SHOW YOU [Sequel of Stitches] by Heena Park

show-you

-Heena Park Present-

.

Starring : Shin Hee-Ra // Kim Jong-In // Kim Hyu-No // Kwon Sun-Young // Kim Joon-Myeon

.

Romance–Marriage Life//PG-15//Oneshot

.

Recommendation Song :

.

Notes : FF ini adalah sequel dari FF aku sebelumnya ‘STITCHES’ [klik untuk membaca FF tersebut.] Buat yang mau baca FF ini, sangat direkomendasikan sekali untuk membaca STITCHES terlebih dahulu.

.

SHOW YOU

©2016

.

“Kau yang akan pergi ke Jinhae?”

Jong-In menghentikan aktivitasnya, ia berbalik dan mendapati Sun-Young tengah berdiri sembari membawa dua cup kopi dingin. Layaknya kebiasaan, Sun-Young selalu menyempatkan diri untuk menunggu Jong-In selesai kerja dan membelikan dua cup kopi untuk dirinya dan pria itu.

Karirnya melejit pesat, hanya dalam enam tahun ia sudah bisa menduduki posisi yang bisa dibilang tinggi di perusahaan. Bukan hanya itu, Jong-In bahkan memiliki cafe yang dibangun dengan uangnya sendiri, walaupun tidak begitu mewah, tapi cafe itu sudah bisa membuktikan betapa suksesnya Jong-In saat ini.

“Begitulah,” Jong-In menerima uluran kopi dari Sun-Young, tidak berniat segera meminumnya, “aku senang karena bos mempercayakannya padaku.”

Berbeda dengan Jong-In, Sun-Young nampak tak senang, “Kalau begini aku tidak bisa lagi menunggumu pulang kerja, kita tak bisa pulang bersama lagi. Menyebalkan.”

Jong-In tertawa renyah, tangan kirinya menepuk pundak kanan Sun-Young, “Aku akan segera kembali, kau tidak perlu khawatir,” hiburnya.

“Kembali seorang diri atau bersama gadis?”

Jong-In tidak menyukai pembicaraan ini. Ia tahu kalau Sun-Young telah memendam perasaan padanya selama beberapa tahun terakhir, tapi mengingat statusnya yang masih sebagai suami orang membuat Jong-In tak pernah menanggapinya.

Ia tak masalah disebut idiot atau semacamnya karena masih berharap dapat bertemu Hee-Ra dan melihat keadaan istrinya tersebut. Berpisah selama enam tahun rupanya sangat tidak menyenangkan, ya?

“Ayo pulang, kau mau makan sesuatu atau tidak hm?” Jong-In berusaha mengalihkan pembicaraan, ia menyesap kopi dalam genggamannya sampai habis.

Sun-Young mendesah, “Kita bersikap seperti sepasang kekasih padahal sebenarnya tidak memiliki hubungan apapun.” Sun-Young menggigiti bibir bawahnya sebentar. “Aku butuh status, Kim Jong-In.”

Berkali-kali Sun-Young berkata menginginkan status, berkali-kali pula Jong-In berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin salah membangun komitmen, ia tidak ingin kejadian lama terulang lagi.

“Kau gadis yang baik, kau pasti bisa mendapatkan yang lebih dariku, Kwon Sun-Young.”

“Tidak,” Sun-Young menggelengkan kepalanya, “hanya kau yang kuinginkan, aku tidak butuh yang lainnya!”

Jong-In sendiri tidak tahu kenapa sangat susah membuka hati setelah kepergian Hee-Ra. Ia terus mengatakan pada diri sendiri bahwa Hee-Ra adalah jodohnya.

“Sudahlah, antarkan aku pulang,” Sun-Young menyerah, ia menurunkan tangan Jong-In dari pundaknya dan segera masuk ke mobil Jong-In, duduk tepat di samping pria itu.

 

 

Jinhae terkenal akan keindahan sakura musim seminya, semoga saja Jong-In sempat menikmati bunga sakura sembari menyesap teh hangat di taman—tak masalah walau sendirian.

Ia baru saja selesai rapat, berniat untuk membeli makan siang di salah satu restoran yang cukup terkenal. Namun niatnya batal ketika kedua telinganya mendengar isak tangis anak kecil yang kemungkinan berada tak jauh dari posisinya sekarang.

Jong-In berusaha mencari dari mana asal suara itu, sampai kedua matanya menemukan sesosok anak laki-laki sedang berjongkok sambil menangis di bawah pohon. Lantas Jong-In buru-buru menghampiri anak itu, ikut berjongkok di sampingnya dan mengikuti arah pandang sang anak.

