[CHAPTER] DAY DREAM- FLY WITH THE WIND#13 (APPLYO)

daydream1

Title: Day Dream – Fly With The Wind #13 by APPLYO

Author: Applyo (@doublekimj06)

cast:

– Kim Jongin

– Yoon Ji  Hyun

Genre: Romance, Marriage Life, Drama.

Lenght: Multichapter  

Rate:  PG-16

Poster by ken-ssi @ ART Fantasy

TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 –Chapter 4 – Chapter 5 –Chapter 6A – Chapter 6B – Chapter 7 – Chapter 8 – Chapter 9 – Chapter 10 – Chapter 11A  – Chapter 11B – Chapter 12

When I look into your eyes, tears are about to fall down
When the lonely night comes
Should i fly in he wind, go somewhwere?
I will stay by your side
[PLAY -> BAECHIGI ft. PUNCH – FLY WITH THE WIND]

Jongin mengirimkan pesan singkat pada Jihyun untuk menemuinya di droptop cafe malam ini, ada sesuatu yang ingin ia tunjukan pada Jihyun. Sesuatu yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari khusus untuk Jihyun.

Udara di luar terasa dingin, dan Jongin jadi merasa menyesal karena menyuruh Jihyun pergi ke cafe itu malam-malam menggunakan taxi. Tapi tak berselang lama Jihyun muncul dengan segelas coffee di tangannya. Nampaknya Jihyun memang benar-benar kedinginan hingga ia memesan coffee itu lebih dulu.

“Kau darimana?”

“Aku?”

“Hm.”

“Tentusaja dari rumah, memangnya darimana lagi.”

Jihyun berujar sedikit ketus lalu dengan segera duduk di sebrang Jongin dan mengalihkan topik pembahasan mengenai dirinya, ia bukan gadis yang suka berbas-basi terlalu lama. “Btw, apa yang ingin kau tunjukan padaku?”

Jongin tersenyum. Pemuda itu menatap Jihyun dari rambut, dahi, hidung, hingga bibirnya yang nampak pucat, jelas sekali Jihyun tengah kedinginan tapi untuk saat ini Jongin tak ingin ambil pusing. “Sesuatu yang aku yakini kau akan suka”

“Benarkah. Kuharap begitu karena kau membuatku harus pergi jauh-jauh dalam kedinginan.”

Dan tanpa aba-aba   Jongin menarik tangan Jihyun untuk mengikutinya. Bersama, berdua, mengabiskan waktu malam mereka di pertengahan musim dingin.

.

Langit malam yang gelap terasa lebih terang sekarang, mungkin karena bintang-bintang bertender lebih banyak di atas sana. Lalu suara gemercik air dan lampu warna warni yang bergantung di setiap penghujung jembatan menambah kesan cahaya. Terasa romantis dan bagus untuk di nikmati, oleh kedua sejoli yang kini tengah duduk di atas knap sebuah mobil audi hitam.

Air Mancur Pelangi Banpo Bridge, Korea Selatan

Keduanya menikmati pemandangan itu, tak terlewat barang sedikitpun. Cahaya-cahaya itu berkerlap-kerlip berganti warna, lalu desiran sungai yang deras membuat nuansa dirasa semakin romantis, dan ini semua benar-benar style seorang Kim Jongin yang ternyata romantis.

Jongin menoleh pada Jihyun yang duduk di sampingnya dalam diam. Wajah gadis itu kini terlihat lebih pucat, bibirnya kering, lalu kedua tangannya ia sembunyikan di dalam saku mantel nya, dan tubuhnya sedikit bergetar. “Kau baik-baik saja?”

“Aku?”

“Memangnya siapa lagi?” Jongin mendecak lalu menarik tangan Jihyun keluar dari saku mantelnya. Dan tangan gadis itu benar-benar dingin. Tanpa dibalut apapun. “Kau seorang ibu, harusnya kau menjaga anakku dengan baik dan jangan membuat dia kedinginan seperti ini.” Jongin tersenyum, lalu melebarkan tangannya dan memeluk Jihyun dari samping. “Merasa lebih baik?”

Jihyun menganguk kecil lalu menatap kearah lain, rasanya terlalu malu untuk menatap balik Jongin dalam jarak yang dekat seperti ini. “Hmm, setidaknya begitu.”

Jongin melirik Jihyun dari atas rambut hingga dagu bagian bawah, wajah gadis itu nampak bersemu merah sekarang. Dan Jongin tak kuasa menahan tawanya melihat Jihyun yang selalu seperti ini. Pura-pura tidak suka tapi nyatanya dia menikmati. Dan tanpa mengatakan apapun, Jongin kembali menarik kedua tangan  kecil Jihyun lalu mendekatkan pada bibirnya dan meniupkan napas hangat pada tangan itu, sesekali Jongin menggosok punggung tangan gadis itu, menyalurkan gelenyar hangat pada Jihyun, terus seperti itu hingga akhirnya Jihyun menoleh dan menatap Jongin.

Tanpa disadari, Jihyun menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. Dan matanya tak berhenti menatap Jongin yang tengah sibuk meniup-niup kedua tangannya.

“Apa kau sering melakukan hal seperti ini pada banyak gadis?” Jihyun membuka mulut dan membuat Jongin mendongkak. Dan tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Jongin terkekeh lalu menarik pinggang Jihyun semakin dekat dengannya. “Tidak pernah, hanya untuk dua wanita yang aku sayangi saja.” ujarnya lalu menatap Jihyun semakin dekat hingga ia bisa merasakan napas hangat Jihyun di permukaan bibirnya.

“Kau pa-sti bo-bohong!” bantah Jihyun gugup karna kini Jongin semakin mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga Jihyun bisa dengan jelas melihat iris mata Jongin dalam jarak sekian mili meter, hidung keduanya bergesekan dan kini bibir Jongin sudah berada diatas bibir Jihyun, menyapu lembut bibir pucat Jihyun perlahan.

