[6th] Snapshots by slmnabil

snapshot-slmnabil-bycastorpollux

Author : slmnabil | Cast : Hong Seoljin (OC), Kim Jongin, Park Chanyeol

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : CASTORPOLLUX@posterchannel

prolog : one dance | 1st | 2nd | 3rd| 4th | 5th

SIXTH SHOT

Jika kau melihatnya dari permukaan, kau akan mengira hidupku berjalan dengan sangat sempurna. Wanita yang akan menikah, sudah menyelesaikan permasalahan dengan mantan pacar yang kini menjadi bosnya, dan sahabat yang luar biasa peduli. Aku akan tampak sangat bahagia, tapi nyatanya tidak. Gelombang kekhawatiran seringkali menghantamku di saat-saat tak terduga. Termasuk hari ini.

Genap delapan hari sudah aku bekerja pada Jongin. Dia bersikap sangat baik dan memperlakukanku seperti pekerja yang sejajar dengannya. Potret-potretnya sudah terkumpul cukup banyak, dan menurutku aku hanya tinggal memotret di hari pertunjukannya saja. Lalu tugasku akan selesai.

Karena tuntutan pekerjaan, praktis interaksi kami menjadi lebih sering. Dan dalam waktu enam hari, hubungan kami semakin akrab dan baik. Bahkan hari ini dia mengantarkanku sampai ke apartemen, lagi.

“Aku ingin kau menemaniku untuk makan malam bersama beberapa pengusaha besok,” kata Jongin begitu mematikan mesin mobilnya.

“Oke,” sahutku. Toh, aku tak kenal dengan siapa-siapa. Jongin akan bilang aku adalah sekertarisnya, jadi aku hanya perlu tersenyum dan makan malam. Mudah saja.

Tapi kemudian aku ingat wanita itu, yang dikencani pura-pura oleh Jongin selama seminggu. “Bagaimana dengan putri pemilik Trandy itu? Dia datang juga, kan? Kalau dia marah bagaimana?”

Jongin tersenyum kecil. “Kami sudah putus.”

Aku menatapnya curiga. “KAU membuatnya memutuskanmu,” tuduhku dengan penekanan pada kata pertama.

Jongin tertawa malu, tampak seperti pelanggar aturan yang tertangkap basah. “Kau sangat mengenalku.”

“Aku meragukannya.”

Kulihat Jongin menelengkan kepalanya ke arah belakang tubuhku, di mana gedung apartemenku menjulang.

“Kenapa?” tanyaku heran seraya menoleh. Ya Tuhan, Raeum! Dia marah sekali tiap kali aku diantar pulang oleh Jongin. “Kalau begitu sampai jumpa besok.”

“Aku akan menjemputmu pukul enam,” katanya sebelum aku ke luar.

Aku tak memedulikan ban mobil Jongin yang berdecit dan menghilang di belokan, aku menatap Raeum, merasa berdosa. Aku tahu persis di mana letak kekesalannya.

“Sudah kau beritahu?” tanyanya dingin.

Oh, tidak. Belum. Dia akan mengamuk.

“Aku lupa.”

Kalau kau ingin tahu apa yang dia permasalahkan, akan kuberitahu. Sejak pertama kali Jongin mengantarkanku pulang (dan kejadian Chanyeol yang kelabakan itu) dia terus menerus mendesakku untuk mengatakan pada Jongin kalau aku sudah punya calon suami. Dia ingin Jongin menjaga hubungan profesional dan menetapkan batasan yang tegas.

Aku berusaha, aku mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Namun aku selalu takut hubunganku dengan Jongin akan kembali canggung, jadi yah begitulah. Diulur terus menerus.

“Telepon dia,” kata Raeum memerintah. “Katakan padanya sekarang juga. Atau aku yang akan memberitahunya juga—”

“Juga?”

“Calon suamimu. Chanyeol.”

Sial. “Sejak kapan kau sangat ingin ikut campur dengan kehidupan percintaanku?”

“Aku tidak ikut campur, aku membantu mengarahkanmu agar tetap pada jalanmu.”

“Raeum!” Tetap pada jalanku dia bilang? Memangnya aku menyimpang? Memangnya berhubungan baik dengan atasanku itu salah?

“Dia mantan pacarmu, Seoljin. Dia meninggalkanmu.”

“Tapi bukan berarti aku tidak boleh memaafkannya!”