Sadar akan kehadiran Jong-In, anak itu menengok, wajahnya cemberut, bibirnya di majukan, matanya sembab karena menangis. Ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk sebuah balon yang tersangkut di atas pohon.

Jong-In mengikuti arah yang ditunjuk, “Kau menangis karena balonmu tersangkut?” tanyanya lembut.

Anak itu mengangguk dua kali dan kembali terisak, namun lebih tenang.

“Paman akan mengambilnya,” Jong-In mengusap lembut pangkal kepala anak laki-laki itu, “jangan menangis lagi, ya?” lanjutnya dan sedetik kemudian bangkit.

Berpikir bagaimana caranya ia bisa mengambil balon yang tersangkut di atas pohon, Jong-In menemukan ide. Ia menarik meja kayu yang terletak tak jauh darinya, kemudian naik dan untungnya tubuh tingginya sangat membantu. Ia berhasil mendapatkan balon milik anak itu, saking senangnya, anak laki-laki itu sampai melompat dan menepuk-nepukkan kedua tangannya.

“Ini milikmu,” Jong-In mengulurkan balon tersebut dan langsung diterima oleh si anak kecil. Ia melihat ke kanan dan kiri, apakah anak ini sendirian? Di mana orang tuanya?

“Di mana orang tuamu nak?” tanya Jong-In lagi.

Anak itu menggeleng. “Mama belum menjemputku, tadi aku berada di sekolah dan mengejar balon ini,” ujarnya.

“Kau tahu jalan untuk pulang atau kembali ke sekolah?”

Sekali lagi anak kecil itu menggeleng, membuat Jong-In membuang napas berat. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

“Apa kau tahu nama sekolahmu?”

Terdiam sebentar, anak kecil itu mengangguk senang. Jong-In segera bertanya apa nama sekolahnya dan mencarinya di Google Maps. Untungnya jarak antara lokasi mereka dengan sekolah anak itu tidak begitu jauh. Kalau begitu tidak ada salahnya Jong-In mengantarkan anak kecil ini.

“Paman akan mengantarmu,” Jong-In mengulurkan tangannya, “tidak perlu takut, paman bukan orang jahat kok,” lanjutnya sembari menunjukan cengiran khas nan manis miliknya yang sudah lama tak pernah dilakukan.

Anak itu tersenyum simpul dan menerima uluran tangan Jong-In. Mereka berjalan bersama, sesekali Jong-In melihat layar ponselnya, berusaha mengikuti arah yang ditunjukkan Google Maps.

“Paman, apakah kau akan menyulikku? Mama bilang aku tidak boleh percaya pada orang asing.”

Pertanyaan lucu anak itu membuat Jong-In menengok dan tertawa, “Kau anak yang pintar, mamamu pasti sangat menyayangimu. Siapa namamu nak?”

“Kim Hyu-No,” ia berhenti sebentar dan kembali mengeluarkan suaranya dengan agak takut, “jadi paman benar-benar akan menyulikku?”

Melihat anak ini membuat keinginan lama Jong-In kembali muncul. Keinginan yang sempat diutarakannya enam tahun lalu, saat Hee-Ra masih berada di sampingnya. Saat segalanya masih berjalan dengan lancar.

“Aku tidak mungkin menyulik anak sepintar dirimu.” Jong-In menggerakkan dagunya ke depan, “Itu sekolahmu, kan?”

Mereka berhenti di depan gerbang, anak kecil itu mengangguk senang dan menunjuk dua orang wanita yang tengah berbicara tak jauh dari keduanya. Bukan berbicara sih, lebih tepatnya berdebat.

“Itu mama!” anak itu berlari melepaskan tangan Jong-In dan segera menghampiri wanita yang berdiri membelakanginya.

“Mama!” teriaknya lagi yang akhirnya berhasil membuat wanita itu berbalik lega dan langsung berlari kemudian memeluk si anak kecil.

 

 

Hee-Ra mendesah kesal, dalam otaknya penuh kebingungan karena pihak sekolah teledor sehingga Hyu-No menghilang.

“Kami akan mengusahakannya nyonya, seluruh staff sedang mencari putra anda,” gumam guru Han berusaha menenangkan.

Tapi ibu mana yang bisa tenang kalau putranya jelas-jelas menghilang? Apalagi Hyu-No hanyalah seorang anak lelaki berusia lima tahun yang tidak tahu apa-apa. Bagaimana kalau Hyu-No diculik? Bagaimana kalau Hyu-No kecelakaan? Apa mereka bisa menjamin keselamatan putranya?