“Ak-u bersumpah. Hanya kau dan ibuku.” sela Jongin pelan lalu kembali melumat bibir Jihyun begitu dalam. lumatan yang terasa lembut dan menuntut bagi Jihyun menambah sensasi kehangatan untuk tubuh Jihyun.

Dan entah bodoh atau apa—dengan mudah Jihyun membuka mulutnya, membiarkan Jongin menciumnya lebih dalam lagi. Jihyun sama sekali tak monolak apalagi mendorong tubuh Jongin untuk menjauh. Ia membiarkan Jongin menguasai ciuman itu,  ciuman menuntut dan tergesa-gesa.

Keadaan yang remang-remang dan dingin membangun suasana menjadi terasa panas, keduanya saling bergulat cium seakan tak ada hari esok, ciuman yang berlangsung lama itu akhirnya berakhir karena Jihyun melepaskan tautan bibir Jongin. Ia mulai kesulitan bernapas.

“Kau mulai pandai berciuman rupanya.” Jongin terkikik kecil lalu mengusap bibir Jihyun dengan ibu jarinya.

“Jongin!!—ish!” Jihyun memukul dada Jongin dengan tangannya, ia merasa malu berbicara hal-hal seperti itu setelah dengan bodohnya ia malah membuka celah untuk Jongin.

“Baiklah-baiklah. Aku akan melupakan itu.. hahaha. Tapi berjanji untuk melakukan ronde kedua saat kita sampai dirumah?” ujar Jongin lalu memeluk tubuh Jihyun semakin erat dan membenamkan kepalanya pada lekukan leher Jihyun dan menghirup aromanya dalam.

“Oya, Jihyun..” Jongin menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya tepat diantara lekukan leher Jihyun dan membuat gadis itu bergidik. “Aku begitu mencintaimu, sampai kapanpun aku tak akan membiarkan siapapun merebutmu dari tanganku!”

Jihyun tiba-tiba berhenti bergerak. Ia diam-diam tersenyum, begitu bahagia hanya karena kata-kata sederhana yang Jongin lontarkan padanya.

Jihyun membuka mata perlahan-lahan, dan apa yang menyambutnya saat itu adalah sinar matahari yang menusuk-nusuk retinanya. Dia bahkan kembali menutup mata, merasa sakit dengan cahaya pagi yang menyengat.

Gadis itu merasa aneh dengan apa yang ada pagi itu, sejenak merasa begitu disorientasi bahkan dengan dirinya sendiri. Tempat tidur di sampingnya kosong, Tidak ada Jongin.

Jihyun mengernyitkan dahi, selama beberapa saat kepalanya berputar, seperti langit-langit putih di atasnya nyaris runtuh dan segera menghantam dirinya. Tapi dia dengan cepat kembali pada kesadaran dirinya.

Apa yang terjadi semalam itu adalah mimpi. Mimpi indahnya bersama Jongin.

**

Beberapa hari sebelumnya…..

Takut merasa kebosanan, Hyunjo melirik ke arah kursi di belakangnya yang sudah sepi, awalnya kursi itu di duduki oleh beberapa pelajar yang bercoleteh amat berisik. Tapi nampaknya Hyunjo melamun terlalu lama hingga ia tak sadar bahwa orang-orang yang duduk di dekatnya kini mulai menghilang.

Mata Hyunjo tiba-tiba menyipit seketika, ia merasa melihat sesuatu—ah, maksudnya seseorang. Seseorang yang tampak tak asing baginya di café itu. Lucu, karena tampaknya Hyunjo cukup tahu siapa dia.

Dia, Luhan. Dengan seragam basketnya yang sudah lusuh. Nampak jelas ia barusaja pulang dari acara latihannya.

Hyunjo memincingkan matanya, mengamati pemuda itu baik-baik. Memperhatikan setiap bagian wajah dan tubuhnya dengan tatapan menelisik. Dan ia sadar bahwa Luhan terlihat tampan dengan setelan seragam itu.

Tapi apa yang pemuda itu lakukan  disini?’’ tanya Hyunjo dalam hati.

Akhirnya, Hyunjo bangkit dari kursinya lalu menghampiri Luhan. Ia sedikit tersenyum samar sebelum akhirnya menepuk bahu Luhan dari belakang.

“Lu Han?”

.

Hyunjo duduk dengan manis, tangannya sibuk mengaduk Chocomint  yang kembali ia pesan karena minuman yang sebelumnya sudah ia habiskan, kemudian menyeruputnya sedikit demi sedikit. Sedang di hadapannya, duduk seorang laki-laki berwajah tampan yang di kenal dengan nama Luhan. Laki-laki itu kini tengah menatap Hyunjo dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Lucu sekali kita kembali bertemu disini.” ujar Luhan tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat menyelimuti keduanya. Di wajahnya, kini ia menyunggingkan sebuah senyum yang—sayangnya—lagi-lagi sulit untuk diartikan.

Hyunjo menyesap minuman nya sedikit. “Kupikir begitu, bagaimana kabarmu?.” Kemudian gadis itu meletakkan cangkirnya kembali ke atas cawan. “Setelah insiden itu?.”

Luhan terkekeh. “Aku baik-baik saja hingga saat ini. Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu noona.

Hyunjo memutar bola matanya bosan. “Kalimatmu terdengar ambigu, Luhan. Usiaku tak setua itu tau, panggil aku Hyunjo.”

“Tapi kau lebih cocok ku panggil noona,” goda Luhan sembari terkekeh lucu.

“Aku lebih suka di panggil Hyunjo.”

Luhan menghentikan kekehannya dan kembali memasang wajah seriusnya dalam sekejap. “Baik,” laki-laki itu berdeham sebelum memulai kalimatnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku yang sebelumnya.”

“Aku cukup baik. Setidaknya untuk saat ini.” Hyunjo melirik Luhan dengan gemas. “Haruskah aku mengatakan hal itu padamu?”

Luhan tersenyum sekilas. “Kau memang baik-baik saja nyatanya. Syukurlah.”

“Kau masih menyukai Ji Hyun?”

