis itu berlari menghadangnya, sambil melotot dan berkacak pinggang. ”Biarkan dia sendiri! Kau seperti lintah saja… tinggalkan dia!”

   Sehun balas melotot dan hendak mengenyahkan Hana, ketika Jongin ikut berdiri disisi gadis itu dan menatap Sehun dalam. ”Biarkan dia.” Jongin tidak mengancam, tidak juga melotot, namun entah mengapa Sehun menyerah dan menurutinya.

*        *        *

Jaehee berhenti di depan pintu balkon lantai lima. Ia yakin Joonmyun ada di dalam. Memberanikan diri, Jaehee mendorong agar pintu balkon terbuka. Ia akan berulangtahun besok. Tentu ia tidak mau bersedih di hari ulang tahunnya. Dan bertengkar dengan Joonmyun adalah salah satu hal yang membuatnya sedih.

   Joonmyun dalam balutan kaus hitam dan celana training-nya menatap ke halaman belakang sekolah sambil memegang besi balkon dan tidak menolehkan kepalanya saat mendengar suara pintu yang ditutup.

   ”Joonmyun-ah…” panggil Jaehee ragu-ragu.

   Joonmyun menyahut, ”Aku hanya sedang mencari udara segar. Dance bukan salah satu keahlianku, dan aku muak dikoreksi terus menerus seperti tadi oleh pacarmu yang tampan itu, jadi aku memilih menyegarkan diri dulu.”

   ”Mwo?!” terperangah Jaehee buru-buru berdiri di samping Joonmyun sambil membelalak, ”Pa-pacar? Pacarku?”

   ”Oh Sehun itu!”

   ”Dia bukan pacarku!” seru Jaehee kaget, wajahnya memerah. ”Wa…walaupun…”

   “Walaupun dia menciummu.” Ujar Joonmyun getas, mengacak rambutnya sendiri frustasi. Tidak seharusnya ia marah-marah dan melampiaskannya pada Jaehee, ia tahu itu! Sekarang Jaehee mungkin akan balik membencinya. Tapi, ia kesal! Oh Sehun itu sepertinya memang dengan sengaja mempermalukannya. Ia memang tidak bisa dance, tapi Oh Sehun tidak perlu melakukan itu kepadanya, bukan?

   Jaehee menggeleng, ”Ti…tidak seperti itu, kok. Dia… dia memang sepupuku, dan…” gumam Jaehee dengan canggung memainkan ujung kausnya, suaranya tidak jelas, merasa tidak tahu harus berkata jujur atau tidak pada Joonmyun.

   ”Sudahlah,” Joonmyun mengibaskan tangannya, ”Tidak perlu dijelaskan, tidak apa-apa kok. Maaf kalau aku terdengar sinis dengan Oh Sehun itu.”

   ”Ta…tapi, Joonmyun-ah…”

   Joonmyun hanya melewatinya meski hatinya dan otaknya sibuk bertengkar. Ia tidak mau mendengar penjelasan Jaehee, karena ia takut mendengarnya. Sementara, ia tidak boleh merasa seperti ini, selemah ini pada Oh Jaehee!

   ”Hiks…”

   Baru saja Joonmyun hendak meninggalkan Jaehee sendirian, baru saja ia meletakkan tangannya pada gagang pintu saat ia mendengar isakan kecil itu. Terkejut, Joonmyun buru-buru menoleh dan melihat Jaehee mengusap-usap matanya di tempatnya berdiri tadi, sambil menggosokkan matanya, bahunya berguncang.

   Shit!

   ”Jangan menangis!” seru Joonmyun buru-buru mendekati Jaehee dan menangkup wajah gadis itu, dan hatinya trenyuh saat melihat deraian air mata tiada henti dan wajah Jaehee yang terluka. ”Jaehee-ya, maaf…”

   Kenapa ia lemah pada air mata? Lebih tepatnya air mata Jaehee. Dulu Jaehee menjauhinya dan ia marah, tapi melihat gadis itu menangis, ia malah tidak tega dan meminta maaf duluan. Kali ini, ia sadar bahwa ialah yang menjauhi dan bersikap penuh permusuhan pada gadis itu, dan Jaehee menangis lagi. Apa-apaan dia ini?

   ”Jahat! Kau jahat! Kau jahat! Kau jahat!” isak Jaehee sambil memukul-mukul bahu Joonmyun tanpa kekuatan sama sekali. ”Hiks, hiks… apa salahku? Kenapa kau mendiamkanku? Hiks… aku tidak tahu… apa salahku… hiks, jahat!” Jaehee tahu ia bodoh bersikap cengeng dan lemah dihadapan pria yang ia sukai, yang dengan mudahnya menyakiti hatinya. Tapi ia harus bagaimana? Joonmyun membuatnya merasakan hal-hal yang sebelumnya belum pernah ia rasakan seintens ini, tidak dengan Sehun dulu…

   Joonmyun menghapus air mata yang jatuh di pipi merah Jaehee dengan hati-hati, ia benar-benar merasa bersalah. ”Maaf, Jaehee-ya… maaf,” katanya berulangkali, membiarkan gadis itu menangis meluapkan rasa frustasinya kepada dirinya. ”Jangan menangis…” ujarnya sedikit putus asa.