“Saya tidak mau tahu! Saya sudah mempercayakan putra saya pada sekolah tapi malah seperti ini!”

“Tenanglah nyonya, kami sudah meminta para staff untuk mencari keberadaan putra nyonya, kami juga tidak ingin hal seperti ini terjadi,” balasnya.

Hee-Ra memegangi keningnya yang mulai pening. Ia sangat takut kehilangan Hyu-No. Bagaimanapun hanya Hyu-No harta paling berharganya sekarang.

Tubuhnya hampir ambruk saking bingungnya, namun Hee-Ra tersadar ketika mendengar teriakan dari seseorang yang tak asing lagi baginya. Ia memutar kepala dan mendapati Hyu-No tengah berlari ke arahnya, sambil tersenyum lebar seolah tak terjadi sesuatu yang berbahaya.

Saking senangnya, Hee-Ra ikut berlari menghampiri putranya dan segera berjongkok, membiarkan Hyu-No tenggelam dalam pelukannya sambil sesekali mengusap juga mencium keningnya dengan lembut.

“Mama, kenapa mama menangis?” tanya Hyu-No polos ketika menyadari isakan kecil dari mulut ibunya.

Hee-Ra menggeleng dan melonggarkan pelukannya, ia mengusap kedua pipi Hyu-No, memperhatikan dari atas sampai bawah, takut kalau putranya terluka. “Mama sangat mengkhawatirkanmu sayang,” ia kembali memeluk Hyu-No, “kenapa kau pergi sendiri? Seharusnya menunggu mama menjemput.”

“Apa mama marah padaku?”

Hee-Ra menggeleng, “Tidak sayang, mama tidak marah. Tapi Hyu-No harus berjanji tidak akan mengulanginya lagi, mengerti?”

Hyu-No mengangguk beberapa kali, membuat Hee-Ra tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Lima tahun membesarkan putra seorang diri rupanya membuat Hee-Ra sangat mencintai Hyu-No, lebih dari apapun. Baginya, Hyu-No adalah harta paling berharga yang harus dijaga, ia tidak ingin Hyu-No terluka walau hanya segorespun.

“Tapi mama, tadi aku ditolong oleh paman baik hati.”

Hee-Ra mengerutkan keningnya, “Paman baik hati?”

Hyu-No kembali mengangguk senang, ia menuntun Hee-Ra untuk menatap seorang pria yang berdiri tak jauh dari keduanya. Pria yang berhasil membuat Hee-Ra tersentak tak percaya. Pria berjas hitam dengan tatapan dalam yang sudah lama tak dijumpainya. Pria yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Hyu-No menarik tangan ibunya untuk mendekati pria itu. Mereka sama-sama tak berkutik, terlalu shock mengalami kejadian ini.

“Mama, dia paman baik hati yang mengantarku pulang,” Hyu-No menarik-narik rok Hee-Ra, sementara wanita itu masih sibuk pada pikirannya.

Luka lama yang berusaha dipendam itupun mencuat kembali, sungguh masih tergambar jelas dalam pikirannya ketika Jong-In mengusirnya waktu itu. Rasa bersalahnya tak pernah luntur, bahkan sampai saat ini, ketika putra mereka sudah sebesar ini, Hee-Ra tak pernah melupakan kesalahan fatalnya.

Dan sekarang?

Jong-In berdiri di hadapannya?

Mereka saling memandang satu sama lain. Jelas raut kerinduan begitu tergambar, terlebih status keduanya yang masih sebagai suami-istri. Selama ini Hee-Ra bertanya-tanya apakah Jong-In berniat menceraikannya, tapi ia tak pernah mendapatkan surat gugatan cerai, Jong-In bahkan tak pernah mencarinya.

Lalu sekarang pria itu datang, apakah mungkin ia ingin menceraikan Hee-Ra?

“Shin…Hee-Ra?”

Suara itu, Hee-Ra bisa mendengarnya walau hanya berupa bisikan. Ia berniat mengangguk atau setidaknya menjawab ‘ya’, tapi mulutnya terlalu kaku. Otak dan tubuhnya tak mau diajak bekerja sama, hanya terpaku yang bisa ia lakukan.

“Shin Hee-Ra!”

Tiba-tiba teriakan lain terdengar nyaring, Hee-Ra merasakan seseorang menyentuh pundaknya dan kemudian berjongkok. Orang itu memegang kedua lengan Hyu-No sambil bertanya apakah ia baik-baik saja.

