Fantastic Boys & Where To Find Them ~QueenX~

Fantastic Boys & Where To Find Them

ff

Author

QUEENX

 

 

Genre : FANTASY, FLUFF, HURT

 

Length : Oneshot

 

Main Cast :

GRACE (OC)

BTS

 

Rating : PG 15

 

Disclaimer : PLOT & OC BELONGS TO ME BUT BTS MEMBERS BELONGS TO THEIR FAMILY

 

 

.

“Bagaimana jika aku tak bahagia hidup denganmu?”

.

 

 

 

All in OC’s POV

 

Aku tidak tahu dimana diriku berada saat mataku terbuka. Yang aku ingat sebelum aku memejamkan mataku, ibu dan ayah masih ada di sisiku. Mereka terlihat sedih, ibu bahkan menitikkan air matanya. Di belakang mereka berdiri makhluk bertubuh besar, sangat besar, dengan jubah berwarna hitam. Matanya merah menyala, tapi aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Yang aku ingat, mataku terpejam dan saat aku membuka mataku lagi, aku sudah ada disini.

“Siapa disana?”

Aku mendengar sebuah suara dari balik sebuah pohon yang…aneh. Pohon itu berakar serabut, namun memiliki batang yang sangat besar, daunnya berwarna biru dan indah sekali. Di salah satu dahannya berdiri seseorang dengan sayap berwarna hitam, di zaman semodern ini, memangnya ada manusia bersayap? Kupikir itu hanya ada di dalam dongeng yang biasa ibu ceritakan padaku di malam hari setiap aku akan tidur saat aku masih kanak-kanak dulu.

“K-kau siapa?”

Mahkluk itu, manusia bersayap itu langsung turun dan tak berapa lama kemudian ia berdiri di hadapanku. Hidungnya nyaris menyentuh keningku dan dengan segera aku mundur beberapa langkah. Masih sambil menatapnya, mengagumi ketampanannya, tubuh tingginya dan sayap berwarna hitam pekat yang bertengger di punggungnya. Ia hanya mengenakan celana hitam panjang dengan sorot mata berwarna abu-abu yang menenangkan. Apakah dia malaikat pencabut nyawa? Jika aku sekarang bukan berada di bumi, melainkan di dunia antara surga dan neraka, aku sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimkan malaikat pencabut nyawa setampan pria di hadapanku ini untuk mencabut nyawaku.

Victory. Kau bisa memanggilku V.”

“Ha-hanya V?”

Pria itu mengangguk lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku. Telapak tangannya sangat besar dan putih sekali, bahkan tak terlihat kalau di dalam tubuhnya mengalir darah seperti manusia kebanyakan, jelas dia bukan manusia biasa.

“Aku ditugaskan Suga untuk membawamu ke istana.”

“Suga?”

Pria itu mengangguk lalu melebarkan sayapnya.

“Raih tanganku dan ikutlah denganku.”

Seketika senyumannya berubah menjadi seringai, wajah tampannya berubah menjadi sedikit lebih menyeramkan karena saat ia membuka mulutnya sedikit terlihat taringnya yang mencuat keluar, warna pupil matanya berubah menjadi merah menyala, sama seperti makhluk yang kulihat sebelum aku memejamkan mataku, itukah dia?

Aku menggeleng lalu berlari menjauhinya, berlari secepat yang aku bisa dan kemudian aku terperosot masuk ke dalam sebuah lubang yang cukup besar dan sangat dalam.

“Aaaaaarrrggghhhh!”

Mataku terbuka secara perlahan, rasanya seperti baru terbangun dari tidurku, aku bahkan sampai lupa mengapa sekarang aku berada di atas air. Di atas air? Aku bahkan tidak tenggelam, saat aku mencoba untuk berdiri kakiku rasanya sakit sekali.

“Awww.”

Aku memegang pergelangan kaki kiriku, mungkin terkilir. Ah ya, ingatanku menjadi jernih kembali, aku tadi terjatuh ke dalam sebuah lubang, saking lamanya dan tidak menemukan titik ujung dari lubang tersebut aku sampai mengantuk dan tertidur. Ini…sangatlah aneh.