Luhan menaikkan sebelah alisnya. “Jihyun?” pemuda itu mengulang pertanyaan Hyunjo. “Tentu, dia wanita yag baik, mana mungkin aku melupakannya.”

Kali ini Hyunjo yang menaikkan sebelah alisnya. “Wanita baik? Ku pikir kau salah mengenal Jihyun?”

Luhan menggelengkan kepalanya. “Bagiku sebuah kebaikan tidak dilihat dari sisi ramah atau seberapa sering ia tersenyum, bagiku baik adalah dimana ia selalu memperhatikan kita secara diam-diam, melindungi kita secara perlahan dan mencoba membuat kita nyaman ketika bersamanya.” Luhan terkekeh pelan.“Dan entah kenapa, bagiku Jihyun adalah orang yang baik.”

“Hmm begitu…” Mendengar penjelasan itu, Hyunjo menganggukkan kepalanya mengerti. Gadis itu kembali menatap minumannya di mejanya, ia merasa menyadari sesuatu hal dari perkataan Luhan barusan. “Luhan, jika kau berada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?”

Luhan lagi-lagi terkekeh. “Menurutmu apa yang akan aku lakukan?” sebuah pertanyaan bodoh yang dibalas Hyunjo dengan dengusan panjang. Luhan membalikkan pertanyaan yang Hyunjo ajukan padanya.

“Menurutku?” Yang ditanya kini menaikkan kedua alisnya tinggi. “Menurutku, kau akan melakukan hal yang sama denganku.” jawabnya singkat dan jelas.

Detik berikutnya Luhan tersenyum lalu menyeruput ice lattenya, ada durasi beberapa detik sebelum akhirnya Luhan menatap Hyunjo cukup serius. “Mata tak harus di bayar dengan mata, kepedihan tak harus di bayar dengan kepedihan. Dan menurutku, kau gadis yang terlalu cantik untuk melukai dirimu sendiri hanya karena Jongin. Dan jika aku ada di posisimu maka aku tak akan membayarnya dengan hal yang sama.”

Penjelasan cukup panjang yang membuat Hyunjo menatapnya penasaran dan seolah berpikir keras. “Tapi aku mencintai Jongin.”

“Mencintai tak selamanya harus memiliki.”

Hyunjo tersenyum kecut. Pandangannya kosong, dan ia nampak kembali berpikir akan perkataan Luhan barusan.

“Ah, apa aku membuatmu sedih?” nada bicara Luhan berubah, sedikit agak pelan.

Hyunjo terdiam. ‘Bisakah aku membiarkan Jongin bersama Jihyun? Apa itu akan membuatku bahagia?’’ tanya gadis itu dalam hati.

Hyunjo menundukkan wajahnya, manik matanya sedang malas berjumpa dengan manik mata Luhan yang bisa ia pastikan sedang menatapnya, menuntut sebuah jawaban. Gadis itu melirikkan matanya pada ujung meja, pada beberapa lembar tisu yang menumpuk.

Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah ide menarik.

Gadis itu melambaikan tangannya memanggil pelayan. Kemudian setelah sang pelayan datang, Hyunjo menyampaikan pemintaannya.

Sebuah pulpen.

Dengan ragu, sang pelayan bergerak menuju meja kasir untuk mendapatkan pulpen yang Hyunjo minta, kemudian memberikannya pada gadis itu.

Hyunjo masih tidak menjawab pertanyaan Luhan, dan sampai sekarang laki-laki itu masih menunggu.

“Kau baik-baik saja. Hyunjo?” ujar laki-laki itu mengingatkan Hyunjo yang kini tengah asyik dengan tisu dan pulpen yang ada di tangannya. “Jangan-jangan kau tersinggung dengan ucapanku?”

Hyunjo melirikkan matanya  ke arah Luhan, seorang laki-laki dingin yang entah mengapa sekarang terasa nyaman untuk ia ajak mengobrol walau itu menyangkut Jihyun sekalipun. Gadis itu mendengus kemudian meletakkan tisu dan pulpennya di atas meja dengan posisi tertutup.

“Aku tidak tau apakah aku bisa bernasib sama sepertimu, apakah aku bisa merelakan Jongin untuk Jihyun, apakah semua hal yang aku lakukan selama ini untuk mendapatkan Jongin benar atau tidak, aku tidak tahu. Tapi satu hal yang aku yakini saat ini. Apakah aku bisa bertemu dengan Jihyun lagi? Kurasa aku punya jawaban untuk itu.” ujar Hyunjo, sedikit tersenyum lalu menatap Luhan serius.

“Kau bisa bahagia, aku yakin. dan Jihyun pasti ingin menemuimu juga” Luhan mengelus tangan Hyunjo, memberinya semangat meyakinkan. “Aku yakin kau orang yang sangat tulus. Karena selama Jongin menjadi pacarmu, dia tak pernah memperkenalkanmu pada kami. Dan sekarang aku tahu alasan kenapa Jongin melakukan hal itu.”

Hyunjo menaikan sebelah alisnya.

“Karena dia tak ingin kau tersakiti olehnya.” ujar Luhan sambil tersenyum sekilas.

**

12 hari kemudian…….

Jongin menyeruput coffeenya. Menatap datar gadis dihadapannya sekarang, ia sama sekali tak berkutik dan kembali berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, menyembunyikan perasaan sakitnya karena tak bertemu dengan gadis di hadapannya selama hampir 288 jam.

“Besok, pukul 9 pagi persidangan perceraian kita akan dimulai. Kuharap kau tak terlambat.” Jihyun berujar pelan, datar dan santai. Gadis itu begitu pintar menyembunyikan perasaannya.

Ya—Sejak surat perceraian itu selesai di tandatangani. Jongin tak pernah kembali pulang apalagi menghubungi Jihyun. Pemuda itu tenggelam dalam dunianya sendiri untuk waktu yang tidak sebentar.

“Aku akan datang lebih awal.” Ujar Jongin dengan senyum separuhnya, Pemuda itu hanya mampu meremas tangannya sendiri—menahan luapan rasa rindunya itu untuk tidak memeluk Jihyun secara tiba-tiba.