Belum sempat mengatakan apapun, Joon-Myeon sudah menggendong Hyu-No dan menarik lengan Hee-Ra untuk berjalan bersamanya. Namun pandangannya masih terfokus pada Jong-In, pria itu tetap terpaku pada tempatnya, ia membiarkan Hee-Ra pergi bersama pria lain.

 

 

Semalaman Jong-In tak bisa tidur, masih kepikiran dengan pertemuan tak terduganya dengan Hee-Ra. Benaknya penuh tanya, apakah anak lelaki tadi adalah putra Hee-Ra? Kalau begitu ia sudah menikah lagi? Tapi bukankah mereka belum bercerai? Mungkinkah Hee-Ra memalsukan statusnya demi pria lain?

Jong-In tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya sehingga memilih untuk kembali ke sekolah Hyu-No. Ia menyandar di badan mobil, memperhatikan satu per satu murid Taman Kanak-Kanak yang datang bersama orang tua. Semoga saja ia bisa bertemu Hee-Ra.

Walaupun sesungguhnya Jong-In belum siap untuk menerima kemungkinan paling menyakitkan—Hee-Ra yang telah menikah lagi—tapi setidaknya ia harus mendapat kepastian.

Lima belas menit berlalu, jantungnya kembali berdegup kencang. Kedua matanya berhasil menemukan seorang wanita bersama putranya yang baru saja turun dari taksi. Ketakutan tentu bergumul dalam hatinya, tapi Jong-In tak bisa mundur begitu saja. Ia dengan segala keberanian yang tersisa, memaksa diri untuk melangkah maju setelah wanita itu melepaskan pelukan serta memberikan satu kecupan hangat di kening putranya yang sedetik kemudian melambaikan tangan dan berlari ke memasuki sekolah.

Dengan langkah agak gontai, Jong-In mendekat, beberapa saat Hee-Ra tak menyadari kehadirannya hingga wanita itu tak sengaja menengok. Kilatan terkejut tergambar jelas di wajah yang hampir pucat itu, membuat Jong-In semakin mempercepat langkahnya.

Jong-In menghentikan langkahnya dikala jarak antara keduanya hanya terpaut lima meter, ia mengangkat wajah dan mencoba mengeluarkan suara, “Apakah…kita bisa bicara?”

 

 

Di sinilah sekarang mereka berdua. Duduk berhadapan—sama-sama kaku, tak berani memandang mata satu sama lain. Sudah lebih dari sepuluh menit dan Jong-In maupun Hee-Ra tak mengeluarkan suara sedikitpun sejak terakhir kali mereka memesan dua cangkir kopi kepada pelayan.

Hee-Ra terlalu sibuk merangkai kata maaf, sementara Jong-In memikirkan harus memulai pembicaraan dari mana. Mengingat enam tahun lalu dirinyalah yang mengusir Hee-Ra, mengingat enam tahun lalu dirinyalah yang telah membuang Hee-Ra. Tapi bukankah itu wajar? Saat itu Hee-Ra selingkuh dengan pria lain yang jauh lebih kaya dari Jong-In.

Mereka tak bisa terus-terusan diam, Jong-In mengangguk yakin, sebagai seorang pria sejati ia harus bisa mengawali pembicaraan.

“Bagaimana kabarmu?”

Bagus, setidaknya menanyakan kabar tidaklah buruk untuk mengawali pembicaraan.

Hee-Ra mendongak ketika mendengar pertanyaan Jong-In, ia menarik napas sebentar sebelum berucap. “Baik, kau sendiri?”

Jujur saja, Jong-In tidak begitu fokus sehingga kebingungan dengan arti kalimat ‘kau sendiri’ yang keluar dari mulut Hee-Ra. Apakah wanita itu menanyakan kabarnya atau bertanya statusnya saat ini.

Tapi ayolah, mana mungkin Hee-Ra menanyakan statusnya kalau mereka jelas-jelas belum bercerai.

“Aku..sedikit lebih baik.”

Hee-Ra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, membuat Jong-In frustasi. Ia tak suka dengan suasana canggung ini. Mereka dulunya sangat mesra dan begitu hangat, saling mengisi satu sama lain, tapi kenapa sekarang berbeda? Kenapa mereka bagaikan dua kutub yang saling tolak menolak?

“Anak itu…apakah dia putramu?”