Aku melihat sekelilingku, tidak kutemukan apapun, aku mencoba untuk berdiri lagi, namun tidak mampu, yang aneh adalah aku berdiri di atas sebuah danau yang sangat luas, aku tidak tenggelam, sejak kapan aku memiliki kemampuan berjalan di atas air? Tidur di atas air lebih tepatnya. Di bawahku terlihat berbagai jenis ikan kecil bahkan sampai yang besar berenang dengan gesitnya. Kulihat sekelilingku, berdiri menjulang bebatuan warna-warni yang ditaburi oleh glitter, tanpa adanya sinar mataharipun bebatuan itu sangat berkilau di mataku.

Sebenarnya dimana aku sekarang? Jika ini ruang penghubung antara surga dan neraka, mengapa sangat indah sekali? Rasanya aku ingin tetap berasa disini saja. Selamanya.

“Nona.”

Aku terkejut mendapati seseorang yang menyentuh pergelangan kakiku yang terkilir dan langsung menariknya dengan cepat. Mataku terbuka lebar ketika melihat seorang pria yang tak kalah tampan dengan pria bersayap hitam pekat yang kulihat beberapa saat yang lalu.

“Ikutlah denganku nona.”

Aku menyerngit, tadi manusia bersayap, apakah pria ini manusia…ikan? Kulihat ke bawah air dan mataku semakin membulat melihat dugaanku ternyata benar. Kalau selama ini ibu mendongeng tentang kisah putri duyung, apakah yang kulihat ini bisa disebut putra duyung?

“K-kau—”

“Aku diminta oleh Suga untuk mengantarkanmu ke istana. Ikutlah denganku nona.”

Lagi, nama pria yang sama, sebenarnya siapa Suga? Dan…bagaimana sosoknya? Apakah ia mahkluk berekor seperti pria di hadapanku ini namun memiliki sayap seperti pria bernama V itu.

“S-siapa itu Suga dan k-kau…siapa kau?”

“Kau bisa memanggilku Jeon, aku adalah salah satu dari enam pelayan Suga yang ia tugaskan untuk membawamu ke istana.”

“Tidak! Aku tid—hey! Aku bisa berdiri. Lihatlah, tadi kakiku terkilir disin…tunggu dulu, apa ini?”

Aku melihat salah satu pergelangan kakiku yang berwarna ungu terang, kupandangi pria tersebut yang kemudian tersenyum padaku.

“Itu adalah air liurku.”

“A-apa!?”

Aku berjengit, pria menjijikkan, kurang ajar sekali ia meludah di kakiku? Tapi, apakah ludahnya yang menyembuhkan kakiku yang terasa sakit tadi?

“Kau tenang saja, itu akan hilang tidak lama lagi. Air liurku yang menyerap rasa sakit di kakimu. Sekarang ayo ikut denganku, Suga sudah menunggumu di—”

“TIDAK MAU!”

Aku memekik kemudian melarikan diriku, lagi. Kulihat dibalik salah satu bebatuan yang berwarna kuning dan hijau cerah memancarkan sebuah cahaya keputihan, aku yakin disana adalah pintu keluar dari dunia yang aneh itu.

Ketika semakin mendekat, cahaya silau itu semakin memudar dan saat berhasil keluar dari bebatuan tersebut aku terkejut karena ternyata itu adalah sebuah jurang yang sangat dalam, belum sempat menarik kembali tubuhku untuk berdiri diantara bebatuan tersebut, aku kembali terjatuh, bukan di sebuah lubang, kali ini ke dalam jurang. Tiba-tiba saja aku menyesal, mengapa aku tidak ikut dengan manusia ikan bernama Jeon itu daripada harus mengakhiri hidupku dengan jatuh ke dalam jurang sedalam ini?

Anehnya ketika aku sampai di dasarnya yang sangat gelap, aku bisa berdiri dengan tegak, bahkan rasanya aku hanya melompat dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya.

“Halo? Apakah ada orang disini?”

Saking gelapnya, aku harus meraba sekitarku yang kosong. Otakku mulai penuh dengan segala rasa takut yang menyergapku tiba-tiba, bagaimana jika ada ular disini? Atau mahkluk yang lebih buas dari itu?

Tidak lama kemudian cahaya gelap itu berubah menjadi warna putih kekuningan, kulihat di hadapanku muncul benda seperti retakan bebatuan yang beterbangan ke arahku, semakin dekat retakan-retakan itu bersatu dan membentuk kaki, badan, tangan dan kepala. Apalagi sekarang? Manusia batu?