Jihyun mendesah lalu melirik Jongin dengan tatapan datarnya. “Kau bahkan terlihat senang.” Gadis itu tersenyum samar. “Syukurlah kalau begitu.”

“Tak ada alasan untuk bersedih dalam waktu yang lama.”

“Kau benar.” Jihyun kembali tersenyum. Sejenak ia merasa bahagia bisa melihat kembali Jongin dihadapannya, melihat pemuda itu tersenyum walau akhirnya kata perpisahan itu harus muncul dalam otaknya.

“Terimakasih sudah menolongku selama ini. Pulanglah ke apartemenmu. Kau tak perlu khawatir karena aku akan segera pergi secepatnya.” lanjut Jihyun kemudian.

“Ya…” Jongin menjawab pasrah kali ini. “Aku akan pulang saat kau pergi.”

Jihyun kembali tersenyum, senyuman palsu yang berusaha ia kibarkan, hatinya tersayat saat ia tersenyum seperti ini di hadapan Jongin. “Kalau begitu, sampai berjumpa besok  di pengadilan Kim Jongin.” Jihyun bangkit dari kursinya, ia tak mampu bertahan lebih lama lagi disini.

“Hm…” gumam Jongin pelan. Sekali lagi, perasaan sakit merongrong hati Jihyun. Dan harapan untuk terus bersama Jongin selamanya rasanya mustahil karena Jongin sama sekali tak berniat untuk membatalkan perceraian itu.

Luhan sedang menekuni buku faforitenya saat seseorang menekan bell pintu apartemen nya. Pemuda yang sudah menggunakan baju rumahan itu segera bangkit dari tempatnya duduk lalu membukakan pintu. Dan saat pintu terbuka yang ada disana adalah Kim Jongin dengan beberapa paperbag di tangannya.—pemuda itu sama sekali tak tersenyum.

“Boleh aku masuk?…”

“Oh—ya—tentu—ayo?”

Jongin mengayunkan langkahnya masuk kedalam apartemen Luhan, pemuda itu tanpa tahu malu langsung melesatkan beberapa paperbag berisi pakaiannya ke arah kamar Luhan lalu kembali dengan wajah tanpa dosanya.

“Aku akan tinggal disini untuk malam ini.” Jongin mengucapkan kata-kata itu bahkan tanpa sebuah permohonan. Luhan yang masih merasa bingung hanya mengangguk kecil dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Ia masih merasa heran melihat Jongin yang amat membencinya kini berada di apartemen nya sendiri.

“Kenapa kau ingin tinggal disini? Bukankah apartemen mu baik-baik saja.” tanya Luhan penasaran.

“Ahhh… ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Sebaiknya kau duduk dulu.” Jongin menepuk spot kosong di sofa yang ia duduki. Isyarat untuk Luhan agar duduk disana.

Luhan yang bingung hanya mengikuti dan duduk disamping Jongin. “Ada apa, kenapa kau disini lalu bagaimana dengan Jihyun?”

“Yah… hari ini adalah malam terakhir sebelum aku bercerai dengan Jihyun. Kau pasti senang mendengar kabar ini.” Jongin menyunggingkan senyum separuhnya.

Luhan tersentak kaget dan menatap Jongin heran. “Ah, bercerai.” Ujarnya pelan tapi ia masih merasa bingung, lantas jika Jihyun dan Jongin akan bercerai kenapa Jongin dengan entengnya malah tersenyum? “Lalu kenapa kau disini?”

“Begini..” Jongin menghembuskan nafasnya kasar sebelum ia melanjutkan ceritanya. “Aku ingin menitipkan Jihyun padamu saat kami sudah bercerai. Setidaknya kau menyanyangi Jihyun dengan tulus setahuku. Aku tak ingin menceritakan alasan kenapa aku ingin menitipkan Jihyun padamu. Hanya saja alasan itu adalah kunci kebahagian untuk Jihyun dan aku.” Jongin berbicara dengan sebuah senyuman bodoh di wajahnya.

Hening.

Luhan terlalu terkejut untuk bereaksi saat ini.

“Jangan salah paham, ini bukan berarti aku sudah tak menyayangi Jihyun. Hanya saja aku ingin mulai menjauh darinya sekarang, aku ingin Jihyun kembali menemukan hidupnya yang dulu tanpa aku. Kebahagian Jihyun jelas bukan bersama ku karena selama ini aku selalu membuatnya kesusahan. Dan sekarang adalah waktu yang tepat.” Jongin menepuk bahu Luhan. “Kau ingin menjaganya bukan? Maka lakukanlah karena aku sudah tak bisa menjaganya lagi.”

“Aku masih belum mengerti.” Luhan memejamkan matanya. Lagi-lagi ia tak mengerti dengan maksud perkataan Jongin. Sebulan yang lalu Jongin mengahajarnya, lalu menyuruhnya agar  tak menemui Jihyun lagi, tapi malam ini Jongin malah mengatakan kata yang berlawanan. Itu membuatnya .

“Tolong jaga Jihyun untukku. Dan kau akan mengerti nantinya.” Jongin tersenyum separuh lalu menyodorkan sebuah tas pada Luhan. “Temui Jihyun malam ini dan berikan ini untuknya. Dia pasti menunggumu.” Ujar Jongin sedikit lirih.

“Kau yakin akan seperti ini…” ucap Luhan, membuat Jongin sedikit mendongkak lalu menganguk mengiyakan.

“Aku memang membencimu, tapi kau satu-satunya orang yang Jihyun percayai.—”

“Jongin..” Luhan terdiam.

Jongin menatap Luhan lurus-lurus. “Jangan katakan pada Jihyun bahwa aku disini, tolong…” ujarnya kemudian yang bagai sebuah ledakan petir di kepala Jongin sendiri.

_

Sambil memakai jaketnya, Jihyun melangkah mendekati mobil Luhan, dimana sang pemilik mobil sudah menunggu di dalamnya sejak sekitar lima belas menit yang lalu.