Dari awal inilah yang ingin ditanyakan Jong-In. Kalau Hee-Ra menjawab iya berarti wanita itu memang menikah dengan pria kemarin, dan Jong-In harus menceraikannya. Ia hanya tak mau menjadi orang ketiga dalam kehidupan baru Hee-Ra.

Hee-Ra nampak tak terganggu dengan pertanyaan Jong-In, berbeda dari bayangannya, namun Hee-Ra malah tersenyum lebar dan mengangguk, “Ya, dia putraku. Kim Hyu-No adalah putraku.”

Bersamaan dengan klarifikasi dari mulut Hee-Ra, saat itu juga pertahanan Jong-In runtuh. Dagunya mengeras, tak menyangka kalau anak laki-laki kemarin benar-benar putra Hee-Ra. Kalau begini sudah jelas kan? Hee-Ra telah menikah dan Jong-In harus memendam dalam-dalam keinginannya untuk bisa kembali membangun kehidupan rumah tangganya bersama Hee-Ra.

Jong-In tersenyum kecut, ia menyesap sekali kopinya dan meletakkannya dengan sedikit bergetar, “Seharusnya aku sudah tahu sejak awal,” ia terkekeh, tapi tak menunjukan perasaan senang, melainkan terluka, “Aku ikut senang karena kau hidup bahagia.” Ia bangkit, “Semoga kau dan keluarga kecil barumu akan selalu hidup bahagia seperti saat ini, aku pergi dulu Shin Hee-Ra, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol denganku.”

Seulas senyum perpisahan mengembang di wajah Jong-In yang sedetik kemudian sudah membalik badan untuk beranjak pergi, sementara Hee-Ra masih mencerna kata-kata pria itu.

Butuh waktu cukup lama sampai ia menyadari kalau Jong-In mengira dirinya telah menikah dengan pria lain dan memiliki anak. Padahal kenyataannya tidak seperti itu! Hyu-No adalah putra Jong-In, bukan yang lain.

Lantas Hee-Ra cepat-cepat bangkir dan menyambar tas lengannya, kemudian berlari sambil berharap Jong-In belum pergi, karena kalau sampai ia kehilangan jejak Jong-In, mereka belum tentu bisa bertemu kembali.

Dengan napas terengah-engah, Hee-Ra berhasil menemukan mobil Jong-In yang hendak keluar dari parkiran. Ia segera berlari mengikuti mobil itu dari belakang sembari memanggil-manggil nama Jong-In, semoga saja ia mendengar!

“Kim Jong In!” Hee-Ra terus memanggil, berkali-kali sampai pada batas akhirnya. Ia berhasil membuat mobil Jong-In berhenti, mungkin lelaki itu menyadari kalau Hee-Ra sedang mengejarnya.

Napasnya yang tak karuan membuat Hee-Ra segera membungkuk, menumpu lengan pada kedua lutut, menanti Jong-In untuk menghampirinya walaupun belum tentu terjadi.

Tapi akhirnya dua lengan kekar memegangnya, Hee-Ra mendongak, mendapati wajah cemas Jong-In yang melihatnya.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, serta napas yang masih tersenggal-senggal, Hee-Ra mencengkeram erat punggung tangan kanan Jong-In dan berucap dengan terputus-putus, “Hyu-No…dia putramu…aku tidak…pernah menikah…dengan pria lain!”

Setelah berhasil menyelesaikan kalimatnya, kepala Hee-Ra terasa berputar-putar, matanya seolah tak bisa diajak bekerja sama dan tidak lama kemudian hanya kegelapan yang ia dapati.

 

 

Hee-Ra mengusap keningnya, matanya masih samar-samar dan belum begitu fokus untuk berhasil menangkap obyek di hadapannya. Namun ia yakin seratus persen bahwa Jong-In tengah menatapnya, pria itu tak memalingkan matanya sedikitpun, malah menyentuh lembut tangan kanan Hee-Ra.

“Kau sudah sadar?” pertanyaan Jong-In mengalun begitu saja di telinganya, pria itu terus menatapnya intens, membuat Hee-Ra sedikit salah tingkah.

Mengangguk dua kali, Hee-Ra berusaha duduk dibantu Jong-In. Ia baru menyadari kalau sedang berada di rumah sakit setelah melihat ruangan serba putih di sekelilingnya.

“Kenapa aku di sini?” tanyanya sambil memijit pelipis kirinya.

Jong-In bernapas lega, “Kau pingsan tadi, dokter bilang kau kelelahan. Kenapa kau merusak dirimu sendiri? Kau seharusnya istirahat.”