Ekspresinya berubah menggelap. “Lalu selanjutnya apa?” Suaranya menantang. “Setelah pekerjaan kalian selesai, karena kalian mempunyai hubungan yang baik, kalian akan terus berkomunikasi? Dengan mantan pacarmu? Dan Chanyeol selamanya tak akan tahu?”

Amarahku yang tadi memuncak mulai mereda. Dia benar. Raeum benar, tapi …. “Chanyeol itu pria yang dewasa, dia bisa membedakan mana masa lalu dan mana masa depan.”

“Yang mana sedang kau campurkan keduanya. Kau melibatkan masa lalumu untuk masa depanmu.”

Kepalaku sakit. Pikiran dan hatiku mengakui segala perkataan Raeum benar. Aku memang perlu membicarakan ini dengan Jongin dan juga Chanyeol. Aku perlu membuat batasan dengan Jongin dan menjelaskan segalanya pada Chanyeol. Dan setelah itu segalanya akan baik-baik saja.

Aku … juga akan baik, … kan?

“Aku lelah, kita lanjutkan percakapan ini besok,” kataku seraya berjalan menuju apartemen.

Terbukti, kan? Jika kau melihat lebih dekat dengan kehidupanku, kau akan menemukan kekacauan. Kekacauan yang tersembunyi di balik kebahagiaan.

Pagi-pagi sekali aku bangkit dari tempat tidur, membersihkan diri lalu berpakaian untuk lari pagi. Aku perlu berpikir jernih, aku perlu udara segar, aku harus melepaskan segalanya yang membuatku tercekik.

Aku mengencangkan tali sepatuku, menguatkan kunciran rambutku, dan ke luar dari gedung apartemen.

Di sepanjang Sungai Han, cukup banyak orang yang tengah berolahraga. Bersepeda, lompat tali, dan beberapa berlari sepanjang jalan sepertiku. Kuperhatikan beberapa orang dan menebak-nebak apa isi pikiran mereka. Kekesalan? Kesedihan? Melepas penat? Sekadar ingin sehat? Apakah ada orang yang sepertiku, dilingkupi kekhawatiran?

Aku berhenti ketika keringat mulai membanjiri tubuhku. Kustabilkan napasku dengan duduk di salah satu bangku panjang, bangku yang biasa kududuki dengan Chanyeol apabila kami olahraga bersama … dan bangku yang kududuki bersama Jongin dahulu.

Tiba-tiba perkataan Raeum semalam terngiang dalam benakku, seperti rekaman yang diputar berulang-ulang.

Yang mana sedang kau campurkan keduanya. Kau melibatkan masa lalumu untuk masa depanmu.

Mencampurkan keduanya. Sial, apakah duduk di sini termasuk salah satunya?

Kini aku duduk sendiri, aku tengah menghidupi kehidupanku yang sekarang. Benar kata Raeum, aku perlu membuat keputusan. Aku harus memikirkan betul-betul ke mana dan kepada siapa aku ingin melangkah.

Dan kurasa, aku sudah tahu jawabannya.

Aku sudah di apartemen, mengenakan kaus lebar milik Chanyeol dan celana olahragaku. Aku sudah membersihkan diri, rambutku sudah kering, dan perutku sudah terisi. Yang kulakukan sekarang adalah berbaring malas di sofa, memindah-mindahkan saluran televisi, dan menyantap kudapan.

“Kau tidak bekerja?” tanya Raeum heran, ia sudah selesai berpakaian dan siap berangkat kerja.

“Aku minta izin,” jawabku. “Tapi aku akan menemaninya untuk makan malam perusahaan nanti.”

Raeum tidak menjawab. Kucermati ekspresinya. Syukurlah, ia tidak marah. “Aku percaya padamu, oke?” Dia mendekat dan memelukku.

Aku balas memeluknya. “Apapun pilihanku?”

Dia tersenyum. “Ya,” sahutnya tulus. Lalu aku mengikutinya ke luar lewat pandanganku dan melambai saat ia menghilang di balik pintu.

Atensiku baru saja kembali ke acara televisi kalau laptopku tidak berbunyi, memaksaku untuk mengalihkannya lagi. Surel dari Chanyeol, akhirnya.

Dari : Park Chanyeol

Untuk : Hong Seoljin

Perihal : Orang asing

Hong Seoljin yang Sebentar Lagi Jadi Nyonya Park,

Kau betul-betul jadi orang asing. Ke mana kau dua hari ini?