“Aku Kim Jin. Siapa kau? Dan…sedang apa kau disini?”

Aku menghembuskan napas lega, setidaknya ia tidak berniat membawaku ke istana seseorang yang bernama Suga itu.

“Aku bisa membaca pikiranmu.”

Benarkah?

“Ya, jadi kau orang yang Suga tunggu di istana? Baiklah, ikut denganku. Kau sudah melewati jalan yang benar.”

Astaga, dia lebih menyeramkan dari dua mahkluk yang kutemui sebelumnya. Ia bahkan bisa membaca pikiranku sekarang.

“Kau tidak perlu takut padaku, aku sama seperti Jeon dan V. Kami adalah para pelayan Suga.”

“A-apa?”

“Ikutlah denganku dan—”

“Kalau aku tidak mau apa yang akan kau lakukan!?”

“Tidak masalah, masih ada tiga pelayan Suga yang lain yang bisa membawamu kesana. Kau bisa melewati pintu merah itu, atau cerobong asap itu, atau mungkin masuk ke dalam lemari itu. Tapi kau tidak akan bisa lari dari kami. Karena kemanapun kau pergi, kau akan tetap kami bawa ke istana Suga.”

Ujarnya. Aku menyerngit, mengapa tiba-tiba saja ada cerobong asap di dalam gua? Mengapa juga tiba-tiba ada pintu dan lemari di ujung sana? Rasanya tadi saat aku jatuh kesini, semuanya kosong dan gelap. Dimana aku sebenarnya?

“Kau ada di dalam imajinasimu sendiri.”

“I-imajinasiku?”

Tapi…kapan aku berimajinasi bertemu dengan makhluk-makhluk aneh seperti mereka? Terakhir yang kuingat, aku bermimpi tentang dosenku yang berubah menjadi serigala dan terus mengejarku untuk menagih judul tugas akhirku.

“Kami adalah imajinasimu saat kau berusia sepuluh tahun. Suga adalah imajinasi abadimu, kau melupakannya, oleh karena itu ia marah besar dan melakukan segala cara untuk membawaku ke dalam imajinasimu sendiri dan bertemu dengannya.”

Ini tidak masuk akal, untuk apa dia marah? Toh dia hanya imajinasiku saja. Itupun hanya muncul di dalam mimpiku, aku bahkan tidak ingat sama sekali pernah mengimajinasikan mereka dalam mimpiku saat kecil dulu.

“Kami tidak masalah jika kau melupakan kami, tapi Suga tidak bisa menerima hal ini. Suga paling tidak suka dilupakan. Lebih baik kau cepat menemuinya dan meminta maaf padanya sebelum ia murka dan tidak akan membiarkanmu kembali ke duniamu.”

“Kau sudah terlalu banyak bicara Kim Jin!”

Tiba-tiba muncul sesosok roh yang mendekatinya. Gua yang rasanya sesak dipenuhi kemarahan makhluk bernama Kim Jin itu berubah menjadi sangat dingin. Roh itu semakin dekat berubah juga menjadi manusia, hanya saja ia mengenakan jubah hitam panjang dengan memegang sebuah tongkat panjang di tangan kanannya.

“Kembalilah, akan kubawa dia pada Suga.”

“Tapi ini adalah duniaku! Duniamu ada dibalik cerobong asap itu!”

Aku langsung melihat cerobong asap yang tiba-tiba saja menyala dan memunculkan api yang sangat besar. Apakah itu neraka? Apakah pria lain dengan jubah hitam itu adalah iblis?

“Aku juga bisa membaca pikiranmu dan aku bukan mahkluk itu. Namaku adalah Kim Joon, kau ikutlah denganku. Suga sudah me—”

“Kalian semua terus membahas Suga, Suga dan Suga! Siapa sebenarnya Suga itu? Aku tidak mengenal dan mengingatnya sama sekali! Mengapa bukan dia saja yang datang menemuiku!? Mengapa harus aku yang menemuinya dan melihat semua keanehan ini!? Mengapa kalian tidak membawanya saja padaku disini, huh!? Toh aku juga tidak tahu jalan keluarnya dimana. Aku akan menunggunya disini. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa menyuruh makhluk aneh sejenis kalian untuk menjagaku disini agar aku tidak mencoba untuk kabur!”