Teguran itu…

Sudah lama Hee-Ra tak mendengarnya. Ia terkikik senang, “Aku harus memenuhi kebutuhan Hyu-No,” ia menunduk.

Jong-In paham mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk menanyakan ini, tapi kata-kata Hee-Ra sebelum pingsan tadi benar-benar membuatnya penasaran setengah mati.

“Shin Hee-Ra?” panggilnya.

Hee-Ra mengangkat wajahnya pelan, “Iya?”

“Apakah…apakah Hyu-No benar-benar putraku?”

Pertanyaan ini…Apakah Jong-In bersedia menerima Hyu-No kalau memang kenyataannya seperti itu?

Lama menunggu balasan Hee-Ra, Jong-In mendekatkan wajahnya pada wanita itu, melihatnya dengan lebih tajam lagi.

“Ya, Hyu-No adalah putramu,” ia berhenti sebentar, namun sedetik kemudian kembali bicara, seolah tak membiarkan Jong-In untuk menyela, “aku tahu kau mungkin tidak percaya, tapi inilah kenyataannya.”

Ia menggigiti bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang sudah berpusat di pelupuk mata, “Aku memang selingkuh dulu, tapi aku tidak pernah membiarkan dia menyentuhku seperti yang kau pikirkan. Aku memang salah, waktu itu aku berusaha membuat kejutan tentang kehamilanku, tapi ternyata waktunya tidak tepat, semuanya berantakan, kau terlanjur mengetahui perihal perselingkuhanku..”

Jong-In terpekik, apakah itu berarti Hee-Ra sudah hamil saat Jong-In mengusirnya?

Saat itu pula kenyataan serasa menghantamnya keras. Kalau saja saat itu Jong-In tahu Hee-Ra sedang mengandung, ia tak mungkin mengusir Hee-Ra, ia tidak sejahat itu. Tapi kenapa? Kenapa Hee-Ra tak pernah berusaha kembali padanya? Padahal ia sedang mengandung!

“Tapi kenapa kau tidak pernah kembali? Kenapa kau tidak pernah mencariku? Kenapa kau menyembunyikan kehamilanmu dan berjuang seorang diri?” Jong-In tak bisa menahan mulutnya untuk berhenti bertanya. Hatinya seolah tertusuk pedang, ia terlalu jahat untuk bisa disebut sebagai suami.

Hee-Ra menggeleng, air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh begitu saja, “Aku takut, aku takut kau tak mengakui anak ini! Aku takut kau semakin marah dan menganggap bahwa Hyu-No adalah hasil dari perselingkuhanku,” Hee-Ra terisak, ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanan.

Refleks Jong-In menenggelamkan Hee-Ra dalam pelukkannya, ia tak perlu meminta izin, lagipula Hee-Ra tak menolak dan membiarkan Jong-In memeluknya erat.

“Maafkan aku Shin Hee-Ra..maafkan aku,” Jong-In menciumi puncak kepala Hee-Ra, setetes air mata penyesalan mengalir membasahi wajahnya.

Pada akhirnya kenyataan membuat hatinya tergoyahkan, entah kenapa…entah kenapa Jong-In percaya bahwa Hyu-No memang putranya. Ia tidak tahu apa penyebabnya, tapi hatinya berkata seperti itu..

Dan hati tidak akan pernah salah, bukan?

Ia melonggarkan pelukan dan menunduk, menangkup kedua pipi Hee-Ra dan mengusap air mata wanita itu, “Mungkin aku memang egois…tapi kumohon…kembalilah padaku, aku berjanji akan melindungimu dan putra kita…aku berjanji Shin Hee-Ra…”

Tatapan lembut Jong-In..

Hee-Ra tahu bahwa Jong-In serius, tatapan seperti itulah yang ia jumpai ketika Jong-In melamarnya dulu. Tatapan penuh kasih dan janji, Hee-Ra benar-benar hapal.

“Aku..,” Hee-Ra melepaskan kedua tangan Jong-In dari pipinya, ia menggenggam kedua tangan itu dan mengecupnya sekilas, membiarkan setetes air matanya terjatuh di sana. “Aku mau…aku mencintaimu Kim Jong-In.”

Tak terelakan lagi, Jong-In segera menarik Hee-Ra dalam pelukkannya lagi. Semangatnya terasa bangkit kembali, kerinduan yang mendalam itu sudah tak lagi jadi masalah karena obyeknya sudah berada dalam dekapan.

Mungkin setelah ini hidupnya akan benar-benar sempurna, istri serta anaknya akan kembali. Jong-In tak akan sendiri lagi, ia memiliki dua malaikat yang siap berada di sampingnya.