Aku tersenyum. Astaga, aku sangat merindukannya. Lusa lalu ia sama sekali tidak bisa dihubungi tanpa alasan, dan kemarin aku yang tidak menghubunginya karena bermaksud balas dendam.

Tapi nyatanya, kemarin pun dia tidak menghubungiku sama sekali.

Dari : Hong Seoljin

Untuk : Park Chanyeol

Perihal : Orang asing yang akan jadi Nyonya Park

KAU yang KE MANA dua hari ini.

Dari : Park Chanyeol

Untuk : Hong Seoljin

Perihal : Kau akan tahu …

kenapa aku mengabaikanmu. Aku punya kejutan untukmu.

x

Oh, jadi setelah ia mengabaikanku, dia memberikanku ciuman virtual. X?

Dari : Hong Seoljin

Untuk : Park Chanyeol

Perihal : Kejutanmu

Kejutan apa? Seperti mengirim pembunuh berantai ke rumahku atau menculikku ke New York?

(Belum ada ciuman untukmu. Aku masih marah.)

Dari : Park Chanyeol

Untuk : Hong Seoljin

Perihal : gimme xxxxxxx!!!

(Dengan nada pemandu sorak)

Ide bagus. Tapi sayangnya bukan itu. Kau akan segera mengetahuinya.

xoxo

Sesaat aku terdiam begitu selesai membacanya.

Dari : Hong Seoljin

Untuk : Park Chanyeol

Perihal : (No subject)

Omong-omong soal kejutan, aku juga punya kejutan untukmu.

o

Dari : Park Chanyeol

Untuk : Hong Seoljin

Perihal : Waktu luangmu

Senang mendengar kau memanfaatkan waktu luang dua harimu untuk memberiku kejutan. Aku sangat menantikannya x

P.s. Bukankah di sana pagi? Kau belum berangkat kerja?

Dari : Hong Seoljin

Untuk : Park Chanyeol

Perihal : Waktu luangku

Aku izin tidak bekerja.

Tak berselang lama ponselku melantunkan dering panggilan masuk. Dari Chanyeol. Astaga, dia protektif sekali.

“Kau sakit?” tanyanya, aku bisa dengar kekhawatirannya yang begitu kentara.

“Halo juga.”

“Seoljin.” Ia menggeram.

“Misalnya aku sakit?” tantangku, bergurau.

“Tentu kau tidak boleh sakit. Beritahu aku.”

“Tuan Park dan segala kekhawatirannya yang berlebihan.” Aku tertawa kencang.

“Kuasumsikan kau membolos.” Sekarang suaranya menyiratkan kelegaan.

“Sudah kubilang aku izin.” Dia mendengus panjang. “Tapi bukan sakit,” tambahku menjelaskan.

“Jangan sakit,” katanya. “Aku tidak ada di sana untuk merawatmu.”

“Makanya cepat pulang. Berapa hari lagi? Empat seingatku. Benar?”

Terjadi keheningan yang cukup panjang. “Soal itu … aku sepertinya harus tinggal lebih lama. Dua hari kemarin benar-benar melelahkan. Masalah sponsor dan kesepakatan. Kau tahulah.”

Bahuku merosot. Tinggal lebih lama? Yang benar saja. Setiap hari aku menyilang tanggal di kalender, menandai berapa hari lagi hingga dia pulang.

“Seoljin? Kau masih di sana?” tanya Chanyeol.

Aku tersadar, lalu kuhela napas panjang. “Kau mau aku jadi kekasih yang pengertian atau menyebalkan?”

“Kalau pengertian?”

“Yah, aku akan bilang aku mengerti dan mengatakan kuharap segalanya berjalan lancar. Dan kalau menyebalkan—”

“Ya?”

“Aku akan marah padamu dan memintamu pulang sekarang juga,” sahutku, agak sebal.

“Beradab sekali kau, memberi opsi sebelum bertindak,” kata Chanyeol geli, terselip tawa ringan di sela perkataannya.

Tapi sayangnya, emosiku tidak stabil secepat itu. Dia tidak mengabariku selama dua hari dan begitu ia menghubungi malah menyampaikan berita semacam ini. Aku pantas kesal, kan?

“Berapa lama?” tanyaku.

“Aku tidak bisa memastikan.”

Rahasia kedua yang kuulur-ulur. Aku sudah memutuskan akan memberitahukan segalanya pada Chanyeol, tapi apa ini sebenarnya? Rasanya sulit sekali. Dan aku tidak bisa mengatakannya tak langsung seperti ini.