Dua pria itu saling bertatapan kemudian mengangguk. Gua yang tadinya bersinar dengan cerobong asap yang menyala kini meredup dan kembali menjadi gelap gulita. Aku menggigit bibirku ketakutan. Mereka benar-benar meninggalkanku, sendirian.

“Kau mencariku?”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara, namun gua tersebut masih gelap. Tak ada cahaya sedikitpun.

“Kau ingin bertemu denganku?”

Suara itu terdengar lagi. Tiba-tiba terasa sebuah hembusan napas hangat di hadapanku. Aku langsung memejamkan mataku. Saat aku memejamkan mataku semuanya terasa terang dan jelas. Di hadapanku berdiri seorang pria berambut hitam gelap yang sangat tampan. Ia tersenyum padaku, senyumannya jauh lebih menenangkan dari senyuman yang diberikan makhluk bersayap bernama V.

Tapi ketika aku membuka mataku lagi semuanya jadi gelap.

“Kaukah itu? S-suga?”

Lirihku. Aku mencoba mencarinya di sekelilingku. Namun sepi, tak terdengar suara apapun lagi, aku mencoba menjangkau sesuatu di sekitarku, namun tidak ada apa-apa. Kosong.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, saat kulihat ke sebelahku, muncul banyak kupu-kupu dan menghambur ke arahku dan seolah membawaku menuju pintu tersebut.

“Aku disini.”

Terdengar suara yang sama dengan suara sebelumnya menggema di telingaku. Aku langsung melewati pintu tersebut dan mencari dimana sumber suaranya.

“Dimana kau?”

Aku berteriak, seketika membuat semua kupu-kupu itu terbang tak tentu arah, ruangan yang tadinya berwarna putih kosong perlahan berubah menjadi sebuah hutan, ada sebuah sungai yang mengalir di setiap sisi jalan setapak yang kulewati.

Ketika aku berjalan, ada sesuatu yang terbang di atasku, saat aku mendongak aku mendapati V terbang lurus ke depan, aku berlari mengikuti arah kemana ia terbang. Aku juga melihat Kim Jin dan Kim Joon sedang berjalan di atas udara, mendahuluiku. Mereka berjalan searah dengan kemana V terbang. Dari air terjun yang kulihat tak jauh dari tempatku berlari, berenang dengan gesit manusia ikan bernama Jeon berlawanan dengan arus air menuju ke arah yang sama dengan kepergian V, Kim Jin dan Kim Joon.

Jalan setapaknya tiba-tiba menghilang, berubah menjadi tanah lapang yang di tengahnya berdiri sebuah pohon apel yang berukuran sangat besar, apelnya semua berwarna kemerahan, ketika aku berjalan mendekat, ada salah satu apel berwarna merah pekat jatuh di hadapanku. Ketika aku berniat mengambilnya, apel itu menggelinding menjauhiku dan menampakkan cahaya terang lalu berubah menjadi sosok manusia yang sangat tampan. Astaga, apakah semua manusia yang hidup disini berjenis kelamin laki-laki dan berwujud tampan semua? Ah tunggu dulu, apakah dia…manusia apel?

“Selamat datang. Makanlah apel ini sebelum kau bertemu dengan Suga.”

Aku menatap pria itu heran. Dari telapak tangannya, muncul beberapa potong apel yang sudah dipisahkan dari kulit dan bijinya.

“Tidak ada racun di dalamnya. Kau tidak perlu takut, kau tidak sedang berada dalam dunia milik Putri Salju.”

Ia meyakinkanku. Ah, jika aku adalah Putri Salju dalam kisah ini, sudah pasti pria-pria tampan yang kutemui selama ini dalam bentuk tujuh kurcaci, bukan terbentuk dari hal-hal aneh seperti ini dan juga tidak mungkin kurcaci memiliki tinggi badan yang semenjulang pria-pria ini.

Aku meneguk salivaku sebelum akhirnya mengambil sepotong apel dari tangannya dan memakannya. Rasanya sangat manis, namun tiba-tiba saja aku menjatuhkan apel yang ada di tanganku karena saat kugigit ujungnya, bagian yang belum kumasukkan ke dalam mulutku mengeluarkan cairan dan itu berwarna merah pekat…seperti darah.

“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menyerahkan darahku untuk keabadian mereka yang akan menemui Suga.”