Jihyun membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam. Ia membenarkan posisi duduknya sembari bertanya pada sosok pemuda di kursi pengemudi.

“Mendadak sekali ingin bertemu denganku, ada apa?.”

Luhan tak langsung menjawab. Ia terlebih dulu menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya keluar dari basmen parkiran apartemen Jihyun.

“Hanya penasaran tentang perceraianmu.” Ujar Luhan memulai. Matanya masih fokus menatap jalanan gelap  di depannya. “Kudengar kau dan Jongin akan bercerai. Benar?”

“Apa Jongin yang mengatakan hal ini padamu?” Jihyun menolehkan kepalanya penasaran. “Tapi kupikir, aku salah menebak.” Jihyun mendelik sebal lalu mengarahkan pandangannya ke arah lain.

Luhan terdiam sekitar dua menit, sebelum ia kembali membuka mulutnya dan menyahut, “Bisa kukatakan…iya. Jongin memberitahuku hal itu. Dia bahkan menyuruhku untuk menemuimu. Well, apa yang bisa kulakukan selain menemuimu…kupikir kau butuh sandaran saat ini.” Gurau Luhan.

“Kau pasti bohong.”

Luhan menolehkan kepalanya sekilas, untuk mengetahui bagaimana ekspresi Jihyun sekarang. Dan ketika ia melihat raut serius di wajah Jihyun, Luhan mendesah pelan.

“Aku benar-benar berbicara kenyataan.” Luhan menoleh lagi. “Ku harap kau kembali memikirkan tentang perceraian ini. Kalau boleh, aku ingin memberi saran dan pendapatku padamu tentang Jongin. siapatahu kau berubah pikiran.”

Jihyun mempersilahkan Luhan untuk memulai, dan pemuda itu mengangguk, lantas mulai berbicara. “Selama aku mengenal Jongin, dia tak pernah seserius ini dalam hidupnya. Aku tak tahu apa yang membuat Jongin berubah begitu signifikan dalam waktu 4 bulan, hingga ia melepas semua kehidupan kelamnya yang sudah menjadi candu nya selama ini, dan setelah kupikir-pikir kaulah alasannya. Dia pasti benar-benar menyangangimu hingga semua hal yang menjadi candunya begitu saja ia lupakan.” Luhan menghentikan mobilnya sejenak untuk menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Ia menoleh pada Jihyun, kemudian melanjutkan, “Jika aku boleh jujur, aku benar-benar iri pada Jongin sejak dulu. Dia selalu mendapatkan apa yang aku mau begitu mudah. Termasuk kau.”

Jihyun terdiam. Ia berusaha meresapi penuturan Luhan baik-baik sembari menunggu pemuda itu kembali melanjutkan penuturannya. Namun ternyata pemuda itu hanya diam, padahal Jihyun merasa penutuan itu belum selesai. Jadi, Jihyun memberanikan diri untuk bertanya. “Apa kau sudah…selesai?”

Luhan menggeleng. “Belum, belum. Masih banyak yang ingin aku utarakan. Tapi kurasa ada hal lain yang harus aku tanyakan padamu sekarang juga.”

“Oh, apa itu?.”

Luhan menghela napasnya berlebihan. “Apa yang akan kau lakukan setelah bercerai dengan Jongin?”

Hening sejenak, sebelum akhirnya Jihyun membuka suara. “Aku hanya ingin pergi dan memulai semuanya dari awal.”

Luhan memasang wajah seriusnya. “Kau yakin?”

Tak ada yang bisa Jihyun lakukan selain menganggukkan kepalanya. Ada banyak yang ingin ia tanyakan, namun berakhir dengan kebisuan. Dan ia tak tahu, apa ia benar-benar sanggup bercerai dengan Jongin besok.

Jihyun telah membereskan semua barang-barangnya dari apartemen yang ia tinggali bersama Jongin selama hampir setengah tahun. Dia telah memasukkan semua baju-bajunya ke dalam koper dan membiarkan sebuah gaun pemberian Jongin tetap tinggal di dalam lemari.

Jihyun merasa semua tekanan emosional ini dapat membunuhnya perlahan-lahan.

Gadis itu menatap surat persidangan dan tiket pesawatnya. Ia benar-benar akan pergi besok. Jihyun memejamkan matanya dan membiarkan semua kesedihan ini mengambil alih kesadarannya.

Saat ini Jihyun hanya berpikir tentang hari-hari yang akan ia jalani tanpa Jongin dan bagaimana keadaan dirinya tanpa Jongin nanti?.  Semua ini jauh lebih rumit dari apa yang ia bayangkan sebelumnya.

Jihyun bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ia bercerai dengan Jongin. Apakah ia harus mulai mencari pekerjaan baru?

Tidak. Jihyun tidak tahu. Pikirannya begitu kosong.

Dia tidak bisa membayangkan apapun sekarang. Satu-satunya hal yang berada di pikirannya adalah bagaimana ia bisa menjalani hari demi hari tanpa eksistensi Jongin di sisinya, tanpa sosok Jongin yang akan menemaninya.

Apakah ia harus kembali kehilangan seseorang yang ia cintai saat ini?

Jihyun menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan tangisan itu memenuhi penjuru apartemennya. Membiarkan dirinya terisak dan merasakan luka itu di setiap inci tubuhnya.

Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah menemui Jongin, memeluknya dengan erat dan mengatakan betapa ia mencintainya. Dan ketika saat itu tiba, Jihyun akan kembali berharap jika waktu dapat terhenti selamanya. Membiarkan dirinya memeluk Jongin selamanya, menjadikan pemuda itu tetap sebagai miliknya apapun yang terjadi.

Jihyun menyadari bahwa dirinya tidak akan bisa melakukan semua hal itu. Dia tidak akan pernah menemui pemuda itu dan kata-katanya akan ditelan udara bisu. Segalanya hanya akan tersimpan sebagai kenangan.

Dan Jihyun  harusnya merasa cukup bersyukur bahwa Tuhan pernah memberikan Jongin di dalam hidupnya.