“Kau baik-baik saja?”

Aku menghela napas panjang berulang kali. “Kuharap begitu.”

“Ada apa, Seoljin? Apakah sesuatu terjadi? Kau tidak terdengar baik, jujur saja.”

Tentu saja aku tidak baik. “Kalau kubilang aku sakit, kau akan langsung ke sini?”

“Seoljin ….” Ia terdengar putus asa. “Ada apa?”

Kepalaku pening. Aku lelah. Dan tercekik. Dan pikiranku tak berhenti saling melempar argumen. “Maaf, belakangan ini pikiranku agak kacau. Aku harus pergi.”

“Tolong … kau harus baik-baik saja oke?”

“Akan kuusahakan.” Kuputus sambungan.

Kenapa segalanya jadi serumit ini?

Tepat pukul lima lewat tiga puluh, aku selesai merias wajah. Rambutku digulung ke belakang, kukenakan antingku yang paling bagus—pemberian Chanyeol tentu saja. Aku mengenakan gaun di bawah lutut berwarna biru dengan corak bunga dan potongan di bawah dada. Sentuhan terakhir kukenakan sepatu tinggi yang pernah kupakai untuk makan malam bersama orangtua Chanyeol.

Aku bercermin sekali lagi. Baiklah, aku sudah siap. Aku terlihat lumayan (sebenarnya aku ingin tampak cantik, entah mengapa.) Tapi kuyakinkan ini bukan untuk Jongin, aku melakukannya untuk diriku sendiri. Bukan tindakan yang termasuk berkhianat di belakang Chanyeol.

Raeum belum pulang saat aku ke luar dari apartemen, jadi kutinggalkan pesan di lemari pendingin bahwa aku sudah menyiapkan makan malam untuk dipanaskan.

Mobil hitam Jongin terlihat dari jarak dua meter, dia selalu datang lebih awal dari jam yang dijanjikannya.

“Kau tampak luar biasa,” katanya, matanya berbinar saat ia mengatakannya.

“Terima kasih,” kataku tersipu.

Sepanjang perjalanan diisi dengan perbincangan-perbincangan ringan soal makan malam macam apa, orang-orang seperti apa yang ikut terlibat dan bagaimana interaksi antar mereka. Aku sepenuhnya awam soal ini, karena meski Chanyeol sudah akrab dengan acara makan malam formal, dia tak pernah mengajakku. Chanyeol tahu aku tak terbiasa. Aku kadang terkejut dengan betapa perhatiannya dia.

Kami tiba sekitar pukul enam tiga puluh, di depan sebuah hotel yang cukup megah. Jongin melirikku sebentar sebelum ke luar dan membukakan pintu untukku. Dia menawarkan lengannya. Dengan pertimbangan menghilangkan kecanggungan dan kemungkinan terpelintir karena sepatuku, aku menyambutnya. Jongin menoleh ke arahku dan tersenyum singkat sebelum menuntunku masuk.

Yang kulihat di setiap sudutnya adalah kemegahan. Ini sama sekali berbeda dengan tempat makanku dan Raeum. Karena nyatanya ini bukan sekadar acara makan malam. Ini lebih mirip pesta besar.

Jongin menyapa beberapa orang bersetelan formal dan tampak menawan. Dalam hati aku berteriak kegirangan karena tepat memilih kostum.

“Ini seketarisku, Hong Seoljin,” kata Jongin memperkenalkanku.

“Kau yakin? Sepertinya dia lebih dari itu,” balas seorang lelaki paruh baya, kutebak seusia ayahku.

Jongin tertawa saja. Lelaki itu pun pergi berselang beberapa detik setelahnya.

“Aku akan membawakanmu minum,” bisiknya di telingaku. Aku menggangguk, dan dia menghilang dalam hitungan detik.

Kupendarkan pandangan ke sepenjuru ruangan, menimbulkan perasaan bahwa ini bukanlah tempat di mana aku seharusnya berada. Ini bukanlah aku.

Aku membayangkan bagaimana jadinya ketika aku dan Chanyeol sudah menikah nanti. Dia pasti akan meminta padaku untuk menyesuaikan.

Merasakan seseorang menepuk bahuku, aku berbalik. Kupikir itu Jongin. Tapi ternyata ….

“Seoljin.” Baritonnya mengintonasi.

Astaga, dia Park Chanyeol.