“D-darahmu?”

“Ya, semakin banyak kau memakan apel ini, semakin banyak pula darah yang aku persembahkan untuk keabadianmu berada di sisi Suga.”

“K-kau gila!?”

“Pergilah, Grace. Suga sudah menunggumu di—”

“Kau tahu namaku dari mana?! Siapa kau sebenarnya?”

“Aku Apple Park. Seumur hidupku kugunakan untuk mengabdikan setiap tetes darahku untuk keabadian Suga.”

Ada apa sebenarnya dengan semua pria tampan yang ada di dunia yang aneh ini? Mengapa mereka semua mengabdikan dirinya untuk seorang Suga? Apakah mereka sudah tidak waras? Apa jasa Suga dalam hidup mereka sampai-sampai mereka harus…

“Hai sayang, sedang apa?”

“Lihatlah, bu. Aku membuat sebuah kisah dongeng.”

“Kau bisa membuat dongeng, sayang?”

“Ini adalah tugas dari bu guru di sekolah. Dongeng ini kuberi judul Suga yang hidup kekal abadi selamanya.”

“Maukah kau bercerita pada ibu tentang dongeng yang kau buat?”

“Pada zaman dahulu, ada sebuah negeri yang bernama Papillon. Disana hidup seorang pangeran bernama Suga, pangeran Suga sangat tampan, ia memiliki enam pengikut yang setia mengabdikan hidup mereka pada Suga, meskipun Suga suka marah-marah, tetapi keenam pengikutnya itu sangat setia dan bersedia mengorbankan hidup dan mati mereka demi keabadian pangeran Suga.”

“Wah, cerita yang sangat menarik, siapa saja nama dari keenam pengikut pangeran Suga?”

“Ada manusia apel bernama Park, manusia ikan bernama Jeon, manusia bersayap bernama V, roh kegelapan bernama Kim Joon, roh dari cahaya bintang bernama Kim Jin, dan penafsir mimpi bernama Hope.”

“Lalu, apakah pangeran Suga memiliki seorang pendamping?”

“Tentu saja, bu. Itu adalah aku. Putri Grace.”

Seketika saja memoriku di usia sepuluh tahun kembali sepenuhnya, aku hanya bisa ternganga kemudian menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.

“Bagaimana bisa…”

Aku menggumam dan seketika terdengar seperti suara gerbang dibuka, saat aku membalikkan tubuhku, tepat di belakangku berdiri dengan megah sebuah istana yang sangat besar. Dan ketika gerbang itu dibuka, berjalanlah seseorang dengan pakaian layaknya seorang pangeran diikuti dengan seseorang yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Biar kutebak, pasti dia si penafsir mimpi bernama Hope. Karena tersisa dirinyalah yang belum menampakkan wujudnya di hadapanku.

Ketika sosok itu semakin mendekat, aku merasakan sekitarku berubah menjadi hangat, beberapa daun berguguran menyambut kedatangannya. Bunga-bunga disekitarku yang tadinya masih kuncup langsung bermekaran, kedatangannya juga disambut oleh kupu-kupu yang tadinya terbang menghindariku.

Ada seekor kupu-kupu yang hinggap di bibirnya.

screenshot_2016-11-19-08-51-07-1

“Lama tak berjumpa, Tuan Putri.”

Ia kemudian tersenyum kepadaku, namun aku terlalu takut untuk membalas sapaannya. Ya, dia pasti Suga, pria yang sama persis seperti yang kulihat saat aku memejamkan mataku beberapa saat yang lalu di dalam gua.

“Aku sangat menunggu datangnya hari ini, begitupula denganmu, bukan?”

Rasanya aku ingin menggeleng tetapi tak bisa. Senyumannya yang manispun membuatku sangat ketakutan saat itu. Apakah aku akan selamanya hidup dengannya disini? Memang awalnya aku ingin, tetapi…rasanya sangat menyeramkan, aku tidak mau tinggal disini, apalagi dengan orang seperti dirinya.

“Dia tampaknya sangat terkejut melihatmu, Tuan.”

Terdengar suara di penafsir mimpi di belakangnya. Sementara Suga masih tetap tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

“Ayo, kita masuk ke dalam.”

Ia mengajak namun aku memberanikan diriku untuk menggeleng.

“Aku tidak menerima penolakan, Grace.”