 

 

Jong-In membuka pintu mobilnya, berjalan cepat dan membukakan pintu untuk Hee-Ra, membuat wanita itu tersipu. Ia segera mengulurkan tangannya, memberi tanda agar Hee-Ra menggenggam dan keluar dengan tautan tangan.

Mereka berjalan layaknya pasangan baru, berhenti di depan gerbang bersama orang tua lain yang sudah datang daritadi untuk menjemput anaknya.

Tring…

Ponsel Jong-In berdering, membuatnya terpaksa melepaskan tautan tangan dengan Hee-Ra dan segera merogoh saku jasnya. Ia menyipitkan mata, Kwon Sun-Young. Akhir-akhir ini Jong-In melupakan nama itu, ia bahkan tak pernah menghubungi Sun-Young sekalipun.

 

From : Sun-Young Kwon

Aku berada di Jinhae, aku merindukanmu. Di mana kau sekarang?’

 
Oh ya ampun, Jong-In tak menyangka Sun-Young akan datang. Lalu bagaimana dengan Hee-Ra dan putranya? Ia tentu tak ingin menyakiti hati Sun-Young, tapi sekali lagi, Jong-In sudah memiliki keluarga.

Belum sempat membalas pesan Sun-Young, Hee-Ra sudah lebih dulu menyiku lengan Jong-In, “Sudah bel, Hyu-No akan keluar sebentar lagi,” gumamnya sumringah.

Sontak Jong-In segera memasukan ponselnya ke saku, ia tak begitu fokus lagi pada pesan Sun-Young karena matanya kini terarah pada sesosok anak kecil yang tengah berlari ke arahnya dan Hee-Ra.

Anak itu..

Dia benar-benar mirip dengan Jong-In.

Dagunya, matanya, telinganya, bahkan cara berlarinyapun juga sama seperti yang dilakukan Jong-In sewaktu ia masih kecil.

Anak itu dengan semangat menenggelamkan diri dalam pelukan Hee-Ra yang saat itu juga langsung berjongkok. Surga, inilah yang terlintas dalam benak Jong-In. Keluarga bahagianya telah kembali, hidupnya akan segera dipenuhi kenangan-kenangan indah lagi.

“Mama, mama, tadi aku mendapat bintang waktu menggambar,” seru Hyu-No penuh semangat.

“Benarkah? Anak mama memang yang paling hebat!” Hee-Ra mengacungkan kedua jempolnya di depan wajah Hyu-No, membuat Jong-In tak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya.

Kedua malaikatnya sedang tersenyum, rasanya energi kehidupan Jong-In penuh kembali.

“Paman baik hati?”

Ucapan Hyu-No tiba-tiba membuat Jong-In tersadar dari lamunannya, ia berjongkok dan menarik Hyu-No untuk berdiri menghadapnya, “Ya, ini aku,” gumamnya lembut.

Hyu-No mengerutkan keningnya, “Kenapa paman ada di sini?” tanyanya polos.

Jong-In berpura-pura berpikir sebentar, ia merengkuh pinggang Hyu-No dan mendekatkan anak itu padanya, “Sepertinya aku rindu pada anak pintar bernama Kim Hyu-No ini, tidak apa-apa kan kalau paman akan sering mengunjungimu mulai sekarang?”

Hyu-No bersorak gembira, ia kelihatan tidak masalah akan kehadiran Jong-In, malahan ia terlihat senang.

“Tentu saja! Kalau paman sering mengunjungiku, aku jadi punya teman untuk bermain bola, mamaku tidak bisa bermain sepak bola,” adunya.

Perilaku lucu Hyu-No membuat Jong-In gemas dan langsung mengusap lembut rambut anak laki-laki itu, “Ya, paman akan menemanimu main sepak bola mulai sekarang, paman berjanji,” ujarnya lalu melirik sebentar ke arah Hee-Ra yang tengah tersenyum lebar sebelum akhirnya menarik Hyu-No dalam pelukannya.

Kebahagiaan ini tak akan pernah bisa dibayarnya dengan uang, dan Jong-In berjanji akan menjaga kedua hartanya yang paling berharga. Hyu-No dan Hee-Ra.

.

-FIN-

.

More or Enough?

Kalo responnya bagus, aku berencana bikin sequel lagi hehehe, tadikan Sun-Young sms ke Jong-In kalau dia lagi ada di Jinhae, mungkin aku bisa bikin sequel buat pertemuan antara Jong-In sama keluarganya dan Sun-Young yang notabennya udah memendam rasa sama Jong-In sejak lama.