**

Jongin mencoba mengenakan tuxedo-nya dengan wajah ditekuk, tampak tidak sedang dalam mood yang bagus. Ia terus memasang raut wajah itu sejak pagi.

Raut wajahnya itu membuat beberapa orang pelayan di hotel itu terganggu—atau takut lebih tepatnya. Mereka mengira tuan muda pemilik hotel itu tidak menyukai tuxedo  pilihan mereka, atau mungkin tidak nyaman. Jadi mereka terus-menerus bertanya pada Jongin.

Apa anda menyukainya? Apakah anda suka model seperti ini?’’

Jongin berulang kali mengatakan bahwa ia menyukainya, namun karena orang-orang itu terus menanyakan hal yang sama, ia pun merasa bosan dan muak.

“Aku bilang aku suka pakaian ini!!” Jongin berteriak dan tidak ada lagi yang berani membuka mulutnya setelah itu. Mereka semua membungkam kedua bibir mereka rapat-rapat, tak lagi mengganggu Jongin dengan pertanyaan-pertanyaan mereka.

Jongin melirik orang-orang yang berprofesi sebagai pelayan dan seorang general manajer di hotel itu satu persatu, kemudian menganggukkan kepalanya puas di tengah keheningan yang ditimbulkan oleh teriakannya.

“Bagus. Terimakasih.”

Lalu tanpa basa-basi, Jongin melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tersebut dan langsung masuk ke lift menuju parkiran. Ia bisa terlambat datang ke pengadilan hari ini.

Sementara ditempat yang berbeda, Jihyun menatap refleksi dirinya di depan cermin seukuran tubuh, memperhatikan penampilannya, serta detail pakaian yang ia gunakan. Sebuah rok dan baju kesukaannya. Sederhana, dengan warna hitam kesukaannya.

Jihyun menatap lurus cermin di depannya, yang kini memantulkan refleksi dirinya dalam balutan baju itu, sejenak Jihyun tersenyum melihat dirinya yang masih baik-baik saja hingga saat ini. Jihyun mengambil sepatu hitam kesayangannya dan membawanya ke sebuah sofa untuk mencoba mengenakannya. Ia sudah selesai sekarang dan ia bersiap untuk pergi .

daydream-13

Tak pernah sekalipun terlintas dalam benak Jihyun bahwa ia akan berakhir begitu menyedihkan seperti ini, ia begitu mencintai pemuda itu dan ia tak tahu apakah rasa ego nya akan mengalah hanya karena ia begitu mencintai pria itu? Ataukah ia akan terus berkeras kepala, membiarkan dirinya benar-benar berpisah dengan Jongin?

**

Jihyun berdiri dengan tak nyaman di depan pintu berpelitur cokelat mengkilap dengan tulisan ‘Ruang Persidangan I’ yang dipahat dengan sempurna. Gadis itu meremas buku-buku jarinya hingga kebas, mengigiti bibir bawahnya hingga nyaris mengeluarkan cairan asin jika saja pintu itu tak terbuka dan menampilkan sosok tinggi menjulang seorang pemuda dengan tuxedo hitamnya yang terlihat pas ukuran.

2

Kenapa kau datang terlambat?” Pemuda itu –Kim Jongin- bertanya dengan ekspresi wajah datar. Tapi suaranya jelas sarat akan rasa penasaran.

“Maaf. Ada sesuatu yang harus aku urus lebih dulu.” Jihyun menukas, lalu menatap Jongin sedikit ragu. Dia masih saja merasa tak nyaman dengan perkataan Jongin yang sedingin es. Padahal jika ditinjau ulang, ia sudah tak memiliki ikatan apapun lagi dengan Jongin.

“Persidangannya sudah selesai. Dan ku pikir pengacaramu sudah memberi tahu hasil akhirnya bahkan tepat sebelum kau datang kesini.” Jongin  bertanya penuh selidik, menatap Jihyun tepat ke dalam iris matanya.

“Ya, aku sudah tahu.” Jihyun menjawab cepat-cepat, mengalihkan wajahnya dari Jongin karena dia merasa tatapan pemuda di hadapannya nyaris bisa melumpuhkan kedua kakinya. “Kita… Resmi bercerai.”

Bibir Jongin mencebik begitu kata-kata itu keluar dari bibir Jihyun. “Jika kau sudah tahu, lalu untuk apa kau datang kesini.”

Jihyun terdiam untuk beberapa saat dan melirik ke arah Jongin yang tengah sibuk menatapnya dengan tajam. Dia lalu buru-buru menunduk, menghindari tatapan bak x-ray dari pemuda di hadapannya.

“Hanya ingin mengucapkan salam perpisahan padamu.” Ujar Jihyun, sekali lagi mengigit bibir bawahnya hingga memucat.

Hening, tak ada jawaban apapun dari mulut Jongin.

Jihyun tersenyum. “Jaga dirimu, semoga kau bahagia.“ Jihyun memegang tangan Jongin lalu memberikan sebuah kunci pada pemuda itu. “Pulanglah. Itu rumahmu.” Jihyun mengatakan kalimat terakhirnya dengan air mata yang memenuhi pelupuk mata. Setelahnya ia berjalan dengan gontai menjauh, bersiap menangis dengan kencang begitu dia sudah berada di luar jangkauan pendengaran Jongin.

Sebaiknya Jihyun pergi dari sini, karna jantungnya tidak terlalu kuat untuk melihat Jongin lebih lama lagi.

“Selamat tinggal, Kim Jongin.”

Jongin menyalakan lampu apartemennya. Dari depan pintu, pemuda itu mengedarkan matanya ke seluruh ruangan. Lalu sebuah senyum terkembang di bibirnya.

Entahlah, ada perasaan yang menggelitik ketika ia melihat isi rumahnya yang sudah rapih, tak ada foto-foto pernikahannya dan Jihyun di meja, tak ada lagi baju Jihyun yang sering menumpuk di sofa, atau stiletto yang sering berceceran di depan pintu masuk.