Aku kembali meneguk salivaku, rasanya meneguk saliva pun sangat berat. Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan.

“Jika kau ikut denganku, kau akan hidup abadi dan bahagia selamanya. Ayo, Grace.”

Aku melihat Park yang tersenyum melihatku, begitupula dengan V di atas langit sana, juga Kim Joon dan Kim Jin, dan Jeon yang asyik berenang bersama dengan ikan-ikan lainnya.

“Ayo.”

Ia memanggilku sekali lagi. Aku mencoba untuk bertelepati dengan Kim Jin dan Kim Joon yang memiliki kemampuan membaca pikiranku. Aku harap mereka mau membantuku untuk pergi dari hadapan Suga.

“Jika kau mencoba untuk meminta pertolongan Jin dan Joon, maka itu tidak akan pernah terjadi karena kemampuan mereka untuk sementara kuambil beberapa saat yang lalu.”

Seperti tahu dengan maksudku, Suga langsung mengucapkan hal tersebut dengan lantang.

“Aku…ingin berbicara denganmu, berdua saja, disini.”

Dan saat ia mengangguk, semuanya menghilang, kini kami berada di sebuah ruang kosong berwarna putih terang.

“Suga.”

“Ya?”

“Aku, meski sebenarnya aku sangat ketakutan, tapi aku senang bisa bertemu denganmu.”

“Kau tidak mau ikut denganku, kan?”

“Maafkan aku.”

“Mengapa? Aku sudah menunggumu sejak lama, saat aku berhasil membawamu ke duniaku, kau menolak untuk hidup denganku. Apakah kau tidak menginginkan hidup yang kekal denganku?”

“Suga, kau hanyalah imajinasiku saat aku masih berusia sepuluh tahun. Kita sudah sama-sama tumbuh dewasa sekarang, aku juga memiliki kehidupanku di dunia nyata.”

“Tapi disini, aku tidak punya yang lain lagi selain enam pengikut itu dan harapan agar kau segera menemuiku dan hidup bahagia bersama denganku.”

“Tapi Suga, kita tidak mungkin bersatu, kita berada di dunia yang berbeda.”

“Tidak ada yang tidak mungkin di duniaku, di dunia imajinasimu, kau bisa bertahan disini. Aku pun bisa menahanmu agar kau tak kembali.”

“Bagaimana jika aku tak bahagia hidup denganmu?”

“Kau pasti akan bahagia.”

“Suga, kumohon, biarkan aku pergi ke duniaku, ya?”

“TIDAK!”

“Suga, kau kuciptakan sebagai pangeran yang tampan dan baik hati, bukan? Apa kau bisa melihatku hidup dalam kesedihan, tanpa kedua orang tuaku di sisiku?”

“Aku bisa membawa mereka kesini untukmu. Apakah itu tidak cukup untuk menahanmu disini?”

Aku tersenyum lalu mendekatinya, namun ia memilih untuk mundur menjauhiku. Ia menangis.

“Aku sudah bersusah payah membangun dunia seindah ini untuk menyambut kedatanganmu. Tetapi kau…kau malah mau pergi begitu saja untuk meninggalkanku, tidakkah kau sadar yang kau lakukan padaku sangatlah jahat? Tidakkah kau mengerti arti dari penantianku selama ini untukmu? Seharusnya kau tidak perlu mengimajinasikan semua ini kalau pada akhirnya kau tidak akan hidup denganku selamanya.”

“Suga, aku—”

Dan tiba-tiba saja kalimatku tertahan di tenggorokanku, Suga yang tadinya menangis langsung menghapus air matanya, tubuhnya berubah menjadi sangat besar dan tumbuh bulu berwarna keemasan di sekujur tubuhnya. Matanya yang tadinya menenangkan berubah menjadi sangat menyeramkan, aku ingat semuanya, dialah mahkluk yang kulihat sebelum aku memejamkan mataku dan tertidur. Dialah mahkluk itu.

“S-Su—”

Aku langsung terhempas saat mencoba untuk meraih tangannya dan semuanya menjadi gelap…

***

“Grace?”

Samar-samar kudengar suara ibu.

“Grace, sayang, kau sudah bangun, nak?”

Juga terdengar suara ayah.

Aku membuka kelopak mataku perlahan, kulihat ada ibu, ayah dan kedua sahabatku di sisi kasurku.