   Dia benci melihat Jaehee menangis, sumpah!

   ”Apa salahku? Apa aku jahat karena tidak mengundangmu ke ulangtahunku?” tanya Jaehee masih benar-benar tidak bisa memahami apa yang bergolak di dalam hati Joonmyun. Bagaimana ia sudah memporakporandakan perasaan Joonmyun ketika mencium Oh Sehun, dan terus bersama Oh Sehun itu.

   Ingin Joonmyun mengatakannya, ingin…

   ”Aku… aku ingin kau datang ke ulangtahunku. Kau temanku, Joonmyun-ah…” isak Jaehee lagi. ”Aku yang berulangtahun, bukan Appa yang menentukan siapa yang datang siapa yang tidak!” serunya sambil marah-marah seperti anak kecil, ”Kumohon jangan marah, karena aku benar-benar ingin kau berada di ulangtahunku.”

   Mendengar Jaehee menangis karena mengira bahwa ia marah selama ini, hanya karena gadis itu tidak mengundangnya di pesta ulangtahun, sedikitnya membuat Joonmyun geli. Setidaknya ia terhibur mendengar bahwa gadis itu ingin ia datang.

   ”Tapi, kau tahu aku tidak bisa datang kesana, kan?” bisik Joonmyum sambil membelai-belai pipi Jaehee dengan ibu jarinya, menatapnya langsung pada dua manik mata indah. Astaga, menangis pun Jaehee tetap cantik, pikirnya.

   ”Aku tahu,” isak Jaehee lagi.

   Joonmyun tersenyum sedih, ”Tapi kau mau aku tetap datang? Aku senang, terima kasih… it means a lot, ketika kau bilang kau ingin aku hadir disana. Maaf, aku sedikit… menjauh belakangan ini, aku hanya… banyak pikir.”

   ”Bukan karena aku tidak mengundangmu?” tanya Jaehee polos.

   Joonmyun terkekeh, nafas Jaehee membelai-belai wajahnya dan ia menikmatinya. ”Tentu tidak, Jaehee-ya. Aku kesal dengan pacarmu itu,” desisnya menyindir.

   ”Sehun bukan pacarku! Dia sepupuku!”

   ”Sepupu?!”

   ”Aku tadi sudah bilang dia sepupuku!”

   Joonmyun mengerjap-ngerjapkan matanya, ”Ta… tapi… kalian berciuman…”

   Jaehee menghela napasnya dalam-dalam lagi dan menunduk sambil memainkan ujung kausnya lagi, bimbang.

   ”Tidak mungkin sepupu berciuman, Jaehee-ya.” Tandas Joonmyun, menatap gadis di hadapannya tajam.

   Jaehee mengangguk putus asa, “Aku tahu. Itulah kenapa Appa memisahkanku dengan Sehun… kami… anhi, aku sudah bisa menerima bahwa kami memang tidak boleh bersama. Tapi apa-apaan, kenapa Appa mengundangnya dan mengatakan dia adalah kado untukku?! Dia yang memisahkanku dengan Sehun dulu saat kami berkencan!”

   “Mwo?”

   Jaehee menunduk, wajahnya memerah, dan bibirnya bergetar lagi menahan tangis. ”Kau pasti jijik padaku… mengencani sepupu sendiri.”

   Joonmyun meraih kepala Jaehee ke dalam dadanya dan memeluknya erat. Mengetahui fakta bahwa Jaehee dan Sehun pernah berkencan. Ia mendadak merasa ia jauh lebih protektif, dan tidak ingin melepaskan Jaehee lagi.

   ”Tapi kau sudah tidak menyukainya lagi,kan?”

   Jaehee menggeleng. Aku menyukaimu.

   ”Baguslah.” Joonmyun tak menyadari ia mengembuskan napas lega. ”Maaf aku tidak bisa datang ke ulangtahunmu…”

   ”Tak apa, asal jangan marah lagi.” Jaehee meletakkan kedua tangannya di pinggang Joonmyun, dan mengeratkan pelukan mereka.

-Part XV Kkeutt-

Halo ada yang masih nunggu AIA?

Kalau masih ada tinggalin komennya ya hehehe… FF ini emang panjang banget, mungkin… kalau udah pada bosan, aku bisa ganti FF lain, AIA ini aku lanjutin tapi untuk konsumsi pribadi, dan mungkin buat yang masih mau baca. Tapi kalo udah pada bosen mau FF baru, siap boss… aku udah prepare beberapa judul, paham banget kalo udah kelamaan nunggu bosen gak mau baca lagi. 