TO BE CONTINUED

updated every saturday-sunday

  • follow wordpress pribadi nabil❤ slmnabil.wordpress.com

 

35 responses to “[6th] Snapshots by slmnabil

    • Halo kak mitha atau mitha aja ya? Hehe😀 belum kenalan sih kita. nabil 99L, i wonder if you’re older because you called kak dhila kodou with dhila? hehe

      let’s get closer kak😀 makasih juga udah baca dan berkomentar🙂

      • Kita udah kenalan loh di blog pribadi kamu.. tapi mungkin lupa. Hehe aku 95line. Aku selalu suka apa yang kamu tulis dhil…it’s WORTHED

  1. Kenapa Chanyeol ada di Korea?Kan dia ada di luar negeri? Kejutan untuk Seoljin? Akhirnya Jongin dan Chanyeol bakal ketemu dong!

  2. hueee ktmu ceye dsaat yg gk tepat… mna seoljin lgi ma jongin… eh ceye boong blg klo dy msh d newyork… tau2 udh nongol gtu aja… pst seoljin trkjut bgt deh… dtunggu lnjutnny bsok… keep writing thor. .

  3. woah~ tdi sempet mikir klo ntar seoljin ktmu ama chanyeol d pesta wktu dia blg klo dia mau ngasih kejutan tpi tdi chanyeol blg dia msih akan lama bru bisa pulang…jdi ini situasinya gmn? hehehe jdi tmbh pnsarana….

  4. Aaahh chanyeol hadir. Jd ini kejutan chanyeol pdhl udh pulang tp blh ny msh lama. Skak kau seoljin. Gmana nih kai bener2 berantem kayanya huaaa

  5. lahhhh ternyata si canyol boong sama seoljin. ntar kal tau kenyataannya jan marah lu nyol. salah bedua juga pake main rahasia2 an :3

  6. argh…..
    kenapa??
    actually i’ve guess what if chanyeol suddenly come to korea??!
    and he come..
    huh..
    i hope she can tell the fact honestly to chanyeol..
    and i dont know.. just hope that chanyeol will understand..

    nice ^^

    looking forward for the next chap!
    ps: when u will update the next?? hahahaha

    • sounds cliche ya? maaf kalau tidak memenuhi ekspektasi kamu :’) makasih udah baca dan berkomentar ya🙂

      i update this fiction every saturday and sunday, so it’s tomorrow then🙂

  7. Jadi ini kejutannya ?
    Aku bahkan lebih terkejut dri seoljin, dn lebih terkejut lagi pas baca TBC dibawahnya😀
    aduuhh yg dikhawatirkan raeum dn aku tiba juga, bahkan lebh prahnya lagi merek brtiga ada dtmpat yg sama dn saling tdk tahu menahu,
    aduuuhhh deg-degan nih tpi paling suka pas moment balas” email itu, ceye trlalu manis😀

  8. Aku udah punya rasa sih kalau chanyeol bakal ketemu seoljin pas makan malam, nah kan bener. Aaaa plis dong masa lalu ya masa lalu ajaaa, seoljin sama chanyeol aja, gak tegaaa lihat cowok sebaik itu diabaikan/ditinggalkaaan:(

    Semoga itu ga terjadi salah paham yaaa pas di acara makan malam

  9. Oh God! Jadi itu kejutan dr Chanyeol toh, yg mungkin tadinya pen datengin Seoljin tp malah jadi ketemu disuasana yg ga tepat banget, mana posisi Seoljin lagi ama Jongin lagi-_-
    Tp kalo emang Jongin masih bener2 sayang+cinta sm Seoljin si gapapa kali ya, daripada sm Chanyeol yg perhatian banget tp juga belom bisa ngluangin waktu banyak buat Seoljin wkwk

  10. Uwah… Update. Oh ya kan setiap sabtu minggu. Penasaran nih kok bisa ada chanyeol di situ. Itukah kejutannya?
    Niat Raeum baik… Aku tau tu. Tpi kyk nya emang Seoljin nya yg bermasalah

  11. Kamu buat percakapannya enak dibaca banget. Apalagi pas bagian perdebatan raeum sama seoljin. Rasa- nonton drama gitu kkkk~
    .
    Tuh kan seoljin labil mulu. Aku mikir pas dikalimat akhir “aku harus pergi”- itu ada 2 kemungkinan, mau pergi keluar rumah atau mau pergi dari kehidupan chan huaahhh asdfghjklz pengen perang aja rasanya sama seoljin, andai gue jadi raeum -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s