“Ibu? Ayah?”

“Sayang, kau sudah sadar, ah…syukurlah.”

Tiba-tiba ibu menangis dan memelukku erat, begitupula dengan ayah yang memeluk aku dan ibu dengan erat.

“Ada apa, ibu? Mengapa ibu menangis?”

“Sayang, kau tertidur sejak lima hari yang lalu, ibu sangat khawatir.”

Aku? Tertidur? Selama lima hari?

“Ayah pikir kau pingsan karena belum makan malam, ketika ayah dan ibu memutuskan membawamu ke dokter, kata dokter tidak terjadi gejala buruk apapun terhadap dirimu. Kau hanya tertidur biasa. Ayah kemudian membawamu pulang tapi di saat hari sudah berganti dan kau belum bangun juga, ayah dan ibu jadi semakin khawatir.”

“Ibu bahkan sampai memanggil paranormal untuk mengamati keadaanmu. Mereka berkata kau terjebak dalam mimpimu dan tak bisa kembali. Mereka tidak bisa membantu karena hanya kau sendiri yang dapat membantu dirimu keluar dari mimpimu.”

Ibu dan ayah terus menjelaskan kejadian ceritanya bergantian. Setelah mereka berdua selesai bercerita, aku ditinggalkan bersama dengan kedua sahabatku.

“Astaga, Grace. Kau benar-benar tidur seperti orang mati, kami bahkan sampai menangisimu seharian kemarin.”

“Kau melewatkan banyak momen penting di kampus. Kau tahu, saat kau terbangun, baru saja aku mendapat pesan dari Lola kalau kampus kita kedatangan tujuh mahasiswa keren yang langsung merebut perhatian seisi kampus.”

Jane dan Clara tak habis-habisnya bercerita tentang kegiatan di kampus selama aku tertidur panjang.

“Oh ya, Grace. Memangnya kau memimpikan apa sampai kau tidak terbangun selama itu?”

Aku tersenyum.

“Ada tujuh pria tampan dalam mimpiku yang membuatku betah tidur selama itu.”

“Dasar gila! Pantas saja kau nyaman dalam tidur panjangmu.”

“Kau sudah seperti beruang saja melakukan hibernasi.”

“Bedanya beruang hibernasi di musim dingin, sementara kau hibernasi di musim semi. Aneh.”

Kami bertiga pun tertawa. Namun rasa penasaranku kembali pada kabar terbaru di kampus.

“Bisa kau tanyakan pada Lola, siapa nama dari tujuh mahasiswa baru itu? Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang bisa kudekati.”

“Oh astaga, lihatlah Jane, sepertinya si genit Grace sudah seratus persen pulih.”

“Sialan!”

“Mereka semua berasal dari Korea Selatan, sepertinya mahasiswa transfer, tunggu dulu, Lola sedang mengetik nama mereka, ah ini dia. Hmm, cukup sulit, Kim Namjoon, Kim Seokjin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Park Jimin, Jung Hoseok dan…hey namanya sangat unik, Min Suga.”

“M-Min…Suga?”

“Ya, kau mengenalnya?”

Jika Suga di dunia nyata ini sama persis dengan Suga yang kutemui dalam mimpiku, ah tunggu dulu, jangan-jangan aku—

“Jane.”

“Ya?”

“Tampar aku!”

“Apa!?”

“Kurasa aku masih berada di alam mimpiku.”

 

*

F I N

SORRY FOR TYPO(s)

 

.

.

.

INSPIRED BY

screenshot_2016-11-19-14-06-53-1

5 responses to “Fantastic Boys & Where To Find Them ~QueenX~

  1. wah dae to the bak critax bikin aku masuk kedalamnya,asik banget,rela banget deh kalo hal itu bakalan trjadi sama aku /plakk/😛😛😛😛 ,hahahahah grace kya org ga waras aja ampe minta di tampak segala lg wkwkwkw

    Berikan lg karyamu ya lain Author-Nim.

  2. ahhh kayaknya keren deh ff ini… walau biasanya aku gk tertarik ama ff cast bts… tapi kyk nya aku bakal suka ff ini >o< okee~ author nim izinkan aku baca oke? perkenalkan Kim Nami Reader baru~ Keep writing and hwaiting!~

  3. Pingback: Fantastic Boys in My Campus – Q U E E N X I S S I·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s