Jongin membuka pintu kamarnya dan ia merasakan bahwa sosok Jihyun pernah ada di tempat ini. Memberikan setiap bekas di setiap sudut yang ada disana. Perasaan bahwa gadis itu pernah singah disana, terasa begitu melegakan dan membuatnya tiba-tiba…

Rindu.

Padahal baru satu setengah jam lalu mereka bertemu di pengadilan, saling bertatap cemas dan tersenyum seolah keduanya baik-baik saja—tapi sekarang, Jongin sudah begitu ingin kembali bertemu dengannya. Dan Jongin baru menyadari bahwa ia tak tahu harus mencari Jihyun dimana saat ini.

Bayangan punggung Jihyun pergi menjauh, masih bertahan di ingatan Jongin. Dan semakin jelas ketika Jongin memejamkan matanya. Setiap langkah menjauh gadis itu, dirinya yang tidak lagi menoleh ke belakang, seolah menggugurkan semua kemungkinan bahwa ia akan kembali. Seharusnya Jongin menahannya saat itu. Melakukan segala macam cara, apapun, agar Jihyun tak pergi. Meski harus mendekapnya setiap detik atau mengurungnya, seharusnya Jongin melakukan itu.

Tapi yang ia lakukan hanyalah terdiam dengan menyedihkan di depan pintu pengadilan. Tak mampu berbuat apapun. Hingga Jihyun benar-benar pergi meninggalkannya.

Lalu sekarang, pada akhirnya hanya penyesalan yang tersisa.

Jongin membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya. Napasnya kini sudah kembali teratur. Tapi seperti yang ia duga, rasa sesak itu masih tertinggal.

Apa Jihyun akan kembali? Apa ia akan benar-benar pergi meninggalkan Jongin seperti ini?

Jongin tersenyum miris saat tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menarik benda persegi panjang itu dari saku jas nya. Lalu dengan malas Jongin menekan tombol dial untuk mengangat telponnya.

“Hallo?”

Suara itu begitu mendesak, kata-kata yang yang di ucapkan sang penelpon begitu terburu dan setelah mendengar isi telepon nya secepat kilat Jongin bangkit dari posisi tidurnya lalu menyambar kunci mobilnya dengan terburu-buru. Ia mengabaikan ponselnya yang belum dimatikan dan malah berlari kencang keluar dari apartemennya. Persetan dengan apartemennya yang tak di kunci! Jongin tidak peduli itu sekarang. Ia butuh Jihyun. Ia harus menghentikan Jihyun sekarang juga sebelum penyesalan itu benar-benar terjadi untuk selamanya.

Jongin berlari ke arah mobilnya, dengan segera ia pergi melesat dari basmen sore itu. secepat mungkin, tak peduli jika cuaca di luar tengah turun salju dan ia sama sekali tak menggunakan mantel apapun.

Sial!!”  umpat Jongin saat ia melihat jam yang ada di dashboard mobilnya dan menyadari bahwa ia tidak punya banyak waktu untuk menyusul kepergian Jihyun. Lalu lintas padat merayap dibawah guyuran salju, membuat mobilnya tak bisa melaju sekencang yang Jongin mau dan mengharuskannya kembali mengumpat sebal. Sekali lagi Jongin melirik ke arah jam, dan ia tahu Jihyun mungkin telah berada di dalam boarding room saat ini.

Masih ada waktu. Jongin ingin bertemu dengan Jihyun dan bicara padanya. Ia tidak mau gadisnya itu menjauh. Jongin tidak mau jarak memisahkan mereka.

Setelah memakan waktu cukup lama akhirnya mobil yang dikemudikan Jongin berhenti dengan suara decitan panjang di depan bandara. Jongin tak merasa perlu untuk memarkirkan mobilnya di tempat seharusnya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk hal itu.

Mengabaikan tatapan dari beberapa orang yang menatapnya karena ia membuat keributan kecil, Jongin hanya terus melarikan kakinya memasuki lobby bandara yang luas itu. Ia menuju tempat dimana layar yang menunjukkan jadwal penerbangan pesawat terpasang, dan seketika itu kakinya terasa lemas.

Pesawat menuju Beijing telah berangkat 3 menit yang lalu.

To be continue………

**

Annyonggg ^^~ Ada yang inget lyo? Inget fanfic ini? Wkkkkk~ sedih rasanya tiga bulan ilang tanpa kabar😀 maafkeunn dear~ rasanya tiap chapter kalo ngepost lyo terus-terusan minta maaf haha Xd *efek kebanyakan php*

Jujur, chapter ini paling susah banget dapet inspirasi, gak dapet feel juga pedahal waktu senggang banyak banget buat ngetik Xd tiap-tiap buka laptop terus buka file ini, rasanya blank pedahal konsep udah banyak di otak. Hmm, mungkin efek mood juga kali ya TTvTT kan belakang ini Jongen di landa kasus terus, udah mah dia ketauan dating ditambah cedera, eh tiba-tiba lagi konser cedera lagi  TTvTT mungkin karena pengaruh mood sedih liat peran utama nya sakit kali ya TT.TT  *apakah ini yang disebut ikatan batin  antara gue dan jongen #lol?*

Mungkin next chap, lyo posting lebih cepet lagi😀 Biar gak bikin baper haaha😀

See u next  chapter dear :*

 

 

46 responses to “[CHAPTER] DAY DREAM- FLY WITH THE WIND#13 (APPLYO)

  1. Kirain authornim jg ikut hiatus juga hiks hiks…abisnya lama banget ga update day dream…sekalinya update bikin baper #mewekz kacian jongin ditinggal ke china 😭

    Di tunggu next chapyernya yaaa ^0^

  2. gamau gamau… kenapa mereka harus cerai astagaa O.O ini gabisa terjadi😦 kenapa jihyun malah pergi gituuu ajah dan kenapa jongin gak ngebatalin perceraian mereka -_- di chap ini gemes banget sama jongji couple -_-