Kalau yang baca [IM]PERFECTION mungkin tau aku udah sebutin kenapa ngaret, karena ada masalah selama tiga minggu bikin aku gak konsen ngapa-ngapain, jadi FF juga terbengkalai huhuhuhu… Oiya, part ini no Beta dari IMA ya, IMA lagi sibuk… Tante-nya habis meninggal😦 Jadi mungkin FF-nya IMA bakalan ngaret lagi juga, doain semuanya biar lancar, dan IMA bisa cepet balik ^^

Part 16 udah aku ketik sampe 11 halaman, biasanya aku ngetik target 15 halaman. Yang masih mau baca komennya ditunggu~~~

Bye yeom

XoXo

Neez,

67 responses to “ALL I ASK [PART XV] — by Neez

  1. astaga kalo sehun mahhh pengganggu baru yang usil bakal bikin joonmyeon gk nyama
    please dong ya kapan mereka berdua bilang cinta dan saling mengungkapkan perasaan masing” gemes sendiri tahu gk sich
    imajinasi aku langsung melayang kemana mana kalo udah liat kedekatan joonmyeon dan jaehee
    sosok kim ji won yang jadi visual jaehee emang pas banget

  2. astaga kalo sehun mahhh pengganggu baru yang usil bakal bikin joonmyeon gk nyama
    please dong ya kapan mereka berdua bilang cinta dan saling mengungkapkan perasaan masing” gemes sendiri tahu gk sich
    imajinasi aku langsung melayang kemana mana kalo udah liat kedekatan joonmyeon dan jaehee
    sosok kim ji won yang jadi visual jaehee emang pas banget disini

  3. Gapapa updatenya lama, aku selalu nunggu cerita ini ka neez. Suka ceritanya makin manis, dulu Jahee yg menjauhi Joonmyun sekarang malah sebaliknya. Lucu juga Joonmyun cemburu seperti itu.
    Dan omo Sehun pernah kencan sama Jahee… tapi tenang hati Jahee sudah milik Joonmyun.
    Keep writing ka neez

  4. Ini yang aku tunggu ^^/
    Aku geli sekaligus pingin ketawa liat Jaehee sama Joonmyeon. Apalagi Joonmyeon, cemburunya yampunn😄 padahal Jaehee suka sama dia. Aku puas baca part ini, moment mereka dapet banget pas di balkon. Next aku tunggu ka neez

  5. Akhirnua diupdate ^^
    Joomyeon cemburu, imut banget >.<
    Sehun menyebalkan, agresif banget
    Ternyata mereka pernah kencan, waw
    Menarik menarik
    Lanjut eonni, ditunggu

  6. nyebelin bgt sih sehun ganggu aja ,nempel trus sama jae hee joonmyun jd cemburu kan aaaahhhh kapan mereka berdua slng ngungkapin perasaan masing2 jd gemes sendiri liat hubungan mereka berdua
    makin suka sm ff ini dan penasaran sm lanjutan critanya

  7. Masa aku baruuu tau ada update an ini setelah liat eh buka wp ada chapter 16??? Aku baca chapter 16 kok kayak ada yg ilaaang, ternyata chapter ini belum baca. Ya ampuuuun
    Aku suka momen suho meluk jaehee, its tooooo sweeeeeeeeeeeet, wkwkwkwjwjwk
    Berita oh sehun juga bikin shocking banget sih, kaget! Wkwkwkwkwk, udah sama joonmyun aja udaaaaaah, best pairing!!!

  8. kak neez sehun ny buat aku aja lah kesian jaehee sama joonmyun di ganggu kekekek , so sweeett itu jaeheee 😂😂😂 sama joonmyunn

  9. joonmyun cemburu buta~ hihihu
    kapan sihh saling ngaku kalo pada sama2 suka kyaaaaaa
    dan sesungguhnya aku kira tadinya sehun itu gay makanya jaehee santai2 aja pas dicium wkwkwkwk maafkan atas kesotoyan ku sehunbaby😂😂😂

  10. great!!
    makin keren aja kak!

    dah lama gk ngikutin nih…
    sekalipun nanti banyak yang bakalan bosan, aku rasa aku bakal tetap jadi reader yg gk bakalan bored sama cerita ini ^^

    once again, this is a great story!
    sekalipun aku gk baca semua chap karna kena password.. dan aku baru baca/tahu cerita ini pas udah chap 8 klu gk salah..
    tapi aku tetep ngikuti ff ini.. dan bakal terus ngikuti ^^
    ya, walaupun kurang bisa aktif komen tapi aku akan selalu like kok ^^

    thanks kak… terus semangat ya !

  11. Kocak juga nih sehun wakakakaka tapi ngeselin banget ih nempel ke jaehee muluu 😂😂
    Joonmyeon kalo bete serem juga ya sampe kaya mau ngamuk gitu .-.
    DEMI APA SEHUN JAEHEE DULU PACARAN?????
    Oh my god ga nyangka bangeeetttttt
    Kirain mereka cuma brothers kompleks(?) gitu tp ternyataaaaa 😱😱😱😱

  12. Jadiannya kapan sih… Gila aku ikutan baper.. Hahahaha ayolah myunie tembak jahee.. Gak sabar gue nya.. Sehun.ah lu kan pacar gue.. Jgn dkat sma jahee lagi ya..

  13. Oh jadi gitu… Hmm complicated
    Terus kenapa kalo dulu ayah jaehee pisahin mereka sekarang dia datengin sehun lagi? Apa ini krn ayah jaehee terancam dengan adanya joonmyun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s