77 responses to “SHOW YOU [Sequel of Stitches] by Heena Park

  1. akhirnyaaaa :3 ada sequelnya jg :3 balikan cieeee balikan :v semoga aja awet bahagia kek gini :3 klo mau kasih sequel lg boleh juga kok :3

  2. Aku nunggu sequel ini lama bgt kak… kirain bakal cepet bikin sequelnya… suka bgt akhirnya keluarga nya Jongin utuh lg… tp ada orang ketiga… semoga aja dia ga mempengaruhi Jongin untuk berpisah lg dg Heera jg sama anaknya… kasian Heera ngebesarin anaknya sendirian… 5 tahun cuuyyyy…

  3. Haruss lanjutt, gmnn coba ngmngnya kalo jongin ayahnya pasti shock bgt anaknyaa tapi kayanya seneng wkwkw. Aaa lanjuttt thorr hehe

  4. Ahhhhh happy ending, hamdallah 🙏🙏🙏 baguss banget dah setelah sedih* sekarang seneng deh, iyaaa butuh bangett tuh sequel lagi, biar jelass dah semuanyaaa, sun young tau klo jongin balikan sma heera 😂 biar gg gangguin suami orang 😅

  5. UGGHH OKAY SIS, I’M READY FOR THE NEXT SEQUEL AGAIN!
    Ya ampun aku seneng banget liat ini akhirnya happy ending gitu! Pengen tau si jongin-heera kehidupan barunya setelah bertemu kembali ini!
    Ditunggu loh yaa buat sequelnya wkwk! Semangat terusss💪

  6. Akhirnya ada sequel jugaa. Alhamdulillah jongin sama heera udah balikan yeey. Terus gimana sun young? Cepetan sequelnya yaa.

  7. Akhirnya mereka kembali bersamaaa😄
    Butuh sequel ini mah eonn.. Bukan cuma sun young yg blm jelas, junmyeon juga cuma selewatan eonn tp gajelas peran dia jd siapanya heera disini…

    Nextnya ditunggu eonn😀 keep writing~

  8. mengharukan sekaliiih:v aku suka aku sukaa:v ngefeel bgt thor^_^ sequel lainnya ditunggu yahhh^_^ semangattt
    thor^_^

  9. hoho akhirnyaaaaa mereka bertemu dan jongin percaya itu anaknya. iya bener lanjuut mau tau sun young juga yg udah mencintai sejak lama.. dan asal usul hee ra ketemu joonmyeon ahahhaha. daaaan semoga part sama hyuno nya juga banyaak *eh hihihi good job yà. see you. semngaaat yeaaay

  10. More honey, please. need another sequel hoho^^ nanti sequelnya hyuno punya adek ya ya ya yaaaa hihiw
    hwaiting

  11. Lanjut dongg thor
    Cerita semanis ini sayang bangef kalau gk dilanjut
    Pokoknya super duper keren
    Next ya

  12. Aaahh~~~
    ♥♥♥♥♥

    saya suka saya suka

    kisah perselingkuhannya itu bagus, serasa realitas..
    but end it well with sweetie ^^

    kalau boleh more dong kak.. hhahahahaa

    ditunggu yaa ^^

  13. akhirnya keluarga kecil ini kembali bersama
    sun young harus diberi ketegasan akan hubungan mereka yang belum jelas
    more more more
    harus nich sequelnya

  14. gimme more more more more pliis…aaah astaga seneng bgt akhirnya jongin-hyera kembali bersama yeeey
    dtunggu bgt sequelny kak..btw maapkeun daku baru comment disini kkkk sumpah ya walaupun ino oneshoot tp feelny dapet bgt jiiir syukaaaa

  15. waaaah, sequelnyaa niiih><
    daaan, akhirnya Jongin ketemu sama Heera, dgn perantara hatinya yg baik itu(?)*wkwkwkwk* nolongin anaknya sendiri-Hyuno.
    maaf sbelumny kak baru komen skarang😔
    di tunggu kelanjutanny yaak^^ yg sun young itu lhoooh.. heheheh

  16. Akhirnya setelah 6 tahun mereka berdua kepisah terus ketemu lagi gara gara hyuno😭😍 terharu sekaligus sedih astagaaa :’v ga nyangka ya mereka berdua masi saling cinta gitu sama saling ngerasa bersalah :’v next ditunggu squel nya ya kakak, semangat❣️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s