  3. akhhh… akhirnya muncull juga thor wkwkw..
    sempet lupa ini critanya gimana jadi td aq baca yg chap 12 dulu.. eh baru inget deh..
    itu beneran udah cerai ya? trus nanti baliknya gimana? yah thor jan sad ending ya ..(cerewet)
    tunggu chap berikutnya lah.. ditunggu ya thor hehehe

    keepwriting^^

  4. ASTAGA LYOOOOOO INI AJA UDAH CUKUP BANGET BIKIN BAPER TINGGAL MAKSIMALLL
    ASTAGAAA INI (one of) THE MOST HEART BREAKING CHAPTERRRE THOUUGGHHHHHG
    OKE OKE FIX SEMANGAT YA KAK LYO SAYANG DITUNGGU BGT UPDATEANNYAA💪💪💪😚😚😚😚

  5. kakaq kangent…
    akhir ma ngepost jga…
    krna ud klamaan jdi bca chap sblum na..
    but…
    the best kaq chap in…
    sdih, knpa hrs keg gni…..
    lnjut next chP..
    jgn lma* y kaq….

  6. Taikucing gue mewek bacanya😭😭😭
    Mereka resmi bercerai😭😭 jongin ku😭😭
    Jangan lama2 update chap selanjutnya dong, please🙏

  7. Kasian bgt sih Jongin… dia udah cinta bgt sama Jihyun tp harus pisah kayak gtu… semoga aja Jongin masih bisa nyusulin Jihyun… klo ga dia bakal menderita seumur hidup karena belahan jiwanya ga tau kmna…

  8. ouh akhirnya …muncul lg cuple ini.hahaha
    aq benar2 rindu..apakah ini akan berakhir
    lalu..
    ahhhhh
    smkin penasarn.lnjut trus ya saiii.cemangat…

  9. masih inget malah kangen ama ni ff…
    nyesek banget sih di chapter ini…
    waktu awal dikira jihyun ama jongin beneran udah baikan eh ternyata hanya mimpi…
    btw sedih banget saat mereka bercerai.
    jihyun udah pergi ke Beijing?? jongin telaat???
    kalo boleh ngarep sih, jihyunnya gak jadi pergi….

  10. Lyooooooo astagaaaa kangen banget sama ff ini 😭 awalnya udah pasrah aja klo ini ga bakal dilanjutin, tp akhirnyaaaaaa…
    Itu jongin jihyun jangan dipisah lagi donk 😭
    Next chaptnya jgn lama2 ya pleeease

  11. ahhhh jongin mah ngeselin. dari tadi sok gak peduli… sekarang malah ngejar2 kalo tau jihyun mau pergi keluar negeri

  12. ya ampun akhirnyaaaaa uodate juga ini ff
    kangen bngetttttt
    pleaseee jangan pergi dulu jihyunyaa jangan tinggalin jongin sendiri
    sedih setiap baca kayana mereka ga akur2..
    egonya pada gede2 bnget huh sebel

    semoga hubungan mereka bisa dipertahankan lagi mulai dari awal lagii secara baik2

  13. omoo~~ eon lama banget ngilangnya -,-
    q nunggue ampe lumutan sama ni ff
    jongin mah peak banget sih, kalo masih sayang nape di cerai mas -.- jihyun juga sama pea nya, masih sayang tapi ngajuin cerai kan berabe ujungnya hmm..
    eon update quick ya, lmlyd nya juga u,u kangen berat sama jiyoo-sehun-jongin
    eon jongin udah sembuh, udah gak pake perban sama gif lagi😀 semoga mood eon lebih baik liat jongin udah sembuh

  14. Yeayy…
    Akhirmya dilanjut juga.. kekeke
    Omo yaa Jongin pabo yaa…
    Sedih bacanyaa.. masih saling cinta tapi kenapa cerai.. huhuhu
    Ditinggal Jihyun deh baru keok.. wkwkwk
    Semoga mereka berdua balikan deh..

  15. Akhirnya update jugaaa…..
    Ya ampun Akhirnya mereka cerai. Btw, kq jihyun pergi k beijing, emang disana ada siapa??? Yg nelpon jongin tadi tuhan ya??

  16. Jgn sad ending ya lyo… Pliis,, udah baper bgt jongin g ikut perform lotto krna cedera, berasa tak berarti exo tpi si kulit tan.. 😩

  17. Udah lama ngk ketemu sama ff ini…
    Mereka beneran cerai? Jihyun pergi ke Beijing sama siapa dia disana
    setuju sama Luhan kalo cinta ngk harus memiliki

  18. huwwweee ngapain cerai kalo dikejar juga😥 jongin jihyun bisa nyatu lagi gak thor? baver duh nextnya cepet yaa jangan berbulan bulan haha😀

  19. Ahh resek jihyun pergi ninggalin jongin😥 ah resek banget.. sumoah bapeerr😥😦
    Ya ampun saking lamanya gk update aku bahkan baca 2 chapter sebelumnya loh kak untuk ingat jalan ceritanya🙂
    Ah sumpha feelnya dapet kak (y)
    Ditunggu next chapnya kak😉

  20. lhoo kenapa mereka beneran cerai
    hiks hiks sedihh jadinya
    jihyun udah pergi ke beijing pula dan jongin ngga sempet ketemu jihyun waktu di bandara
    next chapter di tunggu eon, udah ngga sabar mau baca

  21. mereka beneran berpisah astaga padahal gk berharap banget
    tapi kalo dengan berpisah bisa membuat hati mereka saling merindukan masing masing dan ketika bertemu kembali
    mereka bisa bersatu lagi

  22. Aammmppuunn dehh yaa aPplyo nih dah ditunggu smpe berjamur buat next chapternya pas dikasih lngsung bikin nyeseknya gk tanggung2 hahaa :v

  23. Ya alllah akhirnya di apdet T.T aku nungguin banget ini ff..
    Tengkyu author atas apdetannya ini.
    Ah makin nyesek aja kesininya.
    Klo emang ga bsa pisah knapa pke cerai sih kalian.
    Suka bikin ane mewek aja ya allah T.T
    Ga tahan pokonya mah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s